3F - Fict Feat Fact

Wednesday, November 1, 2017

Cerpen "Aku Anak Haram"

Namaku Sarah, aku terlahir dari rahim seorang pelacur dan ayahku seorang Mafia. Aku terlahir bukan dari keluarga baik-baik. Tapi aku selalu berusaha menjadi yang terbaik, walau tak satupun orang percaya padaku. Sampai saat ini aku tidak pernah tahu siapa ayahku sebenarnya. Semua orang menyebutku "Anak Haram". Lalu, apakah semua yang aku lakukan akan jadi haram? Sholatku jadi haram? Dzikirku jadi haram? Sedang aku punya Tuhan. Aku terlahir dari rahim seorang pelacur itu bukan kemauanku. Kalau bisa memilih, aku ingin terlahir dari rahim seorang ibu yang Sholehah. Ibu yang bisa ajari aku sholat. Ibu yang bisa ajari aku membaca Al-Qur'an. Tapi, Tuhan membuat takdirku berbeda. Aku dihina, aku di kucilkan dan aku tak di akui. Sampai pada akhirnya aku bertemu dengan seorang wanita yang tak peduli dengan latar belakang keluargaku. Dia menyayangiku seperti anaknya sendiri. Dia yang dengan sabar mengajariku tentang apa itu kebaikan. Dia yang mengenalkanku pada Tuhan. Dia yang memberiku semangat untuk terus berjuang dan semangat walau hari-hariku di terpa cacian. Sampai pada hari ini, aku merasa punya kehidupan yang lebih baik dan masa depan yang selalu aku dambakan.
"Braakk....!" Bantingan pintu kamar mama membuyarkan lamunanku.
Hampir setiap hari kedua orang tuaku bertengkar. Ku intip papa yang terduduk di sofa ruang tamu sambil menghisap rokoknya. Wajahnya terlihat seram karena memendam emosi. Aku coba menghampirinya perlahan.
"Papa...!" Panggilku dengan penuh hati-hati.
Papa langsung memandang ke arahku, sedang mama masih berteriak mencaci maki dari balik pintu kamarnya.
"Lihat kelakuan Mama kamu itu!" Teriak papa sambil menunjuk ke arah pintu kamar.
Aku nggak tahu apa yang selama membuat mereka tidak berhenti berkelahi dan berdebat. "Bukannya setiap hari memang seperti itu? Papa baru sadar? Apakah tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik Pa? Sarah capek dengar Papa dan Mama kelahi tiap hari" Sahutku dengan lembut.
"Gimana bisa Papa bicara baik-baik kalau Mama kamu aja kelakuan kayak gitu! Dasar perempuan gila!" Maki Papa.
"Sudah lah Pa, Mama itu butuh seseorang yang membimbing dia untuk jadi baik. Sedangkan Papa sama sekali nggak pernah ngajarin kita tentang kebaikan, tentang moral, tentang agama."
"Ah... Kamu ini kebanyakan ceramah! Nda usah sok suci jadi anak. Kamu masih kecil, tau apa kamu soal keluarga!?"
"Aku tau semuanya Pa. Aku punya Papa yang nggak pernah peduli sama keluarga. Aku punya Mama yang setiap malam nggak pernah di rumah. Aku punya orangtua yang setiap hari cuma mabuk-mabukkan. Bahkan sampai saat ini Papa nggak tau kan umur aku sebenarnya berapa? Papa selalu anggap aku anak kecil." Ucapku sambil meneteskan air mata. "Sekarang umurku udah 22 tahun Pa, aku bukan anak kecilnya Papa lagi. Apa papa pernah tanya gimana nilai-nilai di sekolah? Papa nggak pernah peduli sekalipun aku lulus dengan nilai terbaik. Papa dan Mama terlalu sibuk dengan dunia masing-masing. Sampai-sampai kalian juga nggak tahu kalau bulan depan aku wisuda Pa."
"Kamu mau wisuda? Kapan masuk kuliahnya?" Tanya Mama yang tiba-tiba sudah ada di sampingku.
"Mama dan Papa itu sama saja, terlalu sibuk dengan kesenangan kalian sendiri. Sampai nggak tau sama sekali kalau aku sudah kuliah, bahkan aku sudah lulus S1. Mama juga nggak tau kan besok hari apa?" Tanyaku balik pada Mama sambil berlinang air mata.
"Mama tau kok. Besok hari minggu kan?" Jawabnya.
"Bukan itu yang aku maksud Ma, besok itu hari ulang tahun aku. Ulang tahun aku yang ke-23, dan selama 23 tahun Mama dan Papa sama sekali nggak pernah ngucapin 'Happy Birthday' buat aku Ma. Aku pengen kayak temen-temenku yang lain. Punya orang tua yang normal, yang baik, yang selalu memberi kasih sayang untuk anak-anaknya. Kenapa Mama dan Papa nggak pernah jadi orang tuaku? Justru orang lain yang lebih peduli sama aku." Ucapku sambil terisak dan berlalu pergi dari rumah.
Kulangkahkan kakiku menuju sebuah rumah di ujung jalan. Masih di hiasi air mata dan isakku, ku ketuk pintu rumahnya.
"Kamu kenapa Nak?" Tanya Bunda melihatku terisak.
"Bunda,,, Papa dan Mama..." Ucapanku terhenti oleh dekapan Bunda. Orang yang begitu menyayangiku tanpa perduli latar belakang orang tuaku. Dialah yang jadi malaikatku dalam keadaan apapun. Dia yang membelaku mati-matian saat aku di caci masyarakat hanya karena aku anak haram.
"Bunda,,, apa aku tak layak ada di masyarakat hanya karena aku bukan dari keluarga baik-baik. Semua orang bilang aku anak haram. Orang tuaku sama sekali nggak pernah peduli sama aku. Bahkan mereka nggak sadar kalau aku sebentar lagi wisuda." Isakku di pelukkan Bunda. "Aku pengen mereka hadir dan lihat aku pake toga. Aku pengen kayak temen-temen yang lain."
"Sarah, dengar bunda baik-baik. Sudah ratusan kali bunda bilang sama Sarah kalau sarah itu bukan anak haram. Semua anak terlahir suci dan tak berdosa Nak. Kamu sama dengan bayi-bayi lain yang baru lahir. Yang haram bukan kamu, tapi perbuatan orang tua kamulah yang haram. Jadilah sesuatu yang membanggakan. Buktikan bahwa kamu layak ada di masyarakat." Bisik bunda lirih di telingaku.
1 bulan kemudian...
Ini adalah hari yang selalu aku tunggu. Aku melihat sosokku di cermin. Hari ini aku pakai toga. Toga ini adalah harapan dan masa depanku. Aku ingin jadi lebih baik. Aku tak ingin jadi apa yang sudah dilakukan oleh orang tuaku. Kulangkahkan kakiku menuju gedung wisuda, di dampingi Bunda yang selama ini selalu ada untukku.
"Bund, apa Papa dan Mama akan datang kesini? Aku gugup banget hari ini." Ucapku ketika duduk di kursi.
Acara pelantikan kelulusan mahasiswa berjalan dengan baik dan hikmat.
"Kami akan mengumumkan mahasiswa yang lulus dengan nilai terbaik. Dan yang mendapat predikat nilai tertinggi adalah...."
Semua orang terdiam menunggu ucapan selanjutnya.
"Mahasiswa terbaik adalah.... Sarah Ayunda dari fakultas kedokteran!"
Tiba-tiba jantungku seperti lepas entah kemana. Aku jadi mahasiswa terbaik? Masih belum percaya. Apa masih ada nama Sarah Ayunda yang lain. Tapi semua mata tertuju padaku.
"Kepada Sarah Ayunda dimohon maju ke depan untuk menerima sertifikat penghargaan." Pembawa acara mempersilahkan aku untuk maju ke depan.
"Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh..." Sapaku setelah menerima piala dan piagam penghargaan. "Saya nggak tau harus bicara apa saat ini. Yang jelas saya ingin berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas apa yang telah Dia berikan kepada saya. Terima kasih untuk Bunda Ina yang selama ini jadi pelita dalam hidup saya. Berkat bantuan beliau, saya bisa mendapatkan beasiswa untuk masuk di fakultas kedokteran ini. Dia bukan ibu kandung saya, dia bukan siapa-siapa saya. Tapi dia jadi malaikat yang tak pernah berhenti aku cintai. Dia yang selalu memelukku saat semua orang membenciku. Terima kasih untuk Bunda Ina. Terima kasih banyak untuk semuanya." Ucapku sambil berlinang air mata. "Saya juga berterima kasih pada kedua orang tua saya. Berkat kalian aku punya semangat untuk jadi yang lebih baik. Penghargaan ini aku persembahkan untuk kedua orang tuaku yang sangat berharga. Sekalipun mereka tak seperti orang tua lainnya. Kalian semua tahu siapa saya dan siapa orang tua saya. Aku hidup dengan latar belakang keluarga yang tidak baik. Tapi, bukan berarti aku tidak bisa menjadi anak yang baik. Terima kasih!" Ucapku sambil berlalu pergi.
Aku tak bisa menahan air mataku untuk jatuh. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku ingin ada orang tuaku. Aku ingin mereka di sini. Aku ingin mereka bangga melihatku. Tapi semuanya semu, mereka takkan pernah perduli dengan apa yang aku lakukan, dengan apa yang aku hasilkan.
"Sarah...!" Panggilan seseorang menghentikan isak tangisku. Aku membalikkan tubuhku dan kulihat samar-samar dua orang berdiri di hadapanku.
"Mama? Papa? Kalian ada di sini?"

Mama mengangguk sambil tersenyum dan kemudian memelukku erat. "Maafin Mama dan Papa ya sayang. Mama dan Papa nggak pernah peduli dengan apa yang kamu lakukan. Hari ini, kamu menyadarkan Mama dan Papa. Mama janji akan jadi ibu yang baik buat kamu. Mama akan berusaha."
"Papa juga akan jadi Papa yang baik buat Sarah. Papa udah tinggalin semua dunia kelam Papa. Papa dan Mama bangga punya kamu." Tutur Papa menambahkan.
Tuhan, terima kasih untuk hari ini. Setidaknya hari ini membuktikan bahwa aku layak ada di masyarakat. Walau mereka bilang aku anak haram, tapi kehidupanku tidak haram. Aku buktikan aku bisa lebih baik dari orang tuaku dan bisa membuat orang tuaku jadi lebih baik.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas