Thursday, January 23, 2025

Bab 7 - Si Tua Cabul

 


Yuna menatap tubuhnya di cermin. Tante Melan memaksanya memakai gaun yang menyedihkan. Gaun putih transparan dan seksi itu terpaksa ia kenakan karena keinginan Melan. Melan telah mempersiapkan gaun khusus untuk Yuna.

 

“Yun, kamu yakin?” tanya Jheni sambil menggenggam pundak Yuna.

 

“Aku nggak punya pilihan lain,” jawab Yuna.

 

Jheni tersenyum. “Jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa, kamu harus kabari aku secepatnya!”

 

Yuna mengangguk. Ia meraih tas tangan berwarna cokelat susu yang senada dengan warna sepatunya dan bergegas menuju Shangri-La Hotel.

 

 Langkah Yuna begitu berat saat melihat tulisan ‘Jamoo’ di hadapannya. Kakinya seperti dirantai dengan beban puluhan kilogram. Ia tak ingin melangkah masuk ke tempat itu. Tapi, wajah ayahnya yang terbaring di rumah sakit membuatnya harus menemui laki-laki tua yang tak ingin ia temui.

 

Yuna melangkah perlahan memasuki ruang restoran. Ia langsung menghampiri Melan yang sudah menunggunya bersama laki-laki setengah baya.

 

“Halo ... Sayang! Akhirnya kamu datang juga,” tutur Melan. Ia menyambut Yuna dengan hangat. Mencium kedua pipi Yuna dan tersenyum manis.

 

Yuna tersenyum kecut menanggapi sapaan Melan.

 

“Oh ya, ini Direktur Lukman yang Tante ceritain ke kamu.”

 

Lukman menatap Yuna tanpa berkedip. “Sangat manis dan menggoda,” bisiknya dalam hati.

 

Yuna tersenyum sambil mengangguk sopan ke arah Lukman. “Ini sih lebih cocok jadi ayahku,” batin Yuna. Ia tetap mencoba terus tersenyum untuk menutupi rasa kesalnya.

 

Lukman bangkit dan menghampiri Yuna. “Halo ... cantik!” sapa Lukman sambil menyolek dagu Yuna.

 

Yuna langsung menepis tangan Lukman dengan kasar.

 

Lukman tersenyum kecil. “Kamu tahu kenapa kamu ada di sini? Tetap jadi gadis yang manis dan penurut atau kamu akan ada dalam masalah?” bisik Lukman sambil menyentuh kedua pundak Yuna.

 

Yuna merasa tangan Lukman sangat menjijikkan ketika menyentuh pundaknya yang terbuka. Ia berusaha menahan diri, memilih tersenyum manis dan menyingkirkan tangan Lukman dari pundaknya dengan lembut.

 

Yuna langsung duduk di kursi dan memilih menu makanan mahal dalam jumlah banyak.

 

“Yun, kamu bisa jaga sikap kamu?” bisik Melan di telinga Yuna. “Kamu pesen makanan banyak banget. Apa kamu nggak bisa nggak bikin ulah?”

 

Yuna tidak menyahut ucapan tantenya.

 

“Ingat Ayah kamu! Kalau sampai rencana pernikahan ini gagal, kamu tahu akibatnya,” bisik Melan di telinga Yuna.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, hari ini akan menjadi hari terburuk dalam hidupnya.

 

Lukman tersenyum menatap Yuna. Ia sangat senang dengan Yuna yang sangat cantik dan menggoda. Tubuhnya yang mulus, menciptakan khayalan nakal di pikiran Lukman. Keinginan untuk menguasai gadis itu semakin besar.

 

“Kalian mau jus jeruk?” tanya Lukman.

 

“Tentu kami nggak akan menolak pemberian dari Direktur Lukman,” jawab Melan sambil tersenyum.

 

Yuna ikut tersenyum kecil menatap Melan yang bersikap sangat manis. “Sumpah ya, ini nenek sihir bener-bener menjijikkan!” umpat Yuna dalam hati.

 

Lukman bangkit dan mengambil beberapa gelas jus jeruk. Ia menambahkan cairan yang mengandung zat aktif protodiocsin ke dalam jus jeruk milik Yuna.

 

Lukman tersenyum manis sambil menyuguhkan jus jeruk di hadapan Yuna.

 

Yuna membalas senyuman Lukman. Ia menatap jus jeruk di hadapannya dan melanjutkan makannya kembali.

 

Yuna memilih meneguk bir yang ada di hadapannya. “Minum sedikit aja nggak bakal bikin aku mabuk,” tuturnya dalam hati.

 

Lukman terus menatap Yuna yang sedang makan. Ia sangat berharap kalau Yuna segera meminum jus jeruk yang ia hidangkan.

 

“Oh ya, kapan pernikahan bisa segera dilangsungkan?” tanya Lukman sambil menatap Melan.

 

“Secepatnya, lebih cepat lebih baik,” jawab Melan.

 

“Gimana kalau besok?” tanya Lukman sambil menatap Yuna penuh birahi.

 

“Uhuk ... uhuk ...!” Yuna buru-buru meminum jus jeruk yang ada di hadapannya karena tersedak.

 

“Yuna, pelan-pelan dong!” pinta Melan lembut.

 

Lukman tersenyum penuh kemenangan melihat Yuna yang tanpa sadar menenggak jus jeruk yang telah ia beri obat perangsang. Ia menatap Melan sambil mengerdipkan matanya.

 

“Mmh ... Tante sudah kenyang dan harus segera pulang,” pamit Melan. “Kalian lanjutkan makan malamnya dengan baik!” pintanya. Ia meraih tas tangannya dan bangkit.

 

“Aku antar sampai depan!” pinta Lukman. Ia ikut berdiri dan mengiringi langkah Melan ke luar restoran.

 

Yuna menatap kesal ke arah Melan dan Lukman. “Kenapa nggak kalian berdua aja yang merit? Bukannya si Maleficent itu yang gila duit!” celetuknya kesal.

 

“Terima kasih untuk makan malamnya,” tutur Melan dengan sopan.

 

“Nggak perlu sungkan!”

 

“Maaf kalau sikap Yuna sedikit kurang sopan. Dia masih sangat muda dan emosinya tidak stabil.”

 

“Nggak masalah. Aku suka wanita muda dengan emosi yang tinggi. Bukankah itu lebih menggairahkan?”

 

“Ah, Anda bisa saja.”

 

Lukman tersenyum ke arah Melan. “Aku sudah kirim uang sembilan ratus juta ke rekening kamu. Kamu tahu kan apa gantinya?”

 

Melan menganggukkan kepala.

 

“Mulai malam ini, Yuna sepenuhnya milikku. Aku bakal ambil dia jadi istriku dan aku mau ngetes dia malam ini juga,” tutur Lukman serius.

 

Melan menganggukkan kepala sambil tersenyum. Melan segera melangkah pergi saat taksi yang ia pesan sudah tiba.

 

Lukman tersenyum penuh kemenangan. Ia bergegas menghampiri Yuna yang terkulai lemah di atas meja.

 

“Kamu kenapa?” tanya Lukman.

 

“Kepalaku tiba-tiba pusing,” jawab Yuna lemas.

 

“Kamu sakit? Aku antar kamu ke dokter,” tutur Lukman pura-pura panik.

 

Yuna mengangkat kepala. Ia meraih jas putih miliknya yang disandarkan di kursi.

 

Perlahan, Lukman memapah Yuna yang sudah lemah tak berdaya.

 

Yuna menatap ke sekeliling saat baru keluar dari pintu lift. Ia baru menyadari kalau Lukman bukan ingin membawanya ke rumah sakit atau klinik. Tapi ingin membawanya masuk ke dalam kamar hotel.

 

“Kamu mau bawa aku ke mana?” tanya Yuna. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Lukman.

 

“Aku sudah bayar mahal untuk malam ini. Mari kita bersenang-senang!” sahut Lukman sambil tertawa.

 

“Bitch!” Yuna langsung meludah ke wajah Lukman. Ia membalikkan badan dan melangkah pergi.

 

Lukman naik pitam saat Yuna menolak dirinya. Ia langsung menarik lengan Yuna kembali dan menyeret gadis itu.

 

“Lepasin!” teriak Yuna.

 

“Aku nggak akan lepasin kamu!” sahut Lukman.

 

Yuna terus memberontak, berusaha melepas genggaman tangan Lukman yang begitu erat.

 

Lukman membuka salah satu pintu kamar hotel dan menyeret Yuna masuk ke dalam.

 

Sekuat tenaga, Yuna mempertahankan tubuhnya agar tidak masuk ke dalam kamar. Telapak kakinya bertahan di sisi pintu dan berusaha menarik diri agar tak sampai masuk ke dalam kamar.

 

PLAK ...!

 

Telapak tangan Lukman menampar Yuna yang terus memberontak.

 

Yuna merasa sekelilingnya tiba-tiba menjadi gelap saat tangan Lukman mendarat di pipinya.

 

Lukman langsung menangkap tubuh Yuna yang terkulai lemas dan membawanya ke dalam kamar. Ia menjatuhkan tubuh Yuna ke atas ranjang.

 

“Kamu mau apa?” tanya Yuna lirih. Ia berusaha mempertahankan kesadarannya.

 

“Hahaha. Kamu masih tanya aku mau apa? Jelas-jelas aku mau kamu. Aku sudah bayar satu milyar ke tante kamu. Dia sudah jual kamu ke aku. Aku bakal bikin kamu mengabdi sama aku ... selamanya!” tegas Lukman.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Ia masih sedikit sadar. Ia terus memberontak saat Lukman menaiki tubuhnya dan menggenggam lengan Yuna sangat erat.

 

“Lepasin aku, Bajingan Tua!” teriak Yuna.

 

“Aku nggak akan lepasin kamu!” tegas Lukman.

 

“Aaargh ...!” Yuna terus berteriak dan memberontak sekuat tenaga.

 

Lukman meringis saat perutnya tiba-tiba mulas. “Bener-bener nggak bisa diajak kompromi!” celetuknya. Ia langsung bangkit dari tubuh Yuna.

 

“Kamu jangan macam-macam kalau masih mau hidup!” ancam Lukman. Ia bergegas masuk ke kamar mandi, ia tak bisa menahan buang air besar.

 

Yuna menghela napas lega. Perlahan ia bangkit sambil memijat kepalanya yang berdenyut. Yuna turun dari ranjang dan berjalan merayap di dinding.

 

“Kenapa kepalaku pusing banget?” gumam Yuna sambil terus melangkah.

 

Ia melihat pintu kamar yang sudah berjarak tiga meter dari tempatnya berdiri. Tapi ... semakin lama ia melihat pintu kamar itu semakin menjauh.

 

Yuna tak menyerah, meski pandangannya tidak baik. Ia akhirnya mampu meraih gagang pintu.

 

“Heh!? Mau ke mana?” Lukman yang baru keluar dari kamar mandi langsung menyeret tubuh Yuna kembali.

 

“Lepasin!” teriak Yuna.

 

“Aku nggak akan lepasin kamu, Nona Manis!” tegas Lukman sambil membanting tubuh Yuna ke atas kasur.

 

Yuna tersenyum sinis. Ia tahu, hidupnya akan berakhir malam ini. Tidak akan ada orang yang menolongnya saat ini. “God! Save me!” bisik Yuna dalam hati.

 

 

 

(( Bersambung ... ))

Terima kasih yang udah setia membaca sampai di sini. Jangan lupa share dan dukung terus author, yak! Hargai kerja keras author dalam berkarya dengan membeli bab berbayar atau membaca sampai selesai karya-karya gratisannya di blog ini.

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wednesday, January 22, 2025

Bab 6 - Dear Dad

 


Perlahan, Yuna membuka pintu kamar. Ia mendapati wanita setengah baya berdiri di depan pintu.

 

“Pagi, Mbak! Sarapan sudah saya siapkan di bawah.”

 

Bibi War membalikkan tubuh dan melangkah pergi.

 

“Apa semalam ...?” Yuna mengintip tubuhnya yang hanya dibalut piyama dan tidak mengenakan pakaian dalam.

 

“Oh ... semalam Bibi yang mengganti pakaian. Karena pakaian Mbaknya basah. Sudah Bibi cuci dan keringkan. Kalau cuaca bagus, dua jam lagi udah kering.”

 

Yuna menarik napas lega. “Baguslah!” celetuknya.

 

Bibi War tersenyum dan melangkah kembali.

 

Yuna langsung turun ke ruang makan begitu selesai mengganti pakaiannya.

 

Ia duduk di kursi meja makan, tepat berhadapan dengan Yeriko yang tidak menyapanya sama sekali.

 

Yuna menarik napas. “Kenapa harus ketemu cowok sedingin ini?” batin Yuna. “Gimana caranya ngajak dia ngomong?”

 

“Makasih banyak karena udah ngerawat aku. Aku ...”

 

“Cepat pergi dari sini kalo udah selesai makan!” pinta Yeriko.

 

Yuna membuka mulutnya lebar. Suaranya tertahan dengan sikap dingin Yeriko. “Aku udah berusaha bersikap lembut banget. Kamu malah bikin aku emosi!” batinnya sambil mengepal tangan.

 

“Nggak usah akting lagi di depanku! Kamu pikir, cara kayak gini bakal menarik perhatianku, hah!?”

 

Yuna memukul meja dan bangkit dari duduknya. “Kamu ...!?” Yuna menunjuk Yeriko sambil mengerutkan hidungnya.

 

Yeriko mengangkat satu alisnya sambil menatap Yuna.

 

“Dasar cowok nggak tahu diri! Aku udah baik-baik sama kamu. Udah minta maaf, udah bilang makasih dan kamu masih nuduh aku lagi akting!? Bener-bener nggak punya perasaan!” teriak Yuna.

 

Yuna pun bangkit. Sejenak ia tersenyum ke arah Bi War, ia mengangguk dan bergegas keluar dari rumah Yeriko.

 

Yuna tidak tahu harus pergi ke mana. Ia hanya tinggal menumpang di rumah Jheni sejak kembali dari Melbourne dan belum mencari tempat tinggal.

 

Yuna memutuskan untuk menemui ayahnya yang sedang dirawat di rumah sakit.

 

Sesampainya di rumah sakit, Yuna menatap wajah ayahnya yang terbaring lemah.

 

“Ayah ... sudah sebelas tahun ayah melewati waktu di sini. Ayah harus sembuh,” bisik Yuna sambil mencium punggung tangan ayahnya.

 

“Ayuna ...!” panggil Adjie dalam kegelapan. Ia bisa mendengar suara Yuna dengan baik. Namun ia tak mampu membuka mata dan menggerakkan sebagian tubuhnya.

 

“Ayah ... Yuna udah pulang dari Melbourne. Selama kuliah di sana, Yuna hidup dengan baik. Punya teman-teman yang baik dan menyayangi Yuna.”

 

“Ayah pasti kesepian karena di sini sendirian ya? Tapi ... aku lihat semua perawat di sini cantik-cantik. Ayah pasti suka dikelilingi sama perawat yang cantik kan?” Yuna terus mengajak ayahnya berbicara sekalipun ia tahu kalau ayahnya tak akan membalas ucapannya. Tapi ia percaya, ayahnya akan mendengarkan setiap kalimat yang terucap dari bibirnya.

 

“Ayah harus sembuh ya! Cuma Ayah satu-satunya harta paling berharga yang Yuna punya di dunia ini.”

 

Yuna menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka. Tiga orang perawat masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Yuna.

 

“Ini tunggakan tagihan yang harus kamu bayar secepatnya!” Seorang perawat menyodorkan tumpukan kertas ke arah Yuna.

 

Yuna bangkit dari duduk dan meraih kertas-kertas tagihan biaya perawatan ayahnya. “Aku punya uang dari mana buat bayar tagihan sebanyak ini?” batin Yuna sambil menatap tumpukan kertas di tangannya.

 

“Kamu tahu, biaya perawatan ayah kamu nggak sedikit. Kalau nggak bayar hari ini juga, kami terpaksa harus mengeluarkan ayahmu dari rumah sakit.”

 

“Apa!?” Yuna membelalakkan matanya. Ia menatap tubuh Adjie yang terbaring lemah di ranjang. “Suster, kasih aku waktu buat nyelesaikan ini semua!” Yuna memohon sambil menitikan air mata. “Aku nggak mungkin membiarkan Ayah keluar dari rumah sakit dalam keadaan seperti ini.”

 

“Tunggakan kamu sudah terlalu banyak. Kami tidak bisa menunggu lagi!” sahut salah seorang perawat dengan ketus.

 

Perawat yang berbicara dengan Yuna memberikan isyarat pada perawat lain untuk mengeluarkan barang-barang dari dalam ruang rawat ayah Yuna.

 

“Suster, jangan!” pinta Yuna terus memohon. Ia menjatuhkan tubuhnya sambil memeluk kaki perawat tersebut agar tidak mengeluarkan ayahnya dari ruang perawatan. “Aku mohon, suster! Kasihani kami! Kasihan Ayah ... aku janji, bakal secepatnya melunasi biaya rumah sakit,” pinta Yuna sambil menangis.

 

Perawat yang ada di ruangan itu tidak mempedulikan Yuna yang menangis histeris. Yuna terus memeluk tubuh ayahnya. Ia tetap ingin mempertahankan ayahnya agar tetap mendapat perawatan seperti sebelumnya.

 

Yuna semakin merasa sakit saat perawat mulai melepas peralatan medis dari tubuh ayahnya. “Nggak! Ayah harus tetap hidup. Ayah harus tetap mendapat perawatan!” bisik Yuna dalam hati sambil menangis.

 

Yuna buru-buru mengambil ponsel dari dalam tas tangannya dan langsung menelepon Tante Melan.

 

“Halo ... Sayang. Apa kabar?” sahut Melan begitu panggilan telepon Yuna tersambung.

 

“Tante, aku mohon jangan hentikan biaya pengobatan Ayah!” pinta Yuna tanpa basa-basi.

 

Melan tersenyum kecil. “Kamu sudah sadar? Asal kamu nurut sama Tante, Tante akan bayar semua biaya pengobatan ayah kamu!”

 

Yuna menelan ludah. “Iya. Aku janji bakal nuruti semua keinginan Tante.”

 

“Oke. Malam ini kita ke Shangri-La buat nemuin Direktur Lukman. Kamu harus nikah sama dia!”

 

 “Oke.” Yuna menganggukkan kepala. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding dan terduduk lemas.

 

Beberapa menit kemudian, Direktur rumah sakit masuk ke dalam ruangan.

 

“Ada apa ini?” tanya Direktur rumah sakit saat melihat alat medis di tubuh ayah Yuna sudah dilepas.

 

“Anu ... Pak ...” sahut perawat dengan suara bergetar.

 

“Pasang lagi! Kembalikan semuanya seperti semula!” perintah Dokter Rahmat, Direktur rumah sakit tempat ayah Yuna dirawat.

 

Yuna mengusap air mata menggunakan punggung lengannya dan langsung bangkit dari lantai. Ia menghampiri Dokter Rahmat. “Makasih, Dok!”

 

Dokter Rahmat tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Kami minta maaf untuk hal ini. Seharusnya, nggak ada kejadian seperti ini. Semua biaya pengobatan ayah kamu sudah dilunasi oleh Ibu Melan.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia melirik ayahnya dan bisa bernapas lega saat alat-alat medis yang menopang hidup ayahnya kembali terpasang.

 

“Jaga ayahmu dengan baik dan hiduplah dengan baik!” tutur Dokter Rahmat sambil menepuk pundak Yuna. Ia bergegas keluar dari ruangan.

 

Yuna tersenyum menatap kepergian Dokter Rahmat. Ia berbalik dan menatap sinis ke arah perawat yang sedang menyusun barang-barang di ruang rawat ayahnya.

 

“Pergi dari sini!” pinta Yuna.

 

Tiga orang perawat itu langsung menoleh ke arah Yuna.

 

“Aku bilang, PERGI DARI SINI!” teriak Yuna. Ia tidak tahan melihat tiga perawat itu berada di dalam ruang rawat ayahnya. Hatinya terasa ngilu mengingat kejadian yang terjadi beberapa menit lalu.

 

Ketiga perawat itu langsung bergegas keluar dari ruang rawat ayah Yuna.

 

Yuna menghela napas. Ia terduduk lemas di kursi, tepat di sebelah ranjang ayahnya.

 

“Ayah ... Ayah akan baik-baik aja!” tutur Yuna sambil menggenggam tangan ayahnya. “Aku bakal ngelakuin apa pun buat Ayah. Ayah cepet sembuh ya!” pinta Yuna.

 

Yuna mengusap lembut pipi ayahnya. “Ayah, aku pergi dulu!” pamit Yuna. “Banyak hal yang harus aku lakukan di luar sana. Aku akan hidup dengan baik. Ayah nggak perlu khawatir. Puteri kecilmu, sekarang sudah tumbuh dewasa. Ayah juga harus hidup dengan baik demi aku.” Yuna mencium kening ayahnya.

 

Yuna merasakan hatinya begitu tersayat saat bibirnya menyentuh kening ayahnya. Matanya perih, ia berusaha membendung air matanya agar tidak jatuh membasahi pipi ayahnya.

 

Adjie tak bisa merespon apa pun yang dilakukan oleh puterinya. Ia tak bisa lagi mendengar suara puterinya setelah pintu ruangan tertutup. Hanya air mata yang mengalir dari kedua matanya. Ia terlalu lemah, tak berdaya melakukan apa pun untuk puteri kesayangannya.

 

Yuna berjalan lunglai menyusuri koridor rumah sakit. “Aku nggak tahu harus gimana lagi. Aku nggak tahu gimana menjalani hidup setelah ini,” tutur Yuna lirih.

 

Pikiran Yuna tak karuan. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah Jheni.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna sudah sampai di rumah Jheni.

 

“Yun, kamu kenapa?” tanya Jheni saat menyambut Yuna yang berwajah murung.

 

Yuna tak langsung menjawab. Ia merebahkan tubuhnya ke atas sofa.

 

“Ada apa? Cerita dong!” pinta Jheni, ia langsung duduk di sebelah Yuna.

 

“Tante Melan maksa aku nikah sama si Tua Bangka itu,” jawab Yuna lirih.

 

“What!? Kamu nerima?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Yuna! Kamu itu cantik. Kamu bisa dapetin suami yang jauh lebih baik. Kenapa kamu mau disuruh nikah sama Oom-Oom yang nggak jelas itu!” seru Jheni.

 

“Karena Ayah ...” Yuna tak sanggup melanjutkan ucapannya.

 

Jheni menarik napas dalam-dalam. Ia memahami kondisi sahabatnya saat ini. Ia tak sanggup berkata-kata, hanya bisa merangkul Yuna dan memeluk tubuh gadis itu.

 

 

 

 

(( Bersambung ... ))

Baca terus kisah seru mereka ya! Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

Bab 5 - Being a Stupid Girl

 


Lian tersenyum sinis ke arah Yuna. “Kayaknya, baru kemarin kamu keluar dari rumah aku sambil nangis-nangis.” Lian mendekatkan tubuhnya ke arah Yuna. “Secepat ini kamu dapet penggantiku?”

 

Yuna tersenyum kecil menatap Lian. “Cewek secantik aku, nggak akan sulit cari pengganti kamu.”

 

“Aku nggak percaya. Dia pasti cowok yang kamu bayar buat pura-pura jadi pacar kamu kan?” tanya Lian sambil menatap sinis ke arah Yeriko.

 

“Jangan sembarangan ngomong ya! Dia ini beneran pacar aku!” sahut Yuna ketus.

 

“Apa buktinya kalo dia pacar kamu?”

 

“Kamu mau bukti apa?” tanya Yuna balik.

 

Lian mengangkat kedua pundak dan alisnya. “Apa aja. Yang bikin aku yakin kalo dia emang pacar kamu ... beneran!”

 

Yuna menatap kesal ke arah Lian. Ia meremas jemarinya sendiri. “Gimana kalo cowok ini nggak bisa diajak kerjasama?” batinnya.

 

Lian tertawa kecil. “Kenapa? Kamu nggak bisa buktikan kalo dia pacar kamu beneran? Dugaanku bener. Kamu cuma nyuruh dia pura-pura jadi pacar kamu biar aku cemburu.”

 

Yuna membalikkan tubuhnya menatap Yeriko. Ia berjinjit mengimbangi cowok tampan bertubuh tinggi itu. Kedua lengan Yuna melingkar di leher Yeriko dan langsung mencium bibir cowok itu.

 

Yeriko tertegun saat ia mendapati ciuman tiba-tiba dari Yuna. “Gila nih cewek!” celetuknya dalam hati sambil menatap mata Yuna yang begitu dekat dengannya.

 

“Sorry ... aku harus ngelakuin ini supaya Lian percaya kalau  kita nggak lagi bersandiwara,” tutur Yuna dalam hati. Perlahan, ia melepaskan tubuhnya dari tubuh Yeriko.

 

Yeriko bergeming. Ia tidak bisa menolak saat Yuna mencium bibirnya. Di matanya, Yuna hanya cewek pemabuk yang sangat gila. Mencium laki-laki yang tidak ia kenal sama sekali.

 

Lian mengerutkan bibir sambil mengepal tangan kanannya begitu melihat Yuna mencium pria tampan yang ada di hadapannya.

 

Yuna tersenyum menatap Lian yang mematung di hadapannya. “Nggak papa lah, cuma ciuman bibir doang. Kamu udah ngelakuin yang lebih parah dari ini,” batin Yuna sambil mengangkat kedua alis dan pundaknya.

 

“Sayang, kita pulang yuk! Nanti kita ketularan gila kalo ngeladenin cowok kayak gini.” Yuna langsung menarik lengan Yeriko dan mengajaknya masuk ke dalam mobil Land Rover milik Yeriko.

 

“Cepet jalan!” perintah Yuna pada Riyan.

 

Riyan melirik Yeriko melalui spion depan mobilnya. Ia langsung menyalakan mesin mobil saat mendapati bosnya tidak melarang keinginan gadis itu.

 

Yeriko melepas lengannya dari genggaman Yuna dan menggeser tubuhnya menjauhi Yuna. “Sorry ...!” bisik Yuna sambil melirik Yeriko.

 

Yeriko tak menjawab, ia hanya melipat kedua tangan di dada. Pandangannya lurus ke depan. Tidak menoleh ke arah Yuna walau hanya sedetik saja.

 

“Gila nih cowok, dingin banget!” celetuk Yuna dalam hati. Ia merasa tubuhnya semakin membeku saat mendapati tatapan Yeriko yang dingin. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan kalau Lian dan Bellina tidak ada di belakang mereka.

 

Yuna meremas jemarinya. Ia memberanikan diri menatap Yeriko yang duduk di sampingnya. “Makasih karena kamu udah nolongin aku. Maaf, kalau tadi keterlaluan. Aku janji, bakal balas budi sama kamu. Kapan pun butuh bantuan, aku siap buat bantu kamu.”

 

Yeriko tak menjawab. Ia hanya mengedipkan mata perlahan tanpa menghiraukan kehadiran Yuna.

 

“Ini cowok buta tuli apa ya? Diajak ngomong kayak patung,” celetuk Yuna dalam hati.

 

Yuna menggigit bibir bawahnya dan tidak tahu harus berkata apa lagi.

 

“Mas, turun di depan ya!” pinta Yuna pada Riyan.

 

Riyan mengangguk, ia segera menepikan mobilnya.

 

Yuna mengusap pundaknya yang membeku. Kepalanya terasa berdenyut. Yuna memijat kening untuk menstabilkan kondisi tubuhnya.

 

Yuna menoleh ke arah Yeriko yang masih bergeming di tempatnya. Tidak menghiraukan Yuna sama sekali. “Sekali lagi, makasih dan maaf untuk kejadian tadi.” Yuna memberanikan diri, tak peduli dengan Yeriko yang masih cuek dengannya.

 

Yuna membuka pintu mobil perlahan dan keluar. Tubuhnya gemetar saat ia berdiri di samping mobil. Ia tidak langsung pergi, tangannya berpegangan dengan badan mobil.

 

Riyan melihat kondisi Yuna yang terlihat kurang sehat. “Bos ...!” panggil Riyan sambil menatap Yuna dari balik jendela.

 

“Dia pintar akting,” sahut Yeriko tanpa menoleh.

 

Yuna melepas tangannya perlahan dari mobil Land Rover milik Yeriko. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk berdiri sendiri. Kakinya membeku, tidak bisa merasakan apa pun. Lututnya terasa lemas dan tak mampu menopang tubuhnya untuk berdiri.

 

Napas Yuna melemah, pandangannya semakin buram dan ia tidak bisa melihat apa-apa lagi.

 

“Pak Bos!” Riyan panik melihat Yuna yang terjatuh.

 

Yeriko langsung menoleh. Ia bergegas keluar dari mobil, menghampiri Yuna yang sudah terbaring di tepi jalan.

 

Yeriko mengangkat kepala Yuna, meletakkan di pangkuannya. Punggung tangan Yeriko menyentuh dahi Yuna yang panas. Ia langsung mengangkat lengan Yuna, melingkarkan di lehernya dan mengendong tubuh Yuna. Membawanya masuk kembali ke dalam mobil.

 

“Bawa ke mana, Bos?”  tanya Riyan.

 

“Kita ke Villa aja. Dia demam tinggi.” Yeriko menatap Yuna yang berada di pelukannya.

 

Yeriko menyentuh gaun Yuna yang basah. Ia melepas jas dan menyelimuti tubuh Yuna.

 

Riyan tersenyum kecil sambil melirik Yeriko. Ia segera melajukan mobilnya menuju villa.

 

Sesampainya di villa, Yeriko langsung menggendong Yuna naik ke kamarnya.

 

“Bibi ...!” teriak Yeriko.

 

“Ini sudah tengah malam. Seharusnya bibi sudah tidur,” sahut Riyan.

 

“Panggilkan Bibi di kamarnya!” perintah Yeriko.

 

“Siap, Bos!” Riyan bergegas turun dan mengetuk pintu kamar Bibi War.

 

“Bi ...!” panggil Riyan sambil mengetuk pintu kamar.

 

Pintu kamar perlahan terbuka. “Ada apa, Mas Riyan?” tanya Bibi War.

 

“Dipanggil Bos. Suruh ke kamarnya.”

 

Bibi War tak banyak bertanya. Ia langsung bergegas menghampiri tuan pemilik villa.

 

“Ada apa ...?” Bibi War tak melanjutkan pertanyaannya. Ia tertegun melihat seorang gadis yang sudah terbaring di ranjang Yeriko.

 

“Tolong gantikan bajunya dia! Buatkan sup dan kasih obat penurun panas. Demamnya lumayan tinggi,” pinta Yeriko.

 

Bibi War menganggukkan kepala. Ia langsung menghampiri Yuna yang terbaring tak sadarkan diri. Bibi War menyentuh dahi Yuna menggunakan punggung tangannya.

 

Bibi War terdiam sejenak sambil menoleh ke arah Yeriko. “Apa aku harus mengganti pakaian di depan Bos Yeri?” tanyanya dalam hati.

 

Yeriko mengerti maksud tatapan Bibi War. Ia bergegas keluar dari kamar.

 

Bibi War tersenyum menatap gadis cantik yang terbaring di ranjang bosnya.

 

“Pak Bos memang pandai memilih wanita cantik,” gumamnya. Ia segera mengganti pakaian Yuna dan merawat Yuna dengan baik.

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

Yuna memicingkan mata saat matahari pagi menerpa wajahnya. Perlahan, Yuna membuka mata. Ia tertegun menatap langit-langit kamar yang tinggi dan asing di matanya. Yuna mengedarkan pandangannya dan bangkit dari tidur.

 

“Aku di mana?” tanyanya sambil menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.

 

Yuna menatap tubuhnya sendiri yang sudah memakai piyama. Ia mengetuk kepalanya berkali-kali untuk mengingat apa yang sudah terjadi semalam

 

“Aduh ... aku di mana?” tanya Yuna lagi. “Semalam, bukannya aku keluar dari mobil cowok itu dan ...?” Yuna membelalakkan matanya.

 

“Jangan-jangan ... aku pingsan dan ditemuin sama orang di pinggir jalan. Tapi kenapa aku bisa ada di sini dan bajuku ke mana?” Yuna membuka piyama dan mengintip dadanya sendiri. Bra yang ia gunakan sudah tidak ada di tubuhnya.

 

“Aaargh ...!” teriak Yuna sekuat tenaga. “Aku di mana?” tanyanya sambil berlari keluar dari kamar.

 

BRUG ...!!!

 

Yuna membelalakkan mata saat ia menabrak tubuh kekar yang menjulang tinggi di hadapannya. Ia menengadahkan kepala menatap cowok itu.

 

“Kamu ...?” Yuna tertegun melihat Yeriko yang sudah berdiri di hadapannya.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna. “Sudah bangun?” Ia melangkah melewati Yuna yang bengong dan langsung masuk ke kamar.

 

“Tunggu!” teriak Yuna.

 

Yeriko menghentikan langkah kakinya, ia berbalik dan menatap Yuna.

 

“Kamu siapa?” tanya Yuna.

 

“Aku pemilik rumah ini.”

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Kenapa aku bisa di sini?”

 

“Kamu nggak ingat?”

 

Yuna terdiam. Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi semalam.

 

Yeriko tersenyum kecil dan langsung masuk ke kamar.

 

Yuna mengikuti langkah Yeriko.

 

“Kenapa ngikutin aku? Aku mau mandi.” Yeriko menatap Yuna yang berdiri tak jauh darinya. Ia mengusap keringat di wajahnya menggunakan handuk yang ia bawa.

 

“Kenapa aku bisa di sini? Bajuku ...?” Yuna mengintip tubuhnya sendiri.

 

Yeriko tersenyum kecil, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi.

 

“Eh, aku belum selesai ngomong!” teriak Yuna sambil menendang pintu kamar mandi.

 

Yeriko membuka pintu kamar mandi. “Kenapa? Mau ikut mandi?”

 

Wajah Yuna memerah mendapati tatapan Yeriko. “Kamu ...!?” dengusnya kesal.

 

Yeriko tersenyum kecil dan langsung menutup kembali pintu kamar mandi.

 

“Dasar cowok cabul!” teriak Yuna.

 

Yuna menyandarkan tubuhnya di dinding. “Bodoh! Bodoh!” celetuknya sambil mengetuk kepalanya sendiri. “Harusnya, aku nggak sembarangan nyium cowok yang baru aku kenal di pinggir jalan. Sekarang, malah dia yang manfaatin aku.”

 

Tubuh Yuna merosot ke lantai. Ia merasa kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. “Kenapa jadi kayak gini?” Ia menenggelamkan wajah ke dalam lipatan lengannya.

 

Tok ... tok ... tok ...!

 

Yuna langsung menoleh ke arah pintu kamar Yeriko yang tertutup. Ia segera menghapus air mata dan bangkit dari duduknya.

 

(( Bersambung ... ))

Baca terus kisah seru mereka ya! Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas