Wednesday, August 17, 2022

Novel "Menikahi Lelaki Brengsek" karya Vella Nine FULL VERSION

 




 

Hidup Roro Ayu yang awalnya indah dan baik-baik saja, tiba-tiba berubah jadi malapetaka ketika Nanda (sahabat baik pacarnya) menghamilinya. Persahabatan yang terjalin erat selama bertahun-tahun, berubah jadi permusuhan.

Roro Ayu ditimpa masalah bertubi-tubi. Keluarga yang awalnya harmonis, tiba-tiba dipenuhi api amarah yang tak kunjung padam. Nanda yang tidak pernah bersikap baik pada Roro Ayu, membuat Sonny tak rela  melepaskan wanita itu meski sudah menjadi istri dari sahabat baiknya.

Bagaimana Roro Ayu bisa terlepas dari masalahnya? Akankah ia mempertahankan rumah tangganya bersama Nanda atau kembali pada Sonny yang masih sangat ia cintai?

 

Follow ig : @vellanine.tjahjadi for spoiler


Bab 1 : Pesta Malapetaka

Bab 2 : Bayi yang Tak Diinginkan

Bab 3 : Pukulan untuk Ayah

Bab 4 : Tak Ingin Berdamai

Bab 5 : Menolak Pernikahan  Kontrak

Bab 6 : Hari  Pertama Jadi Mantu

Bab 7 : Takut Kehilangan

Bab 8 : Mulai Cemburu

Bab 9 : Membangun Hubungan

Bab 10 : Nyaman Bersama Mantan

Bab 11 : Menepis Benalu

Bab 12 : Tak Bisa Berkutik

Bab 13 : Pembalasan dari  Roro Ayu

Bab 14 : Istri  Berbahaya

Bab 15 : Pilih Menantu

Bab 16 : Masih  Saja Cemburu

Bab 17 : Kerja Keras untuk  Cinta

Bab 18 : Pura-Pura Cinta

Bab 19 : Tak  Mau  Melepaskan Dia

Bab 20 : Bolehkah Aku Benci Anak  Ini?

Bab 21 : Kemarahan Mr. Rocky

Bab 22 : Terancam Direbut Galaxy

Bab 23 : Firasat

Bab 24 : Murka

Bab 25 : Awal Penderitaan Nanda

Bab 26 : Can't Love, But I Need Him

Bab 27 : Tak  Percaya

Bab 28 : Aku  Butuh Kamu

Bab 29 : Bantuan dari Keluarga Hadikusuma

Bab 30 : The Power of Nyonya  Ye

Bab 31 : Nasihat Nyonya  Ye

Bab 32 : Dihantui  Kenangan  Masa Lalu

Bab 33 : Nanda Cemburu

Bab 34 : Aku  Butuh Kalian

Bab 35 : Pukulan Terbesar

Bab 36 : Dipisahkan

Bab 37 : Hukuman untuk Nanda

Bab 38 : Bangkit dari  Rasa Sakit

Bab 39 : I am Savage and I Change

Bab 40 : Find You,  Love

Bab 41 : Usaha Nanda

Bab 42 : Sama-Sama  Menderita

Bab 43 : Harapan Besar yang  Sirna

Bab 44 : Saran dari  Okky dan  Nadine

Bab 45 : Ciuman Hangat

Bab 46 : Back to Our

Bab 47 : London Eye Destiny

Bab 48 : Back to  Indonesia

Bab 49 : Penebusan Dosa

Bab 50 : Menyamar Jadi Pelayan

Bab 51 : Trik Menyelamatkan Ayu

Bab 52 : Hukuman Pertama untuk  Ayu

Bab 53: Cemburu yang Indah

Bab 54 : Menghangatkanmu

Bab 55 : Sick for Love

Bab 56 : Enggan  Melepasmu

Bab 57 : Tidak  Direstui

Bab 58 : Perseteruan Nanda dan Andre

Bab 59 : Terlunta-Lunta

Bab 60 : Susah Cari Kerja

Bab 61 : Bantuan dari Karina

Bab 62 : Salah Paham

Bab 63 : Jarak dan Waktu yang Merenggang

Bab 64 : Kecewa Lagi

Bab 65 : Sulit Bertemu

Bab 66 : Pertemuan  yang Menyesakkan

Bab 67 : Ruang untuk Bicara

Bab 68 : Suka Cara Cemburumu

Bab 69 : Berubah Manja

Bab 70 : Tak  Lagi Berjarak

Bab 71 : Ditolak Papa Mertua

Bab 72 : Tantangan untuk Nanda

Bab 73 : Saat Tak Punya Apa-Apa

Bab 74 : Kesalahanmu itu Rindu

Bab 75 : Lamaran yang Kacau

Bab 76 : Persiapan Pernikahan

Bab 77 : Sebelum Pernikahan

Bab 78 : Cinta Adalah  Tentang Rasa Takut

Bab 79 : Kehangatan  Malam Pengantin

Bab 80 : I Do (TAMAT)






Bab 80 - I Do

 


Hari-hari berikutnya, Nanda dan Ayu menjalani hari-harinya dengan bahagia. Setiap hari, Nanda melakukan rutinitas kesehariannya di kantor. Sementara, Ayu mengisi waktu luangnya dengan menyibukkan diri menjadi dosen di salah satu universitas ternama di kota Surabaya.

“Selamat sore, Ibu Dosen ...! Sudah mau pulang?” sapa Nanda sambil tersenyum manis saat Ayu keluar dari kelasnya di fakultas bisnis dengan perut yang sudah membesar.

“Sore ...!” balas Ayu dengan senyum merekah di bibirnya.

Nanda langsung melingkarkan lengannya di belakang pinggang Ayu. “Gimana kelasmu hari ini? Asyik?”

Ayu mengangguk sambil tersenyum manis.

“Nggak ada mahasiswa yang godain kamu ‘kan?” bisik Nanda.

Ayu menggeleng. “Mereka hanya bercanda sesekali. Nggak godain serius,” jawab Ayu.

“Hmm ... aku nggak mau kalau harus bersaing sama mahasiswa S2 kamu, ya!”

“Bersaing apaan? Aku ini sudah bersuami, mana ada mahasiswa yang mau bersaing sama suami sepertimu,” sahut Ayu.

“Hahaha. Baguslah. Aku sudah buat janji dengan Nadine sore ini USG. Kita lihat, calon anak kita mukanya gimana. Kalo cowok, pasti ganteng kayak papanya,” ucap Nanda sambil menggiring tubuh Ayu ke parkiran dan membawanya masuk ke mobil.

Ayu mengangguk sambil tersenyum. Sejak dulu, ia ingin memeriksakan kehamilannya bersama Nanda. Namun, keinginan itu tak pernah tercapai sampai ia melahirkan anak pertamanya. Kali ini, Nanda yang selalu berinisiatif untuk membawanya pergi ke dokter. Bahkan, jadwal kontrol kesehatannya pun, tak lepas dari perhatian pria ini.

Beberapa menit kemudian, mobil Nanda sudah terparkir dengan baik di depan sebuah klinik bersalin milik Dokter Nadine. Dokter muda yang selalu menjadi favorite para ibu hamil karena terkenal dengan keramahannya. Selain dinas resmi di salah satu rumah sakit di Semarang, Dokter Nadine juga membuka praktik dokternya di kota Surabaya. Membuat wanita itu harus bolak-balik Semarang-Surabaya setiap harinya dan hanya bisa ditemui sejak sore hingga malam hari jika para ibu hamil kota Surabaya ingin memeriksakan kehamilannya.

“Selamat sore, Dokter Nadine ...!” sapa Nanda sambil tersenyum ramah.

“Hei ...! Sore ...!” sapa Dokter Nadine sambil tersenyum manis. Karena Nanda memiliki VIP Card, ia dan istrinya tak perlu mengambil antrian untuk melakukan pemeriksaan kandungan. “Gimana kabarnya Ibu Hamil ...?” serunya sambil mengelus-elus perut Ayu yang sudah membesar.

“Baik. Baik banget,” jawab Ayu sambil tersenyum manis.

“Udah enam bulan, mau jalan tujuh bulan, ya?” tanya Nadine sambil memerintahkan asistennya untuk menyiapkan kebutuhannya.

Ayu mengangguk.

“Kita lihat keadaannya dan jenis kelaminnya sekaligus, ya! Semoga nggak mirip Nanda, ya!” ucap Nadine sambil tertawa kecil.

Nanda mendengus kesal ke arah Nadine. “Anakku ini, Nad! Anakku! Gimana ceritanya nggak boleh mirip aku?”

Nadine terkekeh geli. Mereka bertiga terus bercanda tawa sembari memeriksa kondisi kandungan Ayu.

Setelah selesai memeriksakan kandungannya, Nanda mengajak Ayu untuk bersantai di sekitar Pantai Kenjeran sembari menikmati matahari tenggelam.

Nanda tersenyum sambil menatap potret bayi perempuan yang ada di dalam perut istrinya. Ia mengambil ponsel, memotret hasil USG itu dengan latar perut istrinya. Kemudian, memasangnya di media sosial dengan caption “Always happy until the end, My World”.

“Main medsos?” tanya Ayu sambil memeluk tubuh Nanda dan  menatap layar ponsel pria itu.

“Hanya posting momen-momen penting. Supaya bisa diingat lima puluh tahun lagi kalau kita terserang alzheimer,” ucap Nanda sambil merangkul pundak Ayu.

Ayu tersenyum menatap wajah Nanda. “Nggak mau fotoin muka aku? Takut fans kamu hilang?”

Nanda terkekeh geli. “Fans apaan? Nggak ada. Mantan pacar banyak yang stalking. Nanti, mereka sakit hati kalau aku pasang foto kamu.”

Ayu mengerutkan wajah sambil menyubit perut Nanda. “Alasan! Bilang aja kalau nggak bisa speak-speak mantan!”

“Hahaha. Nggaklah. Aku nggak kayak gitu. Ya udah, ayo foto!” ajak Nanda sambil mengarahkan kameranya ke wajah mereka.

Cekrek!

Nanda mengecup pipi Ayu.

Cekrek!

Nanda mengecup perut Ayu yang sudah membesar.

Cekrek!

Nanda tersenyum lebar menikmati potret-potret yang baru saja ia ambil. “Kamu nggak mau pasang di akun media sosial kamu?”

Ayu menggeleng.

“Kenapa? Kamu culas, hah!? Kenapa nggak mau pasang?” seru Nanda sambil menggelitiki perut Ayu.

Ayu menggeleng sambil menahan tawa. “Aku malu sama mahasiswa-mahasiswi aku. Badanku kayak gajah gini. Menuh-menuhin kamera. Lagian, aku nggak pernah posting kehidupan pribadi. Cuma materi kuliah doang.”

“Alasan. Bilang aja kalau kamu takut nggak bisa speak-speak mahasiswa kamu yang ganteng-ganteng?” dengus Nanda sambil meletakkan keningnya ke kening Ayu.

Ayu tertawa kecil. Ia mengalungkan lengannya ke leher Nanda dan mengecup lembut bibir pria itu. “Kamu takut bersaing sama mahasiswa ganteng?”

Nanda menganggukkan kepala.

“Mereka nggak banyak duit kayak kamu. Mana mungkin aku bisa lebih tertarik sama mereka,” ucap Ayu sambil menahan tawa.

Nanda mengernyitkan dahi. “Waktu aku nggak punya apa-apa, kamu tetep mau sama aku karena aku ganteng ‘kan? Bisa aja kamu tertarik sama yang lebih ganteng lagi. Iya ‘kan?”

“Hahaha. Masa aku mau sama berondong, sih? Nggaklah. Aku tetep sayang sama kamu. Nggak ada yang bisa gantikan kamu karena aku bukan sekedar sayang, aku juga butuh kamu ada di sisiku,” ucap Ayu sambil menyentuh lembut pipi Nanda.

Nanda tersenyum sambil mengecup bibir Ayu berkali-kali. “Janji? Nggak akan ada cowok lain selain aku?”

Ayu mengangguk. “Harusnya aku yang tanya seperti itu ke kamu. Bukannya kamu yang selalu gonta-ganti pasangan, hah?”

“Aku sudah tobat, Ay. Lebih baik jadi mantan anak nakal daripada malah jadi mantan anak baik. Iya, kan?”

“Memang harus tobat karena kamu akan menjadi seorang ayah dari anak perempuan. Tugas kita jauh lebih berat untuk mendidik dan merawat dia. Aku yang sudah dilindungi begitu kuat oleh orang tuaku saja, masih bisa dilahap oleh predator sepertimu,” ucap Ayu sambil menatap wajah Nanda.

Nanda melebarkan kelopak matanya. “Kamu ngatain aku predator, hah!? Bukan salahku kalau aku melakukan itu. Kamu yang terlalu cantik dan seksi, Ay.”

“Aku nggak pernah berpakaian seksi seperti yang lain, Nan.”

“Kamu tidak pakai pakaian seksi saja sudah membangkitkan gairahku, Ay. Apalagi pakai yang seksi,” sahut Nanda sambil menatap gemas ke arah wajah Ayu yang terlihat lebih chubby dan menggemaskan saat hamil seperti ini.

Ayu terkekeh mendengar ucapan Nanda. “Kenapa bisa seperti itu?”

“Nggak tahu. Mungkin, karena Tuhan hanya meletakkan satu orang wanita dari milyaran wanita di dunia ini yang bisa menggetarkan hatiku,” jawab Nanda.

Ayu tersenyum bahagia sambil menatap lekat mata Nanda. “Nan, andai apa yang terjadi padaku di masa lalu ... terjadi juga pada puteri kita di masa depan. Apa yang akan kamu lakukan?”

“Aku akan membunuh laki-laki yang sudah menyakiti puteri kita!” sahut Nanda tegas.

“Ayah Edi tidak melakukan itu padamu.”

“Eh!? Itu karena kamu mencintaiku sejak awal. Iya ‘kan?” tanya Nanda penuh percaya diri.

Ayu tertawa kecil menanggapi pertanyaan Nanda. “Jadi, kalau puteri kita mencintai pria yang salah ... apa kita akan membiarkannya hidup dengan pria itu?”

“Ay, aku tahu kamu dosen. Tapi jangan kasih aku pertanyaan yang susah dijawab, dong!” pinta Nanda sambil menatap payah ke arah Ayu.

Ayu tertawa kecil dan menyandarkan kepalanya di pundak Nanda. “Nan, kamu tahu ... ada hal-hal yang terkadang tidak bisa diterima nalar. Terkadang aku berpikir, bagaimana aku bisa mencintaimu yang begitu brengsek. Menyakitiku berkali-kali, tapi aku tidak pernah bisa benar-benar pergi. Dan aku baru sadar bahwa cinta bukan sekedar menerima kekurangan. Tapi bagaimana kita tetap bertahan, meski harus menahan jutaan rasa sakit.”

Nanda tersenyum dan membenamkan bibirnya ke pelipis Ayu. “Maafkan aku, Ay! Aku janji, tidak akan pernah menyakitimu lagi. Kalau aku melakukannya, kamu boleh bunuh aku saat itu juga.”

“Mati itu terlalu mudah untuk kamu yang sudah menyakitiku. Kamu harus tetap hidup dan menebus kesalahanmu sampai mati!” tegas Ayu sambil menatap wajah Nanda.

Nanda mengangguk. “I do,” ucapnya sambil merangkul pundak Ayu. Menikmati indahnya mentari yang perlahan kembali ke tempat peristirahatannya. Ia berharap, bisa menjadi pria yang selalu mencintai Ayu. Melindungi wanita ini dan keluarga kecil yang ia bangun. Memberikan mereka nafkah, cinta, pendidikan dan jaminan masa depan yang baik. Sebab, dunianya yang pernah liar adalah bola besar yang ia genggam untuk menjadi pelindung keluarganya di masa depan.

Hal buruk yang terjadi di masa lalu adalah pelajaran paling berharga agar kita lebih berhati-hati dalam bertindak dan mengambil sebuah keputusan. Sebab, ada banyak nasihat di dunia ini agar kita tidak menyesal. Tapi, penyesalan itu tetap ada dan tidak ada satu pun manusia yang tidak memiliki penyesalan dalam hidupnya. Kata sesal adalah sebuah pelajaran paling berharga dalam kehidupan dan mengendalikan tindakan kita di masa depan.

 

 

-TAMAT-

 

 

Terima kasih sudah menjadi sahabat setia bercerita!

Jadikan tulisan ini sebagai pelajaran hidup bahwa seburuk-buruk manusia, akan ada titik yang akan membalikkan dan mengubah hidupnya. Dan tidak semua orang memiliki kesempatan ini. Maka, selagi ada kesempatan ... tanamlah benih kebaikan meski hanya sebutir benih padi.

 

Sampai ketemu lagi di cerita-cerita selanjutnya ...!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 


Bab 79 - Kehangatan Malam Pengantin

 



“Ay, lain kali jangan candain aku seperti ini lagi. Aku hampir gila karena kehilangan kamu, Ay,” pinta Nanda sambil menatap wajah Ayu yang sedang membersihkan riasannya di dalam kamar.

“Aku juga nggak tega lihat kamu kayak gitu. Idenya Nadine, Okky sama Sonny,” jawab Ayu sembari menengadah menatap Nanda.

“Sonny tuh memang minta disepak,” tutur Nanda sambil memperhatikan wajah Ayu. “Belum kelar bersihin mukanya?”

“Sebentar lagi,” jawab Ayu sembari mengusapkan kapas ke atas bibirnya.

Nanda tersenyum sembari menyentuh lembut bibir Ayu. Ia menarik dagu wanita itu dan mengecup bibirnya. Tak sabar menunggu wanita ini selesai membersihkan seluruh riasannya.

“Nan, aku masih bersih—” Ucapan Ayu terhenti saat Nanda kembali menyambar bibirnya dengan sensual. Seluruh tubuhnya menegang dan ia membalas ciuman Nanda dengan senang hati sembari mengalungkan lengannya ke leher pria itu.

Semakin lama, ciuman Nanda semakin dalam. Dengan cekatan, pria itu menggendong Ayu naik ke atas ranjang tanpa melepas tautan bibirnya.

Desahan lembut mulai keluar dari bibir Ayu dan tangannya yang halus, menjalar perlahan, masuk ke dalam kemeja yang dikenakan Nanda dan mengelus lembut punggung pria itu.

Nanda menghentikan ciumannya sambil meringis menahan nyeri ketika alat vitalnya mulai bereaksi dan menegang.

“Nan, kamu kenapa?” tanya Ayu sambil menangkup wajah Nanda.

“Agak sakit,” jawab Nanda sambil melihat ke bagian bawah tubuhnya. Entah bagaimana Ayu melakukannya, ikat pinggang yang ia kenakan sudah terlepas dan risleting celananya pun sudah terbuka.

“Sakit?” Ayu mengernyitkan dahi. “Jangan bilang kalau kamu ...?”

“Sejak kejadian itu ... emang agak sakit kalau tegang,” jawab Nanda.

“Eh!? Jadi ... kita nggak bisa ...?” Ayu menatap wajah Nanda dengan tatapan kecewa.

Nanda tertawa kecil sambil menatap wajah Ayu yang ada di bawahnya. “Kamu sudah sangat menginginkannya?”

Ayu menggeleng. “Nggak juga. Kalau kamu nggak bisa, kita tidur aja! Ini sudah larut malam dan kita juga sudah sama-sama lelah,” jawabnya sambil berusaha mendorong tubuh Nanda.

Nanda langsung mengunci tubuh Ayu agar tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya. “Kalau kamu menginginkannya, aku bisa berikan rasa yang lebih enak dari pertama kali kita melakukannya,” bisiknya di telinga Ayu.

Ayu mengerutkan wajahnya. “Buat apa kalau kamu juga kesakitan. Nggak akan nyaman ‘kan?”

“Aku cuma bercanda, Ay,” jawab Nanda. Ia langsung menyesap leher Ayu hingga tubuh wanita itu semakin menegang.

“Mmh ...” Ayu mendesah kuat saat jemari tangan Nanda menyentuh bagian kenikmatan itu.

Dengan cepat, Nanda melepaskan semua kain yang tersisa di tubuh Ayu saat mengetahui kalau bagian kenikmatan di bawah sana sudah basah di area genital itu.

Bibir dan kedua tangan Nanda terus memberikan sentuhan-sentuhan di area sensitif milik Ayu sembari mempersiapkan diri untuk masuk ke sana secara perlahan.

“Mmh ... Nan ...!” Ayu langsung mencengkeram punggung Nanda saat pria itu sudah berhasil masuk ke area genital miliknya.

“Enak?” tanya Nanda sambil mencengkeram lembut rahang Ayu yang sudah diselimuti gairah.

Ayu mengangguk sembari menggigit bibir bawahnya. Merasakan kenikmatan yang sudah lama tak ia rasakan sejak berpisah dengan Nanda. Meski Nanda bukanlah pria pertama yang masuk ke hatinya. Tapi dialah yang paling pertama masuk ke area terlarang dan tempat yang paling berharga dalam kehidupan Ayu. Menjadi pria nomor satu dan satu-satunya yang ada di sana.

“I love you, Ay. Don’t leave me again!” bisik Nanda setelah ia berhasil melakukan pelepasan. Ia langsung mengecup bibir Ayu dan menjatuhkan tubuhnya di samping wanita itu. Ia memejamkan mata sembari mengatur napasnya.

Ayu tersenyum sambil memperhatikan wajah Nanda. “Capek?”

Nanda menganggukkan kepalanya.

“Udah nggak kuat main lagi?”

Nanda langsung membuka mata dan menoleh ke arah Ayu yang berbaring di sampingnya. “Kamu mau minta main lagi?”

Ayu mengangguk sambil tersenyum jahil.

“Aku capek, Ay. Seharian udah capek terima tamu. Lanjut besok aja, gimana?”

Ayu menggeleng sambil menyembunyikan tawa di dalam hatinya. “Aku maunya sekarang, Nan!" pintanya dengan gaya centil.

Nanda langsung mengernyitkan dahi sambil bangkit dari tempat tempat tidur.  “Kamu ini kenapa? Nggak kesurupan ‘kan?”

Ayu menggeleng sambil tersenyum centil.

Nanda langsung menempelkan punggung tangannya ke kening Ayu. “Normal, kok?”

Ayu segera menepis tangan Nanda dari keningnya. “Kamu kira aku gila?”

“He-em. Kamu nggak pernah secentil ini? Kenapa jadi centil banget?”

“Bukannya kamu suka cewek yang centil dan agresif?” tanya Ayu balik.

“Itu dulu, Ay. Lagian, kamu nggak cocok bertingkah centil kayak gini. Aku geli lihatnya,” sahut Nanda.

Ayu mendengus kesal menatap wajah Nanda. Ia segera menarik selimut, menutup tubuhnya dengan rapat dan berbalik membelakangi Nanda.

Nanda menahan tawa sambil melihat tubuh Ayu yang ada di bawah selimut. “Ay ...!” panggilnya lirih.

“Ay ...!” panggil Nanda lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ayu.

“Aku ngantuk. Mau tidur!” seru Ayu.

Nanda tertawa kecil dan memeluk tubuh Ayu yang ada di dalam selimut.  “Ini baru istriku yang asli,” ucapnya sambil tersenyum.

Ayu menyingkap selimut yang menutupi wajahnya dan memutar tubuhnya menatap Nanda. “Kamu ...!? Nggak suka kalau aku centil dan agresif?”

Nanda tersenyum sambil menempelkan wajahnya ke telinga Ayu. “Aku lebih suka kamu yang jutek, ketus dan selalu berani melawan aku.”

Ayu tertawa kecil. “Bodoh.”

“Aku rela jadi bodoh asalkan bisa memelukmu seperti ini setiap hari. Asal aku bisa dengarkan omelanmu, bisa mendengar kamu mendebatku dan ... bisa menikmati dengkuranmu setiap malam,” ucap Nanda sambil tersenyum manis.

“Memangnya aku tidur mendengkur?” tanya Ayu.

Nanda mengangguk sambil mengeratkan pelukannya dengan mata terpejam. Ia terus memeluk tubuh Ayu dengan erat hingga ia terlelap dalam kehangatan bersama wanita itu.

 

...

Tiga bulan kemudian ...

Sepulang dari kantor, Nanda melenggang ceria memasuki rumahnya sambil memanggil nama Ayu. “Ay, aku udah beliin testpack yang kamu pesan. Cepet pake, ya!” Ia meletakkan kantong kresek ke atas meja dapur.

“Banyak banget? Kamu beli testpack atau beli keripik?” Ayu menaikkan alis saat membuka kantong tersebut dan mendapati ada banyak testpack di dalamnya.

“Biar akurat aja hasilnya kalau testpack-nya banyak, Ay. Kali aja ada yang error.”

Ayu menghela napas sambil menatap serius ke arah Nanda. “Satu aja cukup kali, Nan. Selebihnya, bisa periksa ke dokter. Itu lebih akurat. Kayak gini namanya pemborosan!”

“Jadi, gimana? Aku jual lagi testpack-nya?” tanya Nanda.

Ayu memutar kepala sambil menarik kantong kresek tersebut. “Siapa yang mau beli testpack?” Ia segera mematikan kompor dan masuk ke dalam kamar mandi.

Nanda tertawa kecil sambil mengikuti langkah Ayu. Ia berdiri di sebelah pintu kamar mandi, menunggu hasil testpack yang sudah dibawa masuk oleh Ayu.

“Ay, udah, belum? Lama banget?” seru Nanda sambil menatap daun pintu kamar mandi.

“Gimana nggak lama kalau kamu belikan testpack sebanyak ini?” sahut Ayu berseru.

“Pakai satu aja, Ay!”

“Lain kali, kamu belinya juga satu! Nggak usah buang-buang duit!” seru Ayu.

“Siap, Ibu Bendahara!” sahut Nanda sambil tersenyum. Ia tidak sabar menunggu Ayu keluar dan sangat berharap kalau istrinya itu bisa segera hamil. Kali ini, ia benar-benar merasa bahagia jika bisa menjadi seorang ayah sungguhan. Ia berjanji, tidak akan menyia-nyiakan anaknya seperti bagaimana Axel Noah saat berada dalam kandungan Ayu.

Ia benar-benar menyesal karena ia tidak pernah bisa menghargai apa yang sudah ia miliki di masa lalu. Jika waktu bisa kembali, ia ingin kembali ke titik di mana ia pertama kali mengenal Ayu dan menjatuhkan hatinya ke tempat terdalam yang ada di dalam diri Ayu. Sebab, cinta itu bukan melulu soal gengsi dan minder. Tapi tentang sebuah keberanian melawan keputusan semua orang yang menganggapnya bersalah, padahal itu adalah jalan terbaik yang ia pilih.

 

((Bersambung ...))

 

 

 

 

 


Bab 78 - Cinta Adalah Tentang Rasa Takut

 


“Saya terima nikah dan kawinnya Raden Roro Ayu Rizki Prameswari binti Raden Mas Edi Baskoro Hadiningrat dengan mas kawin uang tunai sebesar lima ratus ribu dollar dibayar tunai ...!” ucap Nanda tegas sembari menjabat tangan penghulu yang membimbing hari pernikahannya dengan Roro Ayu.

SAH!

SAH!

SAH!

“Alhamdulillah ...!”

Semua orang ikut tersenyum lega saat Nanda bisa mengucapkan ijab kabul dengan baik di hadapan penghulu yang menikahkannya dengan Ayu.

Air mata Ayu menetes perlahan. Meski ini pernikahan yang kedua kalinya, tapi ia tetap saja tidak bisa menahan rasa haru ketika Nanda benar-benar mengucapkan ijab kabul dari hatinya sendiri. Bukan dengan cara terpaksa seperti yang sudah terjadi pada pernikahan sebelumnya.

Bunda Rindu langsung memeluk tubuh Ayu dan menangis sesenggukan. Banyak hal yang telah membuat puterinya itu sakit dan Ayu tetap memilih untuk mencintai Nanda. Hati seorang wanita bisa begitu sabar dan setia pada pria yang pernah menyakiti. Dan ia kagum pada puterinya sendiri karena mau membuka hati dan memberikan kesempatan untuk Nanda, pria yang pernah menghancurkan kehidupannya di masa lalu dan menciptakan dendam antara keluarga ini.

“Ay, selamat, ya ...!” ucap Nadine sambil tersenyum meski air matanya ikut menetes. “Semoga kalian selalu bahagia, langgeng sampai maut memisahkan!”

Ayu mengangguk sambil memeluk erat tubuh Nadine. “Makasih banyak, Nad. Kamu udah jauh-jauh mau datang ke acara pernikahan aku.”

Nadine mengangguk sambil tersenyum manis. Ia mengusap air mata Ayu yang membasahi pipi indah itu. “Ini hari bahagia kamu. Jangan nangis, ya!” ucapnya.

Ayu mengangguk sambil tersenyum manis. Ia menoleh ke arah Nanda yang sudah berdiri tersenyum sambil menatapnya.

Nanda mengulurkan telapak tangannya ke arah Ayu dan merangkul mesra pinggang wanita itu. “Ay, terima kasih sudah bersedia kembali menjadi istriku, menjadi calon ibu dari anak-anakku kelak,” ucapnya sembari mengecup punggung tangan Ayu. Ia beralih mengecup kening Ayu dan menjalankan bibirnya hingga bermuara ke bibir lembut wanita itu.

Ayu memejamkan mata perlahan. Merangkul pundak Nanda sembari menikmati sentuhan lembut pria itu bersama iringan musik piano yang begitu romantis dan nyaman di telinganya.

Beberapa jam kemudian, tamu-tamu undangan sudah mulai kembali ke rumah mereka masing-masing.

Nanda mengempaskan tubuhnya ke kursi pengantin sambil bernapas lega karena para tamu sudah pergi dan ia bisa segera menikmati malam pengantinnya berdua dengan Ayu saja. “Akhirnya ... kelar juga. Pegel banget!” keluhnya.

“Udah waktunya istirahat. Aku ke kamar duluan, ya! Masih harus bersihin make-up dulu sama tim WO,” tutur Ayu sambil menatap wajah Nanda.

Nanda mengangguk. Ia membiarkan Ayu pergi ke kamar pengantin mereka. Sementara, ia memilih untuk bergabung di meja sang papa dan ayah mertua yang sedang sibuk membicarakan bisnis dan terlihat sangat akrab.

Beberapa menit kemudian, Nanda memilih untuk berpamitan karena tubuhnya sudah sangat lelah dan matanya terserang kantuk berat.

“Sudah pernah malam pertama, masa ya masih buru-buru?” goda Edi Baskoro sambil menatap tubuh Nanda yang baru saja bangkit dari kursi.

“Hehehe. Ini bukan masalah malam pertama, Ayah. Masalahnya, aku memang sudah lelah duduk di pelaminan seharian,” ucapnya. Ia menunduk hormat dan segera pergi ke kamar Ayu yang ada di dalam keraton tersebut.

Nanda mengerutkan dahi saat masuk ke kamar Ayu dan tak menemukan siapa pun di sana.

“Ay ...! Ayu ...!” panggil Nanda sambil melangkah menyusuri setiap inchi lantai ruang kamar Ayu yang besar. Matanya langsung teralihkan pada kain putih yang tersangkut di jendela dan tercium bau anyir darah. Buru-buru, ia menyalakan semua lampu dan menatap potongan gaun pengantin milik Ayu sudah berlumuran darah.

“Ay, kamu di mana!?” teriak Nanda. Ia langsung membuka pintu jendela kamar Ayu dan bercak darah juga ada di sekitar luar bangunan itu. Dengan cepat, Nanda berlari keluar dari dalam kamar sembari membawa potongan gaun milik Ayu yang penuh darah.

“Ayah ...! Tolong ...!” Nanda menghampiri Edi Baskoro dan semua keluarga yang ada di sana dengan napas tersengal.

“Ada apa?” tanya Edi Baskoro sambil menatap wajah Nanda.

“Ayu hilang,” jawab Nanda sambil berusaha mengatur napasnya. Ia menunjukkan kain potongan gaun pengantin di tangannya yang berlumuran darah. “Gaun pengantinnya berdarah. Apa ada penyusup yang masuk ke keraton ini dan membunuh istriku? Ayah, harusnya tempat ini aman ‘kan?”

Edi Baskoro melebarkan kelopak matanya dan bangkit dari kursi. Ia langsung memerintahkan seluruh pengawal istana untuk mencari keberadaan puteri mahkota mereka.

Nanda memukul tiang pilar dengan kesal sembari memeluk kain gaun milik Ayu. Perasaannya tak karuan melihat banyak darah yang tertinggal. Semua bayangan buruk tentang Ayu memenuhi otaknya hingga membuat lututnya tak bisa berdiri tegak.

“AARGH ...! Roro Ayu ... jangan tinggalin aku!” teriak Nanda histeris sambil memeluk potongan gaun pengantin Ayu seperti sedang memeluk seorang bayi mungil. Ia benar-benar takut kehilangan wanita yang baru ia nikahi beberapa jam lalu. Banyak hal yang telah mereka korbankan untuk bisa bersatu kembali dan Tuhan masih saja membuat mereka harus berpisah dengan cara yang begitu keji.

Nanda terus menangis sesenggukan di halaman dalam keraton tersebut dan tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi kemungkinan buruk yang terjadi pada istrinya itu. Ia benar-benar tidak siap kehilangan karena belum sempat membuat wanitanya itu hidup bahagia.

Sementara itu ... dari lantai tiga menara keraton tersebut. Sepasang mata Ayu menikmati tubuh Nanda yang sedang meratap karena kehilangan istrinya.

“Ay, lucu ‘kan? Mampus tuh Nanda! Hihihi.” Rocky terkekeh geli sambil menatap kamera video di ponselnya yang sudah aktif sejak tadi.

“Sonny, Okky, Nadine ...! Aku nggak tega lihat Nanda kayak gitu. Kalian ngerjainnya keterlaluan tahu,” ucap Ayu sambil menatap wajah beberapa groomsman dan bridesmaid yang bersamanya.

“Sst ...! Biarkan dulu! Sampai kita puas nontonin wajah payah dia,” sahut Rocky sambil menahan tawa. “Son, Sonny ...! Udah disiapkan kembang apinya?”

Sonny mengangguk. Ia dan beberapa saudara sepupu Ayu, sudah bersiap meledakkan kembang api di tangan mereka masing-masing.

“Aku hitung mundur, ya!” ucap Rocky dengan suara setengah berbisik. “Tiga ... dua ... satu ...!”

DUAR ...!

DUAR ...!

DUAR ...!

Percikan indah kembang api tiba-tiba menghiasi tempat tersebut. Di saat bersamaan, lampu-lampu di sekitar menara menyala terang satu per satu dan tubuh Ayu yang masih dibalut gaun pengantin, terlihat begitu jelas dada di atas sana.

Nanda langsung menengadahkan kepalanya menatap menara keraton yang ada di sana. “AYU ...!” teriaknya sambil mengucek matanya sendiri. “Itu Ayu atau bukan, sih? Aku nggak halusinasi ‘kan?” gumamnya.

Ayu tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya ke arah Nanda.

Nanda langsung tersenyum lebar. Ia langsung berlari menghampiri menara tersebut dan naik ke atas dengan cepat. Menghampiri Ayu yang berada di balkon lantai tiga menara bersama para pendamping pengantin.

“Ay, ini beneran kamu ‘kan?” Nanda langsung memeluk erat tubuh Ayu dan memeriksa seluruh tubuh wanita itu. “Gaun kamu nggak rusak?”

Ayu menggelengkan kepala sambil tersenyum manis. “I’m fine and wanna be with you.”

“Ini ...?” Nanda menunjukkan potongan gaun pengantin yang sudah berlumuran darah.

“Sengaja kami siapkan buat ngerjain kamu,” jawab Nadine sambil tersenyum manis.

“Kalian ...!?” Nanda mendengus kesal ke arah semua pendamping pengantin yang berhasil mengerjai dirinya. “Kalian sukses bikin pengantin nggak bisa hidup lagi, ya!” umpatnya kesal sambil melemparkan potongan gaun berlumuran darah itu ke bawah menara begitu saja.

Nanda langsung memeluk erat tubuh Ayu. Mengangkat dan memutarnya dengan gembira. “Aku udah takut banget kehilangan kamu, Ay. Lain kali, bercandanya jangan kayak gini. Ini nggak lucu!”

“Lucu, Nan. Aku lihat muka kamu nangis, lucu banget! Asli. Ini lucu!” sahut Rocky sambil menunjukkan rekaman video yang ia ambil.

“Hapus, nggak!?”

“Nggak. Weee ...!” Rocky menjulurkan lidah dan bergegas berlari dari tempat tersebut bersama dengan yang lainnya.

Nanda tersenyum kecil dan menggenggam kedua tangan Ayu. “Ay, aku bener-bener takut kehilangan kamu. Demi apa pun, kamu nggak boleh pergi atau mati sebelum aku bisa membahagiakan kamu. Oke?”

Ayu mengangguk sambil tersenyum manis. Ia mengecup lembut bibir Nanda dan pria itu membalasnya penuh kehangatan. Hari ini ... ia merasa menjadi wanita yang sempurna karena berhasil membuat Nanda, menangis sesenggukan saat kehilangan dirinya.

Mereka ingin, cinta bisa terus seperti ini. Bisa terus merasa takut. Sebab, cinta adalah tentang rasa takut. Takut kehilangan, takut tak bisa membuat bahagia, takut berada jauh di sisinya dan takut menjadi lebih buruk dari hari ini.

 

 

((Bersambung...))

 

 

Terima kasih sudah menjadi sahabat setia bercerita!

Ada yang request malam pertama mereka untuk ditulis?

Kalau nggak ada, author skip-skip aja, ya!

Hehehe.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 


Bab 77 - Sebelum Pernikahan

 



Jalanan kota Solo yang basah oleh embun pagi, mulai menghangat dan langkah kaki penghuni kota itu mulai ramai. Keraton Kesultanan Surakarta dan masyarakat di sekelilingnya disibukkan dengan persiapan pernikahan Puteri Mahkota keraton tersebut.

“Bunda, apakah pernikahanku harus seberlebihan ini?” tanya Ayu sambil menatap wajah Bunda Rindu.

Bunda Rindu tersenyum sambil merangkul tubuh Ayu. “Bunda tahu, kamu selalu menyukai hal yang sederhana. Tapi ini semua keinginan masyarakat sekitar. Mereka sangat mengenalmu dan meminta untuk mengadakan pesta rakyat. Ay, kamu ini puteri mahkota di keraton ini. Saat ayahmu tutun tahta, kamu dan keturunanmu yang harus menggantikannya. Semua warga di sini mencintai dan membutuhkanmu. Jangan kecewakan mereka, ya!” ucapnya lembut.

Ayu mengangguk. Ia mengedarkan pandangannya menatap begitu banyak abdi dalem dan masyarakat sekitar yang antusias menyambut pesta pernikahannya.

“Aku dengar, calon suami Ndoro Puteri itu orang biasa saja. Bukan dari keluarga bangsawan. Kalau gitu, rakyat jelata seperti kita juga punya kesempatan mempersunting wanita dari keluarga bangsawan,” ucap salah seorang pria yang berdiri membelakangi Ayu sambil memperbarui cat tembok keraton tersebut.

“Ndul, memang bukan dari keluarga bangsawan, tapi dari keluarga pengusaha kaya raya. Kamu ndak lihat undangannya itu namanya bagus banget? Perdanakusuma. Yang namanya kusuma-kusuma gitu, mesti bukan orang-orang biasa,” sahut pria di sebelahnya lagi.

Ayu menahan tawa mendengar ucapan orang-orang di sekelilingnya yang sibuk membicarakan dirinya.

“Kakak Ayu ...!” seru beberapa anak kecil yang berlari berhamburan menghampiri Ayu dengan setangkai mawar merah di tangan mereka masing-masing. “Selamat menempuh hidup baru! Semoga bahagia dan selalu sayang kami semua!” ucap mereka serentak.

Ayu tersenyum sambil berjongkok menatap anak-anak kecil yang mengulurkan bunga mawar untuknya. “Anak-anak pintar. Siapa yang suruh kalian ke sini?” tanya Ayu.

“Kakak itu ...!” Mereka semua langsung menunjuk serentak ke arah Nanda yang sudah berdiri di seberang jalan. Jelas sekali senyum di bibirnya merekah indah menatap Ayu dari kejauhan.

Ayu langsung tersenyum lebar sambil menatap Nanda yang berdiri di seberang sana. Besok, mereka akan melangsungkan pernikahan. Nanda dan keluarga besarnya sudah bersiap dan tinggal di salah satu hotel yang letaknya tak jauh dari keraton tersebut. Karena ini adalah pernikahannya yang kedua, Ayu tidak harus menjalani tradisi pingitan yang begitu tertutup. Ia masih bisa menikmati udara segar di luar, hanya saja tidak boleh bertemu secara langsung dengan pria itu.

Bunda Rindu menghela napas melihat Ayu dan Nanda yang saling melambaikan tangan meski posisi mereka berada di seberang jalan. “Ayu, baru berapa hari nggak ketemu sama dia, udah kangen?”

Ayu menoleh ke arah Bunda Rindu. “Bunda bisa aja. Oh ya, Nadine bakal datang ke acara pernikahan aku atau nggak, ya?”

“Kamu udah kabari dia?” tanya Bunda Rindu balik sambil merangkul lengan Ayu dan membawa puterinya itu masuk ke dalam keraton.

Ayu terus menoleh ke belakang meski langkah kakinya maju ke depan. Ia menatap Nanda yang terlihat begitu kecewa karena Bunda Rindu membawanya masuk.

“Bunda, Ayu boleh ketemu Nanda sebentar aja?” tanya Ayu.

“Nggak usah. Besok juga ketemu,” jawab Bunda Rindu sambil melangkahkan kakinya.

“Tapi ... kasihan dia yang udah jauh-jauh datang ke sini, Bunda.”

“Biarkan saja! Dia sudah sangat rindu padamu, Ay. Lihat saja wajahnya! Kalau kamu menemuinya hari ini, besok wajahnya akan biasa saja karena rindunya sudah terobati,” ucap Bunda Rindu.

“Oh, gitu?” tanya Ayu sambil tertawa kecil. “Leluhur memang sengaja menyiksa generasi penerusnya?”

Bunda Rindu terkekeh mendengar ucapan Ayu. “Dua orang yang saling mencintai, ada kalanya harus berpisah. Supaya tahu bagaimana cara mengungkapkan rindu saat bertemu.”

“Bunda sama ayah juga dulu seperti itu?” tanya Ayu sambil menatap wajah Bunda Rindu.

Bunda Rindu menganggukkan kepala. “Bunda harus dipingit selama empat puluh hari sebelum pernikahan. Tidak boleh bertemu dan berkomunikasi dengan ayahmu. Kamu bayangkan sendiri gimana rasanya? Pasti kangen banget ‘kan?”

Ayu mengangguk sambil tertawa kecil. Ia terus bercengkerama bersama sang bunda. Menceritakan banyak hal tentang masa lalu dan detail pernikahan Ayu agar semuanya terlihat sempurna, tidak mengecewakan semua orang yang akan datang ke pesta tersebut.

 

...

 

Keesokan harinya ...

Nanda menarik napas dalam-dalam sambil menatap dirinya di depan cermin. Setelan jas warna cream dengan lis warna cokelat, sudah ia kenakan dan membuat tampilannya jauh lebih segar dari biasanya.

“Udah siap?” tanya Nia sambil melangkah masuk ke dalam kamar Nanda.

Nanda mengangguk. “Gimana? Ganteng, nggak?”

“Ganteng, dong!” ucap Nia sambil tersenyum menatap wajah Nanda.

Nanda tersenyum lebar dan merapikan kembali jasnya yang sudah rapi.

“Nan, kamu jaga baik-baik pernikahanmu kali ini, ya!” pinta Nia sambil menyentuh lengan Nanda.

Nanda mengangguk sambil tersenyum menatap Nia.

“Baik atau buruknya rumah tangga, semua tergantung suami sebagai pemimpin. Kalau istri salah, ingatkanlah dan kembalikan ke jalan yang baik. Kalau kamu yang salah, kamu harus berani untuk mengakui dan meminta maaf,” ucap Nia sambil menatap wajah Nanda. “Kamu boleh egois di depan semua orang, tapi tidak boleh egois demi kebaikan rumah tanggamu di masa depan.”

“Iya, Ma. Aku pasti ingat semua nasehat Mama,” balas Nanda sambil mengecup pipi Nia. Ia merangkul tubuh wanita yang telah melahirkannya itu dan bergegas keluar dari kamar hotel tersebut.

Nia tersenyum bangga menatap Nanda yang kini telah banyak berubah. Ada hal yang tidak bisa dikendalikan dengan ucapan. Ada keburukan yang tidak bisa diubah hanya dengan nasehat. Roro Ayu, telah mengubah hidup puteranya dengan rasa sakit bertubi-tubi. Menjatuhkan keluarga mereka sejatuh-jatuhnya, tapi tetap menerima semua sifat buruk Nanda ... kemudian mencintainya lagi.

Nanda tersenyum sambil menatap semua orang yang sudah bersiap mengantarkannya memasuki keraton tempat Ayu dilahirkan. Mobil-mobil sudah dihias dengan bunga khas pengantin di depannya dan semua orang sudah menyiapkan banyak hadiah mahal untuk keluarga mempelai wanita.

Mereka semua bergegas pergi menuju Keraton Kesultanan Surakarta. Keraton yang hampir tidak pernah dibuka dan tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Tapi kali ini ... para tamu undangan masuk ke dalam keraton tersebut. Juga dengan masyarakat sekitar, meski dengan pengawalan ketat.

“Nan, aku nggak nyangka kalau cowok brengsek kayak kamu bisa dapetin tuan puteri dari keluarga bangsawan kayak gini,” bisik Rocky yang ikut mengantarkan Nanda ke acara pernikahannya.

“Emang sekarang lagi nge-trend menikahi wanita dari anak orang kaya raya. Biar ikutan kaya juga,” sahut Angga yang juga ada di sana.

“Apalagi kalau hamilin anaknya orang kaya, udah pasti dinikahkan,” sambar Sonny lagi.

“Tapi anak orang kaya yang lemah. Jangan anak orang kaya yang kuat! Yang ada, kita malah dihancurin. Tinggal nama doang, hahaha.” Okky tergelak sambil merangkul Sonny yang ada di sana.

“Hahaha. Hancur satu burung dan dua telurnya!” Angga menimpali.

“Kalian ini apaan, sih!? Calon pengantinnya dikata-katain! Nyesel aku milih kalian jadi groomsman!” seru Nanda sambil menahan kesal.

“Hahaha.” Rocky dan yang lainnya tergelak mendengar ucapan Nanda. Mereka kembali memasang wajah serius saat pintu besar aula utama keraton tersebut terbuka dan mereka semua disambut dengan tari-tarian tradisional yang sudah disiapkan untuk menyambut kedatangan pengantin pria.

Nanda langsung tersenyum lebar saat melihat Roro Ayu sudah berdiri di atas pelaminan yang berada beberapa meter darinya. Melihat wanita itu dari kejauhan saja, sudah berhasil membuat senyum di bibirnya merekah.

“Ya Tuhan, ternyata istriku cantik banget!” gumamnya dalam hati dengan perasaan tak karuan. Meski berusaha untuk terlihat biasa saja, rasa gugupnya tetap tak bisa disembunyikan dari mata semua orang. Terlebih, keringat menetes perlahan dari sudut-sudut keningnya meski aula megah itu sudah full AC.

 

 

 

((Bersambung...))

Karena Roro Ayu nggak demen pakai make-up dan selalu natural. Nanda sampai nggak menyadari kalau istrinya itu aslinya cantik banget! Hihihi

 

Oh ya, kalian mau sumbang ide permainan apa untuk hari pernikahan mereka biar seru? Komen di bawah, ya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas