Thursday, January 23, 2025

Perfect Hero Bab 10 - Hubungan yang Menjijikkan

 


“Uhuk ... uhuk ...!” Yuna langsung meneguk air putih yang ada di depannya.

 

“Mmh ... apa Tante nggak keberatan kalau perempuan yang disukai Yeri adalah perempuan yang nggak jelas asal-usulnya?”

 

“Yeriko nggak mungkin milih perempuan sembarangan buat jadi pasangan hidupnya. Dia itu selektif banget. Mama pasti setuju siapa aja pilihan dia. Asal dia bahagia, Mama juga ikut bahagia.”

 

Yuna tersenyum menatap Rullyta.

 

“Eits, satu lagi! Jangan panggil Tante!” pintanya. “Call me, Mama Rully!”

 

Yuna tertawa kecil. “Iya, lupa Tante. Eh, maksudnya ... Mama Rully.”

 

Mereka asyik bercengkerama sambil menikmati hidangan bersama.

 

Sementara, Yeriko bersama Riyan di ruang kerja pribadinya.

 

“Data yang aku minta sudah ada?” tanya Yeriko.

 

“Sudah, Bos. Ini!” Riyan langsung menyodorkan sebuah map ke hadapan Yeriko.

 

Yeriko sibuk membuka map itu dan membacanya dengan saksama.

 

“Aku mau mandi dulu. Setelah ini kita ke rumah sakit, ujar Yeriko lalu menutup map itu.

 

“Ngapain Bos? Bos sakit?”

 

Yeriko menghela napas menatap Riyan. “Kita lihat kondisi ayahnya.”

 

“Oh.” Riyan mengangguk-anggukkan kepala.

 

Yeriko bangkit dari kursinya dan melangkah pergi.

 

“Eh, Bos ... semalam gimana?”

 

“Apanya?” Yeriko mengerutkan dahi menatap Riyan.

 

“Itu ...” Riyan mematukkan kedua ujung jari-jemarinya.

 

“Anak kecil mau tau aja!” sahut Yeriko sambil mengetuk kepala Riyan.

 

“Aha ... sukses, Bos!?” ucapnya sambil mengacungkan jempol.

 

Yeriko hanya tersenyum kecil sambil melangkah pergi meninggalkan ruang kerjanya dan bergegas mandi.

 

Riyan ikut tersenyum bahagia. “Akhirnya ... bakal ada nyonya muda di rumah ini. Aku harus deketin nyonya supaya Bos Yeri nggak berani menindas aku,” gumam Riyan. Ia keluar dari ruang kerja Yeriko, menuruni anak tangga dan menghampiri Yuna yang sedang makan bersama dengan Rullyta.

 

“Hei ... Yan, udah makan?”

 

“Sudah, Nyonya.”

 

“Hmm ... Mama nggak suka dipanggil Nyonya. Kamu terlalu sopan. Panggil Mama Rully! Oke!?”

 

Riyan nyengir ke arah Rullyta. Meski Rullyta sudah menganggapnya seperti anak sendiri, namun ia tetap sungkan dengan nyonya besar pemilik rumah ini.

 

Setelah mandi, Yeriko menyesap kopi yang dibuatkan oleh Bibi War. Ia termenung sambil memikirkan ucapan mamanya.

 

“Mama dan kakek sama-sama menyebalkan,” celetuknya sambil memutar-mutar cangkir yang ada di tangannya. “Gadis itu ...” Yeriko tersenyum kecil setiap kali mengingat pertemuannya dengan Yuna. Ia membalikkan tubuhnya saat mendengar langkah kaki yang berisik.

 

“Mau ke mana?” tanya Yeriko.

 

“Mau pulang,” jawab Yuna.

 

“Kamu punya rumah?” tanya Yeriko sambil bangkit dari duduk dan menghampiri Yuna.

 

“Eh!? Apa aku kelihatan kayak gelandangan yang nggak punya rumah?” sahut Yuna kesal.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna. “Kamu sering keliaran di luar sampai tengah malam. Bahkan sudah nginap di rumah ini sampai dua kali. Aku nggak nemuin alamat rumah di tas kamu. Hp-mu juga nggak pernah bunyi. Apa nggak ada yang nyari keberadaan kamu kalau nggak pulang sama sekali?”

 

“Eh!?” Yuna gelagapan mendengar pertanyaan dari Yeriko. “Kamu ...!? Bongkar-bongkar tas aku!?” seru Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Kamu pikir, aku mau nampung cewek kayak kamu di rumah ini kalo tahu alamat rumah kamu di mana?”

 

Yuna mengerucutkan bibirnya. “Aku emang belum punya tempat tinggal sekarang. Masih numpang di rumah Jheni. Tapi bukan berarti aku ini gelandangan,” tutur Yuna dalam hati.

 

“Kamu bisa tinggal di rumah ini sampai ...” Ucapan Yeriko terhenti saat ponselnya tiba-tiba berdering. Ia langsung meraih ponsel dan mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya.

 

“Kenapa? Sekarang? Oke. Kita ketemu di sana.” Yeriko langsung mematikan sambungan telepon.

 

“Mau pergi?” tanya Yuna.

 

“He-em.” Yeriko mengangguk pelan.

 

Yuna tersenyum ke arah Yeriko. “Kalo gitu, aku juga pamit pulang. Makasih sudah nolongin aku. Aku pasti nggak lupa balas budi ke kamu.”

 

Yeriko tersenyum kecil sambil mengedarkan pandangannya. “Riyan ...!” teriaknya.

 

“Kenapa, Bos?”

 

“Ikut aku sekarang!”

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia mengeluarkan permainan di ponselnya dan bergegas mengikuti langkah Yeriko.

 

Yuna keluar dari rumah villa milik Yeriko dan langsung menuju rumah sakit tempat ayahnya dirawat.

 

“Aku udah bikin masalah semalam. Nenek sihir itu pasti bakal bikin ayah dalam bahaya.” Yuna mempercepat langkahnya menyusuri koridor rumah sakit.

 

Benar saja, Yuna harus menghadapi situasi seperti kemarin lagi.

 

“Suster, tolong jangan usir ayahku dari sini!” pinta Yuna. Ia tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa. Tantenya pasti sangat marah karena dia melarikan diri dan tidak mau menyerahkan dirinya pada laki-laki tua pilihan tantenya.

 

“Ayah ...!” Yuna berlari menghampiri tubuh ayahnya yang terbaring di atas ranjang. “Ayah nggak perlu khawatir, Yuna bakal kasih perawatan terbaik buat ayah. Rumah sakit ini payah!” tutur Yuna sambil menangis. Ia mencoba menghibur diri sendiri dan orang yang paling ia sayangi di dunia ini.

 

“Hari ini cerah banget! Sangat menyenangkan bisa lihat anak yang nggak tahu diri ini dalam kesulitan.”

 

Yuna memejamkan mata, menahan sakit dan emosi yang hampir meletus dari dadanya saat mendengar suara Bellina di belakangnya.

 

“Kasihan banget, sih. Udah nggak punya apa-apa. Bahkan ayahnya yang lagi lumpuh aja dikorbankan karena keegoisanmu. Kalo kamu nurut sama Mama. Semua ini nggak bakal terjadi. Ayah kamu tetap bisa dapet perawatan dengan baik.”

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia mengunci mulutnya rapat-rapat untuk menghindari perdebatan dengan Bellina.

 

“Kenapa? Kamu masih ngarepin Lian? Jangan harap bisa ngerebut Lian dari tanganku!” bisik Bellina.

 

“Pergi dari sini!” pinta Yuna.

 

“Kamu ngusir aku?”

 

“Aku bilang, PERGI DARI SINI!” teriak Yuna.

 

“Aku nggak akan pergi,” sahut Bellina sambil tersenyum sinis.

 

“Kamu nggak perlu pamer hubunganmu ke aku! Makin pamer, kamu makin menjijikkan! Pelacur nggak laku!”

 

“Apa kamu bilang!?” Bellina melotot menatap Yuna.

 

“Pelacur nggak laku!” sahut Yuna sambil membulatkan matanya ke arah Bellina.

 

“Kamu ...!? Berani-beraninya ...!” Bellina mengangkat telapak tangannya dan bersiap menampar Yuna.

 

Dengan cepat, Yuna menangkap pergelangan tangan Bellina. “Aku nggak akan ngebiarin kamu menindas aku terus-terusan. Kamu pikir, aku nggak bisa apa-apa, hah!?”

 

Bellina menatap kesal ke arah Yuna. Pandangannya kemudian tertuju pada pintu di belakang Yuna yang tiba-tiba terbuka. Ia pura-pura menjatuhkan dirinya ke lantai dan menangis.

 

Yuna mengerutkan kening melihat Bellina yang tiba-tiba tersungkur di hadapannya.

 

“Kamu nggak papa?” tanya Lian yang tiba-tiba muncul dan langsung mengangkat tubuh Bellina.

 

Dia marah-marah dan dorong aku. Padahal, aku ke sini bermaksud baik, pengen jengukin ayahnya yang lagi sakit. Aku nggak nyangka kalau Yuna memperlakukan aku seperti ini,” tutur Bellina sambil menangis.

 

Yuna mengerutkan kening menatap Bellina. “Heh!? Kamu jangan pura-pura baik di depan Lian , ya!” ancamnya.

 

“Sayang, kamu lihat sendiri kan. Dia kasar banget sama aku,” tutur Bellina sambil menatap Lian yang merangkul tubuhnya.

 

“Sumpah ya, kamu pinter banget akting. Jelas-jelas kamu yang jatuhin diri kamu sendiri!”

 

“Hiks ... hiks ... aku tahu kamu masih nggak rela kalau aku sama Lian. Tapi jangan fitnah aku kayak gini, Yun. Aku minta maaf sama kamu ... aku sama sekali nggak bermaksud ngerebut Lian dari kamu. Kami saling mencintai, tolong kamu restui hubungan kami!” Bellina meraih lengan Yuna perlahan.

 

Yuna langsung menepis tangan Bellina dengan kasar.

 

“Yun, dia itu bermaksud baik sama kamu! Udah minta maaf sama kamu. Aku nggak habis pikir, kenapa kamu bisa sejahat ini jadi cewek? Bener-bener nggak punya perasaan!” maki Lian sambil menatap Yuna.

 

“Apa kamu bilang? Jelas-jelas dia yang jahat dan licik. Kamu aja yang buta!”

 

“Aku nggak akan tertipu sama wajah cantik kamu itu. Hatimu nggak sebagus wajahmu.”

 

“Heh!? Kamu kira perek di sebelahmu ini cewek baik-baik, hah!?” seru Yuna.

 

“Jangan pernah ngatain Bellina di depan aku atau aku bakal bikin kamu nggak bisa ngomong selamanya!” ancam Lian.

 

“Coba aja! Aku nggak takut!”

 

Lian makin naik pitam. Ia mengangkat telapak tangannya dan bersiap menampar Yuna.

 

“Tampar aja! Tampar!” seru Yuna sambil menyodorkan pipinya ke arah Lian.

 

Tangan Lian bergetar saat menatap mata Yuna. Bayangan masa lalunya bersama Yuna berkelebat di pelupuk mata dan membuatnya tak berdaya. Senyum, canda tawa dan masalah yang pernah mereka hadapi bersama.

 

“Kenapa? Nggak berani!?” tanya Yuna sambil menatap Lian.

 

Lian melipat jari-jemari dan menurunkan tangannya. Ia menarik lengan Bellina perlahan. “Kita pergi dari sini!” pintanya. “Nggak ada gunanya ngeladenin dia.” Ia bergegas membawa Bellina keluar dari ruangan.

 

Yuna menarik napas sambil memejamkan mata agar air matanya tidak terjatuh. Ia menghampiri ayahnya yang duduk di kursi roda tanpa bisa bergerak sedikit pun.

 

Yuna menatap mata sambil mengusap pipi ayahnya. “Ayah, semua akan baik-baik aja!” tuturnya sambil tersenyum. “Yuna bakal bawa ayah pergi ke rumah sakit yang lebih baik. Ayah harus sembuh,” tuturnya. Ia meraih kedua telapak tangan ayahnya. Menggenggamnya erat dan mencium punggung tangan ayahnya.

 

Yuna bangkit, perlahan ia mendorong kursi roda ayahnya, menyusuri koridor rumah sakit. Air matanya menetes, ia tak berdaya melakukan apa pun. Ia tidak tahu harus membawa ayah ke mana.

 

“Yun, kamu kenapa?” tanya Yeriko yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

 

Yuna menghentikan langkahnya. Ia menengadahkan kepala menatap Yeriko. Ia tersenyum sambil mengusap air matanya. “Nggak papa.”

 

“Ini ... ayah kamu?” tanya Yeriko sambil menatap Adjie yang duduk di kursi roda.

 

Adjie hanya bisa membuka matanya. Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya dan terus terbaring di ranjang rumah sakit. Kini, ia lumpuh setelah kecelakaan yang merenggut nyawa istrinya sebelas tahun lalu..

 

“Yan, tolong kamu urus masalah ini!” pinta Yeriko sambil menoleh ke arah Riyan.

 

“Siap, Bos!”

 

 

(( Bersambung ... ))

Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Bab 9 - Kepergok Tidur Bareng

 


“Bos, mau dibantu?” tanya Riyan saat ia sudah selesai memarkirkan mobilnya di halaman villa milik Yeriko.

 

“Kamu langsung pulang aja!” perintah Yeriko sambil merangkulkan lengan Yuna ke pundaknya.

 

Riyan tertawa kecil. “Siap, Bos!”

 

Yeriko menggendong Yuna naik ke kamarnya. Ia langsung meletakkan tubuh Yuna perlahan ke atas kasur.

 

Ia baru melangkah, namun Yuna mencengkeram lengannya.

 

“Belum sembuh juga?” Yeriko mengernyitkan dahi menatap Yuna.

 

Yuna merangkul leher Yeriko, menarik cowok itu ke dalam pelukannya. Perlahan, Yuna menempelkan bibirnya ke bibir Yeriko.

 

Yeriko tak bisa menolak ciuman Yuna yang penuh gairah. Mereka terus berguling di atas kasur seirama dengan sentuhan lembut di bibir mereka.

 

Yuna semakin liar menguasai Yeriko. Ia melepas jas Yeriko yang masih tersemat di tubuhnya.

 

Yeriko bisa melihat dengan leluasa dada Yuna yang mulus.

 

Yuna melepas gaun dan bra miliknya. Ia duduk di atas tubuh Yeriko. Tangannya mulai bertingkah dan melepas kancing kemeja Yeriko satu per satu.

 

Yeriko menahan lengan Yuna. “Yun, stop!” serunya. “Aku ini laki-laki normal. Sekalipun aku bernafsu, aku nggak akan melakukannya tanpa cinta.”

 

Yeriko makin kesal. Ia menggendong tubuh Yuna dan memasukkannya ke dalam bath tube lalu mengisinya dengan air hangat.

 

Yeriko duduk di sisi bath tube saat melihat Yuna mulai tenang.

 

“Bagus. Lebih baik kamu tidur di sini semalaman dan jangan ganggu tidurku!” Yeriko bangkit dan bergegas keluar dari kamar mandi.

 

Yeriko melepas kemejanya. Berganti pakaian dan pergi tidur.

 

Beberapa menit di atas kasur. Ia tetap tak bisa memejamkan mata. Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka.

 

Tapi, dia bisa mati kedinginan kalau berendam sampai pagi.”

 

“Huft ... perempuan ini bener-bener merepotkan!” Yeriko turun dari ranjang. Ia masuk ke kamar mandi, menatap Yuna yang sudah tertidur di dalam bath tube.

 

Yeriko tak tahan lagi. Ia membuka pembuangan air dan mengangkat tubuh Yuna dari dalam bath tube. Yeriko menggendong Yuna keluar dari kamar mandi. Meletakkan Yuna ke atas kasur dan menutupinya dengan selimut.

 

Keesokan harinya ...

 

Matahari sudah meninggi. Namun Yuna dan Yeriko masih terlelap di dalam kamar.

 

Yuna memijat kepalanya saat mendengar suara nyanyian burung dan kokok ayam. Ia juga mendengar suara manusia yang berkegiatan dengan benda-benda di sekitarnya.

 

Perlahan, Yuna membuka mata.

 

“Aargh ...! Kenapa aku bisa di sini? Baju aku mana?” teriak Yuna saat mendapati Yeriko sudah tidur di sebelahnya. Ia langsung bangkit dari tempat tidur sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.

 

Yeriko langsung membuka mata dan duduk sambil menatap Yuna.

 

“Eh, kamu nggak ingat apa yang sudah kamu lakuin semalaman?”

 

Yuna mengerutkan hidungnya menatap Yeriko.  “Bilang sama aku, kita ngapain aja semalam?” seru Yuna.

 

“Tidur,” jawab Yeriko santai tanpa membuka mata.

 

“Beneran cuma tidur? Kenapa kamu lepasin semua bajuku? Kamu sengaja mau manfaatin aku dan ngambil keuntungan dari aku, hah!?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Tubuh kamu sama sekali nggak menarik.”

 

“Berarti ... aku masih perawan?”

 

Yeriko mengangguk.

 

Yuna turun dari ranjang lalu mengambil bra dan gaunnya yang tergeletak di lantai.

 

“Huft ... ini udah nggak bisa dipake,” gumamnya sambil mengangkat gaun yang sudah robek parah. Ia memakai bra miliknya, melirik lemari pakaian Yeriko yang ukurannya empat kali dari lemari pakaian miliknya.

 

Yuna langsung berlari dan membuka lemari Yeriko. Ia mengambil kaos putih lengan pendek dan celana pendek milik Yeriko.

 

Yeriko tertawa kecil melihat Yuna yang memakai pakaiannya. Tubuhnya yang mungil, tenggelam dalam baju milik Yeriko.

 

“Kenapa ketawa? Ada yang lucu?”

 

Yeriko menggelengkan kepala dan turun dari ranjang. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok giginya.

 

“Ini sudah jam sepuluh pagi, kenapa kamu masih di rumah? Kamu bener-bener pengangguran ya?”

 

Yeriko membersihkan mulutnya dan keluar dari kamar mandi kemudian mengikuti langkah Yeriko keluar dari kamar.

 

“Beneran kan kita semalam nggak ngapa-ngapain?” tanya Yuna sambil menaiki anak tangga.

 

“Kamu pikir aja sendiri, semalam kamu ngapain aja?”

 

Yuna mengetuk kepalanya. “Aku bener-bener minta maaf. Aku tahu semalam udah kelewatan. Aku nggak tahu kalau nenek sihir itu udah ngejebak aku dan mau jual aku sama bajingan tua itu.”

 

Yeriko menghentikan langkahnya.

 

“Kenapa?” tanya Yuna. Ia berdiri satu tangga di bawah Yeriko sambil menatap cowok bertubuh tinggi di hadapannya itu.

 

Yeriko bergeming. Tatapan tertuju pada sosok wanita yang duduk di sofa ruang tamu. Wanita itu tersenyum menatap Yeriko dan Yuna.

 

“Kenapa?” tanya Yuna sambil memutar tubuhnya dan mendapati wanita cantik yang duduk di sofa.

 

“Dia siapa?” bisik Yuna.

 

“Mamaku,” jawab Yeriko sambil menggenggam kedua pundak Yuna dan mengajak gadis itu turun menemui mamanya.

 

“Aku harus bilang apa?” bisik Yuna. Wajahnya merona dan tangannya gemetaran. Ia takut mendapat makian dari mama Yeriko. Seorang gadis, tidak seharusnya menginap di rumah laki-laki yang baru dikenalnya.

 

Rullyta menahan tawa melihat tubuh Yuna yang mungil mengenakan baju pria yang kebesaran. Tubuhnya hampir tenggelam ditelan oleh baju anaknya yang bertubuh tinggi.

 

Yuna tersenyum sambil menghampiri Rullyta, mama Yeriko. “Pagi, Tante ...!” sapa Yuna canggung.

 

“Pagi ...!” balas Rullyta sambil tersenyum ke arah Yuna. Kemudian ia menatap puteranya yang berdiri di sebelah Yuna.

 

“Selama ini kamu nggak mau dijodohkan karena udah punya pilihan sendiri? Kenapa nggak bilang ke Mama kalau sudah punya pacar? Kalo tahu, Mama nggak perlu repot-repot mikirin jodoh buat anak Mama lagi.”

 

“Eh!? Kami nggak pacaran, Tante,” sergah Yuna.

 

Rullyta tersenyum sambil menyentuh lembut pundak Yuna. “Nggak usah sungkan sama Tante! Kalau bukan pacar, Yeri nggak mungkin bawa kamu nginap di rumah ini kan? Oh ya, nama kamu siapa?”

 

Yuna tersenyum kecut menatap Rullyta. “Fristi Ayuna Linandar. Panggil Yuna aja, Tante.”

 

“Oh ... nama yang cantik, kayak orangnya,” puji Rullyta sambil menyolek dagu Yuna.

 

Yuna tersenyum manis sambil mengangguk hormat.

 

“Aku mamanya Yeri. Panggil aja Mama Rully!”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Baik, Tante.”

 

Rullyta mengerutkan keningnya. “Tante!?”

 

“Eh, oh, eh ... Baik, Mama Rully.” Yuna meralat ucapannya dan tersenyum manis.

 

“Ma, jangan bikin dia malu kayak gini!” pinta Yeriko. “Kami nggak ada hubungan apa pun.”

 

“Kamu pikir Mama akan percaya gitu aja!?” sahut Rullyta.

 

“Kami memang nggak punya hubungan apa-apa. Cuma temen!” sahut Yeriko.

 

“Temen? Seumur hidup, kamu nggak pernah bawa temen perempuan ke dalam rumah.”

 

“Nggak ada gunanya kami terus mengelak. Biar gimana pun, Mama udah tahu kalau kami keluar dari kamar yang sama,” batin Yeriko.

 

Yeriko tersenyum menatap Rullyta. Ia merangkul pundak Yuna. “Gimana? Mama suka?”

 

Rullyta menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Suka. Cantik dan manis,” jawabnya sambil menatap Yuna.

 

Yeriko tersenyum. “Kalo gitu, kami naik dulu!” pamitnya.

 

“Eh!?” Yuna menengadahkan kepala menatap Yeriko.

 

“Kamu mau tinggalin Mama sendirian? Mama masih mau ngobrol sama Yuna,” tutur Rullyta. Ia meraih lengan Yuna. “Kamu tahu, Yeriko nggak pernah mau pacaran selama ini. Katanya, wanita itu merepotkan. Dia belum tahu rasanya jatuh cinta dan dicintai sama wanita. Kamu pasti bisa bikin dia sayang banget sama kamu.”

 

“Ma ...!” sergah Yeriko. Ia tidak suka jika mamanya banyak membicarakan tentang dirinya.

 

Rullyta tersenyum ke arah Yeriko.

 

Yeriko membalas senyuman mamanya dan merangkul Yuna menaiki anak tangga.

 

Yuna terus menoleh ke arah Rullyta. Ia merasa bersalah karena meninggalkan orang tua Yeriko begitu saja.

 

“Heh!? Mama belum selesai ngomong!” seru Rullyta.

 

“Kami belum mandi. Kami mandi dulu. Lanjutin nanti di meja makan!” balas Yeriko tanpa menoleh.

 

Rullyta menghela napas. Ia tersenyum lega karena akhirnya putera kesayangannya itu sudah memiliki pacar. I harap, Yeriko bisa menikahi Yuna secepatnya.

 

“Nggak enak sama mama kamu kalo ditinggal gitu aja,” bisik Yuna.

 

“Udah. Nggak usah banyak cerita! Mending kamu mandi dulu sana!” perintah Yeriko saat mereka sudah ada di depan pintu kamar.

 

“Tapi ...”

 

Yeriko menaikkan kedua alis menatap Yuna. “Kenapa?”

 

“Aku nggak punya baju ganti.”

 

“Aku udah suruh orang buat nyiapin baju buat kamu.”

 

“Siapa?”

 

“Nggak usah banyak nanya! Buruan mandi!” Yeriko mendorong Yuna masuk ke dalam kamar. Ia berbalik dan melangkah pergi.

 

Sementara Yuna bergegas mandi. Usai mandi, Yuna menemukan satu set pakaian, lengkap dengan pakaian dalam yang sudah tergeletak di atas ranjang.

 

“Wah ... bagus banget! Kainnya juga bagus. Kayaknya ini mahal, deh.” Yuna langsung mengenakan pakaiannya dengan gembira.

 

“Kelihatannya sih dingin banget. Tapi, seleranya cukup bagus,” tutur Yuna sambil menatap tubuhnya di depan cermin.

 

Yuna bergegas turun dan menemui Rullyta yang menunggunya di meja makan.

 

“Udah selesai mandinya?” tanya Rullyta.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia mulai canggung karena tak ada Yeriko di meja makan.

 

“Ayo, makan!” ajak Rullyta.

 

“Mmh ... Yeri ke mana?”

 

“Udah, nggak usah hirauin si Yeriko. Tadi Riyan datang, kayaknya dia sibuk di ruang kerjanya.”

 

“Kalo nggak ada dia, kita bisa leluasa cerita,” tutur Rullyta pelan.

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan Rullyta. Ia mulai nyaman karena Rullyta sangat ramah terhadapnya.

 

“Ceritain ke Mama, dong! Gimana si Yeri yang dingin itu bisa jatuh cinta sama kamu?”

 

(( Bersambung ... ))



 

 

Bab 8 - My Hero is My Passion

 


Yuna memejamkan mata, terbayang semua penderitaan yang telah ia alami. Ibu dan ayahnya yang kecelakaan sebelas tahun lalu. Wajah Lian yang mengkhianatinya. Ayah yang masih terbaring tak berdaya di rumah sakit.

 

“Nggak! Aku nggak boleh nyerah gitu aja! Aku nggak akan menghabiskan sisa hidupku sama tua bangka ini!” Yuna langsung membuka mata.

 

Lukman tersenyum penuh gairah menatap Yuna.

 

Tanpa pikir panjang, Yuna langsung mencakar Lukman dengan kuku-kuku panjangnya.

 

“Aargh ...!” Lukman mengerang, menahan rasa sakit di lehernya.

 

Yuna langsung mendorong tubuh Lukman dan melompat dari atas ranjang tidur.

 

“Kurang ajar! Dasar perempuan sundel!” seru Lukman sambil mengejar Yuna.

 

Yuna terus memberontak. “Aku nggak akan nyerah gitu aja, Bajingan Tua!” teriaknya.

 

Lukman makin naik pitam. Ia langsung menampar pipi Yuna.

 

Yuna terdiam saat tamparan keras menghantam wajahnya. Ia hanya bisa merintih kesakitan.

 

Lukman tergelak melihat Yuna yang bergeming bersandar di dinding. “Akhirnya kamu nyerah juga, hah!? Ia menekan tubuh Yuna dan menanggalkan jas milik Yuna.

 

Yuna menundukkan kepala. Tangannya berusaha meraih botok anggur saat Lukman mengendus bahunya.

 

BUG ...!

 

Yuna mengayunkan botol anggur sekuat tenaga ke kepala Lukman.

 

Lukman langsung tersungkur di lantai.

 

Yuna segera berlari keluar dari kamar untuk menyelamatkan diri. Ia tak lagi peduli dengan sesuatu yang akan terjadi besok.

 

BRUG ...!” Yuna menabrak seorang pria bertubuh tinggi saat ia berhasil keluar dari kamar hotel.

 

“Kamu ...?” Yuna mengerutkan dahi menatap wajah pria itu.

 

“Pak Yeri, tolong aku!” Yuna menarik lengan Yeriko. Tubuhnya gemetar dan matanya basah.

 

“Pak? Emangnya aku kelihatan udah tua banget?” sahut Yeri.

 

“Ya, terserah aja. Aku butuh bantuan kamu. Please!” Yuna memohon.

 

Yeriko mengerutkan kening menatap mata Yuna yang sayu.

 

“Please! Save me!” bisik Yuna sambil menengadahkan kepala menatap Yeriko. Ia memijat kepalanya terasa berdenyut.

 

“Kamu nggak lagi akting kan?” tanya Yeriko sambil menatap lengan Yuna yang sudah bersandar di dadanya.

 

Yuna menggeleng pelan. “Bajingan tua itu ngasih obat di minuman aku.” Suara Yuna hampir tak terdengar.

 

Yeriko mengangkat kedua alisnya. Ia langsung merangkul Yuna dan memapah gadis itu perlahan.

 

“Berhenti!” teriak Direktur Lukman.

 

Yeriko menghentikan langkahnya dan berbalik menatap lelaki tua yang mengenakan kemeja tanpa dikancing.

 

“Jangan berani ikut campur urusanku! Serahin gadis itu!” pinta Direktur Lukman.

 

Yeriko menatap dingin ke arah Lukman tanpa mengatakan apa pun.

 

Yuna semakin gemetar. Gigi-giginya saling bertautan. Ia bersembunyi di balik tubuh Yeriko.

 

“Dia milikku!” sahut Yeriko.

 

“Nggak mungkin! Aku sudah beli dia dengan harga mahal untuk malam ini. Dasar perempuan jalang! Kamu bakal ngerasain akibatnya kalau berani ngelawan aku!” seru Lukman.

 

Yuna menggelengkan kepala. Dari sudut matanya, keluar tetesan air mata penderitaan.

 

“Aku nggak terima uang dari kamu sepeser pun. Harusnya kamu tiduri nenek sihir itu! Dia yang udah ambil uang dari kamu!” seru Yuna.

 

“Kamu ...!?” Lukman menunjuk tubuh Yuna. Ia makin naik pitam mendengar ucapan Yuna. “Berani-beraninya kamu ngelawan aku!” Ia berusaha menerobos tubuh Yeriko dan menarik lengan Yuna.

 

“Lepasin!” teriak Yuna yang masih setengah sadar.

 

Yeriko mencengkeram lengan Lukman. “Jangan sentuh dia sedikit pun!” Ia langsung memutar lengan Lukman dan menendang perut laki-laki tua itu.

 

Lukman tersungkur di lantai. “Bedebah kalian! Aku pasti balas apa yang kalian lakukan hari ini! Dan kamu ...!” Lukman menunjuk Yuna. “Aku nggak akan ngelepasin kamu! Kamu bakal tahu akibatnya!” ancamnya.

 

Yeriko tersenyum sinis menatap Lukman. “Kita lihat, siapa yang akan berlutut dengan siapa!?”

 

“Pak ...!” Angga, Manager Hotel langsung menghampiri Yeriko. Ia berbisik ke telinga Yeriko.

 

“Bawa pergi dari sini. Jangan biarkan dia masuk ke hotel ini lagi!”

 

Angga menganggukkan kepala. Ia memerintahkan anak buahnya untuk mengusir Direktur Lukman.

 

“Aku pasti balas apa yang sudah kalian lakukan hari ini!” teriak Lukman. Lukman semakin kesal karena diperlakukan sangat rendah oleh Yeriko. Bahkan, pemuda itu mampu mengusirnya keluar dari hotel.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap kepergian Lukman yang digandeng oleh dua satpam hotel. Ia berbalik dan menatap Yuna.

 

“Kamu baik-baik aja?” tanya Yeriko sambil menyentuh pundak Yuna.

 

Yuna menepiskan tangan Yeriko. Perasaannya semakin tak karuan. Ia menyandarkan tubuhnya sejenak di dinding. Kemudian berjalan merayap agar tubuhnya tidak terjatuh. Kepalanya semakin pusing dan tubuhnya semakin panas.

 

Yeriko mengikuti langkah Yuna dari belakang. Tangannya siap siaga menangkap tubuh Yuna yang terhuyung.

 

Yuna menghentikan langkahnya.  Ia menoleh ke arah Yeriko yang berdiri di sebelahnya.

 

“Aku antar kamu pulang. Rumah kamu di mana?” tanya Yeriko.

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Bawa aku!” pintanya dengan tatapan sayu.

 

Yunq merasa tubuhnya semakin panas. “Aargh ...!” teriak Yuna sambil merobek pakaiannya sendiri.

 

Yeriko membelalakkan matanya saat melihat Yuna yang tiba-tiba merobek pakaiannya sendiri. “Obatnya mulai bereaksi?” gumamnya.

 

Yeriko melepas jasnya dan menutup tubuh Yuna.

 

Yuna langsung menjatuhkan jas Yeriko. “Panas!” Ia mendorong tubuh Yeriko sampai bersandar ke dinding.

 

Yeriko menelan ludah saat Yuna menatapnya begitu dekat.

 

“Kamu ganteng banget!” tutur Yuna sambil menangkup wajah Yeriko. “Mau nemenin aku malam ini?” Yuna mengendus leher Yeriko.

 

Yeriko langsung menahan pundak Yuna dan menjauhkan tubuhnya. Ia balik menekan tubuh Yuna ke dinding. “Jangan banyak tingkah!” serunya.

 

Yeriko menundukkan tubuhnya untuk mengambil jas yang dijatuhkan oleh Yuna.

 

Yuna terus bertingkah dan sangat agresif.

 

Yeriko berusaha keras memakaikan jasnya ke tubuh Yuna.

 

“Panas!” teriak Yuna berusaha menarik jas dari tubuhnya.

 

“Kamu mau telanjang di depaj semua orang!?” seru Yeriko kesal.

 

Yuna tersenyum kecil. Tangannya langsung menarik tengkuk Yeriko dan menciumnya.

 

“Kamu gila ya!” seru Yeriko sambil mendorong tubuh Yuna. Ia menghela napas sejenak. “Nggak ada gunanya berdebat sama cewek yang lagi dikendalikan sama obat,” celetuknya kesal.

 

“Mmh ...!” Yuna terus menarik tubuh Yeriko dan bergelayut manja.

 

“Huft ... orang itu ngasih kamu obat apa sih? Kenapa sampe seagresif ini?”

 

“Hah!?” Yuna tidak bisa mendengar dengan baik ucapan Yeriko. “Kamu mau nemenin aku kan?” tanyanya sambil menarik dasi Yeriko dan menciumnya lagi.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia laki-laki normal, hanya saja berusaha menahan diri untuk tidak memanfaatkan Yuna. “Kalau dia kayak gini terus, apa aku bisa tahan?” batinnya.

 

“Heh!? Kenapa diem aja? Apa aku nggak menarik?” tanya Yuna. Ia berusaha melepas kancing jasnya.

 

Yeriko menggelengkan kepala. Ia langsung memeluk tubuh Yuna agar tidak semakin bertingkah.

 

Yuna tersenyum sambil meniup telinga Yeriko.

 

Yeriko terdiam saat Yuna meniup telinganya beberapa kali. Angin kecil yang berhembus di telinganya langsung merasuk ke dalam jantungnya. Mengalir ke seluruh darahnya dan membuat Yeriko tak bisa menahan diri. Ia langsung melumat bibir Yuna yang basah.

 

Yuna begitu bergairah karena pengaruh obat.

 

Yeriko tersadar dan menghentikan ciumannya. Ia langsung memeluk Yuna dan membawanya turun.

 

Yeriko merogoh ponsel dan langsung menelepon asistennya. “Yan, kita pulang sekarang! Aku tunggu di lobi.”

 

“Siap, Bos!”

 

Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia masuk ke dalam lift, membawa Yuna turun ke lobi hotel.

 

“Bos, ada apa ini? Dia kenapa lagi?” tanya Riyan sambil menatap Yuna yang sudah mengenakan jas milik bosnya itu.

 

“Kita pulang sekarang!” sahut Yeriko.

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia meraih lengan Yuna untuk membantu memapah gadis itu.

 

Yeriko membelalakkan matanya dan langsung menepis lengan Riyan. “Siapa yang suruh kamu sentuh dia!?” sentaknya.

 

“Eh!?” Riyan melongo. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Biasanya Bos nggak mau ngurusin perempuan dan nyerahin ke aku? Kenapa hari ini?” gumam Riyan dalam hati. Ia tersenyum senang melihat bosnya yang memperlakukan Yuna secara spesial.

 

Riyan bergegas keluar dari lobi dan membukakan pintu mobil untuk atasannya.

 

Yeriko langsung membawa Yuna masuk ke dalam mobil.

 

“Cepet jalannya!” pinta Yeriko.

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia bergegas melajukan mobilnya.

 

Yeriko memeluk tubuh Yuna sangat erat agar tidak bertingkah lagi di dalam mobil.

 

“Kenapa panas banget?” gumam Yuna sambil melepas kancing jasnya.

 

Yeriko menahan tangan Yuna dan memperbaiki kancing jas yang sudah terlepas. Membuatnya bisa melihat dada Yuna yang indah.

 

“Yan, full-in AC-nya!” seru Yeriko.

 

Riyan langsung mengerjakan yanh diperintahkan bosnya tanpa banyak bertanya.

 

Yuna mendorong tubuh Yeriko ke sudut mobil dan menaiki tubuh Yeriko.

 

Riyan melirik dua orang di belakangnya melalui spion sambil menahan tawa.

 

“Aargh ...!” Yeriko berusaha menyingkirkan Yuna dari tubuhnya.

 

Yuna terhuyung. Ia menarik dasi Yeriko. Mereka berciuman tanpa sengaja. Namun, birahi yang sedang menguasai Yuna membuatnya mencium Yeriko dengan liar.

 

Yeriko tak bisa menahan diri. Ia menggenggam tangan Yuna agar tak semakin bertingkah. Kemudian, balas melumat bibir Yuna selama beberapa menit sampai gadis itu bisa merasakan kepuasan dan berhenti bertingkah agresif.

 

 

 

(( Bersambung ... ))

Terima kasih sudah menjadi sahabat bercerita. Jangan lupa ajak author berinteraksi lewat kolom komentar supaya author nggak merasa kesepian terus. Meski jarang dibalas, tapi selalu dibaca dan  jadi moodbooster buat author, loh.

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas