Wednesday, February 10, 2021

Dongeng "Asal-Usul Jamur Merang"

 


pixabay.com


ASAL USUL JAMUR MERANG

 Karya : Walrina / Rin Muna



Di sebuah desa tinggal sepasang petani yang memiliki anak cantik jelita bernama Arjana. Arjana adalah gadis yang sangat lembut, baik hati dan selalu peduli pada siapapun. Ia sering menolong orang yang sedang kesusahan tanpa pandang bulu. Sifatnya yang ramah banyak disenangi oleh anak-anak dan pemuda yang ada di negeri itu. Bahkan kecantikan dan kebaikan hatinya sudah dikenal oleh warga di desa-desa sebelahnya. Banyak sekali pemuda yang mengagumi kecantikan dan kebaikan hati Arjana. 

Namun, Arjana hanya terpikat pada pemuda bernama Ranggida. Ranggida memiliki sifat yang pemberani, baik hati dan bijaksana. Penduduk desa sangat menyegani Ranggida bukan hanya karena dia anak Kepala Desa. Tapi juga karena Ranggida memang memiliki sikap bijaksana dan mampu merangkul semua penduduk desa dalam hal apapun.

Suatu hari, terdengar kabar bahwa Raja Asmanan meninggal dan tahtanya digantikan oleh anaknya yang bernama Murgantara . Raja Murgantara memiliki sifat tamak, kasar, egois dan sangat ambisisus. Seluruh desa yang awalnya hidup dengan tentram dan damai tiba-tiba berubah menjadi desa-desa yang tak lagi nyaman untuk dihuni. 

Penduduk desa selalu  merasa  ketakutan dengan kekuasaan Raja Murgantara. Warga desa dipaksa untuk memberikan hasil panen ke kerajaan dengan jumlah yang sangat tinggi. Banyak warga desa yang kelaparan dikarenakan hasil panen yang mereka miliki tidak cukup untuk bertahan hidup hingga panen berikutnya.

“Apa ini!? Kurang banyak!” bentak Raja Murgantara pada petani yang tidak mampu untuk memberikan hasil panen lebih banyak.

“Maafkan kami Tuan, hasil panen kami hanya ini saja.” Jawab sang petani.

“Bohong...! Geledah rumahnya dan ambil semua yang ada di sana!” kata Raja.

“Jangan tuan, hanya itu saja yang kami punya untuk bertahan hidup sampai panen tiba.” Ucap petani ketika melihat satu karung gabah yang ia sisakan untuk makan keluarganya di ambil juga.

“Panen berikutnya harus lebih banyak lagi atau ku penggal kepala kalian!” kata Raja yang dzalim.

Semua warga desa geram melihat hal itu namun tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya Ranggida dan Arjana menyusun sebuah rencana agar warga desa bisa selamat dan tidak kelaparan lagi. Ia meminta warga desa untuk saling bekerjasama dalam meningkatkan hasil panen padi. Bukan hanya padi saja, Ranggida juga menyarankan warga untuk menanam singkong, gandum dan sayuran lain agar mereka memiliki hasil panen lebih untuk bertahan hidup. Namun Raja Murgantara justru semakin menjadi ketika melihat hasil panen penduduk desa melimpah. Dia menaikkan lagi pajak dan memaksa para petani untuk memberikan hasil panen yang lebih lagi.

Ranggida semakin geram dengan tingkah sang Raja yang sangat dzalim pada penduduk desa.

“Ini tidak bisa dibiarkan! Raja Murgantara sudah sangat keterlaluan” kata Ranggida.

“Lalu kami harus bagaimana?” tanya warga ketika sedang berkumpul.

“Kita harus melawan!” jawab Ranggida.

“Bagaimana bisa kami melawan sedang kami tak punya senjata? Prajurit Raja sangatlah banyak dan kami tidak mungkin bisa melawannya.”

Ranggida hanya terdiam dan terduduk lesu, memikirkan bagaimana caranya agar Raja yang dzalim itu tidak semena-mena. Ayah Ranggida sudah beberapa kali menemui Raja dan mencoba membujuk agar tidak memperlakukan warga desa dengan semena-mena. Namun, Ayah Ranggida tidak pernah berhasil dan Raja justru semakin dzalim.

Ketika musim panen tiba, Raja Murgantara mendatangi sawah milik orang tua Arjana yang baru usai panen.

“Hei Petani... Aku dengar kau punya anak gadis yang cantik jelita. Serahkan anak gadismu itu padaku!” seru Raja.

“Tidak Tuan...! Ambillah seluruh hasil panen kami, asal jangan ambil anak kami!” jawab Ayah Arjana.

Raja geram mendengar perkataan petani itu dan menghunuskan pedang di leher ayah Arjana.

“Kau berikan anak gadismu atau kupenggal kepalamu sekarang juga!” pinta Raja dengan paksa.

Tubuh petani itu bergetar karena ketakutan, namun ia juga tidak ingin anak satu-satunya diambil oleh raja.

Arjana tidak tega melihat ayah dan ibunya tak berdaya dihadapan Sang Raja.

“Bawalah aku tuan!” ucap Arjana yang muncul dari sebuah pondok kecil.

Raja memandanginya sambil tersenyum senang. Ia melihat betapa cantiknya anak petani itu. Rambutnya yang hitam dan panjang, kulitnya putih dan parasnya sangat cantik membuat Raja ingin segera mempersuntingnya.

Ayah dan ibu Arjana tersungkur dengan berjuta-juta kesedihan melihat anaknya dibawa paksa oleh Sang Raja. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

“Tunggu!” tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkah Raja dan Arjana yang akan kembali ke kerajaan.

“Siapa Kau?” tanya Raja Murgantara.

“Aku kekasih Arjana! Tidak akan kubiarkan kau membawanya!” kata Ranggida dengan sangat lantang.

“Berani sekali kau menantangku!?” sentak Raja geram.

“Aku tidak takut padamu. Sekalipun nyawaku taruhannya. Kau sudah kejam kepada semua penduduk desa. Kau Raja yang dzalim!”

Raja semakin geram, matanya memerah dan wajahnya penuh dengan amarah. Ia memerintahkan para prajurit untuk membunuh Ranggida. Namun, semua prajurit terkalahkan di tangan Ranggida. Ranggida sangat pandai bela diri sehingga dia bisa melawan para prajurit Raja dengan mudah. Melihat hal itu Sang Raja mulai ketakutan dan mencoba menghunuskan pedang panjangnya dari belakang saat Ranggida masih berperang melawan dua prajurit yang masih tersisa. 

Arjana yang menyadari hal itu mencoba menghalangi Raja Murgantara. Alhasil, Arjana tertusuk pedang panjang yang dihunuskan oleh Sang Raja demi melindungi Ranggida. Raja Murgantara tertegun sesaat melihat Arjana yang cantik jelita itu tertusuk oleh pedangnya. Darah mengucur deras dari perut Arjana.

“Tidak....!” teriak Ranggida yang kemudian menangkap tubuh Arjana yang sudah tak berdaya. Ia menggendongnya dan meletakkannya di atas tumpukan merang.

Sementara Sang Raja mencoba berlalu tanpa rasa bersalah. Ia tinggalkan para prajurit yang mati bersimbah darah di atas tanah. Ia tinggalkan Arjana yang cantik jelita bersama dengan tangisan para warga desa.

Ranggida tidak bisa tinggal diam, ia segera mengambil anak panah dan busurnya yang kuat. Dengan jarak lebih dari 200 meter, satu anak panah Ranggida tepat menusuk punggung Raja Murgantara yang akan naik ke kudanya. Satu lagi, satu lagi dan satu lagi hingga Sang Raja tersungkur di tanah karena beberapa anak panah yang menusuk ke jantungnya.

Hujan datang dengan sangat deras kala itu. Ranggida masih memeluk tubuh Arjana di atas tumpukkan merang padi sambil terus menangisinya. Tiba-tiba Arjana menjelma menjadi jamur yang sangat cantik, putih dan wangi. Warga berlomba-lomba mengambilnya untuk dijadikan lauk makan. Semenjak itu warga desa selalu menunggu datangnya jamur merang dan mengambilnya untuk dimasak sebagai tanda syukur atas pengorbanan Arjana.

Sementara tubuh Sang Raja juga menjelma menjadi jamur tanah yang hitam, bau, dan beracun. Tidak ada satupun orang yang berani menyentuh atau mengambil jamur itu.

 

 

 Cerita ini terlah diterbitkan oleh FAM Publishing dalam Antologi Dongeng berjudul "Janji Seekor Tikus dan Semut"

 


______________________________
🅒 Copyright.
Karya ini dilindungi undang-undang.
Dilarang menyalin atau menyebarluaskan tanpa mencantumkan nama penulis.

 

 

                               

 

 

 

 





0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas