Thursday, January 23, 2025

Bab 9 - Kepergok Tidur Bareng

 


“Bos, mau dibantu?” tanya Riyan saat ia sudah selesai memarkirkan mobilnya di halaman villa milik Yeriko.

 

“Kamu langsung pulang aja!” perintah Yeriko sambil merangkulkan lengan Yuna ke pundaknya.

 

Riyan tertawa kecil. “Siap, Bos!”

 

Yeriko menggendong Yuna naik ke kamarnya. Ia langsung meletakkan tubuh Yuna perlahan ke atas kasur.

 

Ia baru melangkah, namun Yuna mencengkeram lengannya.

 

“Belum sembuh juga?” Yeriko mengernyitkan dahi menatap Yuna.

 

Yuna merangkul leher Yeriko, menarik cowok itu ke dalam pelukannya. Perlahan, Yuna menempelkan bibirnya ke bibir Yeriko.

 

Yeriko tak bisa menolak ciuman Yuna yang penuh gairah. Mereka terus berguling di atas kasur seirama dengan sentuhan lembut di bibir mereka.

 

Yuna semakin liar menguasai Yeriko. Ia melepas jas Yeriko yang masih tersemat di tubuhnya.

 

Yeriko bisa melihat dengan leluasa dada Yuna yang mulus.

 

Yuna melepas gaun dan bra miliknya. Ia duduk di atas tubuh Yeriko. Tangannya mulai bertingkah dan melepas kancing kemeja Yeriko satu per satu.

 

Yeriko menahan lengan Yuna. “Yun, stop!” serunya. “Aku ini laki-laki normal. Sekalipun aku bernafsu, aku nggak akan melakukannya tanpa cinta.”

 

Yeriko makin kesal. Ia menggendong tubuh Yuna dan memasukkannya ke dalam bath tube lalu mengisinya dengan air hangat.

 

Yeriko duduk di sisi bath tube saat melihat Yuna mulai tenang.

 

“Bagus. Lebih baik kamu tidur di sini semalaman dan jangan ganggu tidurku!” Yeriko bangkit dan bergegas keluar dari kamar mandi.

 

Yeriko melepas kemejanya. Berganti pakaian dan pergi tidur.

 

Beberapa menit di atas kasur. Ia tetap tak bisa memejamkan mata. Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka.

 

Tapi, dia bisa mati kedinginan kalau berendam sampai pagi.”

 

“Huft ... perempuan ini bener-bener merepotkan!” Yeriko turun dari ranjang. Ia masuk ke kamar mandi, menatap Yuna yang sudah tertidur di dalam bath tube.

 

Yeriko tak tahan lagi. Ia membuka pembuangan air dan mengangkat tubuh Yuna dari dalam bath tube. Yeriko menggendong Yuna keluar dari kamar mandi. Meletakkan Yuna ke atas kasur dan menutupinya dengan selimut.

 

Keesokan harinya ...

 

Matahari sudah meninggi. Namun Yuna dan Yeriko masih terlelap di dalam kamar.

 

Yuna memijat kepalanya saat mendengar suara nyanyian burung dan kokok ayam. Ia juga mendengar suara manusia yang berkegiatan dengan benda-benda di sekitarnya.

 

Perlahan, Yuna membuka mata.

 

“Aargh ...! Kenapa aku bisa di sini? Baju aku mana?” teriak Yuna saat mendapati Yeriko sudah tidur di sebelahnya. Ia langsung bangkit dari tempat tidur sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.

 

Yeriko langsung membuka mata dan duduk sambil menatap Yuna.

 

“Eh, kamu nggak ingat apa yang sudah kamu lakuin semalaman?”

 

Yuna mengerutkan hidungnya menatap Yeriko.  “Bilang sama aku, kita ngapain aja semalam?” seru Yuna.

 

“Tidur,” jawab Yeriko santai tanpa membuka mata.

 

“Beneran cuma tidur? Kenapa kamu lepasin semua bajuku? Kamu sengaja mau manfaatin aku dan ngambil keuntungan dari aku, hah!?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Tubuh kamu sama sekali nggak menarik.”

 

“Berarti ... aku masih perawan?”

 

Yeriko mengangguk.

 

Yuna turun dari ranjang lalu mengambil bra dan gaunnya yang tergeletak di lantai.

 

“Huft ... ini udah nggak bisa dipake,” gumamnya sambil mengangkat gaun yang sudah robek parah. Ia memakai bra miliknya, melirik lemari pakaian Yeriko yang ukurannya empat kali dari lemari pakaian miliknya.

 

Yuna langsung berlari dan membuka lemari Yeriko. Ia mengambil kaos putih lengan pendek dan celana pendek milik Yeriko.

 

Yeriko tertawa kecil melihat Yuna yang memakai pakaiannya. Tubuhnya yang mungil, tenggelam dalam baju milik Yeriko.

 

“Kenapa ketawa? Ada yang lucu?”

 

Yeriko menggelengkan kepala dan turun dari ranjang. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok giginya.

 

“Ini sudah jam sepuluh pagi, kenapa kamu masih di rumah? Kamu bener-bener pengangguran ya?”

 

Yeriko membersihkan mulutnya dan keluar dari kamar mandi kemudian mengikuti langkah Yeriko keluar dari kamar.

 

“Beneran kan kita semalam nggak ngapa-ngapain?” tanya Yuna sambil menaiki anak tangga.

 

“Kamu pikir aja sendiri, semalam kamu ngapain aja?”

 

Yuna mengetuk kepalanya. “Aku bener-bener minta maaf. Aku tahu semalam udah kelewatan. Aku nggak tahu kalau nenek sihir itu udah ngejebak aku dan mau jual aku sama bajingan tua itu.”

 

Yeriko menghentikan langkahnya.

 

“Kenapa?” tanya Yuna. Ia berdiri satu tangga di bawah Yeriko sambil menatap cowok bertubuh tinggi di hadapannya itu.

 

Yeriko bergeming. Tatapan tertuju pada sosok wanita yang duduk di sofa ruang tamu. Wanita itu tersenyum menatap Yeriko dan Yuna.

 

“Kenapa?” tanya Yuna sambil memutar tubuhnya dan mendapati wanita cantik yang duduk di sofa.

 

“Dia siapa?” bisik Yuna.

 

“Mamaku,” jawab Yeriko sambil menggenggam kedua pundak Yuna dan mengajak gadis itu turun menemui mamanya.

 

“Aku harus bilang apa?” bisik Yuna. Wajahnya merona dan tangannya gemetaran. Ia takut mendapat makian dari mama Yeriko. Seorang gadis, tidak seharusnya menginap di rumah laki-laki yang baru dikenalnya.

 

Rullyta menahan tawa melihat tubuh Yuna yang mungil mengenakan baju pria yang kebesaran. Tubuhnya hampir tenggelam ditelan oleh baju anaknya yang bertubuh tinggi.

 

Yuna tersenyum sambil menghampiri Rullyta, mama Yeriko. “Pagi, Tante ...!” sapa Yuna canggung.

 

“Pagi ...!” balas Rullyta sambil tersenyum ke arah Yuna. Kemudian ia menatap puteranya yang berdiri di sebelah Yuna.

 

“Selama ini kamu nggak mau dijodohkan karena udah punya pilihan sendiri? Kenapa nggak bilang ke Mama kalau sudah punya pacar? Kalo tahu, Mama nggak perlu repot-repot mikirin jodoh buat anak Mama lagi.”

 

“Eh!? Kami nggak pacaran, Tante,” sergah Yuna.

 

Rullyta tersenyum sambil menyentuh lembut pundak Yuna. “Nggak usah sungkan sama Tante! Kalau bukan pacar, Yeri nggak mungkin bawa kamu nginap di rumah ini kan? Oh ya, nama kamu siapa?”

 

Yuna tersenyum kecut menatap Rullyta. “Fristi Ayuna Linandar. Panggil Yuna aja, Tante.”

 

“Oh ... nama yang cantik, kayak orangnya,” puji Rullyta sambil menyolek dagu Yuna.

 

Yuna tersenyum manis sambil mengangguk hormat.

 

“Aku mamanya Yeri. Panggil aja Mama Rully!”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Baik, Tante.”

 

Rullyta mengerutkan keningnya. “Tante!?”

 

“Eh, oh, eh ... Baik, Mama Rully.” Yuna meralat ucapannya dan tersenyum manis.

 

“Ma, jangan bikin dia malu kayak gini!” pinta Yeriko. “Kami nggak ada hubungan apa pun.”

 

“Kamu pikir Mama akan percaya gitu aja!?” sahut Rullyta.

 

“Kami memang nggak punya hubungan apa-apa. Cuma temen!” sahut Yeriko.

 

“Temen? Seumur hidup, kamu nggak pernah bawa temen perempuan ke dalam rumah.”

 

“Nggak ada gunanya kami terus mengelak. Biar gimana pun, Mama udah tahu kalau kami keluar dari kamar yang sama,” batin Yeriko.

 

Yeriko tersenyum menatap Rullyta. Ia merangkul pundak Yuna. “Gimana? Mama suka?”

 

Rullyta menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Suka. Cantik dan manis,” jawabnya sambil menatap Yuna.

 

Yeriko tersenyum. “Kalo gitu, kami naik dulu!” pamitnya.

 

“Eh!?” Yuna menengadahkan kepala menatap Yeriko.

 

“Kamu mau tinggalin Mama sendirian? Mama masih mau ngobrol sama Yuna,” tutur Rullyta. Ia meraih lengan Yuna. “Kamu tahu, Yeriko nggak pernah mau pacaran selama ini. Katanya, wanita itu merepotkan. Dia belum tahu rasanya jatuh cinta dan dicintai sama wanita. Kamu pasti bisa bikin dia sayang banget sama kamu.”

 

“Ma ...!” sergah Yeriko. Ia tidak suka jika mamanya banyak membicarakan tentang dirinya.

 

Rullyta tersenyum ke arah Yeriko.

 

Yeriko membalas senyuman mamanya dan merangkul Yuna menaiki anak tangga.

 

Yuna terus menoleh ke arah Rullyta. Ia merasa bersalah karena meninggalkan orang tua Yeriko begitu saja.

 

“Heh!? Mama belum selesai ngomong!” seru Rullyta.

 

“Kami belum mandi. Kami mandi dulu. Lanjutin nanti di meja makan!” balas Yeriko tanpa menoleh.

 

Rullyta menghela napas. Ia tersenyum lega karena akhirnya putera kesayangannya itu sudah memiliki pacar. I harap, Yeriko bisa menikahi Yuna secepatnya.

 

“Nggak enak sama mama kamu kalo ditinggal gitu aja,” bisik Yuna.

 

“Udah. Nggak usah banyak cerita! Mending kamu mandi dulu sana!” perintah Yeriko saat mereka sudah ada di depan pintu kamar.

 

“Tapi ...”

 

Yeriko menaikkan kedua alis menatap Yuna. “Kenapa?”

 

“Aku nggak punya baju ganti.”

 

“Aku udah suruh orang buat nyiapin baju buat kamu.”

 

“Siapa?”

 

“Nggak usah banyak nanya! Buruan mandi!” Yeriko mendorong Yuna masuk ke dalam kamar. Ia berbalik dan melangkah pergi.

 

Sementara Yuna bergegas mandi. Usai mandi, Yuna menemukan satu set pakaian, lengkap dengan pakaian dalam yang sudah tergeletak di atas ranjang.

 

“Wah ... bagus banget! Kainnya juga bagus. Kayaknya ini mahal, deh.” Yuna langsung mengenakan pakaiannya dengan gembira.

 

“Kelihatannya sih dingin banget. Tapi, seleranya cukup bagus,” tutur Yuna sambil menatap tubuhnya di depan cermin.

 

Yuna bergegas turun dan menemui Rullyta yang menunggunya di meja makan.

 

“Udah selesai mandinya?” tanya Rullyta.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia mulai canggung karena tak ada Yeriko di meja makan.

 

“Ayo, makan!” ajak Rullyta.

 

“Mmh ... Yeri ke mana?”

 

“Udah, nggak usah hirauin si Yeriko. Tadi Riyan datang, kayaknya dia sibuk di ruang kerjanya.”

 

“Kalo nggak ada dia, kita bisa leluasa cerita,” tutur Rullyta pelan.

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan Rullyta. Ia mulai nyaman karena Rullyta sangat ramah terhadapnya.

 

“Ceritain ke Mama, dong! Gimana si Yeri yang dingin itu bisa jatuh cinta sama kamu?”

 

(( Bersambung ... ))



 

 

Bab 8 - My Hero is My Passion

 


Yuna memejamkan mata, terbayang semua penderitaan yang telah ia alami. Ibu dan ayahnya yang kecelakaan sebelas tahun lalu. Wajah Lian yang mengkhianatinya. Ayah yang masih terbaring tak berdaya di rumah sakit.

 

“Nggak! Aku nggak boleh nyerah gitu aja! Aku nggak akan menghabiskan sisa hidupku sama tua bangka ini!” Yuna langsung membuka mata.

 

Lukman tersenyum penuh gairah menatap Yuna.

 

Tanpa pikir panjang, Yuna langsung mencakar Lukman dengan kuku-kuku panjangnya.

 

“Aargh ...!” Lukman mengerang, menahan rasa sakit di lehernya.

 

Yuna langsung mendorong tubuh Lukman dan melompat dari atas ranjang tidur.

 

“Kurang ajar! Dasar perempuan sundel!” seru Lukman sambil mengejar Yuna.

 

Yuna terus memberontak. “Aku nggak akan nyerah gitu aja, Bajingan Tua!” teriaknya.

 

Lukman makin naik pitam. Ia langsung menampar pipi Yuna.

 

Yuna terdiam saat tamparan keras menghantam wajahnya. Ia hanya bisa merintih kesakitan.

 

Lukman tergelak melihat Yuna yang bergeming bersandar di dinding. “Akhirnya kamu nyerah juga, hah!? Ia menekan tubuh Yuna dan menanggalkan jas milik Yuna.

 

Yuna menundukkan kepala. Tangannya berusaha meraih botok anggur saat Lukman mengendus bahunya.

 

BUG ...!

 

Yuna mengayunkan botol anggur sekuat tenaga ke kepala Lukman.

 

Lukman langsung tersungkur di lantai.

 

Yuna segera berlari keluar dari kamar untuk menyelamatkan diri. Ia tak lagi peduli dengan sesuatu yang akan terjadi besok.

 

BRUG ...!” Yuna menabrak seorang pria bertubuh tinggi saat ia berhasil keluar dari kamar hotel.

 

“Kamu ...?” Yuna mengerutkan dahi menatap wajah pria itu.

 

“Pak Yeri, tolong aku!” Yuna menarik lengan Yeriko. Tubuhnya gemetar dan matanya basah.

 

“Pak? Emangnya aku kelihatan udah tua banget?” sahut Yeri.

 

“Ya, terserah aja. Aku butuh bantuan kamu. Please!” Yuna memohon.

 

Yeriko mengerutkan kening menatap mata Yuna yang sayu.

 

“Please! Save me!” bisik Yuna sambil menengadahkan kepala menatap Yeriko. Ia memijat kepalanya terasa berdenyut.

 

“Kamu nggak lagi akting kan?” tanya Yeriko sambil menatap lengan Yuna yang sudah bersandar di dadanya.

 

Yuna menggeleng pelan. “Bajingan tua itu ngasih obat di minuman aku.” Suara Yuna hampir tak terdengar.

 

Yeriko mengangkat kedua alisnya. Ia langsung merangkul Yuna dan memapah gadis itu perlahan.

 

“Berhenti!” teriak Direktur Lukman.

 

Yeriko menghentikan langkahnya dan berbalik menatap lelaki tua yang mengenakan kemeja tanpa dikancing.

 

“Jangan berani ikut campur urusanku! Serahin gadis itu!” pinta Direktur Lukman.

 

Yeriko menatap dingin ke arah Lukman tanpa mengatakan apa pun.

 

Yuna semakin gemetar. Gigi-giginya saling bertautan. Ia bersembunyi di balik tubuh Yeriko.

 

“Dia milikku!” sahut Yeriko.

 

“Nggak mungkin! Aku sudah beli dia dengan harga mahal untuk malam ini. Dasar perempuan jalang! Kamu bakal ngerasain akibatnya kalau berani ngelawan aku!” seru Lukman.

 

Yuna menggelengkan kepala. Dari sudut matanya, keluar tetesan air mata penderitaan.

 

“Aku nggak terima uang dari kamu sepeser pun. Harusnya kamu tiduri nenek sihir itu! Dia yang udah ambil uang dari kamu!” seru Yuna.

 

“Kamu ...!?” Lukman menunjuk tubuh Yuna. Ia makin naik pitam mendengar ucapan Yuna. “Berani-beraninya kamu ngelawan aku!” Ia berusaha menerobos tubuh Yeriko dan menarik lengan Yuna.

 

“Lepasin!” teriak Yuna yang masih setengah sadar.

 

Yeriko mencengkeram lengan Lukman. “Jangan sentuh dia sedikit pun!” Ia langsung memutar lengan Lukman dan menendang perut laki-laki tua itu.

 

Lukman tersungkur di lantai. “Bedebah kalian! Aku pasti balas apa yang kalian lakukan hari ini! Dan kamu ...!” Lukman menunjuk Yuna. “Aku nggak akan ngelepasin kamu! Kamu bakal tahu akibatnya!” ancamnya.

 

Yeriko tersenyum sinis menatap Lukman. “Kita lihat, siapa yang akan berlutut dengan siapa!?”

 

“Pak ...!” Angga, Manager Hotel langsung menghampiri Yeriko. Ia berbisik ke telinga Yeriko.

 

“Bawa pergi dari sini. Jangan biarkan dia masuk ke hotel ini lagi!”

 

Angga menganggukkan kepala. Ia memerintahkan anak buahnya untuk mengusir Direktur Lukman.

 

“Aku pasti balas apa yang sudah kalian lakukan hari ini!” teriak Lukman. Lukman semakin kesal karena diperlakukan sangat rendah oleh Yeriko. Bahkan, pemuda itu mampu mengusirnya keluar dari hotel.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap kepergian Lukman yang digandeng oleh dua satpam hotel. Ia berbalik dan menatap Yuna.

 

“Kamu baik-baik aja?” tanya Yeriko sambil menyentuh pundak Yuna.

 

Yuna menepiskan tangan Yeriko. Perasaannya semakin tak karuan. Ia menyandarkan tubuhnya sejenak di dinding. Kemudian berjalan merayap agar tubuhnya tidak terjatuh. Kepalanya semakin pusing dan tubuhnya semakin panas.

 

Yeriko mengikuti langkah Yuna dari belakang. Tangannya siap siaga menangkap tubuh Yuna yang terhuyung.

 

Yuna menghentikan langkahnya.  Ia menoleh ke arah Yeriko yang berdiri di sebelahnya.

 

“Aku antar kamu pulang. Rumah kamu di mana?” tanya Yeriko.

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Bawa aku!” pintanya dengan tatapan sayu.

 

Yunq merasa tubuhnya semakin panas. “Aargh ...!” teriak Yuna sambil merobek pakaiannya sendiri.

 

Yeriko membelalakkan matanya saat melihat Yuna yang tiba-tiba merobek pakaiannya sendiri. “Obatnya mulai bereaksi?” gumamnya.

 

Yeriko melepas jasnya dan menutup tubuh Yuna.

 

Yuna langsung menjatuhkan jas Yeriko. “Panas!” Ia mendorong tubuh Yeriko sampai bersandar ke dinding.

 

Yeriko menelan ludah saat Yuna menatapnya begitu dekat.

 

“Kamu ganteng banget!” tutur Yuna sambil menangkup wajah Yeriko. “Mau nemenin aku malam ini?” Yuna mengendus leher Yeriko.

 

Yeriko langsung menahan pundak Yuna dan menjauhkan tubuhnya. Ia balik menekan tubuh Yuna ke dinding. “Jangan banyak tingkah!” serunya.

 

Yeriko menundukkan tubuhnya untuk mengambil jas yang dijatuhkan oleh Yuna.

 

Yuna terus bertingkah dan sangat agresif.

 

Yeriko berusaha keras memakaikan jasnya ke tubuh Yuna.

 

“Panas!” teriak Yuna berusaha menarik jas dari tubuhnya.

 

“Kamu mau telanjang di depaj semua orang!?” seru Yeriko kesal.

 

Yuna tersenyum kecil. Tangannya langsung menarik tengkuk Yeriko dan menciumnya.

 

“Kamu gila ya!” seru Yeriko sambil mendorong tubuh Yuna. Ia menghela napas sejenak. “Nggak ada gunanya berdebat sama cewek yang lagi dikendalikan sama obat,” celetuknya kesal.

 

“Mmh ...!” Yuna terus menarik tubuh Yeriko dan bergelayut manja.

 

“Huft ... orang itu ngasih kamu obat apa sih? Kenapa sampe seagresif ini?”

 

“Hah!?” Yuna tidak bisa mendengar dengan baik ucapan Yeriko. “Kamu mau nemenin aku kan?” tanyanya sambil menarik dasi Yeriko dan menciumnya lagi.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia laki-laki normal, hanya saja berusaha menahan diri untuk tidak memanfaatkan Yuna. “Kalau dia kayak gini terus, apa aku bisa tahan?” batinnya.

 

“Heh!? Kenapa diem aja? Apa aku nggak menarik?” tanya Yuna. Ia berusaha melepas kancing jasnya.

 

Yeriko menggelengkan kepala. Ia langsung memeluk tubuh Yuna agar tidak semakin bertingkah.

 

Yuna tersenyum sambil meniup telinga Yeriko.

 

Yeriko terdiam saat Yuna meniup telinganya beberapa kali. Angin kecil yang berhembus di telinganya langsung merasuk ke dalam jantungnya. Mengalir ke seluruh darahnya dan membuat Yeriko tak bisa menahan diri. Ia langsung melumat bibir Yuna yang basah.

 

Yuna begitu bergairah karena pengaruh obat.

 

Yeriko tersadar dan menghentikan ciumannya. Ia langsung memeluk Yuna dan membawanya turun.

 

Yeriko merogoh ponsel dan langsung menelepon asistennya. “Yan, kita pulang sekarang! Aku tunggu di lobi.”

 

“Siap, Bos!”

 

Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia masuk ke dalam lift, membawa Yuna turun ke lobi hotel.

 

“Bos, ada apa ini? Dia kenapa lagi?” tanya Riyan sambil menatap Yuna yang sudah mengenakan jas milik bosnya itu.

 

“Kita pulang sekarang!” sahut Yeriko.

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia meraih lengan Yuna untuk membantu memapah gadis itu.

 

Yeriko membelalakkan matanya dan langsung menepis lengan Riyan. “Siapa yang suruh kamu sentuh dia!?” sentaknya.

 

“Eh!?” Riyan melongo. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Biasanya Bos nggak mau ngurusin perempuan dan nyerahin ke aku? Kenapa hari ini?” gumam Riyan dalam hati. Ia tersenyum senang melihat bosnya yang memperlakukan Yuna secara spesial.

 

Riyan bergegas keluar dari lobi dan membukakan pintu mobil untuk atasannya.

 

Yeriko langsung membawa Yuna masuk ke dalam mobil.

 

“Cepet jalannya!” pinta Yeriko.

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia bergegas melajukan mobilnya.

 

Yeriko memeluk tubuh Yuna sangat erat agar tidak bertingkah lagi di dalam mobil.

 

“Kenapa panas banget?” gumam Yuna sambil melepas kancing jasnya.

 

Yeriko menahan tangan Yuna dan memperbaiki kancing jas yang sudah terlepas. Membuatnya bisa melihat dada Yuna yang indah.

 

“Yan, full-in AC-nya!” seru Yeriko.

 

Riyan langsung mengerjakan yanh diperintahkan bosnya tanpa banyak bertanya.

 

Yuna mendorong tubuh Yeriko ke sudut mobil dan menaiki tubuh Yeriko.

 

Riyan melirik dua orang di belakangnya melalui spion sambil menahan tawa.

 

“Aargh ...!” Yeriko berusaha menyingkirkan Yuna dari tubuhnya.

 

Yuna terhuyung. Ia menarik dasi Yeriko. Mereka berciuman tanpa sengaja. Namun, birahi yang sedang menguasai Yuna membuatnya mencium Yeriko dengan liar.

 

Yeriko tak bisa menahan diri. Ia menggenggam tangan Yuna agar tak semakin bertingkah. Kemudian, balas melumat bibir Yuna selama beberapa menit sampai gadis itu bisa merasakan kepuasan dan berhenti bertingkah agresif.

 

 

 

(( Bersambung ... ))

Terima kasih sudah menjadi sahabat bercerita. Jangan lupa ajak author berinteraksi lewat kolom komentar supaya author nggak merasa kesepian terus. Meski jarang dibalas, tapi selalu dibaca dan  jadi moodbooster buat author, loh.

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

Bab 7 - Si Tua Cabul

 


Yuna menatap tubuhnya di cermin. Tante Melan memaksanya memakai gaun yang menyedihkan. Gaun putih transparan dan seksi itu terpaksa ia kenakan karena keinginan Melan. Melan telah mempersiapkan gaun khusus untuk Yuna.

 

“Yun, kamu yakin?” tanya Jheni sambil menggenggam pundak Yuna.

 

“Aku nggak punya pilihan lain,” jawab Yuna.

 

Jheni tersenyum. “Jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa, kamu harus kabari aku secepatnya!”

 

Yuna mengangguk. Ia meraih tas tangan berwarna cokelat susu yang senada dengan warna sepatunya dan bergegas menuju Shangri-La Hotel.

 

 Langkah Yuna begitu berat saat melihat tulisan ‘Jamoo’ di hadapannya. Kakinya seperti dirantai dengan beban puluhan kilogram. Ia tak ingin melangkah masuk ke tempat itu. Tapi, wajah ayahnya yang terbaring di rumah sakit membuatnya harus menemui laki-laki tua yang tak ingin ia temui.

 

Yuna melangkah perlahan memasuki ruang restoran. Ia langsung menghampiri Melan yang sudah menunggunya bersama laki-laki setengah baya.

 

“Halo ... Sayang! Akhirnya kamu datang juga,” tutur Melan. Ia menyambut Yuna dengan hangat. Mencium kedua pipi Yuna dan tersenyum manis.

 

Yuna tersenyum kecut menanggapi sapaan Melan.

 

“Oh ya, ini Direktur Lukman yang Tante ceritain ke kamu.”

 

Lukman menatap Yuna tanpa berkedip. “Sangat manis dan menggoda,” bisiknya dalam hati.

 

Yuna tersenyum sambil mengangguk sopan ke arah Lukman. “Ini sih lebih cocok jadi ayahku,” batin Yuna. Ia tetap mencoba terus tersenyum untuk menutupi rasa kesalnya.

 

Lukman bangkit dan menghampiri Yuna. “Halo ... cantik!” sapa Lukman sambil menyolek dagu Yuna.

 

Yuna langsung menepis tangan Lukman dengan kasar.

 

Lukman tersenyum kecil. “Kamu tahu kenapa kamu ada di sini? Tetap jadi gadis yang manis dan penurut atau kamu akan ada dalam masalah?” bisik Lukman sambil menyentuh kedua pundak Yuna.

 

Yuna merasa tangan Lukman sangat menjijikkan ketika menyentuh pundaknya yang terbuka. Ia berusaha menahan diri, memilih tersenyum manis dan menyingkirkan tangan Lukman dari pundaknya dengan lembut.

 

Yuna langsung duduk di kursi dan memilih menu makanan mahal dalam jumlah banyak.

 

“Yun, kamu bisa jaga sikap kamu?” bisik Melan di telinga Yuna. “Kamu pesen makanan banyak banget. Apa kamu nggak bisa nggak bikin ulah?”

 

Yuna tidak menyahut ucapan tantenya.

 

“Ingat Ayah kamu! Kalau sampai rencana pernikahan ini gagal, kamu tahu akibatnya,” bisik Melan di telinga Yuna.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, hari ini akan menjadi hari terburuk dalam hidupnya.

 

Lukman tersenyum menatap Yuna. Ia sangat senang dengan Yuna yang sangat cantik dan menggoda. Tubuhnya yang mulus, menciptakan khayalan nakal di pikiran Lukman. Keinginan untuk menguasai gadis itu semakin besar.

 

“Kalian mau jus jeruk?” tanya Lukman.

 

“Tentu kami nggak akan menolak pemberian dari Direktur Lukman,” jawab Melan sambil tersenyum.

 

Yuna ikut tersenyum kecil menatap Melan yang bersikap sangat manis. “Sumpah ya, ini nenek sihir bener-bener menjijikkan!” umpat Yuna dalam hati.

 

Lukman bangkit dan mengambil beberapa gelas jus jeruk. Ia menambahkan cairan yang mengandung zat aktif protodiocsin ke dalam jus jeruk milik Yuna.

 

Lukman tersenyum manis sambil menyuguhkan jus jeruk di hadapan Yuna.

 

Yuna membalas senyuman Lukman. Ia menatap jus jeruk di hadapannya dan melanjutkan makannya kembali.

 

Yuna memilih meneguk bir yang ada di hadapannya. “Minum sedikit aja nggak bakal bikin aku mabuk,” tuturnya dalam hati.

 

Lukman terus menatap Yuna yang sedang makan. Ia sangat berharap kalau Yuna segera meminum jus jeruk yang ia hidangkan.

 

“Oh ya, kapan pernikahan bisa segera dilangsungkan?” tanya Lukman sambil menatap Melan.

 

“Secepatnya, lebih cepat lebih baik,” jawab Melan.

 

“Gimana kalau besok?” tanya Lukman sambil menatap Yuna penuh birahi.

 

“Uhuk ... uhuk ...!” Yuna buru-buru meminum jus jeruk yang ada di hadapannya karena tersedak.

 

“Yuna, pelan-pelan dong!” pinta Melan lembut.

 

Lukman tersenyum penuh kemenangan melihat Yuna yang tanpa sadar menenggak jus jeruk yang telah ia beri obat perangsang. Ia menatap Melan sambil mengerdipkan matanya.

 

“Mmh ... Tante sudah kenyang dan harus segera pulang,” pamit Melan. “Kalian lanjutkan makan malamnya dengan baik!” pintanya. Ia meraih tas tangannya dan bangkit.

 

“Aku antar sampai depan!” pinta Lukman. Ia ikut berdiri dan mengiringi langkah Melan ke luar restoran.

 

Yuna menatap kesal ke arah Melan dan Lukman. “Kenapa nggak kalian berdua aja yang merit? Bukannya si Maleficent itu yang gila duit!” celetuknya kesal.

 

“Terima kasih untuk makan malamnya,” tutur Melan dengan sopan.

 

“Nggak perlu sungkan!”

 

“Maaf kalau sikap Yuna sedikit kurang sopan. Dia masih sangat muda dan emosinya tidak stabil.”

 

“Nggak masalah. Aku suka wanita muda dengan emosi yang tinggi. Bukankah itu lebih menggairahkan?”

 

“Ah, Anda bisa saja.”

 

Lukman tersenyum ke arah Melan. “Aku sudah kirim uang sembilan ratus juta ke rekening kamu. Kamu tahu kan apa gantinya?”

 

Melan menganggukkan kepala.

 

“Mulai malam ini, Yuna sepenuhnya milikku. Aku bakal ambil dia jadi istriku dan aku mau ngetes dia malam ini juga,” tutur Lukman serius.

 

Melan menganggukkan kepala sambil tersenyum. Melan segera melangkah pergi saat taksi yang ia pesan sudah tiba.

 

Lukman tersenyum penuh kemenangan. Ia bergegas menghampiri Yuna yang terkulai lemah di atas meja.

 

“Kamu kenapa?” tanya Lukman.

 

“Kepalaku tiba-tiba pusing,” jawab Yuna lemas.

 

“Kamu sakit? Aku antar kamu ke dokter,” tutur Lukman pura-pura panik.

 

Yuna mengangkat kepala. Ia meraih jas putih miliknya yang disandarkan di kursi.

 

Perlahan, Lukman memapah Yuna yang sudah lemah tak berdaya.

 

Yuna menatap ke sekeliling saat baru keluar dari pintu lift. Ia baru menyadari kalau Lukman bukan ingin membawanya ke rumah sakit atau klinik. Tapi ingin membawanya masuk ke dalam kamar hotel.

 

“Kamu mau bawa aku ke mana?” tanya Yuna. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Lukman.

 

“Aku sudah bayar mahal untuk malam ini. Mari kita bersenang-senang!” sahut Lukman sambil tertawa.

 

“Bitch!” Yuna langsung meludah ke wajah Lukman. Ia membalikkan badan dan melangkah pergi.

 

Lukman naik pitam saat Yuna menolak dirinya. Ia langsung menarik lengan Yuna kembali dan menyeret gadis itu.

 

“Lepasin!” teriak Yuna.

 

“Aku nggak akan lepasin kamu!” sahut Lukman.

 

Yuna terus memberontak, berusaha melepas genggaman tangan Lukman yang begitu erat.

 

Lukman membuka salah satu pintu kamar hotel dan menyeret Yuna masuk ke dalam.

 

Sekuat tenaga, Yuna mempertahankan tubuhnya agar tidak masuk ke dalam kamar. Telapak kakinya bertahan di sisi pintu dan berusaha menarik diri agar tak sampai masuk ke dalam kamar.

 

PLAK ...!

 

Telapak tangan Lukman menampar Yuna yang terus memberontak.

 

Yuna merasa sekelilingnya tiba-tiba menjadi gelap saat tangan Lukman mendarat di pipinya.

 

Lukman langsung menangkap tubuh Yuna yang terkulai lemas dan membawanya ke dalam kamar. Ia menjatuhkan tubuh Yuna ke atas ranjang.

 

“Kamu mau apa?” tanya Yuna lirih. Ia berusaha mempertahankan kesadarannya.

 

“Hahaha. Kamu masih tanya aku mau apa? Jelas-jelas aku mau kamu. Aku sudah bayar satu milyar ke tante kamu. Dia sudah jual kamu ke aku. Aku bakal bikin kamu mengabdi sama aku ... selamanya!” tegas Lukman.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Ia masih sedikit sadar. Ia terus memberontak saat Lukman menaiki tubuhnya dan menggenggam lengan Yuna sangat erat.

 

“Lepasin aku, Bajingan Tua!” teriak Yuna.

 

“Aku nggak akan lepasin kamu!” tegas Lukman.

 

“Aaargh ...!” Yuna terus berteriak dan memberontak sekuat tenaga.

 

Lukman meringis saat perutnya tiba-tiba mulas. “Bener-bener nggak bisa diajak kompromi!” celetuknya. Ia langsung bangkit dari tubuh Yuna.

 

“Kamu jangan macam-macam kalau masih mau hidup!” ancam Lukman. Ia bergegas masuk ke kamar mandi, ia tak bisa menahan buang air besar.

 

Yuna menghela napas lega. Perlahan ia bangkit sambil memijat kepalanya yang berdenyut. Yuna turun dari ranjang dan berjalan merayap di dinding.

 

“Kenapa kepalaku pusing banget?” gumam Yuna sambil terus melangkah.

 

Ia melihat pintu kamar yang sudah berjarak tiga meter dari tempatnya berdiri. Tapi ... semakin lama ia melihat pintu kamar itu semakin menjauh.

 

Yuna tak menyerah, meski pandangannya tidak baik. Ia akhirnya mampu meraih gagang pintu.

 

“Heh!? Mau ke mana?” Lukman yang baru keluar dari kamar mandi langsung menyeret tubuh Yuna kembali.

 

“Lepasin!” teriak Yuna.

 

“Aku nggak akan lepasin kamu, Nona Manis!” tegas Lukman sambil membanting tubuh Yuna ke atas kasur.

 

Yuna tersenyum sinis. Ia tahu, hidupnya akan berakhir malam ini. Tidak akan ada orang yang menolongnya saat ini. “God! Save me!” bisik Yuna dalam hati.

 

 

 

(( Bersambung ... ))

Terima kasih yang udah setia membaca sampai di sini. Jangan lupa share dan dukung terus author, yak! Hargai kerja keras author dalam berkarya dengan membeli bab berbayar atau membaca sampai selesai karya-karya gratisannya di blog ini.

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas