Thursday, January 23, 2025

Bab 14 - Malam Pertama Nyonya Yeriko

 


“Yan, udah dapet informasi soal laki-laki tua yang udah jebak Yuna?” tanya Yeriko.

 

Riyan menganggukkan kepala. “Namanya Lukmantoro, Direktur di PT. Jaya Agung.

 

“Jaya Agung?” Yeriko menautkan jari-jemari sambil menopang dagunya. Ia berpikir sejenak.

 

Riyan menganggukkan kepala. “PT. Jaya Agung bergerak di bidang pengadaan barang untuk pertanian dan perkebunan. Mereka memproduksi peralatan pertanian.”

 

“Bagus. Cari tahu semuanya tentang perusahaan itu. Termasuk kehidupan pribadi Direktur Gila itu. Tugasmu yang lain gimana?”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Pak Adjie sudah saya pindahkan ke rumah sakit sesuai dengan keinginan Bos. Saya belum ngasih tahu ke Nyonya Muda, tapi saya dapat informasi dari perawat pribadi Pak Adjie kalau Nyonya Muda sudah mengunjungi Pak Adjie di tempat yang baru.”

 

Yeriko mengangkat kedua alisnya. “Dia tahu dari mana?”

 

Riyan mengedikkan bahunya. “Mungkin dia nanya sama rumah sakit yang lama.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Ternyata, dia nggak bisa dianggap remeh juga,” batin Yeriko.

 

“Mmh ... dan soal buku nikah ... baru bisa diambil besok.”

 

“Oke.” Yeriko merapikan jasnya. Ia bangkit dari tempat duduk.

 

“Bos, masih ada jadwal ketemu klien sore ini.”

 

“Aku tahu. Setengah jam lagi. Kamu udah siapin berkasnya?”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Sudah, Bos!”

 

“Kita ke sana sekarang!”

 

Riyan mengangguk dan bergegas mengikuti langkah Yeriko. Mereka bergegas menuju salah satu restoran tempat mereka akan bertemu dengan klien bisnis mereka.

 

Tidak hanya makan bersama sambil membicarakan bisnis. Yeriko terpaksa harus meminum beberapa gelas bir karena kliennya kali ini sangat suka minum bir.

 

“Bos, sepertinya terlalu banyak minum,” tutur Riyan saat mengantar Yeriko kembali ke rumah usai bertemu dengan klien.

 

“Aku baik-baik aja,” sahut Yeriko sambil memijat keningnya yang berdenyut.

 

Riyan tak banyak bicara lagi. Ia memapah Yeriko masuk ke dalam rumah dan membawanya ke kamar.

 

“Yuna sudah pulang?” tanya Yeriko sambil berbaring di atas ranjang.

 

“Mmh ... nggak tahu, Bos. Apa perlu aku tanyakan ke Bibi War?”

 

“Nggak perlu.”

 

“Mmh ... kalo gitu, aku pulang dulu!”

 

Yeriko mengangguk sambil memejamkan mata.

 

Riyan langsung bergegas turun dari kamar Yeriko. Ia menghentikan langkah kakinya saat melihat Yuna yang baru memasuki rumah.

 

“Nyonya Muda ...!” sapa Riyan.

 

Yuna mengerucutkan bibirnya. “Jangan panggil aku Nyonya Muda!”

 

“Ta ... tapi ...”

 

“Nggak pake tapi! Kalo kamu manggil aku Nyonya Muda lagi, aku bakal suruh Yeriko buat ganti asisten!” ancam Yuna.

 

“Jangan Nyonya! Eh ...!?” Riyan menampar bibirnya sendiri. “Tolong jangan mempersulit aku. Bos Yeri bakal marah kalau aku lancang panggil Nyonya Muda pakai nama. Aku ...”

 

Yuna menghela napas menatap Riyan. “Bos kamu itu ribet banget,” celetuk Yuna.

 

Riyan nyengir menatap Yuna.

 

“Eh, kalian baru pulang dari kantor?”

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Selarut ini?” tanya Yuna.

 

“Mmh ... Bos abis ketemu sama klien. Dia ...” Riyan menunjuk ke lantai atas.

 

“Oke. Biar aku temui dia.”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Aku pulang dulu!” pamit Riyan sambil melangkah pergi.

 

“Tunggu!”

 

“Kenapa?” tanya Riyan berbalik.

 

“Makasih karena udah pindahin ayah ke rumah sakit yang bagus dan fasilitasnya juga bagus.”

 

Riyan tersenyum menatap Yuna. “Berterima kasihlah sama Bos!” tuturnya sambil berlalu pergi.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala, ia langsung menaiki anak tangga menuju kamar Yeriko.

 

Yuna menatap Yeriko yang terbaring di atas tempat tidur. “Kenapa masih pakai sepatu dan nggak ganti baju?” gumamnya. Ia bergegas melepaskan sepatu Yeriko.

 

“Yun ... A ...!” panggil Yeriko sambil mengangkat tubuhnya.

 

“Eh!? Belum tidur?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. Ia menarik jemari tangan Yuna. “Masih nunggu kamu,” ucapnya sambil tersenyum.

 

“Aku?”

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum.

 

Yuna membalas senyuman Yeriko. “Oh ya, makasih karena sudah bantu ngerawat ayah dengan baik.”

 

Yeriko menganggukkan kepala sambil menatap Yuna. “Sudah kewajiban aku sebagai suami kamu.”

 

Yuna tersenyum. Ia merasa sangat bahagia setiap kali melihat Yeriko berada di hadapannya.

 

Yeriko menarik tubuh Yuna dan memeluknya erat.

 

Yuna melebarkan kelopak matanya. Ia tidak tahu harus melakukan apa di saat seperti ini. Jantungnya berdegup sangat kenang, seperti ingin keluar dari tempatnya.

 

Yeriko menempelkan dahinya di dahi Yuna. Membuat perasaan Yuna semakin tak karuan. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat hidung Yeriko yang mancung menyentuh hidungnya.

 

Yeriko menempelkan bibirnya ke bibir Yuna. Dengan lembut, ia melumat bibir Yuna yang manis.

 

Yuna tak mampu menolak, ia bisa merasakan aroma alkohol dari bibir Yeriko. Setiap Yeriko melumat bibirnya dengan lembut, ia bisa merasakan rasa manis yang keluar sedikit demi sedikit, semakin manis ... hingga membuat dadanya sesak karena tak bisa menghirup oksigen dengan baik.

 

Yuna mendorong dada Yeriko dan menarik kepalanya menjauh.

 

“Kenapa?”

 

“Aku nggak bisa napas.”

 

Yeriko tersenyum kecil.

 

“Kamu bisa napas?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna tersenyum canggung. Ia bangkit dari tempat tidur. “Aku mandi dulu!” Ia langsung berlari ke kamar mandi.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap Yuna yang sudah masuk ke kamar mandi.

 

“Yun, kenapa kamu payah banget sih!?” Yuna menepuk-nepuk pipi sambil menatap wajahnya di cermin.

 

Yuna mengatur napasnya yang tersengal. “Yun, kamu ini sekarang seorang istri. Bahkan berciuman aja sepayah ini. Gimana bisa bahagiain suami?”

 

“Aargh ...!” Yuna mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Ia menyalakan kran air, melepas semua pakaiannya dan berendam di dalam bathtub untuk menenangkan perasaannya.

 

Setelah satu jam, Yuna keluar dari kamar mandi dan berbaring di tempat tidur. Ia menggigit bibir bawahnya. Perasaannya tak karuan. “Aku harus gimana?” batinnya dalam hati.

 

“Mmh ... Yeriko ke mana ya?” tanyanya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

 

“Udah selesai mandinya?” tanya Yeriko sambil masuk ke dalam kamar.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Dari mana?”

 

“Dari ruangan sebelah. Aku mandi dulu!” Yeriko langsung masuk ke dalam kamar mandi.

 

 Yuna kembali menggigit bibirnya. “Apa yang harus aku lakuin? Aku belum siap.”

 

“Duh, kamu payah banget sih!?” rutuk Yuna sambil menatap tubuhnya sendiri.

 

“Dia pernah bilang, tubuhku nggak menggairahkan sama sekali. Apa aku ...? Aargh ...!” Yuna mengacak rambutnya sendiri.

 

Yuna menggigit kuku jempolnya. “Rasanya gimana ya? Sakit nggak ya?”

 

“Duh, Yuna ... kamu bener-bener payah!” celetuknya sambil menjatuhkan kepala dan menutup wajahnya dengan bantal.

 

Yuna menelan ludah. Ia semakin gugup saat Yeriko keluar dari kamar mandi dan berbaring di sampingnya.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil membaca beberapa laporan lewat tab yang ia pegang.

 

“Kamu kenapa?” tanya Yeriko sambil meletakkan tab-nya ke atas meja.

 

“Eh!?” Yuna menoleh ke arah Yeriko. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan takutnya.

 

“Muka kamu tegang banget. Kenapa?”

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya dengan rapat.

 

Yeriko tersenyum. Ia membaringkan tubuhnya menghadap ke arah Yuna.

 

Yuna mengerjapkan mata. Saraf otaknya makin menegang mendapati tatapan Yeriko yang begitu lekat.

 

“Kamu udah resmi jadi istriku. Apa lagi yang kamu takutkan?” tanya Yeriko sambil menyolek dagu Yuna.

 

“Mmh ...” Yuna menggigit bibir bawahnya. “Apa malam ini ... aku harus melayani kamu sebagai seorang istri?”

 

Yeriko menahan tawa menatap Yuna.

 

“Kenapa ketawa?”

 

“Nggak papa,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

Yuna kembali menggigit bibir bawahnya.

 

“Aku nggak akan maksa kamu buat ngelayani aku,” tutur Yeriko.

 

“Eh!? Beneran?” tanya Yuna dengan mata berbinar.

 

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Hari ini, kamu ke mana aja?”

 

“Mmh ... pergi jalan-jalan sama Jheni. Belanja, makan ...”

 

“Terus?”

 

“Jengukin ayah.”

 

“Oh.”

 

“Eh, kenapa kamu nggak bilang ke aku dulu kalau mau pindahin ayah?” tanya Yuna.

 

“Bukannya kita udah sepakat sebelum kita nikah?”

 

Yuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Iya, sih. Tapi kan aku nggak tahu kalau bakal dipindahkan,” batinnya.

 

“Kamu nggak usah khawatir. Aku pasti kasih pengobatan terbaik buat ayah kamu. Percayalah!”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko tersenyum sambil mengelus rambut  Yuna. “Tidurlah!”

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Akhirnya ... aku bisa tidur dengan tenang,” bisiknya sambil memejamkan mata.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna. Ia kembali mengambil tab dan memeriksa beberapa pekerjaannya. Pikirannya terganggu setiap kali melihat Yuna bergerak.

 

“Bahkan tidur pun kamu masih nggak bisa diam,” celetuk Yeriko sambil memperbaiki selimut Yuna. Pandangannya tertuju pada dada Yuna yang terbuka. “Kamu terlalu indah untuk dilewatkan, tapi ...”

 

“Aw ...!” Yeriko meringis saat kaki Yuna menimpa tubuhnya. Ia langsung menyingkirkan paha Yuna yang mulus dari atas tubuhnya.

 

(( Bersambung ... ))

Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 


Bab 13 - Perawatan Terbaik

 


Usai berbelanja dan makan bersama. Yuna mengajak Jheni untuk mengunjungi ayahnya.

 

“Ayah kamu dirawat di mana? Bukannya ada di lantai bawah ya?” tanya Jheni.

 

“Udah dipindahin ke VVIP,” jawab Yuna sambil melangkah menuju ruang rawat ayahnya.

 

“Kamu beruntung banget sih. Punya suami ganteng dan perhatian banget. Aku nggak sabar pengen kenalan sama suami baru kamu itu.”

 

Yuna tersenyum dan langsung membuka pintu ruang VVIP tempat ayahnya dirawat.

 

Yuna mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ruangan ini sudah bersih dan rapi. Tidak ada perawat yang berjaga dan juga tidak ada ayahnya di sana.

 

“Ayah ke mana!?” Yuna panik dan bergegas keluar dari ruangan. Ia mencari dokter yang bertugas merawat ayahnya.

 

“Kenapa, Yun?” tanya Jheni sambil mengikuti langkah Yuna.

 

“Ayah aku nggak ada, Jhen!” seru Yuna.

 

“Mungkin ada pemeriksaan di ruangan lain.”

 

“Nggak mungkin.” Yuna terus berjalan menuju ruang dokter yang merawat ayahnya.

 

Tanpa mengetuk pintu, Yuna langsung masuk ke dalam ruangan dokter.

 

Dokter yang sedang sibuk memeriksa berkas medis, menengadahkan kepala menatap Yuna.

 

“Dokter, ayah aku ke mana?” tanya Yuna dengan napas tersengal.

 

“Ayah kamu? Pak Adjie?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Sudah dipindahkan.”

 

“Dipindahkan ke mana?”

 

“Ke Rumah Sakit Siloam.”

 

“Kenapa dipindahin? Kenapa nggak kasih tahu aku dulu? Aku ini anaknya, Dok!” seru Yuna kesal.

 

“Sabar, Yun!” ucap Jheni lirih sambil mengusap pundak Yuna.

 

Yuna langsung menyingkirkan tangan Jheni.

 

“Siapa yang pindahin ayah?” tanya Yuna.

 

“Menantunya.”

 

“Yeriko?”

 

Dokter menganggukkan kepala. “Di sana, fasilitasnya lebih lengkap dan lebih baik dari rumah sakit ini. Suami kamu berusaha memberikan perawatan terbaik untuk ayah kamu. Kamu sangat beruntung.”

 

Yuna terdiam sesaat. “Kenapa dia nggak bilang ke aku dulu kalo mau mindahin ayah?” bisiknya dalam hati.

 

“Mmh ... makasih untuk informasinya, Dokter. Maaf karena udah bersikap nggak sopan. Tadi, aku terlalu panik. Maaf!” ucap Yuna sambil membungkukkan badanya.

 

“Nggak masalah. Sebaiknya kamu temui ayah kamu di rumah sakit yang baru.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Permisi, Dokter!”

 

“Permisi, Dok!” Jheni juga ikut berpamitan.

 

Mereka berdua bergegas pergi ke Siloam Hospital.

 

Sesampainya di rumah sakit, Yuna langsung menghampiri meja resepsionis.

 

“Ada yang bisa kami bantu?” sapa petugas resepsionis dengan ramah.

 

“Apa ada pasien yang namanya Adjie Linandar?” tanya Yuna.

 

“Sebentar, saya cek dulu ya!” tutur petugas resepsionis tersebut sambil terus tersenyum.

 

Yuna menganggukkan kepala sambil menunggu selama beberapa detik.

 

“Ada, Mbak.”

 

“Di ruangan mana sekarang?”

 

“Beliau ada di ruang VVIP 1.”

 

Yuna dan Jheni bergegas mencari ruang VVIP 1. Mereka langsung masuk ke dalam ruangan begitu menemukan ruangan yang dimaksud.

 

“Yun, ini kamar gedenya kayak rumahku,” celetuk Jheni saat masuk ke dalam ruangan.

 

Yuna tak menyahut, kakinya melangkah perlahan menghampiri ayahnya yang terbaring di atas tempat tidur. Ia tersenyum melihat ayahnya yang terlelap.

 

Yuna berbalik dan mengajak Jheni duduk di sofa. “Ayah lagi tidur,” tuturnya.

 

“Yun, suami kamu kaya banget ya?” tanya Jheni.

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

Jheni tertawa kecil menatap Yuna. “Kamu tuh aneh. Nikah sama cowok yang kamu sendiri nggak tahu asal-usulnya gimana. Kalo dia nggak kaya, dia nggak mungkin pindahin ayah kamu ke sini. Setahu aku, biaya perawatan di sini mahal banget. Apalagi ini VVIP room.”

 

“Aku nggak tahu, Jhen. Waktu itu, aku bener-bener nggak tahu harus bawa ayah ke mana. Dia cuma bilang, bakal ngasih perawatan terbaik buat ayah. Aku sama sekali nggak nyangka kalau dia bisa sehebat ini.”

 

“Itu artinya ... dia cinta banget sama kamu. Kalo nggak, nggak mungkin kan dia kasih fasilitas mewah buat ayah kamu?”

 

Yuna tertegun dan langsung menatap Jheni.

 

“Kenapa?” Jheni mengerutkan kening menatap Yuna.

 

“Kami baru kenal seminggu yang lalu. Nggak mungkin dia cinta sama aku. Lagian, sikapnya dingin banget kayak beruang kutub.”

 

“Hah!? Terus gimana kalian bisa nikah?”

 

“Aku kan udah bilang kalau aku mau nikah sama dia karena ayah.”

 

“Kalau cuma karena ayah, harusnya kamu sudah nikah sama direktur tua yang dijodohin sama tante kamu itu kan?”

 

Yuna terdiam mendengar ucapan Jheni. “Bener juga, kenapa aku mau nikah sama Yeriko?” batinnya bertanya-tanya.

 

“Kamu suka sama dia juga kan?”

 

“Mmh ...”

 

“Udah, deh. Ngaku aja! Ganteng mana, dia atau Lian?”

 

“Iih ... ngapain sih bawa-bawa nama Lian segala!?” sahut Yuna.

 

Jheni terkekeh melihat Yuna. “Jawab!”

 

“Mmh ... ganteng Yeriko, sih.”

 

“Nah ... kan!? Kamu pasti jatuh cinta pada pandangan pertama ya?”

 

“Mmh ... kamu haus nggak? Mau aku ambilkan minum?” tanya Yuna mengalihkan pembicaraan.

 

“Nggak usah menghindar!” seru Jheni.

 

Yuna menghela napas. “Jhen, kamu tuh kalo udah nanya kayak wartawan aja. Kenapa nggak kerja jadi wartawan sekalian, sih!?”

 

“Karena kamu nggak ceritain semuanya secara detil. Harusnya, kamu cerita dari awal pertama kalian kenal dan apa aja yang udah kalian lakuin?”

 

“Jhen, kita kenal baru seminggu dan kita nggak ngapa-ngapain. Kenalnya juga nggak sengaja. Aku bahkan baru tahu nama aslinya waktu ijab kabul.”

 

Jheni melebarkan kelopak matanya. “Hmm ... oke, karena kalian emang baru kenal. Pernikahan kilat ini pasti belum banyak punya cerita. Tapi ... mulai besok kamu harus ceritain semua yang terjadi sama kamu tanpa terkecuali.”

 

“Idih ... kepo banget! Mau denger juga cerita main di ranjang?” sahut Yuna.

 

“Udah ada rencana, Yun?” tanya Jheni makin penasaran.

 

Yuna langsung mengetuk dahi Jheni. “Sembarangan!”

 

“Kalian kan udah sah jadi suami istri. Nggak ada yang salah kan?”

 

“Mmh ... iya juga sih. Tapi ... aku belum terbiasa sama status yang tiba-tiba kayak gini.”

 

“Terus, rencana kamu selanjutnya apa?”

 

“Belum tahu.”

 

“Sudah sejauh ini kamu belum tahu mau ngelakuin apa?”

 

“Kenapa emangnya?”

 

“Yah, setidaknya kamu berterima kasih sama suami kamu karena udah ngasih perawatan yang terbaik buat ayah kamu. Dan juga ... kamu nggak mau tinggal sama dia?”

 

Yuna tersenyum kecil. “Yah, nggak mungkin aku tinggal di rumah kamu terus kan?”

 

“Nggak papa kali. Aku seneng kok, kamu mau tinggal di rumah aku.”

 

“Biar gimana pun, aku udah jadi istrinya Yeriko. Riyan dan Bibi War pasti bakal mempertanyakan hubungan kami kalau kami nggak tinggal sama-sama.”

 

“Jadi, mulai kapan kamu bakal tinggal sama dia?”

 

“Secepatnya.”

 

Jheni langsung memeluk tubuh Yuna. “Aku beneran bakal kehilangan kamu,” tuturnya pelan.

 

Yuna tersenyum. “Aku nggak ke mana-mana, Jhen. Cuma di rumah suami aku. Kita masih bisa ketemu setiap hari.”

 

Jheni melepas pelukannya dan mengusap pipinya yang basah. “Janji ya! Kamu harus sering-sering main ke rumah aku!”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Kamu juga harus sering main ke rumah kami, gimana?”

 

“Dengan senang hati,” jawab Jheni. “Sekarang juga, gimana? Aku pengen lihat suami kamu.”

 

“Jangan sekarang!” pinta Yuna.

 

“Kenapa?” Jheni mengerucutkan bibirnya.

 

“Dia belum jinak,” jawab Yuna.

 

Jheni menahan tawa. “Kamu kira dia apaan? Pake acara dijinakin segala?”

 

“Beruang Kutub itu, selain dingin juga buas banget. Kamu mau ditelan mentah-mentah sama dia?”

 

“Kamu sendiri gimana?”

 

“Aku sih aman-aman aja. Kamu tahu kan kalau aku ini kuat.”

 

Jheni terkekeh menatap Yuna. “Oke. Oke. Tapi ... someday, kamu harus kenalin dia ke aku.”

 

“Pasti!” sahut Yuna.

 

“Mmh ... aku balik dulu ya! Soalnya, aku ada janji mau ketemu sama seseorang.”

 

“Siapa?” tanya Yuna.

 

“Kepo ih! Ada, deh.”

 

“Iih ... mulai main rahasia-rahasiaan ya!?” dengus Yuna.

 

Jheni tersenyum kecil. “Nggak, kok. Ada janji mau makan malam bareng temen-temen kantor.”

 

“Oh ...”

 

“Aku pamit dulu ya!”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku juga mau balik.”

 

“Ke rumah aku?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku langsung ke rumah villa Yeriko.”

 

“Ciyeee ... pengantin baru ... yang udah nggak tahan mau ‘ehem-ehem’,” goda Jheni.

 

“Apaan sih!?” sahut Yuna, ia tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya. Ucapan Jheni membuatnya tersipu malu.

 

Jheni tertawa kecil. Ia bangkit dari duduk dan bergegas meninggalkan Yuna.

 

Yuna tersenyum. Ia melihat keadaan ayahnya selama beberapa menit dan segera kembali ke rumah Yeriko.

 

(( Bersambung ... ))

Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas