Selasa pagi, 26 Agustus 2025, langit pagi di Desa Perangat Selatan sangat cerah. Tapi, aku tidak buru-buru pergi mandi. Aku ingin sedikit bersantai sebelum aku pergi menuju Desa Perangat Baru.
Menu BacaanMu
- Perfect Hero (546)
- Puisi (121)
- My Experience (118)
- Rumah Literasi Kreatif (87)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (72)
- Then Love (60)
- Belajar Menulis (58)
- Esai (56)
- Artikel (43)
- Puisi Akrostik (43)
- Review Buku (22)
- Relima Perpusnas RI (18)
- Review Drama (18)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Novel The Cakra (8)
- Wisata (8)
- Aku dan Taman Bacaku (7)
- Dasawisma (6)
- Review Aplikasi (6)
- Kumpulan Novel (5)
- Daily (4)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Opini (4)
- Pendamping Nakal (3)
- Biografi Penulis (2)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- JNE (1)
- Product (1)
Saturday, August 30, 2025
Thursday, August 28, 2025
Perjuangan Relawan Literasi di Ujung Perbatasan Kukar | Audiensi Relima Ke SMP Negeri 5 Marang Kayu Desa Semangko

Aku segera menghubungi Kepala Desa Semangko. Mungkin saja buku bantuan dari Perpusnas RI masih nyangkut di kantor desa. Tetapi, kepala Desa juga mengatakan tidak menerima bantuan dan tidak ada BAST buku bantuan dari Perpusnas RI yang disalurkan ke SMP Negeri 5 Marang Kayu.
Setelah berdiskusi selama beberapa saat, aku berpamitan untuk pulang. Maka, aku punya PR baru untuk menelusuri keberadaan bantuan buku tersebut bersama Satgas Relima Perpusnas RI di kantor pusat Jakarta.
Perjalananku tak selesai sampai di sini. Aku dan tim Pusda Kukar masih harus pergi ke Desa Santan Ilir untuk mengambil visum perjalanan Staff Pusda karena mereka hanya bisa mendampingiku selama 2 hari, sementara kegiatanku akan dilakukan selama 3 hari. Alhasil, kami harus bergerak ke Desa Santan Ilir terlebih dahulu meski nantinya aku akan kembali ke desa tersebut pada tanggal 27 Agustus 2025 sesuai jadwal.
Ternyata, Desa Santan Ilir berada di ujung perbatasan antara Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Bontang. Jalan menuju ke desa tersebut juga rusak dan sulit dilalui mobil karena sedang ada proyek pembangunan jalan. Hal ini, menjadi bahan pertimbangan kami untuk pulang melalui jalan lain, yakni lewat Bontang.
Jarak tempuh pulang ke rumah tentunya lebih lama dan melelahkan agar mobil tetap aman (tidak nyangkut). Untungnya, kami menggunakan mobil. Jadi, aku bisa tidur sebentar di perjalanan.
Aku baru sampai di Perangat Selatan menjelang magrib. Awalnya, aku pikir akan pulang saat tengah hari sehingga aku bisa ikut nonton pertandingan volly di Perangat Selatan. Tapi, perjalanan panjang membuatku tak bisa menonton pertandingan volly. Aku memilih untuk berbaring di kamar, mengistirahatkan tubuh dan pikiran yang sudah lelah beraktifitas seharian.
Ada jiwa yang harus aku re-charge secepatnya karena esok harinya masih ada giat Relima di Desa Perangat Baru.
[Cerita Relima Kukar] Semangatku Dimulai dari Marang Kayu
Embun pagi di Desa Perangat Selatan begitu menyejukkan. Langit terlihat cerah meski matahari belum terbit. Cuaca pagi di desa ini cukup dingin, tapi juga ada sedikit kehangatan.
Tuesday, August 26, 2025
Audensi Relima Kaltim ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim
Selasa, 22 Juli 2025
Sudah 21 hari aku dilantik sebagai Relima Lokus Kukar. Tapi masih belum tahu apa yang harus aku lakukan sampai atribut Relima benar-benar datang. Terkadang aku juga ragu, mungkinkah Perpusnas RI benar-benar menjadikanku sebagai Relima (Relawan Literasi Masyarakat) dengan segala kekurangan yang ada.
Aku tidak sendiri. Ada dua orang teman yang berasal dari Kaltim. Yakni Pak Budi Utomo (Lokus Balikpapan) dan Dodi Wahyudi (Lokus Paser). Kami bertiga resmi dilantik sebagai Relima (Relawan Literasi Masyarakat) karena dianggap memiliki pergerakan dan kontribusi yang baik di bidang literasi dan pendidikan masyarakat.
Setelah SK dari Perpusnas RI keluar, kepalaku langsung cenut-cenut karena ada sekitar 45 Perpustakaan Desa dan taman baca yang harus kami datangi. Tantangan terbesar di wilayah Kutai Kartanegara adalah letak geografisnya.
Kutai Kartanegara memiliki luas wilayah sebanyak 27.263,10 km2. Sangat jauh berbeda dengan kota Balikpapan yang memiliki wilayah 503,3 km2 dan kota Samarinda yang memiliki luas wilayah sekitar 718 km2. Bisa dibilang wilayah Kutai Kartanegara 54 kali lebih luas dari kota Balikpapan dan 38 kali luas kota Samarinda.
Letak geografis Kutai Kartanegara ini menjadi tantangan yang sangat besar bagiku. Pasalnya, Perpusnas RI tidak memberikan uang transport atau uang makan untuk menjangkau ke daerah-daerah tersebut. Sebagai Relawan, aku harus menggunakan uang pribadi yang nilainya tidak sedikit. Uang honor yang hanya 2juta per bulan, tidak cukup untuk menjangkau satu desa yang jaraknya hampir 200 kilometer dan harus menyebrang menggunakan kapal. Biaya satu kali perjalanan, aku harus menghabiskan dana sekitar 3 jutaan.
Lalu, bagaimana aku mensiasatinya? Uang honor yang bisa aku gunakan untuk mendukung kegiatan literasi, sepertinya sudah habis untuk biaya perjalanan, bahkan harus nombok.
Cukup lama aku dan Relima Kaltim lain berdiskusi. Kami sama-sama tidak punya solusi selain meminta bantuan pada pihak-pihak terkait. Salah satunya adalah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim. Meski kami tidak berharap banyak, tapi kami berharap itu bisa memudahkan dan meringankan langkah kami.
Setelah berusaha menghubungi beberapa teman di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim, akhirnya kami sepakat untuk berkunjung ke DPK Kaltim pada tanggal 22 Juli 2025.
"Berangkatnya gimana? Sendiri-sendiri atau bareng? Uang Transport bagaimana?" Pak Budi, koordinator Relima Kaltim mencoba mengingatkan.
"Kita iuran saja, Pak," ucapku via pesan Whatsapp.
"Ya, sudah. Saya yang sewa mobilnya, kalian berdua yang isi minyaknya," ucap Pak Budi.
"Wah ...! Beneran, Pak?" Mataku langsung berbinar melihatnya. "Biaya untuk beli minyaknya kira-kira berapa?"
"Dua ratus ribu cukup," jawab Pak Budi. "Untuk makan, kita beli masing-masing aja."
"Siap, Pak!"
Akhirnya, kami berangkat pada tanggal 22 Juli ke Kantor DPK Kaltim. Dodi Wahyudi yang berasal dari Paser, harus berangkat pukul 01.00 dinihari menggunakan bus agar bisa bertemu dengan Pak Budi di Kota Balikpapan. Sementara, aku menunggu di jalan poros Km.48, tepat di jalan poros Balikpapan-Samarinda.
Untuk bisa sampai keluar ke jalan poros, aku juga masih harus menempuh jarak sekitar 11 kilometer. Jalan di lokasi tak semulus jalan di peta. Jalan rusak (eks. tambang) yang harus kami tempuh, membuat perjalanan jadi lebih lama dari perkiraan.Aku menunggu cukup lama di depan Toko Padil Jaya kilometer 48. Sebab, Pak Budi masih menunggu Dodi datang dari Paser. Bukan sekedar naik bus, Dodi masih harus menyebrang laut dari penajam untuk bisa sampai ke kota Balikpapan. Sekali lagi, perjalanan kami di daerah tak semulus jalan di peta.
Kami sudah membuat janji dengan staff Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim untuk bertemu pada pukul 10.00 WITA. Sementara, kami masih berada di kilometer 48 pada pukul 08.30. Akhirnya, kami memilih jalur tol supaya bisa sampai tepat waktu. Meski kami harus keluar biaya lagi untuk bayar tol, tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada kami datang terlambat dan membuat orang dinas menunggu kami.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, akhirnya kami sampai juga di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim. Begitu sampai, tidak ada ruangan lain yang kami tuju selain mencari toilet karena sudah cukup lama berada di perjalanan. Tak hanya itu, Dodi yang berangkat dari rumah pukul 01.00 dinihari, perlu mandi terlebih dahulu sebelum bertemu dengan orang dinas. Tentunya, aku harus menunggu Dodi selesai mandi dan berganti pakaian agar kami bisa bertemu dengan Kepala Dinas dalam keadaan bersih dan nyaman.Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kami diarahkan untuk naik ke lantai 2. Staff yang sudah berkoordinasi dengan kami, sudah menunggu di depan ruang rapat /meeting room.





