Wednesday, August 17, 2022

Bab 29 - Bantuan d ari Keluarga Hadikusuma

 



Andre dan Nia melangkahkan kaki masuk ke rumah mewah milik keluarga Hadikusuma. Dua hari sebelumnya, mereka sudah membuat janji bertemu untuk meminta bantuan dari Yuna dan Yeriko.

Yuna dan Yeriko langsung menyambut kedatangan Andre dan istrinya. “Tumben kalian sampai main ke sini. Ada masalah genting banget?” tanyanya saat Andre dan Nia sudah duduk bersama di sofa ruang tamu.

“Yun, yang aku ceritain waktu itu. Keluarga Roro Ayu menuntut kami,” jawab Nia sambil dengan mata berkaca-kaca.

“Hah!? Nuntut gimana?”

Nia menoleh ke arah Andre dengan perasaan tak karuan. “Nanda nggak mau dengarkan kami dan keluarga Roro memaksa kami mengembalikan puterinya. Kalau Roro dan Nanda bercerai. Artinya ...”

“Delapan puluh persen kekayaan kalian akan jadi milik keluarga bangsawan itu?” tanya Yuna.

Nia mengangguk.

“Kenapa bisa seperti ini?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Andre dan Nia bergantian.

“Mas Andre sudah menandatangani perjanjian dengan keluarga keraton itu. Kami nggak bisa berbuat apa-apa kalau sampai Nanda dan Ayu bercerai. Kalian tahu, mereka bukan hanya menuntut keluarga kami secara hukum adat. Tapi juga menuntut Nanda atas kasus pidana dan perdata. Gara-gara satu anak aja, hidup kaami berantakan,” jawab Nia sambil menitikan air mata. “Bisa tolong kami, Yun?”

Yuna menghela napas. “Kalian ceritakan dulu ke kami, bagaimana detail ceritanya supaya kami tahu bagaimana caranya membantu kalian,” pintanya.

Nia dan Andre mengangguk, kemudian menceritakan detail perjanjian terpaksa ditandatangani oleh Andre karena tututan dari pihak keraton kesultanan sangat besar. Mereka tidak mungkin menghabiskan semua harta mereka, juga tidak mungkin membiarkan putera mereka masuk penjara karena kasus pemerkosaan terhadap puteri keluarga bangsawan yang begitu dihormati.

“Setahu aku, kasus pemerkosaan itu nggak bisa dibawa ke hukum kalau nggak ada bukti. Memangnya, Roro Ayu punya bukti yang bisa menjerat anak kalian?” tanya Yuna.

Andre mengangguk. “Diam-diam, Ayu merekam kejadian saat puteraku menodainya. Dia juga melakukan visum dan hasil pemeriksaan plasenta di kandungannya, positif anak Nanda. Roro Ayu itu diam, lembut, tapi berbahaya karena terlalu cerdas buat kami.”

“Kami juga tidak menyangka kalau Roro Ayu mengumpulkan begitu banyak bukti untuk memenjarakan putera kami. Itulah sebabnya, Mas Andre memilih jalan untuk menandatangani perjanjian itu. Kami harus menyelamatkan Nanda, juga menyelamatkan  masa depan perusahaan kami.” Nia menambahkan.

“Asal mereka nggak bercerai, kalian aman ‘kan?” tanya Yuna.

Nia dan Andre menganggukkan kepala.

“Astaga ...! Itu mah perkara gampang. Damaikan aja mereka berdua!” sahut Yuna santai.

“Mereka berdua itu kelihatan harmonis dan baik-baik saja di depan kami. Kami nggak tahu kalau Nanda diam-diam masih punya hubungan dengan wanita lain. Mas Edi sangat marah dan dia minta pernikahan mereka dibatalkan. Itu artinya, kami akan kehilangan semuanya, Yun. How?”

Yuna menghela napas. “Apa nggak bisa diselesaikan secara kekeluargaan?”

Nia dan Andre menggeleng. “’Mas Edi Baskoro itu sifatnya keras. Dia nggak mau berdamai dan meminta kasus pemerkosaan puterinya dibawa ke hukum,” ucap Andre dengan perasaan tak karuan.

Yuna langsung menyodorkan segelas air putih ke hadapan Andre. “Minumlah dulu! Nggak ada masalah yang nggak ada jalan keluarnya, Ndre. Kamu tenanglah supaya bisa berpikir jernih!” pintanya lembut.

“Buat mereka saling jatuh cinta, nggak bisa?” tanya Yeriko sambil melirik kesal ke arah Yuna yang terlalu perhatian meski pada orang lain.

“Yah, mereka terlihat baik-baik aja di luar. Kami pikir, ada cinta di hubungan mereka, Yun,” ucap Nia sambil mengusap air matanya.

“Anak-anak memang pandai berpura-pura supaya orang tua nggak khawatir dan kepikiran. Itu artinya, mereka sayang dan patuh sama orang tua. Cobalah kamu tegasin Ananda! Jangan terlalu dimanjain!” pinta Yuna sambil menatap Nia dan Andre.

“Kayak kamu nggak manjain anak aja,” celetuk Yeriko.

“Hei, walau aku manjain mereka, mereka tetap mandiri!” sahut Yuna. “Yang paling manja sama aku cuma Okky dan dia sudah belajar usaha bengkel sejak SMP. Kamu juga manjain dia, kok. Lihat aja koleksi mobil mewahnya itu! Siapa yang beliin terus kalau bukan kamu!”

“Kamu ...!?” Yeriko menatap geram sambil menunjuk ke arah Yuna. ia menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa kecil. “Ndre, perempuan kapan bisa kalah?” bisik Yeriko sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Andre.

Andre ikut tertawa kecil melihat Yuna dan Yeriko yang kerap berdebat, tapi tetap saja harmonis dan saling menyayangi hingga mereka menua bersama.

“Jangan bingung dan kayak orang susah, Ndre!” pinta Yeriko sambil menepuk dan menggenggam pundak Andre. “Istriku jago kalau jadi Mak Comblang. Kalian pake jasa dia, gih!”

Yuna tergelak mendengar ucapan Yeriko. “Jasa Mak Comblang Nyonya Ye tarifnya mahal, Booo ...!”

“Berapa sih, Yun? Asal kamu bisa bikin Roro Ayu dan Nanda nggak berpisah, aku kasih, deh! Daripada kami kehilangan semua harta kami,” tanya Nia sambil menatap wajah Yuna penuh harap.

Yuna terkekeh geli. “Iih ... kamu nanggepinnya serius banget, sih? Aku bercanda Nia Sayang. Kalau urusan Mak Comblang mah gampang. Aku akan ajari kamu bikin mereka tidak terpisahkan.”

“Gimana caranya?” tanya Nia penasaran.

Yuna mendekatkan bibirnya ke telinga Nia dan terus membisikkan sesuatu.

“Apa berhasil, Yun?” tanya Nia setelah ia mendapatkan saran dari Yuna.

Yuna mengangguk.

“Aku nggak tega sama anakku sendiri, Yun,” ucap Nia lirih.

Yuna menghela napas. “Kamu harus tega, Nia! Daripada kalian kehilangan semua harta kalian. Salah siapa tanda tangan perjanjian? Kalian sudah paham sama risikonya ‘kan? Harusnya, kamu pantau anak kamu itu, dong!”

Nia mengangguk-anggukkan kepalanya.

Yuna langsung memutar kepala begitu melihat puteranya melenggang melewati ruang tamu rumah tersebut. “Mau ke mana, Ky?” serunya.

Rocky menghentikan langkah dan menoleh ke arah Yuna. “Ke Semarang. Jemput Nadine,” jawabnya.

“Kamu itu pacaran atau nggak sih sama Nadine?” tanya Yuna. “Tiap minggu jemput dia terus.”

“Aku ini ... sedang berjuang ...” jawab Rocky menggunakan nada lagu “Doa untuk Kamu” milik Aviwkila.

“Semangat berjuangnya, ya!” seru Yuna sambil tertawa kecil.

Rocky mengangguk sambil tersenyum. “Bunda mau oleh-oleh apa dari Semarang?”

“Calon mantu,” jawab Yuna sambil tertawa kecil. “Mampir ke rumah Kak Yui dan Ikko, ya!”

“Siap, Nyonya Bos!” Rocky memberi hormat ke arah Yuna dan bergegas melangkah pergi.

“Lihat anakku, Ndre! Berjuang buat dapetin cewek yang kualitasnya gini,” ucap Yeriko sambil mengacungkan jempol ke arah Andre. “Anakmu ... udah dapet perempuan baik-baik, malah disia-siakan. Kasih dia berjuang supaya bisa menghargai hubungan percintaannya!”

“Gimana caranya?” tanya Andre. “Aku juga pernah berjuang keras, tapi kamu rebut.”

“HAHAHA.” Yeriko tergelak mendengar ucapan Andre. “Aku terlalu hebat buat jadi lawanmu, Ndre. Kalau mau bersaing jangan sama aku!”

“Kalah level, ya?” sahut Andre sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Yeriko terkekeh geli. “Nggak sih sebenarnya. Yuna aja yang bucin ke aku dari dulu.”

Yuna melebarkan kelopak matanya menatap Yeriko. “Apaan bucin? Kamu yang bucin ke aku duluan!”

“Udahlah, kalian ini sama-sama bucin!” sahut Andre sambil menatap Yuna dan Yeriko.

Yuna tertawa kecil dan bergelayut manja di tubuh Yeriko. “Iya. Aku bucin banget sama laki-laki yang satu ini. Abisnya, mau gimana lagi. Dia ayahnya anak-anak aku. Kalau nggak bucin, ntar aku nggak dikasih uang jajan buat liburan ke luar negeri, hihihi.”

Yeriko tertawa kecil sambil menarik hidung Yuna. “Udah punya cucu, kelakuannya masih aja kayak anak-anak. Manja banget!”

“Biar aja! Kamu suka aku yang manja ‘kan? Daripada kamu sibuk manjain yang lain, lebih baik aku aja yang manja-manja sama kamu,” ucap Yuna sambil memeluk tubuh Yeriko.

Nia dan Andre ikut tersenyum melihat kemesraan dua orang yang ada di hadapan mereka itu.

“Aku bantu comblangin anak kalian! Kebetulan, Nadine mau ke sini. Mereka bersahabat ‘kan? Aku akan minta bantuan Nadine juga.”

“Nadine juga bersahabat sama Sonny. Kalau Nadine malah comblangin Roro Ayu ke Sonny, gimana?” tanya Nia.

“Berarti, anak kamu nggak jodoh sama keluarga bangsawan itu. Ikhlasin aja!”

“Ikhlasin harta kita juga? Mana bisa, Yun,” ucap Nia sambil melipat wajahnya. Ia sudah menggabungkan perusahaan keluarganya dengan perusahaan keluarga Andre dalam satu aset kekayaan mereka. Artinya, semua harta mereka akan terkuras habis oleh perjanjian yang terpaksa ditandatangani sang suami demi menyelamatkan puteranya dari tuntutan hukum yang dilayangkan keluarga keraton terhadap keluarga mereka.

“Udah, tenang aja! Aku bantu damaikan kalian. Oke?” ucap Yuna sambil tersenyum manis.

Nia langsung menggenggam tangan Andre. Ia merasa sangat lega karena Yuna dan Yeriko mau membantunya. Mereka tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa, sebab mengirim sanak saudara malah membuat emosi besannya semakin memanas. Ia harap, pihak ketiga yang tidak memiliki hubungan keluarga, bisa menyelamatkan putera dan perusahaannya yang ikut terancam.

 

 

((Bersambung...))

 

 

Terima kasih sudah jadi sahabat setia bercerita!

Yang rindu Mr. Ye & Mrs. Ye ... salam manis dari mereka yang selalu merindukan kalian.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas