Thursday, January 23, 2025

Bab 12 - Be a Wife

 


“Kenapa?” tanya Yeriko yang menyadari kalau Yuna berjalan sambil melamun.

 

“Eh!?” Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko. “Nggak papa. Aku cuma belum terbiasa aja. Aku nggak tahu harus ngapain setelah ini. Aku nggak tahu gimana caranya jadi istri ...”

 

“Kamu nggak perlu mikirin apa-apa. Cukup berdiri di samping aku dan terus tersenyum!” pinta Yeriko.

 

Yuna tersenyum menanggapi ucapan Yeriko.

 

“Nah, gitu dong! Istriku makin cantik kalau senyum kayak gini,” tuturnya sambil mengusap dagu Yuna.

 

Yuna hanya tersenyum canggung menanggapi ucapan Yeriko.

 

Yeriko menggenggam jemari Yuna dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. “Yuk, pulang.”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko memasangkan safety belt ke tubuh Yuna. Setelah ia memasang safety belt ke tubuhnya, ia langsung menyalakan mesin mobil dan bergegas melajukan mobilnya menuju rumah villa miliknya.

 

Sesampainya di rumah, makanan sudah terhidang di meja makan.

 

“Bibi War ke mana?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengedikkan bahunya. “Mungkin lagi keluar. Kita makan dulu, yuk!”

 

“Nggak mandi dulu? Aku belum mandi seharian.”

 

“Makanannya keburu dingin. Mending kita makan dulu, abis ini mandi. Gimana?”

 

Yuna mengangguk. Ia duduk di meja makan bersama dengan Yeriko. Yuna mengambil piring dan nasi untuk Yeriko. “Mau lauk apa?” tanyanya.

 

“Apa aja yang kamu kasih, aku makan.”

 

Yuna tersenyum kecil. Ia mengambil sepotong ayam goreng dan tumis kangkung, lalu memberikannya pada Yeriko.

 

Yeriko tersenyum. “Makasih!”

 

Yuna mengangguk. Ia segera mengambil piring dan mengisi dengan makanan yang ia suka.

 

Yuna langsung menghentikan suapan pertamanya. “Kenapa nggak pedas?” gumamnya.

 

“Aku nggak suka makanan pedas. Bibi nggak pernah masak pedas buat aku.”

 

“Oh ya?” Yuna bangkit dari duduknya.

 

“Mau ke mana?” seru Yeriko.

 

“Aku bikin sambal dulu,” sahut Yuna sambil melangkah menuju dapur. Ia bergegas membuat sambal dan kembali ke meja makan.

 

“Kamu suka sambal?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Nggak sakit perut?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

Yeriko nyengir saat melihat Yuna menumpahkan sambal ke atas makanannya. “Yun, makan pedas berlebihan nggak baik buat kesehatan.”

 

“Ini nggak pedes banget, kok. Aku kasih tomat. Mau nyobain?”

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Huh! Cemen!”

 

“Apa kamu bilang?”

 

“Cemen!” sahut Yuna menegaskan.

 

“Bukan cemen. Aku jaga kesehatan aja.”

 

Mereka pun tertawa. Setelah itu, masing-masing sibuk dengan makanannya sendiri.

 

“Cepet habisin makannnya! Aku mandi duluan.”

 

“Eh!? Kamu udah selesai?” tanya Yuna sambil menatap piring Yeriko yang masih berisi makanan.

 

“Udah kenyang.”

 

“Belum habis makanannya,” sahut Yuna.

 

Yeriko tak menghiraukan dan tetap bangkit dari duduknya.

 

Yuna langsung menarik lengan Yeriko. “Kata orang, nggak baik nyia-nyiain makanan. Abisin dulu makanannya!” pinta Yuna.

 

“Oke,” jawab Yeriko datar.

 

Yeriko menghela napas dan kembali duduk di kursinya. “Kenapa sih, aku nggak bisa marah sama cewek ini?” gumamnya dalam hati.

 

Yuna tersenyum senang karena Yeriko mau menuruti keinginannya.

 

***

 

 

 

“Hai, Jhen!” sapa Yuna yang sudah berdiri di depan pintu kamar Jheni.

 

“Astaga! Kamu kayak hantu aja. Ngilang tiba-tiba, muncul juga tiba-tiba,” tutur Jheni sambil memegang dadanya. Ia sangat terkejut dengan kehadiran Yuna saat ia baru saja bangun dan membuka pintu kamarnya.

 

Yuna meringis dan langsung masuk ke kamar Jheni.

 

“Jalan yuk!” ajak Yuna.

 

“Ke mana?”

 

“Mmh ... shopping?”

 

“Aku lagi bokek.”

 

“Aku traktir.”

 

“Emang punya duit?”

 

Yuna melirik ke langit-langit sambil tersenyum.

 

“Aha ... aku ingat. Terakhir kali kamu pergi. Kamu mau nikah sama direktur kaya raya yang dijodohin sama kamu itu kan? Kamu udah beneran nikah sama dia dan sekarang punya uang banyak?”

 

“Sembarangan!”

 

“Terus!?” Jheni mengernyitkan dahi. “Sejak malam itu, kita belum ketemu dan kamu nggak pernah hubungi aku. Aku kira, kamu udah jadi istri muda Oom-Oom itu.”

 

Yuna tersenyum. “Nanti aku ceritain! Mandi gih! Aku tunggu.”

 

Jheni bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

 

Setelah Jheni selesai mandi dan berganti pakaian, mereka bergegas menuju salah satu mall yang ada di pusat kota.

 

“Yun, kamu beneran punya uang?” tanya Jheni setelah mereka keluar dari salah satu toko pakaian.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Uang dari mana?”

 

“Mmh ... sebenarnya ini uang tabungan aku.”

 

“Kamu gila ya! Uang tabungan kamu pake buat belanja kayak gini?”

 

“Nggak papa. Santai aja!” Yuna mengerdipkan mata ke arah Jheni.

 

“Aku jadi nggak enak sama kamu.”

 

“Nggak perlu sungkan. Anggap aja ini uang sewa selama aku tinggal di rumah kamu.”

 

“Aku nggak pernah minta kamu buat bayar sewa, Yun.”

 

Yuna tersenyum. “Aku yang nggak enak sama kamu karena selalu makan dan tidur numpang di rumah kamu. Kalau kamu nolak pemberianku, aku nggak mau tinggal di rumah kamu lagi!” Yuna melipat kedua tangan dan pura-pura marah.

 

“Iya, iya. Makasih ya!” Jheni langsung merangkul tubuh Yuna.

 

Yuna tersenyum senang. “Nah, gitu dong! Cari makan yuk! Sambil cerita-cerita.”

 

Jheni menganggukkan kepala. Mereka masuk ke salah satu restoran yang ada di pusat perbelanjaan tersebut.

 

“Kamu mau makan apa?” tanya Yuna.

 

“Ikut sama kamu aja, deh. Ditraktir gini.”

 

Yuna tertawa kecil. “Ya nggak gitu juga kali. Kalo kamu pengen makan yang lain juga nggak papa.”

 

“Samain aja! Toh, selera kita juga sama.”

 

Yuna tersenyum dan langsung memesan makanan.

 

“Jhen, aku mau ngasih tau kamu sesuatu,” tutur Yuna sambil menatap Jheni.

 

“Apa?” Jheni sangat antusias mendengar ucapan Yuna.

 

“Mmh ... kemarin ... kemarin aku ...”

 

Jheni mengerutkan kening, ia tak sabar menunggu Yuna bercerita. “Kenapa?” tanya Jheni.

 

Yuna tersenyum menatap Jheni. “Kemarin aku ... udah nikah.”

 

“What!? Nikah sama siapa?”

 

“Sama ... cowok yang aku kenal beberapa hari lalu.”

 

“Apa!? Kamu udah gila ya!?”

 

“Aku tahu aku gila. Tapi ... aku juga nggak bisa nolak cowok itu. Dia ...” Yuna menghentikan ucapannya saat Melan tiba-tiba sudah berdiri di depannya.

 

“Anak nggak tahu diri. Bukannya ayah kamu lagi lumpuh? Kamu malah bersenang-senang di sini,” tutur Melan sambil menatap Yuna.

 

Yuna hanya diam. Ia pura-pura tidak mendengar ucapan Melan.

 

“Ma, mungkin dia nggak sempat mikirin ayahnya karena sibuk jual diri. Lihat aja! Dapet uang dari mana buat belanja dan makan di tempat yang bagus kayak gini. Jangan-jangan, udah jadi istri simpanan,” celetuk Bellina.

 

Yuna bangkit sambil menatap Bellina. “Sekalipun aku nggak punya uang. Aku masih punya harga diri. Lagian, aku terlalu mahal buat jual diri. Tanya aja sama mama kamu, berapa uang yang dia dapat buat jual aku ke Bajingan Tua itu!?” tutur Yuna sambil membelalakkan matanya ke arah Bellina.

 

“Kamu ... berani-beraninya ...!” Melan menatap Yuna penuh amarah.

 

Yuna tersenyum sinis. “Kalian itu sama-sama murahan! Cocok banget, sih. Satunya germo, satunya pelacur!”

 

“Jangan sembarangan kalo ngomong!” seru Melan sambil menjambak rambut Yuna.

 

Yuna mengerutkan hidung, menahan rambutnya yang terasa sakit karena Melan menariknya begitu kuat.

 

“Kalo kamu berani macem-macem, aku bakal bikin ayah kamu makin menderita!” ancam Melan. “Bahkan, aku bisa bikin kamu nggak bisa lihat dia lagi selamanya!”

 

“Aargh ...!” Yuna langsung menepis tangan Melan dengan kasar. “Aku nggak akan biarin Tante menyentuh ayah biar cuma sedikit aja!” ancam Yuna balik.

 

“Kamu ...!? Bener-bener nggak tahu diri! Kamu nggak mikir kalo biaya pengobatan ayah kamu itu mahal banget. Kamu bisa bayar pake apa?”

 

“Aku bakal bayar semuanya nanti!” sahut Yuna.

 

Melan tersenyum sinis. “Kamu itu udah nggak punya apa-apa lagi. Kamu pikir, bisa ngelunasi hutang-hutang kamu?”

 

“Aku pasti ngelunasi semua hutangku dengan cara yang halal. Nggak harus menjual diriku ke germo kayak kamu!?”

 

Melan makin naik pitam mendengar ucapan Yuna.

 

“Yun, udahlah. Nggak usah diladenin lagi!” bisik Jheni sambil menarik ujung jemari Yuna.

 

“Ma, kita pergi aja!” bisik Bellina sambil menarik lengan mamanya menjauh dari Yuna.

 

“Awas kamu ya!” ancam Melan sebelum akhirnya pergi meninggalkan Yuna.

 

“Masa bodoh!” sahut Yuna tanpa suara. Ia kembali duduk di kursinya.

 

“Tante kamu itu bener-bener nggak punya perasaan ya?” tutur Jheni.

 

“Ngeselin banget!” celetuk Yuna.

 

“Aku salut deh sama kamu. Bisa ngelawan dia sampe segitunya.”

 

“Orang kayak dia itu emang harus dilawan. Dikira aku bakal diam aja? Aku nggak bakal nyerah gitu aja.”

 

Jheni tersenyum sambil mengacungkan dua jempolnya.

 

Yuna tersenyum menatap Jheni.

 

“Eh, kamu belum lanjutin ceritanya,” tutur Jheni.

 

“Cerita apaaan?”

 

“Yang tadi.”

 

“Yang tadi apa ya?”

 

“Nggak usah pura-pura lupa!” dengus Jheni.

 

“Duh, kayaknya aku beneran lupa,” sahut Yuna sambil memijat keningnya.

 

“Yuna!” seru Jheni geram.

 

Yuna terkekeh melihat wajah Jheni.

 

“Cepet cerita!” pintanya.

 

Yuna menoleh ke arah pelayan dan mengambil makanan yang ia pesan. “Makan dulu!” pinta Yuna pada Jheni.

 

“Kamu ngulur-ngulur waktu buat cerita aja!” ucap Jheni kesal.

 

Yuna tersenyum kecil menatap Jheni. “Iya ... aku ceritain. Dengerin baik-baik ya!”

 

Jheni mengangguk. Ia melipat kedua tangannya di atas meja dan memasang telinganya dengan baik.

 

“Semalam, aku nikah sama cowok yang udah nolongin aku beberapa hari belakangan ini. Aku nggak bisa nolak dia. Aku punya hutang budi yang besar banget dan nggak tahu harus balas pakai apa. Dia cuma minta, aku jadi istrinya.”

 

“Kamu setuju?”

 

Yuna mengangguk. “Semalam, dia nikahin aku di depan ayah.”

 

“Serius?”

 

“Di rumah sakit?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“So sweet banget, sih!” seru Jheni.

 

(( Bersambung ... ))

 Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 


Bab 11 - Pernikahan Kilat

 


Yeriko menyentuh kedua pundak Yuna dan mengajaknya pergi.

 

“Tapi ...” Yuna menoleh ke arah ayahnya. Kursi roda yang ia pegang sudah berpindah ke tangan Riyan.

 

“Riyan bakal ngurus ayah kamu dengan baik. Percayalah!” tutur Yeriko sambil mengajak Yuna keluar dari rumah sakit.

 

Yuna terus menoleh ke belakang sambil melangkahkan kakinya. Ia terus menatap wajah ayahnya yang semakin lama semakin menjauh.

 

Yeriko mengelus pundak Yuna. Mengajaknya masuk ke dalam mobil dan membawa gadis itu ke restoran western yang ada di pusat kota.

 

Yuna dan Yeriko tak saling bicara sampai makanan terhidang di atas meja.

 

“Makanlah!”

 

Yuna mengangguk dan makan dengan lahap.

 

Yuna menatap Yeriko yang terlihat sangat elegan saat makan. “Kenapa dia tetep ganteng banget di saat seperti ini?” batinnya.

 

Yeriko berhenti makan saat Yuna menatap dirinya.

 

Yuna langsung menundukkan kepala dan melanjutkan melahap steak di hadapannya.

 

“Kamu mau nikah sama aku?” tanya Yeriko.

 

“Uhuk...! Uhuk…!” seketika Yuna tersedak.

 

“Eh..?” Yeriko panik lalu memberikan air kepada Yuna.

 

“Mmh ... aku ngerasa nggak pantas buat jadi istri kamu. Aku ini nggak tinggi, nggak cantik, nggak punya apa-apa. Aku cuma cewek gelandangan yang nggak punya tempat tinggal. Aku bahkan dibuang gitu aja sama pacarku setelah aku kembali. Dan Ayah ...” Yuna menundukkan kepalanya.

 

“Aku udah tahu semuanya.”

 

Yuna langsung mengangkat wajahnya menatap Yeriko. “Maksudnya?”

 

“Aku udah dapet informasi tentang kamu dalam beberapa tahun belakangan ini.”

 

“Hah!? Dasar cowok nggak punya kerjaan!” seru Yuna kesal.

 

“Sampai kapan kamu mau menghadapi masalah kamu sendiri? Setelah menikah, aku bakal bantu kamu menyelesaikan semuanya sampai tuntas.”

 

“Tapi ...”

 

“Bukannya kamu bilang kalau mau balas budi sama aku karena aku udah nolong kamu?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Apa harus jadi istri kamu?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku nggak butuh yang lain.”

 

“Kenapa?”

 

Yeriko mengangkat kedua alisnya.

 

“Kenapa harus aku?” tanya Yuna lagi.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. “Karena kamu udah masuk ke dalam kehidupan aku. Bikin Mama Rully suka sama kamu, Bibi War suka sama kamu, Riyan juga suka sama kamu dan ... rumah itu menyukai kehadiran kamu.”

 

Mata Yuna berbinar menatap Yeriko. Pipinya menghangat hingga tak bisa menyembunyikan rona merah yang muncul dengan sendirinya. Tanpa sadar, ia tersenyum menatap Yeriko.

 

“Aku janji bakal bikin ayah kamu dapet perawatan terbaik dan melindungi kamu. Semua masalah yang kamu hadapi, bakal aku selesain semua masalah kamu dan bikin kamu bahagia. Asal kamu mau jadi istri aku.

 

Yuna berpikir sejenak. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak menyukai Yeriko, tapi juga tidak ingin menolaknya.

 

“Gimana?”

 

“Kasih aku waktu, aku pikir-pikir dulu!” pinta Yuna.

 

“Oke. Lima menit,” sahut Yeriko sambil melirik arloji di tangannya.

 

“Hah!? Kamu gila ya!”

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Pikirkan ayah kamu yang lagi butuh pengobatan.”

 

Yuna menggigit bibir bawahnya.

 

“Waktunya habis,” tutur Yeriko. Ia melirik jam tangannya. Baru satu menit ia memberikan kesempatan Yuna untuk berpikir.

 

“Cepet banget!” batin Yuna sambil menatap Yeriko.

 

“Gimana?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Aku nggak dengar apa-apa.”

 

“Aku mau,” ucap Yuna lirih sambil menundukkan kepalanya.

 

“Mau apa?” tanya Yeriko lagi.

 

“Aku mau jadi istri kamu,” jawab Yuna secepat kilat.

 

Yeriko tersenyum. “Nah, gitu dong! Aku cuma butuh perempuan yang nggak nyebelin dan rewel. Jangan bertingkah seperti anak kecil di depanku!”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko merogoh ponsel di sakunya dan mengirimkan beberapa pesan untuk Riyan dan dua sahabatnya.

 

Yuna bangkit dari tempat duduk setelah menyelesaikan makannya.

 

“Mau ke mana?”

 

“Aku pamit pulang dulu! Makasih untuk traktirannya. Nanti, aku bakal traktir kamu kalau aku sudah dapet kerjaan dan dapet gaji,” tutur Yuna sambil tersenyum. Ia berbalik dan melangkah pergi.

 

Yeriko langsung menarik lengan Yuna, menahannya agar tidak pergi.

 

“Kenapa?” tanya Yuna sambil menatap tangan Yeriko yang mencengkeram pergelangan tangannya.

 

“Ikut aku!”

 

“Ke mana?”

 

Yeriko tak menjawab. Setelah membayar semua makanannya, ia langsung membawa Yuna masuk kembali ke dalam mobil.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko memarkirkan mobilnya di halaman rumah sakit. Sudah ada Riyan di sana.

 

 “Lutfi sama Chandra udah datang?” tanya Yeriko.

 

“Masih dalam perjalanan, jawab Riyan.

 

“Ini ada apa sih?” tanya Yuna dalam hati. Ia tidak tahu apa yang ingin dilakukan oleh Yeriko. “Bukannya cuma mau jenguk ayah? Kenapa sesibuk ini?”

 

Penghulunya ada kan?” tanya Yeriko.

 

Riyan menganggukkan kepala. “Sudah di perjalanan juga.”

 

“Bagus. Di mana ruangannya?”

 

Riyan bergegas mengajak Yeriko dan Yuna menyusuri koridor rumah sakit dan memasuki salah satu ruang rawat VVIP.

 

Yuna mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ruangan dengan ukuran delapan kali delapan meter itu cukup luas dengan fasilitas lengkap dan mewah, juga perawat pribadi yang selalu merawat ayahnya dengan baik.

 

“Ruangannya gede dan nyaman banget. Aku seneng banget ayah bisa dapet perawatan sebagus ini,” tutur Yuna dalam hati sambil menatap wajah Yeriko. “Kenapa dia mau lakuin ini buat kami?” batin Yuna.

 

Yeriko menghampiri Adjie yang terbaring di atas ranjangnya. “Oom ... hari ini saya datang untuk menikahi putri Oom. Saya bersedia menerima dia apa adanya dan membahagiakan dia seumur hidup.”

 

Yuna terkejut mendengar ucapan Yeriko. Tanpa terasa, ia meneteskan air mata. Ia merasa sangat beruntung bisa mengenal Yeriko. Pria yang begitu dewasa, siap melindunginya. “Kenapa kamu lakuin ini buat wanita yang baru kamu kenal beberapa hari yang lalu?” batinnya.

 

“Suster, bantu Pak Adjie duduk di kursi rodanya.”

 

Dua orang perawat yang menjaga menganggukkan kepala dan membantu Pak Adjie turun dari ranjang dan duduk di kursi roda.

 

Yuna menoleh ke arah pintu ruangan yang terbuka. Dua pria tampan masuk ke dalam ruangan.

 

“Hei ...! Kenapa manggil kita ke sini?” tanya Lutfi yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Sementara, Chandra hanya tersenyum kecil di belakangnya.

 

“Aku butuh bantuan kalian,” jawab Yeriko.

 

“Bantuan apa?” tanya Lutfi sambil menatap gadis yang berdiri di belakang Yeriko.

 

Belum sempat menjawab, Riyan masuk ke dalam ruangan bersama seorang ustadz. “Bos, penghulunya sudah datang,” ucapnya sambil menatap Yeriko.

 

“Pak, ini bos saya yang minta Bapak kemari,” tutur Riyan pada ustadz yang berdiri di sebelahnya.

 

Lutfi dan Chandra saling pandang. “KUA!?”

 

Yeriko tersenyum menatap kedua sahabatnya. “Aku minta kalian jadi saksi pernikahan aku hari ini.”

 

Lutfi membelalakkan mata, ia memandang Chandra yang ada di sebelahnya. “Chan, tampar aku!” pintanya.

 

Chandra menaikkan kedua alisnya.

 

“Ini bukan mimpi kan?” tanya Lutfi lagi.

 

“Kayaknya mimpi,” jawab Chandra.

 

PLAK ...!!!

 

“Bukan mimpi!”

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

Yeriko dan Yuna menahan tawa melihat sikap Lutfi dan Chandra yang sedang berdebat.

 

“Berkas yang diperlukan sudah disiapkan?” tanya Ustadz yang bersama Riyan.

 

“Sudah, Pak.” Riyan mengajak ustadz tersebut duduk di sofa sambil mengisi berkas yang diperlukan untuk mendaftarkan pernikahan mereka secara resmi ke Pengadilan Agama.

 

Yuna menghampiri Yeriko. “Kamu dapet dokumen pribadi aku dari mana?” bisiknya.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna.

 

Yuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia melangkah menghampiri lemari kecil yang ada di sisi ranjang pasien. Ia teringat kalau dokumen keluarganya ada bersama ayahnya.

 

“Lumayan pintar,” celetuk Yuna dalam hati.

 

“Nyonya Muda, ini untuk akad nikah,” tutur Riyan sambil menyodorkan selendang putih ke arah Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil mengangguk. “Makasih,” tuturnya sambil meraih selendang yang diulurkan oleh Riyan.

 

Riyan tersenyum, ia meminta perawat untuk membawa Adjie ke hadapan meja kecil yang akan digunakan sebagai tempat untuk melakukan akad nikah.

 

Akad nikah pun berjalan dengan lancer. Meskipun kilat, semuanya terlihat Bahagia.

 

“Selamat ya, Yer!” ucap Lutfi begitu proses akad nikah selesai dengan hikmat.

 

Yeriko tersenyum. Ia merasa sangat lega karena akhirnya bisa melewati suasana yang paling menegangkan dalam hidupnya.

 

Lutfi tertawa kecil. Ia menatap Yuna yang berdiri di sebelah Yeriko. “Kakak Ipar, kami pulang dulu! Selamat menikmati malam pengantin baru.”

 

Yuna tersenyum kecil. Pipinya bersemu merah karena malu.

 

Yeriko langsung menyubit lengan Lutfi. “Jangan godain Kakak Iparmu!” dengusnya.

 

“Kami pulang dulu!” pamit Chandra.

 

Yeriko dan Yuna menganggukkan kepala.

 

Lutfi dan Chandra bergegas keluar dari ruang rawat ayah Yuna.

 

Yuna dan Yeriko saling pandang, kemudian sama-sama tersenyum bahagia.

 

Yuna berbalik, ia melangkah mendekati ayahnya yang masih duduk di kursi roda.

 

“Ayah ... sekarang Yuna nggak sendirian. Ada seseorang yang akan mendampingi Yuna dalam suka dan duka. Ayah nggak perlu khawatir. Ayah juga harus sembuh ya!” tutur Yuna sambil menitikan air mata. Ia mencium punggung tangan ayahnya dan langsung memeluk ayahnya dengan erat.

 

Adjie dapat melihat dan mendengar semua hal yang terjadi. Namun, ia tak bisa membalas pelukan hangat putrinya. Ingin sekali, ia bisa menggerakkan tangan dan memeluk puteri kesayangannya itu.

 

Yuna melepas pelukannya perlahan. Ia menatap Yeriko yang berdiri di sebelahnya.

 

Yeriko berlutut di hadapan Adjie. “Ayah ... mulai hari ini, aku adalah anakmu juga. Aku akan selalu mencintai dan melindungi Ayuna. Ayah tidak perlu khawatir. Aku akan memberikan kehidupan yang terbaik untuk kalian.”

 

Yeriko mencium punggung tangan Adjie dan bangkit. “Suster, tolong kembalikan Pak Adjie ke tempat tidurnya!” perintah Yeriko.

 

Dua suster yang ada di ruangan itu mengangguk dan mengikuti perintah dari Yeriko.

 

Yeriko menoleh ke arah Yuna dan mengajak gadis itu keluar dari ruang rawat.

 

Yuna melangkah perlahan menyusuri koridor rumah sakit. “Secepat ini dunia berubah? Beberapa jam yang lalu aku masih lajang. Dan sekarang sudah jadi istri orang lain saat keluar dari pintu rumah sakit ini,” batinnya dalam hati.

 

 

(( Bersambung ... ))


 

 

 

 

 

 

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas