Tuesday, September 9, 2025

Press Release : Diarpus Kukar Komitmen Mendukung Pergerakan Relima Perpusnas RI Hingga Ke Pelosok

 


Diarpus (Dinas Kearsian dan Perpustakaan) Kutai Kartanegara berkomitmen penuh dalam mendukung pergerakan Relima Perpusnas RI di Kabupaten Kukar. 

Pada bulan Juli 2025, Relima Perpusnas RI lokus Kukar telah melaksanakan koordinasi dengan pihak Diarpus Kukar tentang pergerakan Relima (Relawan Literasi Masyarakat). Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan menyambut baik dan siap mendukung sepenuhnya pergerakan Relima Kutai Kartanegara dengan memperhatikan regulasi yang ada. 

Sesuai data yang diberikan oleh Perpustakaan Nasional, Relima Kukar akan melaksanakan audiensi ke 45 Perpustakaan Desa, Perpustakaan Khusus, dan Taman Baca yang telah mendapatkan bantuan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 

Kendala terbesar yang dialami Relima Kukar ialah letak geografis yang sangat luas. Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki luas wilayah 54 kali lipat dari kota Balikpapan. Bahkan, 1 kecamatan di Kukar bisa lebih luas dari Kota Jakarta. Lokasi perpustakaan yang mendapat bantuan juga jaraknya sangat jauh dan Relima Kukar belum mengetahui kondisi wilayah secara geografis maupun budayanya. 

Untuk mengatasi kendala tersebut, Relima Kukar mengirimkan surat permohonan pendampingan kepada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kutai Kartanegara. Surat permohonan disambut dengan baik. Diarpus Kukar bersedia mendampingi pergerakan Relima hingga selesai. 

Pendampingan pertama kali dilaksanakan di Kecamatan Marang Kayu pada tanggal 25-27 Agustus 2025. Relima didampingi oleh 3 orang staff Diarpus Kukar, yakni Hj. Arlina, S.Pd selaku Pustakawan Ahli Muda, Mida Israwardhini dan Sopyan Agus selaku Pustakawan Terampil. Mereka berkunjung ke 3 lokasi sesuai data penerima bantuan. Yakni, Komunitas SMP Negeri 5 Marang Kayu Desa Semangko, Perpustakaan  Iqro' Smart Desa Perangat Baru, dan Perpustakaan  Pustaka Terang Desa Santan Ilir. 

Selanjutnya, pendampingan Relima Lokus Kukar dilaksanakan di Kecamatan Kota Bangun pada tanggal 01-02 September 2025. Relima Kukar didampingi langsung oleh Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan (Nur Azizah Abdul Bahri, S.H), Pustakawan Terampil (Triyadhy,  J), dan  Penata Layanan Operasional (Sri Wahyuni, S.H). Ada 5 desa yang harus dikunjungi dalam 2 hari yang jaraknya jauh-jauh. Yakni, Desa Pela, Desa Sangkuliman, Desa Liang, Desa Liang Ulu, dan Desa Kota Bangun 3. 

Pendampingan masih akan terus berlanjut hingga bulan Desember nanti. Relima Perpusnas RI Lokus Kukar akan melakukan kunjungan/audiensi ke Kecamatan Sanga-Sanga, Kecamatan Loa Kulu, Kecamatan Loa Janan, Kecamatan Tenggarong, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kecamatan Muara Muntai, dan Kecamatan Muara Badak. 












Monday, September 8, 2025

Hasil Panitia Nekat Adakan Senam dan Jalan Santai 2025 di Desa Beringin Agung


TIING ...! 
Aku terbelalak saat melihat grup "Panitia Jalan Santai" yang sudah mati suri selama setahun, tiba-tiba muncul notifikasi. 

"Tes ... tes ...," Ibu Setyana Wardhani tiba-tiba mengirimkan pesan ke dalam grup pada tanggal 20 Agustus 2025.
"Aduh, kegiatan lagi ini?" batinku. Aku sedikit resah karena jadwalku sebagai Relima Perpusnas RI begitu padat. Aku harus pergi ke beberapa desa/kelurahan yang jauh dari tempat tinggalku. 
Meski aku khawatir, tapi aku juga senang karena ada warga yang begitu bersemangat seperti Ibu Setyana. Jadi, semuanya bisa bergerak aktif jika ada yang memulai. Terlebih, beliau adalah sosok yang lebih tua dari kami dan mampu ngemong dengan baik. 
"Apa info?" tanyaku merespon. Aku memang termasuk orang yang selalu berusaha merespon, meski hanya sederhana. Karena dicuekin itu nggak enak. Jadi, aku juga nggak mau cuekin orang meski itu cuma lewat grup chat. Aku bukan tipe orang yang sekedar membaca tanpa merespon. Karena merespon adalah salah satu cara yang paling mudah untuk menghargai seseorang. 
"Ayo cari donatur lagi buat jalan santai seperti tahun lalu!" ajak Bu Setyana. 
Aku merespon sederhana saja. Tidak berani begitu menggebu-gebu karena statusku sebagai ketua RT juga harus mengikuti maunya banyak orang. Khawatir, yang lain tidak setuju dengan keinginan kita. 
Tak berapa lama, anggota grup yang lain merespon. Mereka juga sangat bersemangat untuk menggelar kembali acara Jalan Santai seperti yang telah kita lakukan pada tahun sebelumnya. 
Bu Setyana yang mengawali rencana ini, beliau juga yang jadi donatur pertama.
Awalnya, kami pesimis karena dana yang terkumpul hanya sedikit. Tapi lama-kelamaan, dana mulai banyak dan kami bisa membeli barang untuk dijadikan doorprize. Tak hanya dalam bentuk uang, warga juga banyak yang menyumbang dalam bentuk barang. Bahkan, ada yang menyumbang hasil pertaniannya seperti cabai, sawi, bibit alpukat, dan ayam betina. 
Alhamdulillah ... doorprize yang terkumpul sangat melimpah. Ini di luar prediksi kami sebelumnya. 

Setelah dipersiapkan dengan baik, Senam dan Jalan Santai warga RT 3 dan RT 4 dilaksanakan pada hari Minggu, 07 September 2025.
Senam dan Jalam Santai dijadwalkan dimulai pada jam 07.00 WITA. Tapi, belum ada warga yang datang ke lokasi acara saat jam tujuh pagi. 
"Orang-orang pada datang atau nggak, ya? Kok, sepi?" gumam salah seorang panitia. 
Baru saja digumamkan, warga mulai berdatangan satu per satu. 
Alhamdulillah, perempatan RT 3 dan RT 4 tiba-tiba dipenuhi dengan warga, dari anak-anak sampai tua. 
Begitu Pak Kades dan Pak Babinsa sudah datang, kami langsung bersiap-siap untuk senam terlebih dahulu. 
Usai senam, kami langsung memulai kegiatan jalan santai seperti biasa dengan rute RT 3 dan RT 4 Desa Beringin Agung. Kami tidak memilih rute yang panjang, mengingat ada banyak orang tua dan anak-anak yang ikut meramaikan acara ini. 

Selain memberikan doorprize pada warga RT 3 dan RT 4 Desa Beringin Agung, panitia juga memberikan apresiasi pada warga yang mengenakan kostum unik dan heboh. 
Alhamdulillah, ada 4 orang anak yang mengenakan pakaian unik yang mendapatkan hadiah dari panitia, ditambah hadiah dari Kepala Desa yang masing-masing mendapatkan uang tunai Rp 50.000.


Kemudian, kostum terunik jatuh kepada Ibu Siti Mardiyah. Panitia memberikan hadiah khusus di luar doorprize untuk peserta dengan kostum terbaik. Terlebih, kostumnya dibuat sendiri dan sangat kreatif. 
Ada 2 hadiah khusus untuk satu orang warga perempuan dan satu orang warga laki-laki. 
Karena laki-laki tidak ada yang mengenakan kostum unik, maka hadiah diberikan kepada laki-laki yang paling bersemangat dan paling kompak gerakannya dengan instruktur senam. Oleh karenanya, hadiah untuk warga terheboh diberikan kepada Bapak Mariyanto. 


Suasana jalan santai dan pembagian doorprize berlangsung dengan meriah. Semua warga antusias dan bersabar untuk mendapatkan doorprize. Meski hadiahnya tidak besar, tapi semua warga bisa mendapatkannya. Tidak ada warga yang tidak kebagian doorprize adalah tujuan utama dari kami sebagai panitia. 

Pembagian doorprize berlangsung sampai pukul 10.30 WITA. Lebih cepat dari tahun sebelumnya yang dilaksanakan sampai adzan dzuhur. 

Usai pembagian doorprize, panitia tidak bisa langsung pulang seperti warga yang lain. Kami masih harus membereskan tempat kegiatan agar kembali bersih dan rapi seperti sebelumnya. Kami juga membagikan sisa doorprize kepada para lansia yang tidak dapat hadir ke acara ini. 
Terima kasih banyak untuk semua donatur yang sudah membantu meramaikan acara ini. Semoga semakin lancar rezekinya dan kita semua bisa bertemu lagi tahun depan. 




Catatan Digital di Hari Literasi Internasional 2025


08 September 2025 menjadi Hari Literasi Internasional yang dirayakan oleh seluruh dunia.  Sebagai Relima Perpusnas RI, tentunya sudah ada agenda yang harus dilakukan. Sehingga, aku tidak bisa membuat agenda khusus di taman bacaku sendiri.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia telah mengagendakan kegiatan webinar Hari Literasi Internasional secara daring pada pukul 07.30 WITA s.d selesai. 
Beruntungnya, aku tinggal di wilayah Indonesia Tengah. Jadi, aku tidak harus kelabakan pagi-pagi mempersiapkan semuanya. Rutinitas mempersiapkan sarapan dan keperluan sekolah sudah selesai. Aku bisa mengikuti kegiatan dengan baik. Karena jadwal audiensi Relima juga belum dilaksanakan kembali.     


Saat aku masuk, pembukaan sudah berlangsung. Tak lama kemudian, wajah familier Kang Maman muncul di layar laptopku. Memberikan sambutan pembuka, kemudian menjadi moderator untuk acara ini.
Tema tahun ini adalah “Mempromosikan Literasi di Era Digital”. Terasa sekali bahwa literasi kini bukan hanya berbicara soal membaca atau menulis, melainkan juga soal bagaimana kita memahami, mengevaluasi, bahkan menciptakan konten digital secara cerdas dan bertanggung jawab.


Dalam webinar tersebut, Kepala Perpusnas RI, E. Aminudin Aziz, mengajak kita semua pengelola perpustakaan, guru, pegiat literasi, hingga saya yang kecil ini untuk melakukan transformasi total. Perpustakaan tidak lagi boleh menjadi ruang usang penuh tumpukan buku. Kini, transformasi adalah kata kunci agar Perpusnas tetap relevan di era kecerdasan buatan.
Saya rasanya seperti mendapat sambutan hangat dari keluarga besar Perpusnas. Meskipun saya berdiri di sudut hulu Kalimantan, tapi semangat itu memancar, menembus layar dan menerangi ruang baca sederhana di rumah saya.
Salah satu pembicara berharap kita bisa membekali masyarakat, terutama anak-anak, dengan literasi kritis yang mampu mendampingi interaksi dengan teknologi seperti AI generatif. Dia mengingatkan kita bahwa AI mungkin cepat dan canggih, tetapi tidak punya kedalaman pemahaman seperti manusia. Maka dari itu, kemampuan berpikir kritis harus terus diasah, dan membaca menjadi fondasinya.
Saat melihat pemaparan tentang masa depan AI, saya langsung membayangkan betapa mengerikannya teknologi masa depan, terlebih ketika anak-anak kita tidak dibekali ilmu pengetahuan. Hampir semua pekerjaan manusia bisa digantikan oleh robot, bahkan untuk sekedar menulis cerita.
Akan lebih mengerikan lagi jika tingkat literasi masyarakat Indonesia masih rendah. Bagaimana manusia bisa mengendalikan teknologi jika teknologi sudah bisa dilatih seperti manusia. Bahkan, robot AI tidak pernah merasa lelah untuk belajar banyak hal, termasuk mempelajari kebudayaan atau kebiasaan penggunanya.
Skor PISA Indonesia tahun 2022 yang dipaparkan pemateri dari UNESCO, memperlihatkan bahwa tingkat kemampuan literasi di Indonesia masih rendah. Minat baca masyarakat sudah lebih baik, tetapi kemampuan memahami bahan bacaan masih sangat rendah. Hal ini tentunya akan berdampak pada kemajuan teknologi dan perekonomian di Indonesia. Karena Indonesia tidak akan bisa bersaing dengan negara lain jika tingkat literasi masyarakatnya tidak semakin membaik. Bisa jadi, hidup masyarakat akan semakin sulit karena lapangan pekerjaan mulai digantikan dengan kehadiran robot AI. Hanya sedikit masyarakat yang memiliki kemampuan literasi dan siap menjadi bagian pencipta robot AI  masa depan.



Selain materi tentang AI dan minat baca masyarakat Indonesia. Ada juga pemateri dari Kemendukbangga/BKKBN yang memberikan materi tentang Read Aloud. Bagaimana Read Aloud memberikan dampak yang begitu besar bagi minat baca anak-anak dan menjadi salah satu program literasi yang sedang dijalankan. Read Aloud tidak hanya sekedar membaca buku, tetapi mampu mengajak anak-anak untuk memahami bahan bacaan, berpikir aktif dan kreatif, serta memberikan pengajaran moral yang baik.

Aku bersyukur bisa mengikuti kegiatan webinar kali ini karena aku bisa mendapatkan banyak ilmu dari para pemateri yang keren dan berpengalaman. Semoga, ada banyak ilmu yang bisa aku terapkan di kampungku sehingga aku bisa menjadi bagian kecil dari peningkatan literasi untuk kesejahteraan.

Terima kasih untuk keluarga besar Perpusnas RI yang telah menjadikan kami bagian istimewa karena kami bisa meninggalkan jejak-jejak kecil kami dalam upaya peningkatan minat baca.



Salam hangat,


Rin Muna
Relima Perpusnas RI Lokus Kutai Kartanegara

THEN LOVE BAB 24 : TIBA-TIBA DINGIN

 BAB 24 : TIBA-TIBA DINGIN



“Chil, kamu di mana?” tanya Zoya via sambungan telepon.

“Di rumah. Ada apa Zoy?” tanya Chilton balik.

“Gunung Dubs?”

“Iya.”

“Aku deket rumahmu nih. Mau mampir boleh kan?” tanya Zoya.

“Nggak boleh!” sahut Chilton. “Boleh, lah.” Chilton langsung meralat ucapannya. “Bawa minuman, ya!” pinta Chilton.

“Minuman apa?”

“Bir atau anggur.”

“Gila aja aku disuruh balik lagi nyari bir. Aku udah di depan rumahmu, nih,” tutur Zoya.

“Oh, ya udah. Masuk aja!”

“Bukain pintu pagar rumahmu! Kutabrak nih!” ancam Zoya.

Chilton tertawa kecil. “Tabrak aja!” tuturnya sembari keluar dari kamar, menuruni anak tangga dan keluar ke halaman rumahnya. Ia membukakan pintu untuk Zoya. Chilton menoleh ke arah mobil Zoya karena dilihat Zoya tidak sendirian di dalam mobil.

Chilton kembali menutup pintu pagar rumahnya begitu mobil Zoya memasuki halaman rumah. Ia melihat Zoya keluar dari mobil bersama seorang cowok yang tidak ia kenal sama sekali.

“Dari mana?” tanya Chilton langsung merangkul Zoya.

“Dari kampus. Kenalin, ini Atma, temen di kampus.” Zoya memperkenalkan Atma kepada Chilton.

“Atma.” Atma mengulurkan tangan ke arah Chilton yang langsung disambut baik oleh Chilton.

“Ayo, masuk!” pinta Chilton. Mereka langsung masuk ke rumah dan menaiki anak tangga menuju kamar Chilton.

“Kalian satu kelas?” tanya Chilton.

Zoya menganggukkan kepala.

“Aku yang sering ngajak dia ketemu sama bos-bos perusahaan. Biar bisa jadiin dia model iklan,” tutur Atma.

Chilton tertawa kecil menanggapi ucapan Atma. Ia sendiri tahu bagaimana kredibilitas Zoya sebagai seorang artis. Zoya sudah banyak bermain peran dan menjadi model iklan sejak mereka masih SMA. Ia melihat kalau Atma terlihat seperti pembualan dan menganggap dirinya adalah bagian penting dari kesuksesan Zoya saat ini.

Zoya hanya tertawa kecil menatap Chilton. Ia tahu apa yang ada di dalam pikiran sahabatnya itu.

“Zoy, kemarin aku lihat kamu di acara talkshow. Kamu pake sepatu Air Jordan ya kayaknya itu?” tanya Chilton.

“Iya. Air Jordan 1 Retro yang Black Red.”

“Kena berapa harganya?” tanya Chilton.

“Sekitar delapan jutaan aja.”

“Yang ori 'kan itu?”

“Iya.”

“Di mana belinya?” tanya Chilton.

“Di Jakarta. Kebetulan yang punya toko masih temen.”

“Masih ada nggak, ya?”

“Kurang tahu ya? Ntar aku tanyain dia.”

“Tanyain, ya! Bisa dikirim ke sini 'kan?”

“Bisa.” Zoya langsung mencari nomor ponsel teman yang ia maksud dan menghubunginya.

“Ini aku beli 200 juta,” tutur Atma sambil menunjukkan sepatu yang ia kenakan.

Chilton mengangkat kedua alisnya. Ia melirik sepatu yang digunakan oleh Atma, kemudian menatap Zoya yang terlihat menahan tawa. Chilton menggeleng-gelengkan kepala perlahan. Ia bisa membedakan mana sepatu ori dan kw.

“Dua ratus ribu kali, ya?” bisik Chilton di telinga Zoya.

Zoya mengedikkan bahunya, ia pura-pura tidak tahu.

“Weh ... keren banget sepatumu dua ratus juta. Di mana belinya?” tanya Chilton.

“Ini aku beli di Paris,” jawab Atma.

Chilton mengangkat kedua alisnya.

“Parisnya Mall Fantasy situ nah, Chil,” sahut Zoya.

“Hah!? Serius?” Chilton menahan tawa. “Kelihatan, sih.” Chilton mengangguk-anggukkan kepala sambil menatap sepatu yang melekat di kaki Atma.

“Ah, kamu bongkar rahasia aja!” celetuk Atma.

“Eh, kalo kamu ngomong kayak gitu sama cewek atau sama cowok yang nggak pernah beli barang branded, mereka pasti percaya,” sahut Zoya. “Lihat tuh!” Zoya menunjuk lemari kaca berisi deretan sepatu koleksi Chilton. “Itu sepatu ori semua.”

Chilton menyunggingkan senyum. Ia memilih berbaring santai di sofa kamar daripada harus meladeni mulut bual Atma.

“Hah!? Serius?” Atma langsung bangkit dan mendekati lemari kaca berisi sepatu. Ia mengamatinya satu persatu. “Gila! Ini keren-keren!”

Zoya tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Chil, gimana kabar Delana? Nggak jalan bareng dia?” tanya Zoya.

“Baik-baik aja,” jawab Chilton tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ada di tangannya.

Atma mematung begitu mendengar nama Delana. Nama itu tak asing di telinganya. Nama yang pernah ada di kehidupan masa lalunya.

Ponsel Atma tiba-tiba berdering. Ia merogoh ponsel di kantongnya dan melihat nama yang menelepon. “Panjang umur nih orang,” gumam Atma.

Atma langsung menjawab panggilan telepon dari pemilik nama lengkap Aravinda Farhan.

“Halo ... Vin, gimana kabarnya?” tanya Atma sambil duduk di sofa, bersebelahan dengan Zoya. “Udah lama nggak ketemu, masih di Jakarta?” tanya Atma.

“Iya, Ma. Kamu lagi di mana?” tanya Aravin lewat telepon.

“Lagi di rumah temen.”

“Kabar Delana gimana?” tanya Aravin.

“Hah!? Delana? Delana Aubrey?” tanya Atma.

Chilton langsung menoleh ke arah Atma begitu nama Delana disebut.

Atma melirik Chilton dan Zoya yang menatapnya. “Oh. Iya, Vin. Jarang banget ketemu dia. Kita beda kampus, jadinya nggak ada ketemu.”

“Sudah punya pacar lah dia?” tanya Aravin.

“Aha ...” Atma kembali melirik dua temannya yang sudah sibuk dengan ponselnya. Tapi, ia percaya kalau keduanya pasti mendengar ucapannya. Ia sengaja menaikkan volume suaranya. “Kalo itu aku kurang tahu, Vin. Bisa jadi sudah banyak cowoknya. Dia kan cantik, baik, asyik dan nggak bisa dilupain kan?”

Chilton menahan kesal karena ia menyadari kalau Atma membicarakan Delana, cewek kampus yang sedang dekat dengannya. Ia menyadari kalau cowok yang diajak bicara oleh Atma adalah seseorang yang pernah ada di masa lalu Delana. Itu terlihat dari cara Atma menanggapi pembicaraannya lewat telepon.

“Kamu kenal sama Delana Aubrey?” Chilton bangkit dari tidur dan menatap Atma serius.

“Kenal. Temen SMA,” jawab Atma.

Chilton menatap serius wajah Atma. Ia berharap Atma bisa menceritakan siapa sosok laki-laki yang ada di balik teleponnya tadi.

“Eh, yang tadi telepon itu Aravin. Temen SMA yang dulu pernah deket sama Delana.”

Chilton melipat kedua telapak tangan, ia serius menyimak Atma bercerita.

“Mmh ... Chil, ada air es kah?” tanya Zoya, ia berusaha mengalihkan perhatian Chilton agar Atma tidak bercerita yang tidak-tidak pada sahabatnya itu.

“Ada di kulkas bawah,” jawab Chilton.

“Ambilin dong!” pinta Zoya.

“Ambil sendiri kenapa?” sahut Chilton kesal.

“Nggak usah emosi juga!” Zoya melempar wajah Chilton menggunakan bantal sofa. Ia langsung keluar dari kamar Chilton. Usahanya untuk mencegah Atma bercerita tidak berhasil. Ia tahu kalau Atma sangat pandai memberikan bumbu dalam bercerita dan bisa saja mengubah pandangan Chilton pada Delana.

“Cowok yang kamu telepon barusan, pernah pacaran sama Delana?” tanya Chilton menyelidik.

Atma menggelengkan kepala. “Tapi mereka pernah deket banget waktu SMA. Mereka sering belajar bareng, jalan bareng dan semua perhatian-perhatian Delana bikin Aravin jatuh cinta. Sayangnya, Delana justru nolak si Aravin waktu Aravin nembak dia. Itu bener-bener bikin Aravin kecewa. Dia malu banget dan akhirnya milih buat lanjutin kuliahnya ke luar kota.”

Chilton mengernyitkan dahinya. Ia masih tidak percaya kalau Delana punya sikap seperti itu, mencampakkan pria yang pernah begitu dekat dengannya.

“Biarpun sekarang udah kuliah di luar kota. Aravin masih aja nggak bisa ngelupain Delana.” Atma menggeleng-gelengkan kepala. “Aku nggak paham apa yang sudah dibuat sama cewek itu sampe bikin temenku kayak gini,” tuturnya.

“Lagi pada ngomongin apaan si? Serius banget!” Zoya tiba-tiba muncul membawa tiga botol minuman dingin.

“Nggak papa,” jawab Chilton sambil mengusap wajahnya.

Zoya menatap wajah Chilton. Ia merasakan ada hal yang berbeda di wajah Chilton.

“Ma, pulang yuk!” ajak Zoya.

“Ayo!”

Zoya langsung mengajak Atma keluar dari rumah Chilton dan mengantarnya pulang ke  rumah.

“Kamu cerita apa sama Chilton?” tanya Zoya saat ia berada di perjalanan pulang mengantarkan Atma pulang.

 “Nggak ada cerita apa-apa. Dia cuma nanya soal Delana dan aku jawab apa adanya,” jawab Atma santai.

“Kamu jangan cari gara-gara ya!” ancam Zoya.

“Gara-gara apaan?”

“Aku lihat si Chilton kesel banget tadi. Pasti ada sesuatu yang nggak dia suka.”

Atma mengedikkan bahunya. Ia tetap saja merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.

Zoya tak lagi bertanya. Ia memilih untuk diam sampai mobilnya berhenti di depan rumah Atma.

“Nggak masuk dulu?” tanya Atma begitu ia turun dari mobil Zoya.

Zoya menggelengkan kepala dan langsung menutup kaca jendela mobilnya.  Ia melajukan mobilnya kembali menuju rumah Chilton. Tanpa menelepon, Zoya membunyikan klakson beberapa kali di depan rumah Chilton.

Chilton geram mendengar suara klakson yang terus berbunyi di depan rumah. Ia mengintip dari jendela kamar dan mendapati mobil Zoya sudah berada di depan pagar rumahnya. Ia langsung berlari keluar dari rumah sebelum Zoya benar-benar menabrakkan mobilnya ke pagar rumah.

“Kamu kenapa sih!? Ngajak berantem memang anak ini,” seru Chilton begitu Zoya keluar dari mobilnya.

Zoya tidak menghiraukan ucapan Chilton, ia langsung masuk ke dalam rumah tanpa diminta.

“Kesambet setan apa tuh anak?” Chilton menggeleng-gelengkan kepala sambil menutup kembali pintu pagar rumahnya. Ia melangkahkan kaki memasuki rumah.

Chilton mendapati Zoya sudah duduk di sofa ruang keluarga. Kakinya dijulurkan ke atas meja dan menonton televisi dengan gaya santainya.

“Kamu kenapa sih?” tanya Chilton yang langsung duduk di sampingnya.

“Kesel banget aku sama Atma,” celetuk Zoya.

“Emang pembualan gitu anaknya?” tanya Chilton.

Zoya tersenyum sinis. “Dia cerita apa sama kamu?”

Chilton menghela napas panjang. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu sofa sambil menatap langit-langit rumahnya. “Dia cerita soal masa lalu Delana.”

“Terus?” Zoya menatap Chilton serius.

“Dia cewek yang pandai menakhlukan hati cowok dan meninggalkannya saat cowok itu udah jatuh cinta.”

Zoya mengernyitkan dahinya. “Aku rasa dia nggak begitu. Dia kelihatan tulus banget.”

“Kamu tahu dari mana kalo dia tulus?” tanya Chilton. Mendengar ucapan Atma, ia bisa menangkap sebuah makna kalau Delana adalah tipe cewek yang suka mempermainkan perasaan cowok.

“Kamu percaya gitu aja sama Atma?” tanya Zoya.

Chilton tertawa sinis. “Bisa jadi, semua yang dia bilang itu bener. Karena Atma sama sekali nggak tahu soal kedekatan aku sama Delana. Jadi, nggak mungkin dia ngada-ngada.”

Zoya memutar bola matanya. “Ya, terserah kamu kalo mau percaya sama Atma. Aku bakal lebih percaya sama Delana ketimbang sama anak pembualan itu.”

“Kita lihat aja nanti. Aku juga berharapnya begitu.”

“Apa kamu sudah jatuh cinta beneran sama dia?” tanya Zoya.

“Apa aku harus ngungkapin itu pake kata-kata?” tanya Chilton balik.

Zoya menatap Chilton penuh selidik. Ia tahu, kalau Chilton sebenarnya sudah jatuh cinta. Tapi, ia sendiri masih ingin memungkiri perasaannya sendiri.

Chilton sendiri tidak yakin apakah ia jatuh cinta pada Delana atau tidak. Saat mendengar tentang masa lalu Delana, ia merasa ragu dengan perasaan Delana. Ia merasa, Delana akan mencampakkan dirinya setelah ia jatuh cinta. Sama seperti cowok yang ada di masa lalu Delana.

“Chil, kita bukan anak kecil lagi. Aku rasa kamu bisa bedain mana yang tulus sayang sama kamu dan mana yang modus,” tutur Zoya.

“Udah, deh. Nggak usah ngomongin dia terus!” celetuk Chilton.

“Aku bakal ngomongin dia terus. Karena aku tahu dia cewek yang baik.”

Chilton bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Zoya.

“Chil, aku kayak gini karena aku peduli sama kamu sebagai sahabat!” teriak Zoya. “Aku nggak mau kamu salah pilih pasangan hidup!”

Chilton tak menggubris ucapan Zoya. Ia terus melangkahkan kakinya menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Zoya seorang diri di ruang keluarga.

***

“Hai ... Chil!” sapa Delana saat mereka bertemu di tempat mengajar.

Chilton hanya tersenyum dan langsung meninggalkan Delana.

Delana mengernyitkan dahinya. Ia merasa ada yang berubah dari Chilton. Tiba-tiba ia bersikap seolah-olah tak mengenal Delana.

“Chil ...!” panggil Delana sambil mengikuti langkah Chilton.

Chilton sama sekali tidak menoleh mendengar panggilan dari Delana. Ia tetap saja berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia tetap saja terlihat memesona dengan gaya super cueknya.

“Chil, kamu kenapa sih?” Delana menarik lengan Chilton. Ia langsung menghadang langkah Chilton dan menatap cowok itu serius.

Chilton tersenyum sinis dan menyingkirkan Delana dari hadapannya.

Delana mengerutkan hidungnya karena kesal. Rasanya, ia ingin berteriak sekuat-kuatnya memanggil nama cowok yang menyebalkan itu. Entah kenapa, Chilton tiba-tiba bersikap cuek. Seolah-olah mereka tak pernah saling mengenal atau lebih tepatnya Chilton sedingin saat pertama kali Delana melihatnya.

Chilton tak menghiraukan Delana. Ia langsung masuk ke ruang kelas tempat ia mengajar. Ia tak ingin banyak bicara dengan Delana. Sebab, ia masih merasa kecewa dan sakit hati dengan perlakuan Delana selama ini. Ia tidak ingin terlalu dekat dengan Delana dan membuatnya benar-benar jatuh hati dengan cewek itu.

Delana melangkahkan kakinya masuk ke kelas. Ia tak bersemangat mengajar dan lebih banyak melamun. Ia memikirkan sikap Chilton yang tiba-tiba berubah. Entah kenapa ia tiba-tiba cuek. Padahal, baru kemarin mereka menikmati makan malam bersama. Saling bergurau sambil minum bir. Begitu cepat Chilton berubah sikap. Semua itu pasti ada sebabnya.

Setelah jam mengajar usai, Delana menunggu Chilton di parkiran. Ia bersandar di motor Chilton. Sebab, Chilton tak mungkin bisa menghindarinya jika ia berada di motor Chilton.

Beberapa menit kemudian, Chilton keluar dari gedung kursus. Ia melihat Delana yang sudah berdiri sambil bersandar di motornya. Ia berjalan perlahan mendekati Delana. Ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya. Ia ingin membenci, tapi ia juga merindukan gadis yang ada di hadapannya itu. Perasaannya campur aduk tak karuan. Antara ingin melanjutkan hubungannya dengan Delana atau mengakhiri secepatnya sebelum semuanya terlanjur.

“Chil, kamu kenapa?” Delana menatap Chilton. Matanya berkaca-kaca menatap wajah Chilton yang begitu dingin menatapnya. Ia merasa sedih saat cowok itu tiba-tiba tidak mau menghiraukannya sama sekali.

Delana tak bisa menahan perasaan sedih di dalam hatinya. Ia terbayang masa-masa SMA-nya. Saat ia dekat dengan Aravin. Menjalani hari-hari indah bersama. Delana memberikan kasih sayang tulus untuk cowok itu, tapi Aravin justru membuatnya kecewa dan sakit hati.

Chilton menggenggam pundak Delana. Ia tersenyum pada cewek yang ada di hadapannya itu. Ia tak bisa membuatnya terluka untuk saat ini. Sebab, ia sendiri tidak tahu apa kesalahan Delana. Dia tiba-tiba membenci Delana tanpa Delana tahu sebabnya.

“Nggak papa,” jawab Chilton sambil tersenyum.

“Beneran nggak papa?” tanya Delana dengan suara berat.

“Iya. Nggak papa. Aku cuma nggak enak badan,” tutur Chilton.

“Oh,” ucap Delana dengan suara yang hampir tak terdengar. “Tadi pagi aku nungguin kamu di taman.”

“Aku nggak enak badan. Kebetulan aku tidur di rumah Gunung Dubs. Jadi, nggak berangkat ke kampus. Sorry, ya!”

Delana menganggukkan kepala.

“Aku mau pulang. Bisa minggir?” tanya Chilton sambil tersenyum.

Delana menepikan badannya, memberi ruang pada Chilton untuk menaiki motor dan berlalu pergi meninggalkan Delana yang masih bingung dengan sikap Chilton yang aneh.

Delana tak langsung pulang ke rumah. Ia pergi ke asrama untuk menemui Belvina.

“Hei, tumben banget ke sini nggak telepon dulu?” sapa Belvina begitu ia membuka pintu kamarnya.

Delana menghela napas. “Aku boleh masuk?”

“Sejak kapan aku ngelarang kamu masuk?” Belvina menepikan tubuhnya, memberi ruang pada Delana untuk masuk ke kamarnya.

Delana langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur.

“Baru pulang ngajar?’ tanya Belvina melihat Delana kelelahan.

Delana menganggukkan kepala. “Bel, menurut kamu Chilton itu gimana ya?”

“Gimana apanya?” tanya Belvina.

“Gimana sikapnya sama aku? Sebenarnya, dia suka sama aku atau enggak sih?” tanya Delana dengan wajah murung.

Belvina mendekati Delana. “Kalo dilihat dari sikapnya selama ini. Kayaknya dia udah mulai suka sama kamu. Buktinya, dia sering ngajak kamu jalan bareng kan?”

“Hmm ... iya juga sih. Tapi, hari ini aku ngerasa dia beda banget.”

“Beda gimana?”

“Cuek banget. Nggak kayak biasanya.”

“Perasaan kamu aja kali, Del,” sahut Belvina.

“Hmm ... semoga aja emang cuma perasaanku. Tapi, aku tetap kepikiran. Aku udah mikir yang nggak-nggak tentang dia.”

“Emang kenapa sih sama dia?” tanya Belvina penasaran.

“Aku juga nggak tahu. Tiba-tiba aja dia itu cuek dan dingin banget.”

“Kamu ada bikin salah sama dia?” tanya Belvina.

Delana menatap langit-langit kamar. Mencoba mencari kesalahan yang bisa saja ia melakukannya tanpa sengaja.

“Aku rasa nggak ada. Terakhir jalan bareng, dia hepi-hepi aja.”

“Yakin?” tanya Belvina lagi.

“Eh!?” Delana langsung terbangun dari tempat tidurnya. “Aku baru ingat!” serunya sambil berteriak.

Belvina memegangi dadanya karena terkejut mendengar teriakan Delana. “Jantungku mau copot, suaramu kurang keras!” maki Belvina.

“Hehehe.” Delana meringis. “Sorry!” ucapnya.

“Ya udah, ingat apaan?” tanya Belvina.

“Waktu di kafe kemarin. Si Zoya itu cipika-cipiki aku. Terus, Chilton kayak marah gitu waktu Zoya cium pipiku.”

“What!?” Belvina membelalakan matanya. “Serius? Zoya siapa?’ tanyanya.

“Temennya dia. Artis yang sering main sinetron itu.”

“Sinetron apaan?”

“Ah, aku nggak ingat nama sinetronnya.”

“Berarti Zoya itu cowok?”

Delana menganggukkan kepala.

“Dan kamu cipika-cipiki sama dia di depan Chilton?”

Delana menganggukkan kepala lagi.

“Eh, kamu tuh bego atau kelewat polos sih!?” sentak Belvina.

“Eh!?” Delana melongo menatap Belvina.

“Kamu cipika-cipiki sama cowok lain di depan Chilton. Cowok yang selama ini kamu sukai. Dia itu udah mulai luluh dan deket sama kamu. Terus, kamu sia-siain gitu aja. Kalo kamu sampe ciuman sama cowok lain di depan Chilton, bisa aja dia anggap kamu itu cewek murahan,” cerocos Belvina.

“Cuma cipika-cipiki doang, Bel. Lagian, buat artis kayak Zoya, itu sudah jadi hal biasa.”

“Iya. Sesama artis emang udah biasa kayak gitu. Tapi, kamu kan bukan artis.” Belvina mendengus ke arah Delana.

“Kok, omongan kamu sama kayak Chilton?” tutur Delana heran.

“Chilton ngomong gitu juga?” tany Belvina.

Delana menganggukkan kepala.

“Astaga ...! Kamu udah bener-bener bikin salah sama dia. Kamu harusnya minta maaf sama dia,” tutur Belvina.

“Aku udah minta maaf. Waktu pulang, kami baik-baik aja. Chilton nganterin aku pulang kayak biasanya dan dia sama sekali nggak ngebahas soal ciuman pipi itu.

“Serius?”

“Dua rius!”

“Tapi, bisa aja si Chilton sengaja nahan rasa keselnya ke kamu, Dan baru dia luapin sekarang.”

“Masa gitu sih, Bel?” tanya Delana.

“Terus mau gimana lagi? Emang masih ada salahmu yang lain lagi?” tanya Belvina.

Delana menggelengkan kepala.

“Ya udah, Kamu minta maaf sama Chilton!”

“Sudah, Bel. Aku rasa, ada hal lain yang bikin dia berubah.”

“Apa?” tanya Belvina.

Delana mengedikkan bahu.

“Perasaan kamu aja kali, Del.”

“Semoga aja begitu,” sahut Delana.

“Ya udah, nggak usah terlalu dipikirin. Ntar juga pasti baik, kok.”

“Aku nggak mikirin, tapi kepikiran.”

“Bawa santai aja. Positif thinking!” pinta Belvina.

Delana menganggukkan kepala. “Makasih ya, Bel!”

“Selow. Kalo ada apa-apa, kamu cerita sama aku. Aku bakal bantu semampuku,” tutur Belvina.

“Makasih ...!” Delana memeluk tubuh Belvina.

“Itu gunanya sahabat ‘kan?” Belvina tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Delana.

“Ya udah. Aku pulang dulu ya!” pamit Delana.

“Pulang? Kirain mau nginap di sini,” tutur Belvina.

“Nggaklah. Kasihan si Bryan, aku tinggal-tinggal mulu.”

Belvina tertawa menanggapi ucapan Delana. “Dia udah gede. Palingan kalo pas kamu pergi nge-date. Dia pergi nge-date juga sama gebetannya.”

Delana menatap tajam ke arah Belvina. “Aku rasa dia nggak begitu.”

“Kamu kan nggak tahu. Nggak di rumah,” sahut Belvina.

“Tahu, dong! Dia sering ngajak temen-temennya main ke rumah. Jarang banget dia main di luar. Sesekali aja main di luar dan selalu bilang sama aku,kok.”

Belvina meringis mendengar ucapan Delana. “Bercanda, Del. Kamu serius amat nanggepinnya.”

“Jelas aku serius kalo itu menyangkut keluarga aku.”

“Iya, iya. Pulang gih sana!” usir Belvina.

“Ngusir?” tanya Delana mendelik ke arah Belvina.

“Loh? Kamu sendiri kan yang bilang mau pulang?”

Delana mencebik ke arah Belvina. Ia langsung meraih tasnya dan bergegas keluar meninggalkan Belvina yang masih tertawa kecil di dalam kamarnya.

Delana mengendarai motornya menuju rumah yang tak jauh dari asrama, Pikirannya berkelana, menerka-nerka apa yang terjadi pada Chilton sehingga cowok itu tiba-tiba bersikap dingin terhadapnya. Ia terus berdoa agar Chilton bisa menerima kehadirannya dengan tulus. Ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan cowok yang selama ini membuatnya menjadi wanita yang istimewa.

 

 

 

 

 

 

 

 

THEN LOVE BAB 23 : KERUMITAN YANG AKU SUKAI

 BAB 23 - KERUMITAN YANG AKU SUKAI



 Chilton, Delana dan Zoya bersama-sama keluar dari area kolam renang.

“Zoy, laper nih. Enaknya, makan di mana ya?’ tanya Chilton.

“Kalo habis berenang gini, kayaknya enak makan ikan bakar,” celetuk Zoya.

Chilton langsung menoleh ke arah Zoya. “Torani!” serunya. Ia dan Zoya saling bertepuk tangan dan berangkulan.

Delana menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah aneh kedua cowok itu. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran.

“Kamu bawa motor?” tanya Zoya.

Chilton menganggukkan kepala sambil mengerdipkan matanya.

“Licik!” celetuk Zoya. Ia sangat tahu alasan Chilton mengendarai sepeda motor ketimbang mobil. Sudah pasti, Delana akan memeluk pinggangnya ketika mereka sama-sama naik motor. Sedangkan di dalam mobil, ada jarak di antara mereka yang tak bisa membuat mereka berada sangat dekat.

Chilton tertawa kecil. Ia memasangkan helm ke kepala Delana. Membuat Zoya merasa iri dengan dua makhluk serasi yang ada di dekatnya.

Zoya tak ingin berlama-lama menikmati kemesraan yang terjadi di hadapannya. Ia langsung masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya ke rumah makan yang mereka inginkan.

“Temen kamu baik, ya. Ramah banget. Beda jauh sama kamu,” celetuk Delana saat ia masih di perjalanan.

Chilton tak menggubris ucapan Delana. Ia tetap fokus melajukan motornya ke arah rumah makan yang akan ia tuju bersama Zoya.

Sesampainya di rumah makan. Delana, Chilton dan Zoya langsung di sapa oleh pelayan rumah makan dengan ramah.

“Mau pesan apa, Mbak?” tanya pelayan dengan ramah.

“Mmh ... kepiting masih ada?” tanya Delana.

“Ada, Mbak.”

“Ya udah, kepiting lada hitam aja,” tutur Delana. Ia menoleh ke arah Chilton dan Zoya. “Kalian mau makan apa?” tanya Delana.

“Samain aja!” jawab Chilton dan Zoya serempak. Mereka saling menoleh dan ingin tertawa karena memiliki pemikiran yang sama.

Delana tertawa kecil. “Kepiting lada hitamnya tiga.” Delana mengacungkan ketiga jemarinya ke arah pelayan yang sudah memegang kertas dan pulpen di tangannya.

Delana menoleh kembali ke arah Chilton dan Zoya. “Minumnya apa?” tanya Delana.

“Es teh aja,” jawab Chilton.

“Jus ada, Mbak?” tanya Zoya pada pelayan restoran.      

“Ada, Mas.”

“Jus mangga,” tutur Zoya.

Setelah memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan, mereka memilih meja untuk makan. Mereka duduk di salah satu meja yang dekat dengan kolam ikan.

Delana menyukai suasana restoran yang asri dan bersih. Rasanya, seperti sedang menikmati hidangan lezat di sebuah pedesaan.

“Del, kamu dulu sekolah di SMA mana?” tanya Zoya yang duduk berseberangan dengan Delana.

“SMA Heksa,” jawab Delana singkat.

“Oh, ya? Aku punya temen dari SMA Heksa,” tutur Zoya.

Delana hanya tersenyum menanggapinya. Sudah menjadi hal wajar kalau ada teman yang mengenal seseorang yang ada di masa lalu kita. Delana tak ingin banyak berpikir. Sebab, ada banyak siswa di SMA dan belum tentu ia mengenal orang yang dimaksud oleh Zoya.

“Kamu tinggal di mana?” tanya Zoya.

“Di Gunung Bahagia,” jawab Delana.

“Deket sama kampus?” tanya Zoya.

Delana menganggukkan kepala.

“Iya. Dia ke kampus jalan kaki terus tiap hari,” sahut Chilton yang duduk di sebelah Delana.

“Hah!? Serius? Emangnya deket banget?”

“Deket. Cuma 300 meter, lima menit sampe,” jawab Delana.

“Yang di mananya rumahmu?” tanya Zoya penasaran.

“Kamu tahu gang yang depan kampus itu?” tanya Chilton sambil menatap Zoya serius.

“Tahu.” Zoya menganggukkan kepala.

“Masuk aja gang itu, lurus terus, mentok, belok kanan. Rumah mewah paling pertama sebelah kanan,” tutur Chilton menjelaskan.

“Idih, nggak mewah juga kali. Biasa aja,” sahut Delana.

“Yah, nggak mewah sih. Cuma ukuran 50x50 meter bangunannya, dua lantai,” tutur Chilton.

Delana langsung menyikut Chilton yang ada di sampingnya. “Berlebihan. Nggak nyampe segitu.”

“Terus? Berapa itu pastinya? Tiga puluh meter ada?” tanya Chilton sambil menahan tawa.

“Iih ... nggak nyampe. Palingan cuma dua puluh atau dua puluh lima meteran doang,” jawab Delana.

“Gede banget!” sahut Zoya.

“Kecil, Zoy. Cuma dua puluh lima meter doang!” Chilton menegaskan sambil menatap serius ke arah Zoya.

Zoya tertawa kecil. “Segitu kecil, yang gede seberapa?” celetuk Zoya.

“Satu hektar.”

“Iya. Terus rumahnya berjendela semua. Pagi, buka jendela dari ujung sampe ujung. Pas udah jendela yang terakhir, eh ... udah sore, tutup lagi jendelanya. Gitu aja kerjaannya tiap hari, buka tutup jendela,” ucap Zoya tergelak diikuti tawa Chilton dan Delana.

Saat mereka sedang asyik tertawa, makanan pesanan mereka datang.

Chilton menatap Zoya yang duduk di depannya. Ia senang karena sahabatnya itu bisa menghidupkan suasana. Kalau hanya berdua dengan Delana, ia sering canggung dan tidak tahu harus membicarakan apa selain masalah kampus dan tempat mereka mengajar.

“Del, kamu suka makan kepiting?” tanya Zoya.

Delana menganggukkan kepala.

“Kenapa kamu suka makanan yang rumit?” Zoya mengangkat capit kepiting sambil memerhatikan kepiting di tangannya.

“Rasanya enak.”

Zoya menyondongkan badannya menatap Delana. “Kamu tahu nggak artinya apa?”

“Arti apa?” Delana mengernyitkan dahinya.

“Kamu orang yang suka tantangan. Demi bisa mendapatkan rasa makanan yang enak. Kamu mau berusaha keras buat dapetin itu. Seperti kamu menyingkirkan cangkang-cangkang kepiting itu satu per satu,” tutur Zoya memperbaiki posisi duduknya.

Delana tersenyum. “Iya, kayak cintaku sama dia,” celetuknya.

“Hah!? Dia siapa?” tanya Zoya pura-pura tidak tahu sambil tersenyum kecil melirik Chilton yang ada di samping Delana.

“Ada, deh,” sahut Delana sambil tersenyum.

“Beruntung banget cowok yang dapetin cinta kamu,” tutur Zoya sambil menguyah makanan.

“Makan dulu, nggak usah cerita terus! Ntar keselek,” celetuk Chilton.

“Loh? Kan ... Uhuk ... uhuk ...!” Zoya tersedak makanan yang ia makan.

“Hmm ...!” Chilton bergumam melihat Zoya tersedak, rasanya belum sampai ia mengatupkan mulutnya, Zoya benar-benar tersedak.

“Minum dulu!” Delana menyodorkan air minum sambil menepuk-nepuk bahu Zoya. “Kalo makan hati-hati!” ucapnya.

Zoya langsung meminum air yang diberikan Delana. “Sial!” umpatnya.

“Ya udah, pelan-pelan makannya,” tutur Delana, ia kembali duduk di tempat duduknya.

“Nggak bakal mau dia makan kalo udah keselek kayak gitu,” tutur Chilton.

Delana mengangkat kedua alinya.

“Hilang nafsu makanku,” celetuk Zoya. Ia hanya menyeruput jus yang ada di depannya dan tidak mau melanjutkan makan.

“Lihat aku! Pasti nafsu makannya balik lagi,” canda Delana.

Zoya tergelak mendengar ucapan Delana. “Andai semudah itu,” batinnya.

Delana tersenyum manis menatap Zoya.

“Ntar malam, kita jalan yuk!” ajak Zoya.

Chilton dan Delana saling menatap, kemudian menoleh Zoya bersama-sama.“Ke mana?” tanya mereka bersamaan.

“Aku tunggu di Hobbies jam tujuh malam,” tutur Zoya.

“Oke,” jawab Chilton.

Sementara Delana tak menjawab. Ia masih belum bisa memastikan apakah ia bisa pergi ke tempat itu atau tidak.

“Kenapa?” Zoya menatap Delana yang sedang bengong.

“Eh!? Nggak papa,” sahut Delana. Ia tersenyum ke arah Zoya. “Aku cuma khawatir sama Bryan.”

Zoya mengangkat kedua alisnya. “Bryan?” Di kepalanya tiba-tiba ada tanda tanya besar tentang siapa sosok yang disebutkan Delana.

“Adik aku,” ucap Delana yang menyadari reaksi Zoya.

“Oh.” Zoya mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

Chilton menghela napas. “Adik kamu itu kan udah besar. Aku rasa dia bisa ngurus dirinya sendiri.”

“Hmm ... iya, sih. Tapi aku suka khawatir kalau sering ninggalin dia. Dia tuh jarang banget mau makan di luar kayak gini. Kalau aku nggak masakin, dia pasti makan mie instan terus dan itu nggak baik buat kesehatan dia,” jelas Delana.

Chilton melihat jam yang ada di ponselnya. “Kamu khawatir sama makan malamnya dia?” tanyanya.

Delana menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Ini masih jam satu siang. Kita bisa pulang dulu dan kamu masih sempat siapin makan malam untuk dia.”

“Hmm ... iya, juga sih.”

“Kenapa nggak diajak sekalian?” tanya Zoya.

“Dia nggak mau jalan sama temen-temenku,” jawab Delana.

“Ya, apalagi tahu kalo kakaknya mau ngedate sama cowok,” sahut Zoya.

“Apaan sih!?” ucap Delana tersipu.

Usai makan, Delana langsung bangkit dan berjalan menuju meja kasir.

“Chil, dia kebiasaan kayak gitu?” tanya Zoya yang langsung bangkit dari tempat duduknya ketika Delana sudah berada di meja kasir.

Chilton hanya tertawa kecil menanggapinya.

“Parah nih anak!” tutur Zoya sambil menunjuk Chilton.  “Mau ditaruh di mana harga diriku sebagai laki-laki.” Zoya bergegas menghampiri Delana.

“Biar aku yang bayar!” Zoya menahan Delana agar tidak mengeluarkan uang dari dompetnya.

“Nggak papa. Biar aku yang bayar,” ucap Delana sambil tersenyum.

“Ah, nggak usah!” ucap Zoya kesal. “Biar saya yang bayar, Mba. Berapa semuanya?” tanya Zoya pada petugas kasir. Ia memaksa berdiri di depan Delana dan membuat tubuh Delana harus mundur tertabrak oleh tubuh Zoya.

“Tiga ratus dua puluh lima ribu, Mas,” jawab petugas kasir tersebut.

Zoya merogoh dompet dari saku celana. Ia menyerahkan empat lembar uang seratus ribu rupiah.

Chilton hanya tertawa kecil melihat adegan yang terjadi antara Zoya dan Delana. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Delana.

“Biar aja dia yang bayar,” ucap Chilton sambil memasukkan jemari tangannya ke sela-sela jemari Delana dan menggenggamnya erat. “Pulang yuk!” bisiknya.

Delana tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia mengikuti langkah Chilton yang menarik lengannya untuk pergi.

***

“Chil, mampir ke pasar dulu bisa nggak?” tanya Delana saat mereka masih di perjalanan pulang.

“Bisa. Mau ke pasar mana?” Chilton balik bertanya.

“Hmm ... ke BSB aja gin yang dekat,” jawab Delana.

“Cari apa emangnya?”

“Cari bahan masakan buat di rumah.”

“Oh. Oke.”

Chilton segera melajukan sepeda motornya menuju kawasan Balikpapan Super Blok.

Delana tak berlama-lama. Ia hanya membeli beberapa bahan yang ia butuhkan dan langsung pulang ke rumahnya bersama Chilton.

“Aku balik dulu, ya! Jam enam aku jemput,” pamit Chilton saat mereka sudah ada di depan rumah Delana.

Delana menganggukkan kepala. “Makasih ya!” ucapnya sambil mengangkat kantong belanja yang ia bawa.

“Iya. Santai aja,” ucap Chilton.

Delana tersenyum, ia membalikkan tubuhnya menghadap ke pintu gerbang rumahnya. Baru dua langkah berjalan, ia membalikkan tubuhnya kembali ke arah Chilton. “Kamu pulang ke Gunung Dubs?” tanya Delana.

Chilton menggelengkan kepala. “Ke asrama aja. Kenapa?”

“Nggak papa.” Delana tersenyum, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. Sementara Chilton mengendarai motornya menuju asrama.

“Dek, kamu udah makan?” tanya Delana saat masuk rumah dan mendapati adiknya sedang menonton televisi.

“Udah,” jawabnya sambil mengunyah snack yang ada di depannya.

Delana mengamati sekeliling Bryan yang terlihat kotor dan berantakan. “Astaga ...! Jorok banget sih kamu!?” seru Delana melihat beberapa bungkus snack berhamburan di lantai. Kulit kacang dan beberapa botol minuman bersoda. Ia mengambil satu buah cup bekas mie instan yang terletak di atas meja dan menciumnya.

“Ini makanan kapan?” tanya Delana menghindari bau asam yang sudah tercium dari sisa makanan tersebut.

“Tadi malam,” jawab Bryan santai.

“Dek, kakak kan udah bilang kalo mau ajak temen-temen nginap di sini, jangan berantakan!” Delana meletakkan tas ranselnya ke atas sofa dan mulai memunguti sampah satu per satu.

“Nanti aku beresin sendiri,” tutur Bryan.

Delana menghela napas. “Nantinya kapan lagi? Kamu malah asyik makan kayak gitu!” celetuk Delana sambil melanjutkan pekerjaannya membereskan ruang keluarga yang terlihat sangat kacau. Beberapa hari ini asisten rumah tangga Delana tidak akan datang karena anaknya sakit dan harus menunggunya di rumah sakit. Sehingga Delana harus membereskan rumahnya seorang diri.

“Dek, kakak ntar malam mau jalan. Kakak masakin sekarang untuk makan malam. Kamu nggak papa kan di rumah sendirian?” tanya Delana.

“Nggak usah dimasakin, Kak. Aku juga ada janji mau jalan bareng temen-temenku malam ini.”

“Serius?” tanya Delana menatap wajah Bryan dengan seksama.

“Iya.”

“Bagus, deh. Kalo gitu, Kakak bisa istirahat.” Delana melenggang menuju dapur, memasukkan belanjaan ke dalam kulkas dan lemari dapur. Kemudian ia bergegas menaiki anak tangga menuju kamar untuk tidur. Masih ada waktu untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum ia bersiap pergi makan malam bersama Chilton dan Zoya.


***

Tepat jam enam sore, Delana sudah bersiap. Beberapa kali ia menatap tubuhnya di cermin. Ia khawatir kalau salah memilih pakaian atau menggunakan make up. Ia kemudian terpikir untuk melakukan panggilan video dengan Ivona yang sangat memahami tentang dunia fashion.

“Hai ... cantik banget!” sapa Ivona begitu panggilan video Delana tersambung. “Mau ke mana?” tanya Ivona.

“Mau jalan bareng Chilton,” ucap Delana tersipu. “Gimana penampilan aku, oke nggak?” tanya Delana sambil memamerkan riasan sederhana dan pakaian yang ia gunakan.

“Oke, banget! Dia pasti senang lihat kamu kayak gini.”

“Serius?” tanya Delana masih kurang yakin.

“Serius.” Ivona tersenyum pada Delana. “Selamat menikmati hari valentine ya!” lanjutnya.

“Eh!? Ini hari valentine?” tanya Delana.

“Iya. Astaga! Aku kira kamu mau ngerayain valentine bareng Chilton.”

“Mmh .. aku nggak sadar kalo ini hari valentine.”

“Capek deh!” Ivona memutar bola matanya.

“Kamu sendiri nggak ngerayain valentine?” tanya Delana.

“Ngerayain, dong! Malam ini aku mau clubbing bareng Belvi. Kamu mau ikut?” tanya Ivona.

“Aku udah ada janji jalan bareng Chilton.” Delana memasang wajah murung karena tidak bisa bergabung bersama dengan teman-temannya.

“Ya udah sih. Selamat menikmati waktu-waktumu bersamanya. Kita ngerti kok.”

Delana tersenyum. “Makasih ya!” tuturnya. Ia merasa senang karena punya dua sahabat baik yang sangat mengerti bagaimana keadaan Delana dan bagaimana Delana memperjuangkan cintanya untuk Chilton.

Delana mematikan panggilan videonya dan kembali mengamati tubuhnya di cermin. Ia menatap layar ponsel yang ia letakkan di atas meja rias. Menunggu telepon dari Chilton.

Beberapa menit kemudian, ponsel Delana berdering. Ia langsung menyambar dan menjawab panggilan telepon dari Chilton.

“Halo ...!” sapa Delana sambil meraih tas yang ia letakkan di atas kursi dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar.

“Aku udah di depan,” tutur Chilton.

“Oke. Aku turun,” sahut Delana sambil menuruni anak tangga.

Chilton langsung mematikan teleponnya. Beberapa detik kemudian, ia melihat Delana keluar dari pintu rumah. Ia tersenyum menatap Delana yang semakin mendekat ke arahnya.

Delana memakai helmnya sendiri dan langsung naik ke atas motor Chilton.

“Udah siap?” tanya Chilton.

Delana menganggukkan kepala.

Chilton langsung melajukan motornya menuju ke arah jalan Sumber Rejo. Sesampainya di sana, Chilton langsung menelepon Zoya.

“Udah di mana Zoy?” tanya Chilton begitu panggilannya tersambung.

“Udah di atas, di rooftop,” jawab Zoya.

Chilton mendongakkan kepala. Ia melihat Zoya sedang berdiri sambil menatapnya. Ia langsung mematikan panggilan telepon, memasukkan ponsel ke sakunya. Ia melepas helm dan mengambil helm Delana yang masih dipegang di tangannya dan turun dari motor.

Chilton menggenggam tangan Delana sambil melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju rooftop. Hobbies Coffee memang tempat yang sangat romantis. Lampu-lampu kecil berwarna kuning yang penuh di atas langit-langit bangunan membuat para pelanggannya seakan-akan sedang menikmati makan malam di bawah taburan bintang-bintang.

Dari rooftop, mereka bisa melihat indahnya lampu kota Balikpapan di malam hari.

“Udah lama nunggu?” tanya Delana saat mereka sudah ada di hadapan Zoya.

“Belum. Kamu naik motor, Chil?” tanya Zoya.

“Iya. Kenapa?” tanya Chilton.

“Jalan malam gini naik motor. Kasihan Delana kedinginan,” celetuknya. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kursi. Delana dan Chilton mengikutinya dari belakang.

“Enggak. Kita udah biasa jalan malam pakai motor.” Delana duduk di salah satu kursi yang berseberangan dengan Zoya.

“Oh ya? Kalian udah sering jalan bareng?” tanya Zoya.

Delana dan Chilton saling bertatapan.

“Iya,” jawab Chilton.

“Nggak.” Delana menjawab bersamaan dengan Chilton.

“Loh? Yang bener yang mana?” tanya Zoya.

“Maksudnya nggak sering, Zoy. Sesekali aja kita jalan bareng kalo lagi ada urusan. Kalo hari-hari kita emang sering pulang malam barengan pas ada tambahan jam ngajar,” jelas Delana dengan perasaan gugup.

“Ngajar?”

“Iya. Kita ngajar bareng di salah satu tempat les gitu.”

“Oh, jadi kalian kuliah sambil kerja?” tanya Zoya.

Delana menganggukkan kepala.

“Aku pikir kalian bukan mahasiswa yang kekurangan uang. Kenapa mau kerja? Di tempat les kayak gitu, gajinya nggak seberapa,” tutur Zoya.

Delana tersenyum menatap Zoya. “Buat ngisi waktu luang aja. Biar lebih bermanfaat. Daripada main PUBG atau Free Fire mulu?” celetuk Delana.

“Oh ... ya ya. I see.” Zoya mengangguk-anggukkan kepala. “Kalian mau pesan apa?” tanya Zoya.

“Kopi aja, Zoy,” jawab Chilton.

“Kamu?” tanya Zoya menatap Delana.

“Jus aja,” jawab Delana.

“Jus apa?” tanya Zoya.

“Strawberry.”

“Makannya?”

“Aku sandwich aja, deh. Udah malam gini nggak baik makan makanan berat,” tutur Delana sambil melirik ke arah Chilton.

“Kamu, Chil?” tanya Zoya.

“Samain aja,” jawab Chilton.

Zoya tersenyum menatap dua orang temannya itu. “Bir gimana?” tanya Zoya.

“Boleh,” sahut Chilton.

Zoya langsung memesan semua makanan dan minuman yang akan mereka nikmati.

“Di sini pemandangannya bagus ya?” tutur Delana sambil melihat ke arah lampu-lampu kota yang bertaburan di hadapannya.

“Kamu belum pernah ke sini?” tanya Chilton yang duduk di sebelahnya.

Delana menggelengkan kepala.

“Del ...!” panggil Chilton lirih di telinga Delana.

Delana langsung menoleh dan menatap wajah Chilton yang begitu dekat dengannya. Hanya berjarak beberapa sentimeter dan itu membuat jantung Delana seperti mau lepas. Tatapan Chilton kali ini terasa berbeda. Ditambah lagi alunan lagu romantis yang tiba-tiba saja terdengar di telinganya. Membuat suasana menjadi begitu romantis.

Chilton merasa Delana begitu istimewa di dalam hidupnya. Ia ingin sekali mengatakan kalau hari ini, dia telah menyukai gadis yang membutnya merasa istimewa. “Kamu gadis biasa yang membuatku jadi luar biasa,” bisik Chilton dalam hati. Ia tak sanggup mengeluarkan kalimat itu dari bibirnya. Tatapan mata Delana telah menghanyutkan dirinya dan tenggelam dalam kasih sayang yang telah ia berikan selama ini.

“Hei, kenapa? Kok, malah ngelamun?” tanya Delana sambil menepuk pipi Chilton.

Chilton tersenyum dan menarik wajahnya menjauh dari wajah Delana. Ia menatap Zoya yang baru saja muncul kembali.

“Kalian kelihatan serasi, kenapa nggak jadian aja sekalian?” celetuk Zoya.

“Apa aku harus jadian sama seseorang cuma karena terlihat serasi di mata orang lain?” tanya Chilton balik.

Delana merasa hatinya dipukul keras mendengar ucapan Chilton. Ia merasa Chilton telah memberikan lampu hijau dan perhatian-perhatian kecil untuknya. Tapi, tetap saja ia terlihat angkuh di mata orang lain bahkan di depan sahabatnya sendiri.

“Gayamu!” sahut Zoya.

“Loh? Emang iya, kan? Kalo cuma dilihat dari serasinya doang, sama Luna Maya juga aku serasi,” celetuk Chilton.

“Pede banget ngomong gitu,” celetuk Zoya.

“Pede, lah. Ganteng gini,” sahut Chilton.

Delana ingin tertawa mendengar perdebatan dua orang laki-laki yang bersamanya itu. Ia merasa istimewa karena bisa menikmati malam valentine bersama dua laki-laki tampan.

Beberapa menit kemudian, hidangan yang mereka pesan sudah tersaji di atas meja. Mereka menikmati makan malam dan minum bir bersama.

“Chil, aku balik dulu ya!” pamit Zoya begitu mereka selesai makan malam.

“Cepet amat? Mau ngapain?” tanya Chilton.

“Managerku nelpon, suruh pulang secepatnya,” jawab Zoya.

“Oh, Oke.” Chilton mengangguk-anggukkan kepala.

“Aku balik dulu ya!” pamit Zoya pada Delana. Ia menyalami Delana sambil cium pipi kanan cium pipi kiri sebagai tanda perpisahan seorang sahabat.

Chilton hampir melompat dari kursi saat Zoya dengan santai menempelkan pipinya ke pipi Delana. Ia merapatkan bibirnya menahan kekesalan. Sementara Zoya malah tersenyum ke arahnya sambil mengerdipkan mata dan berlalu pergi meninggalkan mereka.

“Chil, temenmu itu kayak familiar banget. Apa aku pernah kenal dia sebelumnya ya?” celetuk Delana sambil menatap punggung Zoya yang perlahan menjauh, kemudian menghilang dari pandangannya.

“Dia artis.”

“Oh ya? Pantesan kayak nggak asing gitu!” seru Delana. “Wah, kamu punya teman baik artis. Asyik banget ya?” tutur Delana.

“Nggak asyik!” sahut Chilton kesal.

“Kenapa?” tanya Delana.

“Lihat aja sikapnya kayak gitu. Ketemu siapa aja cipika-cipiki. Sok akrab banget!” celetuk Chilton.

Delana menahan tawa. “Kamu cemburu?” tanyanya.

“Nggak.”

“Nggak usah merengut gitu kalo nggak cemburu! Biasa aja. Toh, buat artis kayak dia, cipika-cipiki udah jadi hal biasa,” tutur Delana.

“Masalahnya, kamu itu kan bukan artis,” sahut Chilton makin kesal.

“Jadi, maunya kamu gimana?” tanya Delana lembut. Ia sendiri tak bisa menolak Zoya yang tiba-tiba mengajaknya berciuman pipi.

Chilton menatap tajam ke arah Delana. Entah kenapa ia merasa kesal melihat adegan cium pipi yang ia lihat di depan matanya. Padahal, ia sudah terbiasa melihat Zoya berciuman dengan wanita lain yang bukan teman artis maupun teman baiknya. Tapi ketika Delana yang terlibat dalam adegan itu, ia merasa kesal dan ingin sekali memaki Zoya. Apa ini pertanda kalau Chilton telah benar-benar menyukai Delana?

Delana berusaha merayu Chilton agar mood-nya kembali baik dan mengajaknya untuk pulang. Chilton berusaha menata hatinya agar tak cemburu. Namun, bayangan adegan cium pipi itu terus terlintas di kepalanya sepanjang perjalanan mengantar Delana pulang. Membuatnya merasa aneh, sangat aneh.

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas