Showing posts with label Relima Perpusnas RI. Show all posts
Showing posts with label Relima Perpusnas RI. Show all posts

Saturday, August 30, 2025

Read Aloud di Desa Perangat Baru

 

Selasa pagi, 26 Agustus 2025, langit pagi di Desa Perangat Selatan sangat cerah. Tapi, aku tidak buru-buru pergi mandi. Aku ingin sedikit bersantai sebelum aku pergi menuju Desa Perangat Baru.
Sebelumnya, aku harus bersiap-siap sebelum jam 7 pagi karena harus menempuh perjalanan jauh. Kali ini aku lebih santai karena Desa Perangat Baru dapat ditempuh dalam waktu 10 menit dari tempatku menginap. 
Tepat pada jam 10.00 WITA, aku sampai di Kantor Desa Perangat Baru. Staff di sana sudah menungguku. Bahkan, beberapa warga sudah menunggu di ruang BPU desa tersebut. 
Aku langsung masuk ke ruang kantor tersebut dan melakukan inventarisasi aset-aset yang dimiliki oleh perpustakaan desa tersebut. 
Tak lama kemudian, kami bergeser ke ruang BPU untuk melakukan sosialisasi Relima kepada masyarakat Desa Perangat Baru. 
Saya merasa sangat senang karena mendapat sambutan baik dari masyarakat desa tersebut. 
Sosialisasi Relima selesai tepat pada pukul 12.00 WITA. Kepala Desa Perangat Baru langsung mempersilakan kami untuk makan siang usai sholat dzuhur. 
Tak cukup sampai di situ. Pihak pemerintah desa Perangat Baru juga telah menyiapkan kegiatan berikutnya, yakni Read Aloud. 
Perpustakaan desa di sini telah memiliki bangunan sendiri. Design bangunan juga memiliki gaya arsitektur yang unik. Hanya perlu beberapa langkah dari kantor desa untuk bisa sampai ke gedung perpustakaan. 
Saat memasuki gedung Perpustakaan Iqro' Smart, aku langsung disambut dengan tumpukan buku-buku yang sedang dipilah oleh pengelola perpustakaan. 
Ada sekitar 2.000 buah buku di perpustakaan ini. 1000 buku bantuan dari Perpusnas sudah tersusun rapi di rak. Sementara sisanya masih diletakkan di dalam kardus karena belum memiliki rak buku. 
Bangunan perpustakaan ini berlantai kayu ulin yang khas. Namun, terhubung dengan ruangan yang dibangun permanen. Di dalam ruangan itulah anak-anak TK/PAUD Kusuma Bangsa telah berkumpul untuk membaca buku bersamaku. 
Wajah-wajah mungil murid TK itu sangat antusias dan ceria. Membuatku  begitu bersemangat untuk membaca nyaring. Sayangnya, aku tidak sempat menyiapkan hadiah kecil untuk mereka, sehingga ada beberapa anak yang asyik main sendiri dan tidak memperhatikan apa yang sedang kubaca. Tapi tak apa, hal normal bagi anak-anak jenjang TK/PAUD.
Usai Read Aloud, aku langsung pamit pulang. Namun, ada hal yang menarik perhatian sebelum pulang. Ternyata, buku-buku di sana belum dikatalogisasi. Sehingga, aku memberikan saran dan masukan untuk segera dikatalogisasi agar mudah dalam mencari buku bacaan. 
Setelah semua selesai, aku kembali berpamitan untuk pulang. Kali ini benar-benar pulang. 
Aku mengendarai sepeda motor menuju Perangat Selatan. Sesampaiya di rumah, aku langsung beristirahat. Aku harus re-charge energi untuk esok hari. Sebab, esok harinya aku masih harus giat ke Desa Santan Ilir yang jaraknya sekitar 2 jam dari Desa Perangat Selatan. 
"Sehat-sehat, ya, badan! Masih banyak amanah dari Tuhan yang harus kita jalankan!" 💪💪💪




Thursday, August 28, 2025

Perjuangan Relawan Literasi di Ujung Perbatasan Kukar | Audiensi Relima Ke SMP Negeri 5 Marang Kayu Desa Semangko

 


25 Agustus 2025.

Pagi-pagi aku sudah disibukkan dengan banyak hal, padahal aku sedang menginap di rumah orang. Karena aku bangun kesiangan, jadi semuanya terkesan terburu-buru. 
Perjalanan semalam cukup melelahkan. Aku harus menempuh perjalanan sekitar 5 jam dari Samboja untuk bisa sampai ke sini. Jadi, tubuhku cukup lelah sehingga baru bangun di jam enam pagi. 
Aku langsung bergegas mengurus suamiku. Sebab, ia harus segera pulang ke Samboja untuk bekerja. Dia hanya mengantarku ke tempat ini karena aku tidak berani mengendarai motor seorang diri di malam hari. 
Menurut informasi, bus jurusan Bontang-Balikpapan akan tiba pada pukul 07.30 WITA. Jadi, kami harus bergegas agar tidak ketinggalan bus. 
Kami bergegas menuju salah satu rumah makan, tempat biasanya bus ngetem di sana. 
Begitu suamiku berangkat ke Samboja dengan menggunakan bus, aku langsung kembali ke rumah. Menunggu staff Pusda Kukar yang mendampingik datang. 
Awalnya, aku ingin pergi ke Desa Semangko menggunakan sepeda motor, tapi Staff Pusda melarangku dan memintaku untuk ikut serta dalam mobil mereka. 

Sekitar jam sembilan pagi, kami mulai bergerak menuju SMP Negeri 5 Marang Kayu yang terletak di Desa Semangko, Kecamatan Marang Kayu. 

Begitu sampai di SMP Negeri 5 Marang Kayu, kami disambut dengan baik dan ramah oleh Kepala Sekolah (Bapak Parmaiyanto, S.Pd, M.Pd). 

Kami berbincang sejenak di ruang kepala sekolah. Kemudian, aku memilih untuk berdiskusi dengan murid-murid tentang literasi dan bagaimana menjadikan perpustakaan sekolah sebagai pusat belajar, bukan sekedar ruang tempat menyimpan buku yang tak pernah dilirik, apalagi dijadikan tempat yang nyaman untuk berkegiatan. 

Dalam kegiatan diskusi dengan murid-murid, aku bisa menangkap bahwa pemikiran mereka tentang literasi hanya sebatas membaca. Padahal, literasi jauh lebih luas dari membaca di mana goals dari literasi adalah untuk kesejahteraan. 

Dalam diskusi, aku juga menyampaikan kepada pengelola perpustakaan dan kepala sekolah untuk memiliki akun instagram dan website yang bisa memublikasikan kegiatan-kegiatan sekolah dan juga prestasi sekolah. Sebab, SMP Negeri 5 Marang Kayu termasuk sekolah yang sangat aktif dan memiliki banyak prestasi, tetapi tidak terpublikasikan dengan baik. 

Usai berdiskusi dengan murid-murid, aku bergeser ke ruang perpustakaan untuk melakukan inventarisasi. Namun, ada hal tak terduga ketika aku mempertanyakan keberadaan buku bantuan dari Perpusnas RI. 
Pihak sekolah menyatakan tidak pernah menerima bantuan buku dari Perpusnas RI. Hal ini tentu mengejutkanku dan mencoba untuk menelusuri keberadaan buku bantuan tersebut. 


Aku segera menghubungi Kepala Desa Semangko. Mungkin saja buku bantuan dari Perpusnas RI masih nyangkut di kantor desa. Tetapi, kepala Desa juga mengatakan tidak menerima bantuan dan tidak ada BAST buku bantuan dari Perpusnas RI yang disalurkan ke SMP Negeri 5 Marang Kayu. 

Setelah berdiskusi selama beberapa saat, aku berpamitan untuk pulang. Maka, aku punya PR baru untuk menelusuri keberadaan bantuan buku tersebut bersama Satgas Relima Perpusnas RI di kantor pusat Jakarta. 

Perjalananku tak selesai sampai di sini. Aku dan tim Pusda Kukar masih harus pergi ke Desa Santan Ilir untuk mengambil visum perjalanan Staff Pusda karena mereka hanya bisa mendampingiku selama 2 hari, sementara kegiatanku akan dilakukan selama 3 hari. Alhasil, kami harus bergerak ke Desa Santan Ilir terlebih dahulu meski nantinya aku akan kembali ke desa tersebut pada tanggal 27 Agustus 2025 sesuai jadwal. 

Ternyata, Desa Santan Ilir berada di ujung perbatasan antara Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Bontang. Jalan menuju ke desa tersebut juga rusak dan sulit dilalui mobil karena sedang ada proyek pembangunan jalan. Hal ini, menjadi bahan pertimbangan kami untuk pulang melalui jalan lain, yakni lewat Bontang. 

Jarak tempuh pulang ke rumah tentunya lebih lama dan melelahkan agar mobil tetap aman (tidak nyangkut). Untungnya, kami menggunakan mobil. Jadi, aku bisa tidur sebentar di perjalanan. 

Aku baru sampai di Perangat Selatan menjelang magrib. Awalnya, aku pikir akan pulang saat tengah hari sehingga aku bisa ikut nonton pertandingan volly di Perangat Selatan. Tapi, perjalanan panjang membuatku tak bisa menonton pertandingan volly. Aku memilih untuk berbaring di kamar, mengistirahatkan tubuh dan pikiran yang sudah lelah beraktifitas seharian. 

Ada jiwa yang harus aku re-charge secepatnya karena esok harinya masih ada giat Relima di Desa Perangat Baru. 



[Cerita Relima Kukar] Semangatku Dimulai dari Marang Kayu

 



Embun pagi di Desa Perangat Selatan begitu menyejukkan. Langit terlihat cerah meski matahari belum terbit. Cuaca pagi di desa ini cukup dingin, tapi juga ada sedikit kehangatan. 
Aku menyusuri jalan aspal tanpa alas kaki. Katanya, ini baik untuk melancarkan peredaran darah. Sekaligus aku bisa menikmati pemandangan pagi yang indah.
 
Sudah satu malam aku menginap di rumah orang tua temanku yang berada tepat di kilometer 79 jalan poros Samarinda-Bontang. 

Awalnya aku bingung harus menginap di mana. Terlebih aku tidak pernah pergi ke Marang Kayu dan tidak punya kenalan di tempat ini. Tapi kemudian, Allah memberikanku sebuah kesempatan yang baik. 
Ternyata, aku punya kenalan bernama Linda. Dia tinggal di Perangat Selatan. Aku rasa, Perangat Selatan berada di Kecamatan Marang Kayu. Kami berkenalan saat mengikuti pelatihan konstruksi di Smart Academy sekitar tahun 2018.

Ah, ternyata sudah 7 tahun berlalu dan kami tidak pernah bertemu. Tapi Linda masih menyimpan nomorku, begitu juga sebaliknya. Sehingga kami kerap saling tahu lewat psan Whatsapp. Terkadang kami menyapa sesekali. 

Satu hari sebelum keberangkatan, aku mengirimkan pesan pribadi pada Linda. Dia langsung menyambutku dengan ramah. Bisa kupastikan kalau Linda berada di wilayah Marang Kayu. 

Sebelum bertanya soal penginapan, Linda memberikan tawaran lebih dahulu untuk menginap di rumahnya saja. 

"Wah ...! Serius!?" Mataku langsung berbinar. Baru saja aku ingin meminta izin untuk bisa menginap di rumahnya. Tapi Linda memberikan tawaran lebih dulu. 

Tentunya aku sambut dengan sangat bahagia. Sebab, ini bisa mengurangi biaya penginapanku. Sebab, Relima tidak ditanggung biaya perjalanan dan penginapannya oleh Perpusnas RI. 

Aku merasa lega setelah aku bisa mendapatkan tempat untuk menginap. Setidaknya, aku tidak harus menginap di musholla/masjid untuk menghemat pengeluaran. 

Aku langsung bersiap-siap pergi ke Desa Perangat Selatan, Kecamatan Marang Kayu. Awalnya aku ingin berangkat pagi hari, tapi tidak bisa kulakukan karena aku masih harus mengisi kegiatan di daerahku. 

Pagi hari di tanggal 24 Agustus, cuaca hujan. Hingga tengah hari, hujan tak kunjung reda. 

"Ya Allah, gimana mau berangkat ke Marang Kayu kalau hujan terus kayak gini? Apa nggak kemalaman sampai sana?" batinku sembari menatap langit yang sedang mendung dari balik jendela kamarku. 

Aku berbaring di dalam kamar sembari menunggu cuaca bagus. Selain hujan yang mengguyur, listrik di kampung kami juga padam. Setiap listrik padam, jaringan seluler juga ikut menghilang entah ke mana. Membuatku tak bisa melakukan apa pun selain berdiam diri di dalam kamar. Aku menunggu waktu menunjukkan pukul 12.00 WITA karena asa jadwal menjadi juri lomba pada jam 12.30 WITA. 

Sementara itu, suamiku masih sibuk berkutat si teras belakang rumah. Ada beberapa pekerjaan rumah yang harus ia rapikan dan aku tidak berani mengganggunya. 

Tepat di jam 3 sore, suamiku menyelesaikan pekerjaannya. Kami pun segera bersiap-siap untuk pergi ke Perangat Selatan menggunakan sepeda motor. Kami pun masih harus memenuhi undangan khitanan dari salah satu guru Arga di sekolah. 

Tepat di jam 17.30 WITA, kami baru keluar dari jalan polewali kilometer 48. Dengan cepat, suamiku melaju kencang menuju ke Kecamatan Marang Kayu. 
Setelah melewati banyak drama, akhirnya kami sampai di Perangat Selatan pada jam 22.30 WITA. 

Aku kira rumah kayu bercat biru itu adalah rumah Linda. Ternyata bukan. Ini adalah rumah orang tua Linda. Rumah Linda masih jauh dari tempat ini dan berada di tempat yang sepi. Itulah mengapa orang tua Linda meminta agar aku menginap di sini saja agar aku tidak kesepian. 

Karena hari sudah malam, suamiku ikut menginap semalam. Ia baru pulang pagi harinya menggunakan bus rute Bontang-Balikpapan karena dia harus bekerja. 

Rumah mungil milik orang tua Linda ini sangat hangat dan ramah. Semua menyambutku dengan begitu baik, terutama Linda. 
Aku bisa menginap di rumah ini tanpa harus mengeluarkan biaya penginapan. Bahkan, setiap pagi sudah tersedia sarapan untukku. Sungguh, ini adalah berkah yang luar biasa dari Allah. 
Aku bersyukur, Allah selalu pertemukan aku dengan orang-orang baik. Aku merasa sangat terbantu ketika aku diberi tempat menginap yang sehangat ini. 
Meski bangunannya sederhana, tapi isi di dalamnya sangat mewah bagiku. Aku merasa begitu nyaman sampai aku sering bangun kesiangan setiap paginya. Untungnya, semua kegiatan Relima dijadwalkan pada jam 10 pagi. Jadi, aku tidak terlalu terburu-buru. 

Pagi ini, aku siap memulai perjalanan Relima Kukar dari Perangat Selatan. Aku akan berkegiatan selama 3 hari karena 3 desa ya g ada di sini berjauhan. Hari pertama aku harus ke Semangko, jarak tempuhnya sekitar 1,5 jam dari Perangat Selatan. Hari Kedua aku bergiat di Desa Perangat Baru. Desa ini cukup dekat, hanya 10 menit saja dari rumah Linda. Hari Ketiga aku harus ke Desa Santan Ilir yang jarak tempuhnya sekitar 2 jam dari Perangat Selatan. 

Kunjungan-kunjungan ini harus menggunakan dana pribadi karena tidak di-cover oleh Perpusnas RI. Sehingga, aku harus menghemat biaya perjalanan dan penginapan agar pengeluaranku tidak membengkak. 

Sebagai relawan, aku dituntut untuk selalu ikhlas menjalani segalanya. Bahkan, aku merasa kalau aku bukan hanya sebagai relawan literasi untuk Perpusnas RI, tapi juha sebagai donatur untuk kegiatan ini. 

Apa diriku sudah kaya sampai harus jadi donatur? Semoga saja segera diberi banyak kekayaan. Supaya kalau aku bergiat sebagai relawan, aku tidak perlu mikir dua kali untuk mengeluarkan uang pribadiku. Aku yakin, Allah pasti akan menolongku. Ia tidak akan membiarkan aku berjalan seorang diri selama itu berada di jalan kebenaran. 

Jika kamu membaca tulisan ini, maka bacalah tulisan-tulisanku yang lain. Bantu aku untuk menghasilkan uang yang bisa aku sedekahkan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa lewat literasi dan juga membantu anak-anak Palestina. 
Terima kasih.. 🙏

Tuesday, August 26, 2025

Audensi Relima Kaltim ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim

 



Selasa, 22 Juli 2025


Sudah 21 hari aku dilantik sebagai Relima Lokus Kukar. Tapi masih belum tahu apa yang harus aku lakukan sampai atribut Relima benar-benar datang. Terkadang aku juga ragu, mungkinkah Perpusnas RI benar-benar menjadikanku sebagai Relima (Relawan Literasi Masyarakat) dengan segala kekurangan yang ada. 

Aku tidak sendiri. Ada dua orang teman yang berasal dari Kaltim. Yakni Pak Budi Utomo (Lokus Balikpapan) dan Dodi Wahyudi (Lokus Paser). Kami bertiga resmi dilantik sebagai Relima (Relawan Literasi Masyarakat) karena dianggap memiliki pergerakan dan kontribusi yang baik di bidang literasi dan pendidikan masyarakat. 

Setelah SK dari Perpusnas RI keluar, kepalaku langsung cenut-cenut karena ada sekitar 45 Perpustakaan Desa dan taman baca yang harus kami datangi. Tantangan terbesar di wilayah Kutai Kartanegara adalah letak geografisnya. 

Kutai Kartanegara memiliki luas wilayah sebanyak 27.263,10 km2. Sangat jauh berbeda dengan kota Balikpapan yang memiliki wilayah 503,3 km2 dan kota Samarinda yang memiliki luas wilayah sekitar 718 km2. Bisa dibilang wilayah Kutai Kartanegara 54 kali lebih luas dari kota Balikpapan dan 38 kali luas kota Samarinda. 

Letak geografis Kutai Kartanegara ini menjadi tantangan yang sangat besar bagiku. Pasalnya, Perpusnas RI tidak memberikan uang transport atau uang makan untuk menjangkau ke daerah-daerah tersebut. Sebagai Relawan, aku harus menggunakan uang pribadi yang nilainya tidak sedikit. Uang honor yang hanya 2juta per bulan, tidak cukup untuk menjangkau satu desa yang jaraknya hampir 200 kilometer dan harus menyebrang menggunakan kapal. Biaya satu kali perjalanan, aku harus menghabiskan dana sekitar 3 jutaan.

Lalu, bagaimana aku mensiasatinya? Uang honor yang bisa aku gunakan untuk mendukung kegiatan literasi, sepertinya sudah habis untuk biaya perjalanan, bahkan harus nombok. 

Cukup lama aku dan Relima Kaltim lain berdiskusi. Kami sama-sama tidak punya solusi selain meminta bantuan pada pihak-pihak terkait. Salah satunya adalah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim. Meski kami tidak berharap banyak, tapi kami berharap itu bisa memudahkan dan meringankan langkah kami. 

Setelah berusaha menghubungi beberapa teman di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim, akhirnya kami sepakat untuk berkunjung ke DPK Kaltim pada tanggal 22 Juli 2025.

"Berangkatnya gimana? Sendiri-sendiri atau bareng? Uang Transport bagaimana?" Pak Budi, koordinator Relima Kaltim mencoba mengingatkan. 

"Kita iuran saja, Pak," ucapku via pesan Whatsapp. 

"Ya, sudah. Saya yang sewa mobilnya, kalian berdua yang isi minyaknya," ucap Pak Budi. 

"Wah ...! Beneran, Pak?" Mataku langsung berbinar melihatnya. "Biaya untuk beli minyaknya kira-kira berapa?"

"Dua ratus ribu cukup," jawab Pak Budi. "Untuk makan, kita beli masing-masing aja."

"Siap, Pak!"

Akhirnya, kami berangkat pada tanggal 22 Juli ke Kantor DPK Kaltim. Dodi Wahyudi yang berasal dari Paser, harus berangkat pukul 01.00 dinihari menggunakan bus agar bisa bertemu dengan Pak Budi di Kota Balikpapan. Sementara, aku menunggu di jalan poros Km.48, tepat di jalan poros Balikpapan-Samarinda. 

Untuk bisa sampai keluar ke jalan poros, aku juga masih harus menempuh jarak sekitar 11 kilometer. Jalan di lokasi tak semulus jalan di peta. Jalan rusak (eks. tambang) yang harus kami tempuh, membuat perjalanan jadi lebih lama dari perkiraan. 

Aku menunggu cukup lama di depan Toko Padil Jaya kilometer 48. Sebab, Pak Budi masih menunggu Dodi datang dari Paser. Bukan sekedar naik bus, Dodi masih harus menyebrang laut dari penajam untuk bisa sampai ke kota Balikpapan. Sekali lagi, perjalanan kami di daerah tak semulus jalan di peta. 


Kami sudah membuat janji dengan staff Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim untuk bertemu pada pukul 10.00 WITA. Sementara, kami masih berada di kilometer 48 pada pukul 08.30. Akhirnya, kami memilih jalur tol supaya bisa sampai tepat waktu. Meski kami harus keluar biaya lagi untuk bayar tol, tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada kami datang terlambat dan membuat orang dinas menunggu kami. 

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, akhirnya kami sampai juga di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim. Begitu sampai, tidak ada ruangan lain yang kami tuju selain mencari toilet karena sudah cukup lama berada di perjalanan. Tak hanya itu, Dodi yang berangkat dari rumah pukul 01.00 dinihari, perlu mandi terlebih dahulu sebelum bertemu dengan orang dinas. Tentunya, aku harus menunggu Dodi selesai mandi dan berganti pakaian agar kami bisa bertemu dengan Kepala Dinas dalam keadaan bersih dan nyaman. 


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kami diarahkan untuk naik ke lantai 2. Staff yang sudah berkoordinasi dengan kami, sudah menunggu di depan ruang rapat /meeting room. 
"Mbak, mohon maaf, Kepala Dinas tiba-tiba ada acara di Kantor Gubernur. Jadi, tidak bisa hadir pagi ini," ucap staff yang bertemu dengan kami. 
Kami bertiga menghela napas kecewa, tapi bibir kami tetap berusaha untuk tersenyum. 
"Nggak papa, Bu. Kami bisa bertemu dengan staff bidang yang berkaitan dengan tugas kami saja," ucapku. 
Bagi kami, bisa bertemu dengan staff bidang saja sudah cukup. Dalam hal ini, kami tidak harus membuat laporan dengan sempurna. Yang penting, kami sudah melakukan upaya advokasi ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim. Untuk hasilnya seperti apa, kami harus melaporkan apa adanya. Bentuk dukungan seperti apa yang akan diberikan oleh pemerintah Provinsi, yang akan menilai adalah tim dari Perpusnas RI, bukan bergantung pada kami. 

Setelah berkenalan dan berdiskusi cukup lama, kami akhirnya berpamitan untuk pulang. Pihak DPK Kaltim mengaku sangat terbantu dengan adanya Relima, tapi mereka juga tidak bisa berbuat banyak karena saat ini pemerintah sedang melakukan efisiensi anggaran. Tentunya, kami juga tidak bisa berharap banyak pada mereka. 

Apalagi yang harus kami lakukan? Sudah jauh-jauh datang ke Samarinda dengan effort yang luar biasa, ternyata kami tidak bisa bertemu dengan Kepala Dinas. Kami berniat untuk menunggu Kadis kembali ke kantor, tapi sepertinya beliau tidak akan kembali karena urusannya belum selesai. 

Kami tidak tahu harus melakukan apa lagi. Aku langsung turun ke lantai dasar, menemui salah satu orang yang aku kenal saat aku mengikuti karantina Duta Baca pada tahun 2018, yakni Bunda Yeni. 

Aku sangat bahagia bisa bertemu langsung dengan Bunda Yeni setelah sekian lama. Bertemu dengan dia adalah hal yang mahal bagiku. Karena kami harus menempuh perjalanan jauh untuk bisa bertemu. 

Waktu sudah masuk waktu sholat dzuhur. Aku langsung meminta izin untuk sholat. Bu Yeni mengarahkanku untuk sholat di ruang majalah, tempat dia bekerja. Kebetulan, ada ruang kecil yang digunakan untuk sholat. 

Usai sholat, aku keluar ke lobi. Sejak awal, aku sudah berencana untuk membuat kartu anggota. Sebelum bertemu Bunda Yeni, aku sempat mengisi formulir untuk membuat kartu anggota. Sayangnya, formulir yang aku isi gagal dan tidak bisa cetak kartu. Jadi, aku mengisi kembali formulir baru supaya bisa mendapatkan kartu anggota perpustakaan provinsi. 

Begitu selesai mendapatkan kartu anggota perpustakaan, aku dan dua Relima lain bergeser ke belakang gedung, ke kantin. Karena perut kami sudah lapar. Sejak keluar rumah, kami bertiga belum ada yang sarapan. Rencananya mau sarapan bersama di perjalanan. Tapi semua tak sesuai rencana. Waktu kami sangat mepet, sehingga kami baru bisa sarapan setelah sholat dzuhur. 

Di kantin, kami melanjutkan perbincangan tentang tugas dan tantangan Relima. Terutama Relima Kukar yang tantangannya jauh lebih besar. Tidak ada hal lain yang aku pikirkan selain memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang transport agar aku bisa berkegiatan. Sepertinya bisnis-bisnis kecilku masih kurang untuk menopang semuanya. 

"Huft ...! Andai aja aku punya bisnis besar dan uangku banyak. Nggak perlu mikir dua kali untuk sedekahkan hartaku di jalan literasi ini," batinku sembari mengaduk kuah rawon yang sudah tersedia di hadapanku. 

"Meningkatkan literasi itu tugas negara, Rin. Ngapain kamu capek-capek ngurusin hal-hal yang seharusnya jadi tanggung jawab negara? Digaji kagak, keluar duit terus, iya." Kalimat jelek itu lagi-lagi muncul di kepalaku. Iblis di hatiku memang sering mengajakku bicara. 

Kalau aku mikir ... ini tugasnya negara, nggak akan ada yang benar-benar peduli pada kemajuan di negeri ini. Sekolah kini hanya jadi formalitas untuk memenuhi gengsi atas status sosial. Bukan untuk mencetak generasi yang benar-benar unggul dan cerdas. 

Kalau mikir ... nunggu kaya dulu baru bantu orang, kapan aku kaya? Karena standar kekayaan setiap orang itu berbeda. Kaya buatku, belum tentu kaya di mata orang lain. 

Aku ingin jadi orang yang bermanfaat. Yang bisa aku sedekahkan adalah ilmu dan sedikit harta yang aku punya. Aku tidak ingin hidupku berakhir dengan hal yang sia-sia. Sekedar cari makan, kemudian mati. 

"Kita ke mana lagi, nih? Mumpung free," tanya Pak Budi. 
"Bebas, Pak. Saya ngikut saja," jawabku. 
Kami bertiga seperti orang yang nggak punya kerjaan dan bingung mau ngapain. 
Awalnya, kami ingin main ke Tirtonegoro Foundation atau ke Kampoeng Dongeng Etam Samarinda. Tapi ternyata, pemiliknya sedang sibuk berkegiatan. Kalau mainnya terlalu sore, nanti kemalaman sampai rumah. 

Alhasil, kami memilih untuk langsung pulang saja. Dodi tak lagi ikut bersama kami. Aku hanya berdua dengan Pak Budi saja. Kami berbincang banyak hal, terutama tentang bagaimana mensiasati pergerakan Relima Kukar yang lokus kerjanya sangat luas. 

Kami tak berharap banyak, hanya berharap pengabdian kami bisa dimudahkan dan diberikan keberkahan. Karena reward terbaik adalah reward yang diberikan oleh Allah. 






Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas