Wednesday, February 26, 2020

Rindu Lukisan Batu Dinding



Meski tidak pernah berkunjung secara langsung. Aku tahu kalau Batu Dinding yang terletak di Km.45 Samboja ini sangat indah.
Oleh karenanya aku berusaha mengabadikannya ke dalam lukisan.
Walau lukisanku belum sebagus lukisan seniman-seniman lain.

Apa adanya yang bisa aku buat untuk kenang-kenangan.

Sayangnya, lukisan ini sudah berganti pemilik dan aku hanya bisa mengabadikannya dalam bentuk foto sebagai kenang-kenangan.





Masjid Hidayatul Amin - 35 Tahun Berdiri, Baru Pertama Kali Dikunjungi Bupati Kutai Kartanegara



Minggu, 23 Februari 2020. Menjadi hari bersejarah bagi warga Desa Beringin Agung, khususnya bagi jamaah Masjid Hidayatul Amin. Pasalnya, Masjid yang sudah berdiri sejak awal transmigrasi (1985) belum pernah dikunjungi oleh Kepala Daerah secara langsung.

Menurut penuturan warga, ini pertama kalinya Masjid Hidayatul Amin dikunjungi oleh Bupati Kutai Kartanegara ( Edy Damansyah ). Beliau memimpin langsung Safari Subuh. Masjid Hidayatul Amin menjadi masjid ke-130 yang dikunjungi oleh Bupati Edy Damansyah beserta rombongan dalam satu tahun terakhir.


Acara Safari Subuh ini dimulai dengan sholat subuh berjamaah. Kemudian, diisi dengan sambutan dari Kepala Desa Beringin Agung (Kusnadi) dan Bupati Kukar (Edy Damansyah). Kami juga mendengarkan kuliah subuh yang disampaikan oleh Ustadz Harun Ar-Rasyid.
Bapak Edy Damansyah juga memberikan bantuan kepada takmir masjid berupa Al-Qur'an, Mukenah dll.

Setelah selesai sholat berjamaab dan mendengarkan siraman rohani sejenak, acara ditutup dengan ramah tamah. Para jamaah sudah menyiapkan kopi dan kudapan untuk dinikmati bersama.



Friday, February 21, 2020

Bukan Ditolong, Malah Diketawain

Tepat jam 08:30 WITA, akhirnya si kecil terlelap setelah seharian bermain dan tidak punya waktu untuk tidur siang.
Aku merasa sangat senang saat Livia mau bermain dengan teman-teman sebayanya. Hanya saja, aku sedikit cerewet saat pakaiannya mulai kotor. Aku paling tidak suka dia bermain kotor. Bukan karena pakaian yang kotor sulit untuk dibersihkan, tapi karena dia selalu menangis karena tubuhnya gatal-gatal usai bermain kotor. Terlebih, saat ada acara, mamanya sibuk rewang dan anaknya tidak terlalu terperhatikan. Tapi, aku selalu berusaha mengawasi Livia agar tidak bermain pasir atau tanah berlebihan. Selain tubuhnya yang gatal-gatal usai bermain. Aku juga merasa menjadi ibu yang tidak becus jika membiarkan anakku tak terurus. Sekali pun sibuk, aku sesekali mengecek kondisi anakku.

Terkadang, dia yang datang menghampiriku ketika menginginkan sesuatu. Misalnya, minta makan, minum atau ingin ke toilet.

Seharian, ia bermain dengan teman-temannya. Sementara, mamanya sibuk di dapur membantu tuan rumah yang sedang melaksanakan hajatan. Otomatis, aku tidak bisa mengawasi Livia secara instens. Asal dia tidak menangis, artinya ia masih baik-baik saja.

Siapa sangka, kalau ternyata ada cerita yang begitu menyentuh di balik permainan anak-anak itu. Aku bahkan tidak tahu jika Livia tidak bercerita saat ia minta diantar buang air kecil ke toilet.

Usai buang air kecil, Livia langsung berkata,"Ma, tadi aku jatuh di depan."
"Oh ya? Sakit nggak? Ada yang lecet atau nggak?" tanyaku pada Livia.
"Nggak lecet. Tapi tulangku sakit," jawab Livia sambil memegangi pinggangnya.
"Tapi nggak nangis kan?" tanyaku lagi.
Livia menggelengkan kepala. "Nggak. Tapi aku malah diketawain sama temen-temen," jawabnya kesal sambil berlinang air mata.
"Masa sih? Nggak ada yang nolongin?"
"Nggak ada," jawab Livia sambil menggeleng sedih.
"Duh, kasihannya anak Mama," ucapku sambil mengusap ujung kepala Livia.
Livia terlihat murung karena saat jatuh, ia justru ditertawakan oleh teman-temannya. Kemudian, aku teringat pada materi di sekolahnya tentang penerapan sikap saling tolong menolong, tentang perbuatan baik dan tidak baik. Aku langsung bertanya pada Livia.
"Di sekolah. Diajarin apa kalau ada teman jatuh? Diketawain atau ditolongin?"
"Ditolongin," jawab Livia lirih.
"Kalau gitu, teman-teman Livia anak yang baik atau nggak?"
"Nggak," jawab Livia sambil menggeleng.
"Anak yang nggak baik nggak boleh diikutin ya!" pintaku.
Livia menganggukkan kepala.
"Nanti, kalau ada teman yang jatuh, Livia harus tolongin ya! Nggak boleh diketawain. Kan katanya Livia mau jadi anak baik, kan?"
Livia menganggukkan kepala.
"Kasih tahu juga sama teman-teman yang lain. Kalau ada teman jatuh, harus diapain?" tanyaku untuk memastikan Livia mendengarkan nasehatku.
"Ditolongin."
"Iya, bener. Nggak boleh diketawain ya! Karena anak baik harus selalu menolong," pintaku sambil tersenyum.
Livia menganggukkan kepala.
"Gitu dong! Baru anaknya Mama yang baik. Cium dulu!" pintaku sambil menyodorkan pipiku ke arah Livia.
Livia langsung mencium pipiku dan kami keluar dari toilet bersama-sama.

Ada satu hal yang aku pelajari dari obrolan kecil ini. Mendidik anak menjadi baik memang tidak mudah. Tapi, sebagai orang tua kita harus berusaha menjadikan anak kita selalu berbuat kebaikan. Sekalipun lingkungan sekitar tidak mengajarkan hal yang baik. Terlebih, yang membuatnya peka terhadap keadaan sekitar adalah praktik langsung di kehidupan sehari-hari. Di sekolah, Livia diajarkan menjadi anak yang baik, bertanggung jawab, saling tolong-menolong dan berbagi.

Oleh karenanya, sebagai orang tua, aku harus selalu mengingatkan dan menerapkan pelajaran moral yang diberikan di sekolahan. Tidak hanya di-aplikasikan ketika berada di sekolah. Tapi juga bisa diterapkan di dalam kehidupan sehari-sehari agar anak terbiasa dengan kepribadian yang baik.

Aku juga tidak mengerti, sejak kapan budaya "Tertawa di saat teman jatuh" menjadi salah satu kebiasaan orang-orang di Indonesia. Tapi, sejak aku kecil pun sudah merasakan hal seperti itu. Akhirnya, muncul sikap saling bully karena kebiasaan dari kecil. Terlebih, saat masih kecil, ada anak yang sering melakukan kesalahan dan terlihat ceroboh. Karena setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Aku hanya berharap, Livia bisa melihat setiap hal dari sudut pandang yang berbeda. Tentunya adalah sudut pandang yang positif. Karena kebiasaan akan menjadi budaya yang secara tidak sadar dapat menumbuhkan moral negatif pada diri anak kita sendiri. Andai aku tidak memberikan pengertian yang baik pada Livia. Mungkin, ia terus berpikir kalau ada teman terjatuh, ia akan tertawa. Karena itu menjadi salah satu kebiasaan di lingkungan teman sepermainan dan tidak lagi dianggap sebagai hal yang buruk alias masih wajar-wajar saja. Tapi bagiku, pola pikir Livia sejak ia masih kecil, akan berpengaruh pada saat ia sudah dewasa nanti. Saat ini, yang paling penting adalah bisa membedakan perbuatan baik dan buruk. Membuatnya selalu ingin menjadi anak yang baik, bukan memilih menjadi anak yang nakal karena terlihat jauh lebih hebat. Sebab, masih ada jalan mulia yang bisa ia tempuh untuk menjadi anak yang hebat. Tidak harus menang berkelahi, tidak harus terlihat paling kuat. Yang terpenting, dia bisa bersikap baik dan terus berprestasi. Sebab, tidak semua orang bisa menanamkan rasa empati ke dalam hati anak-anaknya sejak dini.

Oke, cukup di sini aja tulisan dari aku. Semoga bisa menjadi sebuah pelajaran kecil untuk kita sebagai orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Karena waktu sudah malam dan sudah ngantuk, aku akhiri sampai di sini sebelum ceritanya makin ngelantur. Hahaha ...

Jangan lupa follow dan sibscribe blog aku ya!
Semoga bisa menginspirasi dan memberikan pelajaran berharga untuk kita semua ... aamiin ...

Tuesday, February 18, 2020

Peduli Terhadap Lingkungan, Mamuja Manfaatkan Sampah Gelas Air Mineral


Mamuja bukan hanya sebuah komunitas kreatif yang menghasilkan karya dan uang. Tapi, sebagai bagian dari penerapan Literasi Finansial di taman baca. Mamuja memiliki peranan penting terhadap lingkungan sekitar. Salah satunya ialah menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungannya.

Dalam beberapa kegiatan di taman baca dan kegiatan desa. Mamuja menjadi salah satu komunitas yang berperan aktif dalam pengembangan sumber daya manusia. Selain melatih kreatifitas di dalam komunitas, Mamuja juga memiliki kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitar, baik di bidang pendidikan maupun di bidang lingkungan hidup.



Kami percaya, bahwa komunitas kecil seperti kami tidak menutup kemungkinan bisa melakukan hal-hal besar. Selain berada di daerah pelosok, komunitas ini juga memiliki banyak keterbatasan. Namun, keterbatasan dan kekurangan itu tidak menyurutkan semangat ibu-ibu untuk konsisten berkarya. Terbukti, sudah setahun komunitas Mamuja terbentuk dan telah menghasilkan banyak karya.

Minggu lalu, kami juga membuat sebuah karya daur ulang dari kantong plastik bekas untuk dijadikan bunga. Dari satu buah kantong plastik ukuran besar, bisa menjadi lima tangkai bunga. Pot yang kami gunakan juga menggunakan daur ulang kertas bekas.

Minggu ini, ibu-ibu kreatif berkumpul untuk membuat sebuah karya daur ulang dari barang bekas sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan sekitar.  Pertemuan minggu ini, kami membuat lampion dari sampah gelas mineral. Untuk bisa menjadikan satu buah lampion, kami membutuhkan sekitar 166 buah gelas plastik bekas. Itu setara dengan 4 dus air mineral yang berisi 40 gelas. Artinya, dari satu karya lampion, Mamuja sudah membantu mengurangi volume sampah sebanyak 4 dus. Tentunya, hal ini dapat membantu mengurangi volume sampah yang ada di masyarakat.

Pemanfaatan barang bekas ini, merupakan salah satu kegiatan sosial sekaligus membantu mengkampanyekan cinta lingkungan. Mamuja berharap, kegiatan ini bisa menginspirasi setiap ibu rumah tangga dan keluarga untuk memanfaatkan sampah di sekitarnya menjadi barang yang memiliki nilai guna. Sehingga, masyarakat bisa lebih ramah lingkungan mengingat sampah plastik merupakan sampah yang sulit terurai.

Mencintai lingkungan, bisa dimulai dari hal kecil dan dari diri kita sendiri ...



Salam literasi,




Wednesday, February 12, 2020

MATERI DASAR POKJA III


MATERI DASAR POKJA III
Pokja III mengelola program Pangan,Sandang,Perumahan dan Tata LaksanaRumah Tangga.
A.    TUGAS :
1.      Mengupayakan ketahanan keluarga di bidang pangan sesuai dengan UU No.7 Tahun 1996 tentang Pangan.
2.      Meningkatkan penganekaragaman tanaman pangan dalam upaya peningkatan gizi keluarga menuju keluarga yang berkualitas.
3.      Menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi makanan yang Beragam,Bergizi Seimbang,dan Aman ( B2SA ),yang aman dan berbasis sumber daya lokal.
4.      Mengusahakan pemanfaatan lahan baik darat maupun air,minimal untuk pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.
5.      Berperan dan membantu dalam program Cadangan Pangan Masyarakat.
6.      Memantapkan Gerakan Halaman,Asri,Teratur,Indah dan Nyaman (HATINYA) PKK
7.      Memanfaatkan Teknologi  Tepat Guna (TTG) dalam upaya meringankan beban kerja sehingga hasilnya lebih efektif dan efisien.
8.      Membudayakan Aku Cinta Makanan Indonesia dan Aku Cinta Produksi Indonesia sehingga menuenumbuhkan rasa bangga.
9.      Mensosialisasikan pola pangan 3B untuk keluarga khususnya bagi balita dan lansia.
10.  Meningkatkan penggunaan bahan sandng dalam negeri serta mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas produksi dan pemasarannya.
11.  Mengembangkan kreatifitas Usaha Kecil Mikro (UKM) dengan berbagai produk busana,cinderamata khas daerah untuk menunjang pariwisata.
12.  Mendorong terciptanya lapangan/kesempatan kerja di bidang jasa,sandang,pangan, dan perumaha.
13.  Memasyarakatkan rumah sehat dan layak huni sebagai upaya terwujudnya kualitas hidup keluarga.
14.  Memanfaatkan pemahaman tentang fungsi rumah sebagai tempat tumbuh kembang keluarga harminis.
15.  Meningkatkan jalinan kerjasama dengan institusi terkait.
16.  Melaksanakan PMT-AS(Penyediaan Makanan Tambahan Anak Sekolah)terkoordinasi dan terpadu.
17.  Sosialisasi program nasional Gerakan Memasyarakatkan Makanan Ikan (GEMARIKAN)dalam rangka mencerdaskan bangsa.
18.  Melaksanakan Program Nasional Gerakan Perempuan,Tanam,Tebar dan Pelihara Pohon untuk mengantisipasi perubahan iklim yang berdampak pada ketahanan pangan keluarga.
19.  Menjaga kelestarian hutan.
B.     PRIORITAS PROGRAM
1.      Pangan:
a.      Mewujudkan Ketahanan Pangan Keluarga melalui penganekaragaman pangan yang bergizi sesuai potensi daerah.
b.       Peningkatan pangan keluarga sehari-hari dengan mendorong terciptanya sikap dan perilaku masyarakat melalui penganekaragaman makanan dengan menerapkan pola pangan 3B(beragam,bergizi,berimbang)sesuai potensi daerah.
c.       Mewaspadai terjadinya keracunan pangan,mulai dari menanam,memilih,mengolah sampai terhidangnya makanan,menghindari bahan tambahan makanan yang berbahaya,antara lain:zat pewarna,bahan pengawet,produk kadaluwarsa,dan penggunaan pestisida.
d.      Meminimalkan budaya/tradisi pangan yang merugikan kesehatan misalnya orang hamil/balita banyak pantang makanan.
e.      Mengoptimalkan HATINYA PKK dengan tanaman pangan dan tanaman produktif/keras (bernilai ekonomis tinggi),minimal untuk memenuhi keperluan dan tabungan keluarga serta meningkatkan Tanaman Obat Keluarga(TOGA).
f.        Mengembangkan industri pangan rumah tangga dan mengadakan penyuluhan,orientasi dan pelatihan untuk menunjang pemasaran.
g.      Mengadakan lomba masak secara berjenjang guna meningkatkan kreativitas cipta makanan.
h.      Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna(TTG)untuk menunjang usaha agrobisnis,hortikultura,tanaman buah,perikanan,peternak dan lain-lain untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi dalam mencapai taraf hidup dan kesejahteraan keluarga.
i.        Menyempurnakan dan sosialisasi buku peran PKK Dalam Mendukung Gerakan Percepatan Keanekaragaman Konsumsi Pangan.
2.      Sandang :
a.      Mengupayakan adanya hak paten untuk melindungi hak cipta desain.
b.      Mengupayakan keikutsertaan dalam pameran dalam pameran dan lomba baik tingkat lokal,nasional dan internasional.
c.       Mengadakan kerja sama dengan para desainer,pengusaha,industri sandang dan pariwisata.
d.      Membudayakan masyarakat perilaku berbusana sesuai dengan  moral budaya Indonesia dan meningkatkan kesadaran masyarakat mencintai produksi dalam negeri (Aku Cinta Produksi Indonesia).
3.      Perumahan dan Tata Laksana Rumah Tangga:
a.      Menumbuh kembangkan kembali Program Pemugaran Perumahan dan Lingkungan Desa Terpadu ( P2LDT ) melalui pemugaran rumah layak huni terutama keluarga miskin dan pengungsi dengan azas Tri Bina ( Bina usaha,Bina manusia dan Bina lingkungan ),gotong royong serta mengupayakan bantuan dari instansi/dinas terkait,bank,swasta,dan masyarakat.
b.      Meningkatkan pemasyarakatan tentang perumahan sehat dan layak huni serta menumbuhkan kesadaran akan bahaya bertempat tinggal di daerah tegangan listrik tinggi,bantaran sungai,timbunan sampah,tepian jalan rel kereta api dan menumbuhkan kesadaran hukum tentang kepemilikan rumah dan tanah.
c.       Pemasyarakatan dan pemanfaatan TTG dalam rumah tangga,sarana dan prasarana perumahan serta hemat energi dan mencegah pemborosan.
d.      Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang tata laksana rumah tangga dalam mengharmoniskan dan membahagiakan kehidupan keluarga.
e.      Meningkatkan penerapan pola hidup/perilaku bagi penghuni rumah susun.          




HATINYA PKK
Pengertian
                HATINYA PKK merupakan suatu gerakan masyarakat dengan memanfaatkan halaman disekitar rumah dengan tanaman pangan dan tanaman produktif/keras (bernilai ekonomis tinggi),minimal untuk memenuhi keperluan dan tabungan keluarga serta meningkatkan Tanaman Obat Keluarga( TOGA), tanaman hias yang berfungsi untukkeindahan dan kenyamanan rumah.

HATINYA PKK dapat terwujud melalui sarana gotong royong seluruh keluarga dengan mengoptimalkan Tanaman Pangan yang Produktif yang nantinya dapat bernilai ekonomis tinggi serta dapat juga digunakan sebagai tabungan.

Pemanfaatan halaman rumah
Halaman atau pekarangan disekitar rumah merupakan sebidang tanah yang mudah diusahakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemenuhan gizi melalui perbaikan menu keluarga.Halaman bisa difungsikan sebagai Lumbung Hidup,Warung Hidup,atau Apotik Hidup.
Halaman yang dikelola melalui pendekatan terpadu dengan berbagai jenis tanaman,ternak,dan ikan.Sehingga menjamin ketersediaan bahan pangan yang beranekaragam secara terus menerus,guna pemenuhan gizi keluarga yang dapat berupa :
1.      Lumbung hidup,yaitu pekarangan yang ditanami dengan tanaman yang mengandung karbohidrat (umbi-umbian,jagung,dll)secara segar.
2.      Warung hidup,sebagian dari lahan pekarangan dapat ditanami sayur-sayuran dan buah-buahan yang dapat kita manfaatkan setiap hari.
3.      Apotek hidup,sebagian pekarangan dapat ditanami tanaman Toga yang sewaktu-waktu dapat diperlukan sebagai pertolongan pertama apabila sakit.
4.      Peternakan,sebagian halaman dimanfaatkan untuk berternak kelinci dan unggas.
5.      Perikanan,sebagian halaman dimanfaatkan untuk budidaya ikan (lele,gurami,nila,dll).
6.      Tabungan ,sebagian halamanditanami dengan tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti kayu jati,kelapa,sengon,dll.

Peran TP PKK
Adapun peran pengurus PKK terutama kelompok dasawisma sangat penting dalam mewujudkan HATINYA PKK seperti :
1.      Mengadakan penyuluhan dalam kegiatan dan pertemuan PKK,baik dari tingkat Kecamatan,Desa,kelompok dalam upaya peningkatan rumah kurang sehat menjadi rumah sehat.
2.      Mengadakan pendataan rumah sehat dan kurang sehat.
3.      Meningkatkan pemanfaatan lahan pekarangan kepada warga masyarakat sehingga tercipta HATINYA PKK dalam peningkatan Rumah sehat.

PRIORITAS PROGRAM DAN KEGIATAN POKJA I



 PRIORITAS PROGRAM DAN KEGIATAN POKJA I

I.BIDANG PEDOMAN PENGHAYATAN DAN PENGAMALAN PANCASILA
       1. Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN)
           PKBN mencakup 5 (lima) unsur:
  • Kecintaan tanah air
  • Kesadaran berbangsa dan bernegara
  • Keyakinan atas kebenaran Pancasila
  • Kerelaan berkorban untuk Bangsa dan Negara serta
  • Memiliki kemampuan mengawal bela Negara
       2. Kesadaran Hukum (KADARKUM).
  KADARKUMadalah upaya untuk   meningkatkan pemahaman tentang peraturan perundang- undangan diprioritaskan di PKK   untukpencegahan PKDRT, Trafficking, Perlindungan Anak, NARKOBA Dan lain-lain. 

3. Pola Asuh Anak dan Remaja
Pola Asuh anak dan remaja adalah upaya untuk menumbuhkan dan membangun perilaku, budi pekerti, sopan santun didalam keluarga sesuai budaya bangsa.

4. Pemahaman dan Ketrampilan Hidup (Life Skill And Parenting Skill)
Pemahaman dan ketrampilan hidup adalah upaya menumbuhkan kesadaran orang tua dalam upaya pencegahan penyalahgunaan Narkoba.

5. Pemahaman tertib administrasi dalam rangka meningkatkan dan mewujudkan tertib administrasi kependudukan di keluarga.



II. BIDANG GOTONG ROYONG
1.Menumbuhkan kesadaran, kesetiakawanan sosial, bertenggang rasa dan kebersamaan serta saling menghormati antar umat beragama
2.Memberdayakan LANSIA agar dapat menjaga kesehatan fisik dan mental, kebugaran, keterampilan agar dapat melaksanakan kegiatan secara produktif dan menjadi teladan bagi keluarga dan lingkungannya.
3.Berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan bakti sosial, kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD).
4.Kegaitan-kegiatan Keagamaan (PHBI, GEMA)





Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas