3F - Fict Feat Fact

Thursday, March 7, 2019

Jin, Kita Hidup Berdampingan

Source : pixabay.com

Hampir setiap hari aku dibuat uring-uringan. Entah apa yang terjadi dengan diriku. Aku merasa ada hal aneh, tidak seperti biasanya.
Usai menjalankan sholat, punggungku selalu menghangat. Bukan hanya itu, kepalaku juga seringkali sakit. Apa aku terlalu banyak memikirkan hal-hal berat dalam hidupku? Beberapa kali aku mencoba bertemu dengan dokter. Kata dokter, tensiku rendah. Jadi, dia hanya memberiku obat penambah darah. Namun, sakit di kepalaku tak kunjung reda. Setiap obat habis, aku selalu kembali menemui dokter. Dia hanya memberiku antibiotik dan obat pereda nyeri saat tensiku normal.
Lama-kelamaan aku mulai malas berobat ke dokter, puskesmas atau rumah sakit. Obat-obatan yang aku konsumsi tidak membuat kondisi kesehatanku membaik. Aku rasa, tubuhku akan semakin rusak jika aku terlalu banyak mengonsumsi obat. Terlebih rasa sakitnya masih bisa aku tahan karena hanya sesekali terasa sakit yang tidak bisa aku tahan.
Kalau sudah kumat, rasanya aku ingin memecahkan kepalaku saja. Ini sudah aku alami sejak 12 tahun yang lalu. Hanya saja, dulu sakitnya tidak sesering sekarang.
Dua tahun belakangan ini Punggungku juga sering sakit, sakitnya terasa sampai ke ulu hati. Setiap kali periksa ke dokter, selalu dibilang aku kurang olahraga. Padahal, aku termasuk orang yang tidak bisa diam dan banyak kegiatan yang aku lakukan. Apakah aktivitasku yang padat masih butuh olahraga? Aku juga sering melakukan kegiatan mengepel lantai, nguras bak mandi atau apa saja yang bisa membuat aktivitasku mengeluarkan keringat. Masih saja dibilang kurang olahraga sama dokter. Aku coba mengikuti senam, tapi tetap saja rasa sakitku tak hilang juga.
Tak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain pasrah. Selama rasa sakitnya bisa ditahan, aku tidak akan mengeluhkan rasa sakitku pada keluarga atau pun teman dekatku.
Sabtu sore aku mengunjungi orang tua suamiku seperti biasa. Tidak ada hal yang aneh. Aku sudah menganggap mertuaku seperti orang tuaku sendiri. Dia juga menyayangiku seperti anaknya sendiri. Kebetulan, mertuaku memang memiliki usaha warung kelontong.
Ibu seringkali bercerita soal warungnya yang sering sepi akhir-akhir ini. Beberapa orang yang memiliki kelebihan penglihatan, bilang kalau ada yang tidak beres dengan warung ibu mertuaku. Beberapa kali beliau memang bercerita dan aku juga tidak mengerti harus berbuat apa. Hanya bisa memberi saran untuk berprasangka baik pada tetangga yang juga baru membuka usaha yang sama.
Ternyata, keluhan ibu mertuaku sampai juga ke telinga suamiku. Hari berikutnya aku diajak suamiku pergi bersilaturahmi ke rumah salah satu ustadz yang bisa melakukan ruqyah untuk membantu usaha ibu mertuaku.
Aku dibuat terkejut karena tujuan awalku ingin membersihkan rumah mertuaku yang dibilang orang diberi sihir atau guna-guna oleh orang lain, namun ustadz tersebut justru menganalisa penyakit yang ada di dalam tubuhku. Beliau bilang, sakit yang aku alami adalah penyakit non medis. Jika penyakit medis, tentunya beliau akan menyarankan aku mengunjungi dokter medis, bukan dokter non medis.
Selama beberapa jam kami banyak bercerita.
Aku memang sudah mengetahui beberapa hal sebelum bertemu dengan ustadz tersebut, hanya saja aku tidak ingin berprasangka buruk pada orang lain. Beliau bilang aku termasuk kuat karena bisa melawan rasa sakit itu selama ini.
Ada beberapa hal yang membuatku terkejut. Yang pertama, ada orang yang menyukaiku sejak aku masih remaja dan dia mengirim jin untuk memikatku. Yang kedua, ada rekan kerja yang juga mengirimkan jin untuk menyakitiku. Aku tidak heran karena bisa dibilang posisiku di kantor memang lumayan bagus dan sering kali cekcok dengan rekan kerja. Tapi, aku tidak mau suudzon pada siapa pun. Bagiku, mereka semua baik dan memberikan pengalaman kerja yang baik. Semua masalah yang terjadi mengajarkan aku untuk bijak dan dewasa dalam bersikap. Kalau mereka terlanjur benci denganku, bagiku tak masalah. Asal hatiku tidak pernah benar-benar membenci orang lain.

Yang ketiga, ada seseorang yang ingin memisahkan rumah tanggaku dengan bantuan jin. Aku tidak tahu siapa pelakunya dan aku tidak terlalu peduli. Yang keempat, ada seseorang yang sengaja menanamkan tanah kuburan dan tali pocong di rumahku agar usahaku sepi (sama persis seperti rumah mertuaku). Aku tahu siapa pelakunya, tapi aku sama sekali tidak punya keinginan untuk membalas. Aku justru ingin sekali bisa bersedekah dan membantu dia. Yang jelas, orang yang mengirimkan ilmu sihir ke rumahku dan ke rumah mertuaku adalah dua orang yang berbeda.
Aku percaya tidak percaya ini bisa terjadi. Tapi, aku harus percaya dan yakin kalau jin itu memang ada. Jin diciptakan untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Sehingga banyak pula jin yang bisa diajak bekerjasama untuk menyakiti orang lain. Padahal, jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Az-Zariyat ayat 56:
"Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku."
Kita tidak bisa memungkiri kalau kita juga hidup berdampingan bersama para jin. Kalau aku tidak percaya adanya jin dan alam ghaib, itu artinya aku tidak mempercayai adanya Allah SWT.
Karena aku termasuk orang yang tidak bisa melihat makhluk ghaib, hatiku masih saja sering tidak yakin ada makhluk ghaib di sekitarku. Atau bisa dibilang aku justru takut dengan mereka jika mereka menampakkan diri.
Haduh ... kalau mau bahas soal alam ghaib dan kehidupan jin, sepertinya aku tidak akan sanggup. Karena ilmu pengetahuanku soal agama pun tidak begitu baik. Aku tidak pernah punya keberanian membahas apa pun soal agama, apalagi jika pertanyaan atau pernyataanku justru menimbulkan perdebatan. Lebih baik aku berdiam diri saja, takut terpancing emosi, nanti dajjal akan mudah masuk ke dalam tubuhku.
Bagaimana tidak? Saat ini jin-jin itu sudah masuk ke dalam tubuhku dan menguasai pikiranku.
Sayangnya, ustadz tersebut hanya bisa mengobati sakit di kepala dan ulu hatiku terlebih dahulu. Beliau bilang, aku harus datang lagi secara bertahap agar dia bisa mengeluarkan seluruh jin dan sihir yang ada di dalam tubuhku.
Sampai hari ini, suamiku belum juga mengajak untuk kembali bersilaturahmi ke rumah ustadz tersebut. Aku hanya mencoba menjaga sholat dan dzikirku agar tidak terus menerus diganggu oleh jin yang dikirim seseorang ke rumahku.
Namun, aku bukanlah muslim yang taat. Semakin aku ingin sholat, semakin kuat pula aku menolak keinginan tersebut. Walau tiap malam aku selalu membaca surah Yaasiin, namun tidak membuat keadaanku menjadi lebih baik. Memang benar, sakit di kepala dan ulu hatiku tidak pernah kumat lagi. Hanya saja, kini punggungku selalu terasa panas. Rasanya seperti di panggang di depan tungku api. Atau lebih tepatnya seperti panasnya diolesi cabai. Rasanya pedas, panas dan ... tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.
Terlebih ketika aku sedang sholat. Aku merasa tidak nyaman dan tidak khusyuk menjalankannya. Karena pungggungku terasa sangat panas, tubuhku terus berkeringat, di dalam perutku seperti ada benda yang bergerak, jemari kaki dan tanganku keram. Sehingga sholatku seringkali tidak khusyuk.
Ya Allah ... sepertinya aku tidak mampu melawan jin yang ada di dalam tubuhku seorang diri. Aku memang membutuhkan orang lain sebagai perantara untuk bisa menyembuhkanku dari sakit yang aneh ini. Hanya Allah yang bisa menolongku, hanya Allah. Kalau ada ustadz, dialah orang istimewa yang menjadi perantaranya.
Ingin sekali aku bercerita pada teman atau keluarga tentang penyakit aneh yang aku alami. Tapi ... rasanya di zaman sekarang ini, terlalu aneh jika bercerita tentang hal ghaib atau sesuatu yang tak kasat mata. Aku pasti ditertawakan habis-habisan. Hari gini masih percaya sama dukun? Eits, wait! Yang percaya sama dukun itu bukan aku. Tapi orang lain yang berniat jahat sama aku. Karena tidak mampu bersaing secara sehat, dia pakai dukun yang bekerjasama dengan jin.
Kamu nggak akan pernah tahu rasanya saat kamu tidak mengalaminya sendiri. Sampai hari ini aku masih berharap ditemukan dengan orang yang bisa membantuku sembuh karena Allah. Jika Allah mengizinkan, aku ingin jin-jin jahat kiriman orang lain itu bisa pergi meninggalkanku. Atau, jika mereka memang tidak ingin pergi, jangan menyakitiku dan jangan tunduk pada perintah manusia, tunduklah pada perintah Allah SWT. Kita bisa hidup berdampingan tanpa harus menyakiti, sama-sama beribadah kepada Allah.
Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu berbuat kebaikan dan taat beribadah karena Allah, bukan karena hal duniawi semata.


Ditulis oleh Rin Muna untuk Penakata
East Borneo, 05 Maret 2019



0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas