Showing posts with label Then Love. Show all posts
Showing posts with label Then Love. Show all posts

Monday, September 8, 2025

THEN LOVE BAB 21 : BELAJAR BERENANG

 BAB 21 - BELAJAR BERENANG



“Bel, si Chilton ngajakin berenang hari ini. Bagusnya aku pake baju renang yang mana, ya?” tanya Delana sambil membuka paket dari online shop yang berisi beberapa model baju renang.

“Coba lihat dulu!” Belvina mengambil salah satu baju renang dan mengamatinya. Kemudian mengambil lagi baju renang yang lainnya.

“Yang maCV na, Bel?” tanya Delana sambil meletakkan pakaiannya sembarangan.

“Tanya Ivo, coba!” pinta Belvina.

Delana melirik Ivona yang masih tertidur pulas. Ia tak tega kalau harus membangunkannya.

“Bangunin aja!” perintah Belvina.

“Kamu aja gin yang bangunin!” pinta Delana.

Belvina memutar bola matanya. Ia menghampiri Ivona dan menggoyang-goyangkan tubuhnya yang masih tertidur pulas. “Bangun, Vo! Bantuin kita pilih baju, dong!”

“Mmh ...!” Ivo hanya bergumam tanpa membuka mata.

“Bangun nah Vo! Aku bingung mau pake baju yang mana?” seru Delana.

Ivona membuka sedikit kelopak matanya. Ia memicingkan mata menatap dua sahabatnya yang sedang sibuk menghambur pakaian.

“Itu yang warna biru putih bagus,” tutur Ivona ketika melihat baju renang yang dipegang oleh Belvina. Ia kembali memejamkan mata karena masih mengantuk.

“Huft, cantik-cantik tukang bangkong!” celetuk Delana.

“Kamu mau pake yang mana?” tanya Belvina.

“Ini aja, deh.” Delana mengambil baju renang yang ditunjuk oleh Ivona. Ia langsung memasukkan baju itu ke dalam tasnya dan megacuhkan baju-baju yang lain.

“Yang lain buat apa?” tanya Belvina menatap beberapa baju renang yang berhamburan di dalam kamarnya.

“Buat kamu aja!” tutur Delana.

“Serius?”

“Iya. Pake aja!”

“Wah, boleh juga nih ntar aku berenang sama Ivo.” Belvina memunguti baju renang Delana dan memasukkannya ke dalam lemari pakaian. “Kamu jam berapa janjian sama Chilton?” tanya Belvina.

“Jam delapanan gitu,” jawab Delana.

“Ini loh sudah jam delapan kurang lima belas menit. Kamu belum mandi,” tutur Belvina.

“Iya. Aku mandi dulu ya!” Delana langsung bangkit dari tempat duduknya. “Kalo dia datang, bilang aku masih mandi,” seru Delana sambil masuk ke kamar mandi.

Belvina menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Delana.

Beberapa menit kemudian, ponsel Delana berdering.

“Del, telepon dari Chilton tuh!” teriak Belvina.

“Angkatin, Bel. Bilang kalo aku lagi di kamar mandi,” seru Delana dari dalam kamar mandi.

Belvina langsung mengangkat panggilan telepon dari Chilton.

“Halo ...”

“Udah siap? Aku di depan,” tutur Chilton.

“Delana masih mandi.”

“Oh. Ini siapa?”

“Belvi.”

“Suaranya kok mirip?”

“Masa sih?”

“Hmm ... ya udah, bilangin Delana kalo aku nunggu di luar.”

“Iya.”

Chilton langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Bel, Chilton udah di mana?” tanya Delana begitu ia keluar dari kamar mandi.

“Udah di depan katanya.”

“Iih, kebiasaan banget deh dia kalo udah di depan baru ngasih kabar. Coba kek pas dia berangkat udah ngabarin jadinya aku nggak keburu-buru siap-siapnya,” cerocos Delana.

“Buruan ganti baju, nggak usah kebanyakan ngedumel,” sahut Belvina yang sedang duduk santai sambil bermain ponselnya.

Delana menghentakkan kakinya. Ia masih saja terus menggerutu tak jelas karena harus buru-buru berangkat menemui Chilton. Ia belum mengeringkan rambutnya dan hal ini membuat Delana cukup kesal.

“Bel, hair dryer mana?” tanya Delana membuka-buka laci meja rias Belvina tapi tak bisa menemukan barang yang ia cari.

“Kamu mau berenang, ngapain ngeringin rambut segala?” tanya Belvina.

Delana menatap tajam ke arah Belvina. “Cepetan kasih aku hair dryer!” pinta Delana. Ia tak ingin banyak berdebat dengan Belvina.

“Tuh.” Belvina menunjuk hair dryer yang ada di atas meja.

Delana mengernyitkan dahinya. “Kok, aku tadi nggak lihat ya?”

Belvina menggelengkan kepala. “Orang kalo tergesa-gesa ya kayak gitu. Gajah di depan mata aja nggak kelihatan.”

Delana mengerucutkan bibirnya.

Beberapa menit kemudian, Delana sudah siap dan bergegas keluar dari kamar Belvina. Ia berjalan setengah berlari menuju parkiran, tempat Chilton menunggunya.

Delana langsung tersenyum saat mendapati sosok Chilton yang sedang duduk di atas motornya. Chilton juga tersenyum saat Delana muncul dari koridor kosan.

“Nunggu lama, ya?” tanya Delana begitu sampai di hadapan Chilton.

Chilton menggelengkan kepala. “Dah siap?” tanyanya.

Delana menganggukkan kepala.

“Ayo, naik!” pinta Chilton sembari menyodorkan helm untuk Delana.

Delana segera menaiki motor Chilton yang langsung bergegas pergi melajukan motornya menuju kolam renang yang ada di Benua Patra.

Sesampainya di kolam renang, Delana mencari kamar mandi untuk berganti pakaian.

“Oh, My God!” Delana melihat tubuhnya sendiri yang ada di cermin. Pakaian renang yang ia pilih terlalu seksi. “Hmm ... tapi bukannya baju renang begini semua ya?” gumamnya. Ia langsung mengikatkan sarung bali di pinggangnya dan keluar dari kamar mandi.

Di tepi kolam renang, Chilton sudah menunggu dan hanya menggunakan celana pendek. Semua orang menatap tubuhnya yang tinggi atletik, kulitnya putih dan wajahnya sangat tampan. Ia langsung menoleh begitu menyadari Delana melangkah mendekatinya.

Chilton tersenyum menatap Delana. Ia langsung meraih tangan Delana dan mengajaknya masuk ke kolam renang. “Eh, kamu duduk sini dulu!” pinta Chilton sambil menuntun Delana agar duduk di tepi kolam renang.

Delana mengikuti intruksi dari Chilton. Ia melepas kain penutup pinggangnya dan duduk di tepi kolam renang. Kakinya terasa dingin saat masuk ke dalam kolam.

Chilton langsung melompat ke kolam renang.

Delana tertawa kecil begitu Chilton masuk ke dalam kolam. Ia celingukan karena tubuh Chilton tak kunjung muncul dari dalam air.

Chilton muncul dari bawah kaki dan mengagetkan Delana.

“Chil ...! Kamu ngagetin aku aja!” celetuk Delana.

Chilton tersenyum, kedua tangannya berpegangan dengan tepi kolam renang dan Delana berada di tengah-tengah kedua tangannya. “Ayo, turun!” ajak Chilton sambil memegang pinggul Delana.

“Dalem nggak sih?” tanya Delana. Ia merasa gugup saat tangan Chilton menyentuh pinggulnya. Dadanya bergetar dan perasaannya tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Chilton menggelengkan kepala. Tangannya beralih ke pinggang Delana dan bersiap mengangkat tubuh Delana masuk ke dalam kolam renang.

Delana memegang pundak Chilton dan mengedarkan pandangannya. “Kita dilihatin orang,” bisik Delana. Ia merasa kurang nyaman karena Chilton memperlakukannya begitu mesra dan menjadi perhatian orang lain.

“Ngapain sih peduliin mereka!” celetuk Chilton kesal.

“Aku nggak biasa dilihatin kayak gitu, nggak nyaman aja,” tutur Delana.

“Cuekin aja!” pinta Chilton sambil menggenggam pinggang dan mengangkat tubuh Delana masuk ke dalam air.

 Delana langsung memeluk leher Chilton sambil memejamkan matanya karena ia takut tenggelam.

“Nggak papa. Kamu berdiri sendiri juga bisa.” Chilton tertawa kecil dan melepas pelukan Delana perlahan.

Delana menghela napas dalam-dalam dan bersiap belajar berenang. Sebenarnya, ia sudah pernah belajar berenang saat ia masih duduk di bangku SD. Ayahnya seringkali mengajaknya ke kolam renang. Tapi, setelah ia remaja tak pernah lagi pergi ke kolam renang.

Chilton mengajarkan Delana cara berenang dengan telaten sampai Delana bisa mengayuh tangan dan kakinya dengan baik.

“Udah mulai bisa,” ucap Chilton sambil memegangi lengan Delana.

Delana tersenyum ke arah Chilton. “Aku coba sendiri ya!”

“Dari atas!” pinta Chilton.

“Aku belum bisa kayak gitu.”

Chilton tertawa kecil. “Ya udah, coba deh!” Chilton menggenggam pundak Delana, menghadapkannya ke arah seberang tepi kolam renang. “Dari sini ke sana ya!” pintanya sambil menunjuk ujung kolam.

Delana mengangguk. Ia menghela napas dan bersiap berenang sampai ujung.

“Satu ... dua ... tiga ...!” seru Chilton.

Delana langsung berenang sampai ujung kolam dan kembali ke hadapan Chilton.

Chilton tertawa. Ia bangga karena Delana cepat sekali mempelajari teknik berenang. Tapi, ada guratan kecewa karena dia tak bisa lagi beralasan menyentuh tubuh Delana bahkan memeluk pinggangnya. Karena Delana sudah bisa melakukan gerakan renang sendiri.

“Aku capek!” ucap Delana dengan napas tersengal.

“Istirahat dulu, yuk!” ajak Chilton sambil menarik lengan Delana.

“Tangganya di sana!” Delana menunjuk tangga untuk naik ke tepi kolam renang dan bergegas meninggalkan Chilton.

Chilton meraih pinggang Delana untuk menahannya pergi. Membuat Delana akhirnya menghadap ke wajah Chilton dan jarak mereka sangat dekat.

“Kenapa?” tanya Delana. Andai mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih, Delana ingin sekali memeluk mesra cowok yang ada di depannya itu. Tapi, ia sadar tak mungkin bisa melakukan itu.

Chilton menatap mata Delana yang jaraknya sangat dekat dengan wajahnya. Pandangannya terus beralih ke hidung dan berhenti di bibir Delana. Darahnya terasa mengalir begitu cepat saat melihat bibir Delana yang basah dan sangat menggoda. Ia tak tahan ingin mengulum bibir mungil Delana.

“Hei ...!” Delana menepuk pipi Chilton yang terlihat melamun.

Chilton mengerjap dan langsung mengalihkan pandangannya. “Lewat sini aja, aku angkat.” Chilton memutar tubuhnya dan menyandarkan tubuh Delana ke tembok kolam renang. Ia menggenggam pinggang Delana dan mengangkatnya naik ke tepi kolam.

“Kamu gimana?” tanya Delana sambil tertawa tanpa suara saat ia sudah duduk di tepi kolam.

“Tarik dong!” pinta Chilton sambil mengulurkan tangannya.

“Emangnya aku kuat?” tanya Delana.

“Kuat.” Chilton meyakinkan.

Delana bangkit, berdiri dan mengulurkan tangannya menyambut tangam Chilton. Delan menarik tangan Chilton, tapi Chilton justru membalas tarikannya dan membuat Delana tercebur ke dalam kolam.

“Uhuk ... uhuk ...!” Delana keluar dari dalam air dibantu Chilton. Air kolam sempat masuk ke dalam mulutnya karena ia tak siap.

Chilton tergelak melihat wajah Delana yang terlihat kesal.

“Resek banget!” maki Delana sambil meninju dada kanan Chilton.

Chilton tertawa terbahak-bahak, ia tak bisa menahan tawa melihat Delana yang makin kesal.

Delana mencebik ke arah Chilton. Ia langsung berbalik dan berenang menuju tangga untuk nakm ke tepi kolam.

Chilton tersenyum menatap Delana yang sudah berdiri di atas kolam. Ia berenang mengikuti Delana. Ia menghampiri Delana yang duduk di kursi tepi kolam. Berteduh di bawah atap gazebo berbentuk jamur.

“Bawa minum nggak?” tanya Chilton.

“Bawa.” Delana mengambil botol air mineral dari dalam tas dan langsung memberikannya pada Chilton.

Chilton langsung menenggak minuma yang diberikan Delana.

“Hai, udah lama?” Seseorang menepuk bahu Chilton.

“Weh, ke sini juga? Sama siapa?” Chilton langsung mengajak cowok itu bersalaman dan merangkulnya.

Delana yang melihat ada teman Chilton, langsung menarik kain yang ia letakkan di atas tas dan menutup pahanya yang terlihat seksi.

“Sendiri aja. Udah lama?” tanya cowok itu sambil melirij gadis yang ada di hadapan Chilton.

“Lumayan.” Chilton melepas rangkulannya. “Oh ya, kenalin. Ini Delana.” Chilton memperkenalkan Delana pada temannya.

Cowok itu tersenyum menatap Delana dan langsung mengulurkan tangan. “Zoya.” Ia menyebutkan namanya.

Delana menyambut uluran tangan Zoya dan menyebutkan namanya.

Zoya terpaku melihat wajah Delana yang manis dan cantik. Mata gadis itu terlihat berbeda dan membuatnya merasa nyaman pada pandangan pertama.

“Jangan lama-lama salamannya!” Chilton menepuk tangan Zoya.

Zoya melepas genggaman tangannya sambil tertawa. Ia menyadari kalau sahabatnya itu cemburu.

“Pacarmu?” tanya Zoya.

“Bukan,” sahut Delana.

Chilton langsung menoleh ke arah Delana. Ia kesal karena Delana terlihat begitu baik dengan Zoya. Teman baiknya yang wajahnya sangat tampan.

Zoya tertawa kecil. “Dia memang aneh.” Ia duduk di samping Delana sambil menatap Chilton yang terlihat kesal.

“Nggak usah gitu. Aku nggak ada apa-apa sama dia. Nggak bakal cemburu,” celetuk Chilton.

Zoya mengangkat kedua alisnya. Ia semakin curiga saat Chilton harus mengklarifikasi hal yang seharusnya tak perlu ia lakukan.

“Kalian udah lama kenal?” tanya Delana menatap Zoya.

“Udah. Kita satu kelas di SMA Lima.”

“Oh, jadi kenalnya emang udah lama?” tanya Delana.

“Iya.” Zoya menganggukkan kepalanya. “Aku dulu tinggal di kampung sebelum akhirnya masuk sekolah elit itu. Dan cuma dia, satu-satunya orang yang mau berteman sama aku di sekolah.” Zoya menunjuk Chilton dengan dagunya.

Delana menoleh ke arah Chilton yang sedang menatap air kolam tanpa ekspresi. Ia tersenyum bangga karena cowok yang ia sukai ternyata tak hanya berwajah tampan, tapi juga memiliki hati yang baik.

“Chilton nggak pernah lihat aku beda. Dia tetap mau berteman sama aku apa adanya. Aku sering banget dibully di sekolah dan dia yang sering nolongin aku,” tutur Zoya.

Delana memerhatikan Zoya, ia menyimak dengan serius setiap kata yang keluar dari mulut Zoya.

“Emangnya kamu dibully karena apa?” tanya Delana heran. Secara fisik, Zoya memiliki wajah yang tampan, tinggi dan berkulit putih. Ia tidak mungkin dibully karena penampilannya.

“Aku lahir di kampung. Terlahir dari keluarga yang biasa. Murid-murid di SMA Lima punya latar belakang keluarga yang kaya dan hidupnya mewah. Menjadi satu-satunya yang berbeda di antara semuanya, pasti akan membuat kita merasa tersisihkan,” terang Zoya.

“Gimana caranya kamu bisa masuk sekolah elite? Beasiswa?” tanya Delana.

Zoya menggelengkan kepala. “Ayahku bekerja keras untuk bisa mengubah nasib keluarga. Sampai akhirnya, dia masukin aku sekolah elite itu.”

“Oh. Dan kalian ketemu di sana?” tanya Delana.

Zoya mengangguk sambil melirik Chilton yang sedang asyik bermain ponsel di tangannya. “Dia emang cuek, tapi hatinya baik. Satu-satunya temen sekolah yang mau berteman sama aku, cuma dia.”

Delana menoleh Chilton dan tersenyum. “Hei, asyik sendiri!” Delana menyolek lengan Chilton sambil tertawa kecil.

“Ngobrol aja! Aku denger, kok.” Chilton tak mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Delana memutar bola matanya dan kembali mengajak Zoya bercerita.

“Dia gimana di sekolah? Apa dia emang nyebelin kayak gitu?” tanya Delana berbisik sambil melirik Chilton.

Chilton langsung menoleh ke arah Delana karena ia tidak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Delana. “Nggak usah bisik-bisik kalo mau cerita!”

Delana dan Zoya tergelak melihat sikap Chilton.

“Dia cemburu,” bisik Zoya.

“Masa sih?” Delana melirik Chilton yang mulai kesal.

Chilton melangkahkan kaki ke tepi kolam dan melompat kembali untuk berenang.

“Kamu sudah lama kenal sama Chilton?” tanya Zoya.

“Belum lama banget sih. Baru kenal pas aku baru masuk kuliah.”

“Oh. Adik tingkat?” tanya Zoya.

Delana menganggukkan kepala.

Zoya menatap Chilton yang sedang berenang di hadapannya. “Aku belum pernah lihat jalan sama cewek. Pasti kamu cewek yang spesial.”

“Oh ya? Waktu SMA dia nggak punya pacar?” tanya Delana penasaran. Ia jadi makin semangat untuk tahu lebih jauh tentang Chilton dari sahabatnya itu.

“Setahu aku nggak ada. Aku rasa dia bukan tipe cowok yang nyembunyiin cewek di belakang teman baiknya sendiri.”

Delana tertawa kecil, Ia merasa bahagia karena akhirnya Chilton mulai menyukainya. Artinya, cintanya pada Chilton akan segera bersambut. Rasanya, sudah tak sabar mendengar Chilton mengungkapkan perasaan cinta kepadanya.

“Kamu cewek yang beruntung,” tutur Zoya. “Aku tahu, kamu bukan satu-satunya cewek yang suka sama dia. Ada banyak cewek yang ngejar-ngejar dia. Cuma ada satu cewek yang beruntung bisa dapetin perhatian dia.” Zoya memerhatikan wajah Delana. “Cewek itu kamu.”

Delana tersipu. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.

“Berenang lagi, yuk!” ajak Zoya.

“Mmh ... aku nggak begitu pandai berenang.”

“Nggak papa. Nanti aku temani.” Zoya bangkit, ia menyodorkan telapak tangannya ke wajah Delana.

Delana terkejut dengan sikap Zoya. Ia menatap telapak tangan dan wajah Zoya bergantian.

“Nggak usah khawatir sama Chilton. Kita berteman baik dan aku tahu dia nggak bakal marah.” Zoya memainkan alisnya, memberi isyarat agar Delana menyambut uluran tangannya.

Delana tersenyum. Ia menyambut uluran tangan Zoya dan bangkit dari tempat duduknya. Mereka bersama-sama menyusul Chilton masuk ke dalam kolam renang.

“Chil ..!” Zoya memanggil Chilton agar mendekat. Ia memberi isyarat pada Chilton agar menurunkan Delana yang masih duduk di tepi kolam.

Chilton mengerti maksud Zoya, ia langsung menghampiri Delana yang masih duduk di tepi kolam. Sementara Zoya langsung melompat masuk ke kolam dan berenang seorang diri.

“Mau berenang lagi?” tanya Chilton sambil berpegangan dengan tembok tepi kolam.

“Aku capek, sih.” Delana memijat lengan atasnya yang terasa masih pegal.

“Ya udah, duduk sini aja!” pinta Chilton. Ia melipat kedua tangannya di atas paha Delana. Ia mendongakkan kepala menatap Delana. “Cerita apa aja sama Zoya?” tanyanya pelan.

“Cerita soal sekolah lama kamu,” jawab Delana seadanya.

“Selain itu?” tanya Chilton.

“Nggak ada,” ucap Delana sambil menggelengkan kepalanya.

“Bohong!” Chilton mendelik ke arah Delana.

“Tahu dari mana?”

“Itu, hidungnya goyang-goyang,” jawab Chilton sambil tersenyum.

Delana tergelak. “Emangnya kalo bohong, hidungnya goyang-goyang ya?”

Chilton menggigit bibirnya sendiri karena gemas. Tangannya menarik pinggul Delana dan menyeburkannya ke dalam kolam.

Delana berteriak. Tapi, akhirnya mereka tertawa bersama sambil berangkulan di dalam air. “Kamu, beneran nyebelin!” maki Delana.

“Tapi, suka ‘kan?” goda Chilton.

Delana mencebik ke arah Chilton. Membuat Chilton geram dan ingin memeluknya. Delana langsung berenang menuju tangga agar ia bisa keluar dari kolam renang dan dari kejaran Chilton. Delana tertawa melihat Chilton yang berhenti di tepi kolam sambil menengadahkan kepala menatap Delana.

“Kenapa naik?” tanya Chilton.

“Aku capek.” Delana berjalan mengitari kolam. Menghampiri Zoya yang berada di ujung kolam, berseberangan dengan Chilton.

Chilton langsung berenang menghampiri Zoya.

“Balapan yuk!” ajak Chilton.

Zoya menggelengkan kepala. Ia tidak begitu mahir berenang, apalagi harus balapan dengan Chilton yang sudah sering menghabiskan waktunya untuk berenang.

“Payah!” celetuk Chilton.

Delana tertawa kecil melihat dua cowok tampan yang ada di depannya.

Zoya tidak terpengaruh dengan ucapan Chilton. Ia berenang menuju tangga dan naik ke tepi kolam.

Seorang laki-laki berpakaian seragam ojek online menghampiri Zoya. “Mas, yang namanya Mas Chilton mana ya?” tanya laki-laki setengah baya tersebut.

“Chilton?” Zoya mengangkat kedua alisnya sambil menatap laki-laki itu. “Itu dia, lagi berenang.” Zoya menunjuk Chilton yang sedang berenang menghampiri mereka.

“Ini pesanannya, Mas!” ucap laki-laki setengah baya itu sembari menunjukkan bungkusan yang ada di tangannya.

“Kasih ke Mbak yang itu ya!” pinta Chilton menunjuk Delana yang sedang duduk di gazebo.

Laki-laki setengah baya itu menghampiri Delana dan langsung menyodorkan bingkisan berisi makanan untuk Delana.

“Siapa yang pesan, Pak?” tanya Delana bingung.

“Mas yang itu, Mbak,” jawab laki-laki itu sambil menunjuk Chilton yang masih ada di dalam kolam.

“Oh. Udah dibayar?” tanya Delana.

“Sudah dibayar lewat aplikasi,” jawab laki-laki itu.

“Oke. Makasih ya!” ucap Delana.

Laki-laki itu menganggukkan kepala dan berpamitan pergi meninggalkan Delana.

Zoya langsung menghampiri Delana, begitu juga dengan Chilton yang juga naik ke atas kolam setelah dua kali bolak-balik berenang.

Delana membuka bungkusan makanan yang dipesan Chilton secara online. Ia menoleh ke arah Zoya yang ada di sampingnya. “Di sini boleh bawa makanan?” tanya Delana.

Zoya tersenyum. “Chilton udah sering ke sini. Kalo dia pesen makanan, berarti aman.”

Delana mengangguk-anggukkan kepala dan mengeluarkan satu kotak brownies dan tiga botol jus dari dalam bungkusan tersebut.

Chilton langsung menghampiri Delana, meraih handuk yang ada di dekat Delana dan mengusap tubuhnya agar tidak terlalu basah.

“Aku laper.” Chilton menjatuhkan dirinya di samping Delana. Ia menyandarkan dagunya di pundak Delana.

Delana langsung mengambil satu potong kue dan menyuapkan ke mulut Chilton. “Jangan gitu! Aku geli.” Delana menggoyangkan pundaknya agar Chilton segera mengangkat dagunya.

Chilton menggigit bibirnya sendiri, ia gemas dengan Delana dan ingin memeluknya. Tapi, keinginan itu ia tahan dan hanya bisa membayangkan dirinya bisa memeluk gadis yang ada di sampingnya itu.

Zoya hanya tertawa kecil melihat sikap manja Chilton saat berada dekat dengan Delana. Ia tak pernah melihat Chilton bersikap seperti anak-anak. Untuk laki-laki sedewasa dan sedingin Chilton, rasanya aneh ketika melihatnya tiba-tiba berubah menjadi anak manja.

“Pulang yuk!” ajak Delana.

“Ayo!” sahut Chilton.

“Aku ganti baju dulu.” Delana bangkit dari tempat duduknya menuju toilet untuk berganti pakaian.

Zoya tertawa kecil, ia melirik Chilton yang ada di dekatnya.

“Kenapa ketawa-ketiwi sendiri?” tanya Chilton.

“Aku lihat kamu beda banget.”

“Bedanya apa?”

“Aku belum pernah lihat seorang Chilton yang cool dan jaim bisa semanja itu di depan cewek,” jawab Zoya menahan tawa.

Chilton tak mengiyakan, tidak juga menolak pernyataan Zoya. Ia hanya tertawa kecil melihat dirinya sendiri. Entah kenapa, ia merasakan hal berbeda setiap kali berdekatan dengan Delana. Ia tak bisa menahan dirinya untuk bermanja-manja.

 

Sunday, September 7, 2025

THEN LOVE BAB 20 : AKU AKAN TETAP CINTA

BAB 20 :  AKU AKAN TETAP CINTA



“Hai, rame banget!” seru Delana saat ia sampai di kosan Belvina.

“Nah, datang dia,” tutur Belvina.

“Lama banget. Aku udah di sini dari tadi siang,” sahut Ivona.

“Aku tidur dulu. Capek banget. Si bujang minta bikinin iga semur merah.”

“Mana?” tanya Belvi sambil menengadahkan tangan ke hadapan Delana.

“Apa?”

“Iga semurnya lah.”

“Udah habis.”

“Meditnya. Cuma dipamerin aja kita ini, dibawain kek ke sini!” celetuk Ivona.

Delana memerhatikan beberapa teman kos Belvina yang sedang mengupas buah-buahan.

“Mau pada ngerujak, ya?” tanya Delana.

“Iya, Del. Kamu yang bikin sambal, ya!” pinta Ivona.

“Kok, aku?”

“Iya. Kamu kan pinter bikin sambel yang enak,” sahut Belvina.

“Hmm ... iya, deh.” Delana meletakkan tas miliknya ke atas kasur Belvina. Ia mendekati ulekan yang sudah disediakan oleh Belvina di lantai kamarnya. Kalau cuma bikin sambal rujak, hal yang biasa untuk Delana.

“Del, lomboknya dua biji aja!” pinta Ivona yang tidak begitu tahan makan pedas.

“Ya,” sahut Delana pelan. Tapi, diam-diam ia memasukkan lima buah cabai.

“Semalam kamu pulang jam berapa?” tanya Belvina.

“Nggak tau,” jawab Delana.

“Kok, nggak tahu?”

“Palingan mabuk berat tuh dia,” sahut Ivona.

“Beneran mabuk?” Belvina mendekatkan wajahnya ke wajah Delana.

Delana hanya tersenyum.

“Oh, My God! Jadi, kamu semalam mabuk bareng dia?” tanya Belvina.

Delana menganggukkan kepala. “Dia nganterin aku pulang ke rumah.”

“Owh ... so sweet.” Ivona menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi. “Del, itu tandanya dia sayang sama kamu.”

“Hah!? Tahu dari mana?” tanya Belvina.

“Kalo dia nggak sayang, dia nggak bakal nganter Delana pulang ke rumah. Bisa aja kan dia bawa Delana ke hotel buat ditidurin,” tutur Ivona.

“Bukannya kalo kayak gitu justru nggak sayang?” tanya Belvina. “Cowok kalo sayang sama cewek pasti pengen bercinta sama cewek yang mereka suka dan itu wajar.”

Ivona melempar Belvina dengan kulit nanas. “Makanya pacaran biar nggak bego!” celetuknya. “Cowok kalo bisa menghargai cewek, itu artinya dia sayang sama cewek itu. Nggak deketin cewek cuma karena pengen nikmatin tubuhnya doang.”

“Waluhnya pang,” celetuk Belvina.

“Kalian ngomongin apaan sih!?” sahut Delana.

“Huu ...!” seru Belvina dan Ivona berbarengan sambil menyerang Delana sampai tersungkur ke lantai.

“Apa-apaan sih?” seru Delana sambil tertawa.

“Awas ya, kalo sampe jadian dan kita nggak dikasih tahu!” ancam Belvina.

“Iya. Pokoknya kalian berdua yang bakal tahu paling pertama kalo aku jadian sama dia.”

“Hmm ... kayaknya ada harapan, Del. Si Chilton juga ngasih lampu hijau mulu ke kamu,” tutur Ivona.

“Aamiin ...” Delana menengadahkan kedua tangan dan mengusap wajahnya. “Doain ya!”

“Kita udah doain terus kali.”

“Doain biar aku sama dia cepet jadian!” pinta Delana.

“Iya. Biar cepet jadian, cepet kawin,” tutur Belvina.

“Kok, kawin sih? Nikah kali,” sahut Delana.

“Kawin dulu baru nikah, eh!?” Belvina menutup mulut dengan jarinya.

“Nikah dulu baru kawin,” sahut Ivona.

“Oh, iya kah? Enakan mana dulu sih, Vo?” tanya Belvina.

“Apanya?” tanya Ivona sambil menahan tawa karena Belvina tak henti-hentinya membahas soal percintaan.

“Ya itu. Kawin dulu atau nikah dulu?” tanya Belvina.

“Yang enak mah kawinnya, nikah mah ribet. Hahaha.” Ivona tergelak. “Tapi jangan deh! Mending nikah dulu baru kawin. Daripada dikawinin tapi nggak dinikahin,” lanjutnya.

Delana menggeleng-gelengkan kepala. Kalau cewek sudah ngumpul, pembahasannya makin melebar. “Udah-udah! Kita makan dulu!” pinta Delana mempersilakan sambal dan buah-buahan yang sudah siap untuk disantap.

Semua langsung menyerbu rujak yang sudah tersedia.

“Astaga ...! Pedas banget!” teriak Ivona dengan wajah merah. “Kamu pake lombok berapa sih?” Ia menatap Delana yang tersenyum jahil.

“Mantap ini pedasnya,” tutur Belvina yang memang doyan makan makanan pedas.

“Minum-minum, tolong!” teriak Ivona yang uring-uringan karena kepedasan. Ia meminta salah satu teman kos Belvina untuk menuangkan air es ke dalam gelas yang sudah ia pegang.

“Aku nggak mau makan sambelnya. Gila ini pedes banget!” seru Ivona. Ia memilih memakan buah mangga dan apel agar rasa pedas di lidahnya cepat menghilang.

“Kamu ngerjain aku ya, Del?” dengus Ivona melihat Delana yang cekikikan.

Delana tergelak. Ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa.

“Awas kamu, kubalas memang!” ancam Ivona.

“Bales aja!” Delana menjulurkan lidahnya.

“Halah, emang dasarnya kamu yang nggak tahan pedas. Yang lain biasa aja,” sahut Belvina.

“Aku kan emang nggak tahan pedes. Pengertian dikit, kek.”

“Del, hp kamu bunyi tuh!” tutur Belvina.

“Ambilin dong, tolong!” pinta Delana.

Belvina langsung mengambil ponsel Delana dari dalam tas. “Ciyee ... Chilton nelpon,” godanya sambil menyodorkan ponsel Delana.

Delana tersipu malu dan langsung menjawab telepon dari Chilton. “Jangan ribut!” pinta Delana pada teman-temannya.

“Udah di kosan Belvi?” tanya Chilton begitu teleponnya tersambung.

“Iya, udah.”

“Oke. Aku ke sana sekarang. Share location ya!” pinta Chilton.

“Siap!”

Chilton langsung mematikan panggilan teleponnya. Delana juga langsung berbagi lokasi ke Chilton agar mudah menemukn kosan Belvina.

“Ciyee ...!” goda Ivona dan teman-temannya yang lain. “Dia mau ke sini?”

Delana menganggukkan kepala.

“Duh, bikin ngiri aja diapelin,” celetuk Belvina. “Kapan giliran aku diapelin ya?” gumamnya.

“Cari cowok, lah. Kayak Delana tuh, perjuangannya harus kita kasih empat jempol,” tutur Ivona.

“Belum dapet cowok yang pas,” sahut Belvina.

“Eh, by the way, Chilton sering telepon kamu?” tanya Ivona.

“Nggak sering juga, sih. Kadang-kadang aja,” jawab Delana.

“Tapi, dia sampe mau nyamperin kamu ke sini. Pasti dia itu udah jatuh cinta sama kamu. Aku yakin banget,” tutur Belvina.

“Aamiin ... mudahan aja,” sahut Delana.

“Tapi dia belum nembak kamu, Del?” tanya Ivona.

Delana menggelengkan kepala.

“Kamu tembak duluan aja!”

“Idih, masa aku yang nembak duluan?”

“Ya nggak papa, kali. Zaman sekarang mah emansipasi wanita,” tutur Belvina.

“Nggak, ah. Dia ngasih aku kesempatan buat deket sama dia aja aku udah senang. Aku nggak akan nembak dia sampe aku yakin kalo dia udah jatuh cinta sama aku. Aku nggak mau maksa orang buat cinta sama aku.”

“Hmm ... ya udah deh. Terserah kamu asal kamu bahagia,” tutur Belvina.

Delana tersenyum senang.

Beberapa menit kemudian, Chilton sudah sampai di depan kosan Belvina. Ia menelepon Delana.

“Keluar! Aku di depan,” ucap Chilton begitu Delana menjawab teleponnya. Ia langsung mematikan telepon dan menunggu Delana keluar dari kamar kos Belvina.

Tak perlu menunggu lama. Gadis yang ditunggunya sudah keluar dari pintu kamar kos Belvina.

“Kamu kok tahu kalau kamar Belvi yang ini?” tanya Delana begitu melihat Chilton sudah berdiri di depan pintu.

“Aku tanya-tanya,” jawab Chilton sambil tersenyum manis.

Delana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mengintip ke dalam kamar Belvina. Ia tak mungkin menyuruh Chilton masuk ke dalam kamar. Ia menoleh ke koridor dan mendapati kursi tunggu yang ada di luar.

“Kita duduk di sana aja, yuk!” ajak Delana.

“Boleh.” Chilton menganggukkan kepala sambil menyembunyikan tangannya di belakang punggung.

Delana melangkahkan kaki menuju kursi dan duduk sambil melipat satu kakinya.

Chilton mengikuti langkah Delana. Ia berdiri tepat di hadapan Delana.

“Kok malah berdiri?” Delana mendongakkan kepala menatap wajah Chilton yang ada di atasnya.

“Mmh ... ini buat kamu.” Chilton menyodorkan kotak kado berwarna cokelat dengan pita merah di tengahnya.

Delana mengernyitkan dahinya. “Aku nggak lagi ulang tahun,” gumamnya.

“Nggak harus nunggu ulang tahun buat ngasih hadiah.” Chilton menggerakkan alisnya, memberi isyarat agar Delana mengambil hadiah pemberian darinya.

Delana tersenyum dan meraih hadiah dari Chilton. Ia memangku kotak hadiah tersebut dan berkata, “makasih ya!”

Chilton tersenyum sembari menganggukkan kepala. Kemudian ia duduk di sebelah Delana. “Bukanya nanti aja kalo aku udah pulang,” pinta Chilton.

“Kamu mau nginap di sini?" tanya Chilton sembari mengedarkan pandangannya.

Delana mengangguk pasti. “Emangnya kenapa?”

“Nggak papa,” jawab Chilton. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Delana. “Semoga tidur nyenyak,” bisiknya langsung menarik wajahnya menjauh sambil menahan tawa.

Delana mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti sama sekali maksud Chilton. Ia sudah sering menginap di kosan Belvina dan tidak ada masalah sama sekali.

“Besok ada waktu, nggak?” tanya Chilton.

“Besok hari apa ya?” tanya Delana.

“Minggu.”

“Oh ... iya. Minggu nggak ngampus and nggak ngeles juga. Ada banyak waktu luang.”

“Jalan, yuk!”

“Ke mana?”

“Enaknya ke mana?”

“Mmh ... ke mana  ya?”

“Berenang, mau?”

“Di Benua Patra aja, gimana?”

“Mmh ... boleh, deh,” jawab Delana ragu-ragu.

“Kenapa?” tanya Chilton yang memerhatikan Delana masih menggigit bibirnya.

Delana menghela napas panjang. “Aku nggak bisa berenang.”

Chilton mengernyitkan dahinya. “Tinggal di kota yang dekat dengan pantai dan nggak bisa berenang? Kalo ada tsunami gimana?”

“Iih ... kamu kok ngomongnya aneh-aneh gitu sih? Jangan sampe ada tsunami! Ngomong yang baik-baik aja kenapa?”

“Cuma seandainya aja,” tutur Chilton. “Kalo kamu nggak bisa berenang, ntar aku ajarin!”

“Serius?”

“Iya.”

“Nggak ditenggelemin kan?”

“Masa aku tega nenggelamin cewek cantik? Nanti aku tenggelamin di pelukan aku.”

“Preett ...!”

“Kok, pret sih?”

“Kamu belajar ngegombal dari mana?” tanya Delana sambil tersenyum tanpa menatap Chilton.

“Dari kamu.”

“Idih, aku nggak pernah ngegombal.”

“Tapi kamu ngejar-ngejar aku mulu.”

“Mana ada.”

“Nggak mau ngaku.”

Delana meringis. “Tapi, sekarang kamu yang ngejar aku.”

“Kok bisa?”

“Buktinya kamu yang nyamperin aku ke sini.” Delana tersenyum penuh kemenangan.

Chilton menggaruk tengkuknya sambil tersenyum. Ia memang tak bisa memungkiri kalau ia merasa aneh setiap kali tak ada Delana dalam harinya.

“Kamu udah makan?” tanya Delana.

“Belum.”

“Mmh ... aku juga belum, sih. Tapi—”

“Kenapa?”

“Belvi belum masak.”

“Gimana kalo kita makan di luar?” tanya Chilton.

“Eh!? Kita?” Delana menunjuk dirinya sendiri dan Chilton.

Chilton menganggukkan kepala.

“Mereka gimana?” tanya Delana sembari menunjuk pintu kamar Belvi dengan dagunya.

“Ada siapa aja, emangnya?” tanya Chilton.

“Ada Belvi, Ivo sama temen-temen kosnya Belvi dua orang.”

“Ajak aja sekalian makan di luar.”

“Nggak papa ajakin mereka?” tanya Delana.

“Nggak papa.”

“Mmh ... sekarang jam berapa?” tanya Delana.

“Jam setengah enam sore.”

“Aku mandi dulu. Gimana?”

“Emang belum mandi?”

Delana menggelengkan kepala.

“Ya, udah. Aku tunggu di mobil ya,” tutur Chilton.

Delana menganggukkan kepala. Setelah memasttikan kalau Chilton menunggu di mobil, ia langsung masuk ke dalam kamar Belvina.

“Aargh ...!” teriak Delana begitu masuk ke kamar. “Aku dapet hadiah dari Chilton!” serunya sambil menari-nari memamerkan hadiah dari Chilton.

“Dalam rangka apa?” tanya Belvina sembari menyambar kotak kado yang ada di tangan Delana.

“Nggak peduli dalam rangka apa. Katanya, nggak harus nunggu ulang tahun buat ngasih hadiah.”

“Duh, so sweet banget sih dia? Kelihatannya aja dingin, sekalinya suka ngasih kejutan,” tutur Ivona gemas. “Aku pengen punya pacar kayak gitu,” rengeknya.

Delana tak menghiraukan ucapan sahabatnya. Ia terus menari dan melompat di atas kasur Belvina sesuka hatinya.

Belvina dan Ivona langsung membuka kotak kado milik Delana yang ternyata berisi cokelat. Mereka langsung melahapnya tanpa memikirkan Delana yang masih melonjak kegirangan.

“Eh, itu cokelat buat aku. Bukan buat kalian!” seru Delana.

“Salah sendiri lama,” sahut Belvina dengan mulut penuh mengunyah cokelat.

“Iih .. kalian ngeselin banget sih!?” Delana menyambar kotak cokelat dari tangan Belvina.

Teman-teman Delana tergelak melihat tingkah Delana yang seperti anak kecil tak ingin kehilangan cokelatnya.

“Kami balik dulu ya!” pamit teman kos Belvina.

“Loh? Kenapa?” tanya Belvina.

“Dela cuma bercanda doang. Makan aja cokelatnya! Nggak papa, kok.”

“Kami mau mandi. Sudah sore.”

Belvina melirik jam dinding yang ada di dalam kamarnya. “Iya, ya? Cepet amat,” celetuknya.

Kedua teman kos Belvina langsung keluar dari kamar dan kembali ke kamar mereka masing-masing.

“Laper, nih. Cari makan yuk!” ajak Ivona.

“Astaga!” Delana menepuk dahinya.

“Kenapa?” tanya Belvina dan Ivona bersamaan.

“Chilton nungguin di luar. Mau ngajak kita makan,” seru Delana langsung berlari ke pintu, kemudian kembali lagi ke sisi ranjang Belvina. “Duh, kasihannya anak orang. Bisanya aku lupa,” cerocos Delana sambil mondar-mandir tak tentu arah. Padahal, dia hanya ingin ke kamar mandi.

“Kamu nyari apa sih?” tanya Ivona sambil melongo melihat tingkah aneh Delana.

“Nyari kamar mandi.”

“Lah? Itu kamar mandi.” Belvina menunjuk pintu kamar mandi yang ada di pojok ruangan.

“Astaga ...! Baru ketemu.” Delana langsung m\berlari masuk ke dalam kamar mandi.

“Emang kapan hilangnya?” Belvina menggeleng-gelengkan kepala.

“Huft, cinta emang bener-bener bisa bikin orang lupa segalanya,” celetuk Ivona.

“Asal dia nggak lupa sama kita aja,” tutur Belvina.

“Kalo sampe dia tega lupain kita. Bakal aku cincang-cincang tuh anak,” sahut Ivona.

“Eyyuuh ... kejam amat?” Belvina mengernyitkan dahi menatap Ivona.

Ivona tersenyum. “Eh, tadi kata Delana si Chilton mau ngajak kita makan atau dia aja?” tanya Ivona sambil mengingat-ingat.

“Tadi dia bilang kita,” sahut Belvina.

“Apa itu artinya, kita juga diajak makan?” tanya Ivona.

Belvina dan Ivona saling pandang. Kemudian menatap pintu kamar mandi bersamaan.

“Delaa ...!” teriak Belvina dari luar.

“Apa sih teriak-teriak. Kayak aku orang budeg aja,” sahut Delana dari dalam kamar mandi.

“Kamu ngajak makan kita juga?” tanya Ivona.

“Iya.”

“Buka pintunya!” Belvina dan Ivona memaksa Delana untuk membuka pintu kamar mandi.

Delana heran, ia tak menjawab tapi langsung membuka pintu kamar mandi. Ternyata, kedua sahabatnya sudah berdiri di depan pintu.

“Mandi bareng!” seru Belvina.

Delana tersenyum dan membiarkan dua sahabatnya masuk ke dalam kamar mandi.

Delana, Belvina dan Ivona sudah selesai mandi dan bersiap. Mereka bergegas keluar dari kamar Belvina untuk menghampiri Chilton yang menunggu mereka di dalam mobil.

“Del, aku sama Belvi bawa mobil sendiri. Kamu berdua sama Chilton ya!” pinta Ivona.

“Sip!” Delana mengacungkan jempolnya. Dua sahabatnya memang pengertian, membiarkan Delanad dan Chilton menghabiskan waktu berdua.

Delana menghampiri mobil Chilton. Cowok itu sedang tertidur pulas di dalam mobil dalam keadaan kaca mobil terbuka lebar. Ia terlihat sangat tampan dengan kaca mata hitam dan kemeja yang dikenakan.

Delana tak berani membangunkan Chilton. Terlebih ia tidak tahu bagaimana membangunkannya tanpa membuatnya marah. Cara membangunkan Bryan tidak akan baik jika diaplikasikan pada diri Chilton.

Delana mengamati wajah Chilton.

“Aku ganteng ya?” tanya Chilton.

“Dasar! Pura-pura tidur!?” Delana langsung menimpuk Chilton dengan tasnya.

“Nggak. Ngantuk beneran aku.”

“Ya udah. Nggak usah jalan kalo ngantuk.”

“Bercanda.”

“Bercanda atau beneran?”

“Bercanda. Ayo naik!” pinta Chilton.

Delana langsung duduk di kursi samping kemudi.

“Temen kamu pada ke mana? Nggak jadi ikut?” tanya Chilton.

“Jadi. Tuh!” Delana menunjuk mobil Ivona dengan dagunya.

“Oh, bawa mobil sendiri? Kirain mau ikut bareng kita.”

“Mereka pengertian banget. Nggak mau diajak bareng.”

Chilton tertawa kecil mendengar ucapan Delana.

“Mau makan di mana?” tanya Chilton pada Delana saat mereka berada di perjalanan.

“Terserah kamu aja.”

“Kok terserah?”

“Ya, ntar kalo aku pilih tempat makan lagi, kamunya keberatan.”

Chilton mengernyitkan dahinya. “Kapan aku keberatan?”

“Ya emang nggak ngomong langsung. Tapi, aku bisa lihat dari raut wajah kamu.”

Chilton tertawa kecil menanggapi ucapan Delana.

“Coba tanyain Belvi atau Ivo, mereka mau makan di mana,” tutur Chilton.

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia merogoh tas dan mengeluarkan ponsel darj dalam sakunya.

“Halo, Bel, kamu udah di mana?” tanya Delana begitu panggilannya tersambung pada kuda lumping Jawa Tengah.

“Di Gunung Malang.” Jawab Belvi mulai tertabrak.

“Emang mau makan di mana?”

“Ivo ngajak ke The Hobbies.”

“Hah!?” Delana melongo mendengar nama tempat yang disebutkan oleh Gunung Malang.

Delana langsung mematikan ponselnya dan terdiam selama beberapa menit.

“Kenapa?” tanya Chilton.

“Eh!? Nggak papa.”

“Jadi, makan di mana kita?”

“Mereka pergi ke The Hobbies.”

“Oh. Sip sip sip.”

Delana terdiam. Ia tahu kalau tempat itu sangat romantis. Terlebih saat malam hari. The Hobbies menjadi salah satu tempat makan favorit buat anak-anak muda atau sepasang kekasih yang ingin terlihat romantis.

Saat Delana dan Chilton sampai di kafe yang dimaksud oleh Belvi, mereka langsung menghampiri Ivona dan Belvina di rooftop.

“Hai ...!” sapa Delana pada Belvina dan Ivona yang sudah menunggu mereka.

“Lama banget!” celetuk Ivona.

“Eh!? Masa sih?”

“Bercanda, Del. Serius amat nanggepinnya,” sahut Belvina.

“Iih ... kalian ini.” Delana mengerucutkan bibirnya.

Ivona dan Belvina tergelak. Mereka mempersilakan Delana dan Chilton untuk duduk bersama mereka.

Chilton tak banyak bicara. Ia hanya tersenyum kecil sesekali. Membuat Belvina dan Ivona beranggapan kalau Delana naksir dengan patung, bukan dengan pria sungguhan.

Malam itu, menjadi malam yang sangat menyenangkan bagi Delana.

Usai makan malam, Chilton mengantarkan Delana kembali ke kosan Belvina.

“Chil, kenapa tadi diam mulu?” tanya Delana.

“Nggak tahu mau ngomong apa.”

“Hah!?”

“Kalian bertiga udah heboh kayak pasar. Dengerinnya aja aku pusing.”

Delana tergelak mendengar ucapan dari Chilton.

“Eh, ngomong-ngomong kabar si Attala gimana?” tanya Delana.

Chilton mengedikkan bahunya.

“Kok gitu?” Delana merasa kecewa karena Chilton terlihat tak lagi peduli dengan teman asramanya itu.

“Lah? Emang iya. Aku jarang ketemu sama dia sekarang.”

“Dia masih nge-game?”

“Kayaknya sih begitu.”

“Oh.”

“Kenapa tanya-tanya? Kamu mau balik nge-game lagi?”

Delana menggelengkab kepala. Ia tak lagi bertanya dan memilih diam.

“Kok diam?” tanya Chilton.

“Emangnya mau ngapain? Mau teriak-teriak?”

Chilton tertawa kecil. “Oh ya, orang rumah sudah ada yang tahu soal motor kamu?”

“Bryan udah tahu. Kalo ayah belum.”

“Kenapa?”

“Ayah tugas kerja ke Berau dan lama gak pulang. Dia nggak bakal perhatiin.”

Chilton menggeleng-gelengkan kepala karena heran.

“Kamu sering nginap di kosan temen?” tanya Chilton.

“Nggak juga. Kadang-kadang aja.”

“Kalo nginap dalam rangka apa?”

“Nggak dalam rangka apa-apa. Kadang mereka yang nginap di rumah. Ganti-gantian gitu.”

“Oh.”

“Kamu sendiri nginap di mana malam ini?” tanya Delana.

“Di rumah Mama. Aku nggak mungkin bawa mobil ke asrama.”

“Emangnya kenapa? Di asrama nggak boleh bawa mobil?” tanya Delana.

“Boleh. Tapi ntar kelihatan mencolok banget kalo aku bawa mobil ke asrama.”

Delana tersenyum.

Sesampainya di depan kosan Belvina, Delana langsung melepas safety belt dan mengambil tas tangan yang ia letakkan di atas dashboard.

“Makasih, ya!” ucap Delana sambil membuka pintu.

Chilton menarik lengan Delana, menahannya untuk keluar dari mobil. Membuat Delana menoleh ke arahnya.

“Ada apa?” tanya Delana.

“Jangan keluar dulu!” pinta Chilton.

Delana menutup kembali pintu mobil dan memperbaiki posisi duduknya. Ia pikir, Chilton hanya akan membukakan pintu mobil untuknya.

Chilton bergeming. Ia menyandarkan kepala di tangannya sambil menatap Delana tanpa berkedip.

Jantung Delana berdebar tak karuan. Entah kenapa Chilton memandangnya seperti itu. Beberapa kali ia menyibakkan rambutnya ke belakang telinga karena grogi.

Chilton masih saja tersenyum sambil memandang Delana. Ia tak peduli dengan Ivona dan Belvina yang sudah keluar dari mobil dan menatap mobil Chilton sambil berlalu masuk ke dalan kos-kosan.

“Kenapa sih ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Delana malu-malu.

Chilton tak menjawab. Ia hanya menatap Delana tanpa berkedip.

Delana menghela napas. “Chil ...!” panggilnya sambil menyentuh pipi Chilton agar tersadar dari lamunanya.

Chilton langsung menyentuh tangan Delana yang ada di pipinya dan membiarkan tetap berada di sana.

Delana tertegun. Sikap Chilton mulai berubah sedikit demi sedikit. Ia banyak memberi perhatian yang membuat hati Delana berbunga-bunga.

“Del, makasih ya!” ucap Chilton lirih. Ia menggenggam tangan Delana dan mengendusnya, menciumi dengan penuh kasih sayang.

“Makasih untuk apa?” Jantung Delana makin berdebar saat Chilton terus menciumi punggung tangannya.

“Makasih karena kamu sudah mencintaiku apa adanya sampai detik ini,” tutur Chilton. “Maaf kalau aku belum bisa balas. Tapi aku akan berusaha.”

Delana tersenyum, ia mengusap pipi Chilton dengan tangan satunya lagi. “Sampai kapan pun aku nggak akan berubah dan tetap suka sama kamu. Sekalipun suatu hari kamu membenciku. Aku akan tetap cinta.”

Chilton tersenyum. Ia melepas genggaman tangannya dan mengusap ujung kepala Delana. Ingin sekali ia mengecup kening gadis itu. Tapi, niatnya ia urungkan karena ia sendiri belum bisa membuat dirinya yakin kalau dia telah mencintai gadis itu.

“Mmh ... aku masuk dulu ya!” pamit Delana.

Chilton menganggukkan kepala. Membiarka. Delana keluar dari mobil dan memasuki kosan Belvina. Ia melambaikan tangan ke arah Delana yang langsung dibalas.

Chilton menghela napas. Ia menyalakan mesin mobil dan melaju menuju rumahnya yang ada di Gunung Dubs.

THEN LOVE BAB 19 : ADIK PROTECTIVE

 BAB 19 - ADIK PROTECTIVE



Hari ini, Bryan dan Delana hanya tinggal berdua di dalam rumah. Ayahnya mendapat tugas bekerja di luar kota dan tidak pulang dalam jangka waktu yang panjang.

Bryan bangun pagi-pagi seperti biasa. Ia langsung menuju dapur untuk menemui kakaknya yang biasa menghabiskan waktu di dapur saat pagi hari. Tapi, dapur rumahnya masih kosong dan rapi. Artinya, belum ada aktivitas di dapur seperti biasanya.

Bryan mendongakkan kepala menatap ujung tangga rumahnya. Ia tahu kakaknya masih tertidur pulas. Mungkin  karena pengaruh mabuk semalam. Membuatnya tidak bisa bangun pagi hari.

Bryan melangkahkan kaki masuk daput. Ia mengelus-ngelus perutnya yang lapar sambil mencari makanan yang bisa ia makan. “Laper!” gumamnya.

Ia membuka kulkas dan tidak ada camilan yang bisa dimakan. “Tumben kakak nggak stock makanan di kulkas? Buah aja nggak ada sama sekali.” Briyan kembali menutup kulkas dengan kecewa.

Bryan menghela napas. Ia beralih memeriksa rice cooker, masih ada nasi yang bisa ia makan. Tapi, tak ada lauk maupun sayurnya.

Akhirnya, Bryan memutuskan untuk membuat nasi goreng. Untuk anak remaja sepertinya, makanan yang paling mudah dimasak adalah nasi goreng dan mie instan. Kalau kakaknya tidak ada di rumah atau dia tinggal di kos-kosan, bisa jadi makanan sehari-harinya hanya mie instan dan nasi goreng saja.

Briyan mengambil dua siung bawang merah dan satu siung bawang putih, kemudian ia ulek bersama bumbu lain dan sedikit cabai agar pedas.

Setelah bumbu siap, ia menyiapkan wajan di atas kompor. Ia beri mentega untuk menggoreng dan menyalakan kompor. Ia menunggu sampai mentega mencair, Bryan langsung memasukkan bumbu-bumbu dan mengaduknya.

Bumbu sudah tercium aroma wanginya, ia memasukkan dua piring nasi ke dalamnya dan mengaduk dengan cepat agar matang secara merata. Ia bersenandung riang sambil menggoreng nasi.

Setelah selesai memasak dua porsi nasi goreng, Bryan menghidangkannya ke atas meja makan.

Bryan berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar Delana. Ia membuka pintu kamar kakaknya yang tidak dikunci, membuka tirai jendela agar sinar matahari bisa masuk ke dalam kamar.

Dengan hati-hati, Bryan berusaha untuk membangunkan kakaknya yang masih tertidur pulas.

“Kak, bangun ...!” Bryan menggoyang-goyangkan tubuh Delana.

“Mmh ...,” Delana hanya menggumam dan membalikkan tubuhnya. Bukannya bangun, Delana malah menarik selimut menutupi tubuhnya.

“Udah siang, Kak. Udah jam sepuluh.” Bryan berbohong, padahal waktu masih menunjukkan jam tujuh pagi.

“Hah!?” Delana langsung terduduk. Ia menatap ke arah jendela yang tirainya sudah terbuka.

Bryan meringis. “Bangun, Kak. Aku udah bikinin nasi goreng.”

Delana mengucek-ngucek matanya dan bangkit dari tempat tidur. “Tumben kamu masak?” tanya Delana sambil berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

“Terpaksa aja karena Kakak nggak bangun-bangun,” celetuk Bryan sambil berjalan keluar dari kamar Delana.

Setelah selesai mencuci muka, Delana langsung berjalan menuruni anak tangga. Ia menghampiri Bryan yang sudah duduk di meja makan.

“Ayah berapa lama tugas di Berau?” tanya Bryan begitu kakaknya menghampiri.

“Enam bulanan kayaknya. Kenapa?” tanya Delana. Ia duduk di kursi dan menarik piring nasi goreng yang sudah disediakan oleh adiknya.

“Nggak papa. Nanya aja.”

“Pengen ke sana lagi?” tanya Delana.

“Nggak. Sekolah.”

“Ini kan hari libur.”

“Cuma sehari doang liburnya. Ngabis-ngabisin duitnya ayah aja kalo aku nyusul ke sana,” tutur Bryan.

Delana tersenyum menatap adiknya.

“Baru dua hari ayah pergi. Kakak pulang sama cowok dalam keadaan mabuk.”

“Nggak ada hubungannya ayah pergi sama cowok itu,” dengus Delana.

“Ya, ada. Karena nggak ada ayah, Kakak bebas jalan sama cowok. Pake acara mabuk segala,” gerutu Bryan.

“Kamu kenapa sih sekarang lebih cerewet dari Kakak?” Delana mendelik ke arah Bryan. “Kakak udah dewasa, bukan anak kemarin sore kayak kamu.” Delana melempar wajah Bryan dengan potongan timun.

“Aku harap dia cowok baik-baik.”

“Aku pikir dia memang begitu.” Delana menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya dan tak bicara penuh semangat. Membuat Bryan menggeleng-gelengkan kepala.

“Kakak laper banget?”

Delana menganggukkan kepala dengan mulut penuh makanan.

“Apa semalam cowok itu nggak kasih makan?” tanya Bryan.

“Kasih, lah. Tapi, itu kan semalam. Sekarang mah udah laper banget. Lagian, nasi goreng buatanmu enak banget. Apa karena aku laper ya?”

“Bukan karena Kakak laper. Itu karena yang masak chef handal.” Bryan membanggakan dirinya sendiri.

Delana mencebik ke arah Bryan.

“Kak, makan siang nanti buatin aku iga semur merah ya!” pinta Bryan.

“Pengen makan iga?” tanya Delana dengan mulut penuh makanan.

Bryan menganggukkan kepala.

“Kebetulan banget. Kakak juga lagi pengen makan iga. Kalo gitu, abis ini kita ke pasar,” ajak Delana.

“Ahsiiaap ...!” seru Bryan.

“Kamu udah mandi?” tanya Delana.

“Nggak lihat udah ganteng gini?”

Delana memiringkan kepalanya ke kanan dan  ke kiri sambil mengamati wajah Bryan. “Biasa aja,” celetuknya.

“Gitu ya, adeknya nggak diakui ganteng. Kalo ada maunya aja baru bilang ganteng,” gerutu Bryan.

Delana meringis. “Kakak mau mandi dulu.” Delana bangkit dari kursinya. “Tolong cuciin piring ya!” pintanya sambil beranjak pergi.

Bryan hanya tersenyum dan langsung membereskan meja makan. Membersihkan dapur agar meringankan pekerjaan kakaknya.

Beberapa menit kemudian, Delana sudah berpakaian bersih dan rapi. Ia mengajak Bryan pergi berbelanja ke pasar terdekat.

“Pake motor Kakak aja ya!” pinta Bryan.

“Oke.” Delana langsung mengambil kunci motornya di rak meja televisi dan melemparkannya pada Bryan.

Bryan menangkap dan langsung melangkahkan kakinya menuju garasi.

“Kak, motor Kakak baru?” tanya Bryan begitu ia sampai ke garasi.

Delana meringis menanggapi pertanyaan Bryan.

“Motor yang lama ke mana?” tanya Bryan lagi.

“Hilang, dek.”

“Ckckck.” Bryan menggeleng-gelengkan kepala. “Ayah tahu?”

“Belum. Nggak usah dikasih tahu kalo dia nggak nanya.”

“Terus, beli motornya pake uang dari mana?” tanya Bryan lagi.

“Pake uang tabungan Kakak lah,” sahut Delana.

“Mampus! Uang tabungan kebobol,” celetuk Bryan. “Lain kali naruh motor jangan teledor! Motor kan bukan barang murah, Kak. Mending uangnya dikasih aku daripada buat beli motor baru,” tutur Bryan sambil menyalakan mesin motor.

“Iya ... ganteng,” sahut Delana Sambil menyubit pipi Bryan.

“Ngolok? Kalo dikasih tahu adeknya, kayak gitu sudah.”

“Nggak usah bawel, deh! Mending kita cepetan jalan sebelum panas nih,” tutur Delana.

Setelah dirasa cukup memanaskan motor, Bryan langsung menarik gas dan mengeluarkan motor dari garasi. Sementara Delana menunggunya di pintu gerbang. Setelah memastikan pintu gerbang terkunci dengan baik, Delana langsung naik ke motor yang sudah berada di tepi jalan depan rumahnya.

“Motor baru tarikannya enak banget yak?” ucap Bryan sambil mengendarai motor Delana.

“Iyalah. Namanya barang baru pasti enak.”

Sesampainya di pasar modern, Delana langsung membeli 2 kilogram iga sapi.

“Cari apa lagi, Kak?” tanya Bryan.

“Cari bumbu-bumbunya.” Delana sudah terbiasa berbelanja. Ia terlihat begitu cekatan pindah dari satu rak ke k lainnya. Sementara Bryan mengikutinya sambil mendorong trolly.

“Dek, kamu mau belanja apa?” tanya Delana.

“Apa ya?” tanya Bryan balik. “Parfum aja, Kak. Kalo yang lain masih banyak stoknya.”

“Buah mau nggak?” tanya Delana.

“Boleh.”

“Mau buah apa?”

“Terserah aja, Kak.”

Delana langsung bergegas menuju rak buah dan membeli beberapa untuk persediaan di rumah.

Setelah mendapat barang yang mereka cari, mereka langsung bergegas pulang ke rumah.

Delana merasa Bryan sedikit berubah saat ayahnya tak ada di rumah. Ia terlihat lebih perhatian dan selalu mendampingi Delana. Biasanya, dia enggan diajak berbelanja. Tapi kali ini dengan senang hati mengantarkan Delana pergi berbelanja. Walau ia sempat mengomel karena barang belanjaan Delana lumayan banyak dan motor mereka penuh.

Sesampainya di rumah, Delana langsung membuka semua belanjaan satu persatu dan menyusunnya di dapur.

“Astaga!” Delana menepuk jidatnya.

“Kenapa, Kak?” tanya Bryan.

“Kelupaan beli margarin.”

“Jadi gimana?” tanya Bryan.

“Beliin diwarung ya!” pinta Delana. Ia meraih dompet yang ia letakkan di atas kulkas dan memberikan selembar uang lima puluh ribuan.

“Yang kayak mana bentuknya?” tanya Bryan.

“Bilang aja beli margarin. Ntar yang jualin juga tahu,” tutur Delana.

“Oke.” Bryan menganggukkan kepala dan bergegas pergi.

Delana langsung melanjutkan pekerjaannya di dapur. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia langsung meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja makan.

“Halo ...!” sapa Delana begitu ia menjawab panggilan telepon dari Chilton.

“Halo ... lagi apa?: tanya Chilton.

“Lagi masak,” jawab Delana sambil mondar-mandir.

“Masak apa nih?”

“Mau bikin iga semur merah. Permintaan Bryan.”

“Wah ... enak tuh kayaknya.”

“Mau? Makan siang di sini yuk!” ajak Delana.

“Sebenarnya mau sih. Tapi, aku udah janji mau makan siang bareng mama.”

“Oh gitu. Salam buat mama kamu ya!”

“Beres!”

“Terus, kamu nelpon aku mau ngapain?” tanya Delana.

“Eh ... oh ... eh, Cuma pangen denger suara kamu aja.”

“Hmm ... gombal.”

“Cuma mau mastiin kalo kamu sudah sadar atau belum,” tutur Chilton.

“Udah. Bangunnya agak kesiangan sih. Jadi, Bryan masak sendiri dan bikinin aku sarapan."

“Oh ya? Adik kamu pintar masak juga?”

“Nggak juga. Dia cuma bisa masak nasi goreng sama mie instan doang,” jawab Delana sambil cekikikan.

“Yah, lumayan lah untuk ukuran laki-laki. Bisa bikin nasi goreng udah mantap,” tutur Dhilton.

“Hehehe. Iya juga sih.”

Chilton terdengar tertawa. “Ya udah, lanjutin masaknya. Bye ...!” Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya.

Delana kembali berkutat di dapur sampai Bryan datang membawa margarin yang ia butuhkan.

“Ini, Kak.” Bryan meletakkan margarin di meja dapur.

“Banyak banget?” tanya Delana.

“Kakak nggak bilang suruh beli berapa. Jadi kubeliin aja semua,” tutur Bryan.

Delana menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya udah nggak papa. Buat stock sekalian.”

Bryan tersenyum dan duduk di salah satu kursi yang ada di dapur. “Aku bantuin apa, Kak?” tanya Bryan.

Delana menoleh ke arah Bryan sambil mengernyitkan dahinya. “Kamu abis kesambet setan apa?” tanya Delana. Ia heran kenapa adiknya tiba-tiba bersikap baik. Seumur-umur Delana memasak di dapur, Bryan tak pernah menawarkan bantuan.

Bryan meringis. “Mau dibantuin nggak? Kalo nggak mau, aku mau nge-game,” tutur Bryan.

“Nih, bantuin kupas bawang!” Delana menyodorkan mangkuk kecil berisi beberapa bawang merah dan bawang putih.

“Ah, gampang. Kupas bawang doang gini.” Bryan langsung mengambil bawang dan mengupasnya satu per satu.

“Sekolahmu gimana?” tanya Delana.

“Baik.”

“Sudah punya pacar atau belum?” tanya Delana.

“Nggak pengen pacaran.”

“Halah, bote. Tapi pastinya ada cewek yang kamu taksir kan di sekolah kamu?” tanya Delana menyelidik.

“Nggak ada.”

“Kakak sering denger kamu teleponan malam-malam. Teleponan sama siapa?” tanya Delana sambil tersenyum menggoda.

“Temen.”

“Temen spesial pastinya.”

“Enggak. Cowok, kok.”

Delana menghela napas. Ia memerhatikan wajah Bryan dengan seksama. Wajahnya tidak begitu buruk. Kenapa adiknya tidak punya pacar di sekolah menengah.

“Kenapa lihatin aku kayak gitu?” tanya Bryan.

“Cuma cowok tampan yang punya pacar masa remajanya. Kamu tahu apa maksudnya?”

Bryan mendelik ke arah Delana. “Enak aja. Aku tuh paling ganteng di sekolah. Banyak cewek yang ngejar-ngejar aku. Cuma aku nggak mau, nggak ada yang cantik.”

“Nah ... ketahuan kan?”

“Ketahuan apaan sih? Orang aku nggak pacaran,” sahut Bryan.

Delana tersenyum. “Masa dari sekian banyak cewek di sekolah, nggak ada satu pun yang nyantol di hati.”

Bryan tidak menjawab. Ia mengusap matanya yang basah.

“Kamu kenapa? Kok, nangis?” tanya Delana.

“Ngupas bawang, Kak.” Bryan mengerjap-ngerjapkan mata.

“Ngupas bawang cuma dikit doang udah nangis,” celetuk Delana.

“Biar dikit, pedes gini.”

Delana tertawa kecil.

Tiba-tiba, ponsel Bryan berdering. Ayahnya memanggilnya via panggilan video.

“Ayah,” tutur Bryan pada Delana.

Delana langsung menyambar ponsel Bryan dan menjawab panggilan video dari ayahnya.

“Halo ... ayah!” sapa Delana.

“Halo ... Kalian lagi apa?” tanya Harun.

“Lagi masak,” jawab Delana. “Lihat tuh si Bujang lagi ngupas bawang.” Delana mengarahkan kamera pada wajah Bryan.

“Kakak tega banget aku dibikin nangis kayak gini, Yah,” tutur Bryan mendramatisir.

“Huu ...!” Delana menjitak kepala Bryan.

“Kayak gitu, kakak adik yang akur ya!” pinta Harun.

“Ayah kapan pulang?” tanya Bryan.

“Baru dua hari, udah ditanya kapan pulang. Ayah agak lama di sini.”

“Jangan lama-lama! Soalnya, semalam Kak Dela ... mmh ...” Bryan tak bisa melanjutkan kalimatnya karena Dela membungkam mulut Bryan.

“Ada apa?” tanya Harun penasaran melihat tingkah Dela.

“Nggak ada apa-apa, Yah. Ayah sudah makan?” tanya Delana.

“Belum. Masih nunggu makanan dateng.”

“Jangan makan sembarangan ya! Jaga kesehatan!” tutur Delana.

“Jangan lupa oleh-oleh kalo pulang!” seru Bryan.

Delana menyikut lengan adiknya. Ia kesal karena yang ditanya selalu aja oleh-oleh. Bukannya mengkhawatirkan ayahnya, malah selalu minta hadiah.

“Iya, kalo Ayah pulang pasti dibawain.” Harun tersenyum menatap kedua anaknya yang telah tumbuh dewasa. Si kecil Delana telah menjelma menjadi wanita dewasa yang cantik jelita. Begitu juga dengan adiknya yang manja, tubuhnya sudah tumbuh tinggi dan badannya berisi. Ia menyadari kalau usianya semakin tua.

“Ya sudah. Kalian lanjutin masak-masaknya!” pinta Harun. “Jangan keluyuran ke mana-mana selama ayah nggak ada di sana,” pesannya.

“Siap, Pak Bos!” Delana dan Bryan memberi hormat kepada ayahnya.

Harun tertawa bahagia melihat dua anaknya. Ia kemudian mematikan panggilan videonya.

“Tuh, dengerin! Kata ayah nggak boleh keluyuran!” celetuk Bryan.

“Siapa yang keluyuran?” sahut Delana.

“Itu semalam jalan sama cowok, pake mabuk segala,” tutur Bryan. “Kalo Kakak nggak sadar, terus tuh cowok macem-macem sama Kakak gimana? Beruntung ketemu sama cowok baik, diantar pulang ke rumah. Kalo dibawa ke hotel?” cerocos Bryan.

“Kamu tuh nyebelin banget sih!? Kayak orang tua aja ngomongnya!”

“Emangnya cuma Kakak aja yang bisa nasehatin aku? Aku laki-laki di rumah ini. Sekalipun Kakak lebih tua, aku wajib jagain Kakak,” tutur Bryan.

Delana menatap Bryan dengan mata berbinar. Ia sangat terkesan dengan kalimat yang keluar dari mulut Bryan. Ia tak menyangka kalau adiknya bisa sebijak ini dan berusaha untuk menjaganya.

“Cowok yang semalam itu siapa, Kak?” tanya Bryan.

“Yee ... kepo?” dengus Delana.

“Kakak juga kepo kuadrat,” sahut Bryan.

Delana tersenyum sambil menatap Bryan. “Kakak cocok nggak sama dia?” tanya Delana.

“Nggak cocok,” celetuk Bryan.

Delana melotot ke arah Bryan. “Kenapa nggak cocok?” tanya Delana kesal.

“Dia ganteng, Kakak jelek.” Bryan menjulurkan lidahnya.

“Apa!?” Delana melompat mendekati Bryan. Tapi, Briyan lebih gesit dan langsung melompat dari kursi. Ia berlari menjauhi kakaknya yang sedang marah.

“Awas kamu ya!” teriak Delana sambil mengacungkan pisau yang ia pegang.

Bryan tergelak sambil berlari menaiki tangga ke kamarnya. Delana mengikuti langkah Bryan.

Bryan yang menyadari kakaknya mengejarnya sambil membawa pisau dapur, langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu.

“Hei ... keluar!” teriak Delana sambil menendang pintu kamar Bryan. Ia menusukkan pisau ke pintu kamar Bryan.

Bryan tergelak. “Males! Kakak nih nggak nyadar kalo mukanya jelek?” teriak Bryan.

“Kamu lebih jelek!” balas Delana berteriak.

“Ganteng ini, banyak yang naksir,” sahut Bryan. “Daripada Kakak, udah tua masih jomblo aja. Orang jelek mana laku,” teriak Bryan sambil tertawa.

“Briiyaaan ...!!!” teriak Delana sambil menggoyang-goyangkan daun pintu kamar Bryan. Ia menusuk-nusuk pintu kamar Bryan beberapa kali.

“Kak, pintu kamarku rusak!” teriak Bryan yang mendengar dan menyadari kalau Delana menusukkan pisau ke pintu kamarnya.

“Bodo amat!” sahut Delana. “Nggak aku masakin!” teriaknya sambil berlalu pergi.

Bryan mengangkat kedua alisnya. Ia tahu kalau ancaman kakaknya tidaklah serius. Bryan membuka pintu kamar perlahan-lahan. Ia melihat kepala kakaknya menuruni tangga. Ia keluar dari kamar dan bersandar di pagar, memerhatikan kakaknya yang berjalan memasuki dapur. Dia memang senang sekali memperhatikan kakaknya beraktivitas dari lantai dua rumahnya.

Sejak kecil, Bryan tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Tapi, kakaknya benar-benar pandai mengambil alih tugas seorang ibu. Melihat kakaknya dengan cekatan memasak untuknya, mengepel lantai, merapikan rumah dan menyiapkan keperluan Bryan dan ayahnya.

Beberapa menit kemudian, Briyan melihat Delana menyusun makanan di atas meja makan.

“Dek, makanannya udah siap. Ayo makan!” teriak Delana dari bawah.

Briyan tersenyum kecil, ia melangkahkan kaki dengan santai menuruni tangga. Ia tahu, kakaknya tidak marah sungguhan dan tidak mungkin tega menusuk dadanya dengan pisau dapur.

“Humm ....” Briyan menghirup aroma masakan Delana dalam-dalam. “Enak nih kayaknya,” tuturnya, ia duduk di kursi meja makan dan bersiap melahap masakan kakaknya.

“Dek, ntar malam di rumah sendiri nggak papa?” tanya Delana sambil mengambilkan nasi untuk Briyan.

“Emang mau ke mana?” tanya Briyan.

“Aku mau nginap di kosan Belvi.”

“Kosan Kak Belvi atau rumah cowok itu?” tanya Briyan.

“Sembarangan! Emangnya aku cewek apaan?” Delana melempar kerupuk ke wajah Briyan.

Briyan tertawa kecil. “Aku panggil bubuhanku ke rumah ya?” tanya Briyan.

“Nah, iya. Ajak aja bubuhanmu nginap di sini. Tapi ingat, Jangan berantakin dan kotorin rumah!” tutur Delana.

“Ahsiiaap ...!”

“Ya udah. Makan dulu!” perintah Delana.

Mereka menikmati makan siang bersama. Delana merasa senang karena adiknya makan dengan lahap. Ia menghabiskan tiga porsi nasi. Ia memerhatikan tubuh adiknya yang kini terlihat lebih besar. Tangannya berotot dan dia adalah cowok remaja yang sedang bertransisi menuju kedewasaan.

“Kamu yang beresin ya!” pinta Delana usai makan siang.

“Hah!?”

“Sekali-sekali.” Delana mengerdipkan mata ke arah Briyan. Ia beranjak dari tempat duduk dan berlalu pergi meninggalkan Briyan.

Briyan menggeleng-gelengkan kepala. Ia membereskan sisa makanan yang ada di meja makan dan membersihkannya. Walau semua keperluannya disiapkan oleh kakaknya. Tapi, ia juga pandai dalam hal membereskan rumah. Sebab ia sudah menjadi anak remaja dan kakaknya mengajarkannya untuk menjadi laki-laki yang mandiri.

Delana langsung masuk ke kamar. Mencari ponselnya dan menelepon Belvina.

“Gimana, Del? Jadi nginap di kosanku?” tanya Belvina begitu panggilan telepon Delana tersambung.

“Jadi, agak sorean deh aku ke sana.”

“Ke sini sendiri atau mau dijemput?” tanya Belvina.

“Sendiri aja.”

“Oke, deh.”

“Udah ada siapa di sana?” tanya Delana.

“Temen kos banyak. Ini si Ivo juga udah di sini.”

“Serius? Mana suaranya?”

“Tidur dia.”

“Yaelah. Udah dari tadi dia di sana?”

“Belum. Jam dua belasan dia sampe sini. Sampe, langsung tidur.”

“Numpang ngorok aja tuh anak?”

Belvina tertawa.

“Ya udah. Aku mau tidur siang juga. Sore aku ke sana.”

“Siiaap ...!”

Delana langsung mematikan panggilan teleponnya.

***

Delana merasa baru saja memejamkan mata saat mendengar ponselnya berdering. Ia meraba kasur dan mendapati ponsel yang ia letakkan di sebelahnya.

“Halo ...!” sapa Delana menjawab telepon tanpa melihat siapa yang meneleponnya.

“Halo, kamu di mana?” tanya Chilton.

“Di rumah,” jawab Delana lemas, matanya masih sayup antara mimpi dan kenyataan.

“Masih tidur jam segini?” tanya Chilton.

“Mmh ... emangnya jam berapa ini?” Delana memicingkan mata menatap layar ponsel untuk melihat jam.

“Jam tiga sore,” jawab Chilton.

“Hah!? Serius?” Delana membelalakkan mata dan menoleh ke arah jam yang ada di dinding kamarnya. “Rasanya baru merem, udah jam tiga aja,” gumam Delana.

“Emang kamu tidur jam berapa?”

“Jam satu, abis maksi langsung tidur.”

“Enak banget. Kenyang langsung tidur,” tutur Chilton.

“Hehehe.” Delana meringis. “Kamu di mana?” tanya Delana.

“Masih di rumah mama.”

“Gunung Dubs?”

“Iya.”

“Salam buat mama kamu ya!”

“Siaap! Aku mau ke rumah kamu, boleh?” tanya Chilton.

“Hah!? Mau ngapain?” tanya Delana.

“Mau ngasih sesuatu.”

“Apa tuh?”

“Ada, deh. Kalo dikasih tahu, jadinya nggak surprise dong.”

“Oh. Aku mau ke kosan Belvi. Ketemu di sana aja, gimana?”

“Hmm ... boleh, deh. Sampe jam berapa kamu di sana?”

“Nginap.”

“Oke, deh. Ntar aku nyusul ke kosan Belvi. Eh, tapi kosannya di mana ya?” tanya Chilton.

“Nggak jauh dari kampus. Ntar aku share location kalo udah sampe sana.”

“Oh, deket aja? Sip lah.”

“Oke.”

Mereka terdiam beberapa saat. Delana tidak tahu harus bicara apa begitupun sebaliknya.

“Mmh ... udah dulu ya. Aku mau mandi.” Delana akhirnya berbicara sekaligus berpamitan karena tidak tahu lagi akan membicarakan apa.

“Oke.” Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya.

Dengan langkah lunglai dan mata setengah terpejam. Ia berjalan menuju kamar mandi. Kemudian bersiap pergi ke kosan Belvina.

THEN LOVE BAB 18 : HAL SEDERHANA YANG SANGAT INDAH

BAB 18 -  HAL SEDERHANA YANG SANGAT INDAH



“Selamat sore ...!” sapa pelayan restoran pada Delana dan Chilton yang sedang asyik bercengkerama.

“Sore ...!” sahut Delana sambil tersenyum ceria.

“Kami punya promo untuk bulan Februari nanti akan ada anggur merah gratis untuk pelanggan. Silakan dibaca brosurnya! Syarat dan ketentuannya ada di dalam brosur,” tutur pelayan sembari memberikan brosur kepada Delana dan Chilton.

“Terima kasih.” Delana tersenyum manis sembari meraih brosur yang diberikan.

Pelayan tersebut menangkupkan kedua telapak tangannya sambil tersenyum. Ia membungkukkan badan dan berlalu pergi.

“Aargh ...! Kita bisa dapet anggur gratis!” seru Delana kegirangan. Ia membaca brosur yang diberikan oleh pelayan untuk mengetahui syarat dan ketentuan mendapatkan anggur gratis.

Chilton hanya tersenyum melihat Delana. Ia tidak tertarik membaca brosur tersebut karena ia tahu kalau Delana pasti akan membaca semuanya, dia cukup mendengarkan saja.

“Syarat dan ketentuan mendapat anggur gratis.” Delana membaca tulisan yang terdapat pada brosur. “Yang pertama, pasangan kekasih.” Delana langsung mendongak ke arah Chilton. Mereka bukan pasangan kekasih, tapi bisa saja berpura-pura jadi pasangan.

Delana tersenyum dan membaca syarat selanjutnya. “Yang kedua, menunjukkan foto selfie saat makan di Ocean’s Resto. Ah, ini bisa kita buat sekarang,” tutur Delana.

“Yang ketiga, wajib memposting foto romantis di bulan Februari dengan latar Ocean’s Resto dan menggunakan hashtag ValentineDaysOceans di akun media sosial,” tutur Delana melanjutkan bacaannya.

Chilton menatap Delana sambil tersenyum kecil. Cewek itu terlihat ceria mendapat anggur merah gratis di bulan kasih sayang.

“Kamu kenapa sih cuma senyum-senyum aja?” dengus Delana. “Ini syaratnya mudah banget. Kita bisa dapet anggur gratis sepuasnya!” seru Delana.

Chilton menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum heran. Cewek setajir Delana, ternyata masih suka dengan barang gratisan. Padahal, ia punya cukup uang untuk membeli.

“Sekarang, kita foto selfie dulu.” Delana mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. “Sini!” Delana menarik Chilton agar menyondongkan tubuhnya.

Delana mengambil gambar beberapa kali dengan latar meja makan mereka yang makanannya sudah ludes termakan.

“Oke, syarat pertama dan kedua sudah selesai,” tutur Delana sambil tersenyum menatap foto mereka yang terpampang di layar ponsel Delana.

“Uuh ... kamu ganteng banget!” Delana menggoyangkan pipi Chilton dengan telapak tangannya.

Chilton hanya tersenyum menanggapinya.

“Mau foto lagi?” tanya Delana sambil menatap Chilton.

Chilton menggelengkan kepala. Tapi, Delana dengan cepat pindah tempat duduk ke samping Chilton. Ia mengarahkan kamera ke wajah mereka berdua. Delana mengambil gambar dengan berbagai macam ekspresi lucu. Chilton yang awalnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, jadi ikut alay mengikuti gaya Delana.

“Aargh ...! Lucu,” teriak Delana sambil melihat hasil fotonya.

“Lucu apanya? Jelek banget kayak gitu,” celetuk Chilton ikut melihat hasil foto yang ada di ponsel Delana.

Delana mendongakkan wajahnya, tepat menatap Chilton. Chilton juga ikut menoleh dan menatap Delana. Mereka sama-sama terpaku selama beberapa detik dalam jarak yang begitu dekat.

Kamu adalah laki-laki yang membuat mataku melihat hal sederhana menjadi begitu indah,” ucap Delana dalam hatinya.

Chilton menatap lekat mata Delana. Ia bisa melihat bayangannya sendiri terlukis di dalam manik mata gadis itu. Ia mencoba menangkap ketulusan yang tergambar dari mata itu. Mata yang begitu teduh dan penuh kasih sayang.

“Ehem ...!” Chilton berdehem sembari mengusap tengkuknya untuk mengalihkan perasaan aneh yang tiba-tiba hadir dalam hatinya. “Pulang, yuk!” ajak Chilton.

“Eh!? Ayo!” Delana menganggukkan kepala. Ia meraih tas yang ia letakkan di atas kursi dan berlalu menuju meja kasir untuk membayar tagihan makan mereka.

Chilton menggenggam tangan Delana sampai ia tiba di sisi mobil. Ia membukakan pintu untuk Delana, memastikan Delana sudah duduk manis dan menutupnya kembali.

“Chil, yang untuk foto romantis itu, enaknya kita pake photografer kali ya? Biar bagus hasil fotonya,” tutur Delana saat Chilton sudah duduk di belakang kemudinya.

“Terserah,” jawab Chilton singkat sembari menyalakan mesin mobilnya.

“Kok, terserah sih?”

“Aku ngikut aja.” Chilton menoleh ke belakang untuk memastikan ia mengeluarkan mobilnya dari parkiran dengan baik.

Delana menghela napas kecewa. “Kamu mah nggak asyik,” celetuk Delana sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

“Ck, kamu nih perajuan betul,” gumam Chilton.

“Kamu loh lebih-lebih dari aku kalo merajuk,” sahut Delana.

Chilton tertawa kecil melihat wajah kesal Delana. “Aku ikut aja, yang penting kamu senang,” tutur Chilton sambil mengusap punggung tangan Delana. Ia langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah Delana.

***

“Bel, kamu ada kenalan fotografer yang bagus, nggak?” tanya Delana saat mereka sedang berkumpul di kamar Ivona.

“Fotografer tanya aku. Tanya Ivo, tuh!” Belvi menunjuk Ivona dengan dagunya.

Ivona sedang memilih beberapa pakaian di dalam lemarinya. “Tanya apa?” sahut Ivona.

“Ada kenalan fotografer yang bagus kah?” tanya Delana.

“Buat acara apa?” tanya Ivona.

“Buat foto couple gitu,” jawab Delana.

“What? Foto couple? Kalian udah jadian?” teriak Belvina.

“Iih, nggak usah teriak-teriak!” Delana menutup telinganya karena mendengar teriakan Belvi.

“Emang kamu udah jadian sama Chilton?” Ivona menghampiri Delana yang berbaring di ranjangnya.

“Belum.”

“Terus? Mau couple sama siapa?” tanya Belvi tertawa geli.

“Sama Chilton.”

“Nggak jadian kok mau foto pasangan?” tanya Belvi.

“Kepo.” Delana menjulurkan lidahnya ke arah Belvi. “Ada nggak, Vo?” tanya Delana menatap Ivona.

“Ada. Bentar aku cari kontaknya. Kamu langsung telpon dia aja! Bilang aja temen Ivo.” Ivona meraih ponsel dan mencari nama fotografer yang ia maksud.

“Bagus, nggak?” tanya Delana.

“Jangan meragukan aku! Kapan sih aku pake barang nggak berkualitas?”

Delana tersenyum senang mendengar ucapan Ivona.

Setelah mendapat nomor fotografer dari Ivona, Delana langsung menghubungi dan janji bertemu untuk membicarakan konsep foto romantis yang ia inginkan. Sebenarnya, bukan hanya untuk mendapat hadiah anggur merah gratis saja. Delana ingin memiliki kenangan indah bersama Chilton walau mereka belum menjadi sepasang kekasih. Setidaknya, Chilton tidak keberatan saat Delana mengajak berfoto romantis.

“Besok dia bisa ketemu buat diskusi konsep fotonya,” tutur Delana. “Oh, ya. Ada nomer butik yang di daerah Superblok itu kah, Von?” tanya Delana pada Ivona.

“Nggak ada. Tapi kayaknya tante aku punya, deh. Soalnya yang punya butik itu temennya tante aku,” tutur Ivona.

“Iya. Tanyain dong!” pinta Delana.

“Kamu mau cari apa sih?”

“Baju couple gitu buat foto besok. Masa iya udah booking fotografer mahal, tapi bajunya nggak serasi.”

“Oh, ya ya. I see.” Ivona mengangguk-anggukkan kepala. “Di sana bagus-bagus modelnya.”

“Iya, aku lihat di google tadi. Mudahan ada baju yang cocok,” tutur Delana.

“Kamu kenapa sih ribet banget cuma buat dapet anggur gratis? Aku rasa kamu nggak susah-susah banget sampe segitunya buat dapetin minuman gratis,” tutur Belvina.

“Iya. Dibanding sama anggur merah gratis itu, pengeluaran kamu buat sesi foto justru lebih banyak,” sambung Ivona.

Delana meringis menatap kedua sahabatnya. “Kalian tuh nggak peka banget sih? Ini kesempatan bagus buat aku makin deket sama Chilton. Lagian, kapan lagi aku punya alasan foto bareng dia?”

“Oooo ...” Ivona dan Belvina serempak membulatkan bibirnya.

“Ternyata ada misi terselubung?” goda Ivona.

“Pintar juga kamu ya?” sahut Belvina.

“Iya, dong. Siapa dulu? Delana gitu loh.”

“Eh, ini aku udah dapet nomer telepon butiknya. Aku kirim lewat WA aja ya,” tutur Ivona.

“Mantap!” seru Delana.

Delana langsung mengubungi pihak butik untuk mengatur pertemuan.

“Von, malam buka nggak?” tanya Delana.

“Apanya?”

“Butiknya.”

“Buka.”

“Kita langsung ke sana sekarang aja yuk!” ajak Delana.

“Hah!? Sekarang?”

“Iya.”

“Kenapa nggak bilang dari tadi?” tanya Ivona.

“Aku nggak kepikiran.”

“Ya udah, aku siap-siap dulu.”

“Nggak usah, gin. Gini aja nggak papa. Cuma bentar doang,” tutur Delana.

Ivona menghela napas. “Kalau bukan karena kamu dan Chilton, aku nggak bakal keluar dalam keadaan ngegembel kayak gini.”

Delana meringis. Mereka sepakat berangkat ke butik secepatnya dengan pakaian seadanya. Bahkan Ivona yang biasa pakai make-up, hanya memakai bedak dan lisptik tipis. Tapi tetap saja terlihat cantik.

***

“Chil, jam tujuh malam ke Ocean’s Resto ya!” pinta Delana via telepon.

“Ngapain?” tanya Chilton.

“Foto, dong. Kayak yang kita rencanain hari itu. Sekarang udah tanggal dua Februari nih.”

“Oh, oke. Jam tujuh ya?”

“Iya. Oh ya, aku ada kirim paketan ke asramamu. Wajib dipake ya!”

“Apa itu?”

“Udah, pake aja!” pinta Delana. “Aku mau siap-siap dulu ya. Bye ...!” Delana langsung mematikan sambungan teleponnya.

Setelah menelepon Chilton, Delana menelepon Ivona.

“Von, kamu di mana?” tanya Delana begitu panggilannya tersambung.

“Di rumah. Kenapa, Del?” tanya Ivona.

“Ke rumah ya! Dandanin aku,” pinta  Delana.

“Emang mau ke mana?”

“Mau nge-date dong sama Chilton,” jawab Delana sumringah.

“Ciyeee ... ya udah, aku meluncur ke sana sama Belvi.”

“Oke, ditunggu!” Delana langsung mematikan panggilan teleponnya.

Dua puluh menit kemudian, Ivona dan Belvina sudah sampai di rumah Delana. Mereka bertiga langsung masuk ke kamar Delana dan beraksi mengubah Delana menjadi seorang puteri yang cantik jelita. Ivona sibuk memoles make-up ke wajah Delana, sementara Belvina sigap menyiapkan barang yang dibutuhkan oleh Ivona.

“Taaraa ...!” seru Ivona setelah selesai mendandani Delana. Ia menggenggam bahu Delana dan mengajaknya berdiri di depan cermin.

Delana tersenyum melihat hasil make-up Ivona. Ia sangat senang karena bisa terlihat lebih cantik dari biasanya.

“Hmm ... sekarang tinggal pilih bajunya,” gumam Ivona.

“Bajunya udah aku siapin di kotak itu.” Delana menunjuk kotak berukuran 50x50 cm yang terlihat masih baru dari butik ternama.

Dengan cepat Belvina menyambar kotak itu dan membukanya. “Wow ...! Ini keren banget!” serunya sembari mengambil gaun yang ada di dalamnya.

Delana tersenyum bangga karena sahabatnya juga suka dengan gaun pilihannya.

“Keren, nih. Kamu sempat pesan design baju sendiri?” tanya Ivona. Ia mengambil gaun Delana dari tangan Belvina dan memakaikannya ke tubuh Delana.

Delana terlihat sangat cantik dengan gaun bernuansa pink hitam dengan hiasan kerlap-kerlip di kain brokatnya. Kakinya yang panjang terlihat begitu seksi mengenakan gaun selutut dan high heels warna senada. Bahunya terbuka dan memamerkan belahan dadanya.

“Cantik, tapi masih ada yang kurang. Apa ya?” tanya Ivona sambil mengetuk-ngetuk dagunya.

“Aksesoris!” seru Belvina.

“Aha, bener banget!” Ivona langsung melompat ke arah lemari aksesoris milik Delana. “Bagusnya pake yang mana ya?” tanya Ivona sambil mengamati aksesoris yang terpajang di lemari kaca.

Delana tersenyum. Ia membuka salah satu lemari pakaian dan mengeluarkan kotak perhiasan berwarna kuning keemasan. “Pake yang di sini aja!” pinta Delana sambil membuka kotak tersebut.

“Wow ...! Ini berlian asli?” tanya Belvina terpesona.

“Asli, dong!” sahut Delana. “Bagusnya pake yang mana?” tanya Delana sembari memilih perhiasan yang akan digunakan.

“Yang ini bagus, Del.” Ivona menunjuk kalung berlian mungil berbentuk tetesan air.

Delana tersenyum dan mencobanya. “Bagus?” Ia meminta pendapat dari kedua sahabatnya.

“Bagus!” jawab Belvina dan Ivona berbarengan sembari mengangkat kedua jempolnya.

“Oke. Aku pake yang ini aja.” Delana langsung memakai anting yang merupakan bagian dari set perhiasan kalungnya.

Setelah semuanya siap, Delana memesan taksi online menuju ke Ocean’s Resto.

“Kamu mau naik taksi?” tanya Ivona.

Delana menganggukkan kepala.

“Ngapain sih naik taksi segala? Aku antar,” tutur Ivona yang kebetulan membawa mobil ke rumah Delana.

“Boleh. Untung aja aku belum klik pesan, hehehe.”

“Ya udah. Ayo, berangkat!” ajak Ivona.

“Tukang fotonya udah kamu telepon?” tanya Belvina.

“Udah.”

Mereka langsung bergegas menuju Ocean’s Resto, tempat Delana dan Chilton akan melakukan sesi pemotretan.

***

Di Ocean’s Resto, Chilton menunggu Delana datang. Ia mengenakan kemeja berwarna pink dengan jas warna hitam pink. Kemeja dan jas yang ia kenakan sudah disediakan oleh Delana.

Beberapa menit kemudian, Delana muncul dan langsung menghampiri Chilton. Belvina dan Ivona hanya mengantar saja, mereka tidak ingin mengganggu dua sejoli yang sedang bersamaan.

“Udah lama nunggu?” tanya Delana sambil menepuk pundak Chilton.

 Chilton menoleh ke arah sumber suara, menatap Delana yang sudah berdiri di belakangnya. Ia mengernyitkan dahi mengamati wajah gadis yang terasa asing di depannya.

“Hei, kenapa lihatin kayak gitu?” Delana melambaikan tangan ke wajah Chilton.

“Eh!?” Chilton gelagapan begitu menyadari dirinya tenggelam dalam pesona kecantikan Delana. “Nggak papa.”

“Udah lama nunggu?” tanya Delana lagi.

“Nggak. Baru aja.”

“Tukang foto kita mana ya?” Delana mengedarkan pandangannya mencari sosok fotografer yang ia temui kemarin. Kemudian, ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas untuk menelepon.

“Fotografer?” tanya Chilton sambil mengerutkan keningnya.

Delana menganggukkan kepala.

“Cuma foto berdua, nggak perlu pake fotografer. Minta tolong pelayan resto atau pelanggan lain buat fotoin pake hape gin bisa,” cerocos Chilton.

Delana tersenyum sinis. “Nggak bagus!” celetuknya.

Chilton menggeleng-gelengkankan kepala melihat kelakuan Delana. Tapi, entah kenapa ia tidak bisa memprotes atau menolak keinginan gadis itu.

“Mas, di mana?” tanya Delana begitu teleponnya tersambung. “Saya di meja belakang, Mas. Pas tepi pantai. Pake dress pink. Oke.” Delana langsung mematikan teleponnya.

“Tunggu sebentar ya!” pinta Delana.

Chilton mengangguk-anggukkan kepala sembari melipat tangannya di depan dada.

Tak berapa lama, fotografer yang ditunggu akhirnya datang. Dengan senang hati Delana menyambutnya. Akhirnya, mereka melakukan sesi foto layaknya foto prewedding.

Syarat untuk mendapat anggur merah gratis sudah terpenuhi. Delana langsung menghampiri meja resepsionis dan mengajukan untuk bisa mendapat anggur merah gratis.

“Kamu yakin mau minum?” tanya Chilton begitu mereka kembali duduk di kursi meja makan yang berada di tepi pantai.

Delana mengangguk pasti. Setelah pelayan mengantarkan anggur ke meja mereka, Delana langsung membukanya dan menuangkan anggur untuk Chilton.

Chilton tersenyum sembari menatap Delana. “Berani habisin satu botol?” tanya Chilton menantang Delana.

“Berani!” Delana merasa tertantang. Ia langsung menenggak anggur yang sudah ada di tangannya.

Chilton mengernyitkan dahinya. Ia tak menyangka kalau Delana langsung menenggak minuman yang ada di tangannya. Chilton menyodorkan gelas yang ia pegang ke hadapan Delana dan langsung ditenggak oleh Delana.

Chilton menuangkan anggur ke gelas satu lagi dan meminumnya perlahan sembari menatap Delana yang mulai mengerjapkan matanya.

“Masih mau minum?” tanya Chilton.

Delana menganggukkan kepalanya. Ia menuangkan anggur ke dalam gelas dan langsung menenggaknya sampai habis.

Chilton tertawa kecil menatap Delana sambil menyesap anggur miliknya perlahan.

Delana menopang wajahnya yang hampir jatuh ke meja. Tangan satunya lagi masih bisa menuangkan anggur ke gelas dan meminumnya lagi sampai habis. Ia meletakkan gelas ke atas meja asal-asalan. Ia menjatuhkan kepalanya ke atas meja, menatap Chilton yang terlihat samar di hadapannya.

“Tolong tuangin lagi!” pinta Delana lirih.

“Kamu sudah mabuk.” Chilton menarik botol anggur agar menjauh dari hadapan Delana.

“Belum ... aku masih sadar,” sahut Delana yang sudah setengah sadar.

“Kamu sudah mabuk berat.”

“Enggak.” Dengan susah payah Delana mengangkat kepala dan menatap Chilton untuk membuktikan kalau ia belum mabuk. Tapi tiba-tiba pandangannya gelap dan tak bisa melihat apa-apa. Kepalanya kembali jatuh ke atas meja.

Chilton mengedarkan pandangannya, beberapa orang memerhatikan mereka. “Ayo, kita pulang!” ajak Chilton.

“Nggak mau!”

“Kamu mabuk, lagipula ini sudah malam.” Chilton menarik lengan Delana dan melingkarkan ke lehernya.

“Nggak mau. Aku mau di sini sama kamu,” rengek Delana manja.

Chilton tak peduli dengan ucapan Delana. Ia meraih tas Delana dan merangkulnya keluar dari resto menuju parkiran.

Karena Delana kesulitan berjalan, akhirnya Chilton memutuskan untuk menggendongnya sampai ke mobil.

“Punggungmu anget.” Delana menyandarkan kepalanya di bahu Chilton, pipinya tepat bersentuhan dengan telinga cowok itu.

“Aku sayang banget sama kamu. Aku pengen kita kayak gini terus selamanya,” bisik Delana di telinga Chilton.

Chilton tak begitu menghiraukan, ia mengira kalau Delana asal bicara karena sedang mabuk. Chilton membawa Delana masuk ke dalam mobil. Menyandarkan tubuhnya pada kursi dan memasangkan safety belt di pinggang Delana.

Chilton menghela napas panjang saat ia sudah duduk di balik kemudinya. Ia menatap Delana yang menyandarkan kepala sambil memejamkan mata. Tatapannya beralih ke bagian pundak sampai kaki Delana. Delana begitu seksi dan menggoda. Jantungnya berdebar tak karuan, ia mencoba menahan keinginannya untuk menyentuh gadis itu.

Chilton melepas jas miliknya dan menutupkannya ke tubuh Delana yang sudah tak sadarkan diri. Ia mengelus kepala Delana dengan  lembut dan mengecup pelipisnya. Ia tersenyum sambil menatap ke depan mobilnya, kemudian menyalakan mesin mobil dan bergegas mengantarkan Delana pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Delana kesulitan mencari kunci rumah di dalam tasnya. Chilton membantu mencarikan, tapi tetap tak ada di dalam tas Delana.

“Kuncinya nggak ada,” tutur Chilton.

Delana mendesah kesal. Ia bersandar di dinding sebelah pintu rumahnya dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

“Adik kamu sudah tidur jam segini?” tanya Chilton.

Delana mengangguk-anggukkan kepala kemudian tertidur lagi.

Chilton berusaha mencari bel rumah Delana. Ia langsung memencet bel agar adiknya bisa keluar dan membukakan pintu untuk mereka.

“Belnya lagi rusak, belum dibaikin,” tutur Delana yang menyadari kalau Chilton sedang memencet bel rumahnya.

Chilton mengernyitkan dahinya. “Gimana caranya bangunin adikmu? Dia di kamar atas?” tanya Chilton.

Delana mengangguk-anggukkan kepala.

Tiba-tiba Chilton teringat untuk menelepon adiknya menggunakan ponsel Delana. “Hape kamu di mana?” tanya Chilton.

“Di tas.”

Chilton langsung mencari ponsel di dalam tas Delana. Ia menyalakan ponsel Delana dan tertegun dengan wallpaper yang digunakan oleh Delana. Foto yang mereka ambil sebelum Delana mabuk. Delana masih sempat memasangnya menjadi wallpaper ponselnya. Chilton tersenyum kecil karena foto itu terlihat begitu romantis dan penuh cinta.

“Diangkat nggak?” tanya Delana setengah sadar.

Chilton baru menyadari kalau ia ingin menelepon adik Delana agar membukakan pintu untuk mereka. “Nama di kontaknya apa?”

“Bryan Aubrey,” jawab Delana.

Chilton langsung menemukan nama yang dimaksud dan meneleponnya.

“Halo, Kak. Ada apa?” tanya Bryan dari ujung sana.

“Kakak di luar.”

“Hah!? Ini siapa?” Bryan terkejut karena ponsel kakaknya dibawa oleh laki-laki.

“Temennya Dela.”

“Kak Dela mana?” tanya Bryan.

“Ini. Di depan pintu rumah. Tolong bukain pintu ya!” pinta Chilton.

“Oke.” Bryan langsung mematikan telepon dan bergegas membukakan pintu rumah. Ia terkejut dengan laki-laki yang pulang bersama kakaknya, terlebih kakaknya pulang dalam keadaan mabuk.

“Kakak mabuk?” tanya Bryan pada Delana yang masih terduduk di lantai.

“Enggak. Kakak cuma pusing,” sahut Delana.

Bryan menggelengkan kepala melihat kakaknya terlihat kacau.

Chilton dengan cepat mengangkat tubuh Delana dan menggendongnya. “Kamarnya di mana?” tanya Chilton.

“Di atas,” jawab Bryan.

Chilton langsung masuk ke dalam rumah diikuti oleh Bryan. Ia menaiki anak tangga satu per satu dengan napas tersengal. “Aku baru tahu kalau ternyata kamu berat banget,” gumamnya.

“Kamarnya yang mana?” tanya Chilton begitu sampai di ujung tangga. Ia melihat ada beberapa pintu kamar di sana.

“Itu, Kak.” Bryan menunjuk pintu yang berada paling tengah.

Chilton melangkahkan kaki menuju pintu kamar Delana. Ia berhenti tepat di depan pintu. “Aku antar sampai sini aja. Kamu kuat gendong kakakmu?” tanya Chilton.

“Nanggung amat nganterinnya. Langsung tidurin di kamar aja!” pinta Bryan sembari membukakan pintu kamar Delana.

“Emang boleh kakakmu ditidurin?” tanya Chilton nakal.

“Ditidurkan maksudnya. Jangan macam-macam sama kakakku!” ancam Bryan.

Chilton tertawa kecil dan membawa Delana masuk ke dalam kamarnya. Sementara Bryan menunggu sambil bersandar di bibir pintu, memerhatikan dua orang yang sedang ada di dalam kamar.

Chilton meletakkan tubuh Delana dengan hati-hati. Kemudian ia bangkit. Tapi tubuhnya justru ditarik oleh lengan Delana yang melingkar di lehernya. “Jangan tinggalin aku, aku sayang sama kamu!” Delana mendekap erat tubuh Chilton.

Chilton menoleh ke arah Bryan yang sedang mengawasinya. “Aku nggak ke mana-mana, kamu tidur ya!” bisik Chilton sembari melepas pelukan Delana perlahan. Ia melepas sepatu Delana dan menyelimutinya. Kemudian bergegas keluar dari kamar.

“Makasih udah nganter kak Dela pulang,” tutur Bryan sambil menuruni anak tangga beriringan dengan Chilton.

“Ya. Jaga kakakmu dengan baik!” Chilton menepuk bahu Bryan, kemudian mempercepat langkahnya untuk keluar dari rumah.

Bryan menganggukkan kepala. Ia mengikuti langkah Chilton dan mengantarnya sampai halaman rumah.

Chilton segera masuk mobil, ia menyalakan mesin mobil. Ia membuka kaca mobil dan melambai ke arah Bryan yang berdiri di depan rumah.

Bryan membalas lambaian tangan Chilton, kemudian masuk rumah.

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas