Wednesday, February 5, 2025

Perfect Hero Bab 57: Teman Kecil Ayuna | a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yun, kakek sama mama minta kita ngerayain tahun baru di rumah mereka.”

 

“Oh ya? Syukurlah. Lagian, aku juga nggak punya keluarga lain buat ngerayain tahun baru.”

 

“Kalo gitu, siap-siap sekarang!” pinta Yeriko.

 

“Hah!? Sekarang juga!?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Kenapa selalu mendadak sih!?”

 

“Kenapa? Kamu nggak suka sama keluargaku?”

 

“Bukan. Bukan begitu.”

 

“Terus?”

 

“Mmh ... gimana kalau kita ke sananya besok aja?” tanya Yuna. “Hari ini, kita cari kado tahun baru untuk mama dan kakek kamu. Gimana?”

 

“Kelamaan. Hari ini aja kita cari hadiah untuk mereka dan langsung berangkat ke rumah kakek.”

 

“Oh. Oke. Aku siap-siap dulu.”

 

Yuna bersiap. Mereka bergegas berangkat menuju salah satu pusat perbelanjaan sebelum akhirnya pergi ke rumah keluarga Yeriko.

 

Rullyta sangat senang dengan kehadiran Yuna di dalam rumahnya. Hadiah kecil dari Yuna, ia terima dengan senang hati.

 

“Kalian menginap di sini kan?” tanya Rullyta.

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia segera membawa Yuna naik ke kamarnya.

 

Yuna mengedarkan pandangannya melihat kamar Yeriko yang terlihat sangat luas dan mewah. Lebih mewah dari villa yang mereka tinggali.

 

“Mandi dan istirahatlah dulu!” pinta Yeriko. “Aku mau turun, nemenin kakek ngobrol.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia bergegas mandi dan langsung turun untuk menemui kakek dan mama mertuanya.

 

“Sini!” panggil Rullyta saat Yuna ikut bergabung bersama bersamanya.

 

Yuna tersenyum. Mereka berbincang banyak hal hingga larut malam.

 

Keesokan harinya, Yuna diajak berkeliling rumah Yeriko untuk beradaptasi dengan rumah keluarganya.

 

“Beruang, ini rumah atau mall?” tanya Yuna. Ia baru saja berkeliling ruangan di lantai bawah dan menghabiskan waktu seharian. Masih ada dua lantai lagi yang belum ia lihat.

 

Yeriko tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna. “Kamu suka nggak rumah seperti ini?”

 

“Suka,” jawab Yuna sambil mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Nanti aku bikinin. Mau berapa lantai?”

 

Yuna mengerutkan keningnya. “Satu aja.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Villa yang kita tempati aja ada dua lantai. Kamu yakin mau tinggal di rumah satu lantai?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Bukannya nggak harus repot kalau rumah cuma satu lantai?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Kita harus nyiapin kamar buat anak-anak kita. Rumah satu lantai terlalu sempit.”

 

Yuna tertawa kecil. “Emangnya mau punya anak berapa? Satu aja kan cukup. Rumah yang kita tempati sekarang aja, ada dua kamar kosong di lantai bawah yang nggak dipakai. Bisa dipakai untuk anak-anak kita nanti.”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Nggak bisa. Kamar itu terlalu sempit, Yun.”

 

“Nggak usah terlalu luas. Biar suasana rumah lebih hangat kalau saling berdekatan,” tutur Yuna.

 

Yeriko menghela napas. “Kamu ini ...!?” Ia kesal dengan Yuna yang terlalu berpikir sederhana. “Aku bukan orang sembarangan. Nggak mungkin kakek membiarkan kita tinggal di rumah yang sempit.”

 

Yuna tertawa kecil. Ia langsung bergelayut manja di tubuh Yeriko. “Aku cuma bercanda. Kamu boleh bikinkan rumah seperti apa pun buat keluarga kecil kita. Mau rumah sepuluh lantai juga nggak papa,” tutur Yuna sambil memainkan hidungnya di hidung Yeriko yang bangir.

 

Yeriko langsung memeluk tubuh Yuna. Entah kenapa, setiap perdebatan dan perselisihan di antara mereka, membuat Yeriko semakin menyayangi Yuna sebagai istrinya.

 

“Permisi, Tuan ...!” sapa salah satu pelayan yang ada di rumah Yeriko.

 

“Iya. Kenapa?”

 

“Sudah ditunggu sama Ibu dan Tuan Besar di halaman belakang.”

 

“Oh. Oke.” Yeriko menganggukkan kepala dan menyuruh pelayan tersebut untuk pergi.

 

Yuna dan Yeriko melangkah perlahan ke halaman belakang. Di sana, mamanya telah mempersiapkan banyak hal untuk merayakan tahun baru bersama. Ia merasa sangat senang dengan keluarga Yeriko yang penuh kehangatan. Ia tidak pernah berpikir bisa semudah itu diterima dalam keluarga Yeriko.

 

Usai merayakan tahun baru, Yuna dan Yeriko kembali ke rumah dan menjalani aktivitas seperti biasa. Yuna ingin pergi bekerja, namun Yeriko memintanya untuk pergi ke kantornya terlebih dahulu.

 

“Ngapain ke kantormu?” tanya Yuna saat Yeriko mengungkapkan permintaannya.

 

“Nggak usah banyak tanya! Nanti juga bakalan tahu,” jawab Yeriko. “Aku masih ada meeting sampai jam sepuluh pagi. Kamu datang ke kantorku jam sepuluh ya!” pinta Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Jadi, aku nggak usah pergi ke kantorku?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kamu istirahat dulu di rumah!” Ia langsung mengecup kening Yuna dan bergegas pergi ke kantornya.

 

Yuna tersenyum. Ia ikut mengantarkan Yeriko sampai ke halaman rumah. Ia merasa sangat senang dan beruntung memiliki suami yang tampan dan penuh perhatian kepadanya.

 

Tepat jam sepuluh pagi, Yuna pergi ke kantor GG menggunakan taksi. Ia langsung masuk ke dalam kantor.

 

Semua orang menatap kedatangan Yuna dan bertanya-tanya tentang siapa Yuna sebenarnya. Melihat penampilan Yuna, pastilah bukan orang sembarangan. Pakaian dan tas Yuna adalah barang bermerek dengan harga yang fantastis.

 

“Ruangan Yeriko di mana?” tanya Yuna pada resepsionis saat ia baru sampai di lobi.

 

“Di lantai paling atas, Bu.”

 

“Oke.” Yuna langsung melangkahkan kakinya menuju lift. Saat itu, ia berpapasan dengan Andre.

 

“Ayuna!?” sapa Andre begitu melihat Yuna.

 

Yuna mengerutkan keningnya menatap cowok itu. “Astaga! Kamu Andre?”

 

Andre menganggukkan kepala.

 

“Apa kabar?” tanya Yuna dengan wajah sumringah. “Udah lama banget kita nggak ketemu.”

 

“Iya. Udah lebih sepuluh tahun kita nggak pernah ketemu lagi. Kamu ... sekarang udah berubah jadi bidadari kayak gini,” puji Andre sambil memerhatikan tubuh Yuna.

 

“Ah, kamu bisa aja,” sahut Yuna sambil menepuk bahu Andre.

 

“Suer!” ucap Andre sambil mengacungkan dua jarinya.

 

Yuna tersenyum kecil. “Kamu juga banyak berubah. Udah kelihatan dewasa dan ganteng gini. Kamu, udah lama kerja di sini?”

 

Nggak. Aku ke sini karena ada urusan sedikit. Kamu kerja di sini?” tanya Andre.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku kerja di salah satu anak perusahaan Wijaya Group.”

 

“Oh, aku pikir kamu kerja di sini. Kamu tinggal di mana?” tanya Andre.

 

Yuna tertawa kecil. “Mmh ... ada deh!”

 

“Astaga! Tempat tinggal aja dirahasiain.”

 

Yuna tersenyum kecil.

 

“Eh, gimana kalau aku traktir kamu makan siang ini? Sambil ngobrol-ngobrol.”

 

“Traktir apa?” tanya Yuna.

 

“Lobster. Gimana?”

 

“Hah!? Serius?”

 

Andre menganggukkan kepala. “Gimana?”

 

“Boleh-boleh. Tapi ... nggak siang ini ya!”

 

“Kenapa?”

 

“Aku ada banyak urusan, Ndre.”

 

“Hmm ... ya udah, deh. Aku bisa minta nomer telepon atau WA kamu?”

 

“Bisa,” jawab Yuna.

 

“Berapa?” tanya Andre sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

 

Yuna langsung menyebutkan nomor telepon miliknya.

 

“Eh, kabar ayah kamu gimana?” tanya Andre kemudian.

 

Yuna menghela napas. “Masih seperti itu sejak sebelas tahun lalu,” jawab Yuna lirih.

 

Andre meraih tangan Yuna. “Yang sabar ya! Kamu pasti bisa melewati semuanya dengan mudah dan ayah kamu bisa kembali seperti dulu lagi.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Ngelihat dia terbaring selama sebelas tahun, rasanya memang nggak mudah, Ndre.”

 

Andre tersenyum menatap Yuna. “Sudahlah. Maaf, aku sudah menanyakan sesuatu yang udah bikin kamu sedih. Oh ya, dia dirawat di rumah sakit mana? Siapa tahu, aku bisa mengunjungi beliau.

 

“Di Siloam.”

 

“Ya sudah. Jangan murung! Jadi jelek, loh.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap Andre.

 

“Kamu ke sini ada perlu apa?” tanya Andre.

 

“Mau ketemu sama Yeriko.”

 

“Pak Ye?” tanya Andre.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia melangkah mendekati lift dan memencet tombol lift.

 

“Kamu ada perlu apa sama Pak Ye?” tanya Andre sambil menunggu pintu lift terbuka.

 

Yuna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Andre. Ia tidak berani mengungkapkan identitasnya sebagai istri Yeriko. Ia merasa tidak percaya diri untuk melakukannya.

 

“Yun ...!” panggil Andre sambil meraih lengan Yuna.

 

“Ya. Kenapa?”

 

“Aku seneng banget bisa ketemu sama kamu lagi hari ini.”

 

Yuna mengangguk. “Aku juga seneng. Kamu nggak perlu secanggung ini!” pinta Yuna.

 

Andre tersenyum ke arah Yuna. “Aku terlalu bahagia karena akhirnya bisa ketemu sama teman masa kecilku. Aku jadi kangen waktu kita masih sering main bareng.”

 

Yuna tersenyum. Ia langsung menoleh ke arah pintu lift yang terbuka. Yuna membelalakkan matanya dan langsung menepis tangan Andre.

 

“Kenapa?” tanya Andre. Ia juga melihat sosok Yeriko yang baru saja keluar dari lift dan menyapanya dengan sopan.

 

Jantung Yuna berdebar sangat kencang melihat ekspresi wajah Yeriko. “Bodoh!” maki Yuna dalam hati. Ia merasa sangat bersalah karena membiarkan Andre memegang tangannya.

 

Yuna tidak bisa berkata-kata, hanya menunggu luapan amarah yang akan keluar dari suaminya itu. Ia bersedia menerima hukuman apa pun karena telah membuat suaminya marah.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 56 : Be a Hero | a Romance Novel by Vella NIne

 


“Jhen, kamu kenapa?” tanya Yuna yang mendengar masih Jheni terisak.

 

“Tolongin aku, Yun!”

 

“Iya. Kenapa?”

 

“Aku sekarang ada di Shangri-La. Aku dibius dan dipaksa buat melayani laki-laki tua ini. Aku takut banget, Yun. Tolongin aku!”

 

“Oke. Aku ke sana sekarang!” seru Yuna. “Kamu ...” Yuna langsung menatap layar ponsel saat telepon Jheni tiba-tiba mati.

 

“Ada apa?” tanya Yeriko.

 

“Jheni disekap di kamar hotel sama seseorang dan dia ...”

 

“Di mana?” sambar Chandra. Ia langsung melompat mendekati Yuna.

 

“Shangri-La,” jawab Yuna.

 

Chandra langsung berlari untuk menyelamatkan Jheni secepatnya.

 

Yuna, Yeriko dan Lutfi mengernyitkan dahi melihat sikap Chandra yang terlihat sangat khawatir, melebihi rasa khawatir yang ada di dalam hati Yuna.

 

“Kenapa kalian masih diam aja?” teriak Chandra.

 

Yuna langsung bergegas mengambil tas. Ia menarik lengan Yeriko dan mengikuti Chandra yang jauh lebih dahulu sampai di mobilnya.

 

Yeriko, Yuna dan Lutfi langsung bergegas masuk ke dalam mobil untuk menyusul mobil Chandra yang sudah melaju lebih dulu.

 

“Kenapa naik mobilku?” tanya Yeriko saat melihat Lutfi duduk di belakang kursi mobilnya.

 

“Yer, nggak sempat mau ambil kunci mobilku. Aku lupa taruh di mana.”

 

“Udah, deh. Kenapa sih masih sempat berdebat soal mobil di saat kayak gini!?” sentak Yuna.

 

Yeriko menarik napas. Ia menyalakan mesin mobil dan melaju kencang menuju Shangri-La Hotel.

 

Yuna tidak bisa duduk tenang selama berada di perjalanan. Ia sangat takut terjadi apa-apa dengan Jheni. “Cepetin mobilnya!” pinta Yuna.

 

Yeriko langsung menambah kecepatan mobilnya agar bisa sampai ke Sangri-La lebih cepat. Hari beranjak malam dan jalanan semakin lengang, sehingga Yeriko bisa melaju kencang di jalan raya.

 

Begitu sampai di hotel, Chandra langsung mencari manager hotel.

 

“Ada apa, Pak Chandra?” tanya manager hotel tersebut.

 

“Ada temenku yang lagi disekap di salah satu kamar hotel ini. Bisa kasih aku informasi, sekarang mereka ada di kamar mana?”

 

“Kamar di sini ada banyak dan kami nggak tahu temen Pak Chandra yang mana.”

 

“Di sini ada CCTV kan?”

 

“Ada di setiap lorong.”

 

“Bawa aku ke ruang kontrol CCTV!” pinta Chandra.

 

Manager tersebut mengangguk. “Ikut saya!” pintanya.

 

Di saat yang sama, Yeriko dan Yuna juga sampai di lobi hotel. Mereka langsung mengikuti langkah Chandra dan manager hotel tersebut.

 

Chandra mulai mengecek keberadaan Jheni melalui pantauan kamera CCTV.

 

“Itu mereka!” seru Yuna.

 

Chandra langsung keluar dan menuju pintu kamar hotel yang terekam oleh CCTV. Ia mengetuk pintu kamar berkali-kali namun tak ada jawaban.

 

“Aargh ...!” Chandra menendang pintu kamar hotel yang sangat kokoh. Ia tidak bisa menghancurkan pintu kamar begitu saja.

 

“Kartu akses kamar mana?” tanya Yeriko pada manager hotel.

 

Manager hotel tersebut memberikan kartunya pada Yeriko.

 

Yeriko langsung menempelkan kartu ke pintu dan bisa membuka pintu dengan mudah.

 

Chandra melongo, ia lupa kalau manager hotel memiliki semua akses masuk ke kamar hotel dengan mudah. “Nggak dari tadi!” sentaknya sambil membuka pintu dan menerobos masuk.

 

Yeriko tersenyum kecil.  “Orang kalau udah panik, nggak akan kepikiran hal-hal yang mudah,” tuturnya pelan.

 

Yuna dan Yeriko ikut masuk ke dalam kamar.

 

Chandra melihat tubuh laki-laki tua yang sedang memukuli Jheni menggunakan sabuk. “Bangsat kamu!” serunya sambil memukul laki-laki tua itu.

 

Yuna tercengang melihat pria tua yang bersama Jheni. “Direktur Lukman!?” Ia langsung menghampiri Jheni yang sedang menangis di sudut ruangan.

 

“Kamu nggak papa?” tanya Yuna sambil memeluk tubuh Jheni.

 

Jheni terisak di dalam pelukan Yuna, ia tidak bisa berkata-kata. Ia melirik ke arah Chandra yang masih memukuli Direktur Lukman tanpa ampun.

 

“Ampun ... ampun!” teriak Direktur Lukman sambil menangis.

 

“Kamu bener-bener nggak tahu diri, hah!?”

 

“Aku sama dia sudah tunangan. Kami akan segera menikah,” tutur Direktur Lukman.

 

Chandra langsung menoleh ke arah Jheni.

 

Jheni menggelengkan kepala. “Nggak. Aku nggak pernah tunangan sama dia atau sama siapa pun,” tuturnya sambil terisak.

 

“Kamu mau bohongin kamu, hah!?”

 

“Kami beneran sudah tunangan. Dia calon istriku,” tutur Direktur Lukman. Ia tetap bersikeras kalau Jheni adalah tunangannya.

 

“Kamu pikir, kami percaya gitu aja sama kamu? Kamu masih ingat aku siapa, hah!?” sahut Yuna.

 

Bibir Lukman bergetar. Ia sangat mengenal Yuna. Wanita muda yang pernah ia beli dari tantenya sendiri dan ia tidak berhasil mendapatkannya. “Kamu!? Perempuan jalang yang udah bikin uangku melayang!” teriak Lukman.

 

“Diam! Udah salah, masih aja berani maki orang!” sentak Chandra sambil menampar Lukman.

 

“Kamu nggak tahu urusan kami! Sebaiknya, jangan ikut campur! Aku bakal bikin perhitungan sama kalian!”

 

Chandra tersenyum sinis. “Mau bikin perhitungan apa, hah!?” Ia melirik ke arah kaos kaki yang tergeletak di lantai.

 

“Aku bakal laporin kalian ke polisi karena sudah bikin aku kayak gini dan mengambil calon istriku!” ancam Lukman.

 

“Coba aja!” Chandra menekan rahang Lukman dan memasukkan kaos kaki yang bau itu ke dalam mulutnya.

 

“Mmh ... mmh ...” Lukman berusaha memberontak dan mengeluarkan kaos kaki dari mulutnya.

 

“Makan tuh bau kakimu sendiri!” Chandra menendang tubuh Lukman. Ia bergegas menghampiri Jheni.

 

“Kamu nggak papa?” tanya Chandra.

 

Jheni mengangguk pelan.

 

“Aku bawa kamu ke rumah sakit.” Chandra langsung menggendong tubuh Jheni keluar dari kamar.

 

Yuna menghela napas lega. Akhirnya, ia bisa menyelamatkan sahabatnya. Kondisi Jheni tidak begitu buruk dan ia percaya kalau Chandra akan menjaganya dengan baik. Mereka bergegas keluar dari kamar dan turun ke lobi.

 

“Yun, sejak kapan mereka saling kenal?” tanya Lutfi.

 

“Mereka siapa?” tanya Yuna pura-pura tidak tahu.

 

“Ya itu. Chandra sama sahabat kamu itu.”

 

“Mmh ... aku kurang tahu juga.”

 

“Hadeh ...!” Lutfi memutar bola mata dan langsung keluar dari hotel. Mereka langsung masuk ke dalam mobil.

 

“Lut, kamu naik taksi aja!” pinta Yeriko.

 

“Astaga! Ngantar aku pulang sebentar aja kenapa sih?”

 

“Jauh, Lut. Mesti bolak-balik. Ini udah jam dua belas malam.”

 

“Baru juga jam dua belas malam. Biasanya juga di bar sampe subuh,” sahut Lutfi.

 

“Yer, anterin dia pulang dulu!” pinta Yuna. “Udah malam kayak gini, pasti susah cari taksi.”

 

“Bener!” sahut Lutfi.

 

“Ck, kamu ini nyusahin aja,” celetuk Yeriko.

 

“Cuma nganter doang, Yer. Nyusahinnya gimana? Atau ... aku aja yang antar kalian pulang ke rumah. Mobilnya aku bawa pulang. Jadi, nggak usah bolak-balik antar aku kan?”

 

“Mmh ... boleh juga,” tutur Yuna.

 

“Nggak. Besok pagi aku mau pakai mobilnya.”

 

“Astaga! Aku suruh supir antarkan subuh-subuh.”

 

“Yer ...!” Yuna menggoyangkan lengan Yeriko.

 

Yeriko menatap Yuna dan menghela napas. “Iya, oke.”

 

“Oke apanya?”

 

“Kamu bawa mobilku pulang,” jawab Yeriko kesal.

 

“Nah, gitu dong! Kan bisa ngerasain bawa mobil baru,” sahut Lutfi dengan wajah sumringah.

 

“Awas kalo sampe lecet!”

 

“Astaga! Jangan kayak orang susah gitu lah! Kalo lecet ya tinggal beli baru aja lagi,” sahut Lutfi.

 

Yuna langsung menoleh ke arah Lutfi sambil menautkan alisnya. “Kamu kira, duit tinggal ngeruk apa ya?” dengus Yuna.

 

Lutfi meringis ke arah Yuna. “Duit Yeriko nggak bakalan habis. Dia bisa beli 100 biji mobil kayak gini.”

 

Yeriko tersenyum kecil menanggapi ucapan Lutfi.

 

Yuna memonyongkan bibirnya, kemudian menatap Yeriko yang duduk di sebelahnya.

 

“Eh, bukannya perusahaan si Lukman tua itu udah kamu ambil alih ya? Kenapa dia masih keliaran dan bahkan maksa Jheni jadi istrinya?”

 

Yeriko mengedikkan bahunya. “Urusan perusahaan nggak ada hubungannya sama urusan pribadinya dia.”

 

“Iya, sih. Tapi ... yang jadi sasaran itu sahabat aku.”

 

“Tenang aja! Aku bakal ngasih dia pelajaran dan akan menyesal seumur hidupnya.”

 

Yuna tersenyum senang. Ia harap, dia dan sahabatnya bisa terlepas dari tangan Lukmantoro yang kotor dan menjijikkan itu.

 

Di saat yang sama, Chandra membawa Jheni ke salah satu rumah sakit terdekat agar mendapatkan penanganan secepatnya.

 

Chandra merasa ngilu saat melihat luka yang ada di punggung dan pundak Jheni dibersihkan oleh tenaga medis. Ia bisa merasakan kalau Jheni sedang kesakitan. Namun terus ditahan hingga tidak berkata-kata. Ia hanya menangis tanpa bersuara.

 

“Makasih ya, udah nolongin aku!” tutur Jheni.

 

Chandra tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Yuna ke mana?”

 

“Mereka udah pulang. Ini udah tengah malam.”

 

“Oh ... oke.”

 

Chandra tersenyum. Usai membersihkan luka Jheni, ia langsung mengantar Jheni pulang ke rumahnya.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas