Showing posts with label My Experience. Show all posts
Showing posts with label My Experience. Show all posts

Sunday, March 14, 2021

Membangun Negeri dari Youth Camp Desa Beringin Agung

 


Samboja, 13-14 Maret 2021 

 

Pertamina Hulu Sanga-Sanga dan Yayasan Teman Kita berkolaborasi mengadakan "YOUTH CAMP" untuk pemuda/pemudi Desa Beringin Agung.

Camping yang berlangsung selama 2 hari 1 malam ini diikuti oleh 21 peserta dan diisi oleh pemateri-pemateri yang kece banget. Ada Kak Rio, seorang psikolog yang membawakan materi "Self Awareness". Ada Kak Andin Destian (Founder Serumpun Lima Studio)  yang membawakan materi "Seni Budaya dan Kearifan Lokal. Ada Kak Dion Agustian Pratama Putra (Founder Editorest.id) yang membawakan materi tentang "Konten Kreator" dan ada Kak Iswahyudi (Manager Riset & Inovasi HBICS, Yayasan Tunas Cahaya Bangsa) yang membawakan materi tentang Kepemimpinan dan Organisasi.

 

Wah, pematerinya keren-keren banget, ya!? Mereka semua adalah orang-orang yang aku kagumi. 

Meski aku nggak ikut jadi peserta, tapi aku juga nggak mau ketinggalan dapetin ilmunya, dong. Oleh karenanya, aku juga hadir di sana hanya untuk belajar. Mengikuti materi dan diskusi dengan orang-orang hebat seperti mereka.

 

Selain materi-materi yang keren banget. Mereka juga mengadakan outbond dan pementasan untuk membangun kebersamaan, percaya diri, kepedulian, saling menyayangi dan bekerja sama.

Dari materi awal yang dibawakan sama Kak Rio, udah keren banget. Gimana pemuda/pemudi ini bisa nyusun puzzle dengan mengandalkan kepekaan timnya. Kalau temennya nggak peka, itu puzzle nggak bisa jadi. Iih ... pokoknya keren banget! Waktu aku masih muda, aku nggak pernah dapetin pelatihan seru seperti mereka. Rasanya, pengen kembali muda lagi.

 

Materi selanjutnya, tentunya lebih seru lagi. Aku juga nggak mau ketinggalan untuk melihat mereka sedang membuat program apa untuk desa mereka.

Di akhir materi, aku kagum dengan pemikiran anak-anak muda yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan desa mereka. Karena ada banyak orang pintar, tapi mereka belum tentu peduli. Ada banyak orang kaya, mereka juga belum tentu peduli.

 

Hari ini aku belajar banyak dari mereka. Belajar tentang semangat muda untuk membangun negeri. Belajar tentang bagaimana menjadi generasi yang peduli pada daerah sendiri.

Jika bodoh, kita masih bisa belajar. Tapi jika di hati sudah memiliki rasa tak peduli, maka masa depan akan hancur.

Kenapa aku peduli pada masa depan? Kadang, orang lain kerap bertanya. Untuk apa aku berlelah-lelah memberikan begitu banyak ilmu dan inspirasi tanpa dibayar? Awalnya, aku memang tidak memiliki jawaban karena aku ini orang bodoh. Aku hanya merasa, ini adalah panggilan Tuhan. Karena hatiku merasa bahwa sedih jika melihat generasi masa depanku tak punya harapan. Sampai akhirnya ... hari ini aku sadar bahwa aku haruslah peduli pada masa depan. Sebab, di sana ada anak-anakku yang akan hidup.

Dunia bisa benar-benar berubah karena segelintir orang yang ingin melakukan perubahan. Jika hidup hanya memenuhi kebutuhan sandang dan pangan saja, tentulah aku tidak akan bisa menulis di blog seperti ini. Tulisanku bisa ada di sini karena ilmu pengetahuan yang terus maju dan berkembang.

Sekarang, kita bisa menikmati mudahnya naik kendaraan bermotor karena ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya, kita haruslah peduli pada generasi masa depan kita. Peduli pada kemajuan daerah kita. Jika sumber daya manusianya maju, daerah itu pasti akan maju.

 

Aku merangkul mereka, anak-anak muda untuk berkarya dan menginspirasi. Menjadikan garda terdepan dalam kemajuan desa dan terwujudnya “Kampung Literasi” di Desa Beringin Agung.

 

Karena ...

Yang muda yang berkarya.

Yang muda yang menginspirasi.

Yang muda yang membuat perubahan.

 

 

Terima kasih untuk semua stakeholder yang telah terlibat dalam kegiatan ini!

Semoga “Kampung Literasi” di Desa Beringin Agung akan benar-benar terwujud dalam dua tahun ke depan. Aamiin.

 

 

 

Much Love,

@rin.muna



Artikel lain yang sama : 


Mamuja Tak Henti Berkarya, Kini Berhasil Meluncurkan Produk Mamuja Food



 

 

Sepanjang tahun, Mamuja tak henti berkarya. Dibentuk pada 03 Februari 2019 karena keisengan belaka. Awalnya, hanya ingin kumpul-kumpul untuk memanfaatkan waktu luang agar lebih berisi dan bermanfaat. Tak disangka jika Mamuja mampu bergerak terus-menerus dan menjadi bagian dari penggerak ekonomi masyarakat.


Meski hingga saat ini hanya beranggotakan 7 orang saja, tidak membuat semangat ibu-ibu ini tumbang. Mereka justru bersemangat setiap harinya untuk melahirkan karya, bukan melahirkan anak saja.


Setelah mendapatkan pelatihan bisnis yang diadakan oleh Pertamina Hulu Sanga-Sanga pada Januari 2020. Ibu-ibu Mamuja terinspirasi untuk membuat sebuah produk UMKM yang bisa dinikmati oleh semua kalangan, terutama oleh generasi milenial.


Kali ini, Mamuja bersama Rumah Literasi Kreatif berusaha untuk mengemas produk-produk UMKM hasil binaan agar bisa dipasarkan ke luar desa Beringin Agung. Mengingat bahwa produk-produk desa sulit untuk bersaing di pasar karena banyak kendala dan hambatan yang menjadi pokok persoalan. Salah satunya adalah masalah pengemasan dan pemasaran produk. Jarak tempuh dari pedesaan ke kota lumayan jauh. Akses transportasi ini cukup menjadi pengaruh besar dan menjadikan harga produk tidak lagi kompetitif.


Meski banyak hambatan, ibu-ibu tetap tidak menyerah untuk terus berkarya. Mencoba banyak hal. Belajar dari kegagalan dan tidak berhenti bergerak. Sampai akhirnya, ibu-ibu Mamuja berhasil membuat salah satu cemilan dari buah-buahan yang juga kekinian. Yakni, aneka keripik dan stick buah. 


Karena aku tidak pandai urusan marketing. Hanya punya basic menulis, maka aku hanya bisa membantu ibu-ibu ini mempromosikan produk-produk mereka agar laku terjual dan bisa membantu perekonomian keluarga.

Selai itu, aku juga meminta tolong pada adik bungsuku yang kebetulan bekerja sebagai marketing untuk membantu memasarkan produk dan karya ibu-ibu Desa Beringin Agung. Harapan ke depannya, produk-produk Mamuja yang menaungi beberapa produk ibu-ibu di desa ini mampu menjadi produk yang layak untuk bersaing di pasar. Bersanding dengan produk-produk lain yang juga ada di pasaran.


Ada beberapa produk stick buah yang diproduksi oleh ibu-ibu desa. Salah satunya adalah Stick Nanas yang menjadi produk unggulan di Desa Beringin Agung.

Stick Nanas ala Mamuja ini memiliki daya tarik sendiri karena bahannya berasal dari Nanas khas Samboja. Kalian tidak hanya bisa membawa Nanas Samboja sebagai oleh-oleh, tapi juga bisa membawa stick nanas ala Mamuja. 

 

Mudah dibawa ke mana saja, bisa dimakan kapan saja dan cocok dengan berbagai suasana.




 


 

 

Buat kalian yang ingin order Stick Nanas khas Mamuja, bisa langsung DM di Instagram @mamujafood atau WA di 0877-4004-4925 (Chat Only).



Dengan membeli produk-produk Mamuja, kalian sudah membantu berdonasi untuk kegiatan Sosial Pendidikan dan Kemanusiaan yang ada di Rumah Literasi Kreatif Bunga Kertas di Desa Beringin Agung.



Terima kasih sudah bersedia membaca tulisan ini!

Semoga menginspirasi dan membuat kalian tersentuh untuk ikut memajukan desanya.



Much Love,

@rin.muna


 

Sunday, February 21, 2021

PERAN SERTA PEMUDA/PEMUDI DALAM PENDIDIKAN ANAK-ANAK DI DESA BERINGIN AGUNG

 



Hai, buat semua teman-teman yang sudah sering baca blog aku, salam sayang semuanya!

Sudah lama sekali aku tidak menulis di blog aku sendiri. 

Bukan berarti, aku nggak ada kegiatan apa-apa atau lagi mager. Jujur, kerjaan aku di dunia nyata lumayan menguras keringat. Terlebih, aku juga harus survive dengan hidupku sendiri dan kegiatan-kegiatan sosial yang ada di Rumah Literasi Kreatif.

Sejak aku membuka rumah baca pada 18 Februari 2018 lalu. Aku selalu melakukan kegiatan sosial sendirian. Dengan tenaga sendiri dan biaya sendiri pula. So, aku juga tidak bisa mengabaikan pekerjaan atau usahaku supaya bisa tetap bisa menghidupi rumah baca. Karena tidak setiap bulan aku mendapatkan donatur, jadi harus punya biaya sendiri untuk menghidupi kegiatan yang ada di rumah literasi kreatif. Memang cukup berat untuk aku yang tidak punya pekerjaan tetap alias freelance, hehehe.


Meski begitu, aku selalu bahagia menjalaninya. Setiap kali ada banyak masalah hidup yang harus dihadapi ... aku selalu melampiaskan dengan menulis atau berkegiatan sosial. Karena aku tipe orang yang suka foya-foya. Daripada menghamburkan uang untuk hal yang kurang bermanfaat, lebih baik aku gunakan sedikit uangku untuk kegiatan sosial.


Tahun ini ... Rumah Literasi Kreatif kembali membuka kelas belajar Bahasa Inggris untuk anak-anak di Desa Beringin Agung. Kelas Bahasa Inggris kali ini disponsori oleh Pertamina Hulu Sanga-Sanga, sama seperti kelas Bahasa Inggris di tahun sebelumnya.


Bedanya apa?

Tentu ada perbedaannya, dong.

Kalau dulu ... aku masih mengajar sendiri karena belum ada relawan yang mau membantu mengajar anak-anak di Desa Beringin Agung. Tapi tahun ini ... aku mendapat kejutan yang bisa dibilang sangat membahagiakan. Kenapa? Karena kali ini ... kelas Bahasa Inggris di Rulika sudah dibantu oleh 3 orang relawan / volunteer yang bersedia menjadi pengajar untuk anak-anak SD (Basic English).


Aku merasa sangat senang karena relawan/volunteer adalah mahasiswa dan juga penduduk lokal yang rela meluangkan waktu dan tenaganya untuk mengajar tanpa dibayar. Kalau dulu, guru adalah pahlawan tanpa tanda saja. Kalau sekarang, aku bilang ... relawan adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka mau berlelah-lelah, meluangkan waktu dan membagi ilmu yang mereka miliki untuk anak-anak yang punya semangat untuk belajar.


Tiga orang remaja itu adalah Rifkal Artha Yudha (Mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur), M. Ade Surya Husaini (Mahasiswa Teknologi Industri & Proses, Institut Teknologi Kalimantan) dan Aisyah Nurul Hidayah (Alumni Madrasah Aliyah Nuruddin Samboja).

Mereka bertiga adalah pemuda/pemudi yang menginspirasi. Sebab, tak banyak anak-anak muda yang mau meluangkan waktunya untuk berkegiatan sosial. Mereka lebih suka bermain game atau sibuk dengan gadget masing-masing di rumahnya. Tapi ... segelintir anak muda ini telah rela menghabiskan waktu dan tenaganya untuk berbagi. Hal ini, membuat saya sangat terkesan. Saya tidak menyangka kalau masih ada pemuda di desa ini yang ikut peduli dengan pendidikan dan ikut mencerdaskan generasi penerus bangsa tanpa mengharapkan imbalan. Insya Allah ... imbalannya akan dibalas oleh Allah dengan kesuksesan mereka di masa depan. Aamiin...


Di balik semangat mereka memberikan inspirasi, tentunya ada rasa lelah yang harus dikorbankan. Saya tahu, sebab saya pernah mengalaminya. 

Berapa banyak pengorbanan mereka, mereka tidak pernah mengeluh dan tetap tersenyum, penuh semangat memberikan pengajaran untuk anak-anak.

Aku lihat sendiri bagaimana Ade Surya baru datang dari Balikpapan untuk mengajar Bahasa Inggris karena pagi harinya, dia masih ada mata kuliah dan harus kembali lagi untuk belajar secara daring/tatap muka  di kampusnya. Kebayang, gimana heroiknya dia yang harus bolak-balik Balikpapan-Samboja.

Begitu juga dengan Rifkal. Di tengah-tengah kesibukannya kuliah, dia meluangkan waktu untuk menjadi pengajar di Rumah Literasi Kreatif setiap hari Sabtu dan Minggu.

Kalau untuk Kak Aisyah ... mmh, nggak perlu aku sebut lagi, deh. Dia setiap hari memang menjadi relawan di Rumah Literasi. Dia yang kerap bantu beres-beres di Rumah Literasi Kreatif. Kalau bukunya sudah dihambur sama anak-anak yang berkunjung, dia yang akan mengomel panjang lebar karena dia yang sering membereskan buku-bukunya. Ke depannya, semoga bisa di-manage dengan baik dengan menjadi pustakawan di Rumah Literasi Kreatif.


Terima kasih untuk semua relawan yang sudah berperan aktif menjadi bagian dari inspirasi ...

Suatu hari ... Tuhan akan mengangkat kalian ke tempat yang lebih tinggi. Karena ada banyak hati yang berharap, kalian akan terus memberi manfaat untuk mereka...


Cukup sampai di sini tulisan dari saya...




Much Love,


Rin Muna,

Founder Rumah Literasi Kreatif


Thursday, February 4, 2021

2 Tahun Bersama Mamuja - Menjaga Kebersamaan Itu Tidak Mudah

 


03 Februari 2021.

Pagi-pagi sekali, tiba-tiba group dikejutkan dengan peringatan hari ulang tahun MAMUJA yang muncul di Facebook.
Dari delapan orang anggotanya, nggak ada yang ingat sama hari ulang tahun Mamuja kali ini. Entah, mungkin karena kesibukan masing-masing. Juga mungkin karena aku pernah bilang mau merayakannya saat peresmian Rumah Literasi Kreatif. Jadi, emang nggak diingat-ingat, hahaha.

Mamuja adalah salah satu komunitas divisi Literasi Finansial yang ada di taman bacaku. Aku bentuk satu tahun setelah aku mendirikan Rumah Literasi Kreatif pada 18 Februari 2018.


Alhasil, karena nggak ingat .. cuma beli kue ulang tahun doang. Itupun karena aku sekalian keluar nyari kayu. 

Akhirnya, kami harus merayakan tahun kedua kami dengan cara yang sangat sederhana. Mmh ... sebelumnya juga sangat sederhana, sih. Kami ini orang kampung, makan daun singkong dan iwak asin saja sudah merasa mewah. Hehehe.

Meski dalam kesederhanaan, tapi kami tetap bersama-sama. Menjadi teman dalam suka dan duka. Meski tak punya banyak uang, asal bisa bersama-sama menikmati kebersamaan.

Tak terasa, dua tahun sudah aku membersamai Mamuja. Salah satu komunitas ibu-ibu kreatif yang kami bentuk secara mandiri. Bergerak dengan dana pribadi yang kami mampu untuk tetap bisa berkarya dan menginspirasi masyarakat di sekitar.

Kami bukan satu-satunya komunitas di desa ini. Kami hanya sebagian kecil yang ada di sini. Tidak banyak yang bisa kami lakukan, hanya bisa mencoba menjadi orang yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain.

Setiap kali melihat semangat ibu-ibu ini ... aku selalu terharu. Banyak suka dan duka yang sudah kami lalui. Mungkin, orang hanya melihat sukanya saja. Tapi tidak tahu bagaimana kami berjuang hingga sampai di titik ini.

Dengan banyak hal yang harus kami hadapi, mereka tetap solid, tetap bersama dan menemani langkahku berjuang hingga detik ini. 

Terkadang, ada sebuah pertanyaan yang kerap mendera. Untuk apa aku memperjuangkan orang lain hingga sampai seperti ini?

Jawabannya, karena kebahagiaan dan obat dari rasa sakit yang teramat dalam. Aku bahagia melihat orang lain, ingin membuat mereka bisa merasakan kebahagiaan. Sebab, merasakan hidup menderita dan dikucilkan di masyarakat adalah salah satu hal yang membuat hidup tidak nyaman.

Awalnya, aku sudah merasa tidak percaya diri saat aku nggak tahu lagi harus membawa mereka ke mana. Berkoordinasi dengan pemerintah pun tidak akan ada hasilnya untuk komunitas pengepul sampah yang kecil seperti kami. Kalau menunggu bantuan, tidak akan ada kegiatan yang kita buat. Akhirnya, kami berinisiatif untuk mengumpulkan uang kas yang akan kita gunakan untuk kesejahteraan anggota nantinya.

Alhamdulillah ... hanya dengan modal 5rb per pertemuan ... sekarang sudah bisa memiliki uang kas di atas 2 juta rupiah dan menjadi modal bagi Mamuja untuk mulai menjadi pelaku ekonomi kreatif. Saat ini, kami tidak perlu lagi memungut uang kas dari anggota dan tetap bisa berkarya, tentunya juga menghasilkan finansial.

Harapan saya, orang-orang ini tidak hanya membesarkan komunitas ini. Tapi juga bisa menjadi besar karena komunitas. Sebab, aku baru berhasil ketika mereka bisa merasakan manfaatnya, merasakan ilmu yang mereka dapat di Rumah Literasi Kreatif benar-benar berguna.

Untuk bisa menyamaratakan visi dan misi tidaklah mudah. Dari seratus orang, mungkin hanya ada 1 orang yang berjiwa sosial dan peduli dengan orang lain. Mereka adalah bagian dari orang-orang itu dan saya bersyukur dipertemukan dengan ibu-ibu muda yang begitu hebat.

Sebab, Mamuja memanglah sebuah komunitas sosial. Lebih banyak kegiatan sosialnya daripada kegiatan ekonominya. Tapi ... dengan kegiatan sosial kita bisa mendapatkan banyak hal. Hal yang tidak akan bisa dinilai dengan uang.

Uang sebanyak apa pun, akan habis dalam sekejap. Tapi ilmu yang kita dapat walau secuil, akan berguna untuk bekal dunia dan akhirat. 
Dengan berkegiatan sosial, kita mengenal banyak orang yang beragam. Memiliki profesi dan pola pikir yang berbeda pula. Bisa mendapatkan banyak ilmu yang mungkin saja tidak bisa dinilai dengan uang. Mendapatkan banyak pengalaman yang mungkin saja tidak bisa dinilai dengan harta yang hanya titipan.

Terima kasih Mamuja ...!
Kalian mengajarkan banyak hal padaku.
Mengajarkan kebersamaan, kekeluargaan.
Mengajarkan tentang bagaimana aku bisa menerima kekurangan orang lain.
Mengajarkan tentang bagaimana aku bisa menunjukkan kekuranganku pada orang lain.
Mengajarkan tentang sabar dan ikhlas dalam menghadapi hidup.
Mengajarkan tentang kekuatan dan keuletan dalam menjalani sesuatu.
Mengajarkan tentang semangat saat aku berada di titik terakhir hampir menyerah.
Mengajarkan tentang cinta dan kasih sayang yang bisa tumbuh meski tak punya pertalian darah.

Aku bahkan belum memberi apa-apa. Apa yang kuberikan tak sebanding dengan apa yang kuterima. Kalian sudah memberikan begitu banyak hal untukku. Pengalaman hidup yang tidak akan bisa aku beli dengan semua uang yang kuhasilkan seumur hidupku.

Terima kasih ... selama 2 tahun bersama dan tetap menjaga kebersamaan.
Suatu hari ... anak-anak kita akan bercerita tentang kita di masa depan. 
Tentang bagaimana kisah kita tertulis hingga 1000 tahun kemudian ...











Thursday, January 21, 2021

4 Hak Anak yang Wajib Kita Ketahui

 



Hai, teman-teman!

Apa kabarnya hari ini?

Semoga tetap semangat selalu ya!


Kali ini aku mau berbagi sedikit ilmu yang aku dapat saat menjalani pelatihan menuju "Desa Ramah Anak" yang diadakan di Desa Beringin Agung. Aku nggak pintar, sih. Mungkin, nggak pantas untuk mengajari orang lain. So, aku cuma mau sharing materi saja. Semoga bermanfaat.



Buat kalian yang masih anak-anak atau pernah menjadi anak, udah pada tahu apa belum sih kalau kita tuh punya hak-hak yang harus kita dapat dalam kehidupan bermasyarakat?




Nah, kali ini ... aku mau bahas 4 hak anak yang wajib kita ketahui.


1. Hak Hidup

    Hak atas hidup dan kebutuhan dasar untuk keberlangsungan hidup anak. Mendapatkan ASI eksklusif, imunisasi, mendapatkan makanan bergizi, perawatan kesehatan, mendapatkan tempat tinggal yang layak, dll.

2. Hak Tumbuh Kembang

    Hak untuk mengembangkan potensi secara penuh; Mendapatkan pendidikan termasuk pendidikan usia dini, kasih sayang, motivasi, rekreasi, kegiatan untuk mengembangkan minat dan keterampilan, dll.

3. Hak Untuk Dilindungi

    Perlindungan anak untuk mencegah terjadinya segala bentuk kekerasan, penelantaran dan eksploitasi. Tidak diperlakukan kasar, tidak dihukum secara fisik atau verbal, tidak digunakan untuk kepentingan seksual dan ekonomi, tidak dipenuhi hak hidup dan tumbuh kembangnya, dll.

4. Hak Untuk Berpartisipasi

    Memberikan kesempatan pada anak untuk terlibat dalam hal-hal yang mempengaruhi hidup mereka seusai denga usia dan tingkat perkembangan anak. Meminta pendapat dalam mengambil keputusannya sendiri seperti tentang mendengarkan pendapat anak tentang pilihan sekolah, makanan, hobby/minat, dll.


Itulah empat hak anak yang wajib kita ketahui. Supaya, kita sebagai anak juga bisa menuntut hak-hak kita jika suatu hari kita menemukan pelanggaran terhadap hak-hak anak.



Sumber : Buku Pintar Perlindungan Anak (dalam rangka mewujudkan Desa Beringin Agung yang ramah anak), Yayasan Teman Kita x Pertamina Hulu Sanga-Sanga



Pelatihan Bisnis Untuk Pelaku UMKM di Desa Beringin Agung


Sabtu, 16 Januari 2021

Awal tahunku kali ini ... dimulai dengan pelatihan bisnis untuk pelaku UMKM di Desa Beringin Agung.
Pelatihan ini diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Beringin Agung yang bekerjasama dengan Pertamina Hulu Sanga-Sanga dan Yayasan Teman Kita.

Dalam pelatihan kali ini, ada materi tentang "Langkah Memulai Bisnis" yang disampaikan oleh Ibu Nany Achmad, SE (Pengusaha Kuliner, Shoes Crispy) dan materi tentang Management Keuangan yang disampaikan oleh Bapak Sunar Junaidi, SE (biasa dipanggil Bang Juned).

Pelatihan ini diikuti oleh pelaku usaha dari berbagai sektor seperti usaha makanan, cemilan, kerajinan tangan, percetakan/penerbitan dll.

Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para pelaku usaha UMKM di Desa Beringin Agung bisa semakin berkembang dan dapat meningkatkan perekonomian serta kesejahteraan masyarakat Desa Beringin Agung.

Pelatihan kali ini benar-benar membuka wawasan saya dalam memulai usaha. Terutama bagi saya yang masih belum memiliki banyak ilmu dalam dunia usaha.

Terima kasih atas ilmunya...

Semoga bermanfaat dan membawa kemajuan bagi warga desa.



Much Love,
@rin.muna

Wednesday, December 30, 2020

Hutang Kebaikan Akan Dibalas dengan Kebaikan

 

Siapa sih aku?

Aku bukan orang baik, bukan juga orang kaya raya.

 

Source : pixabay.com


Aku terlahir di desa terpencil, minim akses pendidikan, minim fasilitas mewah. Setiap hari hanya berpanas-panasan di bawah terik matahari dengan kaki yang tergenang lumpur di tengah sawah. Cuma anak kecil yang dekil, hitam dan sering kali dijuluki "Kecap Manis Kedelai Hitam" karena saking hitamnya ini kulit. It's Okay! Aku nggak pernah ambil hati ketika dibully.

Meski aku mengabaikannya, tapi bukan berarti batinku bisa melupakannya begitu saja. Karena body shamming memang menyisakan luka batin sampai aku sedewasa ini. Tapi aku bisa apa? Nggak punya kekuatan untuk melawan. Hanya bisa menerima kekurangan yang aku miliki dalam hidupku.

Saat aku lulus SD, aku keluar dari desa dan pergi ke kota untuk bersekolah. Karena di desa tidak ada sekolahan dan harus berjalan kaki kurang lebih 10 kilometer kalau ingin bersekolah di desa. Tahun 2004 lalu, desaku masih sangat terpencil. Jangankan punya buku, mau lihat pasar pun hanya bisa satu tahun sekali dan harus berjalan kaki sepanjang 10 kilometer.

 Saat aku bersekolah di kota, aku tinggal di Panti Asuhan. Ya, Panti Asuhan memang diperuntukkan untuk anak-anak yatim piatu dan anak tidak mampu. Aku adalah salah satu anak tidak mampu, berprestasi dan beruntung bisa bersekolah di kota walau harus tinggal di Panti Asuhan.

Sebagai anak yang tidak mampu, aku nggak bisa bersaing dengan anak-anak kota yang orang tuanya punya banyak uang. Bisa membelikan buku-buku pelajaran, bisa memberikan kursus tambahan untuk anak-anaknya. Sedangkan aku, harus berjuang lebih keras untuk bisa setara dengan mereka.

 

Karena aku cuma anak panti yang jelek, dekil, dan tidak punya apa-apa. Aku tidak punya banyak teman dekat. Hanya beberapa orang yang mau berteman tulus denganku. Sampai aku menikah, dia satu-satunya orang yang masih menganggapku sebagai teman.

 

Di sekolah, aku nggak pernah bisa jajan seperti yang lain. Biasanya, aku cuma dijajanin sama teman. Kadang, harus nahan laper sampai sore karena di panti, aku cuma bisa sarapan mie instan. Nggak ada makanan lain. Kadang juga nggak sarapan karena memang nggak ada apa-apa.

Tinggal di panti asuhan memang nggak mudah. Banyak hal yang membuat kita harus menerima kenyataan kalau kita bukanlah siapa-siapa di masyarakat dan tidak akan mendapatkan peran apa-apa. Sampai aku lulus SMA, aku mengenal orang-orang yang begitu baik. Yang aku tidak bisa membalas budi kebaikan mereka.

Setelah lulus SMA, aku bekerja sebagai admin di salah satu perusahaan perkebunan. Hanya dengan gaji pas-pasan, aku harus menghidupi diriku sendiri, dua nenek kakek dan dua adikku yang masih bersekolah. Setiap aku teringat masa-masa sekolahku, aku selalu berpikir ... kapan aku bisa membalas kebaikan-kebaikan tema-temanku dulu. Hutang budi yang tidak akan terbayarkan, pikirku.

 Hingga aku menikah, aku masih harus bekerja keras karena suamiku memilih berhenti dari pekerjaannya dan tidak mau lagi bekerja hingga sekarang. Mengandalkan hidupnya dari penghasilanku. Jujur, rasanya memang sangat berat. Tapi aku tidak bisa pergi begitu saja. Entah karena aku yang terlalu baik atau aku yang terlalu bodoh. Aku nggak sanggup membiarkan kakek nenek dan anak-anakku terluka, itu saja.

Huft, sampai di sini ... aku semakin tidak berdaya. Beban hidup yang aku pikul semakin berat dan aku semakin tidak bisa membalas kebaikan-kebaikan teman-temanku semasa sekolah dulu. Aku hanya bisa berdoa, semoga Tuhan membalas kebaikan mereka melalui malaikat-malaikatnya. Sebab, aku di sini masih terpuruk dan tidak bisa melakukan apa pun.


Sampai akhirnya ... Tuhan menjawab semua doa-doaku. Melihat mereka sukses dan bahagia, aku juga merasa sangat bahagia. Tuhan juga menjawab doa dan harapanku 15 Tahun kemudian. Saat itu, aku pernah membaca 1 buah novel dan bercita-cita menjadi seorang novelis. Aku nggak tahu, apakah aku bisa mendapatkan keinginanku itu karena banyak sekali cerita yang sudah aku tulis, tapi tidak ada yang mau membacanya. Bahkan, aku ditolak oleh penerbit mayor karena tema yang aku tulis tidak marketable.

Dari kata marketable yang dituliskan oleh penulis mayor tersebut, akhirnya aku tahu ... meski menulis adalah sebuah tugas mulia untuk keabadian, tapi ketika ingin masuk ke penerbit mayor, itu sudah menjadi sebuah bisnis dan harus memberikan keuntungan untuk penerbit.


Karena aku sudah berhenti bekerja, uang tabunganku tidak banyak, suamiku pun tidak bekerja. Aku belajar menulis dari berbagai platform dan komunitas penulis. Semuanya sangat mudah untuk diakses ketika di desaku sudah ada internet. 

Aku berkarir di dunia kepenulisan, awalnya sebagai konten writer atau blogger yang menulis beberapa artikel "evangelist" untuk beberapa produk perusahaan. Disitulah awalnya, tulisanku bisa menghasilkan uang. Kenapa? Karena saat ini, editor platform lebih banyak menggunakan penulis dengan gaya bahasa santai untuk bisa menjamah banyak pembaca. Cara penyampaian ilmiah pun, harus disampaikan dengan bahasa yang asyik dan tidak membosankan.


Sejak itu, akhirnya aku juga menjadi seorang ghost writer. Dengan aktivitas di dunia nyata yang padat, aku selalu menyempatkan diri untuk menulis. Meski menjadi ghost writer, aku selalu menulis untuk diriku sendiri. Sebab, menjadi GW tidak akan dikenal banyak orang. Menulis hanya demi uang. Karena saya tidak munafik, saya butuh uang untuk anak-anak saya. Meski tidak seberapa.


Sekarang, aku sudah menjadi salah satu penulis best seller. Bisa menghidupi keluargaku dari menulis, bahkan menolong orang-orang di sekitarku. Tapi aku tidak begitu berbesar hati karena belum tentu semua karya tulisku akan best seller.


Sekarang, aku sudah bisa membantu salah satu sahabatku yang sedang membutuhkan pertolongan. Meski tidak seberapa, aku merasa sangat bahagia. Sebab, dia selalu menganggapku sebagai teman baik sejak dulu. Selalu membantuku tanpa pamrih, melihatku sebagai seorang teman sejak SMP hingga sekarang.

Hutang kebaikan, akan dibalas juga dengan kebaikan. Jangan meremehkan orang yang masa lalunya terlihat buruk dan tidak punya apa-apa. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Bisa jadi, merekalah yang akan menolong kita karena kebaikan kecil dari kita, dia menganggapnya sangat besar.

Itulah yang aku rasain sekarang. Jika aku tidak bisa membalas kebaikan orang yang sudah berbaik ke aku. Maka aku akan berusaha melakukan lebih banyak kebaikan yang dia berikan supaya kebaikan-kebaikan itu juga bisa sampai ke tangannya. 

Melakukan kebaikan itu tidak seperti berjualan. Asal kita ikhlas melakukannya, Tuhan akan membalas dari mana saja. Bahkan dari sesuatu yang tidak pernah kita duga.


Terima kasih untuk semua yang pernah meremehkanku, menghinaku, berusaha menjatuhkanku sejatuh-jatuhnya. Tapi aku tetap ingin menjadi bola bekel, semakin dijatuhkan lebih keras, aku akan semakin melambung lebih tinggi. 

Sebab, saat kita berada di tempat yang lebih tinggi, orang-orang yang ada di bawah kita akan selalu berusaha menarik kita untuk jatuh. Tapi Tuhan tidak pernah pergi. Dia akan selalu berada di sisi orang-orang baik dan menyelimutinya dengan kebaikan.


Semoga tulisan ini bisa membuat kita berusaha menjadi orang baik, walau sering gagal, teruslah mencoba. Karena menjadi baik itu sulit, tidak semua orang bisa melakukannya dengan ikhlas.


Terima kasih sudah membaca tulisan ini.


Salam hangat untuk sahabat-sahabatku yang telah banyak menebarkan kebaikan dan mengajariku cara berbuat baik.

 

 

 Much Love,

@rin.muna


______________________________________________
🅒Copyright. 
Dilarang mengutip atau menyebarluaskan konten blog ini tanpa mencantumkan link atau kredit penulis.







Thursday, December 24, 2020

Ibu Takut, Nak!


Bulan ini, putera kecilku genap berusia enam bulan. Masih sangat kecil. Bahkan dia belum bisa memanggilku “Mama”.

Tapi aku ingin menulis banyak hal untuk dia. Sebab, bisa saja aku mati besok dan tak ada satu kata pun yang bisa kuucapkan untuk dia.

Aku tulis ini agar ia baca suatu hari nanti. Saat aku tak bernyawa lagi atau terserang alzheimer yang membuatku melupakanmu.

 

Nak, hari ini Ibu sangat takut!

Entah, ketakutan itu datangnya dari mana. Padahal, aku sangat bahagia memilikimu dalam hidupku.

 

Kamu seorang laki-laki, haruslah menjadi laki-laki yang sejati. Menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Menjadi laki-laki yang melindungi dan menyayangi orang-orang tercintamu.

 

Sebab itu, Ibu takut tidak bisa menjadikanmu laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Ibu takut jika kamu tidak bisa melindungi orang-orang yang kamu cintai.

 

Kamu seorang laki-laki …

Harusnya ibu bisa berjuang memberikan yang terbaik untuk masa depanmu. Agar kamu menjadi laki-laki yang bisa membahagiakan orang-orang yang kamu cintai.

 

Kamu seorang laki-laki …

Harusnya Ibu bisa berjuang memberikanmu pendidikan yang layak. Agar kamu menjadi laki-laki yang dihargai di masa depan.

 

Kamu seorang laki-laki …

Harusnya Ibu bisa memberimu senjata. Bukan untuk melukai orang lain, tapi untuk melindungi orang-orang di sekelilingmu.

 

Nak, hari ini Ibu takut …!

Ibu takut tidak bisa memberikan apa yang seharusnya Ibu berikan untukmu.

Ibu takut, kamu tidak bisa menjadi laki-laki yang baik dan dihargai.

Ibu takut, kamu tidak bisa menjadi laki-laki yang bermanfaat untuk orang-orang di sekelilingmu.

 

Nak, hari ini Ibu takut.

Ibu takut kamu tidak bisa melindungi saudarimu.

Ibu takut kamu tidak bisa lagi menyayangi Ibu sepenuh hati.

 

Nak, dua puluh tahun lagi ...

Mungkin kamu akan jatuh cinta dan meninggalkan Ibu.

Jika kamu jatuh cinta pada seorang wanita ... ingatlah, hanya Ibu cinta pertama dalam hidupmu!

Jika kamu menyayangi wanita lain selain Ibu. Ingatlah, hanya Ibu yang cintanya tak bisa kau duakan.

Jika suatu hari kamu memilih wanita untuk menemani seluruh sisa hidupmu, pilihlah wanita yang bisa mencintai Ibu seperti dia mencintai ibunya. Cintailah ibu wanita itu seperti kamu mencintai Ibunya sendiri.

Sebab, Ibunya sudah merawat dan menjaganya penuh cinta sejak kecil ... lalu kamu ingin mengambilnya.

Sebab, Ibu juga sudah merawatmu sejak kecil untuk bisa membahagiakan wanita yang kamu cintai sepenuh hati.

 

Ibu hanya takut saja ...

Ibu takut kamu tidak bisa melakukan hal yang seharusnya kamu lakukan.

Ibu takut tak bisa memberimu kehidupan yang layak.

Ibu takut kamu menjadi pria yang tidak dihargai karena tak punya apa-apa.

 

Nak, jadilah pria dewasa dan baca tulisan ini dua puluh tahun yang akan datang.

Aku mencintaimu tanpa batas, Nak!

Aku mencintaimu tanpa batas ...

 

Maka jadilah pria yang istimewa. Pria yang memiliki keteguhan hati. Pria yang bermartabat. Pria yang melindungi orang-orang tercintanya. Pria yang berguna bagi banyak orang. Pria yang mampu membawa namanya sendiri ke tempat yang lebih tinggi.

 

 

Catatan kecil ini ... hanyalah bentuk kekhawatiran seorang ibu. Hiduplah dengan baik dan bacalah tulisan-tulisan Ibu saat sudah dewasa nanti. Sebab hari ini, kamu tidak mungkin membaca tulisan ini.

 

Jika suatu hari kamu membaca ini ... Ibu ingin kamu sudah menjadi seorang pria yang sukses. Ibu akan berjuang sekuat tenaga. Meski harus melakukannya seorang diri, Ibu tidak akan pernah menyerah. Maka, janganlah kamu menyerah untuk mewujudkan mimpi-mimpimu!

 

 

 

Salam manis dari Ibu ...

 

 ______________________________________________

🅒Copyright. 
Dilarang mengutip, screenshoot atau menyebarluaskan konten blog ini tanpa mencantumkan link atau kredit penulis.

 

 

Bolehkah Ibu Egois, Nak?


Menjadi seorang wanita adalah hal yang paling istimewa. Sangat istimewa karena bisa melahirkan wanita lain dalam hidupnya. Bukan hanya wanita, tapi juga melahirkan laki-laki.

Kesempurnaan seorang wanita adalah menjadi ibu. Ya, aku merasa sempurna saat dua malaikat Tuhan dikirim untuk menemani hari-hariku. Hari-hariku yang sepi, penuh liku dan luka.

Tak terasa, di tahun 2020 ini ... putri kecilku sudah berusia 5 tahun. 10 tahun lagi, dia akan tumbuh menjadi gadis remaja. Sepuluh tahun itu bukan waktu yang lama. Akan terasa sangat singkat bagiku di dunia ini. Sebab itu, aku sudah merasa sangat takut akan kehilangan dia dalam hidupku.

Mungkin, sepuluh atau lima belas tahun lagi ... dia akan merasakan apa itu jatuh cinta. Dia akan bisa membaca tulisan-tulisan ibunya. Dia akan mengenal pria yang mungkin akan membawanya pergi dari pelukanku. 

Kamu tahu, aku menuliskan ini dengan derai air mata ... ada rasa takut yang begitu besar saat melihat wajahnya yang terus tumbuh dengan baik. Ada rasa bahagia yang begitu besar karena telah membuatnya tersenyum bahagia. Tapi juga ada ketakutan di belakangnya.

Suatu hari nanti, mungkin kamu akan membaca tulisan-tulisan ibu ini. Entah, aku masih hidup atau sudah mati. Aku ingin kamu tahu, bahwa cinta ibu tidak akan pernah berhenti begitu saja. Selamanya ... ingin melihatmu bahagia.

Nak, Ibu takut kamu jatuh cinta pada orang lain selain Ibu.
Ibu takut kamu memeluk orang lain selain ibu.
Ibu takut kamu pergi meninggalkan Ibu saat kamu menemukan pria yang mencintai kamu.

Nak, bolehkah Ibu egois?
Ibu tidak ingin melihatmu jatuh cinta dan meninggalkan Ibu.
Ibu tidak ingin kamu pergi bersama pria lain dan melupakan pelukan Ibu.

Ibu takut, Nak!
Ibu takut ...!
Ibu takut, kamu jatuh pada pria yang salah.
Ibu takut, kamu akan hidup dengan orang yang membuatmu menitikan air mata, walau hanya setetes.
Ibu takut, kamu tidak bahagia berada di rumah yang lain.
Ibu takut, apa yang Ibu alami saat ini ... kamu juga ikut mengalaminya.

Ibu tidak ingin melihatmu menderita. 
Ibu yang melahirkan kamu ke dunia dengan susah payah.
Ibu yang memberimu ciuman pertama.
Ibu juga yang pertama kali mendekapmu penuh cinta.
Ibu juga yang membesarkan dan merawatmu dengan peluh dan air mata.

Nak, bolehkah Ibu egois?
Ibu tidak akan menyerahkan kamu pada pria yang salah.
Ibu tidak akan menyerahkan kamu pada pria yang akan membuatmu menangis.
Ibu tidak akan menyerahkan kamu pada pria yang akan membuatmu terluka.

Nak, apa pun yang kamu mau ... ibu selalu berusaha memberikannya.
Jajan, sepatu baru, tas baru, baju baru, mainan baru dan semuanya ... ibu berusaha memberikannya tanpa mengeluh.
Bisakah orang lain memberikan yang lebih dari apa yang telah ibu berikan untuk kamu?
Bisakah orang lain membuatmu bahagia tanpa mengeluh?

Nak, semua rasa sakit yang Ibu rasakan sekarang ... Ibu tidak ingin kamu merasakannya.
Hidup dengan pria yang salah, akan membuat hidupmu tak bahagia seumur hidup. Menemukan pria yang benar, juga sulit untuk dilakukan.
Terkadang, kita harus bertemu pria yang salah untuk melihat siapa yang tepat untuk kita. Tapi saat sudah membuat keputusan dan tak bisa membuatmu kembali. Kamu akan hidup dalam lautan air mata selama hidupmu.

Nak, mungkin Ibu hanya bisa menemanimu sampai lima belas tahun ke depan. Setelahnya, Ibu harus menyerahkan kamu kepada orang lain. Bahkan Ibu tidak sampai mendapatkan setengah usiamu untuk menemanimu setiap hari. Ibu tidak akan rela, tapi tetap harus Ibu lakukan.

Nak, jika suatu hari kamu jatuh hati ... jatuhkanlah hatimu pada orang yang tepat. Jatuhkanlah hatimu pada orang yang akan menemani dan membuatmu bahagia seumur hidup. Jatuhkanlah hatimu pada pria penakut! Pria yang takut menciptakan air mata di pipimu, pria yang takut melukai hati dan fisikmu, pria yang takut tak membuatmu bahagia, pria yang takut mencintai orang lain selain kamu.

Sebab, Ibu tak bisa menemanimu hingga ujung usiamu. Ibu tidak akan selamanya membelikan baju baru untukmu, membelikan sepatu baru, mengajakmu berlibur, membawamu melihat indahnya dunia luar.


Ini surat kecil untuk puteriku tercinta. Hari ini, mungkin dia tidak akan membacanya. Tapi, suatu hari saat ia beranjak remaja. Ia pasti akan membaca tulisan ini. Entah aku masih hidup atau sudah tiada. Aku ingin dia tahu, bahwa cintaku padanya begitu besar dan aku tidak ingin dia jatuh ke tangan orang yang salah.

Sebab, Ibu ingin melihatmu hidup dengan baik dan bahagia meski memandangnya dari langit yang tinggi. Di bumi atau di langit ... keinginan ibu tetap ingin melihatmu bahagia meski tak ada ibu lagi di sisimu. Ibu akan selalu ada di hatimu.



Catatan kecil untuk puteri kecil.


Hari Ibu, 22 Desember 2020


______________________________________________
🅒Copyright. 
Dilarang mengutip atau menyebarluaskan konten blog ini tanpa mencantumkan link atau kredit penulis.







Tuesday, December 1, 2020

SMEP Program Pokok PKK Desa Beringin Agung Tahun 2020


Selasa, 01 Desember 2020.

Di Desa Beringin Agung tempat tinggalku, ada kunjungan dari TP PKK Kecamatan Samboja  yang melakukan SMEP (Supervisi, Monitoring, Evaluasi, Pelaporan) Pelaksanaan 10 program pokok  TP PKK Tahun 2020.

Dalam hal ini, aku mendapat bimbingan san evaluasi terkait program kerja Pokja III karena kebetulan aku menjadi bagian dari keanggotaan Pokja tersebut yang menangani sandang, pangan dan tata laksana rumah tangga.

Ada beberapa hal yang menjadi bahan evaluasi di sini dan aku ingin berbagi dengan teman-teman, siapa tahu ... suatu saat nanti kalian juga menjadi bagian dari Tim Penggerak PKK.

PKK memiliki 10 program pokok. Yang saat ini menjadi bahan evaluasi adalah pengisian Papan Data. Di mana, kami harus mendata semua rumah tangga dan warga yang ada di desa. Mulai dari kader yang tersertifikasi hingga fasilitas yang sudah dimiliki desa.

Papan Pokja III terdiri dari 19 kolom yang harus diisi.

1. No.
2. Nama RT
3. Kader Pangan (Bersertifikat)
4. Kader Sandang (Bersertifikat)
5. Kader Tata Laksana Rumah Tangga (Bersertifikat)
6. Beras (Semua Warga yang mengonsumsi beras, kecuali bayi 6 bulan ke bawah)
7. Non Beras
8. Peternakan (Warga yang beternak; sapi, ayam, bebek, kambing, dsb.)
9. Perikanan (Warga yang memiliki kolam ikan konsumsi di pekarangan rumah)
10. Warung Hidup (Rumah yang memiliki tanaman sayuran/buah di pekarangan untuk dikonsumsi dan dijual)
11. Lumbung Hidup (Rumah Tangga yang memiliki tanaman padi, umbi-umbian, dsb. Biasa disimpan untuk dikonsumsi)
12. Toga (Rumah Tangga yang memiliki Tanaman Obat Keluarga minimal 5 macam)
13. Tanaman Keras (Rumah Tangga yang di pekarangan rumah memiliki tanaman yang tidak menghasilkan buah seperti pohon akasiah, pohon jati, dll.)
14. Industri Rumah Tangga (Pangan) - Usaha makanan yang memiliki minimal 2 orang pekerja.
15. Industri Rumah Tangga (Sandang) - Usaha jahit yang memiliki minimal 2 orang pekerja.
16. Jasa (Supir, Tukang Ojek, Loundry, Tukang dll.)
17. Rumah Layak Huni (Rumah Tangga yang memiliki jamban dengan septitank di ruamhnya)
18. Rumah Tidak Layak Huni
19. Keterangan


Selain papan pokja, masih ada 9 buku yang harus diisi oleh masing-masing Pokja, yakni:

1. Buku Daftar Kader
2. Buku Daftar Anggota
3. Buku Tamu
4. Buku Surat Masuk Surat Keluar
5. Buku Program Kegiatan
6. Buku Inventaris
7. Buku Keuangan
8. Buku Kegiatan
9. Buku Prestasi



Nah, buat kalian semua yang juga terlibat dalam Tim Penggerak PKK. Bisa siapin data-data di atas untuk laporan setiap tahunnya.
Oh ya, PKK itu bukan cuma kader yang ada di struktur pengurusan ya. Struktur pengurus hanyalah sebagai Tim Penggerak saja. Jadi, semua warga yang tinggal di desa adalah bagian dari PKK. Jadi, berkaryalah dan menjadi bagian dari perubahan.

Kalau kalian ibu rumah tangga yang suka berorganisasi sosial, ini bisa menjadi salah satu kegiatan positif. Bisa untuk menambah wawasan, pengalaman dan persaudaraan.

Jangan ditanya soal gaji. Di PKK, kami tidak pernah mendapatkan gaji. Semua hanya kegiatan sosial dan kebersamaan dengan warga. Dana yang masuk ke kas PKK digunakan untuk kegiatan pelatihan dan operasional PKK. 

Hampir semua kegiatan organisasi itu tidak ada uangnya, murni untuk kegiatan sosial. Begitu pula yang aku lakukan.

Kenapa sih, pada mau sibuk-sibuk ngabisin waktu, tenaga dan pikiran tanpa dibayar?
Kenapa?
Karena hidup itu bukan sekedar tentang berapa uang yang kita dapat, tapi tentang hal yang tidak bisa digantikan dengan uang. Yakni, kebersamaan, gotong royong, kepedulian dan rasa kasih sayang sebagai sesama manusia.


Sampai di sini dulu tulisan mungil dari aku.


Semoga bermanfaat ...


Much Love,

Rin Muna

Monday, November 30, 2020

Nggak Nyangka! Ideku Diadopsi untuk Pembelajaran Pencegahan Kekerasan Seksual untuk Anak Usia Dini



Hai ... hai ...!
Apa kabar semua?
Semoga sehat selalu dan makin rajin membaca ya!


Kali ini, Kak Rin mau sharing sedikit tentang kegiatan keseharian Kak Rin di Desa Beringin Agung.

Eh, Kak Rin kan bukan pendidik, bukan guru ... Cuma ibu rumah tangga biasa yang kebetulan punya rumah baca.

Tanggal 22 November kemarin, aku ikut Pelatihan Kader Ramah Anak yang diadakan di Merkurius Room, Graha Bintang, Balikpapan.

Ada hal lucu di sana yang bikin aku mau ketawa terus-terusan. Mau tahu apa?
Hahaha ...
Ketawa aja dulu, siapa tahu nanti nggak lucu.

Oke, lanjut ... di saat sesi FGD, kami membuat kelompok yang terdiri dari lima orang. Kelompok lain, mayoritas adalah guru dan sudah terbiasa dengan pembelajaran di sekolah. Sedangkan aku, dapet kelompok yang isinya warga biasa dan laki-laki semua. Di kelompok itu, yang perempuan cuma aku. Yang lain itu Pak Eko (Sekdes), Putera (Perangkat Desa), Supri (Karang Taruna), Irul (Warga), Mas Gun (Ketua RT07).

Kalian bayangin, ya!
Bayangin dulu!

Nggak ada satu pun yang punya pengalaman mengajar di sekolah dan isinya laki-laki semua. 
Entah kenapa, aku lebih senang ngobrol sama laki-laki karena pikiran mereka simple, suka bercanda dan nggak mudah tersinggung dengan mulutku yang suka nyablak.
Apalagi, kami semua dapet tugas untuk melakukan pembelajaran pada anak usia dini. Yang ada di pikiranku adalah kegiatan yang simple, seru, disukai anak-anak dan bikin ribut.

Alhasil, saat kelompok lain mulai sibuk dengan karton dan konsep pendidikan yang akan mereka ajarkan ke murid-muridnya. Kami berlima cuma bercanda sambil tunjuk-menunjuk, alias bingung mau bikin apaan.

Oke, karena yang punya pengalaman mengajar cuma Mas Eko. Eh, Pak Eko ... karena beliau dulu adalah guru SD saya. Saat ini, Pak Eko adalah pelatih sepak bola di SSB Desa Beringin Agung. Jadi, aku kasih ide untuk menggunakan kartu merah seperti saat pertandingan sepak bola.

Semua mengiyakan dan Putera menambahkan kalau bagian tubuh yang boleh disentuh menggunakan kartu warna biru, yang tidak boleh disentuh menggunakan kartu warna merah.


Setelah melakukan pengenalan anggota tubuh yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh, kami akan menanyakan pada semua murid-murid yang ada di ruangan itu. Misalnya, ketika kami menyebutkan bagian tangan, semua murid akan mengangkat kartu warna biru. Saat kami menyebutkan bagian dada, semua murid akan mengangkat kartu warna merah. Kami akan menyebutkan nama anggota tubuh secara cepat dan yang salah angkat kartu akan mendapatkan hukuman. 

Yeay ...! Seru banget 'kan? Karena sasaran kita adalah anak-anak usia dini. Tentunya berbeda dengan kelompok lain yang sasarannya adalah remaja.

Pokoknya, ini ide paling simple, paling seru dan cocok untuk anak-anak. Kenapa? Karena akhirnya teman-teman dari Pena dan Buku mengadopsi ide ini untuk dijadikan bahan ajar mereka.
Seneng banget rasanya kalau ide sederhana ini bisa dihargai dan digunakan oleh orang lain. Aku merasa kalau hidupku ini ternyata masih ada manfaatnya walau cuma sedikit.

Kalau mau lihat contoh permainan serunya, klik link di bawah ini ya! 👇👇👇




Inilah keseharianku yang bisa aku bagi dengan kalian semua.

Semoga bermanfaat dan menginspirasi.


Much Love,
@rin.muna

Pelatihan Kader Ramah Anak Desa Beringin Agung

 



Minggu, 22 November 2020.


Pagi-pagi sekali, 30 warga desa Beringin Agung yang terdiri dari perwakilan guru dan warga berangkat menuju Graha Bintang untuk mendapatkan pelatihan kader Desa Ramah Anak yang dilaksanakan oleh Pertamina Hulu Sanga-Sanga, berkolaborasi dengan Yayasan Teman Kita dan Desa Beringin Agung.


Acara ini dihadiri oleh Rendy Wirawan (Ketua Yayasan Teman Kita), Kusnadi (Kepala Desa Beringin Agung) dan Hidayah Utama Lubis (Sr. Officer Communication & Relation Pertamina Hulu Sanga-Sanga).



Program Desa Ramah Anak merupakan program yang fokus pada pencegahan kekerasan seksual pada anak dan pergaulan bebas.


Pelatihan ini merupakan pelatihan kedua yang dilaksanakan oleh Yayasan Teman Kita, minggu sebelumnya, mereka sudah melakukan pelatihan di Desa Beringin Agung untuk 10 orang.


Dalam pelatihan ini, kita diajarkan banyak hal. Terutama bagaimana menyikapi anak-anak era digital yang sangat mudah mengakses informasi yang luas dan tak terbatas.

Selain materi yang diberikan, kami juga melakukan FGD. Dalam FGD ini yang paling seru menurutku. Karena semua orang harus membentuk kelompok untuk membuat bahan ajar dalam mengkampanyekan pendidikan seksual pada anak (mengenalkan tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain).



Karena saya dapet kelompok laki-laki semua dan mereka bukan dari dunia pendidikan alias warga desa biasa. Alhasil, cucok banget dengan kelakuan aku yang bar-bar. Sampai-sampai, kami menjuluki kelompok kami adalah kelompok bar-bar karena tidak menggunakan banyak bahan peragaan. Hanya diskusi kecil sambil ketawa-ketawa, kemudian langsung praktek tanpa ribet supaya bisa mengajarkan anak-anak mengenal tubuh yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh menggunakan dua warna kartu. Merah artinya tidak boleh disentuh. Biru artinya boleh disentuh.


Hingga sore hari, kami semua larut dalam keseruan pelatihan ini. Jadwal yang harusnya sudah selesai jam lima sore. Eh, nambah sampai jam setengah enam. Itu artinya, pelatihan kali ini memang asyik dan tidak membosankan.


Kalian yang sudah baca artikel ini, bantu kampanyekan Desa Ramah Anak yang ada di desa Beringin Agung demi masa depan anak-anak kita semua.





Dengan adanya pelatihan kader ramah anak ini, diharapkan mampu menciptakan Desa Beringin Agung yang aman dan nyaman untuk anak-anak.


___________________________


Buat orang tua di rumah, bisa ajarkan anaknya menggunakan lagu ini ya!


Link Lagu untuk anak-anak, klik ini ya! 👉 : Jaga Diriku (Sentuhan Boleh, Sentuhan Tidak Boleh)



Terima kasih, ini catatan kecil dari Kak Rin.


Much Love,


Rin Muna








Sunday, October 18, 2020

5 Aplikasi Desain Grafis Terbaik untuk Cover Novel yang Menarik

 Hai, teman-teman ...!

How are you?

Buat penulis pemula, pasti suka bingung kan gimana caranya bikin cover untuk novel kita supaya menarik. 

Ada banyak aplikasi design grafis yang murah, mudah dan bahkan gratis ... yang bisa kamu coba untuk membuat design novel kamu.

Aku punya 5 rekomendasi aplikasi yang bisa kalian coba untuk membuat design cover. Untuk gambar gratis, tentunya tidak akan melanggar hak cipta. Gambar premium bisa didapatkan dengan membayar.

 

Canva