Book Author and Ambassador Novelme. Love to imagination, telling story and making money.

Friday, March 26, 2021

Penyesalan Masa Tua



Hari ini ... aku ingin berbagi kisah.

Bukan untuk mengharapkan rasa iba atau kasihan dari kalian. Tapi ... karena aku ingin tulisanku ini bisa menjadikan pelajaran hidup bagi kita.

Siapa sih sosok yang ada di foto ini?

Sosok ini bukanlah orang lain bagiku. Dia adalah seorang kakek yang begitu baik. Tidak pernah marah, tidak pernah menghakimi cucu-cucunya saat bersalah.

Aku ingin ... kisah dia abadi. Kelak, mungkin anak-anakku akan membaca tulisan ini.

 

Dia adalah sosok yang baik. Sayangnya, ia bernasib malang. Tidak sebaik seperti yang lainnya. Di usianya yang senja, dia hidup dalam sebuah penyesalan besar. Sebuah penyesalan di masa lalu karena dia tidak pernah bersekolah. Sehingga, ia kerap dimanfaatkan oleh orang lain. Semua harta yang ia miliki sudah habis karena ia tidak memiliki ilmu pengetahuan untuk menjaganya.

Penyesalan terbesarnya bukan karena kehilangan harta. Tapi karena dia tidak pernah merasakan apa itu “Belajar”. Saat masih kecil, kedua orang tuanya sudah tiada. Sementara, adiknya pun masih kecil. Demi merawat dan menjaga adiknya, dia memutuskan untuk berhenti sekolah.

Ada banyak pilihan dalam hidup, tapi juga ada orang yang tidak memiliki pilihan. Harus tetap menjalani kesulitan tanpa harus dihadapkan pada pilihan. Sebab itu, bersyukurlah jika kalian masih memiliki pilihan dalam hidup kalian. Sebab, sebagian orang tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih. Hanya dihadapkan pada satu hal yang harus mereka terima meski itu sangat pahit.

 

Sejak tahun 2004, kakekku sudah mengalami gangguan psikis karena penyesalan yang ia alami. Hingga saat ini, fisiknya masih sehat. Hanya saja, pemikirannya tidak lagi sehat. Dia setres dan kondisi telinganya sudah tunarungu karena usianya memang sudah tua.

 

Setiap hari ... dia selalu merasa sedih karena penyesalan dalam hidupnya. Setiap hari dia akan mengomel karena keadaan keluarganya yang tidak layak seperti lainnya.

Terkadang, menjadi pendengarnya setiap hari cukup setres. Kenapa? Karena aku juga tidak bisa melakukan sesuatu. Aku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tidak bisa mengubah hidupku dengan mudah.

Penyesalan di masa tuanya ... menusuk hatiku dan memberikan aku pelajaran berharga. Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan ilmu, sementara aku hanya tinggal di pelosok desa. Minim pendidikan, minim akses transportasi dan informasi.

Mungkin, yang membuat kakekku menyesal adalah ... dia melihat dengan nyata bagaimana zaman itu berubah. Sementara, dia tidak pernah bisa berubah. Menyakitkan ketika orang lain bisa mendapatkan sesuatu yang lebih. Sementara ia hanya duduk saja. Tak memiliki kemampuan apa pun. Ingin belajar pun, sudah terlambat.

 

Salah satu alasanku membuka rumah baca adalah ini ... aku tidak ingin, generasi muda merasakan hidup dalam penyesalan. Penyesalan bukan karena tidak memiliki harta, tapi karena tidak memiliki ilmu yang bermanfaat.

Aku khawatir, ini akan terjadi pada anak-anakku di masa yang akan datang. Oleh sebab itu, aku ingin mengabadikan kisah ini. Supaya bisa dijadikan pelajaran bahwa usia muda seharusnya digunakan untuk belajar. Belajar apa pun itu. Bisa dimulai dari buku. Buku apa pun itu.

Sebab, semua buku adalah ilmu.

Ilmu bisa kita dapatkan dari mana saja dan di mana saja. Jika tidak bisa mendapatkan pendidikan yang tinggi. Cukup hanya bisa bergelar SM (Sarjana Masyarakat), maka kita harus banyak belajar dari buku. Ada milyaran buku di dunia ini. Ada bilyunan tulisan di dunia ini. Jika kamu tidak bisa memanfaatkan waktumu dengan baik. Maka, kamu akan merasakan bagaimana dunia begitu kejam terhadapmu. Tidak ada kompromi, tidak ada toleransi. Hukum alam akan menyeleksi manusia-manusia yang bisa bertahan hidup dengan baik atau tidak.

 

Siapa yang tidak ingin hidup dengan baik? Semua orang ingin merasakan hidup layak. Punya pekerjaan yang baik. Punya masa depan yang baik. Hidup bahagia dengan keluarga, bisa menikmati liburan.

 

Semua orang ingin hidupnya lebih baik. Sama denganku. Aku juga ingin merasakan itu semua.

Aku tidak minta banyak. Aku hanya tidak ingin kakek-nenek dan kedua orang tuaku tidak merasakan bekerja di usia senjanya. Aku bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Walau sampai saat ini, aku belum bisa membuat orang tuaku benar-benar bersantai. Mereka masih pergi ke sawah setiap hari.

 

Itulah sebabnya, aku ingin sekali bisa bekerja keras agar kedua orang tua dan kakekku bisa bersantai.

Aku ingin memberikan yang terbaik untuk kakekku. Membuktikan bahwa aku bisa membawa keluarga dari kemiskinan. Membuatnya bangga dan menghilangkan rasa penyesalan dalam hidupnya.

 

Tapi sampai saat ini, dia masih tidak bisa menghapus rasa penyesalan dalam hatinya meski aku sudah berusaha keras membuatkan sebuah rumah yang layak dari hasil menulis novel.

Meski sudah berusaha keras untuk melegakan hatinya agar tidak hidup dalam penyesalan, pad akhirnya, tetap menyisakan penyesalan dalam hatinya.

 

Oleh sebab itu ...

Perbanyaklah belajar di usia mudamu. Agar usia tuamu tidak diselimuti rasa penyesalan. Nasehat yang pernah ada di buku sekolah, itu sungguh ada di dunia nyata. Penyesalan di msa tua, benar-benar akhir hidup yang menyakitkan. Sebab, kamu akan menyaksikan bagaimana zaman berubah. Kamu akan merasakan bagaimana waktumu begitu singkat dan tidak ada satu hal pun yang kamu bis tinggalkan untuk anak cucumu di masa depan.

 

Semoga tulisan ini ... membuat kita belajar, belajar dan belajar.

 

 

Salam hangat,

@rin.muna

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas