Thursday, January 23, 2025

Bab 16 - Hari yang Berat

 


“Ayuna ...!” teriak Bellina dari ruangannya.

 

Yuna yang baru saja ingin duduk di kursi langsung berhenti bergerak. “Kenapa lagi sih itu nenek sihir?” gumamnya dalam hati.

 

Selma, Bagus dan Pak Tono saling pandang.

 

“Ckckck, Bellina bener-bener keterlaluan!” celetuk Pak Tono.

 

Yuna memaksa bibirnya untuk tersenyum. Ia bangkit dan bergegas ke ruangan Bellina.

 

“Ada apa?” tanya Yuna saat masuk ke ruang kerja Bellina.

 

“Ini berkas semua karyawan. Aku minta kamu pisahin karyawan yang masih aktif kerja dan yang udah resign. Fotocopy tiga rangkap untuk karyawan yang masih aktif. Satu, kamu serahkan ke Selma, satu lagi kamu serahkan ke Pak Tono dan satunya kamu simpan sendiri!” perintah Bellina.

 

Yuna menatap tumpukan map yang ada di atas meja.

 

“Kenapa? Mau protes?”

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia segera mengambil map yang ada di atas meja dan membawanya keluar.

 

Yuna masuk ke ruangan dengan membawa tumpukan berkas yang hampir menelan tubuhnya. Ia meletakkan tumpukan berkas itu di lantai, tepat di sisi meja kerjanya.

 

“Eh, kamu disuruh ngapain sama Bos? Kenapa bawa berkas sebanyak ini?” tanya Bagus, rekan kerja Yuna.

 

“Disuruh milihin karyawan yang masih aktif sama nggak,” jawab Yuna.

 

Selma menatap tumpukan berkas yang tersusun di lantai. “Sebanyak ini? Ini berkas dari tahun berapa?” tanyanya.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Kalau minta data keluar masuk karyawan, sama siapa?” tanya Yuna.

 

“Ada sama aku. Sini copy di FD,” jawab Selma.

 

Selma tertawa kecil. Ia segera meng-copy dokumen miliknya ke dalam Flash Disk dan memberikannya pada Yuna.

 

“Makasih!” Yuna tersenyum sambil meraih Flash Disk dari tangan Selma. Ia segera mengambil dokumen tersebut dan mulai mengolah data karyawan yang ia dapat dari Selma.

 

“Bisa?” tanya Selma.

 

Yuna menganggukkan kepala. Setelah mem-filter karyawan yang statusnya sudah tidak bekerja, ia langsung membuka map dan mulai mengeluarkan berkas-berkas karyawan yang sudah resign.

 

“Yun, mau aku bantu?” tanya Bagus.

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Ini banyak banget. Selama kita kerja di sini, nggak pernah disuruh ngerjain kayak gini. Bukannya semua datanya sudah ada di komputer dan bisa dilihat semua?”

 

Yuna mengedikkan bahu. Ia menatap Bagus yang berdiri di sampingnya. “Kamu mau bantu aku?”

 

Bagus menganggukkan kepala.”

 

“Kalo gitu, kamu diam dan kerjain kerjaan kamu aja. Aku nggak fokus kalau ada yang ngajak ngomong,” tutur Yuna.

 

“Oh ... sorry!” Bagus berbalik dan melangkah pergi.

 

“Sorry ...! Kamu jangan salah paham. Aku ...”

 

“Nggak papa, aku ngerti. Ini pasti melelahkan banget dan aku juga nggak mau ganggu kamu.”

 

Yuna tersenyum. “Makasih atas pengertiannya.”

 

Dua jam berlalu, akhirnya Yuna selesai memilah berkas karyawan yang masih aktif dan yang sudah tidak aktif bekerja lagi.

 

Yuna bangkit dari tempat duduk sambil meliukkan badannya. “Akhirnya ... kelar juga,” celetuknya.

 

“Eh, berkas karyawan yang udah nggak aktif ini diapain ya?” tanya Selma.

 

“Aku nggak tahu,” jawab Selma sambil mengedikkan bahunya. “Bu Belli nggak ada ngomong?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Dia cuma nyuruh fotocopy berkas karyawan yang masih aktif.”

 

“Bakar aja kalo gitu,” sahut Bagus.

 

“Jangan! Memusnahkan dokumen perusahaan itu harus pake berita acara,” sahut Pak Tono sambil menatap Bagus.

 

“Gitu ya?” tanya Yuna. “Jadi, diapakan dong?”

 

“Mending kamu bawa ke gudang aja,” sahut Pak Tono.

 

“Aha ... iya. Bener banget! Mending bawa ke gudang aja. Kalau sewaktu-waktu diperlukan, nggak susah juga buat dicari,” Selma menengahi.

 

Yuna tersenyum sambil mengangguk. “Makasih, kalian udah bantu aku.”

 

“Nggak usah sungkan! Biasa aja,” sahut Selma. “Oh ya, coba deh turun ke kantin. Minta kardus bekas untuk nyimpan dokumen lama itu. Kalau udah dikardusin, nanti dikasih nama pakai spidol dan ditutup rapat pakai selotip besar atau lakban. Kalau sewaktu-waktu diperlukan, kamu nggak susah nyarinya.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia bergegas turun ke kantin untuk meminta kardus bekas. Setelah mendapatkannya, ia kembali ke ruangan dan memasukkan semua berkas-berkas karyawan yang tidak aktif ke dalamnya. Dengan cekatan, ia mengemas berkas itu dan membawanya ke gudang.

 

Yuna menghela napas lega saat keluar dari gudang. “Akhirnya ... kelar juga.”

 

“Eh, belum fotocopy!” seru Yuna. Ia langsung berlari kembali ke dalam ruang kerjanya.

 

“Sel, ruang fotocopy di mana?” tanya Yuna.

 

“Di ruangan sebelah. Deket toilet.”

 

Yuna mengambil beberapa map dan langsung keluar dari ruangan. Ia berjalan sambil membaca isi map tersebut untuk memastikan NIK karyawan sudah berurutan dengan benar.

 

BRUG ...!

 

Yuna langsung menatap mapnya yang berhamburan ke lantai karena menabrak seseorang. Wajahnya berubah muram. “Astaga! Udah aku urutin berkasnya. Jadi hamburan gini,” gumamnya dalam hati sambil membungkuk mengambil berkas yang ada di depannya.

 

“Maaf, kamu nggak papa?”

 

“Nggak papa. Aku yang seharusnya minta maaf karena nggak perhatikan jalan,” jawab Yuna.

 

“Biar aku bantu.”

 

Yuna langsung menengadahkan kepala menatap laki-laki yang berjongkok di depannya.

 

“Lian?” batin Yuna dalam hati. Jantungnya berdegup sangat kencang saat mengetahui pria yang ada di hadapannya adalah Wilian.

 

“Yuna!? Kamu kerja di sini?” tanya Lian dengan mata berbinar.

 

Yuna mengangguk. Ia mengumpulkan semua berkas dengan cepat dan segera bangkit.

 

“Berkas karyawan sebanyak ini, mau diapakan?”

 

“Fotocopy,” jawab Yuna.

 

Lian mengernyitkan dahi mendengar jawaban Yuna.

 

“Halo, Sayang!” sapa Bellina yang tiba-tiba muncul dan langsung menggandeng lengan Lian.

 

Yuna memutar bola matanya. “Pasti mau pamer kemesraan lagi,” celetuknya dalam hati.

 

“Bell, kamu ngasih tugas sebanyak ini ke Yuna?” tanya Lian.

 

Bellina menganggukkan kepala. “Nggak banyak, kok.”

 

“Tapi ... ini ...?” Lian menunjuk tumpukan berkas yang ada di tangan Yuna.

 

“Tenang aja. Ibu muda ini kuat banget, kok. Dia pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan mudah.”

 

“Dia baru aja kerja di sini kan? Apa nggak keterlaluan kalau kamu ngasih kerjaan sebanyak ini?” tanya Lian.

 

“Sayang, ini nggak banyak. Masih banyak kerjaan dia sebagai ibu rumah tangga,” sahut Bellina sambil tertawa kecil.

 

Yuna mencebik ke arah Bellina. “Sorry, yah! Aku nggak pernah ngerjain kerjaan rumah tangga. Suamiku itu kaya banget, di rumah ada banyak pembantu yang ngelayani aku.”

 

“Hahaha. Oh ya? Aku lupa kalo kamu sekarang udah jadi Nyonya Mudanya sugar daddy,” sahut Bellina.

 

Yuna merapatkan bibirnya menahan emosi. “Kamu ...!?” Ia langsung menunjuk wajah Bellina. “Bener-bener nggak ada gunanya berdebat sama cewek kayak gini,” gumamnya.

 

“Kenapa? Emang kenyataan kan?”

 

Yuna tersenyum sinis. “Setidaknya aku nggak ngerebut pacar orang!”

 

“Sayang, lihat deh kelakuan mantan pacar kamu ini. Dia kasar banget, sih?” tutur Bellina manja. “Kenapa kamu bisa pacaran sama dia?”

 

Lian tak menyahut ucapan Bellina. Ia hanya menatap Yuna yang berdiri di hadapannya.

 

“Oh ya ... kamu selama balik dari Melbourne, kamu belum pernah datang dan menginap di rumah kami. Aku harap, kamu mau tinggal di rumah selama beberapa hari!” pinta Bellina sambil tersenyum.

 

Yuna melirik tajam ke arah Bellina. Senyuman Bellina benar-benar seperti pedang yang menghunus lehernya. Ia sangat membenci Bellina yang tersenyum kepadanya.

 

Lian mulai tidak nyaman dengan perdebatan dua wanita bersaudara itu. “Biar gimana pun, Yuna pernah jadi bagian hidupku dan kami ...” batin Lian dalam hati.

 

Yuna berusaha tersenyum sambil menatap Bellina. “Aku sama sekali nggak tertarik tinggal di rumah nenek sihir itu!” sahutnya dalam hati. Ia berbalik dan bergegas pergi ke ruang fotocopy.

 

Bellina tersenyum sinis. “Sialan! Aku nggak akan pernah bikin hidupmu tenang!” makinya dalam hati.

 

Bellina tersenyum kecil saat melihat ember dan kain pel yang tak jauh dari tempatnya berdiri. “Ada hadiah kecil buat kamu, Yun. Bersiaplah menerimanya,” tuturnya dalam hati.

 

“Kita ke ruangan kamu, yuk! Ada yang mau aku diskusikan soal produktivitas tenaga kerja.”

 

Bellina mengangguk dan langsung melangkah ke ruang kerjanya.

 

Sementara itu, Yuna bolak-balik dari ruang fotocopy ke ruangan kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan secepatnya.

 

“Huft, akhirnya kelar juga!” Yuna terduduk lemas di samping mesin fotocopy setelah menyelesaikan pekerjaanya.

 

Ia bangkit perlahan dan langsung menuju ke toilet.

 

 

 

(( Bersambung ... ))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 15 - Hari Pertama Magang

 


Ponsel Yuna berdering. Yuna meraba tempat tidurnya, mencari sumber suara Ia langsung bangkit saat tak bisa menemukan ponsel di atas kasurnya.

 

Yuna menatap ponsel yang tergeletak di atas meja dan langsung meraihnya. “Halo ...!” jawabnya dengan nada sayu.

 

“Hah!? Are you seriously?” Yuna langsung berteriak begitu mendengar berita via telepon. “Oke. Thank you!”

 

Yuna langsung menutup panggilan telepon. Ia melompat riang gembira di atas tempat tidur. Kemudian memeluk ponsel dan merebahkan tubuhnya ke atas kasur.

 

“Akhirnya ... aku dapet tempat magang juga!” seru Yuna.

 

“Eh!? Jam berapa ini?” tanyanya sambil menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. “Udah sesiang ini!?” Yuna langsung melompat dari atas ranjang dan berlari menuju kamar mandi.

 

Yuna menghentikan langkahnya saat akan masuk ke kamar mandi. “Bukannya aku udah nikah? Suami aku mana?” Yuna mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

 

“Ya ampun, Yuna! Bego banget sih!? Bangun sesiang ini, jelas aja suami kamu udah pergi kerja. Bukannya seharusnya kamu yang nyiapin sarapan dan pakaian kerja dia? Bego! Bego! Bego!” Yuna memaki dirinya sendiri.

 

Yuna bergegas keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.

 

“Sudah bangun, Mbak?” sapa Bibi War.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Yeriko mana?”

 

“Sudah berangkat kerja dari jam enam tadi.”

 

“Jam enam? Pagi banget?”

 

“Biasanya begitu, Mbak.”

 

“Dia udah sarapan?”

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

Yuna menundukkan kepala sambil memainkan kakinya.

 

“Kenapa, Mbak? Mbak Yuna mau sarapan sekarang? Biar Bibi siapin!”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Kenapa murung?”

 

“Ini hari kedua aku resmi jadi istrinya Yeriko dan aku selalu bangun kesiangan. Aku bener-bener nggak bisa jadi istri yang baik.”

 

Bibi War tersenyum sambil merangkul pundak Yuna. “Mas Yeri, sayang banget sama Mbak  Yuna. Bahkan, Bibi nggak boleh ganggu tidurnya Mbak  Yuna,” ucapnya sambil membawa Yuna duduk di meja makan.

 

“Dia memperlakukan aku dengan sangat baik. Aku bener-bener ngerasa bersalah karena aku nggak bisa melayani suami dengan baik.” Yuna menundukkan kepala sambil memutar-mutar ponselnya.

 

TING ...!

 

Yuna langsung membuka pesan Whatsapp yang masuk di ponselnya.

 

“Jangan lupa sarapan. Kalau jenuh di rumah, pergi jalan-jalan sama sahabat kamu. Di samping tempat tidur, ada credit card. Kata sandinya, hari ulang tahunmu. Pakailah untuk bersenang-senang!”

 

Yuna membelalakkan mata membaca pesan dari nomor baru yang masuk ke ponselnya.

 

“Aargh ...!” Yuna mengacak rambutnya. Ia semakin merasa bersalah dengan kebaikan Yeriko.

 

“Kenapa, Mbak?” tanya Bibi War.

 

“Eh!? Nggak papa,” jawab Yuna. Ia segera mengetik ponsel untuk membalas pesan dari Yeriko.

 

“Hari ini ... aku dapet surat magang dari universitas. Aku bakal pergi ke PT. Raya Wijaya untuk interview magang. Makasih untuk semuanya, Suamiku. Soal kartu kredit, aku belum memerlukannya.” Yuna langsung mengirim pesan ke Yeriko.

 

“Oh ya? Kabar baik. Semoga sukses!” balas Yeriko lewat pesan.

 

Yuna tersenyum. Ia memeluk ponselnya dan bangkit dari tempat duduk.

 

“Mau ke mana? Bibi lagi siapin sarapan,” tanya Bibi War sambil membawakan nasi dan lauk ke atas meja.

 

“Aku mandi dulu!” jawab Yuna sambil bergegas pergi. Ia melenggang menaiki anak tangga penuh ceria.

 

Bibi War tersenyum menatap Yuna. “Anak itu, suasana hatinya cepat sekali berubah,” gumamnya.

 

Usai mandi, Yuna langsung bersiap dan turun ke lantai bawah. Bibi War sudah menyiapkan beberapa hidangan untuk sarapan.

 

“Mbak Yuna mau minum apa?” tanya Bibi War saat Yuna sudah duduk di kursi meja makan.

 

“Ini aja cukup, Bi,” jawab Yuna sambil menunjuk segelas air putih dengan dagunya.

 

“Oke. Kalau gitu, Bibi pergi beres-beres dulu. Mbak Yuna mau ke luar?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Makan yang banyak dan nggak perlu beresin meja makan. Biar nanti, Bibi yang beresin.”

 

“Nggak papa. Aku juga nggak buru-buru kok, Bi.”

 

“Eh, jangan gitu! Tangan Mbak Yuna yang mulus, nanti jadi kasar kayak tangannya Bibi kalau ngerjain kerjaan rumah. Bos Yeri bisa minta ganti rugi sama Bibi,” ucap Bibi War sambil menahan tawa.

 

Yuna tergelak. “Ah, Bibi bisa aja. Tanganku nggak akan lecet kalau cuma beresin meja makan.”

 

Bibi War terkekeh. Ia bergegas pergi untuk membersihkan kebun kecil yang ada di belakang rumah villa milik Yeriko.

 

Yuna segera menyelesaikan makannya dan pergi ke PT. Raya Wijaya, anak perusahan dari Wijaya Group.

 

Sesampainya di depan gedung PT. Raya Wijaya. Yuna berdiri sambil menatap gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. Ada hal yang mengganggu pikirannya. Tentang masa lalu, tentang keluarga, tentang semua hal yang pernah ia lalui beberapa tahun belakangan ini.

 

Yuna menarik napas panjang. Ia melangkah dengan pasti memasuki gedung perkantoran tersebut.

 

“Permisi, Mbak. Manager Personalia ruangannya di mana ya?” tanya Yuna saat sampai di meja resepsionis.

 

“Mbak dari mana? Sudah ada janji?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Saya mahasiswa lulusan Melbourne University. Ada perintah magang dari kampus. Ini suratnya!” jawab Yuna sambil menyodorkan surat ke resepsionis.

 

“Oh ... suratnya silakan di bawa ke Manager Personalia langsung, Mbak. Ruangannya ada di lantai enam.”

 

“Oke. Makasih banyak, Mbak Cantik!” Yuna tersenyum manis sambil bergegas pergi.

 

“Ah, Mbak bisa aja. Mbak juga cantik,” sahut resepsionis sambil menatap Yuna yang berlalu menuju lift untuk naik ke lantai enam.

 

Yuna melangkah penuh percaya diri menuju ruang Manager Personalia.

 

Tok ... tok .. tok ...!

 

“Masuk!”

 

Yuna langsung membuka pintu perlahan dan masuk ke dalam ruangan.

 

Seorang wanita berambut cokelat terlihat sibuk di meja kerjanya.

 

“Permisi ...!” sapa Yuna sambil melangkah masuk. “Saya mahasiswa magang dari Melbourne University ...” ucapan Yuna terhenti saat wanita berambut cokelat itu mengangkat kepala menatap Yuna.

 

“Kamu ...!?” Yuna melebarkan kelopak matanya menatap wanita yang ada di hadapannya.

 

“Kenapa? Kaget lihat aku di sini?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Bellina!? Penjilat kayak kamu nggak akan bikin aku kaget kalo ada di tempat ini,” tutur Yuna dalam hati.

 

Wanita berambut cokelat itu bangkit dari tempat duduk dan menghampiri Yuna. “Sepertinya kita berjodoh,” bisiknya. “Oh ya, denger-denger, kamu udah nikah ya?”

 

“Bukan urusan kamu!” sahut Yuna.

 

Bellina tersenyum sambil menatap Yuna. “Emang bukan urusan aku sih. Tapi, sikap kamu ini bakal jadi urusanku. Kamu tahu, aku bakal jadi atasan langsung kamu. Baik-baik sama aku atau kamu bakal aku bikin menderita!” ancamnya.

 

Yuna menarik napas mendengar ucapan Bellina. Ia berusaha tersenyum manis, menutupi rasa kesal di dalam benaknya.

 

“CV kamu, aku udah tahu semua. Aku nggak bakal meriksa lagi,” tutur Bellina sambil mengitari tubuh Yuna. “Kamu bisa langsung mulai kerja hari ini.”

 

“Eh!? Beneran?” tanya Yuna dengan mata berbinar.

 

Bellina menganggukkan kepala. “Kita ini saudara, aku nggak mungkin tega nolak kamu kan?” ucapnya sambil tersenyum menatap Yuna.

 

Yuna tersenyum kecut. Walau Bellina tersenyum manis kepadanya, senyuman Bellina seperti sebuah ancaman besar untuk Yuna.

 

“Ayo, aku tunjukin meja kerjamu dan kenalin kamu ke karyawan yang lain!” ajak Bellina. Ia mengajak  Yuna keluar dari ruangannya.

 

“Selamat pagi semua!” sapa Bellina saat sudah sampai di ruang karyawan departemennya.

 

“Pagi, Bu ...!” sapa semua karyawan yang ada di dalam ruangan.

 

“Pagi ini, saya mau kenalin karyawan baru di departemen kita. Dia, salah satu karyawan yang akan magang di sini,” ucapnya sambil melirik Yuna yang berdiri di sampingnya.

 

Yuna menundukkan kepala memberi salam hormat pada semuanya. “Salam kenal, nama saya Fristi Ayuna Linandar. Cukup panggil Ayuna saja. Saya karyawan baru di sini. Mohon kerjasamanya!”

 

Semua karyawan saling pandang, kemudian menatap Yuna.

 

Bellina tersenyum. “Itu, meja kerja kamu!” ucapnya sambil menunjuk meja kerja yang masih kosong.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Buatkan aku kopi dan bawa ke ruanganku!” perintah Bellina.

 

“Eh!?” Yuna langsung menoleh ke arah Bellina.

 

“Aku tunggu secepatnya!” ucapnya sambil berlalu pergi.

 

Yuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tak semangat melangkah menuju meja kerjanya.

 

“Kamu yang sabar ya! Bu Belli memang kayak gitu,” bisik karyawan yang duduk di sebelah Yuna.

 

Yuna tersenyum. Ia meletakkan tasnya ke atas meja.

 

“Kenalin, namaku Selma Indiyani. Panggil Selma aja,” tutur Selma sambil mengulurkan tangannya ke arah Yuna.

 

“Yuna,” balas Yuna mengulurkan tangan.

 

Selma tersenyum manis menatap Yuna.

 

“Dapurnya di mana ya?”

 

“Itu!” Selma menunjuk ke arah pintu  dapur.

 

“Makasih ya!” ucap Yuna. Ia bangkit dari tempat duduk dan bergegas menuju dapur untuk membuat kopi. Yuna langsung mengantarkan kopi buatannya ke ruangan Bellina.

(( Bersambung ... ))

Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas