Berbagi Cerita Hidup, Berbagi Inspirasi

Showing posts with label Kabar Berita. Show all posts
Showing posts with label Kabar Berita. Show all posts

Thursday, May 23, 2019

Whatsapp Down. Mau Ngapain?




Rabu, 22 Mei 2019 menjadi hari bersejarah bagi dunia Sosial Media. Karena Kominfo membatasi akses beberapa media sosial atau media mainstream yang menjadi salah satu kebutuhan masyarakat Indonesia.
Penyebabnya karena ada indikasi provokasi di media sosial dan dapat menimbulkan kericuhan atau kerusuhan di Ibukota semakin memanas.
Langkah yang diambil oleh Pemerintah sudah bagus menurut saya. Walau bagaiamanapun, pemerintah bertugas menjaga keamanan, persatuan dan stabilitas nasional. Apa saja yang mengganggu dan meresahkan masyarakat, tentunya akan ditindaklanjuti seusai dengan peraturan dan ketentuan hukum yang berlaku.

Dunia Maya sempat dibuat heboh karena memang pengguna Whatsapp dan Facebook adalah yang paling banyak. Sehingga, semua merasa kehilangan dan terlihat sekali kalau Media Sosial menjadi salah satu kebutuhan masyarakat.

Karena, Media Sosial bukan lagi sebagai media berinteraksi sosial dalam bentuk digital. Namun, kini sudah merambah ke dunia bisnis dan dunia kreatif. Jika kita pandai memilih dan memilah konten dari media sosial. Kita masih bisa menemukan banyak konten positif yang ada di Social Media. Hanya saja, beberapa oknum memang memanfaatkan platform yang ramai ini untuk memprovokasi, menyebarkan berita bohong dan memberikan pengaruh negatif terhadap moral masyarakat.

Terus, kalau Whatsapp Down, mau ngapain?
Aku sendiri juga sempat bingung karena aku lebih banyak menggunakan whatsapp untuk berkomunikasi ketimbang menggunakan Facebook atau Instagram. Mungkin, ketika Facebook dan Instagram nge-down, nggak bakal kerasa banget di aku. Tapi, ketika Whatsapp tidak bisa digunakan. Aku sudah uring-uringan karena kebanyakan komunikasi dengan saudara, teman dan costumer memang melalui Whatsapp.
Hmm ... beberapa orang menyarankan menggunakan VPN agar bisa berselancar normal. Namun, aku sendiri tidak berminat sama sekali menginstall VPN. Alasannya sederhana, aku cuma mau tahu berapa lama Kominfo membatasi akses Media Social Mainstream ini. Lagipula, tanpa media sosial, aku bisa menghabiskan waktuku di dunia nyata. Bercengkerama langsung dengan orang dan lingkungan sekitar. Tidak ngobrol dengan keypad hp setiap hari. Terkadang memang terasa konyol, apalagi kalau sambil senyum-senyum sendiri, dikira gila.

Karena aku tidak menggunakan VPN, aku bisa tahu kalau pada pukul 23.20 WITA, Whatsapp sudah bisa dipakai untuk berkomunikasi. Aku bisa mengirim gambar, update story dan mengirimkan video. Hanya saja, masih ada satu kendala yang tidak bisa yakni mengirim file dalam bentuk Ms.Word, Ms. Excel atau .zip. Karena aku terbiasa mengirimkan naskah cerpen atau novel melalui WA saja. Buatku, lebih mudah ketimbang lewat email. Tapi, karena Whatsapp masih dibatasi penggunaannya ... aku harus legowo dan mengirimkan naskahku lewat email saja.

Kalau aku lihat story netizen, sepertinya kita memang sangat ketergantungan dengan Sosial Media. Karena, netizen akan melakukan apa saja supaya bisa mengakses internet yang dibatasi seperti menginstall VPN. Artinya, masyarakat Indonesia memang tidak bisa hidup tanpa Medsos walau hanya  1 hari. This is Real?

Hmm ... Sosmed yang dulu merupakan kebutuhan tersier, kini sudah berubah menjadi kebutuhan premier masyarakat Indonesia.
Apakah 22 Mei akan menjadi Hari Tanpa Medsos Nasional?

Friday, May 10, 2019

Samboja Jadi Ibukota Republik Indonesia?

Facebook Camat Samboja
Selasa, 07 Mei 2019. Bapak Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja ke wilayah Samboja. Tepatnya ialah mengunjungi proyek Jalan Tol Balikpapan-Samarinda di kawasan Tahura, kilometer 48.
Kedatangan beliau disambut oleh Bapak Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah, juga hadir Bapak Camat Samboja Ahmad Junaedi.

Dilansir dari akun facebook pribadi Bapak Ahmad Junaedi, Samboja menjadi salah satu wilayah yang ditinjau sebagai lokasi Ibukota Negara indonesia.
Wacana pemindahan Ibukota Negara Indonesia ini disambut baik oleh warga Samboja. Postingan Pak Camat ini mendapat banyak komentar positif dari netizen.
Ini masih wacana, belum tentu Samboja menjadi Ibukota Negara Indonesia. Karena, banyak hal yang harus dipertimbangkan terkait pemindahan Ibukota Negara Republik Indonesia.
Dari semua komentar netizen, ada satu komentar yang menarik buat saya. Yakni komentar dari Robby Farver.

Perlu kita ketahui bahwa Kecamatan Samboja memiliki luas wilayah 1.045,90 km2 dengan besar penduduk sebanyak 40.693 jiwa pada tahun 2005 (Data penduduk belum update selama 14 tahun). - [wikipedia.org]

Samboja memiliki wilayah konservasi hutan yang cukup luas. Artinya, ketika pemerintah menginginkan Samboja menjadi Ibukota Negara Indonesa. Maka kita akan mengorbankan wilayah hutan lindung dan konservasi alam yang ada di Samboja. Beberapa desa yang ada di kecamatan Samboja juga merupakan wilayah konservasi alam.

 Ada beberapa wilayah konservasi alam yang akan terganggu jika Samboja benar-benar menjadi Ibukota. Beberapa wilayah konservasi alam tersebut ialah:
1. Borneo Orang Utan Survival (BOS)
2. Wisata Bekantan Sungai Hitam
3. Taman Hutan Raya Bukit Soeharto (Luas: ± 61,85 Ha)
4. Bukit Bangkirai.

Samboja memiliki banyak wilayah konservasi alam. Jika pemerintah memilih Samboja sebagai kawasan Ibukota Republik Indonesia. Maka, Samboja harus mengorbankan wilayah-wilayah konservasi alamnya dan jelas akan merusak alam.

Dilansir dari berita antaranews: Pemindahan Ibukota RI
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengungkapkan estimasi luas pembangunan ibukota baru ialah 40.000 hektare dengan biaya sekitar Rp 466 triliun.

Dilihat dari luas ibukota yang akan dibangun, artinya akan mengorbankan seluruh wilayah konservasi alam di Samboja. Mengingat Kecamatan Samboja hanya memiliki luas wilayah sekitar 1000 hektar. Artinya, luas kecamatan Samboja hanya 2,5% dari luas kebutuhan Ibukota Republik Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan lahan-lahan konservasi yang harus dikorbankan untuk pembangunan Ibukota?
Apa kamu setuju Ibukota Republik Indonesia pindah ke Samboja dan mengorbankan wilayah konservasi alam Kalimantan Timur?

Hmm, kalau aku sendiri sebenarnya kurang setuju. Tapi, kalau pemerintah sudah membuat keputusan, apa boleh buat?
Hutan Kalimantan sebagai jantungnya dunia sudah semakin tergerus.
Kamu pernah menonton film IO?
Seperti itulah gambaran dunia kita saat hutan sebagai sumber oksigen tidak ada lagi.

Mari kita lihat kinerja Pemerintah kita. Apakah wacana Samboja sebagai ibukota ini akan benar-benar terealisasi?
Semua tergantung pada warga Samboja. Ingin mempertahankan wilayah konservasi alam atau menginginkan pembangunan seperti Ibukota Jakarta.

Kita tunggu saja ...


Saturday, May 4, 2019

Sexy Killers; Pengorbanan untuk Penguasa




Baca juga artikel saya Nobar Sexy Killers di Taman Baca

Tanggal 13 April lalu kami menonton sebuah film dokumenter yang berjudul "Sexy Killers".
Sebuah film dokumenter yang memang benar-benar terjadi di wilayah kami.
Saat menonton film Sexy Killers, juga sedang ada kegiatan hauling batubara tepat di depan rumah.

Dari film yang sudah kami tonton, saya menyadari beberapa hal yang membuat hati ini benar-benar miris.
Yang pertama, kisah nelayan yang terdampak PLTU dan kisah warga yang terdampak tambang batubara.
Tidak dipungkiri kalau masyarakat memang butuh uang untuk melanjutkan hidupnya. Sehingga, banyak juga warga yang mendukung keberadaan tambang batubara karena dianggap dapat meningkatkan perekonomian keluarga.

Yang paling miris adalah ketika kami tahu siapa saja orang-orang yang ada dibaliknya. Para pengusaha yang dengan tega membiarkan nyawa melayang demi sebuah bisnis dan keuntungan untuk mereka.

Kami, rakyat kecil tidak bisa melakukan apa-apa. Selain hanya mengikuti aturan yang diberlakukan oleh pemerintah. Bisa jadi, 50 tahun yang akan datang kami akan kehilangan rumah kami, tanah kami dan semua isinya.
Ada banyak nyawa yang melayang untuk penguasa-penguasa negeri. Sedangkan kami, tidak pernah merasakan kayanya negeri Kalimantan yang kaya akan sumber daya alamnya. Kalau kamu jalan-jalan ke wilayah terdekat dengan pertambangan batu bara. Kalian tidak akan pernah merasakan mulusnya jalan seperti jalan di ibukota.

Aku sudah sering menulis artikel tentang batu bara. Tentang infrastruktur yang tidak dibangun secara layak. Hanya beberapa kota yang merasakan pembangunan. Sedangkan wilayah yang sumber daya alamnya dikuras habis-habisan, jalannya tetap saja rusak.

Di dalam film ini, terlihat bagaimana rakyat kecil berkorban untuk penguasa. Untuk memperkaya para pengusaha dan elite-elite negeri. Pengorbanan untuk penguasa itu tidaklah sedikit. Bukan hanya untuk penguasa elite saja. Masyarakat yang terdampak tambang batu bara dan PLTU sedang berkorban untuk seluruh rakyat Indonesia agar bisa menikmati listrik dengan harga yang murah. Tak peduli berapa banyak pengorbanan rakyat kecil yang tertindas. Asalkan, semua rakyat Indonesia bisa terpenuhi kebutuhan energi listriknya dengan baik. Tidak ada lagi yang teriak-teriak karena listrik mati dan sebagainya.

Ada harga yang harus dibayar untuk memenuhi kebutuhan rakyat banyak. Dan yang paling mahal adalah harga nyawa-nyawa orang yang telah terenggut karena dampak lingkungan yang diekploitasi secara berlebihan.

Tuesday, April 23, 2019

Kreatifitas | Membuat Angpao Lebaran dari Kain Flanel

Desa Beringin Agung. Senin, 22 April 2019.

Hari ini, pukul 16.00 WITA kami berkumpul seperti biasa. Sebenarnya, waktu ngumpulnya adalah hari Minggu. Tapi, karena banyak yang tidak bisa hadir. Akhirnya jadwal ngumpup diubah jadi hari Senin.
Yang hadir hari ini adalah Mbak Rety, Mbak Anis, Mbak Suyati, Mba Eny dan Mba Erna.
Rencananya kami memang mau membuat kreasi angpao dari kain flanel. Karena, angpao tali kur yang sebelumnya sudah kami buat, sudah habis dipesan oleh Bu Kades.
Saat mereka tiba di Taman Bacaan Bunga Kertas, aku malah harus permisi keluar sebentar karena harus mengantar barang pesanan ke Desa Bukit Raya, desa sebelah.

Saat aku kembali, ibu-ibu yang super duper kreatif ini sudah menghasilkan kreasinya sendiri-sendiri.
Nah, ini nih hasil kreatifitas ibu-ibu Mamuja (Mama Muda Samboja).

Angpao karakter ini rencananya akan kami promosikan dan kami jual ke masyarakat. Baik secara offline maupun online.

Anakku juga senang sekali melihat angpao karakter ini. Selain bisa dipakai untuk menyimpan uang, bisa juga dia pakai untuk bercerita. 
Nah, fungsinya juga dapet kan untuk literasinya. Anak-anak yang punya karakter berbeda-beda bisa berkumpul dan bercerita menggunakan angpao karakter ini. Ada nilai edukasi dari angpao karakter ini.

Selain literasi baca tulis yang bisa kita dapatkan dari angpao ini. Ada penerapan literasi finansial dalam kegiatan ibu-ibu di Taman Baca ini. 
Harapan ke depannya, kegiatan di taman baca bisa menghasilkan produk atau jasa yang bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

Selain mengisi kegiatan ibu-ibu rumah tangga, pembuatan produk kerajinan ini diharapkan dapat menjadi sumber ekonomi dan menciptakan masyarakat desa yang mandiri secara finansial.

Terima kasih untuk semua pihak yang telah mendukung kegiatan-kegiatan yang ada di taman baca. Jangan lupa pesan produk-produk Mamuja ya! Selain membantu menyemangati ibu-ibu di taman baca, kamu juga sudah berdonasi untuk taman bacaan bunga kertas.


Salam Literasi ...!


Tuesday, April 2, 2019

Game Berhadiah di Taman Bacaan Bunga Kertas

Hari Senin kemarin, tanggal 01 April 2019 aku mengadakan game kecil-kecilan untuk anak-anak.
Setelah hari Sabtu sebelumnha aku membuat game tebak-tebakan berhadiah. Sekarang aku membuat game tebak kata berhadiah.

Awalnya, game ini akan aku laksanakan usai sholat dzuhur, pukul 13.00 WITA. Tapi karena anak-anaknya belum pada datang semua. Akhirnya aku undur jadi jam empat sore.
Kebetulan kakak-kakaknya juga baru datang abis ashar. Padahal sudah janjian jam satu siang. Mungkkn mereka juga punya kesibukan di rumah.
Game diikuti oleh 8 orang yang dibagi secara acak menggunakan undian menjadi 4 kelompok.
Kelompok 1 : Amel dan Ridho
Kelompok 2 : Danis dan Rika
Kelompok 3 : Diya dan Febri
Kelompok 4 : Toro dan Dafa

Game berlangsung sangat seru. Anak-anak berhasil menjawab dan ada yanh tidak menjawab sama sekali.

Semuanya juga spontan saja. Yang penting anak-anak senang.
Dan yang mendapat juara 1 yakni kelompok 4. Juara 2 diraih oleh kelompok 2.

Aku senang sekali adik-adik bisa hadir di taman baca dan mengikuti game ini. Tidak terlalu banyak yang ikuy karena sebenarnya jam empat sore adalah jadwal mereka sekolah ngaji. Seharusnya aku membuat game di hari-hari libur sekolah. Jadi, anak-anak bisa hadir semua untuk.berpartisipasi.

Tapi, ya itulah ... kegiatan taman baca sudah hampir padat. Aku juga sampai kewalahan. Padahal ini murni kegiatan sosial. Aku tidak mengambil keuntungan sama sekali. Justru memberikan mereka hadiah-hadiah ketika ada uang lebih.

Alhamdulillah ... paginya aku bertemu dengan Pak Kades dan mengungkapkan kegiatan game yang ingin aku adakan. Beliau memberikan sedikit uang untuk membeli buku sebagai hadiah untuk adik-adik.

Sebenarnya ... aku punya video keseruan bermain game ini. Hanya saja belum bisa aku upload karena komputer Taman Baca tiba-tiba rusak. Jadi, aku nggak bisa ngedit videonya. Kemarin aku sudah upload video tanpa editan dengan terpaksa. Yah .. sebenarnya itu lebih alami sih... tapi rasanya kok kurang lengkap.

Nanti akan aku upload kalau komputer sudah selesai diopname.

Beginilah suasana di Taman Baca aku. Kegiatan kecil-kecilan dan sederhana untuk anak-anak.
Hampir setiap hari memang full kegiatan. Kadang sampai gak ingat makan karena banyaknya aktivitas di taman baca.

Usai melakukan kegiatan game dengan anak-anak. Aku langsung berkumpul dengan ibu-ibu kreatif "Mamuja" di Taman Baca juga. Sampai menjelang magrib mereka masih di sini karena kebetulan hujan.

Aku hanya punya waktu jeda dari magrib sampai isya. Aku gunakan untuk menyelesaikan jahitan baju salah satu anggota Mamuja yang hadir hari itu. Kebetulan sekalian minta potongkan baju dan celana.

Usah sholat Isya, aku mengumpulkan anak-anak muda untuk membentuk divisi kreatif anak muda Samboja. Khususnya pemuda yang ada di lingkungan RT.03 dan RT.04.

Tulisan tentang perkumpulan anak muda, akan aku tulis di tulisanku selanjutnya.
Terima kasih banyak sudah mau berperan aktif dalam kegiatan taman baca. Semoga bisa membuat kegiatan-kegiatan yang lebih seru lagi. Anak-anaknya juga aktif berkegiatan di taman baca.

Terima kasih untuk masyarakat sekitar yang sudah banyak memberikan support secara moril. Semoga aku tetap bertahan menjadi orang yang peduli dengan masyarakat.
Sebab menjadi bermanfaat untuk masyarakat itu tidaklah mudah. Banyak hal yang harus kita korbankan. Jadi, mohon maaf kalau selama ini aku masih banyak kekurangan.

Monday, April 1, 2019

Nurul Jadid dalam Lomba Hadrah MTQ Ke-41 Samboja


Sabtu, 30 Maret 2019. Lomba Hadrah MTQ Ke-41 Samboja berlangsung selepas salat Isya'.
Tim Hadrah Puteri dari Nurul Jadid mendapat urutan nomor 2 dan putera mendapt urutan nomor 5. Alhamdulillah ... artinya bisa pulang lebih cepat.
Alhamdulillah lombanya berjalan lancar dan kami langsung pulang. Walau diiringi dengan dumelan karena ada kesalahan internal dan eksternal dari tim Desa Beringin Agung.





Kesalahan internalnya, backing vokal lupa larik lirik. Kesalahan eksternalnya, setting audio kurang bagus karena microphone mati di tengah-tengah atau volumenya yang terlalu kecil sehingga tidak terlalu terdengar suara musiknya.


It's Okay!
Tetap semangat ya!
Semoga tahun depan tetap semangat mengikuti lomba. Walau belum pernah menang, setidaknya "Sudah ikut tampil" kalau kata mereka. 😂
Harap maklum saja karena yang ikut lomba rata-rata adalah pekerja yang kadang nggak ketemu waktu luangnya buat latihan bareng.
Berbeda dengan anak-anak sekolah yang lebih mudah berkumpul buat latihan bareng.
Tetap semangat saja. Bersyukur Desa Beringin Agung masih ada yang mau ikut serta mengikuti lomba-lomba MTQ.
Semoga semangatnya masih terus menyala sampai tahun-tahun berikutnya.




Sunday, March 31, 2019

Pengalaman Mengikuti MKQ - MTQ Ke-41 Kecamatan Samboja


Sabtu, 30 Maret 2019 adalah tanggal pelaksanaan lomba MTQ ke-41 tingkat Kecamatan yang diselenggarakan di Kelurahan Karya Jaya, Samboja, Kalimantan Timur.
Ada beberapa macam perlombaan yang diikuti. Termasuk lomba yang aku juga ikut berpartisipasi di dalamnya yakni lomba Kaligrafi Al-Qur’an yang masih terbagi menjadi beberapa cabang yakni cabang naskah Al-Qur’an, Hiasan Mushaf, Dekorasi dan Kontemporer.

Tahun ini adalah pertama kalinya Desa Beringin Agung mengikuti perlombaan kaligrafi. Pihak Pemdes mengirim 7 perwakilanya untuk 4 cabang kaligrafi kategori putera dan puteri.

Kami sudah latihan beberapa minggu sebelum perlombaan. Hanya saja belum bisa maksimal karena sebelumnya memang tidak pernah mengikuti lomba kaligrafi. Terlebih, aku yang biasa melukis pensil sedikit kesulitan mencampur warna.

Walau latihan kami belum maksimal, aku cukup senang karena anak-anak semangat untuk mengikuti lomba.

Jam setengah tujuh pagi, kami sudah berkumpul di depan taman baca. Lalu kami menuju halaman Masjid Hidayatul Amin untuk berkumpul dengan peserta MTQ lainnya dari cabang Tilawatil Qur'an dan lainnya.

Saat kami memasuki gedung BPU milik Desa Karya Jaya yang dijadikan arena lomba kaligrafi, peserta sudah berkumpul di kursi masing-masing. Terutama di kursi belakang yang menjadi tempat favorite beberapa orang karena berbagai alasan.

Lomba berlangsung sekitar jam delapan pagi. Tepatnya aku lupa karena aku sudah keburu nervous dan tidak ingat melihat jam. Kebetulan juga tidak ada jam dinding yang dipasang di ruangan itu sampai beberapa lama. Walau akhirnya datang juga jam dindingnya dan langsung dipasangkan oleh panitia.

"Assalamu'alaikum ... hari ini kita akan melangsungkan perlombaan kaligrafi." Juri yang akan menilai karya kami mulai berbicara. "Panitia tidak menyiapkan kanvas karena mungkin harganya yang mahal. Panitia hanya menyiapkan plywood untuk cabang dekorasi dan karton untuk cabang mushaf dan naskah Al-Qur'an," lanjutnya.

Peserta mengambil plywood dan karton yang sudah disiapkan oleh panitia. Kecuali aku dan Nito karena kami membawa sendiri kanvas berukuran 60cm x 80 cm sesuai dengan persyaratan yang tertera di peraturan lomba.


Kami pun memulai lomba kaligrafi secara bersamaan sampai jam 12 siang tiba karena ada jeda 1 jam yang akan kami gunakan untuk istirahat, sholat dzuhur dan makan.

Walau hasilnya nggak sebagus gambar buatan yang lain. Setidaknya yang kami sudah mencoba membuat karya dan imajinasi sendiri. Memang melelahkan menggambar dari pagi sampai sore.

Tapi jelas kami tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya berdoa saja semoga bisa menang dan membuat anak-anak lebih giat lagi berlatih untuk tahun depan. Semoga bisa membuat karya yang bagus seperti karya-karya yang lainnya. Aamiin...

Oh ya, aku punya video hasil kaligrafi kontemporer yang keren-keren. Asli karya-karya mereka keren-keren semua...

Nah, inilah sedikit cerita pengalaman pertama aku mengikuti lomba MKQ (Musabaqah Khat Qur'an) pada MTQ ke 41 Kecamatan Samboja.

Semoga bisa lebih semangat lagi belajarnya buat aku yang masih harus belajar banyak tentang dunia seni kaligrafi.






Wednesday, March 20, 2019

Cukup Jadi "AKU" untuk Mengabdi Pada Masyarakat | Tidak Harus Nyaleg

Dokpri
Hai temen-temen, kemarin aku ada jadwal bareng pihak Pemdes (BPD) dan Bpk. Rohman (Nurul Jadid) buat cari bahan-bahan dan alat-alat kaligrafi yang akan kita pakai di lomba MTQ tingkat kecamatan akhir bulan Maret 2019.

Kita berangkat dari Samboja jam 11 pagi. Aku rada salah paham sih, kata Pak Kuat berangkatnya nunggu Pak Rohman pulang sekolah, jam 11. Jadi, aku pikir Pak Rohman pulang sekolahnya jam 11. Akunya malah santai-santai. Jam sebelas ketika mobil Pak Rohman udah di depan rumah, akunya masih mandi. Hahaha ...

Alhasil, harus nungguin aku kelar semuanya baru berangkat. Tapi, nggak terlalu lama juga sih karena aku mandinya nggak lama-lama amat dan si kecil juga udah siap duluan dari jam sepuluh pagi. Mamanya aja yang lelet.

Kami sampai di Balikpapan saat azan Dzuhur. Kebetulan, Bu Misna (Istri Pak Rohman) juga sedang ada keperluan di daerah Ruko Bandar Klandasan. Aku dan yang lainnya menyempatkan diri untuk sholat Dzuhur di Masjid Baitul Aman Polres Balikpapan.

Setelah sholat, kami berkeliling untuk mencari alat-alat kaligrafi di toko grosir yang menyediakan perlengkapan menggambar dan melukis. Kami memang tidak masuk ke Gramedia. Karena kami sudah pernah ke sana dan peralatan yang kami cari tidak ada.

Usai mendapat semua peralatan yang kami cari sudah lengkap. Kami langsung cari makan, Bakso Popeye yang terletak di Balikpapan Baru jadi tempat tujuan kami.

Di sini ada banyak aneka menu bakso. Dari yang paling kecil sampai yang paling besar.  Bisa dilihat gambar di atas untuk melihat daftar menu baksonya.

Aku senang sekali karena bakso di sini memang enak. Bakso Jumbo isinya daging cincang. Dagingnya nggak amis dan nggak berlemak. Rasa kuahnya juga enak banget. Ini bisa jadi salah satu bakso favorite karena rasanya emang gurih, pentol baksonya juga lembut banget. Pokoknya, ini enak banget deh. Buat yang penasaran, silakan langsung datang ke Ruko Balikpapan Baru yang letaknya tidak jauh dari Mall Balikpapan Baru. Bangunan-bangunan di wilayah sini memang terlihat sangat bagus, bersih dan rapi.

Udeh ya, aku nggak bisa banyak-banyak ceritain soal Bakso Popeye karena aku nggak di-endorse, wkwkwk. Takutnya nanti kalian ngiler kalau aku ceritain detil banget.

Aku mau kasih lihat peralatan kaligrafi yang bakal dipakai anak-anak nantinya, termasuk aku juga. Desa Beringin Agung akan mengirimkan 8 peserta untuk lomba kaligrafi untuk 4 cabang, yakni :
1. Cabang Penulisan Naskah Al-Qur'an (Putera & Puteri)
2. Cabang Mushaf (Putera & Puteri)
3. Cabang Dekorasi (Putera & Puteri)
4. Cabang Kontemporer (Putera & Puteri. 

Itulah alasannya kenapa kami harus membeli peralatan untuk mengikuti lomba tersebut. Aku sendiri masih nggak paham kenapa semua peralatan harus kami sediakan sendiri. Sementara, hasil lukisannya kemungkinan menjadi hak panitia. Apa ini salah satu cara panitia ingin memiliki gambar karya peserta tanpa membayar sepeser pun. Yah, setidaknya ada uang untuk mengganti biaya cat yang kami gunakan. Makanya, kalau boleh diminta untuk dibawa pulang, itu adalah pilihan terbaik karena biaya yang sudah dikeluarkan tidak sedikit. Terlebih dari Desa Beringin Agung, pertama kalinya mengikuti lomba kaligrafi ini. Sehingga, kami juga belum benar-benar paham mekanisme lomba kaligrafi ini.





Ini dia peralatan lomba kaligrafi yang kami siapkan untuk 8 peserta yang akan mengikuti lomba MTQ ke-42 cabang kaligrafi. Kalau dilihat memang sedikit banget, tapi harganya sudah hampir 1,5 juta dan masih ada peralatan yang tidak kami temukan. Walau semua dibiayai oleh desa, aku juga mikir waktu belanjanya. Mikir supaya bisa sehemat mungkin tapi hasilnya bisa maksimal mengingat media yang digunakan dalam lomba ukurannya lumayan besar. Sekitar 60x80 cm untuk kontemporer.

Yah, harapannya semoga Desa Beringin Agung bisa melahirkan seniman-seniman kaligrafi dan menginspirasi banyak anak muda untuk mengisi waktu luangnya dengan berkegiatan positif. Semoga saja kami bisa mendatangkan pelatih kaligrafi profesional agar ke depannya bisa menjadi lebih baik lagi, tidak berhenti hanya di sini saja.


Salam kreatif...!

Terima kasih untuk banyak pihak yang sudah membantu dan mendukung kegiatan-kegiatan sosial saya. Semoga bisa terus memberikan manfaat untuk banyak orang. Aku tidak begitu banyak show up tentang diriku dan kegiatan-kegiatanku. Nanti dikiranya mau pamer, hehehe .... Padahal, emang iya sih. Tapi, tujuan show up untuk menginspirasi orang lain agar terus berkarya dan mengabdi pada masyarakat tanpa mengharap diberi upah. Emangnya siapa yang mau ngasih upah? Niatnya ingin membantu orang lain, bukan ingin dibantu, hehehe.
Mengabdi pada masyarakat tidak harus menjadi seorang caleg, cukup jadi "AKU" saja dan mendapatkan dukungan dari masyarakat sekitar.



Kunjungan dari PHSS (Pertamina Hulu Sanga-Sanga) dan Yayasan Taman Kita


Beringin Agung, 16 Maret 2019

Sabtu pagi, taman baca mendapat kesempatan untuk bertemu dengan kawan-kawan literasi di Balikpapan yakni Yayasan Taman Kita dan pihak PHSS (Pertamina Hulu Sanga-Sanga).

Jam sepuluh pagi, mereka sudah datang ke Taman Baca dan kami berdiskusi dengan pihak PHSS ( Bpk. Hidayah & Bpk. Efendi Zarkasi) dan Yayasan Taman Kita ( Mbak Inne, Mbak Yusna, Mas Adine, Mas Rendi, Mas Danar, Mas Iswahyudi dan Mas Edi).

Yayasan Taman Kita adalah yayasan yang bergerak dalam kegiatan Sosial and Education. Kalau Pertamina Hulu Sanga-Sanga, saya rasa semua masyarakat Indonesia sudah mengenal nama Pertamina.
Kami berdiskusi untuk menyusun program taman baca ke depannya.

Dari hasil diskusi yang terjadi selama beberapa jam. Kami mendapat gambaran tentang program-program taman baca ke depannya.

Saya senang sekali karena ada teman-teman dari Yayasan Taman Kita yang sudah bersedia membantu, meluangkan waktu dan pikirannya untuk membantu program kegiatan di taman baca. Mereka memang orang-orang yang ahli di bidang pengembangan literasi, sedangkan aku masih termasuk baru berkecimpung di dunia literasi dan masih perlu banyak belajar.

Bukan hanya dari pihak PHSS (Pertamina Hulu Sanga-Sanga) dan Yayasan Taman Kita yang hadir, tapi juga ada pihak Pemerintah Desa yakni BPD yang juga ikut bergabung dalam diskusi ini.

Harapan ke depannya taman baca bisa berkembang menjadi lebih baik lagi. Berkat dukungan dari masyarakat, pihak Pemerintah Desa, Yayasan Taman Kita dan Pertamina Hulu Sanga-Sanga.

Apa saja program-program yang akan kita jalankan di taman baca?
Ikuti terus ya kegiatan-kegiatan taman baca ke depannya.

Sampai hari ini, kegiatan aktif yang sudah berjalan yakni perkumpulan ibu-ibu kreatif dengan nama "Mamuja" dan latihan kaligrafi. Bisa dilihat profilnya di halaman Taman Literasi.

Terima kasih untuk pihak-pihak yang sudah membantu berdiri dan berjalannya aktivitas di taman baca.
Semoga ke depannya taman baca bisa memberikan manfaat bagi warga sekitar khususnya dan seluruh generasi muda Indonesia pada umumnya.



Terima kasih,


Rin Muna (Founder Taman Baca Bunga Kertas & Mamuja)

Monday, March 11, 2019

Kunjungan CEO Heart & Soul Publisher House ke Taman Bacaan Bunga Kertas


Tulisan ini pertama kali dibuat untuk Kaskus.id


Februari 2019, genap 1 tahun aku mendirikan sebuah Taman Baca di Desa Beringin Agung, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, Kaltim. Taman Baca itu aku beri nama Taman Bacaan Bunga Kertas karena Bunga Kertas adalah salah satu bunga yang tidak mudah mati, bunganya indah dan berduri, supaya bisa melindungi dirinya dari tangan-tangan jahil.

Taman baca ini aku dirikan secara mandiri usai aku berhenti bekerja sebagai akunting di salah satu perusahaan swasta.
Alhamdulillah... dalam waktu satu tahun, taman bacaan ini sudah bisa berkembang pesat karena kepedulian dari teman-teman penulis dan beberapa donatur yang ikut memberikan sumbangsihnya.

Hari ini, aku kembali kedatangan salah satu teman yang juga penulis hebat asal kota Balikpapan. Yakni Mbak Indah Priha T. (CEO Heart & Soul Publishing House). Dia ke sini tidak sendiri, dia mengajak tiga anaknya dan suaminya ikut serta. Kedatangan dia ke sini memang untuk memberikan donasi berupa buku-buku bacaan ke taman bacaku.

Awalnya aku tidak yakin kalau dia mau ke sini. Waktu aku share lokasi via Whatsapp, langsung saja aku bilang, "Jangan kaget lihat lokasinya karena di pelosok!". Mbak Indah hanya membalasnya dengan emot tertawa. Eh!? Tertawa atau ketawa ya? Karena beda tuh maknanya. Kalau tertawa adalah tawa yang disengaja, sedangkan ketawa biasanya nggak disengaja karena lihat video lucu misalnya. 😅

Aku bener-bener dibikin kaget waktu mobil mereka tiba-tiba terparkir di depan rumahku menjelang sore. Dia bilang, sampai kesasar-sasar untuk bisa sampaj ke tempatku. Karena saat itu ponselku memang tidak mendapat sinyal dan sulit untuk dihubungi. Sepertinya mbak Indah menelepon nomor suamiku, jadinya agak kesulitan. Tapi aku bersyukur mereka akhirnya bisa sampai ke sini. Maklum, tempatnya memang benar-benar di pelosok desa. Jadi... lumayan capek banget buat ke sininya.

Di desa tempat aku tinggal memang minim akses informasi dan transportasi. Padahal, bisa dibilang Samboja memiliki kekayaan alam yang cukup banyak. Di sekitar rumahku saja ada banyak perusahaan tambang batu bara, minyak bumi dan perkebunan sawit. Tapi, tetap saja tidak membuat infrastruktur jalan lebih baik dari Ibukota. Sekalipun hasil tambangnya banyak, kami tidak pernah merasakan mulusnya jalanan seperti jalanan Ibukota.

Duh, kok jadi curhat ya? Maklum lah ya, kalau soal jalanan emang selalu bikin sensi, bisq dibilang iri juga sih. Supaya pemerintah itu lebih mengutamakan infrastruktur di daerah terutama daerah yang sumber daya alamnya dikuras abis. Tapi, apalah daya kami ini hanya rakyat kecil yang tidak bisa apa-apa. Mungkin harus bersabar menunggu antrean pembangunan daerah.

Karena kondisi jalan yang sulit dan lokasi yang ada di pelosok, aku seringkali tidak tega kalau mau ada teman yang berkunjung ke sini. Biasanya, lebih baik aku yang keluar menemui mereka ke kota. Karena bagiku, aku sudah terbiasa dengan jalanan yang rusak sehingga tidak begitu terasa.

Terlebih lagi ketika aku tahu kalau Mbak Indah mau ke sini. Rasanya aku minder karena memang aku tinggalnya di pelosok desa dengan kondisi rumah yang bisa dibilang tidak layak. Lebih layak untuk kandang sapi saja.

Dan ternyata Mbak Indah orangnya baik banget. Dia dan anak-anaknya tetap merasa nyaman dengan kondisi rumahku yang apa adanya. Tidak seperti yang aku bayangkan. Mungkin aku kebanyakan nonton sinetron yang dimana orang kaya selalu merendahkan orang miskin. Tapi, Mbak Indah tidak seperti itu. Dia sangat ramah, baik dan nyaman banget. Juga ketiga anaknya yang masih kecil-kecil. Sepertinya mereka sudah diajarkan menjadi orang yang sederhana meskipun kehidupan mereka bisa dibilang berada.

Ini bukan pertama kalinya aku mendapat kunjungan dari teman-temanku di Balikpapan. Sudah ada beberapa teman yang memang sengaja datang untuk memberikan donasi buku ke taman baca.

Aku memang bukan orang kaya. Tapi aku tidak perlu menunggu jadi kaya hanya untuk bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitarku. Bagiku, rejekiku sudah digariskan oleh Allah dan tidak akan berkurang sedikitpun walau banyak rizki yang aku berikan untuk orang lain. Sebab Allah juga yang mengetuk hatiku untuk peduli pada sesama, maka Dia tidak akan membiarkan aku berada dalam kesulitan. Selalu ada pertolongan-Nya ketika aku dalam keadaan paling sulit sekalipun.

Satu hal yang aku harapkan, semoga aku tidak pernah berubah walau kini Allah sedang mengujiku dengan kesulitan. Aku ingin tetap bisa bermanfaat. Kalau bisa, aku justru ingin mendirikan lagi taman baca di pelosok-pelosok desa supaya bisa memberikan mereka manfaat. Anak-anak di pelosok desa juga punya hak untuk mendapatkan akses informasi agar mereka tidak terus-menerus tertinggal, baik secara informasi maupun ekonomi.

Terima kasih untuk teman-teman penulis di seluruh Indonesia yang sudah banyak membantu saya.

Ini tulisan pertama saya di Kaskus dan semoga bisa terus menerus memberikan manfaat dari tulisan-tulisan saya.

Terima kasih untuk kawan-kawan yang sudah berkenan membaca tulisan saya. Semoga membuatku semakin semangat untuk menulis di sini.


Salam hangat, 

Rin Muna
Samboja, 10 Maret 2019
1

Saturday, March 9, 2019

Pelatihan Kontruksi Bangunan Smart Academy


Beberapa waktu lalu aku mengikuti sebuah pelatihan di Smart Academy Samarinda yakni pelatihan Kontruksi Bangunan.
Selama 3 hari di sana aku mendapatkan banyak ilmu yang semoga saja bisa bermanfaat ke depannya untuk pembangunan desa tempat tinggalku.
Jelas banyak yang bingung kenapa aku bisa mengikuti pelatihan ini. Aku juga tidak mengerti kenapa Pak Kades menunjuk aku untuk mengikuti pelatihan ini. Padahal, sebenarnya aku bukanlah perangkat atau staff desa. Aku hanya menjabat sebagai sekretaris BUMDes (Bahan Usaha Milik Desa).
Dalam waktu 3 hari aku mendapatkan materi merancang bangunan menggunakan aplikasi autocad. Sedikit rumit sih aplikasinya. Tapi karena mungkin aku sudah tidak asing dengan menu-menu dan istilah-istilah di komputer, aku bisa dengan mudah mengikuti materi yang disampaikan oleh Pak Doddy (Dinas PU) yang disampaikan dengan cepat karena waktu kami memang tidak banyak.
Selain diajari menggambar kontruksi bangunan, kami juga belajar menyusun RAB yang baik dan benar.
Tentu saja pengalaman ini menjadi pengalaman yang terbaik buatku. Mengingat cita-cita konyolku sewaktu remaja ingin menjadi seorang arsitek. Namun, karena biaya sekolah arsitek tidaklah murah, aku memilih bekerja di sebuah perusahaan swasta usai lulus sekolah menengah.
Terima kasih untuk waktu dan ilmunya. Semoga ilmunya bisa bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

Thursday, February 28, 2019

Literasi | Taman Bacaan Bunga Kertas dan Kawan Baca

Hai ... teman-teman!
Apa kabarnya hari ini?
Semoga selalu baik dan diberkahi setiap langkah hidupnya ya!

Hari ini aku mau buat PhotoStory.
Hmm ... maksudnya buat story dari photo yang mengingatkanku padw momen-momen tertentu. Cerita keseharian yang ingin aku tulis dan abadikan sebelum aku terserang demensia atau alzheimer.

Foto di atas adalah gambar yang menunjukkan logo Taman Bacaan Bunga Kertas dan beberapa buku bacaan. Pasti, kalian semua akan menebak kalau foto ini diambil di taman baca aku yakni Taman Bacaan Bunga Kertas kan? Hmm ... salah banget! Karena foto ini adalah buku-buku koleksi milik Kawan Baca yang didirikan oleh Mas Fadli. Mas Fadli adalah pengusaha digital printing di wilayah Handil. Sehingga, dia juga yang membuatkan spanduk taman bacaku, beliau kasih secara cuma-cuma alias gratis.

Di usia taman bacaku yang masih seumur jagung, aku mendapat sambutan baik dari senior-seniorku yang jauh lebih dahulu bergerak menjadi relawan literasi.

Tanpa aku minta, Mas Fadli membuatkan spanduk Taman Bacaku. Ada perasaan bahagia tersendiri ketika Mas Fadli mengirimkan foto ini. Aku bahkan tidak menyangka kalau logo taman bacaku bisa ada di dalam ruang baca milik Kawan Baca yang didirikan oleh Mas Fadli.

Sampai saat ini, aku belum berkesempatan untuk berkunjung ke Kawan Baca. Lokasi taman bacaku dengan taman baca milik Mas Fadli memang lumayan jauh. Terlebih lagi kegiatan di taman bacaku yang mulai padat. Membuat aku akhirnya sulit untuk keluar dari rumah karena hampir setiap hari ada kegiatan. Yah... walau kegiatannga hanya kecil-kecilan saja. Itu sudah membuat kegiatanku cukup padat. Karena di samping sebagai ibu rumah tangga yang sibuk mengurus rumah dan anak-anak. Aku juga punya kegiatan kreatif termasuk dalam hal menulis. Hehehe...

It's okey!

Aku abadikan foto ini dalam ceritaku. Supaya Taman Bacaan Bunga Kertas dan Kawan Baca bisa berjalan bersama-sama dan berdampingan dalam memajukan literasi di Indonesia.


Salam literasi ...!

Terima kasih untuk pembaca yang udah setia membaca cerita-cerita aku.

Jangan lupa subscribe ya! 😉😉😉


Thursday, February 21, 2019

Kisah Terbentuknya Komunitas Kreatif "MAMUJA" di Samboja


Sumber Ilustrasi : pexels.com/rawpixel

Desa Beringin Agung, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara.

Hari minggu, tanggal 03 Februari 2019 aku dan beberapa teman ibu-ibu Samboja berinisiatif untuk ngumpul bareng.
Tepat pukul 16.00 WITA, ibu-ibu muda sudah berkumpul di ruangan Taman Bacaan Bunga Kertas. Aku bahagia karena mereka bersedia untuk datang memenuhi undanganku.

Awalnya, aku pesimis ketika akan mengumpulkan ibu-ibu untuk berkumpul. Niat untuk membuat perkumpulan ibu-ibu ini awalnya aku utarakan pada Mbak Anis (Crafter) dan Mbak Rety (Crafter) ketika mereka datang ke Taman Baca untuk meminjam buku. Niatku ini disambut baik oleh mereka dan mereka menyetujui niatku untuk membuat perkumpulan ibu-ibu kreatif.
Akhirnya, aku menghubungi beberapa orang yang ada di kontak WA-ku. Alhamdulillah mereka bersedia untuk hadir. Ada 9 orang yang hadir pada pertemuan pertama itu.
Dari pertemuan tersebut, kami sepakat untuk membentuk sebuah komunitas ibu-ibu kreatif yang diberi nama "MAMUJA". Mamuja sendiri merupakan akronim dari Mama Muda Samboja.

Silahkan lihat video ini untuk melihat kegiatan pertama kami berdiskusi.


Ada beberapa point hasil diskusi yang telah kami rangkum. Hal yang paling penting adalah bagaimana kami bisa membangun solidaritas dan loyalitas untuk saling berkumpul dalam visi dan misi yang sama. Saling memahami kekurangan masing-masing, sebab itu adalah hal yang paling sulit untuk kita lakukan. Kita bisa mempromosikan diri kita lebih baik dari orang lain, namun terkadang kita lupa kalau kita memiliki kekurangan. Oleh karenanya, kita juga harus bisa memahami kekurangan orang lain agar kita bisa seterusnya menjalin silaturahmi yang baik.

Yang penting ibu-ibu mau ngumpul dulu. Ke depannya seperti apa, akan kami diskusikan sambil berjalan. Oleh karenanya, dalam perkumpulan ibu-ibu muda ini belum ada yang namanya struktur organisasi. Belum ada ketua atau bendahara. Semuanya menjadi tanggung jawab bersama. Program kerjanya pun akan kami susun sambil berjalannya kegiatan ini.

Kami berharap bisa terus ngumpul seperti ini sampai seterusnya. Ibu-ibu bisa berkreasi sembari bermain dengan anak-anaknya. Tentunya, kami berharap kegiatan ini bisa memberikan manfaat bagi warga Desa Beringin Agung demi terwujudnya masyarakat yang mandiri dan berkesinambungan. Saya sendiri tidak ingin kegiatan ini hanya hangat-hangat tahi ayam. Maksudnya, hanya eksis di awal-awal kemudian lambat laun semangatnya mengendur. Saling menyemangati dan memotivasi tentunya menjadi salah satu hal utama agar kegiatan komunitas ini dapat berjalan dengan baik.

Dan inilah akhirnya...
Kami membentuk sebuah komunitas Mama Muda Kreatif yang aktif dan produktif. Kami sepakat untuk ngumpul rutin setiap hari Kamis dan Minggu sore. Dengan seringnya hadir atau ngumpul, maka solidaritas dan rasa kekeluargaan akan terbentuk dengan baik.



Terima kasih untuk Mama Muda Samboja ...!
Semoga kita selalu bisa memberikan motivasi dan inspirasi untuk anak-anak penerus bangsa. Menjadi masyarakat yang mandiri dengan pemberdayaan ekonomi kreatif.


Tuesday, January 22, 2019

Membuat Hiasan Dinding dari Stick Ice Cream

Dok. Pribadi My Facebook
Hari ini, aku kedatangan beberapa remaja yang sering nongkrong si taman baca. Sebenarnya, sejak siang hari mereka sudah bergantian ada di sini. Ada yang membaca buku, ada yang ke sini sekedar untuk bermain dan sebagainya.

Sore hari, Gugun baru saja datang. Ia bersekolah di SMA Negeri 1 Samboja, sekolahnya lumayan jauh sehingga sampai rumah sudah agak sore. Hari sebelumnya, ia dan beberapa anak sudah berlatih membuat lukisan dengan media cat minyak dan stick ice cream. Jadi, ketika ia datang, dia langsung bertanya. "Bikin lagi kah, Mbak?" Langsung saja aku jawab, "Buatlah." karena saat ia datang, aku sedang sibuk membuat bross.

Akhirnya, Aisyah, Evi dan Budi kembali melukis di atas stick ice cream menggunakan cat minyak. Sebenarnya, lebih mudah menggunakan cat akrilik, lebih mudah dibersihkan dan cepat kering. Namun, karena aku hanya punya stock cat minyak, itulah yang aku pakai. Daripada beli baru, duitnya juga nggak ada. Akhirnya pakai bahan seadanya saja. Yang penting kreatif dan mereka nggak protes dengan alat dan bahan yang seadanya.

Aku bahagia mereka bisa berkunjung ke sini walau hanya mengisi waktu luang dengan menggambar. Mereka juga tak lepas dari akses informasi digital sesuai dengan zamannya. Sekarang sudah zamannya semua serba instan. Bahkan, dalam dunia digital kita bisa memperoleh akses informasi dengan mudah.
Seiring dengan program pemerintah yang akhirnya bisa memberikan kemudahan akses untuk desa dengan memasang jaringan wifi. Hanya wifi inilah satu-satunya jalan akses untuk mendapatkan informasi seluas-luasnya. Karena kalau jaringan seluler biasa, sulit sekali mendapatkan signal. Terlebih mau mengakses internet.
Dengan adanya akses internet, anak-anak aku ajari mencari sumber referensi seni yang menarik kemudian mengaplikasikannya dalam kegiatan sehari-hari.
Tak jarang aku mendengar mereka mengeluh. "Bikin apa ya? Nggak bisa mikir nah mau bikin apa," celetuknya ketika baru memulai.
Namun, ketika diarahkan, anak-anak mampu bereksplorasi dengan sendirinya dan menghasilkan sebuah karya.
Ada yang takut gambarnya jelek sehingga tidak mau melatih dirinya untuk menggambar karena malu dengan teman lain yang sudah lebih baik. Namun, aku selalu mengatakan kalau tidak ada karya yang jelek. Semua karya itu bagus. Tinggal bagaimana cara menikmatinya saja. Itu bagian dari menyemangati agar anak-anak tak patah semangatnya.
Tidak melulu mengatakan hal yang baik-baik. Terkadang aku juga bercanda sambil bilang "Jelek." ketika melihat karya mereka. Bukan dengan maksud untuk menjatuhkan mental yang sedang belajar, tapi untuk menguatkan mentalnya agar bisa menjadi lebih baik lagi. Kalimat yang dibubuhi dengan candaan biasanya lebih santai, tidak membuat jiwa anak-anak down karena komentar yang belum baik. Memberi pengertian pada mereka menjadi salah satu solusi untuk membuat mereka bisa lebih bersemangat lagi dalam belajar dan berlatih.
Di taman baca, aku tidak mengharuskan anak-anak belajar secara formal. Mereka lebih banyak belajar bersosialisasi, belajar mengenal lingkungan dan belajar membaca setiap fenomena atau peristiwa yang ada di sekitar mereka.
Sebab literasi tidak hanya bergelut pada baca tulis, walau dasarnya memang baca tulis dan difokuskan pada anak-anak. Kalau di taman baca yang mayoritasnya anak remaja. Tentunya menjad sebuah tantangan tersendiri. Membuat mereka mampu membaca kejadian-kejadian di sekitarnya, menganalisa dengan baik dan mengaplikasikannyad alam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu bentuk literasi.
Demikian sedikit cerita yang bisa aku bagi hari ini.
Karena aku sudah ngantuk berat dan harus tidur.
Sampai bertemu esok lagi.
Semoga ada cerita-cerita indah yang bisa aku bagikan untuk para pembaca dan kalian para pejuang literasi.


Video Membuat Hiasan Dinding dari Stick Ice Cream
Samboja, 22 Januari 2019

Meet & Greet Red Riding Book Part.3 | Pasar Buku Sehari

Dok. Pribadi 13 Oktober 2018
13 Oktober 2018 saya diminta oleh pihak Heart & Soul Publishing House Balikpapan untuk mengisi salah satu acara di Plaza Kebun Sayur. Saya diajak untuk Meet & Greet dengan kawan-kawan literasi. Duh, kok berasa punya fans ya pakai acara Meet & Greet segala? wkwkwk...
Kebetulan hari itu aku diberi kepercayaan untuk meramaikan acara tersebut, menjadi salah satu perwakilan Duta Baca Kaltim 2018 dan juga Founder Taman Bacaan Bunga Kertas.

Di sini saya bertemu dengan dua penulis hebat asal Balikpapan. Yakni, Mba Ayu Emil ( Penulis buku IN PLAZA) dan Mbak Kaka HY (Penulis Gagas Media). Dari mereka aku belajar banyak tentang bagaimana menjadi penulis yang baik. Bagaimana caranya mendapatkan ide cerita dan karya kita original dengan mengangkat tema di sekitar lingkungan kita. Inspirasi bisa datang kapan saja dan di mana saja. Bahkan memang sering muncul ketika kita sedang berada didalam kesibukan dan kesulitan untuk mengeksekusi ide tersebut, akhirnya nanti lupa.

Kalau Mbak Ayu Emil dan Mbak Kaka HY berbagi pengalaman tentang dunia kepenulisan. Hari itu saya berbagi pengalaman menjadi seorang Juara Favorite Duta Baca Kaltim 2018 sekaligus pengalaman saya dalam membuat sebuah Taman Bacaan. Taman Bacaan yang saya berdirikan secara mandiri dan harapan saya bisa membuka taman baca di daerah-daerah lain terutama daerah yang minim akses transportasi dan informasi.

Dari apa yang saya lakukan, saya mendapatkan kebahagiaan tersendiri. Dan saya tahu bahwa saya tidak sendiri. Ada banyak orang yang bisa mengisi hari-hari saya terutama anak-anak yang sering berkunjung ke taman baca. Mereka bukan hanya sekedar datang, duduk diam untuk membaca. Tapi, mereka juga bisa bermain bersama, saling berbagi cerita dan bersosialisasi. Mereka juga sering belajar bareng di taman baca. Atau mengerjakan tugas-tugas sekolahnya di sini. Aku menjadi salah satu pendengar dan sahabat mereka. Tak ingin ada jarak yang terlampau jauh, jangan heran kalau semua anak-anak taman baca memanggilku "Mbak", bukannya dipanggil "Ibu". Bagiku, anak-anak adalah sahabat, mereka akan tumbuh menjadi remaja dan dewasa.

Itulah sedikit cerita yang aku bagi di acara Red Ridding Book yang diselenggarakan oleh Heart & Soul Publishing House, NBC ( Nulis Buku Club) dan beberapa komunitas yang ikut berpartisipasi di dalamnya.
Di sini, aku juga sempatkan untuk membeli buku-buku yang dipamerkan dan dijual di acara tersebut.
Oh ya, kebetulan dalama acara ini juga ada penampilan dari Atap Jerami dan pelelangan karya lukisan untuk korban gempa dan tsunami di Palu.

Semoga acara seperti ini menjadi ajang untuk mencapai Indonesia menjadi bangsa yang literat.


Salam Literasi untuk Negeri ...!

Sunday, January 20, 2019

Minta Sumbangan Warga Untuk Taman Baca


Beberapa waktu lalu, salah seorang anak remaja yang sering ke taman baca mengeluhkan beberapa hal. Seperti, stok alat tulis dan alat lukis yang sudah menipis bahkan hanya sisa-sisa yang sudah tidak bisa digunakan lagi.
Ada inisiatif yang muncul dari benak mereka ketika mereka mau menggambar dan aku sudab tidak punya uang untuk membeli cat warna.
"Mbak, gimana kalau kita keliling minta sumbangan ke warga?" tanya Gugun beberapa waktu lalu.
Pertanyaannya tidak perlu membuatku berpikir panjang untuk menjawab. Aku langsung bilang "Jangan!"
Aku tahu, sebuah taman baca yang aku buka secara mandiri, dengan biaya sendiri tentunya akan terasa sangat berat terlebih aku memang tidak punya penghasilan yang tetap. Tapi, setiap bulannya aku harus berusaha mendapatkan donasi buku, atau membeli buku baru dengan uang pribadi.
Sebuah tantangan yang berat ketika ingin memfasilitasi anak-anak namun kemampuan yang aku miliki terbatas.
Kenapa aku tidak mau meminta sumbangan ke rumah-rumah warga sekitar seperti yang dilakukan panitia HUT RI atau HUT Desa ketika akan menyelenggarakan sebuah acara? Bukannya sah-sah saja?
Warga juga tidak akan keberatan jika dimintai sumbangan untuk membelikan alat tulis maupun alat lukis. Tapi, aku hanya tidak ingin jika ada warga yang memang sebenarnya keberatan. Maka, aku ingin masyarakat sekitar bisa sadar dan membantu aktivitas di taman baca. Sebab, aku belum mampu memberikan yang terbaik untuk warga. Aku mau mereka yang datang ke taman baca dengan hati ikhlad jika memang ingin menyumbang atau berdonasi untuk taman baca.
Aku lebih memilih donasi berupa barang daripada dalam bentuk uang. Misalnya, berdonasi buku, rak, meja, kursi dan lain-lain.
Aku tidak mau meminta sumbangan karena banyak alasan yang sudah aku pertimbangkan sejak awal aku mendirikan taman baca. Walau anak-anak bisa belajar secara gratis, berkreatifitas sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Menggunakan alat tulis maupun alat lukis tanpa membayar. Alat-alat itu aku dapatkan dari donasi teman-teman seniman di Balikpapan yang telah menggalang dana untuk taman bacaku.
Alhamdulillah, walau belum ada warga yang ikut peduli dengan taman bacaan yang aku buat. Ada beberapa teman penulis yang peduli dan mengirimkan donasi buku ke taman baca. Rata-rata semua donasi buku aku terima dari pulau Jawa. Selebihnya aku beli sendiri.
Hingga saat ini baru ada sekitar 800 buku di taman baca. Masih sangat jauh dari jumlah yang seharusnya yakni 5000 buku. Semoga saja taman bacaku bisa semakin berkembang dan koleksi bukunya semakin banyak.
Dan sampai hari ini, hampir setahun taman baca yang aku dirikan sudah mendapat bantuan dari beberapa rekan penulis, teman-teman pelaku seni dan perusahaan terdekat.
Silahkan follow instagram @tbm.bungakertas lihat di video ini untuk melihat aktivitas di taman baca:


Saya berharap, taman baca ini bisa menjadi pusat belajar dan berkreasi untuk anak-anak, remaja dan pemuda-pemudi desa Beringin Agung. Saya juga sedang mencoba membuat tempat untuk berjualan di sebelahnya, supaya saya bisa menghasilkan uang sendiri untuk taman baca dan menambah koleksi buku tanpa harus mengandalkan donasi yang tidak bisa dipastikan ada setiap minggu atau setiap bulannya.
Ukuran bangunannya memang masih sangat kecil dan kadang sampai harus masuk ke ruangan pribadi rumah saya. Tapi, itu tidak menjadi masalah bagi saya, yang penting mereka mau berkumpul di sini dan saya bisa melihat apa yang mereka lakukan tidak melanggar norma dan etika di masyarakat.
Mereka wajib membaca buku terlebih dahulu sebelum bermain bersama.
Terima kasih untuk semua pihak yang telah mendukung adanya taman baca ini. Semoga bisa bermanfaat untuk masyarakat desa Beringin Agung pada khususnya dan seluruh warga Indonesia di mana pun anda berada.

Salam literasi...!

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas