3F - Fict Feat Fact

Friday, June 28, 2019

Remaja Memikirkan Tentang Seksualitas serta Pernikahan


pixabay.com

Hai ... bunda...!
Punya anak remaja? Seperti apa sih menyikapi perubahan pada anak-anak di usia remajanya.
Tentunya ada banyak perubahan pada diri remaja baik secara fisik maupun perilaku.
Ada satu hal yang perlu kita perhatikan sebagai orang tua yang memiliki anak remaja.
Salah satunya adalah pemikiran tentang seksualitas dan pernikahan.

Remaja memiliki sebuah tantangan besar untuk bisa memahami seksualitasnya sendiri dan mempelajari peran-peran yang ia lakoni ialah peran maskulin atau feminin. Hal yang pantas dan tidak pantas dalam berhubungan dengan lawan jenis. Bagaimana remaja itu sendiri menangani pikiran-pikiran dan perasaan seksualnya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan ini seringkali diabaikan oleh orang tua namun tak bisa diabaikan oleh remaja tersebut.

Munculnya seksualitas remaja adalah bagian dari dirinya, tentang siapa dia. Berhubungan dengan lawan jenis adalah suatu kenyataan yang selalu ada. Kebanyakan remaja memiliki sebuah impian untuk menikah dan memiliki sebuah keluarga.

Orang tua sejatinya menjadi salah satu tempat yang nyaman bagi anak-anak remaja untuk bisa mengungkapkan perubahan dalam diri dan perasaannya tanpa harus merasa akan mendapatkan komentar pedas apalagi merasa diintervensi oleh orang tuanya. Kita bisa memulai dengan percakapan normal untuk membahas persoalan-persoalan yang berhubungan dengan seksualitas, pacaran dan pernikahan.

Selain memberikan pendidikan seksual di dalam keluarga sejak usia remaja. Orang tua dan lingkungan masyarakatnya harus bisa bersinergi dalam memberikan ruang bagi remaja untuk belajar dan mendiskusikan aspek penting dari perkembangan remaja dengan cara terbuka juga penuh dengan kepedulian.

Anak-anak remaja yang memiliki nilai kepedulian dalam kehidupan sehari-harinya, maka ia adalah anak remaja yang peka terhadap perubahan di sekitar dan mampu menempatkan dirinya dalam lingkungan yang positif.

Anak remaja adalah anak yang selalu ingin dipahami. Oleh karenanya, ketika ia melakukan sebuah kesalahan, ia tidak langsung menceritakan kesalahannya pada kedua orang tuanya. Sebab, sebagian orang tua memang beranggapan bahwa anak tidak boleh melakukan sebuah kesalahan apalagi hal yang memalukan. Hal seperti itulah yang akhirnya remaja tidak nyaman untuk bercerita dengan orang tuanya, sehingga lebih memilih tempat lain untuk bisa membantu mengeluarkan dari masalah. Namun, hal seperti itu tetaplah menimbulkan masalah karena pada akhirnya ia akan mencari tempat lain (kelompok/geng/teman) untuk bisa membuatnya nyaman dan juga menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hati remaja. Pertanyaan dengan jawaban yang salah dapat membuat seorang akhirnya salah memilih tujuan hidup mereka.

Oleh karenanya, peran serta orang tua sangat dibutuhkan dalam memahami dan menanggapi setiap permasalahan yang sedang di hadapi.





Buku referensi : The Five Love Languange of Teenagers


4 comments:

  1. Lerlakukan remaja seperti sahabat. Maka, kita akan menjadi tempat curhat terbaiknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bunda... punya anak remaja itu gampang2 susah... jarang banget ada anak remaja yg mau curhat sama orang tuanya ketika dia mulai menyukai lawan jenis. Tau2 udah punya pacar aja... hahaha

      Delete

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas