Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Friday, October 17, 2025

Hati Selapang Yusuf: Belajar Memaafkan Mereka yang Menyakiti Kita




Hati Selapang Yusuf: Belajar Memaafkan Mereka yang Menyakiti Kita


Oleh: Rin Muna

Kadang, hidup memberi kita pelajaran paling berat lewat orang yang paling kita sayangi.
Bukan dari musuh, bukan dari orang asing, tapi dari mereka yang kita kira akan selalu melindungi kita.
Dari sinilah kisah Nabi Yusuf AS mengajarkan sesuatu yang nyaris mustahil dilakukan manusia biasa, yakni memaafkan tanpa sisa.

Dalam surah Yusuf ayat 8–10, Allah mengisahkan bagaimana saudara-saudara Yusuf merasa iri kepada Yusuf kecil yang disayangi ayahnya, Nabi Ya’qub. Kecemburuan itu berubah jadi niat jahat. Mereka melemparkannya ke dasar sumur dan berbohong bahwa ia telah dimakan serigala.

Bayangkan!
Dikhianati oleh darah sendiri. Diterlantarkan, lalu dibesarkan di negeri asing, dijual sebagai budak, difitnah, dan dipenjara, semua berawal dari permulaan yang pahit itu. Tapi anehnya, Yusuf tidak menyimpan dendam sedikit pun.

Ketika akhirnya menjadi penguasa Mesir dan berkuasa penuh atas nasib saudara-saudaranya, Yusuf hanya berkata lembut:

“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian. Semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”


Lihatlah, betapa lapangnya hati itu.
Ia bisa saja menghukum, bisa saja menuntut balas, tapi Yusuf memilih untuk melepaskan beban luka dan menggantinya dengan kasih sayang.

Kadang kita salah sangka, mengira orang yang hatinya lapang berarti tidak pernah sakit. Padahal, justru karena hatinya pernah remuk, ia belajar bagaimana cara menyembuhkannya.
Yusuf juga manusia. Ia menangis, ia kecewa, ia rindu ayahnya. Tapi setiap kali luka itu datang, ia tidak menambah luka baru dengan kebencian.

Dalam Tafsir Ibn Katsir, dijelaskan bahwa doa Nabi Yusuf ketika dalam penjara:

“Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka.” (QS. Yusuf: 33)

Ini menunjukkan bahwa ia memilih kesucian hati daripada kesenangan sesaat. Ia tahu, menjaga hati lebih penting daripada memenangkan ego.

Begitu juga dalam kehidupan kita sekarang.
Ketika teman kerja menjelekkan di belakang, ketika saudara sendiri iri terhadap keberhasilan kita, atau ketika orang yang kita bantu justru menikam dengan kata-kata, maka itu semua adalah "sumur" kecil yang menanti reaksi kita.
Apakah kita akan menenggelamkan diri dalam amarah, atau belajar berenang menuju permukaan dengan hati yang ringan?

Lapang hati itu bukan teori, tapi latihan harian.
Misalnya, saat seseorang membatalkan janji di menit terakhir, atau teman yang tiba-tiba menjauh tanpa penjelasan.
Awalnya pasti ada rasa “kok tega sih?”. Tapi perlahan, kalau kita belajar seperti Yusuf, kita akan menemukan kekuatan baru. Kekuatan untuk berkata, “Tidak apa-apa, mungkin Allah sedang mengajarkan aku tentang ikhlas.”

Di rumah, lapang hati bisa terlihat dari bagaimana kita menahan suara saat marah kepada anak, atau bagaimana kita memilih diam saat disalahpahami pasangan.
Di tempat kerja, lapang hati berarti tidak membawa dendam ke dalam pekerjaan, dan tetap profesional walau kecewa.
Di dunia maya, lapang hati berarti tidak membalas komentar kasar dengan komentar kasar, tapi dengan senyum dan doa dalam hati.

Karena lapang hati bukan kelemahan, justru itu tanda kekuatan sejati.
Sebagaimana dikatakan oleh ulama besar, Imam Al-Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin:

“Tanda hati yang bersih adalah ketika engkau tidak merasa senang atas musibah orang yang pernah menyakitimu.”

Itu sulit, tapi bukan tidak mungkin. Yusuf telah membuktikannya.

Yang membuat Yusuf menang bukan tahtanya, tapi cara ia memperlakukan mereka yang menjatuhkannya.
Ketika ia memeluk saudara-saudaranya yang dulu mencelakainya, itu bukan hanya pelukan fisik, tapi pelukan spiritual yang menyembuhkan masa lalu.

Di titik itu, Yusuf sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Ia tak lagi butuh pembuktian, tak lagi mencari balasan. Ia hanya ingin menebar kebaikan karena tahu jika Allah-lah yang menulis cerita dari awal sampai akhir.

Dalam hidup ini, kita juga akan bertemu banyak “saudara” dalam berbagai bentuk: teman, rekan kerja, bahkan orang tua. Karena terkadang saudara justru menjadi orang asing hanya karena tidak bisa menerima siapa kita hari ini.






Nabi Muhammad SAW: Mukjizat Intelektual dan Cahaya Kecerdasan yang Abadi



Nabi Muhammad SAW: Mukjizat Intelektual dan Cahaya Kecerdasan yang Abadi

Oleh: Rin Muna

Banyak kisah tentang para nabi yang menakjubkan. Nabi Sulaiman dengan kekayaan dan kekuasaannya, Nabi Ayyub dengan kesabarannya, Nabi Yusuf dengan ketampanannya, Nabi Nuh dengan keteguhannya, dan Nabi Musa dengan keberaniannya menghadapi Fir’aun. Namun di antara mereka semua, ada satu sosok yang tidak hanya mulia karena mukjizatnya, tetapi karena kecerdasannya yang melampaui batas manusia , dialah Nabi Muhammad SAW.

Sering kali aku memikirkan tentang sosok Nabi Muhammad SAW. Tentang bagaimana mungkin seorang yang tidak bisa membaca dan menulis, mampu melahirkan sebuah peradaban ilmu yang mengubah dunia. 
Di sinilah letak mukjizat yang sering terabaikan. Bukan hanya mukjizat Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, tetapi juga mukjizat intelektual yang menjadikan beliau sebagai sumber inspirasi bagi para pemikir lintas zaman. Bagiku, Rasulullah memiliki kecerdasan intelektual yang sempurna. Beliau bisa mengingat dengan baik setiap wahyu yang Allah turunkan, yang kemudian menjadi Al-Qur'an dan Al-Hadist yang saat ini menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat.

Rasulullah SAW memiliki kecerdasan yang menyeluruh (Intelektual, Emosional, dan Spiritual).

Kecerdasan Rasulullah SAW tidak hanya terbatas pada kemampuan logika atau ilmu pengetahuan, tetapi menyeluruh dalam semua dimensi kehidupan.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menyebutkan bahwa Rasulullah memiliki ‘aql al-tam atau  akal yang sempurna. Ini berarti kecerdasan beliau mencakup nalar, intuisi, empati, dan kemampuan sosial yang tinggi.

Dalam setiap situasi genting, beliau menunjukkan keseimbangan yang luar biasa antara akal dan hati. Saat Perang Badar, misalnya, beliau menata strategi militer yang matang. Beliau mmemilih posisi di dekat sumber air, membentuk barisan, dan mengatur logistik pasukan. Namun pada saat yang sama, beliau tetap berdoa dengan linangan air mata, menggantungkan segala keputusan kepada Allah.

Inilah puncak kecerdasan sejati. Yakni ketika logika tidak menyingkirkan iman, dan iman tidak menafikan akal.


Rasulullah SAW diutus kepada bangsa Arab yang kala itu dikenal dengan budaya lisan dan kefasihan berbahasa. Mereka gemar beradu syair, menimbang kata, dan berdebat dalam majelis-majelis sastra. Namun ketika Al-Qur’an turun, para penyair terhebat pun terdiam.

Ayat-ayatnya bukan hanya indah, tetapi mengandung logika, struktur, dan keilmuan yang melampaui batas manusia. Sungguh, aku sangat menyukai ayat-ayat Allah. Terlebih ketika membaca buku terjemahan Al-Qur'an yang diterbitkan pada zaman dahulu. Pilihan diksinya terasa lebih menyentuh hati meski tidak mudah dipahami oleh orang awam, terutama untuk generasi Z dan Alpha seperti sekarang ini.

Allah menegaskan dalam (QS. Yasin: 69) :

“Dan Kami tidak mengajarkan dia (Muhammad) syair, dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang jelas.”


Mukjizat intelektual Rasulullah terletak pada kemampuannya menerima, memahami, dan menyampaikan wahyu dengan ketepatan makna, meski tanpa pendidikan formal. Ia menyampaikan pesan-pesan yang mencakup teologi, hukum, etika, sains, bahkan politik, dengan bahasa yang paling jernih dan rasional.

Para cendekiawan seperti Dr. Maurice Bucaille, dalam bukunya La Bible, le Coran et la Science, menegaskan bahwa tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an yang bertentangan dengan sains modern. Ini bukti bahwa Rasulullah menerima wahyu yang melampaui kecerdasan manusia pada zamannya.


Dalam sejarah, Rasulullah tidak hanya dikenang sebagai nabi dan rasul, tetapi juga sebagai pemimpin yang visioner dan komunikator ulung.
Beliau mampu mempersatukan suku-suku Arab yang bertikai selama ratusan tahun menjadi satu ummah.

Salah satu contoh nyata kecerdasan sosial beliau tampak saat peristiwa peletakan Hajar Aswad. Saat itu, suku-suku Quraisy hampir berperang karena berebut kehormatan untuk meletakkan batu suci itu.
Rasulullah yang saat itu masih muda, datang membawa solusi sederhana tapi jenius.
Beliau membentangkan selembar kain, meletakkan batu di tengahnya, dan meminta setiap pemimpin suku memegang sisi kain tersebut bersama-sama.

Dengan cara itu, beliau tidak hanya menghindari pertumpahan darah, tetapi juga membuat semua pihak merasa dihormati.
Itulah puncak kecerdasan emosional dan sosial di mana Rasulullah mampu membaca situasi, menenangkan konflik, dan menghadirkan solusi damai tanpa menyinggung siapa pun.


Kadang aku merenung di tengah kesibukan dunia yang sangat bising ini.
Kita sering mengukur kecerdasan dari seberapa cepat kita berpikir, seberapa banyak gelar yang kita miliki, atau seberapa besar inovasi yang kita hasilkan. Tapi Rasulullah mengajarkan bahwa kecerdasan sejati lahir dari ketundukan kepada kebenaran.

Beliau tidak pernah membanggakan dirinya sebagai orang paling cerdas. Beliau justru sering berdoa:

“Ya Allah, tambahkanlah ilmuku.” (QS. Taha: 114



Doa sederhana ini adalah tanda bahwa kecerdasan bukanlah puncak, melainkan perjalanan. Bahwa belajar adalah ibadah, dan memahami adalah bentuk kasih sayang Allah yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

Maka benar jika Rasulullah disebut memiliki mukjizat intelektual. Bukan karena beliau menulis buku atau membangun perpustakaan, melainkan karena beliau membangun peradaban berpikir  yang hingga kini masih menjadi sumber inspirasi bagi umat manusia.



Kadang aku berpikir, andai setiap manusia belajar dari kecerdasan Rasulullah, mungkin dunia akan lebih tenang. Karena kecerdasan beliau bukan untuk mengalahkan, tapi untuk memahami. Bukan untuk meninggi, tapi untuk menunduk pada kebenaran.
Dan mungkin di sanalah letak cahaya yang disebut nur Muhammad, sumber ilmu yang tak pernah padam di hati mereka yang mencari.


Sumber Referensi:

1. Al-Qur’anul Karim (QS. Yasin: 69, QS. Taha: 114)


2. Ibnu Khaldun, Muqaddimah (Bab 6: Tentang Akal dan Ilmu)


3. Maurice Bucaille, La Bible, le Coran et la Science, 1976


4. Hamka, Sejarah Umat Islam, Balai Pustaka, 1975










Thursday, October 2, 2025

Pengajian Rasa Diskotek, Musholla Rasa Kasino



Pengajian Rasa Diskotek, Musholla Rasa Kasino


Jangan keburu emosi saat baca judul tulisanku yang satu ini. Kalau kamu emosi, artinya kamu pernah mengalaminya atau bahkan kamulah pelakunya. Tulisan ini untuk belajar dan berpikir tentang apa yang telah terjadi di dunia ini. Jadi, bijaklah ketika membaca.


Fenomena sosial keagamaan di masyarakat kerap menghadirkan wajah yang kontradiktif. Di satu sisi, agama dijadikan identitas dan kebanggaan, namun di sisi lain, praktiknya sering jauh dari nilai-nilai luhur Islam. Saya sendiri pernah menyaksikan bagaimana sebuah musholla yang seharusnya menjadi tempat bersujud, berzikir, dan mencari ketenangan batin, berubah menjadi arena bermain kartu remi. Bahkan, sebuah acara pengajian yang mestinya menumbuhkan khusyuk, justru dihiasi dentuman musik disko dengan volume keras, hingga suasana lebih mirip klub malam ketimbang majelis ilmu.

Fenomena inilah yang menginspirasi tulisan ini dengan judul “Pengajian Rasa Diskotek, Musholla Rasa Kasino.”


Musholla adalah rumah Allah yang berubah menjadi arena permainan. Sungguh mengejutkan ketika aku melihat orang-orang bisa dengan bebas bermain kartu remi di teras musholla. Menunggu waktu, harusnya diisi denga mengaji atau berdzikir. Sehingga, rumah Allah benar-benar menjadi rumah yang suci dan penuh ilmu. 

Dalam pandangan Islam, musholla maupun masjid adalah rumah Allah yang harus dimuliakan. Allah berfirman:

"Di rumah-rumah (masjid) yang Allah telah memerintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang."
(QS. An-Nur: 36)

Namun realitas yang saya lihat sungguh ironis: tikar yang biasa menjadi alas sujud justru dipenuhi kartu remi, tawa dan candaan lebih mendominasi daripada doa. Musholla seakan kehilangan sakralitasnya. Padahal Rasulullah SAW bersabda:

“Akan datang pada umatku suatu masa, orang-orang berkumpul di masjid, mereka hanya berbicara tentang dunia. Maka janganlah kalian duduk bersama mereka, karena Allah tidak butuh pada mereka.”
(HR. Al-Baihaqi)

Hadis ini jelas menggambarkan betapa menyedihkannya ketika rumah Allah dipakai bukan untuk ibadah, melainkan hiburan duniawi.


Pengajian Rasa Diskotek: Hilangnya Ruh Spiritual

Pengajian mestinya menghadirkan suasana tenang, penuh tadabbur, dan mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, ketika musik disko dengan dentuman bass menguasai ruang pengajian, ruh spiritual pengajian berubah menjadi pesta hiburan.

Memang, Islam tidak menutup ruang seni dan budaya. Musik, selama tidak mengandung maksiat dan berlebihan, bisa menjadi sarana hiburan yang mubah. Tetapi jika pengajian yang identik dengan dzikir, doa, dan ilmu diwarnai dentuman keras ala diskotek, maka nilai esensialnya hilang.

Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadis:

“Akan ada suatu kaum dari umatku yang menghalalkan zina, sutra (untuk laki-laki), khamr, dan alat musik.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini menjadi peringatan agar kita tidak menjadikan musik sebagai penguasa hati hingga menggeser zikir kepada Allah. Ketika pengajian terasa seperti konser, kita perlu bertanya: apakah kita hadir untuk Allah, atau sekadar untuk hiburan?


Islam Kaffah: Mengembalikan Fungsi Sakral

Islam kaffah berarti menjalankan Islam secara utuh, bukan parsial. Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al-Baqarah: 208)

Dari ayat ini, jelas bahwa Islam kaffah menuntut keseimbangan: musholla tetap dijaga kesuciannya, pengajian tetap dijalankan dalam nuansa ilmu dan ketenangan.

Mengubah musholla menjadi arena judi kecil-kecilan, atau menjadikan pengajian sebagai ruang pesta musik, berarti kita sedang bermain-main dengan agama. Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah SAW ketika bersabda:

“Sesungguhnya yang pertama kali akan hilang dari umatku adalah kekhusyukan, dan yang terakhir kali akan hilang adalah shalat. Bisa jadi seseorang masih shalat, tetapi tidak ada kebaikan di dalamnya.”
(HR. Abu Nu’aim)




Apa yang saya saksikan adalah potret krisis ruhani. Musholla kehilangan sakralitas, pengajian kehilangan kekhusyukan. Jika dibiarkan, generasi muda akan terbiasa melihat agama sekadar formalitas. Tempat ibadah jadi arena santai, acara keagamaan jadi pesta hiburan.

Padahal, Islam kaffah mengajarkan adab terhadap ruang ibadah dan pengajian. Musholla semestinya dimuliakan, dan pengajian harus menjadi ladang ilmu yang membekas di hati, bukan sekadar keramaian duniawi. 

“Pengajian rasa diskotek, musholla rasa kasino” bukan sekadar ungkapan hiperbolis, tapi realitas yang mengkhawatirkan. Kita perlu kembali kepada ajaran Islam yang kaffah, menempatkan musholla dan pengajian pada tempatnya. Agama bukan sekadar label, melainkan jalan hidup.

Jika musholla dipenuhi kartu, dan pengajian dipenuhi musik disko, kita patut bertanya pada diri sendiri: di mana Allah dalam semua itu?


Referensi

  1. Al-Qur’an Surah An-Nur: 36
  2. Al-Qur’an Surah Al-Baqarah: 208
  3. HR. Al-Baihaqi – tentang masjid yang dipenuhi obrolan dunia
  4. HR. Bukhari – tentang penghalalan musik
  5. HR. Abu Nu’aim – tentang hilangnya kekhusyukan. 

Saturday, September 20, 2025

Ketika Punya Temen Tukang Manfaatin




Pernah nggak sih kamu punya temen yang datang buat manfaatin kita doang?
Giliran kita butuh, eh, dia pura-pura sibuk. Bahkan, pura-pura nggak kenal sama kita.
Gimana perasaan kamu kalo punya temen yang kayak gini?

Rasanya pasti kesel, Gedeg dan pengen ngomel dari Sabang sampe Merauke.

Itulah hal yang aku alami kalau ada temen yang sengaja datang buat manfaatin doang. Bahkan, dongkolnya itu bisa sampe berlarut sekian lama. Setiap lihat wajah atau denger nama orang itu, rasanya udah mual duluan. Pengen banget kalo orang itu enyah dari muka bumi secepatnya.

Tapi ... makin ke sini aku makin sadar. Sikap aku yang gampang dongkol itu cuma bikin penyakit di hati. Akhirnya, aku sendiri yang nggak bisa hidup tenang kalo masih memendam kekesalan sama seseorang.

Aku yakin, setiap orang pasti pernah punya teman “spesial”—bukan karena perhatian atau peduli, tapi karena jagonya memanfaatkan.
Teman macam ini biasanya datang tiba-tiba, tanpa basa-basi, langsung pada inti: “Eh, pinjam uang dulu ya, besok diganti.” atau “Tolong bikinin tugas dong, aku pusing banget nih.” Kadang juga cuma mampir pas butuh tumpangan, minta traktir, atau sekadar curhat panjang lebar lalu menghilang tanpa kabar.

Awalnya, aku sering kesal. Rasanya kayak dijadikan tempat servis berjalan. Aku pun mulai bertanya-tanya dalam hati: Apa aku ini teman, atau sekadar tempat darurat buat mereka?
Bahkan ada masanya aku sampai menghindari chat masuk. Begitu notifikasi muncul dengan nama si teman, aku bisa langsung menebak: “Oke, ini pasti ada maunya lagi.” Dan benar saja, jarang sekali mereka datang hanya untuk sekadar menyapa atau bertanya kabar.

Lucunya, meski sudah tahu polanya, aku masih sering luluh. Alasannya sederhana: aku orangnya nggak enakan. Kalau ditolak, takut mereka sakit hati. Kalau diabaikan, takut dianggap sombong. Akhirnya, meski sambil mendengus dalam hati, aku tetap membantu juga.

Namun, di balik rasa jengkel itu, perlahan aku menemukan sesuatu yang lain. Aku mulai merenung: kenapa ya aku gampang dimanfaatkan? Apakah aku terlalu baik? Atau justru karena aku memang punya sesuatu yang bisa dimanfaatkan? Bukankah itu artinya aku bernilai?

Lama-lama aku belajar melihat dari sisi lain.
Kalau aku sering dijadikan tempat curhat, berarti aku dipercaya.
Kalau aku sering diminta tolong, berarti aku dianggap mampu.
Kalau ada yang datang ke aku saat butuh, berarti aku punya hal yang mereka nggak punya.

Mungkin, ini memang bagian dari peranku di dunia: jadi orang yang memberi manfaat.

Iya, memang capek kadang. Ada saat aku merasa terkuras, merasa tak dianggap balik, atau bahkan merasa diperlakukan tidak adil. Tapi coba bayangkan jika sebaliknya: hidup tanpa ada yang membutuhkan, tanpa ada yang mengingat, tanpa ada yang merasa aku bisa membantu apa pun. Rasanya akan jauh lebih sepi, lebih menyedihkan.

Jadi sekarang, ketika punya teman tukang manfaatin, aku sudah nggak terlalu sakit hati. Aku belajar pasang batas, iya, supaya nggak bablas jadi korban. Tapi di sisi lain, aku juga mulai bisa tersenyum. Karena ternyata, keberadaanku masih berarti. Hidupku masih bisa dipakai, walau mungkin caranya sering bikin aku geleng-geleng kepala.

Pada akhirnya aku sadar, lebih baik hidupku dimanfaatkan orang lain meski kadang bikin kesal daripada hidup tanpa memberi manfaat sama sekali.
Dan dari situ, aku merasa senang. Karena artinya, aku masih punya alasan untuk merasa berharga. 







Sunday, August 10, 2025

Masa Depanmu Bukan Tanggung Jawabku





Ada satu fenomena unik di dunia ini.
Ada orang yang masa depannya udah kayak mi instan—bahan lengkap, air ada, kompor ada—tapi dia tetap minta orang lain yang masakin, ngaduk, bahkan nyuapin.
Kalau bisa, sekalian ditiupin biar nggak panas.

Kamu pernah nggak ketemu orang yang hobinya ngeluh tentang masa depannya, tapi kalau disuruh bergerak malah bilang, “Liat nanti deh, masih males.”?
Atau yang lebih epik, dia mau sukses, tapi rencananya cuma dua kata, yaitu nebeng orang.

Nah, kalau kamu merasa ini mulai mirip kamu… duduklah!
Tarik napas! 
Baca pelan-pelan!
Karena aku mau bilang satu hal penting yang mungkin nggak pernah kamu dengar sejujurnya. 

Suatu hari aku berselisih paham dengan seseorang yang cukup dekat, tapi tidak begitu dekat juga. Saat aku mengungkit masa lalu untuk dijadikan sebuah pelajaran bersama, dia justru marah besar, mencaci maki dan melontarkan banyak kata yang tidak enak untuk kudengar. 
Yang lebih parahnya lagi, dia bertingkah seolah menjadi korban atas apa yang telah aku lakukan dan seolah menuntut masa depannya adalah tanggung jawabku dan dia tidak ingin semuanya hancur. 

Aku berpikir dan merenung cukup lama. Sebenarnya, masa depannya tidak bergantung padaku, juga bukan bagian dari tanggung jawabku. Karena dia bukan anakku yang semuanya harus aku tanggung, termasuk tentang bagaimana masa depannya kelak. 

Entah kenapa, banyak orang yang menuntut agar aku bertanggung jawab pada masa depan orang lain yang mereka sendiri tidak memiliki keberanian untuk bertanggung jawab pada dirinya sendiri. 

Kalau kamu baca tulisan ini, marahlah! Merenunglah! Ambillah pelajaran yang baik! 

Aku cuma mau bilang kalau masa depanmu bukan tanggung jawabku.
Bukan! Sama sekali bukan! 

Jangan salah paham. Aku bukan orang jahat. Aku cuma realistis. Hidup itu kayak warung pecel lele, semua orang punya lapak masing-masing. Aku sibuk ngurus sambelku sendiri, kamu ya ngurus lalapanmu. Kalau kamu nggak ngulek, masa aku yang disuruh nyiapin sambel buat kamu juga?

Aku sering lihat orang yang hobinya nyalahin keadaan. “Aku nggak maju-maju karena nggak ada yang dukung.” Padahal, kalau dipikir-pikir, yang nggak dukung itu bukan orang lain… tapi dia sendiri.

Bisa tuh maraton nonton drakor seminggu penuh, tapi kalau diajak ikut webinar gratis 2 jam langsung bilang, “Aduh, nggak sempat.”
Sempat buat rebahan lima jam, tapi nggak sempat buka laptop.

Bahkan kalau kita serumah, sekeluarga, atau sekampung, tetap saja masa depanmu itu jobdesknya kamu. 

Aku nggak pernah tanda tangan kontrak kerja sebagai “CEO Kehidupanmu” atau “Manager Kariermu”. Aku punya urusan sendiri, cicilan sendiri, mimpi sendiri. Yang percaya atau nggak, udah cukup bikin otakku penuh tanpa harus nyusun strategi hidup orang lain.


Masalahnya, sebagian orang masih percaya konsep aneh: “Kalau orang lain udah peduli sama aku, ya udah sekalian aja mereka yang ngurusin hidupku.”
Konsep ini biasanya datang sepaket dengan kebiasaan manis: nggak mau belajar, nggak mau berusaha, tapi rajin sekali minta tolong.

Contoh nyata?
Dia mau buka usaha. Minta pinjaman modal. Katanya “serius”. Aku bantu. Sebulan dua bulan dia rajin. Bulan ketiga mulai banyak alasan. Bulan keempat dia sibuk posting instastory liburan ke pantai. Bulan kelima? Bisnisnya bubar, tapi dia masih santai. Alasannya? “Ya kamu kan yang kasih modal, masa nggak sekalian ngajarin, ngontrol, ngejar target?”

Halo… modal itu bantuan, bukan kontrak perwalian masa depan.
Aku bantu bukan berarti aku mau jadi baby sitter mimpimu.

Masa depan itu kayak tanaman. Kalau mau panen, kamu yang nanam, kamu yang nyiram. Jangan nyodorin pot kosong sambil nyuruh orang lain nyiram tiap hari, lalu kamu tinggal rebahan sambil nonton drama Korea. Kalau pun ada orang baik hati yang mau nyiram, suatu hari dia akan berhenti—dan tanamanmu mati, karena pemiliknya nggak pernah peduli.

Kadang aku heran, kenapa banyak yang punya energi buat ngeluh, tapi nggak punya tenaga buat berusaha. Punya kuota buat stalking orang lain, tapi nggak ada kuota buat cari informasi kerja. Punya waktu buat nongkrong berjam-jam, tapi nggak ada waktu buat belajar skill baru.
Lalu ketika hidupnya nggak berubah, dia marah pada dunia, merasa semua orang jahat karena “nggak mau nolong”.

Sadar nggak, dunia ini sibuk. Semua orang berjuang dengan beban masing-masing. Kalau kamu masih pikir ada orang yang mau ngurus masa depanmu sepenuh waktu ... selamat! kamu lagi hidup di planet fantasi.

Mau aku kasih tahu rahasia kecil?
Orang yang bener-bener peduli sama masa depanmu, justru akan membiarkan kamu jatuh, supaya kamu belajar berdiri. Mereka nggak akan selalu membentangkan karpet merah tiap kamu mau melangkah, karena dunia nyata itu isinya jalan berbatu, bukan karpet hotel bintang lima.

Jadi mulai sekarang, yuk kita bikin perjanjian tidak tertulis! 
Aku akan tetap dukung kamu dalam bentuk semangat, doa, atau kadang masukan. Tapi aku nggak akan ikut memanggul masa depanmu di pundakku.
Kalau mau sukses, ayo… lari bareng!
Kalau mau nyerah, ya itu pilihanmu! 
Tapi jangan seret-seret aku buat ikut nyungsep.

Karena sekali lagi, dan tolong ini diingat baik-baik! 
Masa depanmu bukan tanggung jawabku! 
Kalau kamu mau hancur, silakan. Kalau kamu mau berhasil, berdirilah sendiri. Aku akan tepuk tangan dari sini.
Aku akan tepuk tangan untuk keberhasilanmu, meminjamkan pundak saat kamu sedih, bahkan mengingatkan kalau arahmu mulai melenceng. Tapi untuk menanam, menyiram, dan memanen—itu kerjaanmu, bukan tugasku! 
Ingat, hidup ini sistemnya BYO—Build Your Own masa depan. Mau sukses? Bangun sendiri. Mau gagal? Ya urus sendiri. Mau viral? Ya bikin konten sendiri.





Saturday, July 19, 2025

Pengalaman Mengikuti Musyawarah Wilayah dan Rapat Presidium Pemilihan Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Kaltim

 


Pagi ini aku terbangun dengan tergesa-gesa karena ada banyak jadwal yang harus aku lakukan hari ini. Bersyukurnya anak perempuanku yang duduk di kelas 4 SD sudah bisa mandiri. Ia selalu mengurus keperluan sekolahnya sendiri dan berangkat ke sekolah sendiri. Yang masih sulit mandiri adalah sang adik karena memang masih duduk di bangku TK. 

Hari ini, putera kecilku tidak masuk sekolah alias libur. Tapi orang tuanya diwajibkan datang ke sekolah untuk mengikuti rapat. Seperti biasa, tahun ajaran baru selalu membutuhkan perjuangan ekstra karena banyak yang harus dibayar dan dipersiapkan. 

Undangan rapat pukul 08.00 WITA dan aku masih belum mandi. Saat ini aku merasa lebih santai dan tidak harus datang on-time karena "terlambat" sudah menjadi budaya. Aku yang sangat sibuk, tidak ingin membuang-buang waktu dengan menunggu lama. Aku sedikit terlambat, tapi acara belum dimulai, persis seperti perkiraanku.


Usai mengikuti rapat di sekolah, aku langsung pulang ke rumah dan membuka laptopku. Tidak aku lupa kalau ada jadwal zoom meeting Musyawarah Wilayah untuk semua pengurus TBM di Kalimantan Timur. Aku tidak bisa hadir langsung, jadi aku meminta izin untuk hadir secara online. Sebab, pukul 13.00 WITA masih ada kegiatan Party Book bersama komunitas-komunitas pemuda Muara Jawa dan Samboja.

Aku baru masuk zoom setelah ada konfirmasi di grup kepengurusan bahwa zoom meeting sudah dimulai. Memang telat dari jadwal dikarenakan banyak yang hadir secara offline.
Acara dibuka oleh Presidium Wilayah Kaltim dengan memaparkan arti pentingnya gerakan literasi di wilayah Kaltim dan bagaimana Forum TBM berperan menjadi wadah untuk saling berbagi dan saling menguatkan.


Musyawarah Wilayah ini dihadiri langsung oleh pengurus daerah Forum TBM dari berbagai kota dan kabupaten di Kutai Kartanegara. Beberapa pengurus daerah yang hadir secara langsung berasal dari Pengurus Daerah FTBM Samarinda, FTBM Balikpapan, FTBM Kukar, FTBM Kubar/Malinau, FTBM Kutim, FTBM PPU, FTBM Bontang, FTBM Paser, dan FTBM Berau.

Aku merasa senang sekali karena akhirnya Forum TBM di Wilayah Kalimantan Timur bisa bergerak secara serempak. Tentunya ini akan sangat berperan penting dalam gerakan literasi di daerah ini. Sudah cukup lama aku bergabung di Forum TBM dan baru kali ini merasakan pergerakan Forum TBM yang cukup aktif. Bahkan, Forum TBM Kaltim telah membentuk kepengurusan daerah di beberapa kota dan kabupaten.

Tidak ada hal yang sulit ketika Tuhan yang menggerakkan. Begitu juga dengan pergerakan literasi ini. Semuanya bergerak secara swadaya, menggunakan uang pribadi untuk bisa menjalankan program-program literasi, terutama dalam pengentasan kemiskinan dan kesenjangan sosial. Jika bukan Tuhan yang menyentuh hati kita, tentunya kita tidak akan memiliki kepedulian kepada orang lain, terlebih orang-orang yang tidak kita kenal ke depannya.

Aku berharap, Forum TBM benar-benar bisa menjadi ruang berdiskusi, berjejaring, dan saling menguatkan. Karena terkadang kita ingin menyerah saat berjalan seorang diri. Di Forum TBM, kita sama-sama bergerak dan berjuang untuk saling menguatkan agar gerakan kita tetap konsisten dan hati kita tetap istiqomah berada di jalan ini.



Kutai Kartanegara, 19 Juli 2025

Sunday, July 6, 2025

15 Kostum Habsy dan Tiga Amanah Besar dari Tuhan






Ada hari-hari di mana aku merasa seperti sedang berdiri di tengah lintasan, dihujani tanggung jawab dari segala arah. Dan aku bukan sedang bercanda. 

Bayangkan, harus menyelesaikan 15 buah kostum Habsy Putera dari Argosari yang penuh detail rumit, renda silver, kerapian jahitan yang tak bisa ditawar, serta deadline yang tak bisa ditunda. 
Di saat yang bersamaan aku menjadi panitia Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) Ke-46 Kecamatan Samboja, petugas pendataan penduduk OIKN bersama BPS Kukar, dan juga tengah menjalani Diklat Relawan Literasi Nasional (Relima) 2025 dari Perpusnas RI.

Aku merasa, hari-hariku tidak lagi bisa dibagi menjadi pagi, siang, dan malam. Yang ada hanya "berapa banyak lagi yang harus diselesaikan sebelum esok menuntut lebih banyak". 

Pagi hingga malam hari  aku sibuk di ruang jahitku. Aku harus menyelesaikan jahitanku tepat waktu. Karena kostum akan segera digunakan, sementara masih banyak detail-detail yang belum terselesaikan. 
Seseorang bilang, "jangan ambil orderan terlalu banyak. Nanti nggak ada waktu istirahat". Tapi aku sudah terbiasa dengan kesibukan sejak dulu. Terlalu bersantai tidak enak. Terlebih aku juga butuh uang untuk membiayai hidup kedua anakku, nenek, dan kedua orang tuaku. Otomatis, aku harus bekerja lebih keras dari orang lain agar bisa memenuhi kebutuhan seluruh keluargaku. 

Beruntungnya, aku tidak menjadi panitia inti dalam acara MTQ Ke-46 yang digekar di desaku. Aku memang sudah mengkonfirmasi dari awal kalau aku hanya bisa bantu-bantu saja. Mengingat pekerjaan dan kegiatanku cukup banyak. 
Setelah lomba kaligrafi dilaksanakan tanggal 01 Juli lalu (kebetulan aku adalah koordinator panita lomba musabaqoh), aku punya waktu yang cukup luang untuk menyelesaikan jahitan-jahitanku. 
Tanggal 02 Juli 2025 seharusnya aku masih gotong-royong membersihkan Arena 5 (SDN 038) yang digunakan untuk lomba kaligrafi. Sebab, perlombaan berlangsung sejak pagi hingga pukul 18.00 WITA. Kami sudah sangat lelah sehingga bersepakat untuk membereskan di hari berikutnya. 
Sayangnya, aku tidak bisa gotong-royong sejak pagi. Aku arahkan timku untuk bergotong-royong sore saja karena aku ada jadwalzoom pagi bersama Perpusnas RI terkait Sosialisasi Relima 2025.
Beruntungnya, ada tim perlengkapan yang gercep alias meng-handle semuanya. Semua sudah dibereskan oleh tim perlengkapan. Jadi, kami panitia musabaqoh hanya bertugas menyapu dan mengepel lantai. Semua meja dan kursi telah kembali ke tempat semula. 

Tanggal 03 Juli, seragam habsy belum selesai juga. Aku kembali bertemu dengan masalah besar. Listrik di wilayah Kecamatan Samboja padam sejak pukul 08.00 s.d 17.30 WITA. Alhasil, aku tidak bisa menjahit seharian karena semua mesin harus terhubung ke listrik. Sementara, pukul 08.30 WIB ada jadwal pembukaan kegiatan Pusdiklat Relima 2025. 
Setiap kali mati listrik, signal di desaku ikut mati total. Sehingga tidak bisa melakukan apa-apa dan kembali menjadi manusia primitif. Jadi, aku harus pergi ke kelurahan lain untuk mendapatkan sinyal. 
Tepat di jam 09.00 WITA, aku berjalan menuju keluraha  Sei Seluang. Ternyata, di sana juga tidak ada signal. Karena aku tidak bisa melakukan tarik tunai, sementara sudah tidak punya uang sama sekali. 
Keberuntungan kembali berpihak padaku. Saat semua orang kehilangan signal, aku masih mendapatkan sedikit signal yang bisa aku hotspot ke pemilik ATM Link agar aku bisa mendapatkan uang tunai. 
Kendala tarik tunai terselesaikan dengan baik. Aku langsung menuju ke warung bakso "Moro Tuman". Warung bakso paling dekat dan suasananya nyaman karena bisa duduk lesehan. Ini bisa membuat otak yang tegang terasa lebih rileks. Aku berhasil mengikuti zoom, meski banyak kendala karena jaringan selalu hilang dan beberapa kali keluar-masuk ruang zoom. Beruntungnya, di dalam grup WA "Relima 2025" banyak yang peduli dan berbagi informasi penting pada kami yang mengalami kendala teknis saat zoom meeting. 
Siang harinya aku sudah kembali ke rumah. Tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena listrik padam. Barulah malam harinya aku mulai menjahit. Baru dapat beberapa jahitan, tiba-tiba mesin obrasku ngadat alias tidak bisa digunakan. 
"Ya Allah, cobaan apa lagi ini?"
Alhasil, aku harus servis mesin obrasku terlebih dahulu. Beruntungnya ada teman yang membantu dan aku mulai menjahit kembali hingga pukul 00.15 WITA. 

Keesokan harinya, begitu mata ini terbuka, aku langsung duduk di depan mesin jahit hingga dini hari. Ketika orang-orang mulai memejamkan mata, aku duduk sendiri di ruang jahit. Lampu mesin menyorot wajahku yang mulai lelah, tapi tangan terus bekerja. Satu demi satu kostum anak Habsy kubentuk dari lembaran kain menjadi busana yang layak tampil di panggung kehormatan.

Argosari adalah tempat yang tak hanya mengirimkan pesanan, tapi juga harapan. Aku tahu, setiap kostum yang kupotong dan kurangkai adalah bagian dari cita-cita orangtua dan kebanggaan anak-anak muda yang akan membawakannya. Jadi tidak ada pilihan lain selain menuntaskan semuanya tepat waktu dengan hasil yang maksimal.

Sempat terlintas ingin menyerah. Sempat juga berpikir untuk menolak satu dua amanah demi menyelamatkan tenaga. Tapi begitulah hidup, ya? Terkadang kita tak bisa memilih mana yang lebih penting ketika semua terasa punya nilai yang sama.

Namun, di antara lelah itu, ada pelajaran besar yang tak mungkin kutukar dengan waktu istirahat:
Bahwa manusia punya kekuatan tersembunyi yang hanya muncul saat kita diuji berkali-kali.
Bahwa passion tidak selalu terasa ringan, kadang ia juga datang dalam bentuk kerja keras yang tak kenal henti.
Bahwa ketika hati kita tulus melayani, lelah akan menemukan caranya sendiri untuk menjadi berkah.

Di sela-sela kegiatan menjahit, aku juga mengikuti pelatihan Relima Perpusnas secara daring. Aku sering merenung. Aku berada di antara  179 relawan dari seluruh Indonesia yang punya semangat literasi yang sama. Meski tubuhku kelelahan, tapi aku tahu aku berada di jalur yang tepat, jalur yang penuh makna. Di situ aku mengingat lagi alasan mengapa aku memulai semua ini, karena aku ingin menjadi bagian dari perubahan. Lewat literasi, lewat budaya, lewat karya kecilku sebagai penjahit kampung yang juga seorang pegiat.

Ketika aku melihat anak-anak Habsy tampil gagah di panggung MTQ dengan kostum yang kujahit semalaman, ketika aku melihat data penduduk mulai tertata rapi demi pembangunan IKN, dan ketika namaku tercatat sebagai salah satu peserta yang lolos Relima 2025 ... aku tahu semua lelah itu ada gunanya. 
Aku tak sedang menyenangkan banyak orang. Aku sedang membentuk versi terbaik dari diriku sendiri.

Terima kasih, Argosari. Terima kasih MTQ. Terima kasih BPS Kukar. Dan terima kasih Perpusnas RI. Karena kalian, aku tahu bahwa aku bisa menjadi lebih dari yang aku bayangkan.

Dan kepada diriku sendiri aku ingin berpesan, "jangan pernah ragu untuk mengambil peran. Sekalipun peran itu terasa terlalu besar di awal. Karena mungkin, itu adalah cara semesta menunjukkan bahwa kamu lebih kuat dari yang kamu bayangkan."



Kutai Kartanegara, 04 Juli 2025


Rin Muna
Wanita yang suka bercerita tapi tak punya pendengar

Tuesday, July 1, 2025

Introvert dan Anti-Sosial Seringkali Disalahpahami



Akhir-akhir ini aku sering mendengar kata "introvert" di kalangan anak-anak muda. Setiap kali bertemu dengan anak-anak muda yang enggan menyapa, mereka selalu bilang "aku introvert".

Sebenarnya, introvert itu apa? 

Pertanyaan ini menjadi sebuah pertanyaan yang melekat begitu lama di kepalaku. Aku terus mencari informasi. Membaca buku-buku tentang psikologi, filsafat, dan sosiologi. 

Sampai akhirnya, aku membuat tulisan ini setelah berpikir dan menganalisa selama beberapa tahun terakhir.

Introvert dan anti-sosial memiliki makna yang sangat tipis dan kerap kali disalahpahami karena keduanya terlihat "menyendiri", padahal maknanya jauh berbeda. 

Orang yang introvert memiliki ciri utama dan karakteristik yang unik. Mereka Lebih nyaman dan energik saat sendiri atau dalam kelompok kecil, bukan berarti tidak pandai komunikasi atau berbicara. Orang yang introvert lebih menyukai  waktu sendiri untuk mengisi ulang energi.Tidak suka keramaian, tapi bukan berarti benci orang lain. Punya kemampuan sosial yang baik, hanya saja lebih selektif dalam berinteraksi. Mereka lebih suka mendengarkan daripada bicara, mereka akan berbicara banyak hanya jika dibutuhkan. Bisa punya hubungan yang dalam dan bermakna dengan sedikit orang.

Orang introvert lebih suka memilih baca buku di rumah daripada pergi ke pesta, tapi tetap hangat dan akrab saat berbincang dengan teman dekat. 

Seringkali ada anggapan bahwa introvert itu pendiam dan canggung saat berkomunikasi. Tapi kenyataannya, banyak orang introvert justru sangat jago berkomunikasi, terutama dalam situasi yang sesuai dengan gaya mereka. 

Introvert cenderung menjadi pendengar yang baik. Mereka menyimak dengan cermat, memahami konteks, dan merespons dengan tepat. Ini membuat komunikasi mereka terasa tulus dan penuh makna, bukan sekadar basa-basi.

Orang introvert biasanya berpikir dulu sebelum bicara. Mereka tidak suka omong kosong, jadi ketika berbicara, biasanya isi pesannya lebih tajam dan tersusun. Dalam konteks komunikasi tertulis atau presentasi, ini menjadi keunggulan besar.

Introvert merasa tidak nyaman saat ngobrol rame-rame, mereka lebih suka berada dalam percakapan pribadi atau komunikasi dua arah, mereka bisa sangat terbuka dan ekspresif. Mereka unggul dalam membangun kedekatan emosional melalui komunikasi yang intim dan penuh empati.

Banyak introvert berbakat menulis, baik email, artikel, puisi, maupun caption medsos. Karena menulis memberi ruang untuk berpikir tanpa tekanan interaksi secara langsung. Makanya, banyak penulis hebat adalah introvert.

Introvert yang menyadari kekuatannya sering kali melatih kemampuan sosial mereka. Mereka bisa tampil percaya diri saat dibutuhkan, karena mereka mempersiapkan diri secara mental lebih matang. Saat tampil, mereka bisa terlihat seperti ekstrovert, padahal setelahnya butuh waktu menyendiri untuk recharge.

Introvert tidak suka bicara banyak hal sekaligus, tapi mereka hebat dalam menggali topik secara mendalam. Dalam komunikasi, ini membuat mereka tampak serius, terarah, dan penuh wawasan.

Jadi, jangan heran kalau ada introvert yang bisa menyampaikan pidato yang menggetarkan, atau punya podcast yang bikin banyak orang betah mendengarkan. Mereka bukan tidak bisa komunikasi, mereka hanya butuh ruang yang tepat untuk menampilkan versinya.

Kalau kamu bertemu orang yang pendiam, belum tentu dia anti-sosial, bisa jadi dia introvert yang ramah dan hanya butuh waktu untuk nyaman.

Dapat disimpulkan kalau introvert bukanlah orang yang tidak bisa menyapa orang lain. Mereka justru pandai dalam menempatkan diri. Mereka bahkan bisa mengajak komunikasi dan berbicara banyak hal karena memiliki wawasan yang luas. Wawasan yang luas didapat karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk membaca buku, mendengarkan, dan menggali hal-hal baru di sekitarnya.


Lalu, bagaimana dengan istilah anti-sosial?

Dalam ilmu psikologi, anti-sosial dikenal dengan istilah ASPD (Antisocial Personality Disorder). Ciri utama orang yang anti-sosial cenderung melawan norma sosial yang berlaku di masyarakat dan seringkali merugikan orang lain.

Orang yang anti-sosial memiliki karakteristik yang tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi bisa kita rasakan ketika sudah melakukan kontak langsung dengan orang tersebut. Orang yang anti-sosial biasanya tidak peduli perasaan atau hak orang lain. Karakter yang satu ini bisa aku benarkan karena aku sudah sering menemui kasus yang serupa. Sebagai contoh, staff personalia yang tidak memedulikan hak karyawan-karyawannya ketika melakukan kesalahan penginputan dan berkata, "aku nggak peduli yang lain. Yang penting gajiku keluar!"

Orang yang anti-sosial seringkali melanggar aturan dan hukum, baik hukum negara maupun hukum sosial. Mereka juga bisa sangat manipulatif, agresif, dan tidak punya empati kepada orang lain. Tidak merasa bersalah setelah menyakiti orang lain.

Anti-sosial bukanlah tipe kepribadian biasa, ini adalah bagian dari gangguan kepribadian dalam dunia psikologi/psikiatri.

Orang yang anti-sosial bisa dengan sengaja menipu, mencuri, atau menyakiti orang lain tanpa rasa penyesalan.

Saat ini, fenomena anti-sosial yang berlindung di balik label “introvert” memang nyata dan sering terjadi. Banyak orang menyebut dirinya introvert padahal sebenarnya mengalami masalah lain dalam bersosialisasi, seperti kecemasan sosial, trauma, atau bahkan gangguan kepribadian anti-sosial.

Orang yang anti-sosial cenderung menghindari bahkan membenci interaksi sosial secara ekstrem. Mereka juga tidak peduli atau tidak mampu menjalin hubungan sosial yang sehat. 

Beberapa orang yang anti-sosial menolak bersosialisasi karena  luka batin, rasa malu ekstrem, atau kecemasan sosial. Sebagian dari mereka juga menggunakan label "introvert" sebagai tameng agar tak perlu menjelaskan perasaan atau kondisi mereka yang lebih kompleks. Mereka bahkan lebih nyaman berada dalam zona keterasingan, lalu menyamakan itu dengan kepribadian introvert, padahal bisa jadi ada gejala psikologis yang tidak disadari.

Contoh nyata, seorang remaja yang tidak mau sekolah dan enggan bergaul menyebut dirinya introvert. Tapi setelah ditelusuri, ternyata dia mengalami bullying dan trauma, serta mengalami gangguan kecemasan sosial.


Mengaku introvert itu sah. Tapi jika sikap selalu menghindar dari manusia, marah saat diajak bicara, atau menolak semua bentuk interaksi, maka itu bukan sekadar introversi. Bisa jadi ada luka, trauma, atau gangguan psikologis yang perlu ditangani. Introvert sehat tetap bisa menjalin relasi, meski dengan caranya sendiri.








Thursday, June 26, 2025

Menutup Perjalanan, Membuka Pengabdian



Menutup Perjalanan, Membuka Pengabdian


Ibu Kota Negara Nusantara, 25 Juni 2025.
Sore yang syahdu di Tower 4 Gedung Kementerian Koordinator IKN Nusantara menjadi saksi dari berakhirnya sebuah perjalanan penting, yakni kegiatan Penutupan Pelatihan Petugas Pendataan Penduduk IKN. Acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum reflektif atas rangkaian hari-hari penuh pembelajaran, kerja sama, dan harapan untuk Ibu Kota Negara yang sedang bertumbuh.

Pelatihan ini telah menyatukan peserta dari berbagai penjuru Kalimantan Timur. Dari beragam latar belakang, usia, dan pengalaman. Kita semua berada dalam satu semangat, yakni menjadi bagian dari sejarah awal pembangunan Nusantara melalui kerja pendataan yang teliti dan manusiawi.

Acara penutupan yang dilaksanakan pukul 16.00 hingga 17.00 WIB hari ini terasa seperti akhir dari sebuah babak, namun juga awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

Acara dibuka dengan sambutan hangat dan inspiratif dari Yusniar Juliana, SST, MIDEC, selaku Kepala BPS Provinsi Kalimantan Timur. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa pendataan bukan sekadar pekerjaan administratif, tetapi bagian dari pembangunan peradaban, sebuah pondasi kebijakan besar di masa depan. 

Ini adalah pertama kalinya dilakukan pendataan penduduk IKN. Sehingga para petugas pendataan penduduk ini adalah para pengukir sejarah masa depan dalam proses pembangunan Ibu Kota Nusantara. 
Oleh karenanya, BPS mengharapkan, para petugas lapangan (PPL) dapat melakukan pencacahan data yang sebenar-benarnya agar kebijakan-kebijakan yang akan ditentukan oleh pemerintah dapat menyesuaikan kebutuhan hidup masyarakat. Jangan sampai pemerintah IKN salah mengambil langkah kebijakan karena data yang didapat dari masyarakat tidak akurat. 

Kemudian, pidato penutupan disampaikan  oleh Drs. H. Alimuddin, M.Si, Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN. Dalam pidato beliau yang sarat makna, Alimuddin mengingatkan bahwa pembangunan IKN tidak semata tentang infrastruktur, tetapi juga tentang manusia yang akan hidup dan tumbuh di dalamnya. Pendataan penduduk menjadi titik awal yang sangat penting untuk memastikan bahwa pembangunan ini benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat .

Tak terasa, segenap proses pelatihan selama beberapa hari ke belakang kini sudah berada di ujungnya. Ada rasa haru yang diam-diam menyeruak. Foto-foto bersama, senyum hangat antar peserta, dan tawa kecil yang saling dibagi menjadi pengingat bahwa kami pernah belajar bersama di ruang-ruang menara tinggi ini yang belum digunakan secara resmi untuk berkantor. 

Sebagai seorang peserta, saya merasa bukan hanya dibekali ilmu teknis tentang pendataan, tetapi juga dikuatkan secara emosional dan ideologis. Ada hal yang harus selalu saya ingat, bahwa saya adalah bagian dari gerakan membangun masa depan. Pelatihan ini mengajarkan kami untuk peka terhadap dinamika sosial, teliti dalam bekerja, dan berani menghadapi tantangan di lapangan dengan tanggung jawab.

Penutupan ini bukan titik, tetapi koma. Setelah ini, kami akan kembali ke wilayah masing-masing membawa bekal, semangat, dan tanggung jawab. Karena sejatinya, membangun IKN bukan hanya tugas para perencana di gedung bertingkat ini, tapi juga kerja nyata para petugas pendataan yang akan menyusuri jalan-jalan kampung, mendatangi pintu-pintu rumah, dan mendengarkan kisah dari warga yang akan menjadi penghuni sejati kota masa depan yang juga dikenal dengan Kota Dunia.

Dan saya, dengan penuh kesadaran dan kebanggaan, siap menjalankan peran itu.


Rin Muna
Tower 4, Kemenko IKN
25 Juni 2025

Tuesday, June 24, 2025

Jebakan Ilusi Sosial : Ketika Hidup Tak Lagi Milik Kita

Jebakan Ilusi Sosial: Ketika Hidup Kita Tak Lagi Milik Kita Sendiri
Oleh Rin Muna






Kita terlahir telanjang dan bebas. Tapi tumbuh besar dengan beban dan tuntutan. Sejak kecil, kita diberi daftar panjang hal-hal yang "seharusnya" kita lakukan. Bersekolah di tempat yang bagus, dapat pekerjaan mapan, menikah di usia tertentu, punya anak, punya rumah, dan punya mobil. 
Tanpa sadar, kita mulai hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi orang lain. Kita dibayangi oleh penilaian masyarakat, keluarga, bahkan algoritma media sosial. 

Inilah yang disebut sebagai jebakan ilusi sosial. Sebuah kondisi di mana hidup kita tidak lagi otentik, melainkan menjadi cermin dari apa yang orang lain harapkan.


Filsuf Muslim Al-Ghazali pernah menulis dalam Ihya Ulumuddin, bahwa banyak manusia tertipu oleh dunia. Mereka mengira kemuliaan terletak pada harta, jabatan, dan pujian manusia. Padahal itu semua hanya fatamorgana. “Orang yang cinta dunia,” kata Al-Ghazali, “akan diperbudak olehnya.”

Apa yang disebut Al-Ghazali ini mirip dengan gagasan stoikisme dalam filsafat Yunani. Marcus Aurelius, seorang Kaisar Romawi sekaligus filsuf stoik, mencatat dalam Meditations: “Sangat mudah untuk menjadi budak opini orang lain, dan lupa pada suara hatimu sendiri.” 

Di zaman sekarang, opini orang lain tak hanya berbisik lewat mulut, tapi berteriak lewat notifikasi, komentar, dan likes.

Ilusi sosial ini menjadi jebakan yang sulit dilepaskan karena kita mengira itu adalah kebenaran. Kita berpikir bahwa mengikuti standar sosial berarti hidup kita akan bahagia. Namun nyatanya, yang terjadi malah sebaliknya. Kita semakin gelisah, mudah iri, dan kehilangan arah. Sehingga kita kehilangan diri sendiri. 

Bayangkan seseorang yang berprofesi sebagai guru, tetapi diam-diam mencintai dunia seni lukis. Karena tekanan lingkungan, ia terus menunda-nunda impiannya. Ia terjebak dalam narasi "pekerjaan yang aman" dan takut dijuluki "seniman gagal". Maka ia hidup seperti orang lain, bukan seperti dirinya sendiri.

Filsafat stoik menekankan pada diri sebagai pusat kebaikan. Epictetus berkata: “Hal yang berada dalam kuasamu adalah pikiran, keinginan, dan tindakanmu. Semua hal di luar itu bukan milikmu.” Artinya, kita harus mengarahkan kembali pusat kontrol hidup pada diri, bukan pada standar luar yang berubah-ubah.

Islam pun mengajarkan prinsip serupa. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 286 disebutkan: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” 
Maka, jika beban hidup terasa terlalu berat, boleh jadi itu bukan beban yang datang dari Tuhan, tapi dari ilusi sosial yang kita pelihara sendiri.
Akhirnya, kita terpenjara dalam ilusi sosial yang membuat kita kehilangan diri sendiri. Lalu, bagaimana caranya bisa keluar dari jebakan ini? 

Cobalah menjadi diri yang merdeka! 

Menjadi merdeka dari ilusi sosial bukan berarti menjadi egois. Justru ini adalah jalan menuju keikhlasan. Kita hidup bukan untuk menyenangkan semua orang, tapi untuk menunaikan amanah sebagai manusia seutuhnya. Seperti yang dikatakan oleh Jalaluddin Rumi: “Jangan puas hanya dengan cerita tentang orang lain. Tulis kisahmu sendiri.”

Caranya bagaimana? Ada 4 hal yang bisa kita lakukan, seperti:

1. Mengenali nilai-nilai diri. Apa yang benar-benar penting bagimu? Bukan menurut orang lain, tapi menurut nuranimu.
2. Membatasi distraksi. Media sosial bukan realita. Kurangi konsumsi konten yang membuatmu membandingkan diri tanpa sadar.
3. Berteman dengan kesederhanaan. Stoikisme dan Islam sama-sama memuliakan hidup yang tidak berlebih-lebihan. Dalam kesederhanaan ada kejernihan.
4. Berani berkata tidak. Tidak pada standar yang tidak sesuai. Tidak pada jalan yang bukan milikmu. Ini adalah keberanian spiritual.

Kita berhak untuk memilih hidup yang otentik dan tidak perlu mewujudkan ekspektasi orang lain. 
Jebakan ilusi sosial tak selalu terlihat seperti perangkap. Ia sering menyamar sebagai cinta, perhatian, dan kebahagiaan semu. Tapi kita tahu, di dalam hati, ada suara kecil yang terus berbisik: "Ini bukan aku. Ini bukan jalan hidupku."
Maka dengarkanlah suara itu. Karena sebagaimana disebut oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist, “Mintalah fatwa pada hatimu, meskipun orang-orang memberimu fatwa.” (HR. Ahmad dan Ad-Darimi). 

Kalau kamu merasa sedang menjalani hidup karena “kata orang”, mungkin saatnya berhenti sejenak. Bertanya ulang pada dirimu sendiri. Apakah hidup ini milikmu? Atau kamu cuma pemeran figuran dalam skenario orang lain?

Jangan tunggu sampai semuanya terasa kosong. Karena kebebasan sejati bukan soal keluar dari penjara, tapi keluar dari jebakan pikiran yang kita anggap kebenaran. Dan itu dimulai dari keberanian untuk menjadi dirimu sendiri.


Sumber Referensi:

Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin

QS. Al-Baqarah: 286

HR. Ahmad & Ad-Darimi

Marcus Aurelius, Meditations

Epictetus, The Enchiridion

Rumi, The Essential Rumi, trans. Coleman Barks

William Irvine, A Guide to the Good Life: The Ancient Art of Stoic Joy

Ryan Holiday, The Daily Stoic



Wednesday, June 18, 2025

Ketika Buzzer Jadi Pena: Fenomena Penulis Digital yang Menaikkan Pamor Lewat Sorak Bayaran



Ketika Buzzer Jadi Pena: Fenomena Penulis Digital yang Menaikkan Pamor Lewat Sorak Bayaran

Oleh: Rin Muna

Kita hidup di zaman di mana suara bisa dibeli dan popularitas bisa dipesan seperti fast food. Dunia penulisan pun tak luput dari arus besar ini. Di jagat novel digital—entah itu di platform seperti Fizzo, KBM App, Dreame, atau Wattpad—muncul satu fenomena baru yang membuat saya ingin angkat pena (atau tepatnya, keyboard): penulis yang menggunakan buzzer untuk mengangkat pamor karyanya.

Sebab, aku pernah menerima tawaran dari seorang admin untuk bergabung dengan buzzer penulis berinisial "E" yang juga aku kenal. Tapi aku menolaknya karena aku juga seorang penulis yang ingin mendapatkan komentar murni, tanpa embel-embel uang. 
Sudah seharusnya sastra itu membayar penulis, bukan pembaca. 

Sebelum kita menghakimi, mari kita duduk sejenak dan menyesap realitas.

 Menulis di Era Platform: Bukan Lagi Sekadar Tulisan

Dunia menulis kini sudah bukan hanya soal kualitas cerita, tapi juga soal siapa yang lebih terdengar. Semakin ramai komentar, like, dan share, maka semakin besar peluang karyamu direkomendasikan algoritma. Di sinilah buzzer masuk bermain—akun-akun (kadang palsu, kadang “teman”) yang disewa untuk membanjiri cerita dengan komentar positif, membela di forum, bahkan menyerang saingan diam-diam.

Buzzer dalam dunia politik sudah kita kenal: pembentuk opini, pengalihan isu, bahkan penyerang karakter. Tapi ketika para penulis digital mulai menyewa "pemain sorak" ini, kita harus bertanya: Apakah karya itu benar-benar disukai, atau hanya kelihatan seperti disukai?

Narasi vs Noise: Antara Karya dan Keriuhan

Menggunakan buzzer bisa jadi semacam “cetak instan” popularitas. Tapi seperti kata filsuf Jean Baudrillard, kita hidup dalam simulacra, di mana tanda dan simbol tidak lagi merujuk pada realitas, melainkan pada realitas yang diciptakan. Popularitas palsu adalah simulakrum dari karya besar.

Sosiolog Jürgen Habermas pernah bilang bahwa ruang publik seharusnya menjadi arena dialog rasional. Tapi dengan masuknya buzzer ke dunia literasi, ruang diskusi itu jadi penuh bisik-bisik pesanan.

Kalau dulu karya diukur dari pengaruhnya secara substansial, sekarang kita terlalu sering membandingkan angka: berapa views, berapa bintang, berapa komentar. Padahal, “resonansi” yang sesungguhnya tidak bisa dibeli. Ia tumbuh dari pembaca yang benar-benar merasa tersentuh, yang karyamu tinggal dalam kepalanya jauh setelah selesai dibaca.

Popularitas yang Bisa Dibeli, Tapi Tidak Selalu Bertahan

Banyak penulis digital merasa tertindih oleh sistem yang kompetitif. Untuk muncul di beranda pembaca, karya mereka harus bersaing dengan ratusan tulisan setiap hari. Lalu muncullah jalan pintas: menyewa jasa buzzer, menaikkan rating, bahkan memesan “review positif.”

Saya tidak menghakimi siapa pun. Semua penulis tentu ingin dibaca. Tapi sebagai seseorang yang percaya bahwa tulisan adalah suara hati yang diurai dalam bahasa, saya selalu bertanya: Apa yang kau kejar—pujian atau pengaruh?

Jangan sampai kita membangun popularitas dari keriuhan palsu. Karena ketika pembaca sadar bahwa cerita itu naik hanya karena dibantu "sorakan", maka rasa percaya itu runtuh. Seperti kata Ali bin Abi Thalib, “Kebenaran bukan diukur dari banyaknya pengikut, tetapi dari kualitas kebenarannya.”

Ada Jalan Lain Selain Buzzer

Menulis adalah maraton, bukan sprint. Banyak penulis yang lambat naik, tapi punya pembaca setia karena tulisannya jujur. Mereka mungkin tak punya ribuan komentar dalam semalam, tapi punya satu pembaca yang rela menangis sepanjang malam karena satu bab.

Membangun komunitas organik, membuat diskusi terbuka, menanggapi komentar dengan tulus, dan menjalin koneksi emosional dengan pembaca adalah cara membangun reputasi jangka panjang.

Bahkan stoikisme mengajarkan kita untuk fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan: kualitas karya kita, etika kita, dan ketulusan kita dalam berkarya. Seperti yang dikatakan Epictetus, “Hanya ada satu jalan menuju kebahagiaan, yaitu berhenti khawatir pada hal-hal di luar kendalimu.

Sebagai penulis, kita punya dua pilihan: membangun istana dari batu bata kejujuran atau membangun menara dari kardus komentar palsu. Yang satu mungkin lambat, yang lain tampak megah. Tapi hanya satu yang akan tetap berdiri saat badai kritik datang.
Buzzer mungkin bisa mengguncang angka, tapi tidak bisa menyentuh hati.

Salam pena,
Rin Muna
(Penjahit kata dan perajut makna) 



Referensi:

Baudrillard, Jean. Simulacra and Simulation. University of Michigan Press, 1994.

Habermas, Jürgen. The Structural Transformation of the Public Sphere, 1962.

Epictetus. Enchiridion.

Ali bin Abi Thalib. Nahjul Balaghah.

Diskusi Penulis di Forum Fizzo dan Komunitas KBM App (2024–2025).

Jangan Biarkan Orang Lain Mengontrol Keputusanmu



Jangan Biarkan Orang Lain Mengontrol Keputusanmu! 
Belajar Merdeka dari Dalam Diri

Oleh Rin Muna



Kamu pernah nggak, merasa hidup ini kayak ditarik-tarik dari segala arah? 
Mau milih jurusan kuliah, dibilang, "jangan aneh-aneh, nanti susah cari kerja!". 
Mau keluar dari pekerjaan yang bikin stres, langsung disodorin nasihat, "sabar, semua kerjaan memang berat." 
Lama-lama, kita bukan lagi hidup atas dasar pilihan sadar, tapi lebih mirip boneka tali—yang bergerak sesuai keinginan orang lain.

Aku pernah berada di fase itu. Dan rasanya… ngambang. Seolah hidup ini bukan milikku. Tapi suatu ketika aku membaca kutipan dari Epictetus, filsuf Stoik dari Yunani, yang berkata, “Jangan biarkan kekuatan luar mengganggumu! Gangguan hanya muncul jika kamu mengizinkannya masuk.


Boom ...!
Kepala langsung kayak disiram air es. Itu titik balik—bahwa kebebasan sesungguhnya bermula dari kemerdekaan memilih, tanpa dikendalikan ekspektasi orang lain.


Stoikisme mengajarkan bahwa dalam hidup ini, ada dua hal: yang dalam kendali kita, dan yang di luar kendali kita. Keputusan pribadi, cara berpikir, dan reaksi terhadap peristiwa—itu wilayah kita. Tapi opini orang, harapan mereka, bahkan pujian dan kritik—semuanya di luar kendali kita.
Lucunya, justru banyak dari kita menyerahkan kendali itu ke tangan orang lain.

Dalam filsafat Islam, hal ini senada dengan ajaran ikhlas dan tawakkal. Dalam QS. Az-Zumar ayat 17-18, Allah menyebutkan tentang "orang-orang yang mau mendengar perkataan orang lain, lalu mengikuti yang terbaik di antaranya." Artinya, kita boleh mendengar, tapi tetap harus memilah dan memutuskan sendiri.

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut agar mereka tidak menyembahnya, dan kembali kepada Allah, bagi mereka kabar gembira. Maka sampaikanlah berita gembira kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.”
(QS Az-Zumar: 17-18)


Bahkan dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa terlalu bergantung pada penilaian manusia adalah bentuk hijab—penghalang—dalam perjalanan spiritual. Karena pada akhirnya, pertanggungjawabanmu bukan di hadapan manusia, tapi di hadapan Tuhan dan dirimu sendiri.


Lantas, Haruskah Kita Egois?

Tentu tidak. Mendengar masukan itu penting. Tapi bedakan antara nasihat yang mencerahkan, dan opini yang mencekik. Ada perbedaan antara "ini mungkin bisa membantumu" dengan "kamu harus begini, titik!"

Menjadi merdeka dalam memilih bukan berarti menutup diri dari saran. Tapi kita perlu memproses saran itu secara sadar, bukan otomatis mengiyakan karena takut ditolak atau dianggap durhaka.

Di sinilah peran akal dan hati nurani yang dalam Islam disebut sebagai qalbun salim—hati yang bersih dan cerdas, yang mampu membedakan mana jalan yang penuh cahaya, dan mana jalan yang hanya penuh sorakan tapi hampa makna.



Cobalah sesekali bertanya dalam hati:

Apakah aku benar-benar menginginkan ini?

Atau aku hanya takut mengecewakan orang lain?

Apakah keputusan ini membuatku damai?

Atau justru semakin asing dengan diriku sendiri?


Karena sejatinya, hidup bukan soal menyenangkan semua orang. Hidup adalah tentang menjadi pribadi yang utuh, yang bisa berkata “ya” karena yakin, dan “tidak” karena sadar.

Marcus Aurelius, Kaisar Romawi sekaligus filsuf Stoik menulis dalam Meditations: “Jika kamu terhenti karena opini orang lain, berarti kamu memberikan kekuasaan atas dirimu pada mereka.”

Dalam kasus  yang sama, Ali bin Abi Thalib juga pernah berkata: “Orang yang paling kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah dan tetap kokoh di saat ragu.”


Kalau kamu sedang berada di persimpangan pilihan, tarik napas. Dengarkan hati. Tanyakan pada akal sehat, bukan pada ketakutan. Jangan biarkan suara di luar sana lebih keras dari suara di dalam dirimu.

Kamu bukan robot yang diprogram oleh ekspektasi orang lain. Kamu adalah manusia yang diberi kehormatan oleh Tuhan untuk memilih dan bertanggung jawab atas hidupmu sendiri.

Karena pada akhirnya, keputusan yang kamu buat hari ini, adalah pondasi bagi dirimu yang akan datang.

Dan ingat, hidupmu bukan panggung sandiwara. Jangan biarkan orang lain menulis naskahnya untukmu.


Referensi Singkat:

Epictetus – Discourses and Enchiridion

Marcus Aurelius – Meditations

Imam Al-Ghazali – Ihya Ulumuddin

QS. Az-Zumar: 17-18

Kutipan Sayyidina Ali bin Abi Thalib (Nahjul Balaghah)



Kalau kamu merasa tulisan ini menyentuh sesuatu dalam dirimu, bagikan ke temanmu. Siapa tahu, itu juga jadi titik balik untuk mereka.

Salam hangat,
Rin Muna
(Menulis agar tak kehilangan arah di dunia yang bising)


Seni dan Sastra Adalah Dua Saudara Yang Tak Bisa Dipisahkan



Sastra dan Seni: Dua Saudara yang Tak Bisa Dipisahkan

Oleh: Rin Muna

Saat kita menyelami dunia sastra, kita sedang menjelajahi dunia batin manusia dengan segala kompleksitasnya. Saat kita menyentuh seni, kita sedang mendekap bentuk-bentuk visual, gerak, bunyi, hingga ekspresi yang tak selalu bisa diucapkan kata.
Tapi, tahukah kamu bahwa sastra dan seni bukan dua dunia yang berbeda? Mereka ibarat saudara kandung yang lahir dari rahim yang sama: imajinasi, perasaan, dan pencarian makna.

Sebagai seorang penulis dan pengelola Rumah Literasi Kreatif, saya sering menemukan bahwa karya sastra tidak pernah benar-benar steril dari sentuhan seni lain. Saat saya menulis puisi, saya memikirkan ritme dan musikalitas kata seperti dalam musik. Saat saya menulis cerita anak, saya memvisualisasikan latar dan karakter seperti seorang pelukis membuat sketsa. Di sanalah saya yakin: sastra dan seni tidak dapat dipisahkan.


Sastra adalah Seni Berbahasa. Sastra, pada dasarnya, adalah cabang dari seni itu sendiri—tepatnya seni bahasa. Dalam Ensiklopedia Britannica, sastra didefinisikan sebagai “a body of written works that possess artistic or intellectual value”. Artinya, sastra bukan sekadar tulisan; ia adalah tulisan yang memiliki nilai seni dan pemikiran (Britannica, 2024).

Coba bayangkan novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata—tanpa gaya bahasa yang puitis, apakah kita bisa ikut terhanyut dalam semangat Ikal dan Arai? Tanpa metafora, imaji, dan irama, apakah puisi Chairil Anwar akan tetap abadi?

Seni adalah wadah berekspresi dan sastra adalah isinya. Seni rupa, musik, tari, teater—semuanya bisa menjadi medium untuk sastra. Dan sastra sendiri bisa menjadi dasar penciptaan seni. Keduanya saling menghidupi. Dalam pementasan monolog, misalnya, naskah sastra menjadi jiwa yang dihidupkan oleh seni peran. Dalam puisi visual, kata-kata tidak hanya dibaca tapi juga dilihat.

Menurut Roland Barthes dalam esainya The Death of the Author (1967), teks sastra membuka ruang bagi interpretasi bebas pembaca. Di sinilah seni masuk: pembaca bisa merespon teks dengan melukis, menggambar, atau bahkan membuat tarian dari puisi. Sastra tak hanya dibaca; ia bisa ditonton, didengar, dan dialami dengan seluruh pancaindra.


Seni dan sastra sama-sama menjadi objek penting yang membangun peradaban. 
Jika seni adalah cermin zaman, maka sastra adalah suaranya. Di Kalimantan, tempat saya menulis dan berkarya, saya melihat bagaimana hikayat dan pantun berfungsi bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai media pendidikan, pelestarian budaya, dan penguat identitas. Ketika seni Dayak ditarikan, dan cerita rakyat dibacakan dengan iringan musik tradisional, kita melihat keutuhan antara seni dan sastra yang nyaris sakral.

UNESCO dalam dokumen Culture 2030 Indicators menegaskan bahwa kebudayaan yang hidup—baik dalam bentuk seni maupun sastra—merupakan pondasi pembangunan berkelanjutan (UNESCO, 2020). Sastra dan seni bukan hanya ekspresi individu, tapi juga instrumen sosial.

Sastra dan seni ibarat dua sisi mata uang yang sama. Mereka tumbuh bersama, saling memberi nyawa, dan menghadirkan pengalaman manusia dalam bentuk yang paling indah. Jika kita ingin memahami dunia, atau bahkan menyembuhkan luka kolektif masyarakat, kita tidak bisa memilih salah satu. Keduanya harus dirayakan bersama.

Sebagai bagian dari komunitas sastra Pena Kreatif, saya percaya bahwa membesarkan sastra adalah juga membesarkan seni. Maka jangan heran jika dalam setiap buku saya, selalu ada ilustrasi, irama, bahkan nuansa panggung. Karena menulis, bagi saya, bukan sekadar merangkai kata—tapi mencipta dunia, dengan segala warna dan nadanya.


Sumber referensi:

1. Britannica. (2024). Literature. Retrieved from https://www.britannica.com
2. Barthes, R. (1967). The Death of the Author. In Image-Music-Text.
3. UNESCO. (2020). Culture 2030 Indicators. Paris: UNESCO.
4. Hirata, A. (2006). Sang Pemimpi. Jakarta: Bentang Pustaka.
5. Anwar, C. (1957). Aku. Jakarta: Balai Pustaka.


Ingin ikut mendiskusikan hubungan sastra dan seni lebih jauh? Yuk mampir ke blog saya: www.rinmuna.com. Di sana, kita bisa saling berbagi gagasan dan karya!



Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas