BAB 23 - KERUMITAN YANG AKU SUKAI
Chilton, Delana dan Zoya
bersama-sama keluar dari area kolam renang.
“Zoy,
laper nih. Enaknya, makan di mana ya?’ tanya Chilton.
“Kalo
habis berenang gini, kayaknya enak makan ikan bakar,” celetuk Zoya.
Chilton
langsung menoleh ke arah Zoya. “Torani!” serunya. Ia dan Zoya saling bertepuk
tangan dan berangkulan.
Delana
menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah aneh kedua cowok itu. Mereka
berjalan beriringan menuju parkiran.
“Kamu
bawa motor?” tanya Zoya.
Chilton
menganggukkan kepala sambil mengerdipkan matanya.
“Licik!”
celetuk Zoya. Ia sangat tahu alasan Chilton mengendarai sepeda motor ketimbang
mobil. Sudah pasti, Delana akan memeluk pinggangnya ketika mereka sama-sama
naik motor. Sedangkan di dalam mobil, ada jarak di antara mereka yang tak bisa
membuat mereka berada sangat dekat.
Chilton
tertawa kecil. Ia memasangkan helm ke kepala Delana. Membuat Zoya merasa iri
dengan dua makhluk serasi yang ada di dekatnya.
Zoya
tak ingin berlama-lama menikmati kemesraan yang terjadi di hadapannya. Ia
langsung masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya ke rumah makan yang mereka
inginkan.
“Temen
kamu baik, ya. Ramah banget. Beda jauh sama kamu,” celetuk Delana saat ia masih
di perjalanan.
Chilton
tak menggubris ucapan Delana. Ia tetap fokus melajukan motornya ke arah rumah
makan yang akan ia tuju bersama Zoya.
Sesampainya
di rumah makan. Delana, Chilton dan Zoya langsung di sapa oleh pelayan rumah
makan dengan ramah.
“Mau
pesan apa, Mbak?” tanya pelayan dengan ramah.
“Mmh
... kepiting masih ada?” tanya Delana.
“Ada,
Mbak.”
“Ya
udah, kepiting lada hitam aja,” tutur Delana. Ia menoleh ke arah Chilton dan
Zoya. “Kalian mau makan apa?” tanya Delana.
“Samain
aja!” jawab Chilton dan Zoya serempak. Mereka saling menoleh dan ingin tertawa
karena memiliki pemikiran yang sama.
Delana
tertawa kecil. “Kepiting lada hitamnya tiga.” Delana mengacungkan ketiga
jemarinya ke arah pelayan yang sudah memegang kertas dan pulpen di tangannya.
Delana
menoleh kembali ke arah Chilton dan Zoya. “Minumnya apa?” tanya Delana.
“Es
teh aja,” jawab Chilton.
“Jus
ada, Mbak?” tanya Zoya pada pelayan restoran.
“Ada,
Mas.”
“Jus
mangga,” tutur Zoya.
Setelah
memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan, mereka memilih meja untuk
makan. Mereka duduk di salah satu meja yang dekat dengan kolam ikan.
Delana
menyukai suasana restoran yang asri dan bersih. Rasanya, seperti sedang
menikmati hidangan lezat di sebuah pedesaan.
“Del,
kamu dulu sekolah di SMA mana?” tanya Zoya yang duduk berseberangan dengan
Delana.
“SMA
Heksa,” jawab Delana singkat.
“Oh,
ya? Aku punya temen dari SMA Heksa,” tutur Zoya.
Delana
hanya tersenyum menanggapinya. Sudah menjadi hal wajar kalau ada teman yang
mengenal seseorang yang ada di masa lalu kita. Delana tak ingin banyak
berpikir. Sebab, ada banyak siswa di SMA dan belum tentu ia mengenal orang yang
dimaksud oleh Zoya.
“Kamu
tinggal di mana?” tanya Zoya.
“Di
Gunung Bahagia,” jawab Delana.
“Deket
sama kampus?” tanya Zoya.
Delana
menganggukkan kepala.
“Iya.
Dia ke kampus jalan kaki terus tiap hari,” sahut Chilton yang duduk di sebelah
Delana.
“Hah!?
Serius? Emangnya deket banget?”
“Deket.
Cuma 300 meter, lima menit sampe,” jawab Delana.
“Yang
di mananya rumahmu?” tanya Zoya penasaran.
“Kamu
tahu gang yang depan kampus itu?” tanya Chilton sambil menatap Zoya serius.
“Tahu.”
Zoya menganggukkan kepala.
“Masuk
aja gang itu, lurus terus, mentok, belok kanan. Rumah mewah paling pertama
sebelah kanan,” tutur Chilton menjelaskan.
“Idih,
nggak mewah juga kali. Biasa aja,” sahut Delana.
“Yah,
nggak mewah sih. Cuma ukuran 50x50 meter bangunannya, dua lantai,” tutur Chilton.
Delana
langsung menyikut Chilton yang ada di sampingnya. “Berlebihan. Nggak nyampe
segitu.”
“Terus?
Berapa itu pastinya? Tiga puluh meter ada?” tanya Chilton sambil menahan tawa.
“Iih
... nggak nyampe. Palingan cuma dua puluh atau dua puluh lima meteran doang,”
jawab Delana.
“Gede
banget!” sahut Zoya.
“Kecil,
Zoy. Cuma dua puluh lima meter doang!” Chilton menegaskan sambil menatap serius
ke arah Zoya.
Zoya
tertawa kecil. “Segitu kecil, yang gede seberapa?” celetuk Zoya.
“Satu
hektar.”
“Iya.
Terus rumahnya berjendela semua. Pagi, buka jendela dari ujung sampe ujung. Pas
udah jendela yang terakhir, eh ... udah sore, tutup lagi jendelanya. Gitu aja
kerjaannya tiap hari, buka tutup jendela,” ucap Zoya tergelak diikuti tawa
Chilton dan Delana.
Saat
mereka sedang asyik tertawa, makanan pesanan mereka datang.
Chilton
menatap Zoya yang duduk di depannya. Ia senang karena sahabatnya itu bisa
menghidupkan suasana. Kalau hanya berdua dengan Delana, ia sering canggung dan
tidak tahu harus membicarakan apa selain masalah kampus dan tempat mereka
mengajar.
“Del,
kamu suka makan kepiting?” tanya Zoya.
Delana
menganggukkan kepala.
“Kenapa
kamu suka makanan yang rumit?” Zoya mengangkat capit kepiting sambil
memerhatikan kepiting di tangannya.
“Rasanya
enak.”
Zoya
menyondongkan badannya menatap Delana. “Kamu tahu nggak artinya apa?”
“Arti
apa?” Delana mengernyitkan dahinya.
“Kamu
orang yang suka tantangan. Demi bisa mendapatkan rasa makanan yang enak. Kamu
mau berusaha keras buat dapetin itu. Seperti kamu menyingkirkan
cangkang-cangkang kepiting itu satu per satu,” tutur Zoya memperbaiki posisi
duduknya.
Delana
tersenyum. “Iya, kayak cintaku sama dia,” celetuknya.
“Hah!?
Dia siapa?” tanya Zoya pura-pura tidak tahu sambil tersenyum kecil melirik
Chilton yang ada di samping Delana.
“Ada,
deh,” sahut Delana sambil tersenyum.
“Beruntung
banget cowok yang dapetin cinta kamu,” tutur Zoya sambil menguyah makanan.
“Makan
dulu, nggak usah cerita terus! Ntar keselek,” celetuk Chilton.
“Loh?
Kan ... Uhuk ... uhuk ...!” Zoya tersedak makanan yang ia makan.
“Hmm
...!” Chilton bergumam melihat Zoya tersedak, rasanya belum sampai ia
mengatupkan mulutnya, Zoya benar-benar tersedak.
“Minum
dulu!” Delana menyodorkan air minum sambil menepuk-nepuk bahu Zoya. “Kalo makan
hati-hati!” ucapnya.
Zoya
langsung meminum air yang diberikan Delana. “Sial!” umpatnya.
“Ya
udah, pelan-pelan makannya,” tutur Delana, ia kembali duduk di tempat duduknya.
“Nggak
bakal mau dia makan kalo udah keselek kayak gitu,” tutur Chilton.
Delana
mengangkat kedua alinya.
“Hilang
nafsu makanku,” celetuk Zoya. Ia hanya menyeruput jus yang ada di depannya dan
tidak mau melanjutkan makan.
“Lihat
aku! Pasti nafsu makannya balik lagi,” canda Delana.
Zoya
tergelak mendengar ucapan Delana. “Andai
semudah itu,” batinnya.
Delana
tersenyum manis menatap Zoya.
“Ntar
malam, kita jalan yuk!” ajak Zoya.
Chilton
dan Delana saling menatap, kemudian menoleh Zoya bersama-sama.“Ke mana?” tanya
mereka bersamaan.
“Aku
tunggu di Hobbies jam tujuh malam,” tutur Zoya.
“Oke,”
jawab Chilton.
Sementara
Delana tak menjawab. Ia masih belum bisa memastikan apakah ia bisa pergi ke
tempat itu atau tidak.
“Kenapa?”
Zoya menatap Delana yang sedang bengong.
“Eh!?
Nggak papa,” sahut Delana. Ia tersenyum ke arah Zoya. “Aku cuma khawatir sama
Bryan.”
Zoya
mengangkat kedua alisnya. “Bryan?” Di kepalanya tiba-tiba ada tanda tanya besar
tentang siapa sosok yang disebutkan Delana.
“Adik
aku,” ucap Delana yang menyadari reaksi Zoya.
“Oh.”
Zoya mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
Chilton
menghela napas. “Adik kamu itu kan udah besar. Aku rasa dia bisa ngurus dirinya
sendiri.”
“Hmm
... iya, sih. Tapi aku suka khawatir kalau sering ninggalin dia. Dia tuh jarang
banget mau makan di luar kayak gini. Kalau aku nggak masakin, dia pasti makan
mie instan terus dan itu nggak baik buat kesehatan dia,” jelas Delana.
Chilton
melihat jam yang ada di ponselnya. “Kamu khawatir sama makan malamnya dia?”
tanyanya.
Delana
menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Ini
masih jam satu siang. Kita bisa pulang dulu dan kamu masih sempat siapin makan
malam untuk dia.”
“Hmm
... iya, juga sih.”
“Kenapa
nggak diajak sekalian?” tanya Zoya.
“Dia
nggak mau jalan sama temen-temenku,” jawab Delana.
“Ya,
apalagi tahu kalo kakaknya mau ngedate sama cowok,” sahut Zoya.
“Apaan
sih!?” ucap Delana tersipu.
Usai
makan, Delana langsung bangkit dan berjalan menuju meja kasir.
“Chil,
dia kebiasaan kayak gitu?” tanya Zoya yang langsung bangkit dari tempat
duduknya ketika Delana sudah berada di meja kasir.
Chilton
hanya tertawa kecil menanggapinya.
“Parah
nih anak!” tutur Zoya sambil menunjuk Chilton.
“Mau ditaruh di mana harga diriku sebagai laki-laki.” Zoya bergegas
menghampiri Delana.
“Biar
aku yang bayar!” Zoya menahan Delana agar tidak mengeluarkan uang dari
dompetnya.
“Nggak
papa. Biar aku yang bayar,” ucap Delana sambil tersenyum.
“Ah,
nggak usah!” ucap Zoya kesal. “Biar saya yang bayar, Mba. Berapa semuanya?”
tanya Zoya pada petugas kasir. Ia memaksa berdiri di depan Delana dan membuat
tubuh Delana harus mundur tertabrak oleh tubuh Zoya.
“Tiga
ratus dua puluh lima ribu, Mas,” jawab petugas kasir tersebut.
Zoya
merogoh dompet dari saku celana. Ia menyerahkan empat lembar uang seratus ribu
rupiah.
Chilton
hanya tertawa kecil melihat adegan yang terjadi antara Zoya dan Delana. Ia
bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Delana.
“Biar
aja dia yang bayar,” ucap Chilton sambil memasukkan jemari tangannya ke
sela-sela jemari Delana dan menggenggamnya erat. “Pulang yuk!” bisiknya.
Delana
tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia mengikuti langkah Chilton yang
menarik lengannya untuk pergi.
***
“Chil,
mampir ke pasar dulu bisa nggak?” tanya Delana saat mereka masih di perjalanan
pulang.
“Bisa.
Mau ke pasar mana?” Chilton balik bertanya.
“Hmm
... ke BSB aja gin yang dekat,” jawab Delana.
“Cari
apa emangnya?”
“Cari
bahan masakan buat di rumah.”
“Oh.
Oke.”
Chilton
segera melajukan sepeda motornya menuju kawasan Balikpapan Super Blok.
Delana
tak berlama-lama. Ia hanya membeli beberapa bahan yang ia butuhkan dan langsung
pulang ke rumahnya bersama Chilton.
“Aku
balik dulu, ya! Jam enam aku jemput,” pamit Chilton saat mereka sudah ada di
depan rumah Delana.
Delana
menganggukkan kepala. “Makasih ya!” ucapnya sambil mengangkat kantong belanja
yang ia bawa.
“Iya.
Santai aja,” ucap Chilton.
Delana
tersenyum, ia membalikkan tubuhnya menghadap ke pintu gerbang rumahnya. Baru
dua langkah berjalan, ia membalikkan tubuhnya kembali ke arah Chilton. “Kamu
pulang ke Gunung Dubs?” tanya Delana.
Chilton
menggelengkan kepala. “Ke asrama aja. Kenapa?”
“Nggak
papa.” Delana tersenyum, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. Sementara
Chilton mengendarai motornya menuju asrama.
“Dek,
kamu udah makan?” tanya Delana saat masuk rumah dan mendapati adiknya sedang
menonton televisi.
“Udah,”
jawabnya sambil mengunyah snack yang ada di depannya.
Delana
mengamati sekeliling Bryan yang terlihat kotor dan berantakan. “Astaga ...!
Jorok banget sih kamu!?” seru Delana melihat beberapa bungkus snack berhamburan
di lantai. Kulit kacang dan beberapa botol minuman bersoda. Ia mengambil satu
buah cup bekas mie instan yang terletak di atas meja dan menciumnya.
“Ini
makanan kapan?” tanya Delana menghindari bau asam yang sudah tercium dari sisa
makanan tersebut.
“Tadi
malam,” jawab Bryan santai.
“Dek,
kakak kan udah bilang kalo mau ajak temen-temen nginap di sini, jangan
berantakan!” Delana meletakkan tas ranselnya ke atas sofa dan mulai memunguti
sampah satu per satu.
“Nanti
aku beresin sendiri,” tutur Bryan.
Delana
menghela napas. “Nantinya kapan lagi? Kamu malah asyik makan kayak gitu!”
celetuk Delana sambil melanjutkan pekerjaannya membereskan ruang keluarga yang
terlihat sangat kacau. Beberapa hari ini asisten rumah tangga Delana tidak akan
datang karena anaknya sakit dan harus menunggunya di rumah sakit. Sehingga
Delana harus membereskan rumahnya seorang diri.
“Dek,
kakak ntar malam mau jalan. Kakak masakin sekarang untuk makan malam. Kamu
nggak papa kan di rumah sendirian?” tanya Delana.
“Nggak
usah dimasakin, Kak. Aku juga ada janji mau jalan bareng temen-temenku malam
ini.”
“Serius?”
tanya Delana menatap wajah Bryan dengan seksama.
“Iya.”
“Bagus,
deh. Kalo gitu, Kakak bisa istirahat.” Delana melenggang menuju dapur,
memasukkan belanjaan ke dalam kulkas dan lemari dapur. Kemudian ia bergegas
menaiki anak tangga menuju kamar untuk tidur. Masih ada waktu untuk
mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum ia bersiap pergi makan malam bersama
Chilton dan Zoya.
***
Tepat
jam enam sore, Delana sudah bersiap. Beberapa kali ia menatap tubuhnya di
cermin. Ia khawatir kalau salah memilih pakaian atau menggunakan make up. Ia
kemudian terpikir untuk melakukan panggilan video dengan Ivona yang sangat
memahami tentang dunia fashion.
“Hai
... cantik banget!” sapa Ivona begitu panggilan video Delana tersambung. “Mau
ke mana?” tanya Ivona.
“Mau
jalan bareng Chilton,” ucap Delana tersipu. “Gimana penampilan aku, oke nggak?”
tanya Delana sambil memamerkan riasan sederhana dan pakaian yang ia gunakan.
“Oke,
banget! Dia pasti senang lihat kamu kayak gini.”
“Serius?”
tanya Delana masih kurang yakin.
“Serius.”
Ivona tersenyum pada Delana. “Selamat menikmati hari valentine ya!” lanjutnya.
“Eh!?
Ini hari valentine?” tanya Delana.
“Iya.
Astaga! Aku kira kamu mau ngerayain valentine bareng Chilton.”
“Mmh
.. aku nggak sadar kalo ini hari valentine.”
“Capek
deh!” Ivona memutar bola matanya.
“Kamu
sendiri nggak ngerayain valentine?” tanya Delana.
“Ngerayain,
dong! Malam ini aku mau clubbing bareng Belvi. Kamu mau ikut?” tanya Ivona.
“Aku
udah ada janji jalan bareng Chilton.” Delana memasang wajah murung karena tidak
bisa bergabung bersama dengan teman-temannya.
“Ya
udah sih. Selamat menikmati waktu-waktumu bersamanya. Kita ngerti kok.”
Delana
tersenyum. “Makasih ya!” tuturnya. Ia merasa senang karena punya dua sahabat
baik yang sangat mengerti bagaimana keadaan Delana dan bagaimana Delana
memperjuangkan cintanya untuk Chilton.
Delana
mematikan panggilan videonya dan kembali mengamati tubuhnya di cermin. Ia
menatap layar ponsel yang ia letakkan di atas meja rias. Menunggu telepon dari
Chilton.
Beberapa
menit kemudian, ponsel Delana berdering. Ia langsung menyambar dan menjawab
panggilan telepon dari Chilton.
“Halo
...!” sapa Delana sambil meraih tas yang ia letakkan di atas kursi dan
melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
“Aku
udah di depan,” tutur Chilton.
“Oke.
Aku turun,” sahut Delana sambil menuruni anak tangga.
Chilton
langsung mematikan teleponnya. Beberapa detik kemudian, ia melihat Delana
keluar dari pintu rumah. Ia tersenyum menatap Delana yang semakin mendekat ke
arahnya.
Delana
memakai helmnya sendiri dan langsung naik ke atas motor Chilton.
“Udah
siap?” tanya Chilton.
Delana
menganggukkan kepala.
Chilton
langsung melajukan motornya menuju ke arah jalan Sumber Rejo. Sesampainya di
sana, Chilton langsung menelepon Zoya.
“Udah
di mana Zoy?” tanya Chilton begitu panggilannya tersambung.
“Udah
di atas, di rooftop,” jawab Zoya.
Chilton
mendongakkan kepala. Ia melihat Zoya sedang berdiri sambil menatapnya. Ia
langsung mematikan panggilan telepon, memasukkan ponsel ke sakunya. Ia melepas
helm dan mengambil helm Delana yang masih dipegang di tangannya dan turun dari
motor.
Chilton
menggenggam tangan Delana sambil melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju
rooftop. Hobbies Coffee memang tempat yang sangat romantis. Lampu-lampu kecil
berwarna kuning yang penuh di atas langit-langit bangunan membuat para
pelanggannya seakan-akan sedang menikmati makan malam di bawah taburan
bintang-bintang.
Dari
rooftop, mereka bisa melihat indahnya lampu kota Balikpapan di malam hari.
“Udah
lama nunggu?” tanya Delana saat mereka sudah ada di hadapan Zoya.
“Belum.
Kamu naik motor, Chil?” tanya Zoya.
“Iya.
Kenapa?” tanya Chilton.
“Jalan
malam gini naik motor. Kasihan Delana kedinginan,” celetuknya. Kemudian ia
melangkahkan kakinya menuju kursi. Delana dan Chilton mengikutinya dari
belakang.
“Enggak.
Kita udah biasa jalan malam pakai motor.” Delana duduk di salah satu kursi yang
berseberangan dengan Zoya.
“Oh
ya? Kalian udah sering jalan bareng?” tanya Zoya.
Delana
dan Chilton saling bertatapan.
“Iya,”
jawab Chilton.
“Nggak.”
Delana menjawab bersamaan dengan Chilton.
“Loh?
Yang bener yang mana?” tanya Zoya.
“Maksudnya
nggak sering, Zoy. Sesekali aja kita jalan bareng kalo lagi ada urusan. Kalo
hari-hari kita emang sering pulang malam barengan pas ada tambahan jam ngajar,”
jelas Delana dengan perasaan gugup.
“Ngajar?”
“Iya.
Kita ngajar bareng di salah satu tempat les gitu.”
“Oh,
jadi kalian kuliah sambil kerja?” tanya Zoya.
Delana
menganggukkan kepala.
“Aku
pikir kalian bukan mahasiswa yang kekurangan uang. Kenapa mau kerja? Di tempat
les kayak gitu, gajinya nggak seberapa,” tutur Zoya.
Delana
tersenyum menatap Zoya. “Buat ngisi waktu luang aja. Biar lebih bermanfaat.
Daripada main PUBG atau Free Fire mulu?” celetuk Delana.
“Oh
... ya ya. I see.” Zoya mengangguk-anggukkan kepala. “Kalian mau pesan apa?”
tanya Zoya.
“Kopi
aja, Zoy,” jawab Chilton.
“Kamu?”
tanya Zoya menatap Delana.
“Jus
aja,” jawab Delana.
“Jus
apa?” tanya Zoya.
“Strawberry.”
“Makannya?”
“Aku
sandwich aja, deh. Udah malam gini nggak baik makan makanan berat,” tutur
Delana sambil melirik ke arah Chilton.
“Kamu,
Chil?” tanya Zoya.
“Samain
aja,” jawab Chilton.
Zoya
tersenyum menatap dua orang temannya itu. “Bir gimana?” tanya Zoya.
“Boleh,”
sahut Chilton.
Zoya
langsung memesan semua makanan dan minuman yang akan mereka nikmati.
“Di
sini pemandangannya bagus ya?” tutur Delana sambil melihat ke arah lampu-lampu
kota yang bertaburan di hadapannya.
“Kamu
belum pernah ke sini?” tanya Chilton yang duduk di sebelahnya.
Delana
menggelengkan kepala.
“Del
...!” panggil Chilton lirih di telinga Delana.
Delana
langsung menoleh dan menatap wajah Chilton yang begitu dekat dengannya. Hanya
berjarak beberapa sentimeter dan itu membuat jantung Delana seperti mau lepas.
Tatapan Chilton kali ini terasa berbeda. Ditambah lagi alunan lagu romantis
yang tiba-tiba saja terdengar di telinganya. Membuat suasana menjadi begitu
romantis.
Chilton
merasa Delana begitu istimewa di dalam hidupnya. Ia ingin sekali mengatakan
kalau hari ini, dia telah menyukai gadis yang membutnya merasa istimewa. “Kamu
gadis biasa yang membuatku jadi luar biasa,” bisik Chilton dalam hati. Ia
tak sanggup mengeluarkan kalimat itu dari bibirnya. Tatapan mata Delana telah
menghanyutkan dirinya dan tenggelam dalam kasih sayang yang telah ia berikan
selama ini.
“Hei,
kenapa? Kok, malah ngelamun?” tanya Delana sambil menepuk pipi Chilton.
Chilton
tersenyum dan menarik wajahnya menjauh dari wajah Delana. Ia menatap Zoya yang
baru saja muncul kembali.
“Kalian
kelihatan serasi, kenapa nggak jadian aja sekalian?” celetuk Zoya.
“Apa
aku harus jadian sama seseorang cuma karena terlihat serasi di mata orang
lain?” tanya Chilton balik.
Delana
merasa hatinya dipukul keras mendengar ucapan Chilton. Ia merasa Chilton telah
memberikan lampu hijau dan perhatian-perhatian kecil untuknya. Tapi, tetap saja
ia terlihat angkuh di mata orang lain bahkan di depan sahabatnya sendiri.
“Gayamu!”
sahut Zoya.
“Loh?
Emang iya, kan? Kalo cuma dilihat dari serasinya doang, sama Luna Maya juga aku
serasi,” celetuk Chilton.
“Pede
banget ngomong gitu,” celetuk Zoya.
“Pede,
lah. Ganteng gini,” sahut Chilton.
Delana
ingin tertawa mendengar perdebatan dua orang laki-laki yang bersamanya itu. Ia
merasa istimewa karena bisa menikmati malam valentine bersama dua laki-laki
tampan.
Beberapa
menit kemudian, hidangan yang mereka pesan sudah tersaji di atas meja. Mereka
menikmati makan malam dan minum bir bersama.
“Chil,
aku balik dulu ya!” pamit Zoya begitu mereka selesai makan malam.
“Cepet
amat? Mau ngapain?” tanya Chilton.
“Managerku
nelpon, suruh pulang secepatnya,” jawab Zoya.
“Oh,
Oke.” Chilton mengangguk-anggukkan kepala.
“Aku
balik dulu ya!” pamit Zoya pada Delana. Ia menyalami Delana sambil cium pipi
kanan cium pipi kiri sebagai tanda perpisahan seorang sahabat.
Chilton
hampir melompat dari kursi saat Zoya dengan santai menempelkan pipinya ke pipi
Delana. Ia merapatkan bibirnya menahan kekesalan. Sementara Zoya malah
tersenyum ke arahnya sambil mengerdipkan mata dan berlalu pergi meninggalkan
mereka.
“Chil,
temenmu itu kayak familiar banget. Apa aku pernah kenal dia sebelumnya ya?”
celetuk Delana sambil menatap punggung Zoya yang perlahan menjauh, kemudian
menghilang dari pandangannya.
“Dia
artis.”
“Oh
ya? Pantesan kayak nggak asing gitu!” seru Delana. “Wah, kamu punya teman baik
artis. Asyik banget ya?” tutur Delana.
“Nggak
asyik!” sahut Chilton kesal.
“Kenapa?”
tanya Delana.
“Lihat
aja sikapnya kayak gitu. Ketemu siapa aja cipika-cipiki. Sok akrab banget!”
celetuk Chilton.
Delana
menahan tawa. “Kamu cemburu?” tanyanya.
“Nggak.”
“Nggak
usah merengut gitu kalo nggak cemburu! Biasa aja. Toh, buat artis kayak dia,
cipika-cipiki udah jadi hal biasa,” tutur Delana.
“Masalahnya,
kamu itu kan bukan artis,” sahut Chilton makin kesal.
“Jadi,
maunya kamu gimana?” tanya Delana lembut. Ia sendiri tak bisa menolak Zoya yang
tiba-tiba mengajaknya berciuman pipi.
Chilton
menatap tajam ke arah Delana. Entah kenapa ia merasa kesal melihat adegan cium
pipi yang ia lihat di depan matanya. Padahal, ia sudah terbiasa melihat Zoya
berciuman dengan wanita lain yang bukan teman artis maupun teman baiknya. Tapi
ketika Delana yang terlibat dalam adegan itu, ia merasa kesal dan ingin sekali
memaki Zoya. Apa ini pertanda kalau Chilton telah benar-benar menyukai Delana?
Delana
berusaha merayu Chilton agar mood-nya kembali baik dan mengajaknya untuk
pulang. Chilton berusaha menata hatinya agar tak cemburu. Namun, bayangan
adegan cium pipi itu terus terlintas di kepalanya sepanjang perjalanan
mengantar Delana pulang. Membuatnya merasa aneh, sangat aneh.