3F - Fict Feat Fact

Showing posts with label Kabar Berita. Show all posts
Showing posts with label Kabar Berita. Show all posts

Monday, July 22, 2019

Pelatihan PKK Membuat Bunga dari Plastik oleh Mamuja

Minggu, 21 Juli 2019.
Kelompok PKK Desa Beringin Agung melaksanakan pelatihan membuat karya kerajinan tangan dari plastik.
Alhamdulillah ... Mamuja (Mama Muda Samboja), klub ibu-ibu kreatif yang aku bentuk sebagai bagian dari Taman Bacaan Bunga Kertas diberi kepercayaan untuk menjadi pelatih ibu-ibu PKK yang ada di Desa Beringin Agung.
Pelatihan berlangsung dari jam 14.00 s.d 16.00 WITA diikuti oleh anggota PKK.
Ibu-ibu terlihat sangat antusias membuat bunga dari plastik. Karena, bunga dari plastik ini sangat ekonomis, bahannya mudah sekali didapat dan tentunya bisa mengurangi volume sampah di lingkungan. Seharusnya, pelatihan ini menggunakan plastik bekas, namun karena nyari sampah plastiknya lumayan susah, akhirnya kami memilih menggunakan plastik baru untuk belajar. Harapannya, ibu-ibu rumah tangga di wilayah Desa Beringin Agung semakin cerdas dan kreatif dalam memanfaatkan sampah-sampah rumah tangga.
Aku juga turut bahagia karena ibu-ibu mau berpartisipasi dalam dunia kreatif dan lingkungannya. Sebagai salah satu kandidat Pemuda Pelopor Tingkat Nasional, aku harus selalu menumbuhkan semangat warga untuk berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang membangun desa juga mensejahterakan masyarakatnya.
Kegiatan-kegiatan edukasi seperti inilah yang menjadi salah satu kegiatan yang mampu mendorong dan menginspirasi masyarakat luas.
Saya berharap ke depannya Desa Beringin Agung bisa berkembang menjadi desa yang lebih baik dan lebih maju lagi. Seluruh lapisan masyarakat dapat bersinergi dalam membangun desa mandiri.
Kegiatan-kegiatan yang saya lakukan memang murni kegiatan sosial tanpa mengharapkan imbalan. Bila ada donatur yang memberikan bantuan, langsung saya serahkan ke Taman Baca atau Mamuja untuk pengembangan kegiatan-kegiatan kreatif.
Terima kasih untuk seluruh warga desa Beringin Agung yang telah berkenan memberikan dukungannya untuk saya dan Taman Bacaan Bunga Kertas.
Hasil Karya Pelatihan



Sunday, July 21, 2019

Musrenbangdes 2020 Beringin Agung

www.rinmuna.com
Rabu, 17 Juli 2019. Pemerintah Desa Beringin Agung melaksanalan Musrenbangdes (Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa) Tahun 2020.
Musrenbangdes mengundang seluruh lembaga dan tokoh masyarakat yang ada di desa.
Diungkapkan oleh Pak Budi selaku Kasi PMD dan Pj. Kades Beringin Agung bahwa dana desa digunakan 60% untuk infrastruktur dan 40% untuk pemberdayaan masyarakat desa.
Dari data yang dibacakan oleh Bapak Kuat Sholeh selaku Ketua BPD, pembangunan infrastruktur yang diajukan oleh masyarakat adalah pengerasan jalan / semenisasi dan pembuatan turap yang merupakan lanjutan dari anggaran tahun 2019.
Pada sesi terakhir, Bapemas Kabupaten Kutai Kartanegara menyampaikan IDM (Indeks Desa Membangun).

Pelatihan Kader Stunting Desa Beringin Agung

www.rinmuna.com
Sabtu, 13 Juli 2019. Pemerintah Desa Beringin Agung melaksanakan kegiatan Pelatihan Kader Stunting. Acara dibuka langsung oleh Kepala Desa Beringin Agung.
Narasumber : Sulastri, A.Md. Keb. (Puskesmas Sungai Merdeka), Andi Herawati, A.Md. Keb. (Ahli Gizi) dan Supriyadi (Pembina Posbindu).
Acara berlangsung sejak pukul 08.30 WITA sampai sore hari.
Stunting adalah sebuah kondisi di mana tinggi badan seseorang ternyata lebih pendek dibanding tinggi badan (yang sesuai umur).
Stunting disebabkan karena kurangnya asupan gizi yang diterima janin dan bayi  sejak masih dalam kandungan, tetapi stunting baru nampak setelah anak berusia 2 tahun. Oleh karenanya, nutrisi pada saat usia kehamilan sangat penting agar anak tidak terkena stunting.
Bukan hanya memberikan pengertian tentang stunting dan cara pencegahannya. Di sini juga diajarkan bagaimana melakukan pelayanan di posyandu dan pentingnya datang ke posyandu agar perkembangan janin dan bayi dapat terpantau dengan baik.
Pelatihan stunting ditutup dengan acara tanya jawab berhadiah. Ibu-ibu yang bisa menjawab pertanyaan seputar kehamilan, ibu dan anak langsung mendapat hadiah dari panitia.
Harapan ke depannya, pelatihan ini dapat meningkatkan pelayanan kesehatan menjadi lebih baik lagi dan dapat mencegah terjadinya stunting pada anak-anak Indonesia agar anak-anak tetap sehat, cerdas dan berprestasi.


Saturday, July 13, 2019

Pembekalan Panitia Pilkades Serentak 2019

www.rinmuna.com
Kamis, 11 Juli 2019 di gedung BPU Kecamatan Samboja dilaksanakan Pembekalan Panitia Pilkades Serentak 2019 Kecamatan Samboja.
Acara ini dihadiri oleh 3 desa, yakni Desa Beringin Agung, Desa Bukit Raya, dan Desa Tani Bakti.
Acara dibuka oleh Camat Samboja, Bapak Ahmad Nurkhalis, S.Sos, M.Si. Kemudian pembekalan disampaikan oleh narasumber, Ibu Rinda R., M.Si dari Kesbangpol dan Bapak Rudi dari Dinas PMD Kab. Kutai Kartanegara.
Acara pembekalan berlangsung dari jam 10 pagi sampai jam 13.00 WITA.

Tuesday, July 9, 2019

Kebersamaan Makan Bersama Mamuja


Menciptakan kebersamaan yang paling baik adalah di meja makan, katanya seperti itu.
Itulah alasannya kenapa aku dan Mamuja sering meluangkan waktu makan bersama untuk menciptakan chemistry dan kebersamaan.
Kali ini, kami masak-masak dan makan-makan di rumah Bu Yani. Kebetulan, beliau juga ingin merayakan hari ulang tahun pernikahannya sekaligus rasa syukur karena diberi anugerah kehamilan anak pertama yang sudah dinanti-nanti selama ini.

Terima kasih untuk Bu Yani yang sudah berkenan untuk dihambur-hambur isi dapurnya. Terima kasih atas jamuan yang istimewa. Ayam goreng lalapan, Pempek Palembang dan Rujaknya.
Semoga semakin banyak rejekinya, diberi kesehatan dan terus berkarya bersama Mamuja.



Salam,

Thursday, July 4, 2019

Mamuja Bersama Dispora Kukar

Dokumen Pribadi 

Selasa, 02 Juli 2019

Taman Bacaan Bunga Kertas, Desa Beringin Agung berkesempatan untuk dikunjungi oleh Dispora Kukar dalam rangka peninjauan lapangan atas keikutsertaan saya dalam Seleksi Pemilihan Pemuda Pelopor Tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara.

Syukur alhamdulillah... Ibu-Ibu kreatif yang saya bina di taman baca yang saya beri nama Mamuja (Mama Muda Samboja) diberi kesempatan untuk bertatap muka dengan Bapak-Bapak dari Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kutai Kartanegara.

Klub kreatif yang merupakan bagian dari aplikasi literasi finansial di taman baca ini saya bentuk pada tanggal 03 Februari lalu.
Alhamdulillah berjaland dengan baik dan mampu menginspirasi banyak ibu-ibu rumah tangga untuk lebih aktif lagi dalam berkreatifitas serta bisa memanfaatkan potensi-potensi yang ada di lingkungan sekitar.
Dalam peninjauan kali ini, saya dinilai sebagai pemuda pelopor yang harus bisa menunjukkan kepeloporan saya di bidang yang saya tekuni ini. Tidak banyak hal yang bisa saya lakukan. Semuanya berjalan berkat kerjasama semua masyarakat dan pemuda-pemuda Desa Beringin Agung. Jika para pemudanya sendiri tidak memiliki keinginan untuk maju, maka satu orang perempuan seperti saya tidak akan pernah bisa membuat Desa yang kami tinggali ini bergerak maju dan bersaing dengan wilayah-wilayah lain dalam berbagai sektor industri.
Harapan ke depannya, Mamuja akan terus memberikan inspirasi dan motivasi bagi ibu-ibu muda dan juga anak-anak muda di Samboja. Mampu memberikan prestasi yang bisa membawa nama baik desa dan mampu bersaing dengan industri-industri lain agar perekonomian warga bisa tetap terjaga dengan baik.
Dari beberapa testimoni yang diberikan oleh lembaga-lembaga terkait. Saya sangat bersyukur karena keberadaan saya dianggap sebagai hal yang positif dan menginspirasi. Bagi saya, yang bisa menilai tindakan saya baik atau tidak adalah orang-orang yang ada di sekitar saya. Saya tidak bisa mengatakan bahwa pribadi saya baik, sebab setiap orang selalu punya sisi baik dan buruk. Yang saya lakukan adalah berusaha berbuat baik dan semoga masyarakat sekitar dapat menerima positif setiap kegiatan yang saya lakukan untuk Desa Beringin Agung.




Salam Literasi,

Rin Muna

Taman Bacaan Bunga Kertas
Desa Beringin Agung


Saturday, June 22, 2019

Pengalaman Pertama Mengikuti Seleksi Pemuda Pelopor Tingkat Kabupaten

Kamis, 20 Juni 2019 adalah sebuah perjalanan yang patut untuk aku abadikan dalam hidupku.
Pukul 04.00 pagi aku sudah bersiap untuk berangkat ke kantor Dispora Kab. Kukar. Awalnya Pak Kades sepakat berangkat usai sholat subuh, tapi sampa jam 05.30 WITA belum juga datang menjemputku. Ternyata, beliau masih menunggu salah satu staff desa yang awalnya tidak mau ikut berangkat ke Tenggarong. Alhasil, aku berangkat dari rumah hampir jam setengah 6. Untungnya pihak Dispora memberikan kompensasi waktu atas ketidakdisiplinanku. Terlebih lagi, Pak Kades salah alamat, beliau membawaku ke kantor Dispora lama, sementara kantor Dispora sudah pindah ke wilayah Stadion Aji Imbut.

Pertama kali aku masuk kota tenggarong, aku sedikit tercengang karena ada beberapa bangunan yang aku lihat tidak selesai dikerjakan alias mangkrak. Padahal, ada beberapa taman kota yang konsepnya terlihat sangat menarik.

Aku juga tercengang ketika masuk ke stadion Aji Imbut yang terkenal sebagai stadion termahal versi 6 Stadion Termahal di Asia Tenggara. Sebelum masuk ke sini, yang terlintas di pikiranku adalah sebuah stadion dengan berbagai fasilitas lengkap, baik dan ramai pengunjung. Aku membayangkan stadion ini seperti supermarket atau Bandara Internasional. Eh, ternyata sangat jauh dari yang aku bayangkan. Stadion ini seperti bangunan mati. Hampir semua bangunannya terlihat tidak pernah tersentuh aktivitas manusia. Pantas saja kalau Mitra Kukar tak mau lagi memakai stadion ini sebagai rumah latihan mereka. Padahal, bangunan di sini termasuk bangunan yang lengkap. Tapi, entah kenapa tidak terawat sama sekali dan ini sangat disayangkan. Terlebih lagi bagi orang dari kampung sepertiku, melihat bangunan sebesar ini terbengkalai begitu saja.

Apakah APBD tidak cukup untuk membiayai perawatan gedung sebesar ini? Lalu, pemerintah diam saja dan membiarkan bangunan ini mangkrak. Sepertinya gedung ini hanya akan diperbaiki dan dipoles menjelang laga nasional atau internasional. Kalau melihat kondisinya, miris sekali. Padahal, bisa saja pemerintah membuat sekolah di dalamnya supaya aktivitas di stadion ini bisa hidup daripada dibiarkan mangkrak, hanya membuat kondisi gedung rapuh termakan cuaca.

Yah, itulah pengalaman pertama kali aku masuk ke Stadion Aji Imbut. Aku merasa payah karena aku tidak bisa melakukan apa-apa. Rasanya hati ini sudah nggak sabar pengen cabutin rumput kalau melihat rumput yang sudah meninggi di taman stadion tersebut. Tapi, memang begitulah kondisinya. Orang yang setiap hari ada di dalamnya saja mungkin tidak akan bisa merawat stadion sebesar itu hanya dengan tenaga beberapa orang.

Bukan hanya bangunan luar, tapi ruangan di dalamnya juga terlihat tidak begitu terawat. Saat aku baru sampai, aku langsung pamit ke kamar kecil dan ... kalau nggak kebelet banget karena udah 2 jam menahan pipis di dalam mobil, aku nggak bakal mau masuk ke toilet. Tak perlu aku gambarkan kondisinya seperti apa. Aku hanya berharap di sini ada sekolah, ada banyak murid-murid nakal yang dihukum membersihkan seluruh toilet yang ada di stadion ini supaya toiletnya layak untuk digunakan.

Oke, cukup di sini kesan pertama aku masuk ke stadion Aji Imbut. Kalau mau bahas kekurangannya, tulisanku tidak akan selesai dalam waktu seminggu.
Aku mau cerita soal pengalaman presentasi Pemuda Pelopor yang aku jalani di sana. Alhamdulillah, presentasi berjalan dengan baik. Komentar juri ada yang positif dan ada yang negatif. Positifnya, saya mendapat ilmu baru dan bisa memperbaiki kekurangan saya ke depannya. Negatifnya, ada kritik juri yang benar-benar menjatuhkan mental saya. Karena apa? Mungkin cukup aku yang tau bagaimana mentalku begitu jatuh ketika juri menyampaikan kritik sembari tersenyum sinis. It's oke ... apa yang aku lakukan mungkin tidak sesuai dengan harapan mereka. Tapi, yang aku lakukan selama ini bukan untuk pemerintah, aku melakukannya untuk masyarakat. Selama masyarakat di sekitar memberikan dukungan positif, artinya aku tidak boleh berhenti melangkah.

Ini pertama kalinya aku mengikuti seleksi dan memang mengerjakan presentasinya seorang diri tanpa pendampingan. Sehingga, aku hanya berpikir bagaiamana cara menyampaikan presentasi hanya dalam waktu maksimal 15 menit. Aku hanya menampilkan penjelasan-penjelasan secara deskriptif dan itu adalah salah satu kesalahanku.

It's oke ... apa pun hasilnya nanti, aku yakin kalau juri melakukannya untuk mendapatkan yang terbaik. Dan ini menjadi sebuah pengalaman yang berharga bagiku. Terlebih aku bisa bertemu dengan Pak Ahmad Junaidi dan foto bersama beliau. Hal yang selama ini sulit aku lakukan karena setiap kali bertemu dengan beliau di dalam sebuah acara di mana aku tidak mungkin mengakrabkan diri. Walau aku tahu beliau tidak pernah keberatan bila aku menyapa, tapi aku selalu menjaga posisiku sebagai perempuan dan masyarakat biasa. Ada saatnya aku bertegur sapa dan diskusi, ada saatnya aku tidak mengganggu acara inti beliau.

Terima kasih untuk Kepala Desa Beringin Agung, Bapak Zazuli, S.Pd.I dan Eks. Camat Samboja, Bapak Ahmad Junaidi yang telah memberikan dukungan sepenuhnya kepada kami, Saya  dan Adi Saputera, perwakilan dari Samboja untuk mengikuti seleksi Pemilihan Pemuda Pelopor di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Semoga apa yang saya lakukan bisa memberikan banyak manfaat untuk masyarakat.








Wednesday, June 19, 2019

Musikalisasi Puisi by Duo Azizah - Taman Bacaan Bunga Kertas

Musikalisasi puisi Ultah Desa Beringin Agung ke-34.
Selasa, 18 Juni 2019 merupakan hari perayaan Ulang Tahun Desa Beringin Agung yang ke-34.
Taman Bacaan Bunga Kertas ikut berpartisipasi dalam mengisi acara Ulang Tahun Desa Beringin Agung. Selain menampilkan Tarian Dayak, Pameran Kriya, Pameran Buku dan Pameran Lukisan. Taman Baca juga mempersembahkan penampilan Duo Azizah dalam musikalisasi puisi.

Duo Azizah menyanyikan lagu Indonesia Pusaka dan Tanah Airku yang diselingi dengan puisi "Desaku".

Ada hal yang mengejutkan saat mereka akan menampilkan lagu wajib. Konsep awal yang kami buat adalah menyanyikan lagu Indonesia Pusaka dan Tanah Airku. Namun, saat acara berlangsung kami diminta untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Jelas saja tanpa persiapan. Tiba-tiba aku harus menjadi dirigen dan kami menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama para tamu undangan tanpa diiringi musik. Untungnya, semua undangan tetap khidmat menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama.
Usai penampilan musikalisask puisi dari Duo Azizah, langsung dilanjutkan Tarian Dayak yang juga dibawakan oleh remaja-remaja puteri Taman Bacaan Bunga Kertas.
Dalam kesempatan kali ini, Taman Baca diberikan banyak andil untuk berpartisipasi. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi saya karena harus menyiapkan semuanya hanya dalam waktu satu minggu.
Selain sibuk menjadi panitia lomba, saya juga harus sibuk mempersiapkan ibu-ibu Mamuja yang mendapat pesanan 200 souvenir dan karya untuk dipamerkan. Saya juga harus menyiapkan anak-anak di divisi seni rupa untuk menyiapkan karyanya. Juga anak-anak remaja puteri yang akan menampilkan musikalisasi puisi dan tarian dayak.

Minggu ini merupakan minggu yang sangat melelahkan karena kegiatan yang sangat padat.
Tapi, saya merasa senang karena masyarakat mendukung sepenuhnya kegiatan-kegiatan yang ada di taman baca dan anak-anak remaja juga dengan senang hati berperan aktif di dalam kegiatan taman baca.

Ini adalah awal yang baik dan semoga ke depannya bisa menjadi lebih baik lagi. Bisa bermanfaat untuk masyarakat sekitar walau aku sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Bayarannya adalah senyum kebahagiaan dan prestasi mereka.

Terima kasih untuk anak-anak remaja taman baca. Tetap aktif berkreasi, tetap solid menjadi keluarga dan sahabat. Tetap menjadi kebanggaan orang tua dan masyarakat sekitar.


Salam Literasi ..!

Pameran Pertama Mamuja (Mama Muda Samboja)


Samboja, 18 Juni 2019 merupakan hari ulang tahun Desa Beringin Agung Samboja yang ke-34 sekaligus menjadi momen pertama kalinya Mamuja (Mama Muda Samboja) dari Taman Bacaan Bunga Kertas menggelar pameran untuk pertama kalinya.

Mamuja merupakan salah satu klub atau divisi kreatif ibu-ibu muda di Samboja sebagai bagian dari pelaksanaan program literasi finansial.

Dalam pameran kali ini, ibu-ibu membawa serta semua karya-karya tangannya untuk dipamerkan. Karya Mamuja terlihat beragam. Mulai dari bunga plastik, bunga flanel, bunga sedotan, tas dan dompet rajut, tas dan dompet dari talikur, tempat tisu, tempat permen, karya seni rupa dan lain-lain.

Anggota Mamuja yang aktif dalam pameran adalah Anis (ketua), Rety, Yani, Alvina, Uut, Erna, Enny, Suyati dan saya sendiri /Rin Muna (Founder).

Ini merupakan pengalaman pertama kali mengikuti pameran dalam rangka memeriahkan hari jadi Desa Beringin Agung yang ke-34. Antusias ibu-ibu sangat tinggi dan saya bahagia melihatnya karena mereka mau merelakan waktu dan tenaganya untuk memberikan sumbangsih di acara ultah Desa yang ke-34.

Harapan ke depannya... Mamuja terus aktif berkarya dan bisa memiliki outlet / galeri sendiri sebagai wadah untuk menjual karya ibu-ibu muda samboja ini.

Semoga... kegiatan seperti ini terus aktif dan menjadi kegiatan rutin di taman baca sebagai bagian dari literasi finansial.

Terima kasih untuk teman-teman yang selalu mengajakku untuk mengisi waktu-waktu luangku dengan hal yang berkualitas.

Penari Dayak TBM Bunga Kertas Samboja

Borneo Dancer from @tbm.bungakertas
Selasa, 18 Juni 2018 merupakan salah satu momen yang tidak terlupakan bagi remaja puteri Taman Bacaan Bunga Kertas Desa Beringin Agung. Pasalnya, ini pertama kalinya bagi mereka tampil untuk mengisi acara HUT Desa Beringin Agung yang ke-34.

Beberapa minggu yang lalu, mereka sudah berlatih di taman baca untuk persiapan pentas. Senang rasanya karena akhirnya bisa menampilkan kesenian Tradisional ini di tengah-tengah masyarakat umum dan para tamu undangan.

Tari Dayak ini tampil pada acara pembukaan. Ada 6 remaja puteri yang menarikan tarian ini yakni Joice, Margaretha, Ella, Esti, Evi dan Imel. Keenam remaja puteri ini tampil percaya diri menarikan tari tradisional Dayak.

Tari-tarian tradisional ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan asli Kalimantan Timur. Walau kami tinggal di wilayah pesisir dan bukan merupakan warga suku dayak. Tapi, kami juga ikut peduli dalam melestarikan kebudayaan asli wilayah Kalimantan Timur.

Dengan penampilan pertama mereka, saya berharap akan banyak yang tertarik dan bergabung dalam klub kesenian taman baca untuk bisa melestarikan budaya asli Kalimantan. Sekalipun warga desa Beringin Agung adalah masyarakat suku jawa. Tapi, kami juga ingin melestarikan budaya asli Kalimantan Timur.

Dengan aktifnya anak-anak remaja berkegiatan di Taman Baca. Maka, program penanaman Literasi Budaya sebagai pola dasar literasi di taman baca sudah mulai berjalan walau belum maksimal.



Samboja, 18 Juni 2019

Thursday, May 23, 2019

Whatsapp Down. Mau Ngapain?




Rabu, 22 Mei 2019 menjadi hari bersejarah bagi dunia Sosial Media. Karena Kominfo membatasi akses beberapa media sosial atau media mainstream yang menjadi salah satu kebutuhan masyarakat Indonesia.
Penyebabnya karena ada indikasi provokasi di media sosial dan dapat menimbulkan kericuhan atau kerusuhan di Ibukota semakin memanas.
Langkah yang diambil oleh Pemerintah sudah bagus menurut saya. Walau bagaiamanapun, pemerintah bertugas menjaga keamanan, persatuan dan stabilitas nasional. Apa saja yang mengganggu dan meresahkan masyarakat, tentunya akan ditindaklanjuti seusai dengan peraturan dan ketentuan hukum yang berlaku.

Dunia Maya sempat dibuat heboh karena memang pengguna Whatsapp dan Facebook adalah yang paling banyak. Sehingga, semua merasa kehilangan dan terlihat sekali kalau Media Sosial menjadi salah satu kebutuhan masyarakat.

Karena, Media Sosial bukan lagi sebagai media berinteraksi sosial dalam bentuk digital. Namun, kini sudah merambah ke dunia bisnis dan dunia kreatif. Jika kita pandai memilih dan memilah konten dari media sosial. Kita masih bisa menemukan banyak konten positif yang ada di Social Media. Hanya saja, beberapa oknum memang memanfaatkan platform yang ramai ini untuk memprovokasi, menyebarkan berita bohong dan memberikan pengaruh negatif terhadap moral masyarakat.

Terus, kalau Whatsapp Down, mau ngapain?
Aku sendiri juga sempat bingung karena aku lebih banyak menggunakan whatsapp untuk berkomunikasi ketimbang menggunakan Facebook atau Instagram. Mungkin, ketika Facebook dan Instagram nge-down, nggak bakal kerasa banget di aku. Tapi, ketika Whatsapp tidak bisa digunakan. Aku sudah uring-uringan karena kebanyakan komunikasi dengan saudara, teman dan costumer memang melalui Whatsapp.
Hmm ... beberapa orang menyarankan menggunakan VPN agar bisa berselancar normal. Namun, aku sendiri tidak berminat sama sekali menginstall VPN. Alasannya sederhana, aku cuma mau tahu berapa lama Kominfo membatasi akses Media Social Mainstream ini. Lagipula, tanpa media sosial, aku bisa menghabiskan waktuku di dunia nyata. Bercengkerama langsung dengan orang dan lingkungan sekitar. Tidak ngobrol dengan keypad hp setiap hari. Terkadang memang terasa konyol, apalagi kalau sambil senyum-senyum sendiri, dikira gila.

Karena aku tidak menggunakan VPN, aku bisa tahu kalau pada pukul 23.20 WITA, Whatsapp sudah bisa dipakai untuk berkomunikasi. Aku bisa mengirim gambar, update story dan mengirimkan video. Hanya saja, masih ada satu kendala yang tidak bisa yakni mengirim file dalam bentuk Ms.Word, Ms. Excel atau .zip. Karena aku terbiasa mengirimkan naskah cerpen atau novel melalui WA saja. Buatku, lebih mudah ketimbang lewat email. Tapi, karena Whatsapp masih dibatasi penggunaannya ... aku harus legowo dan mengirimkan naskahku lewat email saja.

Kalau aku lihat story netizen, sepertinya kita memang sangat ketergantungan dengan Sosial Media. Karena, netizen akan melakukan apa saja supaya bisa mengakses internet yang dibatasi seperti menginstall VPN. Artinya, masyarakat Indonesia memang tidak bisa hidup tanpa Medsos walau hanya  1 hari. This is Real?

Hmm ... Sosmed yang dulu merupakan kebutuhan tersier, kini sudah berubah menjadi kebutuhan premier masyarakat Indonesia.
Apakah 22 Mei akan menjadi Hari Tanpa Medsos Nasional?

Friday, May 10, 2019

Samboja Jadi Ibukota Republik Indonesia?

Facebook Camat Samboja
Selasa, 07 Mei 2019. Bapak Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja ke wilayah Samboja. Tepatnya ialah mengunjungi proyek Jalan Tol Balikpapan-Samarinda di kawasan Tahura, kilometer 48.
Kedatangan beliau disambut oleh Bapak Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah, juga hadir Bapak Camat Samboja Ahmad Junaedi.

Dilansir dari akun facebook pribadi Bapak Ahmad Junaedi, Samboja menjadi salah satu wilayah yang ditinjau sebagai lokasi Ibukota Negara indonesia.
Wacana pemindahan Ibukota Negara Indonesia ini disambut baik oleh warga Samboja. Postingan Pak Camat ini mendapat banyak komentar positif dari netizen.
Ini masih wacana, belum tentu Samboja menjadi Ibukota Negara Indonesia. Karena, banyak hal yang harus dipertimbangkan terkait pemindahan Ibukota Negara Republik Indonesia.
Dari semua komentar netizen, ada satu komentar yang menarik buat saya. Yakni komentar dari Robby Farver.

Perlu kita ketahui bahwa Kecamatan Samboja memiliki luas wilayah 1.045,90 km2 dengan besar penduduk sebanyak 40.693 jiwa pada tahun 2005 (Data penduduk belum update selama 14 tahun). - [wikipedia.org]

Samboja memiliki wilayah konservasi hutan yang cukup luas. Artinya, ketika pemerintah menginginkan Samboja menjadi Ibukota Negara Indonesa. Maka kita akan mengorbankan wilayah hutan lindung dan konservasi alam yang ada di Samboja. Beberapa desa yang ada di kecamatan Samboja juga merupakan wilayah konservasi alam.

 Ada beberapa wilayah konservasi alam yang akan terganggu jika Samboja benar-benar menjadi Ibukota. Beberapa wilayah konservasi alam tersebut ialah:
1. Borneo Orang Utan Survival (BOS)
2. Wisata Bekantan Sungai Hitam
3. Taman Hutan Raya Bukit Soeharto (Luas: ± 61,85 Ha)
4. Bukit Bangkirai.

Samboja memiliki banyak wilayah konservasi alam. Jika pemerintah memilih Samboja sebagai kawasan Ibukota Republik Indonesia. Maka, Samboja harus mengorbankan wilayah-wilayah konservasi alamnya dan jelas akan merusak alam.

Dilansir dari berita antaranews: Pemindahan Ibukota RI
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengungkapkan estimasi luas pembangunan ibukota baru ialah 40.000 hektare dengan biaya sekitar Rp 466 triliun.

Dilihat dari luas ibukota yang akan dibangun, artinya akan mengorbankan seluruh wilayah konservasi alam di Samboja. Mengingat Kecamatan Samboja hanya memiliki luas wilayah sekitar 1000 hektar. Artinya, luas kecamatan Samboja hanya 2,5% dari luas kebutuhan Ibukota Republik Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan lahan-lahan konservasi yang harus dikorbankan untuk pembangunan Ibukota?
Apa kamu setuju Ibukota Republik Indonesia pindah ke Samboja dan mengorbankan wilayah konservasi alam Kalimantan Timur?

Hmm, kalau aku sendiri sebenarnya kurang setuju. Tapi, kalau pemerintah sudah membuat keputusan, apa boleh buat?
Hutan Kalimantan sebagai jantungnya dunia sudah semakin tergerus.
Kamu pernah menonton film IO?
Seperti itulah gambaran dunia kita saat hutan sebagai sumber oksigen tidak ada lagi.

Mari kita lihat kinerja Pemerintah kita. Apakah wacana Samboja sebagai ibukota ini akan benar-benar terealisasi?
Semua tergantung pada warga Samboja. Ingin mempertahankan wilayah konservasi alam atau menginginkan pembangunan seperti Ibukota Jakarta.

Kita tunggu saja ...


Saturday, May 4, 2019

Sexy Killers; Pengorbanan untuk Penguasa




Baca juga artikel saya Nobar Sexy Killers di Taman Baca

Tanggal 13 April lalu kami menonton sebuah film dokumenter yang berjudul "Sexy Killers".
Sebuah film dokumenter yang memang benar-benar terjadi di wilayah kami.
Saat menonton film Sexy Killers, juga sedang ada kegiatan hauling batubara tepat di depan rumah.

Dari film yang sudah kami tonton, saya menyadari beberapa hal yang membuat hati ini benar-benar miris.
Yang pertama, kisah nelayan yang terdampak PLTU dan kisah warga yang terdampak tambang batubara.
Tidak dipungkiri kalau masyarakat memang butuh uang untuk melanjutkan hidupnya. Sehingga, banyak juga warga yang mendukung keberadaan tambang batubara karena dianggap dapat meningkatkan perekonomian keluarga.

Yang paling miris adalah ketika kami tahu siapa saja orang-orang yang ada dibaliknya. Para pengusaha yang dengan tega membiarkan nyawa melayang demi sebuah bisnis dan keuntungan untuk mereka.

Kami, rakyat kecil tidak bisa melakukan apa-apa. Selain hanya mengikuti aturan yang diberlakukan oleh pemerintah. Bisa jadi, 50 tahun yang akan datang kami akan kehilangan rumah kami, tanah kami dan semua isinya.
Ada banyak nyawa yang melayang untuk penguasa-penguasa negeri. Sedangkan kami, tidak pernah merasakan kayanya negeri Kalimantan yang kaya akan sumber daya alamnya. Kalau kamu jalan-jalan ke wilayah terdekat dengan pertambangan batu bara. Kalian tidak akan pernah merasakan mulusnya jalan seperti jalan di ibukota.

Aku sudah sering menulis artikel tentang batu bara. Tentang infrastruktur yang tidak dibangun secara layak. Hanya beberapa kota yang merasakan pembangunan. Sedangkan wilayah yang sumber daya alamnya dikuras habis-habisan, jalannya tetap saja rusak.

Di dalam film ini, terlihat bagaimana rakyat kecil berkorban untuk penguasa. Untuk memperkaya para pengusaha dan elite-elite negeri. Pengorbanan untuk penguasa itu tidaklah sedikit. Bukan hanya untuk penguasa elite saja. Masyarakat yang terdampak tambang batu bara dan PLTU sedang berkorban untuk seluruh rakyat Indonesia agar bisa menikmati listrik dengan harga yang murah. Tak peduli berapa banyak pengorbanan rakyat kecil yang tertindas. Asalkan, semua rakyat Indonesia bisa terpenuhi kebutuhan energi listriknya dengan baik. Tidak ada lagi yang teriak-teriak karena listrik mati dan sebagainya.

Ada harga yang harus dibayar untuk memenuhi kebutuhan rakyat banyak. Dan yang paling mahal adalah harga nyawa-nyawa orang yang telah terenggut karena dampak lingkungan yang diekploitasi secara berlebihan.

Tuesday, April 23, 2019

Kreatifitas | Membuat Angpao Lebaran dari Kain Flanel

Desa Beringin Agung. Senin, 22 April 2019.

Hari ini, pukul 16.00 WITA kami berkumpul seperti biasa. Sebenarnya, waktu ngumpulnya adalah hari Minggu. Tapi, karena banyak yang tidak bisa hadir. Akhirnya jadwal ngumpup diubah jadi hari Senin.
Yang hadir hari ini adalah Mbak Rety, Mbak Anis, Mbak Suyati, Mba Eny dan Mba Erna.
Rencananya kami memang mau membuat kreasi angpao dari kain flanel. Karena, angpao tali kur yang sebelumnya sudah kami buat, sudah habis dipesan oleh Bu Kades.
Saat mereka tiba di Taman Bacaan Bunga Kertas, aku malah harus permisi keluar sebentar karena harus mengantar barang pesanan ke Desa Bukit Raya, desa sebelah.

Saat aku kembali, ibu-ibu yang super duper kreatif ini sudah menghasilkan kreasinya sendiri-sendiri.
Nah, ini nih hasil kreatifitas ibu-ibu Mamuja (Mama Muda Samboja).

Angpao karakter ini rencananya akan kami promosikan dan kami jual ke masyarakat. Baik secara offline maupun online.

Anakku juga senang sekali melihat angpao karakter ini. Selain bisa dipakai untuk menyimpan uang, bisa juga dia pakai untuk bercerita. 
Nah, fungsinya juga dapet kan untuk literasinya. Anak-anak yang punya karakter berbeda-beda bisa berkumpul dan bercerita menggunakan angpao karakter ini. Ada nilai edukasi dari angpao karakter ini.

Selain literasi baca tulis yang bisa kita dapatkan dari angpao ini. Ada penerapan literasi finansial dalam kegiatan ibu-ibu di Taman Baca ini. 
Harapan ke depannya, kegiatan di taman baca bisa menghasilkan produk atau jasa yang bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

Selain mengisi kegiatan ibu-ibu rumah tangga, pembuatan produk kerajinan ini diharapkan dapat menjadi sumber ekonomi dan menciptakan masyarakat desa yang mandiri secara finansial.

Terima kasih untuk semua pihak yang telah mendukung kegiatan-kegiatan yang ada di taman baca. Jangan lupa pesan produk-produk Mamuja ya! Selain membantu menyemangati ibu-ibu di taman baca, kamu juga sudah berdonasi untuk taman bacaan bunga kertas.


Salam Literasi ...!


Tuesday, April 2, 2019

Game Berhadiah di Taman Bacaan Bunga Kertas

Hari Senin kemarin, tanggal 01 April 2019 aku mengadakan game kecil-kecilan untuk anak-anak.
Setelah hari Sabtu sebelumnha aku membuat game tebak-tebakan berhadiah. Sekarang aku membuat game tebak kata berhadiah.

Awalnya, game ini akan aku laksanakan usai sholat dzuhur, pukul 13.00 WITA. Tapi karena anak-anaknya belum pada datang semua. Akhirnya aku undur jadi jam empat sore.
Kebetulan kakak-kakaknya juga baru datang abis ashar. Padahal sudah janjian jam satu siang. Mungkkn mereka juga punya kesibukan di rumah.
Game diikuti oleh 8 orang yang dibagi secara acak menggunakan undian menjadi 4 kelompok.
Kelompok 1 : Amel dan Ridho
Kelompok 2 : Danis dan Rika
Kelompok 3 : Diya dan Febri
Kelompok 4 : Toro dan Dafa

Game berlangsung sangat seru. Anak-anak berhasil menjawab dan ada yanh tidak menjawab sama sekali.

Semuanya juga spontan saja. Yang penting anak-anak senang.
Dan yang mendapat juara 1 yakni kelompok 4. Juara 2 diraih oleh kelompok 2.

Aku senang sekali adik-adik bisa hadir di taman baca dan mengikuti game ini. Tidak terlalu banyak yang ikuy karena sebenarnya jam empat sore adalah jadwal mereka sekolah ngaji. Seharusnya aku membuat game di hari-hari libur sekolah. Jadi, anak-anak bisa hadir semua untuk.berpartisipasi.

Tapi, ya itulah ... kegiatan taman baca sudah hampir padat. Aku juga sampai kewalahan. Padahal ini murni kegiatan sosial. Aku tidak mengambil keuntungan sama sekali. Justru memberikan mereka hadiah-hadiah ketika ada uang lebih.

Alhamdulillah ... paginya aku bertemu dengan Pak Kades dan mengungkapkan kegiatan game yang ingin aku adakan. Beliau memberikan sedikit uang untuk membeli buku sebagai hadiah untuk adik-adik.

Sebenarnya ... aku punya video keseruan bermain game ini. Hanya saja belum bisa aku upload karena komputer Taman Baca tiba-tiba rusak. Jadi, aku nggak bisa ngedit videonya. Kemarin aku sudah upload video tanpa editan dengan terpaksa. Yah .. sebenarnya itu lebih alami sih... tapi rasanya kok kurang lengkap.

Nanti akan aku upload kalau komputer sudah selesai diopname.

Beginilah suasana di Taman Baca aku. Kegiatan kecil-kecilan dan sederhana untuk anak-anak.
Hampir setiap hari memang full kegiatan. Kadang sampai gak ingat makan karena banyaknya aktivitas di taman baca.

Usai melakukan kegiatan game dengan anak-anak. Aku langsung berkumpul dengan ibu-ibu kreatif "Mamuja" di Taman Baca juga. Sampai menjelang magrib mereka masih di sini karena kebetulan hujan.

Aku hanya punya waktu jeda dari magrib sampai isya. Aku gunakan untuk menyelesaikan jahitan baju salah satu anggota Mamuja yang hadir hari itu. Kebetulan sekalian minta potongkan baju dan celana.

Usah sholat Isya, aku mengumpulkan anak-anak muda untuk membentuk divisi kreatif anak muda Samboja. Khususnya pemuda yang ada di lingkungan RT.03 dan RT.04.

Tulisan tentang perkumpulan anak muda, akan aku tulis di tulisanku selanjutnya.
Terima kasih banyak sudah mau berperan aktif dalam kegiatan taman baca. Semoga bisa membuat kegiatan-kegiatan yang lebih seru lagi. Anak-anaknya juga aktif berkegiatan di taman baca.

Terima kasih untuk masyarakat sekitar yang sudah banyak memberikan support secara moril. Semoga aku tetap bertahan menjadi orang yang peduli dengan masyarakat.
Sebab menjadi bermanfaat untuk masyarakat itu tidaklah mudah. Banyak hal yang harus kita korbankan. Jadi, mohon maaf kalau selama ini aku masih banyak kekurangan.

Monday, April 1, 2019

Nurul Jadid dalam Lomba Hadrah MTQ Ke-41 Samboja


Sabtu, 30 Maret 2019. Lomba Hadrah MTQ Ke-41 Samboja berlangsung selepas salat Isya'.
Tim Hadrah Puteri dari Nurul Jadid mendapat urutan nomor 2 dan putera mendapt urutan nomor 5. Alhamdulillah ... artinya bisa pulang lebih cepat.
Alhamdulillah lombanya berjalan lancar dan kami langsung pulang. Walau diiringi dengan dumelan karena ada kesalahan internal dan eksternal dari tim Desa Beringin Agung.





Kesalahan internalnya, backing vokal lupa larik lirik. Kesalahan eksternalnya, setting audio kurang bagus karena microphone mati di tengah-tengah atau volumenya yang terlalu kecil sehingga tidak terlalu terdengar suara musiknya.


It's Okay!
Tetap semangat ya!
Semoga tahun depan tetap semangat mengikuti lomba. Walau belum pernah menang, setidaknya "Sudah ikut tampil" kalau kata mereka. 😂
Harap maklum saja karena yang ikut lomba rata-rata adalah pekerja yang kadang nggak ketemu waktu luangnya buat latihan bareng.
Berbeda dengan anak-anak sekolah yang lebih mudah berkumpul buat latihan bareng.
Tetap semangat saja. Bersyukur Desa Beringin Agung masih ada yang mau ikut serta mengikuti lomba-lomba MTQ.
Semoga semangatnya masih terus menyala sampai tahun-tahun berikutnya.




Sunday, March 31, 2019

Pengalaman Mengikuti MKQ - MTQ Ke-41 Kecamatan Samboja


Sabtu, 30 Maret 2019 adalah tanggal pelaksanaan lomba MTQ ke-41 tingkat Kecamatan yang diselenggarakan di Kelurahan Karya Jaya, Samboja, Kalimantan Timur.
Ada beberapa macam perlombaan yang diikuti. Termasuk lomba yang aku juga ikut berpartisipasi di dalamnya yakni lomba Kaligrafi Al-Qur’an yang masih terbagi menjadi beberapa cabang yakni cabang naskah Al-Qur’an, Hiasan Mushaf, Dekorasi dan Kontemporer.

Tahun ini adalah pertama kalinya Desa Beringin Agung mengikuti perlombaan kaligrafi. Pihak Pemdes mengirim 7 perwakilanya untuk 4 cabang kaligrafi kategori putera dan puteri.

Kami sudah latihan beberapa minggu sebelum perlombaan. Hanya saja belum bisa maksimal karena sebelumnya memang tidak pernah mengikuti lomba kaligrafi. Terlebih, aku yang biasa melukis pensil sedikit kesulitan mencampur warna.

Walau latihan kami belum maksimal, aku cukup senang karena anak-anak semangat untuk mengikuti lomba.

Jam setengah tujuh pagi, kami sudah berkumpul di depan taman baca. Lalu kami menuju halaman Masjid Hidayatul Amin untuk berkumpul dengan peserta MTQ lainnya dari cabang Tilawatil Qur'an dan lainnya.

Saat kami memasuki gedung BPU milik Desa Karya Jaya yang dijadikan arena lomba kaligrafi, peserta sudah berkumpul di kursi masing-masing. Terutama di kursi belakang yang menjadi tempat favorite beberapa orang karena berbagai alasan.

Lomba berlangsung sekitar jam delapan pagi. Tepatnya aku lupa karena aku sudah keburu nervous dan tidak ingat melihat jam. Kebetulan juga tidak ada jam dinding yang dipasang di ruangan itu sampai beberapa lama. Walau akhirnya datang juga jam dindingnya dan langsung dipasangkan oleh panitia.

"Assalamu'alaikum ... hari ini kita akan melangsungkan perlombaan kaligrafi." Juri yang akan menilai karya kami mulai berbicara. "Panitia tidak menyiapkan kanvas karena mungkin harganya yang mahal. Panitia hanya menyiapkan plywood untuk cabang dekorasi dan karton untuk cabang mushaf dan naskah Al-Qur'an," lanjutnya.

Peserta mengambil plywood dan karton yang sudah disiapkan oleh panitia. Kecuali aku dan Nito karena kami membawa sendiri kanvas berukuran 60cm x 80 cm sesuai dengan persyaratan yang tertera di peraturan lomba.


Kami pun memulai lomba kaligrafi secara bersamaan sampai jam 12 siang tiba karena ada jeda 1 jam yang akan kami gunakan untuk istirahat, sholat dzuhur dan makan.

Walau hasilnya nggak sebagus gambar buatan yang lain. Setidaknya yang kami sudah mencoba membuat karya dan imajinasi sendiri. Memang melelahkan menggambar dari pagi sampai sore.

Tapi jelas kami tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya berdoa saja semoga bisa menang dan membuat anak-anak lebih giat lagi berlatih untuk tahun depan. Semoga bisa membuat karya yang bagus seperti karya-karya yang lainnya. Aamiin...

Oh ya, aku punya video hasil kaligrafi kontemporer yang keren-keren. Asli karya-karya mereka keren-keren semua...

Nah, inilah sedikit cerita pengalaman pertama aku mengikuti lomba MKQ (Musabaqah Khat Qur'an) pada MTQ ke 41 Kecamatan Samboja.

Semoga bisa lebih semangat lagi belajarnya buat aku yang masih harus belajar banyak tentang dunia seni kaligrafi.






Wednesday, March 20, 2019

Cukup Jadi "AKU" untuk Mengabdi Pada Masyarakat | Tidak Harus Nyaleg

Dokpri
Hai temen-temen, kemarin aku ada jadwal bareng pihak Pemdes (BPD) dan Bpk. Rohman (Nurul Jadid) buat cari bahan-bahan dan alat-alat kaligrafi yang akan kita pakai di lomba MTQ tingkat kecamatan akhir bulan Maret 2019.

Kita berangkat dari Samboja jam 11 pagi. Aku rada salah paham sih, kata Pak Kuat berangkatnya nunggu Pak Rohman pulang sekolah, jam 11. Jadi, aku pikir Pak Rohman pulang sekolahnya jam 11. Akunya malah santai-santai. Jam sebelas ketika mobil Pak Rohman udah di depan rumah, akunya masih mandi. Hahaha ...

Alhasil, harus nungguin aku kelar semuanya baru berangkat. Tapi, nggak terlalu lama juga sih karena aku mandinya nggak lama-lama amat dan si kecil juga udah siap duluan dari jam sepuluh pagi. Mamanya aja yang lelet.

Kami sampai di Balikpapan saat azan Dzuhur. Kebetulan, Bu Misna (Istri Pak Rohman) juga sedang ada keperluan di daerah Ruko Bandar Klandasan. Aku dan yang lainnya menyempatkan diri untuk sholat Dzuhur di Masjid Baitul Aman Polres Balikpapan.

Setelah sholat, kami berkeliling untuk mencari alat-alat kaligrafi di toko grosir yang menyediakan perlengkapan menggambar dan melukis. Kami memang tidak masuk ke Gramedia. Karena kami sudah pernah ke sana dan peralatan yang kami cari tidak ada.

Usai mendapat semua peralatan yang kami cari sudah lengkap. Kami langsung cari makan, Bakso Popeye yang terletak di Balikpapan Baru jadi tempat tujuan kami.

Di sini ada banyak aneka menu bakso. Dari yang paling kecil sampai yang paling besar.  Bisa dilihat gambar di atas untuk melihat daftar menu baksonya.

Aku senang sekali karena bakso di sini memang enak. Bakso Jumbo isinya daging cincang. Dagingnya nggak amis dan nggak berlemak. Rasa kuahnya juga enak banget. Ini bisa jadi salah satu bakso favorite karena rasanya emang gurih, pentol baksonya juga lembut banget. Pokoknya, ini enak banget deh. Buat yang penasaran, silakan langsung datang ke Ruko Balikpapan Baru yang letaknya tidak jauh dari Mall Balikpapan Baru. Bangunan-bangunan di wilayah sini memang terlihat sangat bagus, bersih dan rapi.

Udeh ya, aku nggak bisa banyak-banyak ceritain soal Bakso Popeye karena aku nggak di-endorse, wkwkwk. Takutnya nanti kalian ngiler kalau aku ceritain detil banget.

Aku mau kasih lihat peralatan kaligrafi yang bakal dipakai anak-anak nantinya, termasuk aku juga. Desa Beringin Agung akan mengirimkan 8 peserta untuk lomba kaligrafi untuk 4 cabang, yakni :
1. Cabang Penulisan Naskah Al-Qur'an (Putera & Puteri)
2. Cabang Mushaf (Putera & Puteri)
3. Cabang Dekorasi (Putera & Puteri)
4. Cabang Kontemporer (Putera & Puteri. 

Itulah alasannya kenapa kami harus membeli peralatan untuk mengikuti lomba tersebut. Aku sendiri masih nggak paham kenapa semua peralatan harus kami sediakan sendiri. Sementara, hasil lukisannya kemungkinan menjadi hak panitia. Apa ini salah satu cara panitia ingin memiliki gambar karya peserta tanpa membayar sepeser pun. Yah, setidaknya ada uang untuk mengganti biaya cat yang kami gunakan. Makanya, kalau boleh diminta untuk dibawa pulang, itu adalah pilihan terbaik karena biaya yang sudah dikeluarkan tidak sedikit. Terlebih dari Desa Beringin Agung, pertama kalinya mengikuti lomba kaligrafi ini. Sehingga, kami juga belum benar-benar paham mekanisme lomba kaligrafi ini.





Ini dia peralatan lomba kaligrafi yang kami siapkan untuk 8 peserta yang akan mengikuti lomba MTQ ke-42 cabang kaligrafi. Kalau dilihat memang sedikit banget, tapi harganya sudah hampir 1,5 juta dan masih ada peralatan yang tidak kami temukan. Walau semua dibiayai oleh desa, aku juga mikir waktu belanjanya. Mikir supaya bisa sehemat mungkin tapi hasilnya bisa maksimal mengingat media yang digunakan dalam lomba ukurannya lumayan besar. Sekitar 60x80 cm untuk kontemporer.

Yah, harapannya semoga Desa Beringin Agung bisa melahirkan seniman-seniman kaligrafi dan menginspirasi banyak anak muda untuk mengisi waktu luangnya dengan berkegiatan positif. Semoga saja kami bisa mendatangkan pelatih kaligrafi profesional agar ke depannya bisa menjadi lebih baik lagi, tidak berhenti hanya di sini saja.


Salam kreatif...!

Terima kasih untuk banyak pihak yang sudah membantu dan mendukung kegiatan-kegiatan sosial saya. Semoga bisa terus memberikan manfaat untuk banyak orang. Aku tidak begitu banyak show up tentang diriku dan kegiatan-kegiatanku. Nanti dikiranya mau pamer, hehehe .... Padahal, emang iya sih. Tapi, tujuan show up untuk menginspirasi orang lain agar terus berkarya dan mengabdi pada masyarakat tanpa mengharap diberi upah. Emangnya siapa yang mau ngasih upah? Niatnya ingin membantu orang lain, bukan ingin dibantu, hehehe.
Mengabdi pada masyarakat tidak harus menjadi seorang caleg, cukup jadi "AKU" saja dan mendapatkan dukungan dari masyarakat sekitar.



Kunjungan dari PHSS (Pertamina Hulu Sanga-Sanga) dan Yayasan Taman Kita


Beringin Agung, 16 Maret 2019

Sabtu pagi, taman baca mendapat kesempatan untuk bertemu dengan kawan-kawan literasi di Balikpapan yakni Yayasan Taman Kita dan pihak PHSS (Pertamina Hulu Sanga-Sanga).

Jam sepuluh pagi, mereka sudah datang ke Taman Baca dan kami berdiskusi dengan pihak PHSS ( Bpk. Hidayah & Bpk. Efendi Zarkasi) dan Yayasan Taman Kita ( Mbak Inne, Mbak Yusna, Mas Adine, Mas Rendi, Mas Danar, Mas Iswahyudi dan Mas Edi).

Yayasan Taman Kita adalah yayasan yang bergerak dalam kegiatan Sosial and Education. Kalau Pertamina Hulu Sanga-Sanga, saya rasa semua masyarakat Indonesia sudah mengenal nama Pertamina.
Kami berdiskusi untuk menyusun program taman baca ke depannya.

Dari hasil diskusi yang terjadi selama beberapa jam. Kami mendapat gambaran tentang program-program taman baca ke depannya.

Saya senang sekali karena ada teman-teman dari Yayasan Taman Kita yang sudah bersedia membantu, meluangkan waktu dan pikirannya untuk membantu program kegiatan di taman baca. Mereka memang orang-orang yang ahli di bidang pengembangan literasi, sedangkan aku masih termasuk baru berkecimpung di dunia literasi dan masih perlu banyak belajar.

Bukan hanya dari pihak PHSS (Pertamina Hulu Sanga-Sanga) dan Yayasan Taman Kita yang hadir, tapi juga ada pihak Pemerintah Desa yakni BPD yang juga ikut bergabung dalam diskusi ini.

Harapan ke depannya taman baca bisa berkembang menjadi lebih baik lagi. Berkat dukungan dari masyarakat, pihak Pemerintah Desa, Yayasan Taman Kita dan Pertamina Hulu Sanga-Sanga.

Apa saja program-program yang akan kita jalankan di taman baca?
Ikuti terus ya kegiatan-kegiatan taman baca ke depannya.

Sampai hari ini, kegiatan aktif yang sudah berjalan yakni perkumpulan ibu-ibu kreatif dengan nama "Mamuja" dan latihan kaligrafi. Bisa dilihat profilnya di halaman Taman Literasi.

Terima kasih untuk pihak-pihak yang sudah membantu berdiri dan berjalannya aktivitas di taman baca.
Semoga ke depannya taman baca bisa memberikan manfaat bagi warga sekitar khususnya dan seluruh generasi muda Indonesia pada umumnya.



Terima kasih,


Rin Muna (Founder Taman Baca Bunga Kertas & Mamuja)

Monday, March 11, 2019

Kunjungan CEO Heart & Soul Publisher House ke Taman Bacaan Bunga Kertas


Tulisan ini pertama kali dibuat untuk Kaskus.id


Februari 2019, genap 1 tahun aku mendirikan sebuah Taman Baca di Desa Beringin Agung, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, Kaltim. Taman Baca itu aku beri nama Taman Bacaan Bunga Kertas karena Bunga Kertas adalah salah satu bunga yang tidak mudah mati, bunganya indah dan berduri, supaya bisa melindungi dirinya dari tangan-tangan jahil.

Taman baca ini aku dirikan secara mandiri usai aku berhenti bekerja sebagai akunting di salah satu perusahaan swasta.
Alhamdulillah... dalam waktu satu tahun, taman bacaan ini sudah bisa berkembang pesat karena kepedulian dari teman-teman penulis dan beberapa donatur yang ikut memberikan sumbangsihnya.

Hari ini, aku kembali kedatangan salah satu teman yang juga penulis hebat asal kota Balikpapan. Yakni Mbak Indah Priha T. (CEO Heart & Soul Publishing House). Dia ke sini tidak sendiri, dia mengajak tiga anaknya dan suaminya ikut serta. Kedatangan dia ke sini memang untuk memberikan donasi berupa buku-buku bacaan ke taman bacaku.

Awalnya aku tidak yakin kalau dia mau ke sini. Waktu aku share lokasi via Whatsapp, langsung saja aku bilang, "Jangan kaget lihat lokasinya karena di pelosok!". Mbak Indah hanya membalasnya dengan emot tertawa. Eh!? Tertawa atau ketawa ya? Karena beda tuh maknanya. Kalau tertawa adalah tawa yang disengaja, sedangkan ketawa biasanya nggak disengaja karena lihat video lucu misalnya. 😅

Aku bener-bener dibikin kaget waktu mobil mereka tiba-tiba terparkir di depan rumahku menjelang sore. Dia bilang, sampai kesasar-sasar untuk bisa sampaj ke tempatku. Karena saat itu ponselku memang tidak mendapat sinyal dan sulit untuk dihubungi. Sepertinya mbak Indah menelepon nomor suamiku, jadinya agak kesulitan. Tapi aku bersyukur mereka akhirnya bisa sampai ke sini. Maklum, tempatnya memang benar-benar di pelosok desa. Jadi... lumayan capek banget buat ke sininya.

Di desa tempat aku tinggal memang minim akses informasi dan transportasi. Padahal, bisa dibilang Samboja memiliki kekayaan alam yang cukup banyak. Di sekitar rumahku saja ada banyak perusahaan tambang batu bara, minyak bumi dan perkebunan sawit. Tapi, tetap saja tidak membuat infrastruktur jalan lebih baik dari Ibukota. Sekalipun hasil tambangnya banyak, kami tidak pernah merasakan mulusnya jalanan seperti jalanan Ibukota.

Duh, kok jadi curhat ya? Maklum lah ya, kalau soal jalanan emang selalu bikin sensi, bisq dibilang iri juga sih. Supaya pemerintah itu lebih mengutamakan infrastruktur di daerah terutama daerah yang sumber daya alamnya dikuras abis. Tapi, apalah daya kami ini hanya rakyat kecil yang tidak bisa apa-apa. Mungkin harus bersabar menunggu antrean pembangunan daerah.

Karena kondisi jalan yang sulit dan lokasi yang ada di pelosok, aku seringkali tidak tega kalau mau ada teman yang berkunjung ke sini. Biasanya, lebih baik aku yang keluar menemui mereka ke kota. Karena bagiku, aku sudah terbiasa dengan jalanan yang rusak sehingga tidak begitu terasa.

Terlebih lagi ketika aku tahu kalau Mbak Indah mau ke sini. Rasanya aku minder karena memang aku tinggalnya di pelosok desa dengan kondisi rumah yang bisa dibilang tidak layak. Lebih layak untuk kandang sapi saja.

Dan ternyata Mbak Indah orangnya baik banget. Dia dan anak-anaknya tetap merasa nyaman dengan kondisi rumahku yang apa adanya. Tidak seperti yang aku bayangkan. Mungkin aku kebanyakan nonton sinetron yang dimana orang kaya selalu merendahkan orang miskin. Tapi, Mbak Indah tidak seperti itu. Dia sangat ramah, baik dan nyaman banget. Juga ketiga anaknya yang masih kecil-kecil. Sepertinya mereka sudah diajarkan menjadi orang yang sederhana meskipun kehidupan mereka bisa dibilang berada.

Ini bukan pertama kalinya aku mendapat kunjungan dari teman-temanku di Balikpapan. Sudah ada beberapa teman yang memang sengaja datang untuk memberikan donasi buku ke taman baca.

Aku memang bukan orang kaya. Tapi aku tidak perlu menunggu jadi kaya hanya untuk bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitarku. Bagiku, rejekiku sudah digariskan oleh Allah dan tidak akan berkurang sedikitpun walau banyak rizki yang aku berikan untuk orang lain. Sebab Allah juga yang mengetuk hatiku untuk peduli pada sesama, maka Dia tidak akan membiarkan aku berada dalam kesulitan. Selalu ada pertolongan-Nya ketika aku dalam keadaan paling sulit sekalipun.

Satu hal yang aku harapkan, semoga aku tidak pernah berubah walau kini Allah sedang mengujiku dengan kesulitan. Aku ingin tetap bisa bermanfaat. Kalau bisa, aku justru ingin mendirikan lagi taman baca di pelosok-pelosok desa supaya bisa memberikan mereka manfaat. Anak-anak di pelosok desa juga punya hak untuk mendapatkan akses informasi agar mereka tidak terus-menerus tertinggal, baik secara informasi maupun ekonomi.

Terima kasih untuk teman-teman penulis di seluruh Indonesia yang sudah banyak membantu saya.

Ini tulisan pertama saya di Kaskus dan semoga bisa terus menerus memberikan manfaat dari tulisan-tulisan saya.

Terima kasih untuk kawan-kawan yang sudah berkenan membaca tulisan saya. Semoga membuatku semakin semangat untuk menulis di sini.


Salam hangat, 

Rin Muna
Samboja, 10 Maret 2019
1

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas