Blog ini menceritakan tentang Kehidupan yang aku jalani. Keseharian yang ada dalam hidupku. Tentang cinta, tentang perjuangan dan pengorbanan, tentang rasa sakit dan tentang orang-orang yang ada di dalam kehidupanku. Tentang Desa Kecil dan gadis kecil yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat sekitar.

Showing posts with label Kabar Berita. Show all posts
Showing posts with label Kabar Berita. Show all posts

Saturday, October 26, 2019

Ikrar Damai Calon Kades Desa Beringin Agung | Pilkades 2019

Senin, 30 September 2019

Desa Beringin Agung telah melaksanakan Ikrar/ Deklarasi Kampanye Damai Pilkades 2019.
Dalam kesempatan ini, hadir 3 calon kades sesuai nomor urut, yakni:
1. Suyono
2. Juhardin
3. Kusnadi

Acara diawali dengan Ikrar/ Deklarasi Damai dari ketiga calon kades dan penandatanganan ikrar yang disaksikan oleh Kepala Desa, Ketua BPD, Komandan Koramil Samboja, Kepala Kepolisian Sektor Samboja, Staff Desa, Seluruh Ketua RT dan Tokoh Masyarakat.


FGD Inisiasi Kampung Literasi Beringin Agung


Sabtu, 19 Oktober 2019 menjadi hari bersejarah dalam hidupku. Karena, pada hari itu Yayasan Teman Kita dan Pertamina Hulu Sanga-Sanga bekerjasama untuk membentuk Kampung Literasi di Desa Beringin Agung.
Syarat berdirinya sebuah kampung literasi adalah adanya taman baca atau pojok baca yang sudah berjalan. Kebetulan, taman baca saya berdiri pada bulan Februari 2018 lalu. Baru sekitar satu setengah tahun dan mendapat sambutan baik dari masyarakan Desa Beringin Agung.
Malam itu, kami mangadakan urun rembug Kampung Literasi untuk membahas beberapa perencanaan pendirian Kampung Literasi. Karena, dari enam pola literasi dasar, hanya ada dua literasi yang akan difokuskan di Kampung Literasi Desa Beringin Agung.
Sesuai dengan kearifan lokal Desa Beringin Agung yang mayoritas adalah petani, pekebun dan peternak. Maka, kami sepakat untuk memilih Literasi Sains dan Literasi Finansial untuk difokuskan di Kampung Literasi agar tidak lari dari kedua konsep tersebut.
Literasi sains dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang teknologi pertanian, teknologi pangan dan sebagainya agar masyarakat Desa Beringin Agung bisa meningkatkan kesejahteraan dari sektor pertanian dan peternakan.
Literasi Finansial sendiri akan langsung bersinergi dengan petani dan peternak. Belajar tentang bagaimana mengelola bahan pangan dan menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi di masyarakat.

Tentunya, semua ini akan berhasil ketika seluruh masyarakat ikut berpartisipasi dalam membangun dan menciptakan Kampung Literasi di Samboja.
Saya sangat terbuka kepada seluruh masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan Kampung Literasi. Dapat berperan aktif, memberikan saran dan kritik untuk kemajuan kegiatan di Desa Beringin Agung.
Saya juga mengharapkan dukungan masyarakat, tak hanya sebagai dukungan dalam bentuk lisan atau tulisan tapi juga bisa mendukung dan berpartisipasi secara nyata dalam kegiatan-kegiatan pengembangan Sumber Daya Manusia di Kampung Literasi Desa Beringin Agung.
Selain Focus Group Discussion, Pertamina Hulu Sanga-Sanga juga memberikan bantuan berupa buku, printer dan permainan edukasi untuk Taman Bacaan Bunga Kertas. Semoga bisa bermanfaat untuk anak-anak di Taman Baca ke depannya.




Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Desa Beringin Agung dan pihak-pihak yang telah banyak membantu Taman Bacaan Bunga Kertas untuk terus berkembang dan memberikan manfaat untuk masyarakat sekitar.


Sekian dan terima kasih ...

Salam manis selalu,


Rin Muna
Founder Taman Bacaan Bunga Kertas


Baca juga : 
Yayasan Teman Kita ft Pertamina Hulu Sanga-Sanga 

Wednesday, September 18, 2019

Kunjungan Sahabat ke Taman Bacaan Bunga Kertas


Hai, temen-temen ...!!!
Hari minggu kemarin, aku kedatangan dua sahabat kecil aku dari kota Balikpapan. Karena kita udah temenan dari zaman SMP, udah kayak sodara banget deh pokoknya.
Dua temen aku ini memang masih jomlo. Si Wahyu, sekarang udah jadi guru di salah satu sekolah dasar yang ada di kota Balikpapan. Sedangkan Rendi, jadi pengusaha UMKM di kota Balikpapan. Mereka datang berkunjung ke taman baca yang merupakan salah satu daerah yang akan menjadi calon ibukota yakni Samboja.
Aku pikir, mereka tuh nggak bakal betah di sini karena suasananya kampung banget. Eh, sekalinya mereka seneng banget ada di sini dari pagi sampe sore. Karena mereka seneng banget lihat aktivitas anak-anak taman baca dari pagi sampai sore yang silih berganti.
Mereka sampai di Samboja sekitar jam setengah sembilan. Jam segitu sih anak-anak belum pada dateng. Jadi, aku suguhin mereka makanan ala kadarnya. Rendy si pengusaha kuliner ini bilang, "baru pertama kali aku makan sayur daun labu. Rasanya enak banget!" Dia sampe nambah loh karena makanan yang satu itu. Yah, namanya juga di kampung. Pasti makanannnya ya apa adanya aja.
Setelah mereka makan, anak-anak mulai berdatangan ke taman baca untuk membaca dan meminjam buku. Si Wahyu yang punya hobi photography langsung ngeluarin peralatannya buat jepret kegiatan anak-anak taman baca. Anak-anak di sini biasa keluar dan masuk sesukanya mereka. Mereka datengnya agak siangan karena pada ngikut orang tuanya ngerewang di acara nikahan tetangga aku.
Waktu berganti siang. Anak-anak yang ke taman baca juga berganti. Kini, giliran anak-anak SMA yang punya project buat bikin konten Youtube. Katanya sih mereka pengen jadi Youtuber. Aku sebagai orang yang dekat dengan mereka, ya selalu ngedukung aja. Mereka datang ke taman baca untuk menyusun skenario. Yah, walau aku sering ngomelin mereka, mereka tetep dateng ke sini buat belajar.
Jadi, si Gugun Cs. datang ke taman baca untuk menyusun skenario drama selanjutnya setelah drama yang berikut ini:

Karena skenario mereka tulis tangan, si Wahyu heran, katanya, "Di tempatku nggak ada anak SMA yang mau kayak gitu." Dia melihat Gugun yang sedang asyik menulis skenario dengan tangannya. Aku sendiri tidak tahu kenapa anak-anak lebih suka menulisnya dengan tangan. Mungkin, karena skenario itu digarap berdua oleh Gugun dan Aisyah. Aisyah adalah salah satu anak taman baca yang juga punya hobi menulis dan melukis sepertiku. Sedangkan Gugun, adalah salah satu anggota teater di sekolahnya, SMA Negeri 1 Samboja.

Anak-anak memang aktif di taman baca. Kenapa sih anak-anak tuh mau ngumpul di taman baca dan nurut sama aku? Pasti itu yang jadi pertanyaan beberapa orang. Aku sih simple aja. Apa yang mereka mau, selama itu positif bakal aku support semampuku. Mereka aku kasih apa yang mereka inginkan dan mereka juga harus punya kontribusi untuk taman baca. Setidaknya, ada karya yang mereka buat yang bisa dinikmati ke depannya.

Seperti saat mereka menari tradisional untuk mengisi acara beberapa waktu lalu. Yah, Taman bacaku memang punya banyak aktivitas lain selain baca buku. Seperti latihan menari, menggambar dan membuat kerajinan tangan. Itulah yang membuat Rendi betah ada di tempat ini. Katanya, banyak banget anak-anak dan nggak pernah  sepi dari siang sampe sore.

Aku sendiri jarang banget dokumentasi aktivitas anak-anak di taman baca. Karena udah asyik aja sama mereka sampe lupa bikin dokumentasi. Yah, tak apalah, biasanya orang lain yang mendokumentasikan kegiatan anak-anak di taman baca seperti saat beberapa media tv dan media cetak berkunjung ke taman baca beberapa waktu lalu.

Seneng sih. Karena banyak temen yang berkenan buat berkunjung di taman baca. Apalagi mereka itu rela dateng jauh-jauh ke sini. Seperti beberapa teman yang berkunjung dari Balikpapan, Samarinda dan Tenggarong. Taman Baca yang ada di pelosok desa ini mereka jadikan tujuan untuk berlibur sekaligus melihat aktivitas anak-anak taman baca. Kadang malu sih, karena kondisi rumahku yang kayak kandang sapi dan sering dikunjungi teman-teman dari kota.

Sore hari, Rendi dan Wahyu baru kembali ke Balikpapan setelah mengajari dua anak remaja (SMP Negeri 5 Samboja), yakni Bojes dan Ipin untuk belajar cara photography.

Terima kasih untuk Wahyu Ridho dan Rendy Saputera yang sudah berbagi ilmunya ke taman baca. Terima kasih banyak untuk donasi buku-bukunya juga. Semoga bisa bermanfaat untuk anak-anak di taman baca.
Jangan lupa main ke sini lagi ...!
Eh, katanya sih mereka berniat mau main ke sini lagi. Aku juga udah bilang sama mereka, kalau mereka ke sini ... mau aku masakin empis-empis (Makanan Khas Temanggung) karena di sini mayoritas adalah warga transmigrasi dari daerah Temanggung.
Semoga mereka bisa ke sini lagi dan aku juga bisa berbagi cerita lagi sama kalian.

Cukup sampai di sini tulisan dari aku ..
Salam manis selalu ...


Rin Muna

Thursday, August 29, 2019

Lomba Yel-Yel Nippon Paint HUT RI Ke-74 Desa Beringin Agung Samboja


Desa Beringin Agung Samboja ikut berpartisipasi dalam lomba Yel-Yel Nippon Paint pada HUT RI Ke-74. Dalam acara ini terlibat perangkat/staff desa, warga dan mahasiswa KKM IAIN yang membantu proses pembuatan video ini.

Terima kasih untuk warga Desa Beringin Agung yang telah berpartisipasi meramaikan HUT RI ke-74.

Friday, August 23, 2019

Turonggo Lestari Budoyo dalam Karnaval Samboja 2019

Nggak terasa ... adik-adik yang dulu masih kecil sudah beranjak dewasa dan dengan bangganya mereka melestarikan kesenian dan budaya daerah.
Di sini kadang aku merasa terharu ...
Nggak banyak anak muda yang mau melestarikan kesenian dan kebudayaan daerah.
Tapi, anak muda RT.03 dan RT.04 Desa Beringin Agung kompak mencintai dan melestarikan budaya nusantara yang sangat beragam.
Makna dari Tepo Sliro dan Guyub Rukun menciptakan suasana yang luar biasa.
Bukan hanya orang Jawa yang bergabung dalam paguyuban. Tapi juga ada orang banjar, bugis, sunda dan lain-lain sebagai bukti bahwa warga desa hidup rukun dengan beragam suku dan budayanya...


#samboja #budaya #wonderfullindonesia #karnavalsamboja #kukar #kaltim

Wednesday, July 31, 2019

Rapat Pembentukan LPM dan Panitia HUT RI Ke-74 Desa Beringin Agung

Rabu, 31 Juli 2019.

Desa Beringin Agung melaksanakan rapat pembentukan LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) sekaligus Panitia HUT RI yang ke-74.
Rapat kali ini dipimpin oleh Bapak Kusnadi selaku Kasi Pemerintahan dikarenakan Kepala Desa Beringin Agung sudah habis masa jabatan dan belum ada Pejabat sementara yang menggantikan.
Rapat ini juga dihadiri oleh seluruh ketua RT dan lembaga/ komunitas yang ada di Desa Beringin Agung.

Dari hasil musyawarah bersama. Toto Prayogo terpilih sebagai Ketua LPM. Deni Rohendi sebagai sekretaris LPM. Agus Supriono sebagai Bendahara. Tiga orang anggota LPM ialah Kristiani Natalia, Pendek Widodo dan Rusli R.

Harapannya, pengurus LPM yang baru dapat berperan aktif dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) di Desa Beringin Agung agar memiliki daya saing tinggi.

Selain pembentukan LPM, juga dilakukan pembentukan Panitia HUT RI ke-74. Dari hasil musyawarah bersama, Pak Toto Prayogo terpilih sebagai ketua Panitia, Yunevi sebagai sekretaris dan Miftahul Jannah sebagai bendahara.
Dari hasil musyawarah, salah satu Ketua RT juga memberikan masukan kepada panitia HUT RI agar tidak mengadakan lomba yang sifatnya tidak menghibur masyarakat umum. Seperti lomba di bidang olahraga yang hanya bisa diikuti oleh orang-orang tertentu saja, terlebih perlombaannya dilaksanakan pada malam hari.
Guru TPA juga menyarankan agar panitia bisa berkoordinasi dengan guru TPA tentang jadwal perlombaan untuk anak-anak agar pihak sekolah bisa mengatur jam pelajaran dan kegiatan belajar mengajar tidak terhambat dengan adanya perlombaan HUT RI ke-74.



Wednesday, July 24, 2019

Rapat Penyusunan DPS dan DPTb Pilkades Serentak 2019 Desa Beringin Agung

Selasa, 23 Juli 2019

Dilaksanakan rapat Penyusunan DPS (Daftar Pemilih Sementara) dalam rangka Pemilihan Kepala Desa Serentak 2019.
Dalam rapat ini dihadiri oleh Kepala Desa, BPD, Ketua RT.01 s.d RT.11, Lembaga Pemerintahan dan juga 3 Balon (Bakal Calon) Kepala Desa yang akan berperan serta dalam pesta demokrasi Desa Beringin Agung.
Penyusunan DPS berdasarkan data pada Pilpres dan Pileg pada bulan April 2019.  Data tersebut kemudian diverifikasi oleh ketua RT selaku lembaga pemerintahan untuk memutakhirkan data penduduk setiap RTnya. Ada penduduk yang pindah atau meninggal dan ada juga penambahan daftar pemilih untuk anak remaja yang berusia 17 tahun pada tanggal 17 Oktober 2019.

DPS yang sudah ada akan diverifikasi langsung ke lapangan oleh panitia dengan dibantu oleh mahasiswa KKM IAIN dan Ketua RT setempat.

Setelah verifikasi, DPS dan DPTb akan dimutakhirkan menjadi DPT pada Rapat Pleno 02 Agustus 2019.

Untuk pegawai ASN dan lembaga pemerintahan dihimbau untuk bersikap netral demi terciptanya demokrasi yang aman dan damai. Sebab bakal calon yang ada juga merupakan warga Desa Beringin Agung yang memiliki visi dan misi yang sama dalam memajukan Desa Beringin Agung menjadi desa yang lebih baik lagi.


Monday, July 22, 2019

Pelatihan PKK Membuat Bunga dari Plastik oleh Mamuja

Minggu, 21 Juli 2019.
Kelompok PKK Desa Beringin Agung melaksanakan pelatihan membuat karya kerajinan tangan dari plastik.
Alhamdulillah ... Mamuja (Mama Muda Samboja), klub ibu-ibu kreatif yang aku bentuk sebagai bagian dari Taman Bacaan Bunga Kertas diberi kepercayaan untuk menjadi pelatih ibu-ibu PKK yang ada di Desa Beringin Agung.
Pelatihan berlangsung dari jam 14.00 s.d 16.00 WITA diikuti oleh anggota PKK.
Ibu-ibu terlihat sangat antusias membuat bunga dari plastik. Karena, bunga dari plastik ini sangat ekonomis, bahannya mudah sekali didapat dan tentunya bisa mengurangi volume sampah di lingkungan. Seharusnya, pelatihan ini menggunakan plastik bekas, namun karena nyari sampah plastiknya lumayan susah, akhirnya kami memilih menggunakan plastik baru untuk belajar. Harapannya, ibu-ibu rumah tangga di wilayah Desa Beringin Agung semakin cerdas dan kreatif dalam memanfaatkan sampah-sampah rumah tangga.
Aku juga turut bahagia karena ibu-ibu mau berpartisipasi dalam dunia kreatif dan lingkungannya. Sebagai salah satu kandidat Pemuda Pelopor Tingkat Nasional, aku harus selalu menumbuhkan semangat warga untuk berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang membangun desa juga mensejahterakan masyarakatnya.
Kegiatan-kegiatan edukasi seperti inilah yang menjadi salah satu kegiatan yang mampu mendorong dan menginspirasi masyarakat luas.
Saya berharap ke depannya Desa Beringin Agung bisa berkembang menjadi desa yang lebih baik dan lebih maju lagi. Seluruh lapisan masyarakat dapat bersinergi dalam membangun desa mandiri.
Kegiatan-kegiatan yang saya lakukan memang murni kegiatan sosial tanpa mengharapkan imbalan. Bila ada donatur yang memberikan bantuan, langsung saya serahkan ke Taman Baca atau Mamuja untuk pengembangan kegiatan-kegiatan kreatif.
Terima kasih untuk seluruh warga desa Beringin Agung yang telah berkenan memberikan dukungannya untuk saya dan Taman Bacaan Bunga Kertas.
Hasil Karya Pelatihan



Sunday, July 21, 2019

Musrenbangdes 2020 Beringin Agung

www.rinmuna.com
Rabu, 17 Juli 2019. Pemerintah Desa Beringin Agung melaksanalan Musrenbangdes (Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa) Tahun 2020.
Musrenbangdes mengundang seluruh lembaga dan tokoh masyarakat yang ada di desa.
Diungkapkan oleh Pak Budi selaku Kasi PMD dan Pj. Kades Beringin Agung bahwa dana desa digunakan 60% untuk infrastruktur dan 40% untuk pemberdayaan masyarakat desa.
Dari data yang dibacakan oleh Bapak Kuat Sholeh selaku Ketua BPD, pembangunan infrastruktur yang diajukan oleh masyarakat adalah pengerasan jalan / semenisasi dan pembuatan turap yang merupakan lanjutan dari anggaran tahun 2019.
Pada sesi terakhir, Bapemas Kabupaten Kutai Kartanegara menyampaikan IDM (Indeks Desa Membangun).

Pelatihan Kader Stunting Desa Beringin Agung

www.rinmuna.com
Sabtu, 13 Juli 2019. Pemerintah Desa Beringin Agung melaksanakan kegiatan Pelatihan Kader Stunting. Acara dibuka langsung oleh Kepala Desa Beringin Agung.
Narasumber : Sulastri, A.Md. Keb. (Puskesmas Sungai Merdeka), Andi Herawati, A.Md. Keb. (Ahli Gizi) dan Supriyadi (Pembina Posbindu).
Acara berlangsung sejak pukul 08.30 WITA sampai sore hari.
Stunting adalah sebuah kondisi di mana tinggi badan seseorang ternyata lebih pendek dibanding tinggi badan (yang sesuai umur).
Stunting disebabkan karena kurangnya asupan gizi yang diterima janin dan bayi  sejak masih dalam kandungan, tetapi stunting baru nampak setelah anak berusia 2 tahun. Oleh karenanya, nutrisi pada saat usia kehamilan sangat penting agar anak tidak terkena stunting.
Bukan hanya memberikan pengertian tentang stunting dan cara pencegahannya. Di sini juga diajarkan bagaimana melakukan pelayanan di posyandu dan pentingnya datang ke posyandu agar perkembangan janin dan bayi dapat terpantau dengan baik.
Pelatihan stunting ditutup dengan acara tanya jawab berhadiah. Ibu-ibu yang bisa menjawab pertanyaan seputar kehamilan, ibu dan anak langsung mendapat hadiah dari panitia.
Harapan ke depannya, pelatihan ini dapat meningkatkan pelayanan kesehatan menjadi lebih baik lagi dan dapat mencegah terjadinya stunting pada anak-anak Indonesia agar anak-anak tetap sehat, cerdas dan berprestasi.


Saturday, July 13, 2019

Pembekalan Panitia Pilkades Serentak 2019

www.rinmuna.com
Kamis, 11 Juli 2019 di gedung BPU Kecamatan Samboja dilaksanakan Pembekalan Panitia Pilkades Serentak 2019 Kecamatan Samboja.
Acara ini dihadiri oleh 3 desa, yakni Desa Beringin Agung, Desa Bukit Raya, dan Desa Tani Bakti.
Acara dibuka oleh Camat Samboja, Bapak Ahmad Nurkhalis, S.Sos, M.Si. Kemudian pembekalan disampaikan oleh narasumber, Ibu Rinda R., M.Si dari Kesbangpol dan Bapak Rudi dari Dinas PMD Kab. Kutai Kartanegara.
Acara pembekalan berlangsung dari jam 10 pagi sampai jam 13.00 WITA.

Tuesday, July 9, 2019

Kebersamaan Makan Bersama Mamuja


Menciptakan kebersamaan yang paling baik adalah di meja makan, katanya seperti itu.
Itulah alasannya kenapa aku dan Mamuja sering meluangkan waktu makan bersama untuk menciptakan chemistry dan kebersamaan.
Kali ini, kami masak-masak dan makan-makan di rumah Bu Yani. Kebetulan, beliau juga ingin merayakan hari ulang tahun pernikahannya sekaligus rasa syukur karena diberi anugerah kehamilan anak pertama yang sudah dinanti-nanti selama ini.

Terima kasih untuk Bu Yani yang sudah berkenan untuk dihambur-hambur isi dapurnya. Terima kasih atas jamuan yang istimewa. Ayam goreng lalapan, Pempek Palembang dan Rujaknya.
Semoga semakin banyak rejekinya, diberi kesehatan dan terus berkarya bersama Mamuja.



Salam,

Thursday, July 4, 2019

Mamuja Bersama Dispora Kukar

Dokumen Pribadi 

Selasa, 02 Juli 2019

Taman Bacaan Bunga Kertas, Desa Beringin Agung berkesempatan untuk dikunjungi oleh Dispora Kukar dalam rangka peninjauan lapangan atas keikutsertaan saya dalam Seleksi Pemilihan Pemuda Pelopor Tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara.

Syukur alhamdulillah... Ibu-Ibu kreatif yang saya bina di taman baca yang saya beri nama Mamuja (Mama Muda Samboja) diberi kesempatan untuk bertatap muka dengan Bapak-Bapak dari Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kutai Kartanegara.

Klub kreatif yang merupakan bagian dari aplikasi literasi finansial di taman baca ini saya bentuk pada tanggal 03 Februari lalu.
Alhamdulillah berjaland dengan baik dan mampu menginspirasi banyak ibu-ibu rumah tangga untuk lebih aktif lagi dalam berkreatifitas serta bisa memanfaatkan potensi-potensi yang ada di lingkungan sekitar.
Dalam peninjauan kali ini, saya dinilai sebagai pemuda pelopor yang harus bisa menunjukkan kepeloporan saya di bidang yang saya tekuni ini. Tidak banyak hal yang bisa saya lakukan. Semuanya berjalan berkat kerjasama semua masyarakat dan pemuda-pemuda Desa Beringin Agung. Jika para pemudanya sendiri tidak memiliki keinginan untuk maju, maka satu orang perempuan seperti saya tidak akan pernah bisa membuat Desa yang kami tinggali ini bergerak maju dan bersaing dengan wilayah-wilayah lain dalam berbagai sektor industri.
Harapan ke depannya, Mamuja akan terus memberikan inspirasi dan motivasi bagi ibu-ibu muda dan juga anak-anak muda di Samboja. Mampu memberikan prestasi yang bisa membawa nama baik desa dan mampu bersaing dengan industri-industri lain agar perekonomian warga bisa tetap terjaga dengan baik.
Dari beberapa testimoni yang diberikan oleh lembaga-lembaga terkait. Saya sangat bersyukur karena keberadaan saya dianggap sebagai hal yang positif dan menginspirasi. Bagi saya, yang bisa menilai tindakan saya baik atau tidak adalah orang-orang yang ada di sekitar saya. Saya tidak bisa mengatakan bahwa pribadi saya baik, sebab setiap orang selalu punya sisi baik dan buruk. Yang saya lakukan adalah berusaha berbuat baik dan semoga masyarakat sekitar dapat menerima positif setiap kegiatan yang saya lakukan untuk Desa Beringin Agung.




Salam Literasi,

Rin Muna

Taman Bacaan Bunga Kertas
Desa Beringin Agung


Saturday, June 22, 2019

Pengalaman Pertama Mengikuti Seleksi Pemuda Pelopor Tingkat Kabupaten

Kamis, 20 Juni 2019 adalah sebuah perjalanan yang patut untuk aku abadikan dalam hidupku.
Pukul 04.00 pagi aku sudah bersiap untuk berangkat ke kantor Dispora Kab. Kukar. Awalnya Pak Kades sepakat berangkat usai sholat subuh, tapi sampa jam 05.30 WITA belum juga datang menjemputku. Ternyata, beliau masih menunggu salah satu staff desa yang awalnya tidak mau ikut berangkat ke Tenggarong. Alhasil, aku berangkat dari rumah hampir jam setengah 6. Untungnya pihak Dispora memberikan kompensasi waktu atas ketidakdisiplinanku. Terlebih lagi, Pak Kades salah alamat, beliau membawaku ke kantor Dispora lama, sementara kantor Dispora sudah pindah ke wilayah Stadion Aji Imbut.

Pertama kali aku masuk kota tenggarong, aku sedikit tercengang karena ada beberapa bangunan yang aku lihat tidak selesai dikerjakan alias mangkrak. Padahal, ada beberapa taman kota yang konsepnya terlihat sangat menarik.

Aku juga tercengang ketika masuk ke stadion Aji Imbut yang terkenal sebagai stadion termahal versi 6 Stadion Termahal di Asia Tenggara. Sebelum masuk ke sini, yang terlintas di pikiranku adalah sebuah stadion dengan berbagai fasilitas lengkap, baik dan ramai pengunjung. Aku membayangkan stadion ini seperti supermarket atau Bandara Internasional. Eh, ternyata sangat jauh dari yang aku bayangkan. Stadion ini seperti bangunan mati. Hampir semua bangunannya terlihat tidak pernah tersentuh aktivitas manusia. Pantas saja kalau Mitra Kukar tak mau lagi memakai stadion ini sebagai rumah latihan mereka. Padahal, bangunan di sini termasuk bangunan yang lengkap. Tapi, entah kenapa tidak terawat sama sekali dan ini sangat disayangkan. Terlebih lagi bagi orang dari kampung sepertiku, melihat bangunan sebesar ini terbengkalai begitu saja.

Apakah APBD tidak cukup untuk membiayai perawatan gedung sebesar ini? Lalu, pemerintah diam saja dan membiarkan bangunan ini mangkrak. Sepertinya gedung ini hanya akan diperbaiki dan dipoles menjelang laga nasional atau internasional. Kalau melihat kondisinya, miris sekali. Padahal, bisa saja pemerintah membuat sekolah di dalamnya supaya aktivitas di stadion ini bisa hidup daripada dibiarkan mangkrak, hanya membuat kondisi gedung rapuh termakan cuaca.

Yah, itulah pengalaman pertama kali aku masuk ke Stadion Aji Imbut. Aku merasa payah karena aku tidak bisa melakukan apa-apa. Rasanya hati ini sudah nggak sabar pengen cabutin rumput kalau melihat rumput yang sudah meninggi di taman stadion tersebut. Tapi, memang begitulah kondisinya. Orang yang setiap hari ada di dalamnya saja mungkin tidak akan bisa merawat stadion sebesar itu hanya dengan tenaga beberapa orang.

Bukan hanya bangunan luar, tapi ruangan di dalamnya juga terlihat tidak begitu terawat. Saat aku baru sampai, aku langsung pamit ke kamar kecil dan ... kalau nggak kebelet banget karena udah 2 jam menahan pipis di dalam mobil, aku nggak bakal mau masuk ke toilet. Tak perlu aku gambarkan kondisinya seperti apa. Aku hanya berharap di sini ada sekolah, ada banyak murid-murid nakal yang dihukum membersihkan seluruh toilet yang ada di stadion ini supaya toiletnya layak untuk digunakan.

Oke, cukup di sini kesan pertama aku masuk ke stadion Aji Imbut. Kalau mau bahas kekurangannya, tulisanku tidak akan selesai dalam waktu seminggu.
Aku mau cerita soal pengalaman presentasi Pemuda Pelopor yang aku jalani di sana. Alhamdulillah, presentasi berjalan dengan baik. Komentar juri ada yang positif dan ada yang negatif. Positifnya, saya mendapat ilmu baru dan bisa memperbaiki kekurangan saya ke depannya. Negatifnya, ada kritik juri yang benar-benar menjatuhkan mental saya. Karena apa? Mungkin cukup aku yang tau bagaimana mentalku begitu jatuh ketika juri menyampaikan kritik sembari tersenyum sinis. It's oke ... apa yang aku lakukan mungkin tidak sesuai dengan harapan mereka. Tapi, yang aku lakukan selama ini bukan untuk pemerintah, aku melakukannya untuk masyarakat. Selama masyarakat di sekitar memberikan dukungan positif, artinya aku tidak boleh berhenti melangkah.

Ini pertama kalinya aku mengikuti seleksi dan memang mengerjakan presentasinya seorang diri tanpa pendampingan. Sehingga, aku hanya berpikir bagaiamana cara menyampaikan presentasi hanya dalam waktu maksimal 15 menit. Aku hanya menampilkan penjelasan-penjelasan secara deskriptif dan itu adalah salah satu kesalahanku.

It's oke ... apa pun hasilnya nanti, aku yakin kalau juri melakukannya untuk mendapatkan yang terbaik. Dan ini menjadi sebuah pengalaman yang berharga bagiku. Terlebih aku bisa bertemu dengan Pak Ahmad Junaidi dan foto bersama beliau. Hal yang selama ini sulit aku lakukan karena setiap kali bertemu dengan beliau di dalam sebuah acara di mana aku tidak mungkin mengakrabkan diri. Walau aku tahu beliau tidak pernah keberatan bila aku menyapa, tapi aku selalu menjaga posisiku sebagai perempuan dan masyarakat biasa. Ada saatnya aku bertegur sapa dan diskusi, ada saatnya aku tidak mengganggu acara inti beliau.

Terima kasih untuk Kepala Desa Beringin Agung, Bapak Zazuli, S.Pd.I dan Eks. Camat Samboja, Bapak Ahmad Junaidi yang telah memberikan dukungan sepenuhnya kepada kami, Saya  dan Adi Saputera, perwakilan dari Samboja untuk mengikuti seleksi Pemilihan Pemuda Pelopor di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Semoga apa yang saya lakukan bisa memberikan banyak manfaat untuk masyarakat.








Wednesday, June 19, 2019

Musikalisasi Puisi by Duo Azizah - Taman Bacaan Bunga Kertas

Musikalisasi puisi Ultah Desa Beringin Agung ke-34.
Selasa, 18 Juni 2019 merupakan hari perayaan Ulang Tahun Desa Beringin Agung yang ke-34.
Taman Bacaan Bunga Kertas ikut berpartisipasi dalam mengisi acara Ulang Tahun Desa Beringin Agung. Selain menampilkan Tarian Dayak, Pameran Kriya, Pameran Buku dan Pameran Lukisan. Taman Baca juga mempersembahkan penampilan Duo Azizah dalam musikalisasi puisi.

Duo Azizah menyanyikan lagu Indonesia Pusaka dan Tanah Airku yang diselingi dengan puisi "Desaku".

Ada hal yang mengejutkan saat mereka akan menampilkan lagu wajib. Konsep awal yang kami buat adalah menyanyikan lagu Indonesia Pusaka dan Tanah Airku. Namun, saat acara berlangsung kami diminta untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Jelas saja tanpa persiapan. Tiba-tiba aku harus menjadi dirigen dan kami menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama para tamu undangan tanpa diiringi musik. Untungnya, semua undangan tetap khidmat menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama.
Usai penampilan musikalisask puisi dari Duo Azizah, langsung dilanjutkan Tarian Dayak yang juga dibawakan oleh remaja-remaja puteri Taman Bacaan Bunga Kertas.
Dalam kesempatan kali ini, Taman Baca diberikan banyak andil untuk berpartisipasi. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi saya karena harus menyiapkan semuanya hanya dalam waktu satu minggu.
Selain sibuk menjadi panitia lomba, saya juga harus sibuk mempersiapkan ibu-ibu Mamuja yang mendapat pesanan 200 souvenir dan karya untuk dipamerkan. Saya juga harus menyiapkan anak-anak di divisi seni rupa untuk menyiapkan karyanya. Juga anak-anak remaja puteri yang akan menampilkan musikalisasi puisi dan tarian dayak.

Minggu ini merupakan minggu yang sangat melelahkan karena kegiatan yang sangat padat.
Tapi, saya merasa senang karena masyarakat mendukung sepenuhnya kegiatan-kegiatan yang ada di taman baca dan anak-anak remaja juga dengan senang hati berperan aktif di dalam kegiatan taman baca.

Ini adalah awal yang baik dan semoga ke depannya bisa menjadi lebih baik lagi. Bisa bermanfaat untuk masyarakat sekitar walau aku sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Bayarannya adalah senyum kebahagiaan dan prestasi mereka.

Terima kasih untuk anak-anak remaja taman baca. Tetap aktif berkreasi, tetap solid menjadi keluarga dan sahabat. Tetap menjadi kebanggaan orang tua dan masyarakat sekitar.


Salam Literasi ..!

Pameran Pertama Mamuja (Mama Muda Samboja)


Samboja, 18 Juni 2019 merupakan hari ulang tahun Desa Beringin Agung Samboja yang ke-34 sekaligus menjadi momen pertama kalinya Mamuja (Mama Muda Samboja) dari Taman Bacaan Bunga Kertas menggelar pameran untuk pertama kalinya.

Mamuja merupakan salah satu klub atau divisi kreatif ibu-ibu muda di Samboja sebagai bagian dari pelaksanaan program literasi finansial.

Dalam pameran kali ini, ibu-ibu membawa serta semua karya-karya tangannya untuk dipamerkan. Karya Mamuja terlihat beragam. Mulai dari bunga plastik, bunga flanel, bunga sedotan, tas dan dompet rajut, tas dan dompet dari talikur, tempat tisu, tempat permen, karya seni rupa dan lain-lain.

Anggota Mamuja yang aktif dalam pameran adalah Anis (ketua), Rety, Yani, Alvina, Uut, Erna, Enny, Suyati dan saya sendiri /Rin Muna (Founder).

Ini merupakan pengalaman pertama kali mengikuti pameran dalam rangka memeriahkan hari jadi Desa Beringin Agung yang ke-34. Antusias ibu-ibu sangat tinggi dan saya bahagia melihatnya karena mereka mau merelakan waktu dan tenaganya untuk memberikan sumbangsih di acara ultah Desa yang ke-34.

Harapan ke depannya... Mamuja terus aktif berkarya dan bisa memiliki outlet / galeri sendiri sebagai wadah untuk menjual karya ibu-ibu muda samboja ini.

Semoga... kegiatan seperti ini terus aktif dan menjadi kegiatan rutin di taman baca sebagai bagian dari literasi finansial.

Terima kasih untuk teman-teman yang selalu mengajakku untuk mengisi waktu-waktu luangku dengan hal yang berkualitas.

Penari Dayak TBM Bunga Kertas Samboja

Borneo Dancer from @tbm.bungakertas
Selasa, 18 Juni 2018 merupakan salah satu momen yang tidak terlupakan bagi remaja puteri Taman Bacaan Bunga Kertas Desa Beringin Agung. Pasalnya, ini pertama kalinya bagi mereka tampil untuk mengisi acara HUT Desa Beringin Agung yang ke-34.

Beberapa minggu yang lalu, mereka sudah berlatih di taman baca untuk persiapan pentas. Senang rasanya karena akhirnya bisa menampilkan kesenian Tradisional ini di tengah-tengah masyarakat umum dan para tamu undangan.

Tari Dayak ini tampil pada acara pembukaan. Ada 6 remaja puteri yang menarikan tarian ini yakni Joice, Margaretha, Ella, Esti, Evi dan Imel. Keenam remaja puteri ini tampil percaya diri menarikan tari tradisional Dayak.

Tari-tarian tradisional ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan asli Kalimantan Timur. Walau kami tinggal di wilayah pesisir dan bukan merupakan warga suku dayak. Tapi, kami juga ikut peduli dalam melestarikan kebudayaan asli wilayah Kalimantan Timur.

Dengan penampilan pertama mereka, saya berharap akan banyak yang tertarik dan bergabung dalam klub kesenian taman baca untuk bisa melestarikan budaya asli Kalimantan. Sekalipun warga desa Beringin Agung adalah masyarakat suku jawa. Tapi, kami juga ingin melestarikan budaya asli Kalimantan Timur.

Dengan aktifnya anak-anak remaja berkegiatan di Taman Baca. Maka, program penanaman Literasi Budaya sebagai pola dasar literasi di taman baca sudah mulai berjalan walau belum maksimal.



Samboja, 18 Juni 2019

Thursday, May 23, 2019

Whatsapp Down. Mau Ngapain?




Rabu, 22 Mei 2019 menjadi hari bersejarah bagi dunia Sosial Media. Karena Kominfo membatasi akses beberapa media sosial atau media mainstream yang menjadi salah satu kebutuhan masyarakat Indonesia.
Penyebabnya karena ada indikasi provokasi di media sosial dan dapat menimbulkan kericuhan atau kerusuhan di Ibukota semakin memanas.
Langkah yang diambil oleh Pemerintah sudah bagus menurut saya. Walau bagaiamanapun, pemerintah bertugas menjaga keamanan, persatuan dan stabilitas nasional. Apa saja yang mengganggu dan meresahkan masyarakat, tentunya akan ditindaklanjuti seusai dengan peraturan dan ketentuan hukum yang berlaku.

Dunia Maya sempat dibuat heboh karena memang pengguna Whatsapp dan Facebook adalah yang paling banyak. Sehingga, semua merasa kehilangan dan terlihat sekali kalau Media Sosial menjadi salah satu kebutuhan masyarakat.

Karena, Media Sosial bukan lagi sebagai media berinteraksi sosial dalam bentuk digital. Namun, kini sudah merambah ke dunia bisnis dan dunia kreatif. Jika kita pandai memilih dan memilah konten dari media sosial. Kita masih bisa menemukan banyak konten positif yang ada di Social Media. Hanya saja, beberapa oknum memang memanfaatkan platform yang ramai ini untuk memprovokasi, menyebarkan berita bohong dan memberikan pengaruh negatif terhadap moral masyarakat.

Terus, kalau Whatsapp Down, mau ngapain?
Aku sendiri juga sempat bingung karena aku lebih banyak menggunakan whatsapp untuk berkomunikasi ketimbang menggunakan Facebook atau Instagram. Mungkin, ketika Facebook dan Instagram nge-down, nggak bakal kerasa banget di aku. Tapi, ketika Whatsapp tidak bisa digunakan. Aku sudah uring-uringan karena kebanyakan komunikasi dengan saudara, teman dan costumer memang melalui Whatsapp.
Hmm ... beberapa orang menyarankan menggunakan VPN agar bisa berselancar normal. Namun, aku sendiri tidak berminat sama sekali menginstall VPN. Alasannya sederhana, aku cuma mau tahu berapa lama Kominfo membatasi akses Media Social Mainstream ini. Lagipula, tanpa media sosial, aku bisa menghabiskan waktuku di dunia nyata. Bercengkerama langsung dengan orang dan lingkungan sekitar. Tidak ngobrol dengan keypad hp setiap hari. Terkadang memang terasa konyol, apalagi kalau sambil senyum-senyum sendiri, dikira gila.

Karena aku tidak menggunakan VPN, aku bisa tahu kalau pada pukul 23.20 WITA, Whatsapp sudah bisa dipakai untuk berkomunikasi. Aku bisa mengirim gambar, update story dan mengirimkan video. Hanya saja, masih ada satu kendala yang tidak bisa yakni mengirim file dalam bentuk Ms.Word, Ms. Excel atau .zip. Karena aku terbiasa mengirimkan naskah cerpen atau novel melalui WA saja. Buatku, lebih mudah ketimbang lewat email. Tapi, karena Whatsapp masih dibatasi penggunaannya ... aku harus legowo dan mengirimkan naskahku lewat email saja.

Kalau aku lihat story netizen, sepertinya kita memang sangat ketergantungan dengan Sosial Media. Karena, netizen akan melakukan apa saja supaya bisa mengakses internet yang dibatasi seperti menginstall VPN. Artinya, masyarakat Indonesia memang tidak bisa hidup tanpa Medsos walau hanya  1 hari. This is Real?

Hmm ... Sosmed yang dulu merupakan kebutuhan tersier, kini sudah berubah menjadi kebutuhan premier masyarakat Indonesia.
Apakah 22 Mei akan menjadi Hari Tanpa Medsos Nasional?

Friday, May 10, 2019

Samboja Jadi Ibukota Republik Indonesia?

Facebook Camat Samboja
Selasa, 07 Mei 2019. Bapak Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja ke wilayah Samboja. Tepatnya ialah mengunjungi proyek Jalan Tol Balikpapan-Samarinda di kawasan Tahura, kilometer 48.
Kedatangan beliau disambut oleh Bapak Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah, juga hadir Bapak Camat Samboja Ahmad Junaedi.

Dilansir dari akun facebook pribadi Bapak Ahmad Junaedi, Samboja menjadi salah satu wilayah yang ditinjau sebagai lokasi Ibukota Negara indonesia.
Wacana pemindahan Ibukota Negara Indonesia ini disambut baik oleh warga Samboja. Postingan Pak Camat ini mendapat banyak komentar positif dari netizen.
Ini masih wacana, belum tentu Samboja menjadi Ibukota Negara Indonesia. Karena, banyak hal yang harus dipertimbangkan terkait pemindahan Ibukota Negara Republik Indonesia.
Dari semua komentar netizen, ada satu komentar yang menarik buat saya. Yakni komentar dari Robby Farver.

Perlu kita ketahui bahwa Kecamatan Samboja memiliki luas wilayah 1.045,90 km2 dengan besar penduduk sebanyak 40.693 jiwa pada tahun 2005 (Data penduduk belum update selama 14 tahun). - [wikipedia.org]

Samboja memiliki wilayah konservasi hutan yang cukup luas. Artinya, ketika pemerintah menginginkan Samboja menjadi Ibukota Negara Indonesa. Maka kita akan mengorbankan wilayah hutan lindung dan konservasi alam yang ada di Samboja. Beberapa desa yang ada di kecamatan Samboja juga merupakan wilayah konservasi alam.

 Ada beberapa wilayah konservasi alam yang akan terganggu jika Samboja benar-benar menjadi Ibukota. Beberapa wilayah konservasi alam tersebut ialah:
1. Borneo Orang Utan Survival (BOS)
2. Wisata Bekantan Sungai Hitam
3. Taman Hutan Raya Bukit Soeharto (Luas: ± 61,85 Ha)
4. Bukit Bangkirai.

Samboja memiliki banyak wilayah konservasi alam. Jika pemerintah memilih Samboja sebagai kawasan Ibukota Republik Indonesia. Maka, Samboja harus mengorbankan wilayah-wilayah konservasi alamnya dan jelas akan merusak alam.

Dilansir dari berita antaranews: Pemindahan Ibukota RI
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengungkapkan estimasi luas pembangunan ibukota baru ialah 40.000 hektare dengan biaya sekitar Rp 466 triliun.

Dilihat dari luas ibukota yang akan dibangun, artinya akan mengorbankan seluruh wilayah konservasi alam di Samboja. Mengingat Kecamatan Samboja hanya memiliki luas wilayah sekitar 1000 hektar. Artinya, luas kecamatan Samboja hanya 2,5% dari luas kebutuhan Ibukota Republik Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan lahan-lahan konservasi yang harus dikorbankan untuk pembangunan Ibukota?
Apa kamu setuju Ibukota Republik Indonesia pindah ke Samboja dan mengorbankan wilayah konservasi alam Kalimantan Timur?

Hmm, kalau aku sendiri sebenarnya kurang setuju. Tapi, kalau pemerintah sudah membuat keputusan, apa boleh buat?
Hutan Kalimantan sebagai jantungnya dunia sudah semakin tergerus.
Kamu pernah menonton film IO?
Seperti itulah gambaran dunia kita saat hutan sebagai sumber oksigen tidak ada lagi.

Mari kita lihat kinerja Pemerintah kita. Apakah wacana Samboja sebagai ibukota ini akan benar-benar terealisasi?
Semua tergantung pada warga Samboja. Ingin mempertahankan wilayah konservasi alam atau menginginkan pembangunan seperti Ibukota Jakarta.

Kita tunggu saja ...


Saturday, May 4, 2019

Sexy Killers; Pengorbanan untuk Penguasa




Baca juga artikel saya Nobar Sexy Killers di Taman Baca

Tanggal 13 April lalu kami menonton sebuah film dokumenter yang berjudul "Sexy Killers".
Sebuah film dokumenter yang memang benar-benar terjadi di wilayah kami.
Saat menonton film Sexy Killers, juga sedang ada kegiatan hauling batubara tepat di depan rumah.

Dari film yang sudah kami tonton, saya menyadari beberapa hal yang membuat hati ini benar-benar miris.
Yang pertama, kisah nelayan yang terdampak PLTU dan kisah warga yang terdampak tambang batubara.
Tidak dipungkiri kalau masyarakat memang butuh uang untuk melanjutkan hidupnya. Sehingga, banyak juga warga yang mendukung keberadaan tambang batubara karena dianggap dapat meningkatkan perekonomian keluarga.

Yang paling miris adalah ketika kami tahu siapa saja orang-orang yang ada dibaliknya. Para pengusaha yang dengan tega membiarkan nyawa melayang demi sebuah bisnis dan keuntungan untuk mereka.

Kami, rakyat kecil tidak bisa melakukan apa-apa. Selain hanya mengikuti aturan yang diberlakukan oleh pemerintah. Bisa jadi, 50 tahun yang akan datang kami akan kehilangan rumah kami, tanah kami dan semua isinya.
Ada banyak nyawa yang melayang untuk penguasa-penguasa negeri. Sedangkan kami, tidak pernah merasakan kayanya negeri Kalimantan yang kaya akan sumber daya alamnya. Kalau kamu jalan-jalan ke wilayah terdekat dengan pertambangan batu bara. Kalian tidak akan pernah merasakan mulusnya jalan seperti jalan di ibukota.

Aku sudah sering menulis artikel tentang batu bara. Tentang infrastruktur yang tidak dibangun secara layak. Hanya beberapa kota yang merasakan pembangunan. Sedangkan wilayah yang sumber daya alamnya dikuras habis-habisan, jalannya tetap saja rusak.

Di dalam film ini, terlihat bagaimana rakyat kecil berkorban untuk penguasa. Untuk memperkaya para pengusaha dan elite-elite negeri. Pengorbanan untuk penguasa itu tidaklah sedikit. Bukan hanya untuk penguasa elite saja. Masyarakat yang terdampak tambang batu bara dan PLTU sedang berkorban untuk seluruh rakyat Indonesia agar bisa menikmati listrik dengan harga yang murah. Tak peduli berapa banyak pengorbanan rakyat kecil yang tertindas. Asalkan, semua rakyat Indonesia bisa terpenuhi kebutuhan energi listriknya dengan baik. Tidak ada lagi yang teriak-teriak karena listrik mati dan sebagainya.

Ada harga yang harus dibayar untuk memenuhi kebutuhan rakyat banyak. Dan yang paling mahal adalah harga nyawa-nyawa orang yang telah terenggut karena dampak lingkungan yang diekploitasi secara berlebihan.

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas