Showing posts with label Then Love. Show all posts
Showing posts with label Then Love. Show all posts

Thursday, March 5, 2026

THEN LOVE BAB 58 : PERTEMUAN DENGAN TEMAN MASA KECIL

 



Bab 58

Pertemuan dengan Teman Masa Kecil

 

Delana tersenyum menatap cowok yang tiba-tiba berdiri di sampingnya saat menunggu pintu lift terbuka. Ia mengenali cowok itu, tapi sepertinya cowok itu tak lagi mengenalinya.

Selama berada di dalam lift bersama Mahesa, Delana hanya diam. Ia bukan tak ingin menyapa cowok itu. Ia tahu kalau Hesa memerhatikan dirinya. Karena Hesa tak juga menyapanya, ia memilih untuk mengabaikan cowok itu.

Delana tersenyum saat ia keluar dari lift dan Hesa masih mengikuti langkahnya.

“Pagi, Mbak!” sapa sekretaris yang berada di luar ruangan Presdir.

“Pagi. Paman ada?” tanya Delana.

“Ada. Beliau sudah menunggu,” jawab sekretaris cantik itu.

“Oke.” Delana tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan pamannya.

“Pagi, Paman!” sapa Delana begitu ia masuk ke dalam ruangan pamannya.

“Pagi. Akhirnya yang Paman tunggu-tunggu datang juga,” sahut Paman Kam.

Delana tersenyum dan langsung memeluk pamannya.

“Gimana kabar ayah kamu?” tanya Paman Kam.

“Baik. Sepertinya dia betah di Berau,” tutur Delana sambil tertawa kecil.

Paman Kam tergelak mendengar ucapan Delana.

Sementara itu, di luar ruangan Hesa mulai gelisah. Ia langsung menerobos masuk ke dalam kantor Paman Kam.

Delana dan Paman Kam langsung menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka.

“Maaf, Paman. Aku nyelonong masuk. Aku udah lama nunggu di resepsionis ...”

Paman Kam tersenyum. “Nggak papa. Duduk!” perintah Paman Kam.

Hesa langsung duduk dan terus menatap gadis cantik yang ada di depannya.

“Ehem ...!” Paman Kam berdehem ketika melihat Hesa menatap Delana tanpa berkedip.

Hesa langsung gelagapan begitu menyadari kalau ia sibuk mengagumi setiap bagian tubuh gadis yang duduk di samping Paman Kam. Ia langsung mengeluarkan berkas yang ia bawa untuk menutupi perasaan gugupnya.

“Kak Hesa nggak ingat sama aku?” tanya Delana sambil tersenyum manis.

“Eh!? Kamu tahu namaku?” tanya Hesa sambil menunjuk dirinya sendiri. Ia sama sekali tak mengenali wanita yang duduk di depannya. Ia berusaha mengingat deretan pacar dan mantan-mantannya. Tak ada yang seperti gadis yang ada di hadapannya itu. Sekalipun ia seorang playboy. Ia tidak akan pernah lupa wajah cewek yang pernah berkencan dengannya.

Paman Kam dan Delana tertawa melihat Hesa yang kebingungan.

“Aku Delana, Delana Aubrey,” tutur Delana.

“Keponakan Paman. Memang, dia sekarang banyak berubah,” sela Paman Kam.

“Dela!? Yang dulu tomboy itu?” tanya Hesa dengan wajah sumringah. Ia menggeleng-gelengkan kepala menatap Delana dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. “Kamu sekarang beda banget. Cantik banget!” pujinya.

“Ah, Kak Hesa bisa aja.”

“Iya. Dulu kamu tuh kayak laki-laki. Udah rembes, ingusan pula,” tutur Hesa sambil tertawa.

Delana mengerucutkan bibirnya menanggapi ucapan Hesa.

“Sorry ... becanda aja, kok. Coba dari dulu kamu kayak gini. Udah aku pacarin,” tutur Hesa.

“Ehem ...!” Paman Kamoga berdehem sebagai isyarat agar Hesa tak menggoda keponakannya.

Hesa menundukkan kepala. Ia membuka berkas kontrak kerja yang ada di tangannya dan menyerahkannya pada Paman Kam. “Bisa Paman cek dulu sebelum ditanda tangani,” tutur Hesa sambil tersenyum.

Paman Kam langsung meraih berkas itu dan membacanya dengan teliti.

“Gimana kabar ayah kamu?” tanya Hesa.

“Baik,” jawab Delana. “Oom Erlan apa kabar?” tanya Delana.

“Baik juga.”

Delana tersenyum. “Kak Hesa udah kelar kuliah?”

“Udah. Baru aja balik dari Auckland beberapa bulan yang lalu.”

“Oh ya? Asyik ya bisa sekolah di luar negeri,” tutur Delana.

Hesa mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kamu sendiri kenapa nggak kuliah di luar negeri?”

“Nggak berani. Cukup di sini aja yang deket sama rumah.”

“Oh. Jadi, kuliahnya deket sama rumah kamu?”

“Iya. Di belakang rumah. Tinggal jalan kaki aja kalo mau pergi ke kampus.”

“Rumah kamu masih yang dulu?” tanya Hesa.

“Yang mana?” tanya Delana balik untuk menguji ingatan Hesa.

“Oh ... iya, kamu udah pindah ke Gunung Bahagia ya? Masih di sana?” tanya Hesa.

“Masih.”

“Terus, rumah lama kamu yang dulu waktu masih kecil gimana keadaannya?”

“Udah dijual sama Papa. Sekarang udah jadi bangunan lain.”

“Oh ya? Sayang banget. Padahal, aku suka main di kolam ikan yang ada di belakang rumah kamu itu,” tutur Hesa.

Delana hanya meringis. Ia juga terkadang merindukan rumah masa kecilnya. Tapi, apa boleh buat. Semua hal bisa berubah begitu cepat dan ia tak bisa mencegahnya.

“Kamu ingat nggak waktu dulu kita sering main timezone. Kamu sering nangis gara-gara nggak bisa main capit boneka,” tutur Hesa sambil mengingat masa kecilnya bersama Delana.

“Hahaha. Iya, Paman ingat. Dan dia baru berhenti nangis kalo dibeliin ice cream,” sahut Paman Kam sambil tertawa.

Delana hanya meringis mendengar ucapan Hesa dan Paman Kam tentang masa kecilnya.

Hubungan bisnis antara keluarga Aubrey dan Fino Group membuat Delana dan Mahesa sudah saling mengenal sejak kecil.

Paman Kam tidak memiliki anak perempuan, ia sangat menyayangi Delana seperti anaknya sendiri dan kerap mengajak Delana bermain. Sehingga Delana sudah mengenal Mahesa.

“Terakhir aku lihat kamu, waktu kelas satu SMA, ya?” tanya Hesa.

Delana menganggukkan kepala.

“Waktu itu kamu masih tomboy banget. Rambutnya aja hampir sama kayak rambutku. Sama sekali nggak menarik perhatian,” tutur Hesa.

“Emangnya sekarang menarik?” tanya Delana sambil tertawa kecil.

“Banget.”

Delana terdiam mendengar jawaban pasti dari Hesa. Ia pikir, Hesa bercanda seperti apa yang biasa mereka lakukan dahulu.

Paman Kam bangkit dari sofa dan langsung duduk di meja kerjanya. Ia langsung menandatangani berkas kerjasama yang dibawa oleh Mahesa.

Hesa tersenyum karena Paman Kam menyutujui nilai kontrak yang ia ajukan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Delana. Gadis itu kini terlihat begitu menggemaskan.

Tiba-tiba, telepon di meja Paman Kam berdering. Paman Kam langsung menjawab telepon dengan nada serius.

“Del, kamu mau pake mobil jam berapa?” tanya Paman Kam pada Delana.

“Mmh ... janjian sama Dhanuar sama Alan jam empat sore,” jawab Delana. “Kenapa, Paman?”

Paman Kam menghela napas. “Sepertinya, mobilnya mau Paman pakai dulu sebentar. Terlambat sedikit nggak papa?”

Delana tersenyum. “Nggak Papa, Paman. Kami nggak buru-buru, kok.”

“Emangnya mau ke mana?” tanya  Hesa.

“Ke Batu Dinding,” jawab Delana sambil tersenyum.

“Mau aku antar? Kebetulan aku lagi nggak sibuk juga,” tutur Hesa menawarkan diri. Ia merasa, ini kesempatan paling baik untuk dekat dengan Delana.

“Eh!? Emang nggak ngerepotin?” tanya Delana.

“Nggaklah. Buat cewek secantik kamu mah aku nggak bakal pernah repot,” jawab Hesa sambil tersenyum bahagia. Ia berharap, Delana mau menerima tawarannya kali ini.

“Oh, iya. Dia punya mobil George S. Patton. Cocok banget buat kondisi jalan buruk,” tutur Paman Kam pada Delana.

Delana tersenyum sambil berpikir. “Tapi, Kak. Kami mau camping di sana. Jadi, kami mau nginap,” tutur Delana lirih.

“Ah, nggak masalah. Mau camping satu bulan juga aku bisa,” sahut Hesa.

Delana tertawa kecil. Ia tak menyangka kalau Hesa begitu bersemangat ingin mengantarnya. “Kak, tapi lokasinya di tengah hutan, loh. Emangnya Kakak bisa?” tanya Delana.

“Emang di daerah mana?” tanya Hesa.

“Kilo Empat Lima,” jawab Delana.

“Ah, itu mah belum tengah hutan. Kakak kalau ke lokasi tambang, malah lebih tengah hutan lagi,” tutur Hesa.

“Oh ya?” Delana tersenyum manis menatap Hesa.

Perasaan Hesa begitu gelisah setiap kali mendapati senyuman Delana. Gadis itu terlihat begitu tulus dan senyumnya membuat hatinya nyaman.

“Jadi gimana? Mau nggak kalo aku antar?” tanya Hesa.

Delana tersenyum. “Boleh. Tapi, dengan satu syarat!” pinta Delana.

“Gampang. Apa syaratnya?” tanya Hesa.

“Aku nggak mau dengar Kakak mengeluh apa pun. Bahkan cuma karena gigitan nyamuk sekalipun,” tutur Delana.

“Ahsiaap! Itu mah perkara kecil,” sahut Hesa sambil memainkan kedua alisnya.

Delana tersenyum manis.

“Oke. Kalo gitu semuanya udah beres. Kalian bisa pergi bersama. Paman mau keluar dulu karena ada keperluan mendadak,” tutur Paman Kam sambil melangkahkan kakinya.

Paman Kam menoleh ke arah Delana dan Hesa. “Kalian boleh lanjut ngobrolnya di sini. Atau mau cari tempat lain yang lebih asyik sambil minum teh?” tanya Paman Kamoga sambil mengedipkan matanya ke arah Hesa. Ia tersenyum dan langsung bergegas keluar dari ruangannya.

Hesa tersenyum kecil karena Paman Kam terlihat menyukainya. Lebih tepatnya, Paman Kam suka melihatnya mendekati keponakan cantiknya itu.

Berada dalam satu ruangan dengan wanita cantik, membuat Hesa berharap ruangan kerja Paman Kam terus mengecil agar ia bisa duduk berdekatan dengan Delana.

“Kamu udah makan siang?” tanya Hesa pada Delana.

“Belum,” jawab Delana.

“Gimana kalo kita makan siang dulu?” tanya Hesa.

“Mmh ... boleh,” jawab Delana sambil menganggukkan kepala.

“Kamu suka makan di mana?” tanya Hesa.

“Di rumah,” jawab Delana.

Hesa mengangkat kedua alisnya. “Maksudnya? Kamu mau ngundang aku makan di rumah kamu?”

“Mau?” tanya Delana.

Hesa menganggukkan kepala.

“Ya udah, sekalian aja kalo gitu. Abis makan langsung berangkat ke Batu Dinding,” tutur Delana.

“Hah!?”

“Kenapa?” tanya Delana.

Hesa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku ke sini bawa mobil Lambo. Gimana kalo aku tukar mobil dulu ke rumah?” tanya Hesa.

“Bisa,” jawab Delana. “Aku tunggu di rumah ya!” tutur Delana. Ia bangkit dari tempat duduknya. Hesa juga ikut bangkit dan mengikuti langkah Delana keluar dari ruang kerja Paman Kam.

“Kamu nggak mau ikut pulang ke rumahku?” tanya Hesa.

“Nggak,” jawab Delana sambil tersenyum. “Aku siapin makan siang dulu buat kalian.”

Hesa tersenyum. “Rasanya nggak sabar pengen makan masakan kamu,” tutur Hesa.

Delana tertawa kecil menanggapi ucapan Hesa. Mereka berjalan beriringan keluar dari kantor Kamoga Corporation.

 

***

“Del, kok balik naik taksi? Stradanya mana?” tanya Dhanuar begitu Delana masuk ke dalam rumah.

“Nggak jadi.”

“Nggak jadi jalan?” tanya Dhanuar.

“Jadi.”

“Terus?”

“Nggak jadi pinjam mobil papa kamu,” tutur Delana.

Why? Tau gitu ke sana sama aku. Biar langsung dikasih sama Papa,” sahut Dhanuar.

“Nggak ada hubungannya,” dengus Delana sambil masuk ke dalam rumah.

Dhanuar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Terus? Gimana rencana camping kita? Nggak jadi, dong?” tanya Dhanuar sambil mengikuti langkah Delana.

“Jadi,” jawab Delana.

“Hah!? Kenapa nggak jadi?” tanya Alan yang sedang mengemasi barang di ruang tamu.

“Tau, tuh!” jawab Dhanuar sambil menunjuk Delana. “Dia balik nggak bawa mobil Papa.”

“Pake mobil Oom Harun aja!” tutur Alan.

“Yee ... enak aja!” sahut Delana. “Kalo rusak, mau ganti?” dengusnya.

“Yah, abisnya udah capek-capek nyiapin ini semua tapi nggak jadi berangkat,” celetuk Alan sambil menendang ransel yang ada di dekatnya.

“Yang bilang nggak jadi itu siapa?” tanya Delana.

“Itu si Dhanuar,” jawab Alan sambil menunjuk Dhanuar dengan dagunya.

“Aku kan nggak bilang nggak jadi berangkat. Aku cuma bilang nggak jadi pinjam Stradanya Paman Kam,” tutur Delana. “Dhanu aja yang langsung menyimpulkan kalo kita nggak jadi berangkat.”

“Yah, kan kamu balik nggak bawa mobil. Jelas aja aku mikirnya kita nggak jadi berangkat. Emangnya mau berangkat pake apa coba?” tanya Dhanuar.

Delana menghela napas. “Kita berangkat sama Kak Hesa,” tutur Delana.

“Hah!? Hesa!?” Alan dan Dhanuar saling pandang.

“Gimana ceritanya bisa ketemu sama Hesa?” tanya Dhanuar.

“Pas kebetulan dia lagi ada di kantor Paman Kam. Kayaknya mereka lagi ngurus kontrak kerja, deh. Terus, dia bilang pengen ngantar kita.”

“Ngantar? Terus balik lagi gitu?” tanya Alan.

Delana meringis. “Nggak, sih. Dia bilang mau ikut camping sekalian.”

“Aha ... dah tahu aku, maksudnya dia apa. Pasti ada udang di balik bakpao!” seru Dhanuar.

“Enak dong!?” sahut Alan.

Delana tertawa kecil. “Tolong siapin keperluan Kak Hesa!” pinta Delana.

“Keperluan apaan?” tanya Alan. “Biar aja dia nyiapin keperluannya sendiri,” lanjutnya.

Delana menghela napas. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap tajam ke arah Alan. “Dia udah berbaik hati mau ngantarin kita. Kamu ngerti caranya berterima kasih nggak?” Delana mendelik ke arah Alan.

Alan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Iya, iya. Apa aja yang harus aku siapin buat dia?”

“Selimut dan perlengkapan mandinya dia. Jangan lupa tambahin stock mie. Takutnya nggak cukup karena orangnya nambah,” pinta Delana.

“Siap, Bu Bos!” sahut Alan. “Cuma selimut sama perlengkapan mandi aja, kan?”

“Iya.”

“Tendanya enggak?” tanya Dhanuar.

“Nggak usah. Kalian bertiga pake satu tenda!” perintah Delana.

“Hadeh, sempit-sempitan dong kalo satu tenda tiga orang!?” protes Alan.

“Jangan-jangan, dia mau satu tenda sama kamu ya?” tanya Dhanuar.

“Enak aja kalo ngomong!” sahut Delana kesal.

“Ya, emang enak, kan?” Dhanuar tersenyum centil ke arah Delana.

Delana mencebik ke arah Dhanuar. “Dasar Omes!”

Dhanuar tertawa kecil.

“Kalian udah makan?” tanya Delana.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Kita udah makan cemilan dari tadi,” jawab Dhanuar.

“Oh. Jadi, nggak laper?” tanya Delana.

Dhanuar menggelengkan kepalanya.

“Ya udah. Aku siapin makanan dulu buat Kak Hesa,” tutur Delana sambil melangkahkan kakinya ke dapur.

“Hah!? Dia mau makan siang di sini?” tanya Dhanuar.

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Dhanuar menggeleng-gelengkan kepala. “Emang ya, kalo playboy kelas hiu tuh ada aja akalnya,” gumamnya.

“Hah!? Apa!?” tanya Delana memasang telinganya karena tak begitu mendengar ucapan Dhanuar.

“Nggak papa,” jawab Dhanuar.

Delana langsung ngeloyor masuk ke dapur. Meninggalkan Alan dan Dhanuar yang sedang sibuk menyiapkan perlengkapan yang akan mereka bawa untuk bermalam di Batu Dinding.

“Lan, kamu jadi bawa gitar kan?” tanya Dhanuar.

“Jadi, dong!” sahut Alan.

“Eh, menurut kamu ... kenapa Hesa tiba-tiba mau ikut kita camping? Bukannya dia nggak suka tempat-tempat kayak gitu? Rasanya, dia suka berkencan di tempat yang mewah dan berkelas,” tutur Dhanuar pelan.

“Pasti dia naksir sama Dela,” sahut Alan berbisik.

“Nggak salah lagi. Dia nggak mungkin mau camping kayak gini. Udah di tengah hutan, banyak nyamuk pula. Ckckck.” Dhanuar menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak menyangka kalau playboy seperti Hesa bisa melakukan apa saja demi mendapatkan cewek yang ia suka.

“Yah, siapa tahu aja setelah ketemu Dela dia bisa berubah.”

“Berubah gimana? Namanya playboy ya tetep aja playboy! Nggak bakal setia sama satu cewek,” sahut Dhanuar.

“Apa itu pernyataan sesungguhnya seorang playboy?” tanya Alan sambil menatap Dhanuar.

“Eh!? Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Dhanuar yang menyadari tatapan aneh dari mata Alan.

“Kamu sendiri playboy. Cewekmu banyak. Emangnya beneran nggak ada cewek yang istimewa di hatimu?” tanya Alan.

“Mmh ... sejauh ini semuanya biasa aja. Semuanya sama aja,” jawab Dhanuar santai.

“Sama apanya?”

“Sama enaknya,” jawab Dhanuar sambil tertawa.

“Alan ... jangan lupa bawa lotion anti nyamuk!” teriak Delana dari arah dapur.

Alan dan Dhanuar saling pandang begitu mendengar teriakan Delana.

“Kamu udah beli?” tanya Dhanuar.

Alan menggelengkan kepala. “Kayaknya nggak ada dalam catatan yang kemarin dibuat sama Dela,” tutur Alan sambil mengeluarkan ponsel dan memeriksa catatannya.

“Ada?” tanya Dhanuar.

“Nggak ada,” jawab Alan sambil menunjukkan layar ponselnya ke wajah Dhanuar.

“Jadi, kita mau beli apa nggak?” tanya Dhanuar.

“Belilah! Penting loh itu. Di tengah hutan banyak nyamuk berbahaya. Bisa aja ntar digigit nyamuk malaria atau demam berdarah,” tutur Alan.

“Ya udah. Kamu aja yang pergi belanja!” pinta Dhanuar.

“Ayo, sama-sama!” pinta Alan sambil menarik lengan Dhanuar.

“Nggak, ah. Aku capek!” tutur Dhanuar sambil merebahkan tubuhnya ke sofa.

“Dasar cowok manja!” celetuk Alan. Ia langsung melangkahkan kakinya menghampiri Delana yang sedang sibuk di dapur.

“Mau beli apa lagi? Lotion anti nyamuk nggak kamu catat kemarin. Jadi, belum aku beliin. Kalo ada yang mau dibeli lagi, biar sekalian aku berangkat ke warung cari barangnya,” tutur Alan.

Delana terdiam. Ia berusaha mengingat keperluan yang akan mereka bawa. Tidak boleh ada yang tertinggal satu pun karena bisa menjadikan masalah. Mereka tidak mungkin kembali lagi karena perjalanan cukup jauh.

“Mmh ... kayaknya udah nggak ada lagi,” tutur Delana.

“Beli berapa lotion anti nyamuknya?” tanya Alan.

“Secukupnya aja,” jawab Delana.

“Secukupnya? Satu truck juga cukup, Del!” celetuk Alan.

Delana menghela napas mendengar celetukan Alan. “Beli aja dua botol!” pinta Delana.

“Siap! Apa lagi, nih?” tanya Alan.

“Nggak ada lagi,” jawab Delana.

“Awas aja kalo sampe ada yang ketinggalan. Aku udah nggak mau belanjain lagi,” ancam Alan.

“Iya.”

“Kunci motor mana?” tanya Alan.

Delana langsung melangkahkan kakinya, ia mengambil kunci motor di atas kulkas dan memberikannya pada Alan.

Alan langsung menyambar kunci motor Delana dan bergegas pergi ke minimarket terdekat untuk mencari lotion anti nyamuk.

Dhanuar sibuk bermain game online di ruang tamu. Sementara Delana sibuk menyiapkan makan siang untuk Hesa yang tak lama lagi akan datang ke rumahnya.

 

***

Hesa keluar dari mobilnya dengan senyum bahagia. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sambil bersenandung.

“Kelihatan seneng banget. Abis dapet proyek baru?” tanya Astria begitu melihat Hesa masuk ke dalam rumah.

Hesa meringis. “Ma, aku mau camping malam ini.”

Astri mengernyitkan  dahinya. “Camping?”

Hesa menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia melangkahkan kaki menuju kamarnya yang ada di lantai dua rumahnya.

Astria hanya tersenyum melihat wajah sumringah dari anak laki-lakinya itu.

Hesa langsung masuk ke dalam kamar. Ia mengambil ransel kosong yang ia simpan di dalam lemari dan mulai mengisinya dengan beberapa potong pakaian.

Hesa teringat sesuatu. Ia tidak punya tenda untuk berkemah.

Hesa langsung mengirim pesan singkat untuk Delana. “Del, aku nggak punya tenda kemah. Kalo mau beli dulu kayaknya nggak sempat.”

Beberapa menit kemudian, Delana langsung membalas pesan darinya. “Nggak usah mikirin yang lain. Cukup bawa baju ganti dan handuk aja.”

Hesa tersenyum saat membaca pesan balasan dari Delana. Delana memang pengertian dan berhasil membuat perasaan Hesa tak karuan.

Hesa tersenyum sambil menata keperluannya ke dalam tas.

Ia melangkahkan kakinya dan berdiri di depan deretan kunci-kunci mobilnya. Ia langsung menyambar kunci mobil George S. Patton.

Hesa memakai ranselnya dan langsung keluar dari kamar.

“Mau berangkat sekarang?” tanya Astria.

“Iya, Ma.” Hesa meletakkan ranselnya di atas kursi meja makan dan bergegas menuju garasi mobil. Ia langsung masuk ke atas mobil dan menyalakan mesin. Kemudian masuk kembali ke dalam rumah.

“Udah makan?” tanya Astria.

“Belum, Ma.” Hesa langsung duduk di meja makan sembari menunggu memanaskan mobilnya.

“Makan dulu!” pinta Astria.

“Aku udah janji mau makan siang sama seseorang,” tutur Hesa sambil melirik arloji yang ada di tangannya.

Astria tersenyum. “Ya udah kalo gitu.” Astria langsung bergegas pergi.

Hesa tersenyum kecil. Ia mengambil satu buah apel yang sudah tersedia di atas meja makan. Ia terus tersenyum memikirkan Delana. Ia merasakan perasaan yang berbeda sejak pertama kali melihat gadis itu dan ingin selalu menatapnya setiap saat.

Beberapa menit kemudian. Hesa langsung berangkat menuju rumah Delana. Ia sudah beberapa kali mengunjungi rumah Delana bersama dengan Dhanuar, rekan sesama playboy-nya.

Sebelum ke rumah Delana. Ia mampir ke salah satu SPBU terdekat untuk mengisi bahan bakar. Mobil yang saat ini ia pakai memang jarang sekali digunakan. Hanya digunakan di saat-saat tertentu. Tapi, tetap saja selalu mendapatkan perawatan terbaik. Oleh karenanya, ia harus memastikan kalau bahan bakarnya cukup sampai lokasi yang akan mereka tuju.

Setelah mengisi bahan bakar, Hesa langsung melajukan mobilnya menuju rumah Delana. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan gadis cantik itu.

Di perjalanan, Hesa memikirkan untuk memberikan sesuatu untuk Delana. Tapi, ia masih bingung karena tidak tahu sama sekali apa yang disukai oleh gadis itu.

“Del ... Del, kamu tuh bener-bener cantik. Aku nggak tahu kenapa kamu tiba-tiba penuh di dalam otakku,” gumam Hesa sambil tersenyum.

Hesa membelokkan mobilnya ke arah Gunung Bahagia. Melewati kampus tempat Delana bersekolah. Ia berhenti tepat di depan rumah Delana.

Hesa merapikan jaketnya dan langsung turun dari mobil. Ia merasa begitu gugup karena akan bertemu dengan Delana.

Hesa menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan Delana. Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju pintu rumah Delana yang setengah terbuka. Ia membayangkan Delana akan menyambut dan langsung memeluknya saat ia datang.

 

((Bersambung...))

Saturday, October 18, 2025

THEN LOVE BAB 57 : BUKAN SALAH WAKTU

 


Waktu begitu cepat berlalu. Banyak hal yang berubah dalam kehidupan. Seperti halnya yang terjadi pada Mahesa Adelfino. Kini, ia menjadi penerus perusahaan papanya.

Hari ini, Mahesa pergi ke salah satu perusahaan rekanannya untuk membicarakan suatu hal. Kamoga Corporation adalah salah satu perusahaan yang bekerjasama dengan Fino Group dalam berbagai bidang usaha.

“Paman Kamoga ada?” sapa Hesa begitu sampai di meja resepsionis.

“Maaf, Pak. Dengan Bapak siapa?” tanya resepsionis itu dengan ramah. Matanya berbinar melihat cowok muda dan tampan dengan setelan jas rapi.

“Mahesa dari Fino Group,” jawab Hesa sambil tersenyum manis menatap resepsionis yang cantik.

“Oke. Sebentar ya, Pak!” pinta resepsionis itu dan langsung menelepon sekretaris Presdir Kamoga Corporation. Ia memberitahukan soal kedatangan Mahesa lalu kembali menutup teleponnya.

“Bapak Kamoga ada di ruangannya di lantai enam,” tutur resepsionis itu pada Mahesa. “Perlu saya antar?” tanyanya sambil tersenyum manis.

“Nggak perlu. Saya bisa ke sana sendiri,” jawab Mahesa sambil mengedipkan matanya ke arah resepsionis itu.

Mahesa memang terkenal sebagai cowok playboy. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda wanita cantik yang ia temui. Ia langsung bergegas menaiki lift menuju kantor Presdir yang ada di lantai enam.

“Bapak Hesa?” sapa sekretaris yang langsung berdiri dari tempat duduknya ketika Mahesa tiba.

Hesa tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Mari ikut saya!” pinta sekretaris tersebut sambil mengantar Mahesa masuk ke dalam ruangan Kamoga.

“Pagi, Paman Kam!” sapa Hesa sambil merangkul Kamoga.

“Pagi, gimana kabar kamu?” tanya Kamoga sambil menatap hangat anak laki-laki yang ada di hadapannya itu.

“Baik, Paman. Paman apa kabar?”

“Baik juga. Silakan duduk!” pinta Kamoga mempersilakan Mahesa untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.

Mahesa langsung duduk di sofa, berhadapan dengan Kamoga selaku Presiden Direktur dari Kamoga Corporation.

“Waktu cepat sekali berlalu. Rasanya, baru kemarin Paman lihat kamu bermain di taman. Sekarang, kamu sudah jadi penerus perusahaan papa kamu,” tutur Kamoga.

Mahesa tersenyum kecil menanggapi ucapan Kamoga.

“Paman, aku ke sini mau membicarakan masalah kerja sama kita untuk beberapa site yang ada di Kutai Barat dan Sangatta,” tutur Hesa serius.

“Ah, wajah kamu serius banget. Gimana kalo kita bicarain sambil ngopi?” tutur Kamoga.

“Boleh,” jawab Hesa sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Kamoga mengajak Hesa ke kedai kopi yang tak jauh dari kantornya.

“Paman, aku butuh penambahan unit untuk site Sangatta dan Kubar,” tutur Hesa saat mereka sudah duduk di kedai kopi.

“Butuh berapa unit?” tanya Kamoga.

“Mmh ... tapi kali ini kami tidak akan melakukan transaksi pembelian,” tutur Hesa.

Kamoga mengernyitkan dahinya. “Maksud kamu?”

“Semuanya pakai sistem sewa,” jelas Hesa singkat.

“Oh ... ya, Paman ngerti. Ada masalah dengan unit kamu di sana?”

“Nggak ada. Hanya saja, sulit untuk melakukan maintenance setiap unit karena mekanik kami tidak begitu bagus. Aku rasa, mekanik Paman lebih banyak berpengalaman.”

Kamoga tertawa kecil. “Itu soal gampang. Jadi, mau sewa unit sekaligus perawatannya ditanggung perusahaan kami?”

Hesa menganggukkan kepala. “Operatornya juga dari Paman,” tuturnya.

“Bukannya kamu sudah punya banyak operator?”

“Iya. Tapi, mereka semua sudah pegang unit dan Site Manager menyarankan untuk bekerjasama dengan kontraktor.”

Kamoga mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Besok aku ke sini lagi bawa kontraknya,” tutur Hesa.

Kamoga mengangguk. “Gimana dengan pembangunan hotel?” tanya Kamoga.

“Eh!?”

“Paman dengar-dengar, Papa kamu sedang memulai bisnis hotel dan tempat hiburan?”

Hesa tersenyum mendengar pertanyaan Kamoga. “Semuanya berjalan dengan baik.”

“Bagus. Paman percaya, kamu bisa menangani semuanya dengan baik.”

“Masih dibantu papa,” sahut Hesa.

Kamoga tertawa kecil. “Paman tidak menyangka kalau bisnis papa kamu juga akan merambah ke bidang perhotelan dan hiburan. Dia memang pekerja keras.”

Hesa tersenyum. “Dia udah menyerahkan perusahaan kontruksi dan mining ke aku. Mungkin, beliau masih ingin menjalankan bisnis tanpa bersaing dengan anaknya sendiri.”

“Hahaha.” Kamoga tertawa mendengar ucapan Hesa.

Mereka sibuk membicarakan beberapa bisnis. Perusahaan Kamoga dan Fino group memiliki banyak kerjasama. Banyak hal yang mereka bicarakan ke depannya untuk kemajuan perusahaan mereka.

Hesa tidak hanya sekedar bertanya. Ia juga belajar banyak hal baru dari Paman Kamoga tentang perusahaan yang baru saja ia tangani.

***

Delana berbaring di atas ranjangnya sambil berselancar di internet. Entah kenapa ia merasa akhir-akhir ini terasa membosankan. Ia ingin pergi ke suatu tempat yang sedang hits di dunia maya. Hampir semua tempat wisata yang ada di sini adalah pantai karena kota Balikpapan berada di pesisir pantai.

Delana langsung terbangun saat membaca sebuah artikel yang menyebutkan destinasi wisata yang sedang hits di wilayah Samboja. Salah satu daerah yang berdampingan dengan kota Balikpapan.

“Batu Dinding? Kayaknya keren,” gumam Delana sambil mencari beberapa referensi di Youtube tentang salah satu lokasi wisata yang sedang hits beberapa hari terakhir.

“Wow! Gila! Ini keren!” seru Delana ketika melihat beberapa vlog yang menunjukkan keberadaan Batu Dinding. Batu Dinding terbentuk alami dari alam dengan ketinggian sekitar 150 meter dan panjang sekitar lima ratus meter.

Delana berpikir ulang. Lebar batu yang dipijak kurang dari lima meter, bahkan ada yang hanya berukuran satu meter saja. Kalau ia tergelincir dan jatuh, pasti hidupnya akan langsung berakhir hari itu juga.

Delana menghela napas. “Itu kan tempat wisata. Pastinya udah ada pemandu dan safety-nya juga. Ngapain sih aku khawatir?” tutur Delana pada dirinya sendiri.

“Tapi, kalo mau ke sana mana bisa pake mobil papa. Mobil papa terlalu rendah buat medan yang sulit dan terjal kayak gitu,” ucap Delana. Ia sibuk berdiskusi dengan dirinya sendiri.

Delana mengetuk-ngetuk dagunya. Ia terus berpikir agar bisa pergi ke Batu Dinding tanpa harus mengorbankan mobilnya sendiri. Ayahnya bisa berhenti mengirimkan uang saku kalau sampai ia membuat mobil pribadi ayahnya rusak.

“Aha ... Paman Kam kan punya mobil Strada. Aku pinjam mobilnya aja,” tutur Delana sambil tersenyum ceria.

Delana mengetik nama kontak Paman Kam dan langsung meneleponnya.

“Halo, cantik!” sapa Kamoga begitu panggilan telepon Delana tersambung.

“Halo, Paman. Paman lagi apa?” tanya Delana.

“Lagi di kantor. Tumben telepon Paman. Ada apa?”

“Hehehe. Ini, Paman ...” Delana meringis. Ia sangat berhati-hati membicarakan keinginannya.

“Ada apa? Ngomong aja, nggak usah sungkan begitu!” pinta Kamoga.

“Mmh ... aku mau pinjam mobil Paman, boleh?” tanya Delana pelan.

“Emang mobil kamu ke mana?”

“Mmh ... ada, sih. Tapi, aku pengen ke Batu Dinding. Kalo pake mobilku, nggak bisa masuk karena jalannya lumayan sulit,” tutur Delana dengan gaya manja.

“Oh ... mau pake mobil Paman yang Strada?”

Delana menganggukkan kepala. “Iya, Paman. Boleh?”

“Boleh. Kapan mau dipake?” tanya Kamoga.

“Besok bisa?” tanya Delana.

“Kamu mau jalan besok? Emangnya nggak kuliah?”

“Kuliah. Aku ke sana abis pulang kuliah.”

“Oh, gitu? Ambil aja di kantor besok ya!” perintah Kamoga.

Delana tersenyum senang. “Oke. Makasih banyak ya, Pamanku tercintah!” tutur Delana dengan gaya alay.

Kamoga tertawa kecil. “Kamu ini ada-ada aja.”

“Hehehe. Ya udah, dilanjut lagi kerjanya! Maaf mengganggu,” tutur Delana.

“Iya.”

Delana langsung menutup teleponnya. Ia merasa sangat senang karena akhirnya bisa pergi jalan-jalan ke suatu tempat yang belum pernah ia kunjungi.

“Mmh ... kalo ke sana sendirian, aman nggak ya? Aku kan cewek,” tutur Delana. Ia menghela napas dan mulai lesu. Sepertinya ia harus berpikir ulang untuk pergi sendiri mengingat medan yang harus dilalui sangat buruk dan juga berada di tengah hutan.

Delana melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Ia mendengar suara ribut di lantai bawah. Suara itu tak asing lagi di telinga Delana. Ia langsung berlari menuruni anak tangga, menghampiri tiga cowok yang sedang asyik menonton televisi sambil menghambur cemilan di atas meja.

“Kalian udah lama di sini?” tanya Delana.

“Udah,” jawab Dhanuar. “Baru bangun tidur?”

Delana tersenyum sambil menatap Dhanuar. Ia kemudian ikut duduk di sofa sambil menatap televisi yang menyala. Delana menatap ketiga cowok itu satu persatu. Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing. Lalu, apa gunanya televisi menyala? Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ketiga saudaranya itu.

“Lan, kamu tahu Batu Dinding nggak?” tanya Delana pada Alan.

“Batu Dinding?” Alan melirik ke langit-langit sebagai tanda berpikir. “Kayaknya pernah dengar.”

“Yang di kilo empat lima itu, Kak?” tanya Bryan.

“Iya,” jawab Delana sambil menganggukkan kepala.

“Oh ... yang katanya kayak Tembok Raksasa China itu ya?” tanya Dhanuar.

“Iya. Tapi, ini batu, Dan nggak sepanjang Tembok Raksasa China juga,” sahut Delana.

“Ya iya, lah. Tapi keren loh itu. Terbentuk alami jadi dinding gitu. Katanya, mahasiswa Geologi dari Pulau Jawa yang pertama kali nemuin tempat itu buat penelitian dan akhirnya terekspose ke luar,” tutur Dhanuar.

“Yang mana sih?” tanya Alan penasaran.

“Search aja di Youtube! Ntar muncul,” jawab Dhanuar.

Alan langsung membuka aplikasi Youtube dan mencari keyword ‘Batu Dinding’ seperti yang disarankan oleh Dhanuar.

“Mmh ... aku rasa bukan mereka yang pertama kali nemuin. Pasti ada warga sekitar yang udah tahu tempat itu lebih dulu. Tapi, mereka nggak ekspose ke dunia luar. Makanya baru terkenal sekarang,” tutur Delana.

“Iya, juga sih,” tutur Dhanuar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kakak senior aku, dia pecinta alam dan udah pernah ke Batu Dinding jauh sebelum tempat itu terkenal. Katanya, dulu tempat itu cuma bisa dimasukin sama pejalan kaki aja. Motor dan mobil nggak bisa masuk. Tapi, kayaknya sekarang udah bisa masuk ke sana,” tutur Bryan.

“Iya.”

“Kayaknya, di Kalimantan ini masih ada banyak surga tersembunyi di dalamnya. Secara, alamnya tuh masih asri karena belum banyak tersentuh sama manusia,” tutur Dhanuar.

“Iya. Ini keren!” seru Alan sambil melihat video Batu Dinding yang ada di Youtube. “Kayaknya asyik camping di sini.”

“Aku rencananya gitu. Kalian mau ikut?” tanya Delana menatap Dhanuar dan kedua adiknya.

Bryan, Dhanuar dan Alan saling pandang.

“Mau!” jawab Dhanuar dan Alan bersamaan.

“Kapan, Kak?” tanya Bryan.

“Besok gimana?”

“Emang nggak kuliah?”

“Kuliah. Abis pulang kuliah, kita ke sana. Gimana?”

“Mendadak banget, emang Kakak punya tenda buat camping?” tanya Bryan.

“Punya,” jawab Delana sambil tersenyum.

Bryan menatap Dhanuar dan Alan. “Mereka?”

“Kita satu tenda juga nggak papa,” sahut Alan sambil meringis.

“Huu ... maunya! Besok beli tenda, gih!” pinta Delana.

“Beli di mana?” tanya Alan.

“Di toko bangunan!” sahut Delana sambil melotot.

“Serius aku nanya. Aku nggak pernah beli tenda begituan. Mana tahu belinya di mana,” tutur Alan.

“Nanti aku pesenin sama temenku, Kak,” tutur Bryan.

“Temenmu ada yang jual?”

“Kakaknya temenku itu pecinta alam. Dan kayaknya jual alat-alat kayak gitu,” jawab Bryan.

“Oke. Cepet pesenin ya!” pinta Alan.

Bryan menganggukkan kepala.

“Kita bertiga satu tenda aja,” tutur Dhanuar.

“Aku nggak bisa ikut, Kak,” tutur Bryan.

“Loh? Kenapa? Bukannya besoknya hari minggu, libur kan?” tanya Alan.

“Iya. Tapi aku ada ujian karate hari Minggu,” jawab Bryan.

“Oh. Jadi, kamu nggak bisa ikut dong?” tanya Delana memasang wajah kecewa.

“Aku ikut lain kali, Kak. Lagian, aku juga udah pernah ke sana,” tutur Bryan.

“Hah!? Serius!? Kapan kamu perginya? Kenapa Kakak nggak tau?” tanya Delana.

“Ke sana cuma sebentar. Diajak mampir sama guruku waktu kami silaturahmi sama perguruan pencak silat yang ada di Samboja.”

“Oh ... yang waktu itu?” tanya Delana.

Bryan tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Ya udah. Kita bertiga aja ke sana. Gimana?” tanya Delana.

“Boleh,” jawab Alan dan Dhanuar sambil menganggukkan kepala.

“Besok aku ke kantor papa kamu buat pinjam mobil Strada,” tutur Delana menatap Dhanuar.

“Eh!? Pake Porsche aku nggak bisa?” tanyanya iseng.

“Mau pake itu? Kalo hancur, aku nggak nanggung,” sahut Delana.

“Hahaha.” Dhanuar dan Alan tertawa menanggapi ucapan Delana.

“Mau kuantar ke kantor Papa?” tanya Dhanuar.

“Nggak usah. Kalian siapin aja keperluan buat camping!” pinta Delana.

“Apa aja?” tanya Alan.

“Catet! Jangan sampe ada yang ketinggalan!” pinta Delana.

“Nggak ada buku sama pulpen!” protes Alan.

“Catet di hapemu kan bisa,” sahut Delana ketus.

Alan menghela napas. Ia langsung membuka aplikasi note di ponselnya dan bersiap mengetik catatan keperluan yang harus mereka siapkan.

“Yang pertama, tenda,” tutur Delana.

“Hmm ... terus?” tanya Alan sambil mengetik di ponselnya.

“Bantal, selimut, baju ganti.”

“Terus?”

“Panci kecil buat masak. Bawa beras sedikit aja sama mie instan.”

“Nggak bawa kompor?” tanya Alan.

“Nggak usah, ribet. Bikin api aja di sana pake kayu bakar,” sahut Delana.

“Hmm ... apa lagi?” tanya Alan.

“Cemilan yang banyak!” pinta Delana.

“Emang bisa bawa barang sebanyak ini?” tanya Dhanuar.

“Kita bawa mobil. Ngapain bingung sih!?”

“Hmm ... iya, iya.”

“Oh ya, jangan lupa bawa cabai, garam, bawang merah sama bawang putih. Gula, kopi sama teh juga jangan lupa!” tutur Delana.

Alan menghela napas. “Kayaknya yang ini wilayahmu, deh!” tuturnya sambil menatap Delana.

“Eh!?” Delana mengangkat kedua alisnya.

“Keperluan dapur kayak gini kan wilayahmu. Kita siapin yang lain yang kira-kira ribet. Kayak tenda, selimut, handuk dan yang berat-berat. Kalo soal bumbu-bumbu mah urusan kamu. Kita cowok mana ngerti,” cerocos Alan.

“Iih ... iya, nanti aku yang siapin. Tapi, kamu catet aja semuanya dulu. Biar akunya juga nggak lupa. Kamu juga harus ngingetin aku biar nggak ada barang yang ketinggalan pas udah sampe di sana,” sahut Delana.

“Oh gitu? Siap bos!” tutur Alan. “Ada lagi nggak, nih?” tanyanya lagi.

“Bentar. Aku masih mikir. Apa lagi ya, Dek?” tanya Delana pada Bryan.

“Gelas sama piringnya jangan lupa! Ntar makan sama minum pake apa?” sahut Bryan.

Delana tergelak. “Iya. Catet tuh, Lan!” perintah Delana pada Alan.

“Siap, Bu Bos!” sahut Alan.

Delana tersenyum senang karena akhirnya Dhanuar dan Alan bersedia menemaninya pergi ke Batu Dinding. Yah, setidaknya ia tak perlu khawatir karena ia tahu keduanya akan menjaganya dengan baik.

***

Sesuai dengan janjinya, hari ini Hesa datang ke perusahaan Paman Kam untuk melakukan penanda tanganan kontrak kerja baru.

“Pak Kam ada?” tanya Hesa pada petugas resepsionis.

“Sebentar, Pak.” Resepsionis itu langsung menelepon Sekretaris Presdir untuk memberitahukan kedatangan Hesa. Ia langsung mengenali cowok tampan yang datang di hari sebelumnya.

“Maaf, Pak. Bapak diminta untuk menunggu sebentar karena Pak Kam masih ada tamu,” tutur petugas resepsionis.

“Oke,” sahut Hesa sambil menyandarkan tubuhnya ke meja resepsionis.

Resepsionis cantik itu terus menatap Hesa. Ia sampai tak berkedip melihat cowok ganteng dan kaya yang ada di hadapannya.

Hesa tersenyum kecil sambil melirik resepsionis yang ada di sampingnya. Ia langsung memutar tubuhnya menghadap meja resepsionis dan tersenyum manis.

Resepsionis cantik itu terlihat salah tingkah ketika Hesa balas menatapnya. Sebagai seorang cowok playboy, naluri untuk menggoda selalu muncul setiap kali melihat perempuan cantik di dekatnya.

“Hai ...!” sapa Hesa. Ia mulai melancarkan aksinya karena bosan menunggu.

Resepsionis cantik itu hanya tersenyum.

“Udah lama kerja di sini?” tanya Hesa.

“Udah, Pak,” jawab resepsionis itu.

“Kok baru lihat ya?”

“Mmh ... baru dua tahun kerja, Pak.”

“Dua tahun? Lumayan lama juga. Dua tahun jadi resepsionis?” tanya Hesa.

Resepsionis cantik itu menganggukkan kepala.

“Mau sampe kapan jadi resepsionis?” tanya Hesa. “Jadi direktur mau nggak?” bisik Hesa pelan.

“Hah!? Maksudnya?”

“Jadi direktur,” tutur Hesa sambil memainkan alisnya.

“Ah, nggak mungkin, Pak. Saya cuma lulusan SMA,” sahut resepsionis itu sambil tersenyum malu.

“Mungkin aja. Asal kamu mau nikah sama Pak Direktur,” bisik Hesa sambil tersenyum.

“Ah, Bapak ada-ada aja.”

“Kok, panggil Bapak? Emang aku kelihatan kayak bapak-bapak?”

“Eh!? Anu, Pak.”

“Panggil Mas aja!” pinta Hesa.

“Maaf, Pak. Rasanya nggak sopan kalo panggil Bapak dengan sebutan itu.”

Hesa tertawa kecil. “Kalo nggak bisa panggil Mas atau Kak. Panggil sayang aja gimana?” tanya Hesa sambil memainkan alisnya. Ia mengedip centil pada cewek cantik yang ada di depannya.

Ucapan Hesa membuat hati resepsionis cantik itu berbunga-bunga. Tapi, ia sendiri tidak tahu apakah bos tampan ini serius atau hanya iseng menggodanya.

Hesa mengedarkan pandangannya. Ia tersenyum dan melambaikan tangan pada beberapa cewek cantik yang ia lihat.

“Paman Kam pinter banget cari karyawan cantik-cantik. Betah aku di sini kalo setiap hari bisa lihat cewek cantik kayak gini,” gumam Hesa.

Resepsionis cantik itu hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Chilton yang mulai menggoda karyawan lain yang ada di dekatnya.

“Mbaknya udah punya pacar?” tanya Hesa pada resepsionis itu lagi.

“Udah, Pak.”

“Ganteng mana sama saya?”

“Apanya?”

“Pacarnya?”

“Mmh ...”

“Jawab jujur!” pinta Hesa.

“Ganteng Pak Hesa, sih,” jawabnya lirih.

“Hahaha. Jelas, dong! Cuma aku cowok yang paling ganteng dan kaya di kota ini,” tutur Hesa dengan bangga. “Kalo aku suka sama kamu. Kamu mau putusin pacar kamu?” tanya Hesa.

“Ah, pertanyaan Bapak aneh!” celetuk resepsionis cantik itu.

“Semua cewek suka cowok ganteng dan kaya, kan? Emangnya saya kurang ganteng? Kurang kaya?” tanya Hesa.

“Udah semua, Pak,” jawab resepsionis itu sambil tersenyum malu.

“Mmh ... ada satu yang kurang dari aku,” tutur Hesa. “Kamu mau tahu nggak itu apa?” tanyanya sambil menatap resepsionis itu.

“Apa, Pak?”

Hesa menghela napas. “Aku kurang pasangan hidup,” tuturnya sambil tersenyum.

Resepsionis cantik itu menahan tawa. “Nggak mungkin laki-laki yang ganteng dan kaya seperti Bapak nggak punya pasangan.”

“Buktinya, sampe sekarang aku masih belum punya istri. Kalo pacar sih banyak. Tapi, nggak ada yang cocok buat dijadiin istri.”

Resepsionis itu mulai risih dengan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Hesa. Ia sudah bisa merasakan kalau bos muda ini hanya sekedar menggodanya karena jenuh menunggu.

“Kamu mau nggak jalan sama aku? Siapa tahu kita cocok,” ajak Hesa.

“Eh!?”

“Aku minta nomer telepon, dong!” pinta Hesa sambil tersenyum genit.

“Telepon ke nomor kantor saja, Pak!”

“Masa mau ngajak jalan telepon ke nomor kantor? Minta nomor WA kamu dong!” pinta Hesa. Ia tersenyum manis pada resepsionis cantik itu. Ia berharap wanita cantik itu mau memberikan nomor telepon dan bisa diajak berkencan sesekali.

Resepsionis cantik itu tersenyum. Ia menuliskan nomor teleponnya pada secarik kertas dan memberikannya pada Mahesa. “Ini, Pak.”

“Nah, gitu dong cantik!” tutur Hesa gemas. Ia langsung menerima secarik kertas pemberian resepsionis cantik itu dan menyimpannya ke dalam saku jasnya.

Mata Hesa tiba-tiba tertuju pada gadis cantik yang baru saja melewati pintu masuk. Ia merasa gadis itu sangat cantik, menarik dan penampilannya sangat berkelas. Hesa terus menatap gadis yang kini berdiri di depan pintu lift. Tanpa pikir panjang, Hesa langsung melangkahkan kakinya menghampiri gadis itu, ia berdiri tepat di sisi gadis cantik itu.

Gadis itu menoleh ke arah Hesa. Ia tersenyum manis dan berhasil membuat jantung Hesa berdetak begitu kencang. Saat pintu lift terbuka, gadis itu langsung masuk. Hesa ikut masuk ke dalam lift. Hesa terus menatap gadis cantik itu lewat ekor matanya. Tapi, gadis itu terlalu cuek. Membuatnya semakin penasaran.

Beberapa kali Hesa menarik napas dan membenarkan jasnya yang sudah rapi. Ia ingin menyapa gadis itu, tapi entah kenapa bibirnya beku. Tak seperti biasanya saat ia menggoda gadis-gadis cantik.

Hesa sama sekali tak menyangka kalau gadis itu akan menuju ke lantai enam. Sama seperti ruangan Paman Kam. “Kebetulan banget,” bisiknya dalam hati.

Ia terus berjalan mengikuti langkah gadis itu.

“Paman Kam punya bidadari secantik ini di kantornya. Apa aku harus beli saham perusahaan Kamoga supaya bisa ketemu sama cewek cantik ini setiap hari?” tanya Hesa dalam hatinya.

Hesa terus memerhatikan gadis berambut cokelat itu. Ia terlihat sangat sempurna. Badannya tinggi, kulitnya putih berseri dan wajahnya juga sangat cantik.

Gadis yang ia perhatikan juga sangat berkelas. Hesa bisa melihat barang-barang mahal yang menempel di tubuhnya. Ia terbiasa membelikan barang bermerk untuk pacar-pacarnya. Sehingga, ia bisa tahu betul kalau gadis itu memakai barang-barang bermerk. Mulai dari sepatu, tas dan perhiasan yang dikenakan.


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas