Monday, June 8, 2026

Perfect Hero Bab 545 : Minta Uang Bellina

 


Bellina langsung merebahkan tubuhnya ke sofa begitu ia sampai ke rumah. Ia baru menyadari kalau mamanya tidak pernah menghubunginya setelah bercerai dengan papanya.

 

“Argh, bodo amat!” celetuk Bellina sambil memejamkan mata. Suasana hatinya yang sedang tidak baik membuatnya acuh tak acuh terhadap mamanya sendiri.

 

Ting! Tong!

 

Ting! Tong!

 

Bellina langsung menoleh ke arah pintu ketika bel rumahnya tiba-tiba berbunyi.

 

“Siapa yang ke sini malam-malam gini?” gumam Bellina sambil bangkit dari sofa. Ia melangkah tak bersemangat menuju pintu rumahnya.

 

“Malam, Bel ...!” sapa Melan begitu Bellina membukakan pintu untuknya.

 

“Mama!?” Bellina mengerutkan dahi begitu melihat mamanya sudah berdiri di depan pintu rumahnya.

 

Melan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. “Kenapa? Kamu heran lihat mama?”

 

“Mama nggak pernah hubungi aku semenjak bercerai sama papa. Aku heran aja, kenapa tiba-tiba ke sini malam-malam begini?” tanya Bellina.

 

Melan tersenyum sambil melangkahkan kakinya. Ia menatap wajah Bellina dan bertanya, “mmh ... mama boleh tahu, berapa harga rumah kamu ini?” tanya Melan.

 

“Kenapa?” tanya Bellina menyelidik. Ia mulai curiga dengan sikap Melan yang tiba-tiba menanyakan harga rumah. Padahal, ia sudah lama membeli rumah tersebut.

 

“Mama cuma pengen tahu aja harga rumah ini,” jawab Melan sambil menyentuh sofa ruang tamu menggunakan ujung-ujung jarinya.

 

“Cuma empat Milyar,” jawab Bellina sambil menatap wajah mamanya.

 

Melan langsung tersenyum dan menghampiri Bellina. “Bel, saat ini ... mama masih tinggal di hotel. Mama pengen beli rumah baru.”

 

“Beli aja,” sahut Bellina sambil melangkah menuju sofa dan duduk dengan santai.

 

Melan terus mendekati Bellina dan duduk di samping puteri kesayangannya itu. “Mama butuh uang, Bel. Kamu bisa kasih sedikit uang kamu untuk mama?”

 

“Uang untuk apa, Ma?” tanya Bellina balik.

 

“Untuk beli rumah baru, Bel. Mama nggak punya uang.”

 

“Mama baru aja cerai sama papa. Papa ngasih tunjangan perceraian ke mama ‘kan?”

 

Melan meringis mendapati pertanyaan Bellina. “Uang tunjangan dari papa kamu nggak seberapa. Sudah habis untuk keperluan sehari-hari mama.”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. “Suami baru mama, nggak kasih uang?”

 

“Dia baru aja keluar dari penjara. Belum dapet pekerjaan. Jadi, belum bisa menghidupi mama.”

 

“Kalau dia nggak bisa menghidupi mama, kenapa harus pilih dia?” tanya Bellina kesal.

 

“Bel, semua butuh waktu. Mantan narapidana seperti dia, sulit mendapatkan pekerjaan baru.”

 

“Lagian, kenapa mama lebih milih hidup sama laki-laki kotor itu daripada sama papa? Papa Rudi itu baik, Ma. Dia udah berjuang buat keluarga. Dia ngasih semua yang kita butuhkan. Dia bisa bikin mama hidup layak. Tapi, mama malah tega-teganya nyakitin papa!”

 

“Kamu pikir, mama bahagia hidup dengan pria yang tidak mama cintai dan tidak mencintai mama?” sahut Melan kesal.

 

“Oh ... ada hal lain yang bisa bikin mama lebih bahagia dari uang?” tanya Bellina. “Ya udah, mama hidup ada dengan cinta sama pria itu!”

 

“Bel, mama ke sini baik-baik. Kamu malah kayak gini sama mama. Kamu tega lihat mama menderita di luar sana, sementara kamu bisa tidur dengan enak dan tenang di rumah mewah kayak gini?”

 

Bellina terdiam. Ia juga tidak tega melihat mamanya hidup menderita di luar sana. Hanya saja, wajah Lonan membuatnya sangat kesal. Sampai kapan pun, ia tidak akan berdamai dengan pria asing yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya itu.

 

“Bel, mama sudah membesarkan kamu selama ini. Apa kamu nggak ingat gimana kamu bisa hidup selama ini. Semua yang kamu mau, selalu mama penuhi. Sekarang, mama cuma butuh sedikit uang kamu aja. Sebelumnya, mama nggak pernah minta uang sama kamu.”

 

“Uang mama tinggal sedikit, Bel. Cuma bisa bertahan sepuluh hari tinggal di hotel. Setelahnya, mama akan tinggal di mana kalau kamu nggak mau kasih mama uang buat beli rumah baru. Kamu mau lihat mama tidur di pinggir jalan?”

 

Bellina langsung menatap tajam ke arah Melan. Ia baru saja mendengar makian dari mama mertuanya. Sekarang, mamanya sendiri juga ikut berteriak di hadapannya. Hal ini membuat kepalanya semakin sakit.

 

“Kalau kamu nggak mau kasih uang mama, mama akan tidur di pinggir jalan. Biar semua orang tahu kalau anak mama yang kaya raya ini sudah membuang dan menyia-nyiakan mamanya sendiri!” ancam Melan.

 

Bellina langsung membelalakkan matanya. Ia tidak ingin mamanya semakin berulah, membuat keluarganya dan keluarga Wijaya malu karena perbuatan gila mamanya.

 

Melan tersenyum sambil menatap wajah Bellina. Ia sangat berharap kalau Bellina mengeluarkan uang untuk dirinya.

 

“Mama butuh berapa?” tanya Bellina.

 

“Nggak banyak, kok. Cuma dua milyar,” jawab Melan sambil tersenyum manis.

 

“Banyak banget!?” seru Bellina.

 

“Bel, mama butuh uang buat beli rumah baru. Kamu tega lihat mama tidur di jalanan? Biar semua orang tahu kalau anak dan menantu mama yang kaya raya ini sudah menelantarkan mamanya sendiri?”

 

“Aargh ...! Mama bikin kepalaku mau pecah. Ma, aku nggak punya uang sebanyak itu!” sahut Bellina kesal.

 

“Dua milyar itu nggak banyak, Bel. Kamu bisa dapetin dengan mudah dari suami atau papa kamu. Gaji kamu sebagai direktur di perusahaan, juga nggak kecil. Tabungan kamu pasti lebih dari empat kali lipat rumah ini ‘kan?”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. “Ma, mama pikir ... aku punya uang sebanyak itu? Seandainya ada, aku juga nggak akan pakai uangku untuk menghidupi mama dan pria kotor itu!”

 

Melan sangat kesal dengan sikap Bellina. Namun, ia tidak akan menyerah begitu saja sampai ia bisa mendapatkan uang dari Bellina.

 

“Oke. Kalau emang kamu nggak mau kasih mama uang. Mama akan tinggal di jalanan dan bilang ke semua orang kalau anak dan menantu mama sudah ...”

 

“Stop, Ma!” teriak Bellina sambil bangkit dari sofa. “Mama nggak usah ngancam aku dan Lian!” pintanya sambil bergegas melangkah ke kamarnya. “Tunggu di sini!”

 

Melan langsung tersenyum lebar begitu melihat Bellina masuk ke kamarnya. Ia sangat berharap kalau puteri kesayangannya itu segera memberikan uang yang ia butuhkan.

 

Beberapa menit kemudian, Bellina keluar dari kamar dan menghampiri mamanya. Ia langsung menyodorkan kartu debit ke arah mamanya tersebut.

 

Melan langsung tersenyum sambil menyambar kartu dari tangan Bellina.

 

“Itu uang tabunganku. Cuma ada satu milyar. Pin-nya hari ulang tahunku,” tutur Bellina sambil duduk kembali ke sofa.

 

“Bel, mama butuh dua milyar. Mama butuh beli rumah dan untuk hidup sehari-hari.”

 

“Ma, itu cukup buat beli rumah. Mama beli rumah yang murah-murah aja. Suruh suami baru mama itu buat cari nafkah. Supaya nggak ganggu aku terus!”

 

“Bel, aku ini mama kamu. Apa kata orang kalau mama beli rumah murah? Mereka bakal menilai kalau kamu bener-bener sudah menelantarkan mamanya sendiri.”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. “Ma, itu cukup buat beli rumah. Rumah yang harganya lima ratus juta, juga udah bagus untuk mama. Kalau mama mau beli rumah mewah, mama usaha sendiri! Jangan morotin aku dan suamiku, Ma!”

 

“Apa!? Kamu tega ngatain mama seperti ini? Aku ini mama kandung kamu, Bel. Yang udah melahirkan dan membesarkan kamu selama ini. Ini balasan kamu buat mama? Kamu bener-bener nggak punya hati nuraini. Tega-teganya bikin mama kamu sendiri hidup terlantar.”

 

Bellina menarik napas panjang. Ia menarik tas tangan yang tak jauh dari dirinya dan mengeluarkan dompet dari dalamnya. Ia mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompet tersebut. “Aku cuma punya uang segini. Kalau mau, mama ambil. Kalau nggak, silakan pergi dari rumah ini dan cari uang sendiri!”

 

Melan tersenyum lebar dan menyambar uang dari tangan Bellina. Ia sangat bahagia karena puterinya bisa memberikan banyak uang untuknya.

 

“Ma, mama sudah bisa pulang, sekarang? Mama ke sini cuma butuh uang aja ‘kan?”

 

Melan langsung melebarkan kelopak matanya. “Kamu ngusir mama?”

 

“Aku lagi pusing, Ma. Banyak hal yang harus aku hadapi. Mama tolong ngertiin posisiku. Jangan bikin aku makin kesulitan!” pinta Bellina dengan mata memerah.

 

Melan menatap wajah Bellina. Ia bisa mengetahui kalau anaknya sedang banyak masalah. Namun, ia masih membutuhkan banyak uang untuk bisa bertahan hidup di luar sana.

 

“Ma, semua yang mama lakuin beberapa hari belakangan ini. Sudah bikin keluarga Linandar dan Wijaya malu banget. Aku baru aja dimaki-maki sama mamanya Lian. Tolong, Ma! Jangan bawa aku ke dalam masalah baru lagi! Mama Mega sudah mendesak Lian terus-menerus untuk menceraikan aku. Aku belum hamil juga sampai sekarang, status mama yang sekarang bukan siapa-siapa lagi di keluarga Lin. Bikin Mama Mega semakin benci sama aku. Gimana kalau aku bener-bener dibuang dari keluarga Wijaya?” tanya Bellina dengan mata berkaca-kaca.

 

Melan menghela napas. Ia ingin mendapatkan banyak uang dari Bellina, tapi ia juga tidak bisa melihat puteri kesayangannya itu berada dalam kesulitan. Ia ingin Bellina hidup baik dan bahagia di keluarga ini.

 

Bellina menutup wajahnya sambil menangis. Ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit bertubi-tubi yang terus menimpa dirinya. Ia hanya ingin mendapatkan kebahagiaan. Ia ingin memiliki suami yang menyayanginya, mertua yang menyayanginya dan keluarga yang sehat. Tapi, semua hal yang ia inginkan justru berbanding terbalik dengan kenyataannya.

 

“Maafin, Mama! Mama nggak akan mendesak kamu lagi untuk memberikan uang,” tutur Melan lirih. Ia bangkit dari sofa sambil menatap Bellina yang masih terisak. “Mama pulang dulu!” pamitnya.

 

Bellina tak menyahut. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia benar-benar tak menyangka kalau ia akan dimanfaatkan oleh mamanya sendiri.

 

Melan tak berani menyentuh Bellina yang suasana hatinya sedang buruk. Ia memilih melangkahkan kakinya perlahan keluar dari rumah tersebut. “Aku bisa minta uang ke sini lagi kalau suasana hati Bellina sudah membaik,” batin Melan.

 

 ((Bersambung...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya setiap hari.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 544 : Kemarahan Mama Mertua

 


“Nggak cuma selingkuh, dia masih aja bikin malu walau sudah diceraikan sama Rudi,” tutur Mega sambil mematikan televisi setelah menyimak berita yang beredar tentang Melan.

 

“Biasanya, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. Si Melan sama Bellina itu kelakuannya sama persis. Bisa jadi, Bellina juga selingkuh sama pria lain. Aku nggak akan ngebiarin dia mempermainkan Lian. Apalagi sampai bikin malu keluarga.”

 

“Ini si Bellina nggak bisa ngasih tahu mamanya buat jaga sikap? Kenapa malah makin parah? Nggak ingat umur! Berasa masih tujuh belas tahun apa ya?”

 

Mega menyambar ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia menekan nomor kontak Bellina.

 

“Halo ...!” sapa Bellina begitu panggilan  teleponnya tersambung.

 

“Halo, kamu di mana?” tanya Mega.

 

“Baru sampai di rumah, Ma.”

 

“Dari mana? Shopping? Hambur-hambur uang lagi?” tanya Mega.

 

“Dari perusahaan, Ma. Lian lagi ngurus perusahaan yang di Semarang. Jadi, aku handle kerjaan dia dulu. Ada apa?” tanya Bellina.

 

“Ke rumah mama, sekarang juga!” perintah Mega.

 

“Iya. Belli mandi dulu, Ma.”

 

“Oke, Mama tunggu!” Mega langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Bellina mendesah begitu Mega memutuskan panggilan telepon. Ia merebahkan tubuhnya ke atas sofa, enggan beranjak dari tempatnya.

 

“Bel, mama mertua kamu lagi nunggu. Jangan bikin dia makin marah sama kamu!” pinta Bellina pada dirinya sendiri.

 

“Aargh ...! Kenapa hidup aku makin kacau kayak gini!?” seru Bellina sambil mengacak rambutnya sendiri.

 

“Punya suami nggak sayang, punya mama mertua galak banget. Sekarang, aku harus menghadapi kenyataan punya mama gila! Apa bagusnya si Lonan itu? Udah tua, gak ganteng, gak kaya, gak baik ... kenapa mamaku bisa tergila-gila sama laki-laki kayak gitu?”

 

“Kenapa hidupku beda jauh sama Yuna? Padahal, kita ini saudara. Selisih umur juga Cuma satu minggu. Dia dapetin banyak kebahagiaan. Disayang sama semua orang cuma modal cantik dan kecentilan doang!”

 

Bellina terus menyalahkan Yuna atas apa yang terjadi pada dirinya. Ia terus mengumpat walau sedang sibuk bersiap menemui mama mertuanya.

 

Usai bersiap, Bellina langsung bergerak menuju ke rumah mertuanya. Ia terlebih dahulu membeli obat penenang di apotek, juga membeli beberapa barang yang akan ia bawa ke rumah mama mertuanya.

 

Mega sudah menunggu kedatangan Bellina dalam waktu yang cukup lama. Amarah di dalam hatinya sudah memuncak. Begitu Bellina datang, ia langsung menyambutnya dengan raut wajah tak bersahabat.

 

“Sore, Ma ...!” sapa Bellina dengan hati-hati. Ia tersenyum kecut sambil mengulurkan tangan ke arah Mega.

 

Mega menepis tangan Bellina begitu saja. Ia tidak ingin bersikap baik pada menantunya itu.

 

“Ada apa, Ma?” tanya Bellina saat mendapati sikap Mega yang sangat ketus terhadap dirinya.

 

“Kamu nggak lihat berita heboh di luar sana soal mama kamu?”

 

Bellina tak menyahut. Ia berusaha tersenyum sambil menggenggam paper bag yang sudah ia siapkan sebagai hadiah untuk mama mertuanya.

 

“Kenapa diam?” tanya Mega saat melihat Bellina masih bergeming.

 

Bellina tak menyahut, ia meremas botol obat yang ada di tangannya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada mertuanya kali ini. Semua memang kesalahan mamanya dan membuat sikap mertuanya semakin tidak bersahabat.

 

“Apa yang kamu bawa?” tanya Mega sambil menatap tangan Bellina.

 

“Eh!? Oh, ini aku bawa hadiah untuk mama,” jawab Bellina sambil meletakkan paper bag yang ia bawa ke atas meja.

 

Mega hanya tersenyum sinis. Ia sama sekali tidak tertarik dengan barang-barang pemberian Bellina. Ia malah merebut botol obat yang ada di tangan Bellina. “Ini obat apa? Buat aku?” tanyanya.

 

Bellina menggelengkan kepala.

 

Mega membaca tulisan yang tertera di botol obat tersebut dan berhasil membuat perasaannya semakin tersinggung. “Kamu mau ngasih aku obat penenang!?” serunya.

 

Bellina menggeleng. “Mama jangan salah paham! Itu obat bukan buat mama.”

 

“Kalau bukan buat mama, buat siapa? Kenapa dibawa masuk ke dalam rumah ini?” tanya Mega.

 

“Itu buat ...”

 

“Kamu udah tahu apa yang bakal terjadi sama aku kalau lihat berita soal mama kamu? Makanya, kamu bawain obat penenang buat aku? Perasaanku memang nggak tenang lihat kelakuan gila mama kamu itu, tapi nggak perlu pakai obat penenang segala!” cerocos Mega.

 

Bellina menghela napas. Ia kesulitan menjelaskan pada Mega yang sudah terlanjur mengomel panjang lebar di depannya. Meski hatinya sangat kesal, ia tak memiliki banyak keberanian untuk menghadapi mama mertuanya.

 

“Bel, kamu seharusnya bisa ngasih tahu mama kamu untuk menjaga nama baik keluarga. Biar bagaimanapun, dia itu besanku. Bikin malu keluarga Wijaya kalau seperti ini terus!”

 

“Ma, aku nggak tahu kalau Mama Melan seperti itu. Beritanya sudah menyebar luas dan aku nggak bisa mengendalikan.”

 

“Dia itu mama kamu. Bisa-bisanya kamu nggak tahu apa yang sudah terjadi sama dia?”

 

“Mama sudah bercerai sama papa dan punya kehidupan sendiri. Aku nggak punya hak apa pun sebagai anak. Itu urusan dia sama suami barunya.”

 

Mega semakin kesal dengan ucapan Bellina. “Oh, kamu belain mama kamu itu?”

 

Bellina menggelengkan kepala.

 

“Mama sama anak, kelakuannya sama aja. Kalau kamu masih mau jadi menantu keluarga Wijaya. Jaga nama baik keluarga!”

 

Bellina mengangguk. Ia tidak ingin mengeluarkan kata apa pun dan membuatnya menjadi semakin tersudut.

 

“Ingat, Bel. Kalau sampai kamu selingkuh dari Lian ... mama jamin, Lian pasti akan menceraikan kamu saat itu juga!” tegas Mega.

 

Bellina terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan jika Lian mengetahui hubungannya dengan Arjuna. Terlalu banyak hal yang ia hadapi saat ini dan membuatnya hampir gila.

 

“Mama kamu itu udah keterlaluan. Nggak ingat umur sama sekali. Sudah tua kayak gitu, masih kayak a-be-ge! Pakai pakaian seksi ke klub malam bareng laki-laki selingkuhannya. Belum lagi video syur dia yang tersebar ke mana-mana. Dia pikir, Victoria Secret bakal ngambil dia jadi model!?”

 

“Ma, semua orang punya kehidupan pribadi yang nggak seharusnya diketahui banyak orang. Aku rasa, bukan cuma mamaku yang suka ke klub. Mama mega juga pernah main ke klub atau tempat karaoke malam lain. Bedanya, Mama Melan ketahuan media dan Mama Mega enggak!”

 

PLAAAK ...!

 

Mega langsung menampar wajah Bellina. “Berani-beraninya kamu samain aku sama mama kamu? Kapan kamu lihat aku masuk ke klub? Bukannya mengakui kesalahan, malah nyari-nyari kesalahan orang lain!” seru Mega.

 

Bellina langsung memegang pipinya yang terasa perih. Matanya memerah dan mengeluarkan air dari sudut-sudutnya. Hatinya terasa sangat sakit melihat perlakuan mertuanya. Bukan hanya hatinya, tapi juga seluruh tubuhnya. Ia tidak ingin melawan mama mertua dan membuat posisi Wilian semakin terjepit.

 

Mega menatap mata Bellina yang berkaca-kaca. Ia masih ingin memaki Bellina. Tapi ia teringat akan putera kesayangannya yang masih menyayangi dan melindungi Bellina.

 

“Pulanglah dan jangan berbuat macam-macam di luar sana!”

 

Bellina menggigit bibir sambil menganggukkan kepala. Ia berbalik dan melangkahkan kakinya perlahan.

 

“Tunggu ...!” seru Mega.

 

Langkah kaki Bellina langsung terhenti. Ia memutar kepala ke arah Mega yang berdiri di belakangnya.

 

“Bawa ini sekalian! Aku nggak butuh hadiah-hadiah dari kamu!” perintah Mega sambil melemparkan paper bag ke kaki Bellina begitu saja.

 

Bellina menatap paper bag yang sudah tergeletak di lantai. Barang yang sudah ia siapkan untuk mama mertuanya, berserakan di sekitarnya.

 

“Aku nggak butuh hadiah seperti itu hanya untuk menyenangkan hatiku. Kamu pikir, aku anak kecil!?” tutur Mega ketus. Ia langsung berlalu pergi meninggalkan Bellina begitu saja.

 

Bellina membungkukkan tubuhnya  perlahan. Ia memunguti barang-barangnya dan memasukkan kembali ke dalam paper bag.

 

Bellina menarik napas dalam-dalam sambil menahan air matanya agar tak jatuh berderai. “Nggak boleh nangis, Bel. Kamu pasti bisa menghadapi semuanya. Nggak boleh menangis hanya karena makian dari orang terdekatmu! Kamu pasti bisa melewatinya dengan mudah,” batinnya pada diri sendiri. Ia melangkah perlahan, keluar dari rumah besar keluarga Wijaya.

 

 

((Bersambung ...))

 

Dukung terus biar aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 543 : Kehabisan Uang

 


“Yun, kamu udah lihat gosip di media soal Tante Melan?” tanya Jheni saat ia menemani Yuna merapikan tanaman bunga di halaman rumah.

 

“Udah, Jhen.”

 

“Menurut kamu gimana?” tanya Jheni.

 

“Huft, nggak tahu. Aku juga bingung. Aku kasihan sama Oom Rudi. Sebenarnya, dia itu baik. Istrinya aja yang kelakuannya kayak iblis. Sekarang, semua orang membicarakan keluarga Linandar. Aku harap, berita ini nggak sampai ke telinga ayahku.”

 

“Berita sebesar ini ... mana mungkin Oom Adjie nggak tahu. Emangnya dia tinggal di hutan yang nggak ada akses televisi dan internet? Yang salah bukan keluarga kamu, Yun. Si Melan yang nggak tahu diri itu,” tutur Jheni.

 

“Iya, sih. Tapi keluarga kami tetep jadi sorotan. Untungnya, Oom Rudi gerak cepat, langsung ceraikan Tante Melan.”

 

“Hah!? Jadi, gosip yang ada di luar sana itu bener? Tante Melan beneran udah resmi cerai?” tanya Jheni.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Mampus tuh si Maleficent! Biar dia jadi gelandangan di luar sana. Udah diceraikan sama Oom Rudi, masih sempat-sempatnya pesta foya sama laki-laki itu.”

 

 “Pesta foya gimana?” tanya Yuna sambil menyirami tanaman anggrek yang berjejer rapi di hadapannya.

 

“Kamu belum baca artikel terakhir yang muncul hari ini?” tanya Jheni.

 

“Belum, Jhen. Belum sempat.”

 

“Eyuuh...! Kamu mah kudet banget,” celetuk Jheni.

 

Yuna hanya nyengir mendengar ucapan Jheni.

 

“Lihat!” Jheni menyodorkan ponsel ka wajah Yuna. “Ini video baru aja diambil netizen tadi pagi. Lihat! Dia baru cerai, asyik shopping sama laki-laki lain. Banyak duit nih janda baru.”

 

“Jangan-jangan, itu uang tunjangan dari Oom Rudi? Laki-laki itu kan baru keluar dari penjara, Jhen. Kata suamiku, selama ini dia hidupnya dari duit yang dikasih Tante Melan. Nggak mungkin dia punya duit buat bayarin Tante Melan shopping.”

 

“Hahaha. Jadi, sekarang si Melan lagi diporotin sama laki-laki itu? Biar cepet habis duitnya, terus tidur di jalanan. Mampus!” seru Jheni sambil tertawa lebar.

 

Yuna ikut tertawa. “Aku jadi ngebayangin gimana wajah sombongnya Tante Melan tanpa duit.”

 

“Hahaha. Dia nggak bakal berani jahatin kamu lagi, Yun. Senang banget aku kalau dia jatuh miskin. Aku harus lihat gimana akhir hidup dia.”

 

Yuna tersenyum sambil bangkit dan membasuh tangannya. “Tante Melan itu licik, Jhen. Dia nggak akan menyerah begitu aja. Apalagi, pacarnya dia itu mafia.”

 

“Mafia apa sih? Aku masih nggak paham sama obrolannya Yeriko and The Gank.”

 

Yuna terkekeh. “Nggak tahu juga.”

 

Jheni langsung nyengir ke arah Yuna. “Aku keselnya, mereka kalo ngobrol suka pake kode-kodean gitu. Aku kan nggak paham, Yun.”

 

“Kode apaan?” tanya Yuna.

 

“Kode rahasia. Kamu nggak sadar kalau Yeriko sering main mata ke Chandra kalo lagi ngobrol? Aku sering perhatiin.”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Jheni. “Berani-beraninya merhatiin suami orang!?” dengus Yuna sambil memonyongkan bibirnya.

 

Jheni terkekeh. “Bukan naksir, Yun!” sahutnya sambil menempelkan telapak tangannya ke wajah Yuna.

 

“Brrt ... byuuh! Jheni ...! Tangan kamu kotor!” teriak Yuna kesal.

 

Jheni hanya tertawa menanggapi teriakan Yuna. “Lulur wajah pakai tanah, bagus loh.”

 

“Bagus apanya!?” dengus Yuna. “Aku udah bersih-bersih, malah kamu kotorin lagi!” seru Yuna sambil menyalakan kran air dan membasuh wajahnya. “Ntar jerawatan, Jhen!”

 

“Hahaha. Kalau udah nikah, nggak bisa jerawatan lagi, Yun. Nafsunya udah terlampiaskan. Nggak ada yang ditahan-tahan,” sahut Jheni sambil terkekeh geli.

 

“Nggak ngaruh, Jhen. Jerawat itu bukan cuma karena nafsu doang. Karena kotor dan stres juga bisa.”

 

“Iya, sih. Stres karena nggak ada yang belai,” sahut Jheni sambil terkekeh.

 

“Kamu makin centil aja, Jhen. Jangan-jangan, lagi stres karena udah lama nggak dibelai sama Chandra ya?” goda Yuna.

 

Jheni menggelengkan kepala. “Chandra ke Jakarta dua hari ini. Suami kamu jahat banget!”

 

“Jahat kenapa?”

 

“Chandra dikirim ke luar terus!” sahut Jheni sambil membasuh tangannya. Kemudian, ia dan Yuna duduk di teras rumah.

 

“Jhen, Chandra itu Direktur bagian Litbang. Dia pasti sering ke mana-mana untuk mengurus proyek pengembangan bisnis perusahaan. Kamu ini aneh. Kalo mau ikut dia kan bisa. Kerjaanmu fleksibel banget. Bisa dikerjain dari mana aja.”

 

Jheni menggoyangkan bibirnya seiring dengan ucapan Yuna. “Kalo aku ikut dia, dia juga sibuk. Nggak bakal ada waktu jalan bareng.”

 

“Ya udah, dukung aja suami kamu itu! Biar bisa cepet ngelamar kamu,” sahut Yuna.

 

“Apa hubungannya sama lamaran?”

 

“Siapa tahu aja, Chandra lagi nyiapin pernikahan mewah buat kamu. Pernikahan di kapal pesiar sampai ke Eropa. Yuhu ... keren banget ‘kan?”

 

“Keren gundulmu!”

 

“Kamu nggak mau pernikahan mewah, Jhen?”

 

“Mau. Tapi nggak semewah itu juga. Lebih baik uangnya aku simpan atau aku investasikan. Lumayan kan buat masa depan anak-anakku.”

 

“Kamu udah mikir sejauh itu, Jhen?” tanya Yuna. “Udah siap punya anak?”

 

“Iih ... apaan sih!?” sahut Jheni dengan wajah merona. Ia bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju dapur.

 

“Hei, mau ke mana?” seru Yuna.

 

“Mau bikin jus! Mau, nggak?” teriak Jheni dari kejauhan.

 

“Boleh, deh.” Yuna tertawa kecil sambil menopang dagu. Ia merasa sangat bahagia karena Jheni punya banyak waktu untuk menemaninya melakukan banyak hal di hari-harinya menjelang persalinan.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Melan masih asyik menghamburkan uang yang ia dapat dari mantan suami untuk menumpahkan seluruh kekesalannya. Ia terus berbelanja dan menikmati kegilaannya bersama Lonan.

 

“Aargh ...!” teriak Melan histeris begitu ia menatap layar ponsel.

 

 “Uangku sisa segini? Tiga puluh juta, buat apa?” tanya Melan sambil menggigit jarinya.

 

“Nggak bisa kayak gini. Kalo begini terus, aku bisa kehabisan uang. Aku harus gimana?” gumam Melan.

 

“Kenapa?” tanya Lonan yang baru saja keluar dari kamar mandi.

 

“Uang di tabunganku sisa tiga puluh juta. Cuma bisa dipakai bertahan sepuluh hari. Itupun harus irit,” jawab Melan.

 

“Kamu punya anak yang kaya. Suaminya dia kaya, papanya juga kaya. Minta aja uang sama anak kamu! Dia pasti akan mengeluarkan banyak uang untuk ibunya sendiri,” tutur Lonan menyarankan.

 

“Hmm ... iya juga, ya?”

 

Lonan menganggukkan kepala. “Kamu bisa menikmati hidup mewah selama ini. Sementara, aku sudah mengorbankan semuanya demi kamu. Sekarang, waktunya kamu menunjukkan kalau kamu beneran sayang sama aku.”

 

“Maksud kamu?”

 

Lonan tersenyum sambil mengelus lembut pipi Melan. “Kita sudah sangat tua. Bisakah kita menghabiskan sisa hidup bersama? Aku cuma mau, kamu membayar semua pengorbananku selama ini dengan menemaniku setiap hari!”

 

Melan menganggukkan kepala. “Kamu nggak perlu khawatir! Aku sudah melepaskan semuanya. Aku bahkan lebih memilih menjalani sisa hidupku sama kamu dan bercerai dengan pria itu.”

 

Lonan tersenyum puas. Ia merasa sangat bahagia karena wanita yang ia cintai bisa menemaninya menjalani hari-harinya setelah ia keluar dari penjara.

 

“Apa kamu yakin kalau Bellina akan ngasih kita uang?” tanya Melan ragu-ragu.

 

“Aku yakin. Karena sebagai seorang anak, dia tidak akan pernah tega melihat ibunya menderita dan sudah seharusnya seorang anak membalas budi pada seorang ibu yang telah membesarkannya.”

 

Melan menganggukkan kepala. “Bellina juga anak yang manis dan penurut. Dia pasti bisa mengeluarkan banyak uang untuk kita.”

 

Lonan mengangguk sambil tersenyum manis.

 

“Aku akan temui Bellina sekarang juga,” tutur Melan sambil bangkit dari sofa.

 

Lonan mengangguk, ia membiarkan Melan bersiap keluar dari kamar hotel tersebut agar bisa mendapatkan uang dengan cepat dan mudah.

 

Melan sangat bersemangat untuk menemui Bellina. Ia yakin, puteri kesayangannya itu pasti akan memberikan banyak uang untuknya agar ia bisa segera membeli apartemen, tidak lagi tinggal di hotel seperti saat ini.

 

 

((Bersambung ...))

 

Penderitaan Melan belum berakhir sampai di sini ...

Dukung terus biar aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas