Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Thursday, October 30, 2025

Stick Nanas: Dari Dapur Mamuja untuk Rasa Manis Desa Beringin Agung




Stick Nanas: Dari Dapur Mamuja untuk Rasa Manis Desa Beringin Agung


Di sebuah sudut Desa Beringin Agung, aroma nanas yang manis pernah menjadi saksi lahirnya sebuah ide sederhana namun bernilai besar. Tahun 2019, sekelompok ibu rumah tangga yang tergabung dalam Mamuja—singkatan dari Mama Muda Samboja—memutuskan untuk memanfaatkan hasil kebun lokal yang sering kali berlimpah namun mudah busuk: nanas. Dari tangan-tangan terampil mereka, lahirlah camilan renyah bernama Stick Nanas, produk unggulan yang kini menjadi ikon kecil dari semangat perempuan desa.


Stick Nanas bukan sekadar camilan. Ia adalah kisah tentang kemandirian, kebersamaan, dan inovasi dari dapur-dapur sederhana. Proses pembuatannya pun dilakukan dengan penuh ketelitian. Nanas segar dikupas, dilumatkan, lalu diolah dengan campuran tepung dan sedikit bumbu manis gurih. Setelah melalui proses penggorengan dan pengeringan, jadilah camilan yang renyah di luar namun masih menyimpan rasa nanas yang khas di dalam. Setiap gigitan menghadirkan rasa segar tropis yang seolah membawa kita ke tengah hamparan kebun nanas di bawah matahari sore.


Bagi para ibu di Mamuja, Stick Nanas bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang peluang. Mereka belajar bersama di bawah pendampingan Rumah Literasi Kreatif (Rulika) — mulai dari teknik produksi, pengemasan, hingga cara memasarkan produk secara mandiri. Tak jarang, kegiatan mereka menjadi tempat belajar bersama anak-anak muda desa atau peserta magang yang tertarik dengan dunia wirausaha rumahan.


Dalam perjalanan usahanya, Stick Nanas juga mempertemukan para ibu Mamuja dengan banyak pihak yang peduli pada ekonomi kreatif lokal. Mereka mengikuti bazar, pameran UMKM, hingga pelatihan pengembangan produk. Semua itu dilakukan dengan semangat gotong royong — karena mereka percaya, hasil kecil dari kebersamaan akan selalu lebih berarti daripada usaha besar yang berjalan sendiri.


Kini, Stick Nanas telah menjadi oleh-oleh khas yang banyak dicari saat ada acara literasi, kunjungan komunitas, atau sekadar buah tangan dari Samboja. Kemasan yang sederhana namun menarik, isi yang gurih dan manis seimbang, membuat produk ini mudah diterima berbagai kalangan. Lebih dari itu, produk ini menjadi bukti nyata bahwa perempuan desa bisa berdaya tanpa harus meninggalkan rumah — cukup dengan mengolah potensi yang ada di sekeliling mereka.


Setiap kali seseorang membuka bungkus Stick Nanas, di sanalah tersimpan cerita: tentang tangan-tangan gigih ibu-ibu Mamuja, tentang semangat Rulika yang menyalakan api kreatif, dan tentang manisnya perjuangan kecil yang tumbuh dari tanah Desa Beringin Agung.


Dari nanas, mereka belajar arti kesabaran. Dari stik kecil yang renyah itu, mereka membangun mimpi besar — agar nama Mamuja, Rulika, dan Desa Beringin Agung selalu harum, sama manisnya dengan rasa Stick Nanas yang mereka ciptakan.


Kita Tidak Perlu Jadi Hebat

 

KITA TIDAK PERLU JADI HEBAT — HANYA PERLU BERGERAK LEBIH CEPAT DARI YANG LAIN UNTUK MENGAMBIL KESEMPATAN
Oleh: Rin Muna

Ada kalanya hidup ini terasa seperti perlombaan maraton tanpa garis akhir. Semua orang tampak berlari, sebagian tersenyum karena sudah di depan, sebagian lagi kelelahan tapi tetap memaksa kaki melangkah. Dalam perjalanan seperti itu, sering kali kita merasa kecil — tidak cukup hebat, tidak cukup pandai, tidak cukup beruntung. Tapi siapa bilang kita harus jadi yang paling hebat untuk bisa sampai? Kadang, kita hanya perlu lebih cepat bergerak ketika kesempatan lewat di depan mata.

Aku percaya, banyak orang gagal bukan karena mereka tidak punya kemampuan, tapi karena terlalu lama berpikir, terlalu sibuk menimbang, hingga kesempatan yang semestinya jadi milik mereka justru diambil orang lain yang lebih berani. Dalam dunia nyata, kecepatan bukan sekadar tentang langkah kaki, tapi tentang kepekaan hati — kapan harus mulai, kapan harus berhenti, dan kapan harus berani melompat.


Filsuf Yunani kuno, Aristoteles, pernah menulis tentang praxis — tindakan yang lahir dari kebijaksanaan praktis (phronesis). Artinya, pengetahuan saja tidak cukup; ia harus diikuti oleh tindakan nyata. Dalam konteks modern, banyak orang berhenti di fase berpikir, menganalisis, dan merancang strategi sempurna, padahal dunia terus berubah tanpa menunggu.

Di sini, keberanian mengambil langkah menjadi bentuk kebijaksanaan itu sendiri. Kierkegaard, filsuf eksistensialis, bahkan menyebut bahwa lompatan iman (leap of faith) diperlukan untuk menembus batas logika dan rasa takut. Karena sering kali, kesempatan tidak datang dua kali — dan yang menentukan bukan siapa paling pintar, tapi siapa paling siap saat momen itu tiba.

Maka, tak perlu menunggu jadi hebat dulu untuk memulai. Justru, dengan memulai lebih dulu, kita akan tumbuh menjadi hebat. Seperti benih kecil yang tak menunggu menjadi pohon sebelum ditanam — ia menanam dulu, baru tumbuh.






Dalam Islam, konsep bergerak cepat di jalan kebaikan disebut fastabiqul khairat — “berlomba-lombalah dalam kebaikan” (QS. Al-Baqarah: 148). Ayat ini bukan hanya perintah untuk berbuat baik, tapi juga seruan agar jangan menunda. Sebab, kebaikan yang ditunda bisa kehilangan maknanya.

Rasulullah SAW juga bersabda:
 “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang miskinmu, waktu luangmu sebelum datang sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al-Hakim)



Hadis ini sejatinya mengajarkan urgensi gerak cepat dalam kebaikan dan kesempatan. Hidup ini sementara, dan waktu adalah sumber daya paling mahal yang tidak bisa dibeli kembali. Maka, setiap detik yang diisi dengan langkah berarti adalah bentuk kemenangan kecil dalam perjalanan panjang menuju makna hidup.



Kita sering berpikir bahwa dunia akan memberi ruang bagi yang paling berbakat. Padahal kenyataannya, dunia lebih menghargai yang berani. Orang hebat memang dikagumi, tapi orang yang bergeraklah yang mengubah keadaan.

Coba lihat di sekeliling — banyak orang sederhana yang sukses bukan karena mereka lebih pintar, tapi karena mereka tidak takut mencoba lebih dulu. Mereka menjemput peluang bahkan ketika belum siap sepenuhnya. Dan sering kali, kesuksesan datang bukan dari kesiapan penuh, melainkan dari langkah awal yang berani.

Dalam bahasa sederhana: kadang kita hanya perlu lebih dulu satu langkah.




Gerak cepat bukan berarti terburu-buru. Ini soal kesadaran dan ketegasan mengambil keputusan. Dalam filsafat Timur, terutama dalam ajaran Lao Tzu, ada keseimbangan antara wu wei — bertindak tanpa paksaan — dan momentum. Artinya, bergerak dengan kesadaran penuh, tahu kapan waktu yang tepat, tapi tidak menunggu terlalu lama hingga kehilangan kesempatan.

Begitu pula dalam Islam, ada istilah ijtihad — usaha sungguh-sungguh untuk mencari solusi terbaik. Ijtihad adalah bentuk gerak intelektual dan spiritual. Jadi, bergerak cepat tidak berarti tanpa pikir, melainkan berpikir secukupnya dan bertindak seperlunya.



Kita lahir dalam gerak — detak jantung, tarikan napas, bahkan waktu yang terus berjalan. Maka, diam terlalu lama adalah bentuk kemunduran. Tidak bergerak berarti menyerahkan diri pada stagnasi.

Ketika Allah berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11),
ayat ini bukan sekadar motivasi spiritual, melainkan prinsip perubahan. Tidak perlu jadi hebat, cukup mau bergerak lebih dulu — karena perubahan tidak lahir dari kehebatan, tapi dari kemauan.



Aku pernah mendengar seorang sahabat berkata, “Aku bukan orang paling pintar di ruangan ini, tapi aku ingin jadi orang pertama yang berani mencoba.” Kalimat itu sederhana tapi kuat. Karena pada akhirnya, kehidupan ini bukan tentang siapa yang paling tahu, tapi siapa yang paling mau.

Kita tidak perlu jadi hebat untuk memulai sesuatu. Tapi kita perlu memulai agar suatu hari bisa jadi hebat. Karena kesempatan sering kali hanya menampakkan diri pada mereka yang sudah bersiap — dan bersiap itu dimulai dengan langkah kecil hari ini.

Maka, jangan tunggu sampai sempurna untuk melangkah. Dunia terlalu cepat berubah untuk menunggu seseorang yang masih sibuk merasa belum siap.

Bergeraklah.
Sekarang juga.
Sebelum kesempatan menutup pintunya.


Thursday, October 23, 2025

Keluarga Literasi dari Manado || Festival Literasi Nasional Tahun 2024

 



Jakarta, 10 Desember 2024


Di hadapan kerlip lampu kota Jakarta — di saat saya melangkah dari bandara ke ruang pertemuan besar, saya merasa seperti memasuki sebuah arena di mana ide-ide, kisah, dan semangat literasi berkumpul. Sebagai perwakilan dari komunitas literasi Provinsi Kalimantan Timur, saya diundang ke Festival Komunitas Literasi dan Sastra Nasional 2024” yang ditutup secara resmi pada 12 Desember 2024 di Jakarta. 

Pagi berangkat dari bandara, perjalanan terasa seperti menyelami rasa ingin tahu yang telah lama menyala. Saya membayangkan bagaimana suara komunitas literasi dari Kalimantan Timur akan bertemu dengan suara‐suara dari pulau dan provinsi lain—sesuatu yang terasa sakral dan sekaligus riuh. Tiba di lokasi acara, saya merasa agak canggung: seorang wakil dari Kalimantan Timur, berdiri di tengah ratusan wajah yang datang dari seluruh Nusantara.


Tapi kemudian, kehangatan itu datang—bukan dari acara besar, bukan dari panggung tampak megah, melainkan dari sosok‐sosok kecil yang menepi, tersenyum, dan menyapa. Di sana, saya bertemu tiga orang pegiat literasi dari kota Manado. Meskipun kami berbeda provinsi, bahkan berbeda agama, mereka menyambut saya dengan tangan terbuka. Dalam rona hangat sapaan mereka, saya merasa diterima sebagai bagian dari satu keluarga literasi.


Dua nama yang terekam dalam memori saya adalah Pak Devi dan seorang lagi (nama mungkin terlupa karena sibuk bersalaman dan tertawa bersama). Pak Devi, dengan suara tenang dan senyum lebar, sering menyapa: “Nak, ayo mampir sini,” katanya, seolah saya adalah bagian dari keluarganya sendiri. Ia dan teman‐temannya dari Manado memperlakukan saya bukan sebagai “wakil” saja, tetapi sebagai “anak” yang mereka anggap istimewa—dengan rasa hormat, perhatian, dan kehangatan yang tulus.


Momen itu membekas: di antara keramaian diskusi panel, pameran komunitas, dan bazar buku, saya duduk di sebuah bangku sederhana bersama mereka, berbagi cerita asal‐usul komunitas kami di Kalimantan Timur, serta mendengarkan kisah bagaimana mereka – meskipun berasal dari latar yang berbeda – membawa semangat literasi di Manado. Kebersamaan lintas agama dan provinsi menjadi sebuah simbol kecil bahwa literasi memang jembatan persaudaraan.


What It Taught Me


Dari event ini saya pulang dengan beberapa pelajaran yang terasa nyata:


Literasi sebagai ruang inklusi. Saat kita bicara tentang literasi bukan hanya membaca dan menulis, tetapi saling menghargai, berbagi gagasan, dan merayakan keberagaman—momen bersama tiga pegiat dari Manado menguatkan bahwa literasi mempersatukan.


Keberagaman bukan hambatan, melainkan kekuatan. Kami berbeda agama, berbeda provinsi, dan latar kami juga berbeda. Namun saat berada di sana, hal itu bukan menjadi faktor yang memisahkan, melainkan justru penguat. Kenapa? Karena literasi membuka hati untuk mendengar, dan mendengar mengantar pada rasa saling menghormati.


Jejaring itu nyata dan personal. Sering kali acara besar terasa formal, namun di sana, penyambutan sederhana seperti “kita anggap kamu anak kami” dari Pak Devi membuat saya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dan lebih manusiawi.


Komunitas dari daerah terpencil punya suara. Sebagai wakil dari Kalimantan Timur, saya merasa bahwa kehadiran kami di festival itu bukan “hanya dipanggil”, tetapi kami ambil posisi sebagai peserta aktif—untuk berbagi, melihat, dan membawa pulang inspirasi ke daerah kami. 


Saat saya berjalan menuju meja registrasi, Pak Devi sudah berdiri menunggu dengan segelas kopi dan dua teman dari Manado. Mereka mempersilakan saya duduk, bertanya dengan hangat tentang perjalanan saya dan komunitas kami. Saya merasa seperti anak yang pulang ke rumah keluarga besar literasi.


Di sesi pameran komunitas, saya sempat menunjukkan hasil literasi kami di Kalimantan Timur—buku kecil, majalah komunitas, dan poster film pendek literasi. Mereka memuji dengan tulus, menanyakan latar belakang dan tantangan yang kami hadapi. Rasa dihargai itu terasa menyentuh.


Tak pernah saya bayangkan bahwa dalam satu acara di Jakarta, saya bisa merasa “di rumah” oleh orang‐orang yang baru bertemu beberapa jam sebelumnya. Mereka mengajak jalan bersama ke bazar buku, memilih buku bertema anak-anak, jalan santai di malam hari, cari makan di luar hotel dan tertawa bersama ketika staf bazar mengira mereka sudah “papan atas”.


Kembalinya saya ke Kalimantan Timur, saya membawa lebih dari sekadar materi acara. Saya membawa cerita—cerita bahwa ruang literasi bisa mempertemukan manusia tanpa batas. Ketika saya ceritakan pengalaman bersama tiga pegiat Manado kepada tim di komunitas kami, mata mereka berbinar: “Wah, jadi kita juga bisa punya jejaring nasional, ya.”


Kami kemudian merancang program setelah festival: sesi sharing daring dengan komunitas dari luar provinsi, membentuk “teman literasi lintas pulau” sebagai mitra, agar keberagaman kami terasa sebagai kekuatan, bukan alasan untuk merasa kecil.


Acara seperti Festival Literasi dan Sastra Nasional 2024, dengan tema “Komunitas Literasi dan Sastra Berkarya untuk Indonesia Emas,” menunjukkan bahwa literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi soal berkarya bersama menuju masa depan yang cemerlang.


Kehadiran saya di festival itu bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir secara hati. Saya belajar bahwa literasi adalah ruang yang memeluk keberagaman, merangkul kehangatan, dan menyulut harapan. Perjumpaan saya dengan tiga pegiat dari Manado adalah bukti kecil bahwa ketika kita buka diri—walau berbeda—kita menemukan persaudaraan. Dan ketika komunitas dari Kalimantan Timur berdiri di panggung nasional, itu bukan hanya soal “kami datang”, tetapi soal “kami hadir dan kami berbicara”.


Semoga pengalaman ini menjadi bahan bakar untuk saya dan komunitas di Kalimantan Timur — agar kita terus menyalakan literasi, merajut jejaring, dan menulis kisah kita sendiri dalam panggung besar literasi nasional.



Wednesday, October 22, 2025

Rempong yang Indah dari Ibu-Ibu Dasawisma Kantil

 


Rempong yang Indah dari Ibu-Ibu Dasawisma Kantil


Hari itu suasana RT 03 Desa Beringin Agung terasa lebih riuh dari biasanya. Bukan karena ada hajatan, bukan pula karena ada rapat penting. Penyebabnya sederhana: ibu-ibu Dasawisma Kantil mau foto-foto. Tapi jangan salah, urusan foto bagi para ibu ini bukan perkara sepele. Harus kompak, bagus, dan maksimal — tiga syarat wajib yang ternyata bisa bikin satu kampung heboh.

Pagi-pagi, grup WhatsApp Dasawisma sudah penuh dengan pesan. “Ada yang punya jarik motif parang nggak?” tanya seorang ibu. “Aku udah pinjam baju lurik di rumah sepupu,” balas yang lain. “Aku nggak punya caping, pinjem di siapa ya?” tambah satu lagi. Dari situ saja sudah kelihatan semangat mereka: mau tampil sebaik mungkin, seindah mungkin, meski semua harus diusahakan dari sana-sini.


Begitu hari pemotretan tiba, pemandangan di posko Dasawisma seperti ruang rias dadakan. Ada yang sibuk melilitkan kain jarik, ada yang belajar cepat memakai caping biar miringnya pas, ada yang minta bantuan merapikan kerah lurik. Suara tawa bercampur dengan riuh suara anak-anaknya yang juga hadir di sana. Semua ingin tampil kompak. Semua ingin terlihat cantik.





Sementara mereka sibuk berdandan, aku hanya duduk di sudut, memperhatikan. Hari itu aku memilih tidak memakai alas bedak sama sekali. Wajahku polos tanpa polesan, hanya senyum tulus sebagai hiasan. Bukan karena malas berdandan, tapi karena aku merasa semakin kita punya value, semakin kita ingin tampil apa adanya. Bukan pakaian atau make-up yang membuat seseorang berharga, melainkan makna yang ia bawa dalam dirinya.


Tentu saja, bukan berarti aku tidak ikut senang. Justru aku menikmati keriuhan itu — rempong yang hangat, riuh yang membahagiakan. Ibu-ibu Dasawisma Kantil bukan sekadar kumpulan warga, mereka adalah wajah-wajah perempuan tangguh yang tahu cara bersenang-senang setelah lelah mengurus rumah, keluarga, dan kehidupan.



Setelah sesi foto usai, wajah-wajah yang tadi tegang karena takut riasannya luntur kini berubah ceria. Sambil tertawa, mereka mengajakku ikut berkeliling. “Ayo, kita jalan-jalan ke Dasawisma RT 1 sampai RT 10!” seru Bu Misna, pemilik mobil Grandmax yang hari itu jadi kendaraan kebersamaan kami.

Kami pun berangkat. Mobil Grandmax itu terasa seperti mini bus wisata, penuh tawa dan cerita. Di setiap RT yang kami lewati, selalu ada sapaan, senyum, dan canda. Tak ada yang sibuk dengan ponsel, tak ada yang sibuk membandingkan hasil foto. Yang tersisa hanyalah kebersamaan yang tulus — hal yang jarang, tapi begitu mahal nilainya.

Sore itu, aku pulang dengan hati hangat. Di balik rempong dan hiruk-pikuk persiapan, aku melihat sesuatu yang lebih dalam: semangat untuk kompak, untuk tampil bersama, dan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.



Mungkin, begitulah indahnya menjadi bagian dari Dasawisma Kantil — di mana keriuhan bukan tanda kekacauan, tapi bukti bahwa cinta, persaudaraan, dan semangat hidup masih hidup di antara kami.




Kutai Kartanegara, 21 Oktober 2025



Rin Muna

Friday, October 17, 2025

Hati Selapang Yusuf: Belajar Memaafkan Mereka yang Menyakiti Kita




Hati Selapang Yusuf: Belajar Memaafkan Mereka yang Menyakiti Kita


Oleh: Rin Muna

Kadang, hidup memberi kita pelajaran paling berat lewat orang yang paling kita sayangi.
Bukan dari musuh, bukan dari orang asing, tapi dari mereka yang kita kira akan selalu melindungi kita.
Dari sinilah kisah Nabi Yusuf AS mengajarkan sesuatu yang nyaris mustahil dilakukan manusia biasa, yakni memaafkan tanpa sisa.

Dalam surah Yusuf ayat 8–10, Allah mengisahkan bagaimana saudara-saudara Yusuf merasa iri kepada Yusuf kecil yang disayangi ayahnya, Nabi Ya’qub. Kecemburuan itu berubah jadi niat jahat. Mereka melemparkannya ke dasar sumur dan berbohong bahwa ia telah dimakan serigala.

Bayangkan!
Dikhianati oleh darah sendiri. Diterlantarkan, lalu dibesarkan di negeri asing, dijual sebagai budak, difitnah, dan dipenjara, semua berawal dari permulaan yang pahit itu. Tapi anehnya, Yusuf tidak menyimpan dendam sedikit pun.

Ketika akhirnya menjadi penguasa Mesir dan berkuasa penuh atas nasib saudara-saudaranya, Yusuf hanya berkata lembut:

“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian. Semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”


Lihatlah, betapa lapangnya hati itu.
Ia bisa saja menghukum, bisa saja menuntut balas, tapi Yusuf memilih untuk melepaskan beban luka dan menggantinya dengan kasih sayang.

Kadang kita salah sangka, mengira orang yang hatinya lapang berarti tidak pernah sakit. Padahal, justru karena hatinya pernah remuk, ia belajar bagaimana cara menyembuhkannya.
Yusuf juga manusia. Ia menangis, ia kecewa, ia rindu ayahnya. Tapi setiap kali luka itu datang, ia tidak menambah luka baru dengan kebencian.

Dalam Tafsir Ibn Katsir, dijelaskan bahwa doa Nabi Yusuf ketika dalam penjara:

“Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka.” (QS. Yusuf: 33)

Ini menunjukkan bahwa ia memilih kesucian hati daripada kesenangan sesaat. Ia tahu, menjaga hati lebih penting daripada memenangkan ego.

Begitu juga dalam kehidupan kita sekarang.
Ketika teman kerja menjelekkan di belakang, ketika saudara sendiri iri terhadap keberhasilan kita, atau ketika orang yang kita bantu justru menikam dengan kata-kata, maka itu semua adalah "sumur" kecil yang menanti reaksi kita.
Apakah kita akan menenggelamkan diri dalam amarah, atau belajar berenang menuju permukaan dengan hati yang ringan?

Lapang hati itu bukan teori, tapi latihan harian.
Misalnya, saat seseorang membatalkan janji di menit terakhir, atau teman yang tiba-tiba menjauh tanpa penjelasan.
Awalnya pasti ada rasa “kok tega sih?”. Tapi perlahan, kalau kita belajar seperti Yusuf, kita akan menemukan kekuatan baru. Kekuatan untuk berkata, “Tidak apa-apa, mungkin Allah sedang mengajarkan aku tentang ikhlas.”

Di rumah, lapang hati bisa terlihat dari bagaimana kita menahan suara saat marah kepada anak, atau bagaimana kita memilih diam saat disalahpahami pasangan.
Di tempat kerja, lapang hati berarti tidak membawa dendam ke dalam pekerjaan, dan tetap profesional walau kecewa.
Di dunia maya, lapang hati berarti tidak membalas komentar kasar dengan komentar kasar, tapi dengan senyum dan doa dalam hati.

Karena lapang hati bukan kelemahan, justru itu tanda kekuatan sejati.
Sebagaimana dikatakan oleh ulama besar, Imam Al-Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin:

“Tanda hati yang bersih adalah ketika engkau tidak merasa senang atas musibah orang yang pernah menyakitimu.”

Itu sulit, tapi bukan tidak mungkin. Yusuf telah membuktikannya.

Yang membuat Yusuf menang bukan tahtanya, tapi cara ia memperlakukan mereka yang menjatuhkannya.
Ketika ia memeluk saudara-saudaranya yang dulu mencelakainya, itu bukan hanya pelukan fisik, tapi pelukan spiritual yang menyembuhkan masa lalu.

Di titik itu, Yusuf sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Ia tak lagi butuh pembuktian, tak lagi mencari balasan. Ia hanya ingin menebar kebaikan karena tahu jika Allah-lah yang menulis cerita dari awal sampai akhir.

Dalam hidup ini, kita juga akan bertemu banyak “saudara” dalam berbagai bentuk: teman, rekan kerja, bahkan orang tua. Karena terkadang saudara justru menjadi orang asing hanya karena tidak bisa menerima siapa kita hari ini.






Nabi Muhammad SAW: Mukjizat Intelektual dan Cahaya Kecerdasan yang Abadi



Nabi Muhammad SAW: Mukjizat Intelektual dan Cahaya Kecerdasan yang Abadi

Oleh: Rin Muna

Banyak kisah tentang para nabi yang menakjubkan. Nabi Sulaiman dengan kekayaan dan kekuasaannya, Nabi Ayyub dengan kesabarannya, Nabi Yusuf dengan ketampanannya, Nabi Nuh dengan keteguhannya, dan Nabi Musa dengan keberaniannya menghadapi Fir’aun. Namun di antara mereka semua, ada satu sosok yang tidak hanya mulia karena mukjizatnya, tetapi karena kecerdasannya yang melampaui batas manusia , dialah Nabi Muhammad SAW.

Sering kali aku memikirkan tentang sosok Nabi Muhammad SAW. Tentang bagaimana mungkin seorang yang tidak bisa membaca dan menulis, mampu melahirkan sebuah peradaban ilmu yang mengubah dunia. 
Di sinilah letak mukjizat yang sering terabaikan. Bukan hanya mukjizat Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, tetapi juga mukjizat intelektual yang menjadikan beliau sebagai sumber inspirasi bagi para pemikir lintas zaman. Bagiku, Rasulullah memiliki kecerdasan intelektual yang sempurna. Beliau bisa mengingat dengan baik setiap wahyu yang Allah turunkan, yang kemudian menjadi Al-Qur'an dan Al-Hadist yang saat ini menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat.

Rasulullah SAW memiliki kecerdasan yang menyeluruh (Intelektual, Emosional, dan Spiritual).

Kecerdasan Rasulullah SAW tidak hanya terbatas pada kemampuan logika atau ilmu pengetahuan, tetapi menyeluruh dalam semua dimensi kehidupan.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menyebutkan bahwa Rasulullah memiliki ‘aql al-tam atau  akal yang sempurna. Ini berarti kecerdasan beliau mencakup nalar, intuisi, empati, dan kemampuan sosial yang tinggi.

Dalam setiap situasi genting, beliau menunjukkan keseimbangan yang luar biasa antara akal dan hati. Saat Perang Badar, misalnya, beliau menata strategi militer yang matang. Beliau mmemilih posisi di dekat sumber air, membentuk barisan, dan mengatur logistik pasukan. Namun pada saat yang sama, beliau tetap berdoa dengan linangan air mata, menggantungkan segala keputusan kepada Allah.

Inilah puncak kecerdasan sejati. Yakni ketika logika tidak menyingkirkan iman, dan iman tidak menafikan akal.


Rasulullah SAW diutus kepada bangsa Arab yang kala itu dikenal dengan budaya lisan dan kefasihan berbahasa. Mereka gemar beradu syair, menimbang kata, dan berdebat dalam majelis-majelis sastra. Namun ketika Al-Qur’an turun, para penyair terhebat pun terdiam.

Ayat-ayatnya bukan hanya indah, tetapi mengandung logika, struktur, dan keilmuan yang melampaui batas manusia. Sungguh, aku sangat menyukai ayat-ayat Allah. Terlebih ketika membaca buku terjemahan Al-Qur'an yang diterbitkan pada zaman dahulu. Pilihan diksinya terasa lebih menyentuh hati meski tidak mudah dipahami oleh orang awam, terutama untuk generasi Z dan Alpha seperti sekarang ini.

Allah menegaskan dalam (QS. Yasin: 69) :

“Dan Kami tidak mengajarkan dia (Muhammad) syair, dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang jelas.”


Mukjizat intelektual Rasulullah terletak pada kemampuannya menerima, memahami, dan menyampaikan wahyu dengan ketepatan makna, meski tanpa pendidikan formal. Ia menyampaikan pesan-pesan yang mencakup teologi, hukum, etika, sains, bahkan politik, dengan bahasa yang paling jernih dan rasional.

Para cendekiawan seperti Dr. Maurice Bucaille, dalam bukunya La Bible, le Coran et la Science, menegaskan bahwa tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an yang bertentangan dengan sains modern. Ini bukti bahwa Rasulullah menerima wahyu yang melampaui kecerdasan manusia pada zamannya.


Dalam sejarah, Rasulullah tidak hanya dikenang sebagai nabi dan rasul, tetapi juga sebagai pemimpin yang visioner dan komunikator ulung.
Beliau mampu mempersatukan suku-suku Arab yang bertikai selama ratusan tahun menjadi satu ummah.

Salah satu contoh nyata kecerdasan sosial beliau tampak saat peristiwa peletakan Hajar Aswad. Saat itu, suku-suku Quraisy hampir berperang karena berebut kehormatan untuk meletakkan batu suci itu.
Rasulullah yang saat itu masih muda, datang membawa solusi sederhana tapi jenius.
Beliau membentangkan selembar kain, meletakkan batu di tengahnya, dan meminta setiap pemimpin suku memegang sisi kain tersebut bersama-sama.

Dengan cara itu, beliau tidak hanya menghindari pertumpahan darah, tetapi juga membuat semua pihak merasa dihormati.
Itulah puncak kecerdasan emosional dan sosial di mana Rasulullah mampu membaca situasi, menenangkan konflik, dan menghadirkan solusi damai tanpa menyinggung siapa pun.


Kadang aku merenung di tengah kesibukan dunia yang sangat bising ini.
Kita sering mengukur kecerdasan dari seberapa cepat kita berpikir, seberapa banyak gelar yang kita miliki, atau seberapa besar inovasi yang kita hasilkan. Tapi Rasulullah mengajarkan bahwa kecerdasan sejati lahir dari ketundukan kepada kebenaran.

Beliau tidak pernah membanggakan dirinya sebagai orang paling cerdas. Beliau justru sering berdoa:

“Ya Allah, tambahkanlah ilmuku.” (QS. Taha: 114



Doa sederhana ini adalah tanda bahwa kecerdasan bukanlah puncak, melainkan perjalanan. Bahwa belajar adalah ibadah, dan memahami adalah bentuk kasih sayang Allah yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

Maka benar jika Rasulullah disebut memiliki mukjizat intelektual. Bukan karena beliau menulis buku atau membangun perpustakaan, melainkan karena beliau membangun peradaban berpikir  yang hingga kini masih menjadi sumber inspirasi bagi umat manusia.



Kadang aku berpikir, andai setiap manusia belajar dari kecerdasan Rasulullah, mungkin dunia akan lebih tenang. Karena kecerdasan beliau bukan untuk mengalahkan, tapi untuk memahami. Bukan untuk meninggi, tapi untuk menunduk pada kebenaran.
Dan mungkin di sanalah letak cahaya yang disebut nur Muhammad, sumber ilmu yang tak pernah padam di hati mereka yang mencari.


Sumber Referensi:

1. Al-Qur’anul Karim (QS. Yasin: 69, QS. Taha: 114)


2. Ibnu Khaldun, Muqaddimah (Bab 6: Tentang Akal dan Ilmu)


3. Maurice Bucaille, La Bible, le Coran et la Science, 1976


4. Hamka, Sejarah Umat Islam, Balai Pustaka, 1975










Thursday, October 2, 2025

Pengajian Rasa Diskotek, Musholla Rasa Kasino



Pengajian Rasa Diskotek, Musholla Rasa Kasino


Jangan keburu emosi saat baca judul tulisanku yang satu ini. Kalau kamu emosi, artinya kamu pernah mengalaminya atau bahkan kamulah pelakunya. Tulisan ini untuk belajar dan berpikir tentang apa yang telah terjadi di dunia ini. Jadi, bijaklah ketika membaca.


Fenomena sosial keagamaan di masyarakat kerap menghadirkan wajah yang kontradiktif. Di satu sisi, agama dijadikan identitas dan kebanggaan, namun di sisi lain, praktiknya sering jauh dari nilai-nilai luhur Islam. Saya sendiri pernah menyaksikan bagaimana sebuah musholla yang seharusnya menjadi tempat bersujud, berzikir, dan mencari ketenangan batin, berubah menjadi arena bermain kartu remi. Bahkan, sebuah acara pengajian yang mestinya menumbuhkan khusyuk, justru dihiasi dentuman musik disko dengan volume keras, hingga suasana lebih mirip klub malam ketimbang majelis ilmu.

Fenomena inilah yang menginspirasi tulisan ini dengan judul “Pengajian Rasa Diskotek, Musholla Rasa Kasino.”


Musholla adalah rumah Allah yang berubah menjadi arena permainan. Sungguh mengejutkan ketika aku melihat orang-orang bisa dengan bebas bermain kartu remi di teras musholla. Menunggu waktu, harusnya diisi denga mengaji atau berdzikir. Sehingga, rumah Allah benar-benar menjadi rumah yang suci dan penuh ilmu. 

Dalam pandangan Islam, musholla maupun masjid adalah rumah Allah yang harus dimuliakan. Allah berfirman:

"Di rumah-rumah (masjid) yang Allah telah memerintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang."
(QS. An-Nur: 36)

Namun realitas yang saya lihat sungguh ironis: tikar yang biasa menjadi alas sujud justru dipenuhi kartu remi, tawa dan candaan lebih mendominasi daripada doa. Musholla seakan kehilangan sakralitasnya. Padahal Rasulullah SAW bersabda:

“Akan datang pada umatku suatu masa, orang-orang berkumpul di masjid, mereka hanya berbicara tentang dunia. Maka janganlah kalian duduk bersama mereka, karena Allah tidak butuh pada mereka.”
(HR. Al-Baihaqi)

Hadis ini jelas menggambarkan betapa menyedihkannya ketika rumah Allah dipakai bukan untuk ibadah, melainkan hiburan duniawi.


Pengajian Rasa Diskotek: Hilangnya Ruh Spiritual

Pengajian mestinya menghadirkan suasana tenang, penuh tadabbur, dan mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, ketika musik disko dengan dentuman bass menguasai ruang pengajian, ruh spiritual pengajian berubah menjadi pesta hiburan.

Memang, Islam tidak menutup ruang seni dan budaya. Musik, selama tidak mengandung maksiat dan berlebihan, bisa menjadi sarana hiburan yang mubah. Tetapi jika pengajian yang identik dengan dzikir, doa, dan ilmu diwarnai dentuman keras ala diskotek, maka nilai esensialnya hilang.

Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadis:

“Akan ada suatu kaum dari umatku yang menghalalkan zina, sutra (untuk laki-laki), khamr, dan alat musik.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini menjadi peringatan agar kita tidak menjadikan musik sebagai penguasa hati hingga menggeser zikir kepada Allah. Ketika pengajian terasa seperti konser, kita perlu bertanya: apakah kita hadir untuk Allah, atau sekadar untuk hiburan?


Islam Kaffah: Mengembalikan Fungsi Sakral

Islam kaffah berarti menjalankan Islam secara utuh, bukan parsial. Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al-Baqarah: 208)

Dari ayat ini, jelas bahwa Islam kaffah menuntut keseimbangan: musholla tetap dijaga kesuciannya, pengajian tetap dijalankan dalam nuansa ilmu dan ketenangan.

Mengubah musholla menjadi arena judi kecil-kecilan, atau menjadikan pengajian sebagai ruang pesta musik, berarti kita sedang bermain-main dengan agama. Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah SAW ketika bersabda:

“Sesungguhnya yang pertama kali akan hilang dari umatku adalah kekhusyukan, dan yang terakhir kali akan hilang adalah shalat. Bisa jadi seseorang masih shalat, tetapi tidak ada kebaikan di dalamnya.”
(HR. Abu Nu’aim)




Apa yang saya saksikan adalah potret krisis ruhani. Musholla kehilangan sakralitas, pengajian kehilangan kekhusyukan. Jika dibiarkan, generasi muda akan terbiasa melihat agama sekadar formalitas. Tempat ibadah jadi arena santai, acara keagamaan jadi pesta hiburan.

Padahal, Islam kaffah mengajarkan adab terhadap ruang ibadah dan pengajian. Musholla semestinya dimuliakan, dan pengajian harus menjadi ladang ilmu yang membekas di hati, bukan sekadar keramaian duniawi. 

“Pengajian rasa diskotek, musholla rasa kasino” bukan sekadar ungkapan hiperbolis, tapi realitas yang mengkhawatirkan. Kita perlu kembali kepada ajaran Islam yang kaffah, menempatkan musholla dan pengajian pada tempatnya. Agama bukan sekadar label, melainkan jalan hidup.

Jika musholla dipenuhi kartu, dan pengajian dipenuhi musik disko, kita patut bertanya pada diri sendiri: di mana Allah dalam semua itu?


Referensi

  1. Al-Qur’an Surah An-Nur: 36
  2. Al-Qur’an Surah Al-Baqarah: 208
  3. HR. Al-Baihaqi – tentang masjid yang dipenuhi obrolan dunia
  4. HR. Bukhari – tentang penghalalan musik
  5. HR. Abu Nu’aim – tentang hilangnya kekhusyukan. 

Saturday, September 20, 2025

Ketika Punya Temen Tukang Manfaatin




Pernah nggak sih kamu punya temen yang datang buat manfaatin kita doang?
Giliran kita butuh, eh, dia pura-pura sibuk. Bahkan, pura-pura nggak kenal sama kita.
Gimana perasaan kamu kalo punya temen yang kayak gini?

Rasanya pasti kesel, Gedeg dan pengen ngomel dari Sabang sampe Merauke.

Itulah hal yang aku alami kalau ada temen yang sengaja datang buat manfaatin doang. Bahkan, dongkolnya itu bisa sampe berlarut sekian lama. Setiap lihat wajah atau denger nama orang itu, rasanya udah mual duluan. Pengen banget kalo orang itu enyah dari muka bumi secepatnya.

Tapi ... makin ke sini aku makin sadar. Sikap aku yang gampang dongkol itu cuma bikin penyakit di hati. Akhirnya, aku sendiri yang nggak bisa hidup tenang kalo masih memendam kekesalan sama seseorang.

Aku yakin, setiap orang pasti pernah punya teman “spesial”—bukan karena perhatian atau peduli, tapi karena jagonya memanfaatkan.
Teman macam ini biasanya datang tiba-tiba, tanpa basa-basi, langsung pada inti: “Eh, pinjam uang dulu ya, besok diganti.” atau “Tolong bikinin tugas dong, aku pusing banget nih.” Kadang juga cuma mampir pas butuh tumpangan, minta traktir, atau sekadar curhat panjang lebar lalu menghilang tanpa kabar.

Awalnya, aku sering kesal. Rasanya kayak dijadikan tempat servis berjalan. Aku pun mulai bertanya-tanya dalam hati: Apa aku ini teman, atau sekadar tempat darurat buat mereka?
Bahkan ada masanya aku sampai menghindari chat masuk. Begitu notifikasi muncul dengan nama si teman, aku bisa langsung menebak: “Oke, ini pasti ada maunya lagi.” Dan benar saja, jarang sekali mereka datang hanya untuk sekadar menyapa atau bertanya kabar.

Lucunya, meski sudah tahu polanya, aku masih sering luluh. Alasannya sederhana: aku orangnya nggak enakan. Kalau ditolak, takut mereka sakit hati. Kalau diabaikan, takut dianggap sombong. Akhirnya, meski sambil mendengus dalam hati, aku tetap membantu juga.

Namun, di balik rasa jengkel itu, perlahan aku menemukan sesuatu yang lain. Aku mulai merenung: kenapa ya aku gampang dimanfaatkan? Apakah aku terlalu baik? Atau justru karena aku memang punya sesuatu yang bisa dimanfaatkan? Bukankah itu artinya aku bernilai?

Lama-lama aku belajar melihat dari sisi lain.
Kalau aku sering dijadikan tempat curhat, berarti aku dipercaya.
Kalau aku sering diminta tolong, berarti aku dianggap mampu.
Kalau ada yang datang ke aku saat butuh, berarti aku punya hal yang mereka nggak punya.

Mungkin, ini memang bagian dari peranku di dunia: jadi orang yang memberi manfaat.

Iya, memang capek kadang. Ada saat aku merasa terkuras, merasa tak dianggap balik, atau bahkan merasa diperlakukan tidak adil. Tapi coba bayangkan jika sebaliknya: hidup tanpa ada yang membutuhkan, tanpa ada yang mengingat, tanpa ada yang merasa aku bisa membantu apa pun. Rasanya akan jauh lebih sepi, lebih menyedihkan.

Jadi sekarang, ketika punya teman tukang manfaatin, aku sudah nggak terlalu sakit hati. Aku belajar pasang batas, iya, supaya nggak bablas jadi korban. Tapi di sisi lain, aku juga mulai bisa tersenyum. Karena ternyata, keberadaanku masih berarti. Hidupku masih bisa dipakai, walau mungkin caranya sering bikin aku geleng-geleng kepala.

Pada akhirnya aku sadar, lebih baik hidupku dimanfaatkan orang lain meski kadang bikin kesal daripada hidup tanpa memberi manfaat sama sekali.
Dan dari situ, aku merasa senang. Karena artinya, aku masih punya alasan untuk merasa berharga. 







Sunday, August 10, 2025

Masa Depanmu Bukan Tanggung Jawabku





Ada satu fenomena unik di dunia ini.
Ada orang yang masa depannya udah kayak mi instan—bahan lengkap, air ada, kompor ada—tapi dia tetap minta orang lain yang masakin, ngaduk, bahkan nyuapin.
Kalau bisa, sekalian ditiupin biar nggak panas.

Kamu pernah nggak ketemu orang yang hobinya ngeluh tentang masa depannya, tapi kalau disuruh bergerak malah bilang, “Liat nanti deh, masih males.”?
Atau yang lebih epik, dia mau sukses, tapi rencananya cuma dua kata, yaitu nebeng orang.

Nah, kalau kamu merasa ini mulai mirip kamu… duduklah!
Tarik napas! 
Baca pelan-pelan!
Karena aku mau bilang satu hal penting yang mungkin nggak pernah kamu dengar sejujurnya. 

Suatu hari aku berselisih paham dengan seseorang yang cukup dekat, tapi tidak begitu dekat juga. Saat aku mengungkit masa lalu untuk dijadikan sebuah pelajaran bersama, dia justru marah besar, mencaci maki dan melontarkan banyak kata yang tidak enak untuk kudengar. 
Yang lebih parahnya lagi, dia bertingkah seolah menjadi korban atas apa yang telah aku lakukan dan seolah menuntut masa depannya adalah tanggung jawabku dan dia tidak ingin semuanya hancur. 

Aku berpikir dan merenung cukup lama. Sebenarnya, masa depannya tidak bergantung padaku, juga bukan bagian dari tanggung jawabku. Karena dia bukan anakku yang semuanya harus aku tanggung, termasuk tentang bagaimana masa depannya kelak. 

Entah kenapa, banyak orang yang menuntut agar aku bertanggung jawab pada masa depan orang lain yang mereka sendiri tidak memiliki keberanian untuk bertanggung jawab pada dirinya sendiri. 

Kalau kamu baca tulisan ini, marahlah! Merenunglah! Ambillah pelajaran yang baik! 

Aku cuma mau bilang kalau masa depanmu bukan tanggung jawabku.
Bukan! Sama sekali bukan! 

Jangan salah paham. Aku bukan orang jahat. Aku cuma realistis. Hidup itu kayak warung pecel lele, semua orang punya lapak masing-masing. Aku sibuk ngurus sambelku sendiri, kamu ya ngurus lalapanmu. Kalau kamu nggak ngulek, masa aku yang disuruh nyiapin sambel buat kamu juga?

Aku sering lihat orang yang hobinya nyalahin keadaan. “Aku nggak maju-maju karena nggak ada yang dukung.” Padahal, kalau dipikir-pikir, yang nggak dukung itu bukan orang lain… tapi dia sendiri.

Bisa tuh maraton nonton drakor seminggu penuh, tapi kalau diajak ikut webinar gratis 2 jam langsung bilang, “Aduh, nggak sempat.”
Sempat buat rebahan lima jam, tapi nggak sempat buka laptop.

Bahkan kalau kita serumah, sekeluarga, atau sekampung, tetap saja masa depanmu itu jobdesknya kamu. 

Aku nggak pernah tanda tangan kontrak kerja sebagai “CEO Kehidupanmu” atau “Manager Kariermu”. Aku punya urusan sendiri, cicilan sendiri, mimpi sendiri. Yang percaya atau nggak, udah cukup bikin otakku penuh tanpa harus nyusun strategi hidup orang lain.


Masalahnya, sebagian orang masih percaya konsep aneh: “Kalau orang lain udah peduli sama aku, ya udah sekalian aja mereka yang ngurusin hidupku.”
Konsep ini biasanya datang sepaket dengan kebiasaan manis: nggak mau belajar, nggak mau berusaha, tapi rajin sekali minta tolong.

Contoh nyata?
Dia mau buka usaha. Minta pinjaman modal. Katanya “serius”. Aku bantu. Sebulan dua bulan dia rajin. Bulan ketiga mulai banyak alasan. Bulan keempat dia sibuk posting instastory liburan ke pantai. Bulan kelima? Bisnisnya bubar, tapi dia masih santai. Alasannya? “Ya kamu kan yang kasih modal, masa nggak sekalian ngajarin, ngontrol, ngejar target?”

Halo… modal itu bantuan, bukan kontrak perwalian masa depan.
Aku bantu bukan berarti aku mau jadi baby sitter mimpimu.

Masa depan itu kayak tanaman. Kalau mau panen, kamu yang nanam, kamu yang nyiram. Jangan nyodorin pot kosong sambil nyuruh orang lain nyiram tiap hari, lalu kamu tinggal rebahan sambil nonton drama Korea. Kalau pun ada orang baik hati yang mau nyiram, suatu hari dia akan berhenti—dan tanamanmu mati, karena pemiliknya nggak pernah peduli.

Kadang aku heran, kenapa banyak yang punya energi buat ngeluh, tapi nggak punya tenaga buat berusaha. Punya kuota buat stalking orang lain, tapi nggak ada kuota buat cari informasi kerja. Punya waktu buat nongkrong berjam-jam, tapi nggak ada waktu buat belajar skill baru.
Lalu ketika hidupnya nggak berubah, dia marah pada dunia, merasa semua orang jahat karena “nggak mau nolong”.

Sadar nggak, dunia ini sibuk. Semua orang berjuang dengan beban masing-masing. Kalau kamu masih pikir ada orang yang mau ngurus masa depanmu sepenuh waktu ... selamat! kamu lagi hidup di planet fantasi.

Mau aku kasih tahu rahasia kecil?
Orang yang bener-bener peduli sama masa depanmu, justru akan membiarkan kamu jatuh, supaya kamu belajar berdiri. Mereka nggak akan selalu membentangkan karpet merah tiap kamu mau melangkah, karena dunia nyata itu isinya jalan berbatu, bukan karpet hotel bintang lima.

Jadi mulai sekarang, yuk kita bikin perjanjian tidak tertulis! 
Aku akan tetap dukung kamu dalam bentuk semangat, doa, atau kadang masukan. Tapi aku nggak akan ikut memanggul masa depanmu di pundakku.
Kalau mau sukses, ayo… lari bareng!
Kalau mau nyerah, ya itu pilihanmu! 
Tapi jangan seret-seret aku buat ikut nyungsep.

Karena sekali lagi, dan tolong ini diingat baik-baik! 
Masa depanmu bukan tanggung jawabku! 
Kalau kamu mau hancur, silakan. Kalau kamu mau berhasil, berdirilah sendiri. Aku akan tepuk tangan dari sini.
Aku akan tepuk tangan untuk keberhasilanmu, meminjamkan pundak saat kamu sedih, bahkan mengingatkan kalau arahmu mulai melenceng. Tapi untuk menanam, menyiram, dan memanen—itu kerjaanmu, bukan tugasku! 
Ingat, hidup ini sistemnya BYO—Build Your Own masa depan. Mau sukses? Bangun sendiri. Mau gagal? Ya urus sendiri. Mau viral? Ya bikin konten sendiri.





Saturday, July 19, 2025

Pengalaman Mengikuti Musyawarah Wilayah dan Rapat Presidium Pemilihan Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Kaltim

 


Pagi ini aku terbangun dengan tergesa-gesa karena ada banyak jadwal yang harus aku lakukan hari ini. Bersyukurnya anak perempuanku yang duduk di kelas 4 SD sudah bisa mandiri. Ia selalu mengurus keperluan sekolahnya sendiri dan berangkat ke sekolah sendiri. Yang masih sulit mandiri adalah sang adik karena memang masih duduk di bangku TK. 

Hari ini, putera kecilku tidak masuk sekolah alias libur. Tapi orang tuanya diwajibkan datang ke sekolah untuk mengikuti rapat. Seperti biasa, tahun ajaran baru selalu membutuhkan perjuangan ekstra karena banyak yang harus dibayar dan dipersiapkan. 

Undangan rapat pukul 08.00 WITA dan aku masih belum mandi. Saat ini aku merasa lebih santai dan tidak harus datang on-time karena "terlambat" sudah menjadi budaya. Aku yang sangat sibuk, tidak ingin membuang-buang waktu dengan menunggu lama. Aku sedikit terlambat, tapi acara belum dimulai, persis seperti perkiraanku.


Usai mengikuti rapat di sekolah, aku langsung pulang ke rumah dan membuka laptopku. Tidak aku lupa kalau ada jadwal zoom meeting Musyawarah Wilayah untuk semua pengurus TBM di Kalimantan Timur. Aku tidak bisa hadir langsung, jadi aku meminta izin untuk hadir secara online. Sebab, pukul 13.00 WITA masih ada kegiatan Party Book bersama komunitas-komunitas pemuda Muara Jawa dan Samboja.

Aku baru masuk zoom setelah ada konfirmasi di grup kepengurusan bahwa zoom meeting sudah dimulai. Memang telat dari jadwal dikarenakan banyak yang hadir secara offline.
Acara dibuka oleh Presidium Wilayah Kaltim dengan memaparkan arti pentingnya gerakan literasi di wilayah Kaltim dan bagaimana Forum TBM berperan menjadi wadah untuk saling berbagi dan saling menguatkan.


Musyawarah Wilayah ini dihadiri langsung oleh pengurus daerah Forum TBM dari berbagai kota dan kabupaten di Kutai Kartanegara. Beberapa pengurus daerah yang hadir secara langsung berasal dari Pengurus Daerah FTBM Samarinda, FTBM Balikpapan, FTBM Kukar, FTBM Kubar/Malinau, FTBM Kutim, FTBM PPU, FTBM Bontang, FTBM Paser, dan FTBM Berau.

Aku merasa senang sekali karena akhirnya Forum TBM di Wilayah Kalimantan Timur bisa bergerak secara serempak. Tentunya ini akan sangat berperan penting dalam gerakan literasi di daerah ini. Sudah cukup lama aku bergabung di Forum TBM dan baru kali ini merasakan pergerakan Forum TBM yang cukup aktif. Bahkan, Forum TBM Kaltim telah membentuk kepengurusan daerah di beberapa kota dan kabupaten.

Tidak ada hal yang sulit ketika Tuhan yang menggerakkan. Begitu juga dengan pergerakan literasi ini. Semuanya bergerak secara swadaya, menggunakan uang pribadi untuk bisa menjalankan program-program literasi, terutama dalam pengentasan kemiskinan dan kesenjangan sosial. Jika bukan Tuhan yang menyentuh hati kita, tentunya kita tidak akan memiliki kepedulian kepada orang lain, terlebih orang-orang yang tidak kita kenal ke depannya.

Aku berharap, Forum TBM benar-benar bisa menjadi ruang berdiskusi, berjejaring, dan saling menguatkan. Karena terkadang kita ingin menyerah saat berjalan seorang diri. Di Forum TBM, kita sama-sama bergerak dan berjuang untuk saling menguatkan agar gerakan kita tetap konsisten dan hati kita tetap istiqomah berada di jalan ini.



Kutai Kartanegara, 19 Juli 2025

Sunday, July 6, 2025

15 Kostum Habsy dan Tiga Amanah Besar dari Tuhan






Ada hari-hari di mana aku merasa seperti sedang berdiri di tengah lintasan, dihujani tanggung jawab dari segala arah. Dan aku bukan sedang bercanda. 

Bayangkan, harus menyelesaikan 15 buah kostum Habsy Putera dari Argosari yang penuh detail rumit, renda silver, kerapian jahitan yang tak bisa ditawar, serta deadline yang tak bisa ditunda. 
Di saat yang bersamaan aku menjadi panitia Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) Ke-46 Kecamatan Samboja, petugas pendataan penduduk OIKN bersama BPS Kukar, dan juga tengah menjalani Diklat Relawan Literasi Nasional (Relima) 2025 dari Perpusnas RI.

Aku merasa, hari-hariku tidak lagi bisa dibagi menjadi pagi, siang, dan malam. Yang ada hanya "berapa banyak lagi yang harus diselesaikan sebelum esok menuntut lebih banyak". 

Pagi hingga malam hari  aku sibuk di ruang jahitku. Aku harus menyelesaikan jahitanku tepat waktu. Karena kostum akan segera digunakan, sementara masih banyak detail-detail yang belum terselesaikan. 
Seseorang bilang, "jangan ambil orderan terlalu banyak. Nanti nggak ada waktu istirahat". Tapi aku sudah terbiasa dengan kesibukan sejak dulu. Terlalu bersantai tidak enak. Terlebih aku juga butuh uang untuk membiayai hidup kedua anakku, nenek, dan kedua orang tuaku. Otomatis, aku harus bekerja lebih keras dari orang lain agar bisa memenuhi kebutuhan seluruh keluargaku. 

Beruntungnya, aku tidak menjadi panitia inti dalam acara MTQ Ke-46 yang digekar di desaku. Aku memang sudah mengkonfirmasi dari awal kalau aku hanya bisa bantu-bantu saja. Mengingat pekerjaan dan kegiatanku cukup banyak. 
Setelah lomba kaligrafi dilaksanakan tanggal 01 Juli lalu (kebetulan aku adalah koordinator panita lomba musabaqoh), aku punya waktu yang cukup luang untuk menyelesaikan jahitan-jahitanku. 
Tanggal 02 Juli 2025 seharusnya aku masih gotong-royong membersihkan Arena 5 (SDN 038) yang digunakan untuk lomba kaligrafi. Sebab, perlombaan berlangsung sejak pagi hingga pukul 18.00 WITA. Kami sudah sangat lelah sehingga bersepakat untuk membereskan di hari berikutnya. 
Sayangnya, aku tidak bisa gotong-royong sejak pagi. Aku arahkan timku untuk bergotong-royong sore saja karena aku ada jadwalzoom pagi bersama Perpusnas RI terkait Sosialisasi Relima 2025.
Beruntungnya, ada tim perlengkapan yang gercep alias meng-handle semuanya. Semua sudah dibereskan oleh tim perlengkapan. Jadi, kami panitia musabaqoh hanya bertugas menyapu dan mengepel lantai. Semua meja dan kursi telah kembali ke tempat semula. 

Tanggal 03 Juli, seragam habsy belum selesai juga. Aku kembali bertemu dengan masalah besar. Listrik di wilayah Kecamatan Samboja padam sejak pukul 08.00 s.d 17.30 WITA. Alhasil, aku tidak bisa menjahit seharian karena semua mesin harus terhubung ke listrik. Sementara, pukul 08.30 WIB ada jadwal pembukaan kegiatan Pusdiklat Relima 2025. 
Setiap kali mati listrik, signal di desaku ikut mati total. Sehingga tidak bisa melakukan apa-apa dan kembali menjadi manusia primitif. Jadi, aku harus pergi ke kelurahan lain untuk mendapatkan sinyal. 
Tepat di jam 09.00 WITA, aku berjalan menuju keluraha  Sei Seluang. Ternyata, di sana juga tidak ada signal. Karena aku tidak bisa melakukan tarik tunai, sementara sudah tidak punya uang sama sekali. 
Keberuntungan kembali berpihak padaku. Saat semua orang kehilangan signal, aku masih mendapatkan sedikit signal yang bisa aku hotspot ke pemilik ATM Link agar aku bisa mendapatkan uang tunai. 
Kendala tarik tunai terselesaikan dengan baik. Aku langsung menuju ke warung bakso "Moro Tuman". Warung bakso paling dekat dan suasananya nyaman karena bisa duduk lesehan. Ini bisa membuat otak yang tegang terasa lebih rileks. Aku berhasil mengikuti zoom, meski banyak kendala karena jaringan selalu hilang dan beberapa kali keluar-masuk ruang zoom. Beruntungnya, di dalam grup WA "Relima 2025" banyak yang peduli dan berbagi informasi penting pada kami yang mengalami kendala teknis saat zoom meeting. 
Siang harinya aku sudah kembali ke rumah. Tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena listrik padam. Barulah malam harinya aku mulai menjahit. Baru dapat beberapa jahitan, tiba-tiba mesin obrasku ngadat alias tidak bisa digunakan. 
"Ya Allah, cobaan apa lagi ini?"
Alhasil, aku harus servis mesin obrasku terlebih dahulu. Beruntungnya ada teman yang membantu dan aku mulai menjahit kembali hingga pukul 00.15 WITA. 

Keesokan harinya, begitu mata ini terbuka, aku langsung duduk di depan mesin jahit hingga dini hari. Ketika orang-orang mulai memejamkan mata, aku duduk sendiri di ruang jahit. Lampu mesin menyorot wajahku yang mulai lelah, tapi tangan terus bekerja. Satu demi satu kostum anak Habsy kubentuk dari lembaran kain menjadi busana yang layak tampil di panggung kehormatan.

Argosari adalah tempat yang tak hanya mengirimkan pesanan, tapi juga harapan. Aku tahu, setiap kostum yang kupotong dan kurangkai adalah bagian dari cita-cita orangtua dan kebanggaan anak-anak muda yang akan membawakannya. Jadi tidak ada pilihan lain selain menuntaskan semuanya tepat waktu dengan hasil yang maksimal.

Sempat terlintas ingin menyerah. Sempat juga berpikir untuk menolak satu dua amanah demi menyelamatkan tenaga. Tapi begitulah hidup, ya? Terkadang kita tak bisa memilih mana yang lebih penting ketika semua terasa punya nilai yang sama.

Namun, di antara lelah itu, ada pelajaran besar yang tak mungkin kutukar dengan waktu istirahat:
Bahwa manusia punya kekuatan tersembunyi yang hanya muncul saat kita diuji berkali-kali.
Bahwa passion tidak selalu terasa ringan, kadang ia juga datang dalam bentuk kerja keras yang tak kenal henti.
Bahwa ketika hati kita tulus melayani, lelah akan menemukan caranya sendiri untuk menjadi berkah.

Di sela-sela kegiatan menjahit, aku juga mengikuti pelatihan Relima Perpusnas secara daring. Aku sering merenung. Aku berada di antara  179 relawan dari seluruh Indonesia yang punya semangat literasi yang sama. Meski tubuhku kelelahan, tapi aku tahu aku berada di jalur yang tepat, jalur yang penuh makna. Di situ aku mengingat lagi alasan mengapa aku memulai semua ini, karena aku ingin menjadi bagian dari perubahan. Lewat literasi, lewat budaya, lewat karya kecilku sebagai penjahit kampung yang juga seorang pegiat.

Ketika aku melihat anak-anak Habsy tampil gagah di panggung MTQ dengan kostum yang kujahit semalaman, ketika aku melihat data penduduk mulai tertata rapi demi pembangunan IKN, dan ketika namaku tercatat sebagai salah satu peserta yang lolos Relima 2025 ... aku tahu semua lelah itu ada gunanya. 
Aku tak sedang menyenangkan banyak orang. Aku sedang membentuk versi terbaik dari diriku sendiri.

Terima kasih, Argosari. Terima kasih MTQ. Terima kasih BPS Kukar. Dan terima kasih Perpusnas RI. Karena kalian, aku tahu bahwa aku bisa menjadi lebih dari yang aku bayangkan.

Dan kepada diriku sendiri aku ingin berpesan, "jangan pernah ragu untuk mengambil peran. Sekalipun peran itu terasa terlalu besar di awal. Karena mungkin, itu adalah cara semesta menunjukkan bahwa kamu lebih kuat dari yang kamu bayangkan."



Kutai Kartanegara, 04 Juli 2025


Rin Muna
Wanita yang suka bercerita tapi tak punya pendengar

Tuesday, July 1, 2025

Introvert dan Anti-Sosial Seringkali Disalahpahami



Akhir-akhir ini aku sering mendengar kata "introvert" di kalangan anak-anak muda. Setiap kali bertemu dengan anak-anak muda yang enggan menyapa, mereka selalu bilang "aku introvert".

Sebenarnya, introvert itu apa? 

Pertanyaan ini menjadi sebuah pertanyaan yang melekat begitu lama di kepalaku. Aku terus mencari informasi. Membaca buku-buku tentang psikologi, filsafat, dan sosiologi. 

Sampai akhirnya, aku membuat tulisan ini setelah berpikir dan menganalisa selama beberapa tahun terakhir.

Introvert dan anti-sosial memiliki makna yang sangat tipis dan kerap kali disalahpahami karena keduanya terlihat "menyendiri", padahal maknanya jauh berbeda. 

Orang yang introvert memiliki ciri utama dan karakteristik yang unik. Mereka Lebih nyaman dan energik saat sendiri atau dalam kelompok kecil, bukan berarti tidak pandai komunikasi atau berbicara. Orang yang introvert lebih menyukai  waktu sendiri untuk mengisi ulang energi.Tidak suka keramaian, tapi bukan berarti benci orang lain. Punya kemampuan sosial yang baik, hanya saja lebih selektif dalam berinteraksi. Mereka lebih suka mendengarkan daripada bicara, mereka akan berbicara banyak hanya jika dibutuhkan. Bisa punya hubungan yang dalam dan bermakna dengan sedikit orang.

Orang introvert lebih suka memilih baca buku di rumah daripada pergi ke pesta, tapi tetap hangat dan akrab saat berbincang dengan teman dekat. 

Seringkali ada anggapan bahwa introvert itu pendiam dan canggung saat berkomunikasi. Tapi kenyataannya, banyak orang introvert justru sangat jago berkomunikasi, terutama dalam situasi yang sesuai dengan gaya mereka. 

Introvert cenderung menjadi pendengar yang baik. Mereka menyimak dengan cermat, memahami konteks, dan merespons dengan tepat. Ini membuat komunikasi mereka terasa tulus dan penuh makna, bukan sekadar basa-basi.

Orang introvert biasanya berpikir dulu sebelum bicara. Mereka tidak suka omong kosong, jadi ketika berbicara, biasanya isi pesannya lebih tajam dan tersusun. Dalam konteks komunikasi tertulis atau presentasi, ini menjadi keunggulan besar.

Introvert merasa tidak nyaman saat ngobrol rame-rame, mereka lebih suka berada dalam percakapan pribadi atau komunikasi dua arah, mereka bisa sangat terbuka dan ekspresif. Mereka unggul dalam membangun kedekatan emosional melalui komunikasi yang intim dan penuh empati.

Banyak introvert berbakat menulis, baik email, artikel, puisi, maupun caption medsos. Karena menulis memberi ruang untuk berpikir tanpa tekanan interaksi secara langsung. Makanya, banyak penulis hebat adalah introvert.

Introvert yang menyadari kekuatannya sering kali melatih kemampuan sosial mereka. Mereka bisa tampil percaya diri saat dibutuhkan, karena mereka mempersiapkan diri secara mental lebih matang. Saat tampil, mereka bisa terlihat seperti ekstrovert, padahal setelahnya butuh waktu menyendiri untuk recharge.

Introvert tidak suka bicara banyak hal sekaligus, tapi mereka hebat dalam menggali topik secara mendalam. Dalam komunikasi, ini membuat mereka tampak serius, terarah, dan penuh wawasan.

Jadi, jangan heran kalau ada introvert yang bisa menyampaikan pidato yang menggetarkan, atau punya podcast yang bikin banyak orang betah mendengarkan. Mereka bukan tidak bisa komunikasi, mereka hanya butuh ruang yang tepat untuk menampilkan versinya.

Kalau kamu bertemu orang yang pendiam, belum tentu dia anti-sosial, bisa jadi dia introvert yang ramah dan hanya butuh waktu untuk nyaman.

Dapat disimpulkan kalau introvert bukanlah orang yang tidak bisa menyapa orang lain. Mereka justru pandai dalam menempatkan diri. Mereka bahkan bisa mengajak komunikasi dan berbicara banyak hal karena memiliki wawasan yang luas. Wawasan yang luas didapat karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk membaca buku, mendengarkan, dan menggali hal-hal baru di sekitarnya.


Lalu, bagaimana dengan istilah anti-sosial?

Dalam ilmu psikologi, anti-sosial dikenal dengan istilah ASPD (Antisocial Personality Disorder). Ciri utama orang yang anti-sosial cenderung melawan norma sosial yang berlaku di masyarakat dan seringkali merugikan orang lain.

Orang yang anti-sosial memiliki karakteristik yang tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi bisa kita rasakan ketika sudah melakukan kontak langsung dengan orang tersebut. Orang yang anti-sosial biasanya tidak peduli perasaan atau hak orang lain. Karakter yang satu ini bisa aku benarkan karena aku sudah sering menemui kasus yang serupa. Sebagai contoh, staff personalia yang tidak memedulikan hak karyawan-karyawannya ketika melakukan kesalahan penginputan dan berkata, "aku nggak peduli yang lain. Yang penting gajiku keluar!"

Orang yang anti-sosial seringkali melanggar aturan dan hukum, baik hukum negara maupun hukum sosial. Mereka juga bisa sangat manipulatif, agresif, dan tidak punya empati kepada orang lain. Tidak merasa bersalah setelah menyakiti orang lain.

Anti-sosial bukanlah tipe kepribadian biasa, ini adalah bagian dari gangguan kepribadian dalam dunia psikologi/psikiatri.

Orang yang anti-sosial bisa dengan sengaja menipu, mencuri, atau menyakiti orang lain tanpa rasa penyesalan.

Saat ini, fenomena anti-sosial yang berlindung di balik label “introvert” memang nyata dan sering terjadi. Banyak orang menyebut dirinya introvert padahal sebenarnya mengalami masalah lain dalam bersosialisasi, seperti kecemasan sosial, trauma, atau bahkan gangguan kepribadian anti-sosial.

Orang yang anti-sosial cenderung menghindari bahkan membenci interaksi sosial secara ekstrem. Mereka juga tidak peduli atau tidak mampu menjalin hubungan sosial yang sehat. 

Beberapa orang yang anti-sosial menolak bersosialisasi karena  luka batin, rasa malu ekstrem, atau kecemasan sosial. Sebagian dari mereka juga menggunakan label "introvert" sebagai tameng agar tak perlu menjelaskan perasaan atau kondisi mereka yang lebih kompleks. Mereka bahkan lebih nyaman berada dalam zona keterasingan, lalu menyamakan itu dengan kepribadian introvert, padahal bisa jadi ada gejala psikologis yang tidak disadari.

Contoh nyata, seorang remaja yang tidak mau sekolah dan enggan bergaul menyebut dirinya introvert. Tapi setelah ditelusuri, ternyata dia mengalami bullying dan trauma, serta mengalami gangguan kecemasan sosial.


Mengaku introvert itu sah. Tapi jika sikap selalu menghindar dari manusia, marah saat diajak bicara, atau menolak semua bentuk interaksi, maka itu bukan sekadar introversi. Bisa jadi ada luka, trauma, atau gangguan psikologis yang perlu ditangani. Introvert sehat tetap bisa menjalin relasi, meski dengan caranya sendiri.








Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas