Menu BacaanMu
- Perfect Hero (546)
- Puisi (121)
- My Experience (118)
- Rumah Literasi Kreatif (87)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (72)
- Then Love (60)
- Belajar Menulis (58)
- Esai (56)
- Artikel (43)
- Puisi Akrostik (43)
- Review Buku (22)
- Relima Perpusnas RI (18)
- Review Drama (18)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Novel The Cakra (8)
- Wisata (8)
- Aku dan Taman Bacaku (7)
- Dasawisma (6)
- Review Aplikasi (6)
- Kumpulan Novel (5)
- Daily (4)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Opini (4)
- Pendamping Nakal (3)
- Biografi Penulis (2)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- JNE (1)
- Product (1)
Friday, October 17, 2025
Nabi Muhammad SAW: Mukjizat Intelektual dan Cahaya Kecerdasan yang Abadi
Thursday, October 2, 2025
Pengajian Rasa Diskotek, Musholla Rasa Kasino
Pengajian Rasa Diskotek, Musholla Rasa Kasino
Jangan keburu emosi saat baca judul tulisanku yang satu ini. Kalau kamu emosi, artinya kamu pernah mengalaminya atau bahkan kamulah pelakunya. Tulisan ini untuk belajar dan berpikir tentang apa yang telah terjadi di dunia ini. Jadi, bijaklah ketika membaca.
Fenomena sosial keagamaan di masyarakat kerap menghadirkan wajah yang kontradiktif. Di satu sisi, agama dijadikan identitas dan kebanggaan, namun di sisi lain, praktiknya sering jauh dari nilai-nilai luhur Islam. Saya sendiri pernah menyaksikan bagaimana sebuah musholla yang seharusnya menjadi tempat bersujud, berzikir, dan mencari ketenangan batin, berubah menjadi arena bermain kartu remi. Bahkan, sebuah acara pengajian yang mestinya menumbuhkan khusyuk, justru dihiasi dentuman musik disko dengan volume keras, hingga suasana lebih mirip klub malam ketimbang majelis ilmu.
Fenomena inilah yang menginspirasi tulisan ini dengan judul “Pengajian Rasa Diskotek, Musholla Rasa Kasino.”
Musholla adalah rumah Allah yang berubah menjadi arena permainan. Sungguh mengejutkan ketika aku melihat orang-orang bisa dengan bebas bermain kartu remi di teras musholla. Menunggu waktu, harusnya diisi denga mengaji atau berdzikir. Sehingga, rumah Allah benar-benar menjadi rumah yang suci dan penuh ilmu.
Dalam pandangan Islam, musholla maupun masjid adalah rumah Allah yang harus dimuliakan. Allah berfirman:
"Di rumah-rumah (masjid) yang Allah telah memerintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang."
(QS. An-Nur: 36)
Namun realitas yang saya lihat sungguh ironis: tikar yang biasa menjadi alas sujud justru dipenuhi kartu remi, tawa dan candaan lebih mendominasi daripada doa. Musholla seakan kehilangan sakralitasnya. Padahal Rasulullah SAW bersabda:
“Akan datang pada umatku suatu masa, orang-orang berkumpul di masjid, mereka hanya berbicara tentang dunia. Maka janganlah kalian duduk bersama mereka, karena Allah tidak butuh pada mereka.”
(HR. Al-Baihaqi)
Hadis ini jelas menggambarkan betapa menyedihkannya ketika rumah Allah dipakai bukan untuk ibadah, melainkan hiburan duniawi.
Pengajian Rasa Diskotek: Hilangnya Ruh Spiritual
Pengajian mestinya menghadirkan suasana tenang, penuh tadabbur, dan mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, ketika musik disko dengan dentuman bass menguasai ruang pengajian, ruh spiritual pengajian berubah menjadi pesta hiburan.
Memang, Islam tidak menutup ruang seni dan budaya. Musik, selama tidak mengandung maksiat dan berlebihan, bisa menjadi sarana hiburan yang mubah. Tetapi jika pengajian yang identik dengan dzikir, doa, dan ilmu diwarnai dentuman keras ala diskotek, maka nilai esensialnya hilang.
Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadis:
“Akan ada suatu kaum dari umatku yang menghalalkan zina, sutra (untuk laki-laki), khamr, dan alat musik.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi peringatan agar kita tidak menjadikan musik sebagai penguasa hati hingga menggeser zikir kepada Allah. Ketika pengajian terasa seperti konser, kita perlu bertanya: apakah kita hadir untuk Allah, atau sekadar untuk hiburan?
Islam Kaffah: Mengembalikan Fungsi Sakral
Islam kaffah berarti menjalankan Islam secara utuh, bukan parsial. Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al-Baqarah: 208)
Dari ayat ini, jelas bahwa Islam kaffah menuntut keseimbangan: musholla tetap dijaga kesuciannya, pengajian tetap dijalankan dalam nuansa ilmu dan ketenangan.
Mengubah musholla menjadi arena judi kecil-kecilan, atau menjadikan pengajian sebagai ruang pesta musik, berarti kita sedang bermain-main dengan agama. Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah SAW ketika bersabda:
“Sesungguhnya yang pertama kali akan hilang dari umatku adalah kekhusyukan, dan yang terakhir kali akan hilang adalah shalat. Bisa jadi seseorang masih shalat, tetapi tidak ada kebaikan di dalamnya.”
(HR. Abu Nu’aim)
Apa yang saya saksikan adalah potret krisis ruhani. Musholla kehilangan sakralitas, pengajian kehilangan kekhusyukan. Jika dibiarkan, generasi muda akan terbiasa melihat agama sekadar formalitas. Tempat ibadah jadi arena santai, acara keagamaan jadi pesta hiburan.
Padahal, Islam kaffah mengajarkan adab terhadap ruang ibadah dan pengajian. Musholla semestinya dimuliakan, dan pengajian harus menjadi ladang ilmu yang membekas di hati, bukan sekadar keramaian duniawi.
“Pengajian rasa diskotek, musholla rasa kasino” bukan sekadar ungkapan hiperbolis, tapi realitas yang mengkhawatirkan. Kita perlu kembali kepada ajaran Islam yang kaffah, menempatkan musholla dan pengajian pada tempatnya. Agama bukan sekadar label, melainkan jalan hidup.
Jika musholla dipenuhi kartu, dan pengajian dipenuhi musik disko, kita patut bertanya pada diri sendiri: di mana Allah dalam semua itu?
Referensi
- Al-Qur’an Surah An-Nur: 36
- Al-Qur’an Surah Al-Baqarah: 208
- HR. Al-Baihaqi – tentang masjid yang dipenuhi obrolan dunia
- HR. Bukhari – tentang penghalalan musik
- HR. Abu Nu’aim – tentang hilangnya kekhusyukan.
Saturday, September 20, 2025
Ketika Punya Temen Tukang Manfaatin
Sunday, August 10, 2025
Masa Depanmu Bukan Tanggung Jawabku
Saturday, July 19, 2025
Pengalaman Mengikuti Musyawarah Wilayah dan Rapat Presidium Pemilihan Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Kaltim
Sunday, July 6, 2025
15 Kostum Habsy dan Tiga Amanah Besar dari Tuhan
Tuesday, July 1, 2025
Introvert dan Anti-Sosial Seringkali Disalahpahami
Akhir-akhir ini aku sering mendengar kata "introvert" di kalangan anak-anak muda. Setiap kali bertemu dengan anak-anak muda yang enggan menyapa, mereka selalu bilang "aku introvert".
Sebenarnya, introvert itu apa?
Pertanyaan ini menjadi sebuah pertanyaan yang melekat begitu lama di kepalaku. Aku terus mencari informasi. Membaca buku-buku tentang psikologi, filsafat, dan sosiologi.
Sampai akhirnya, aku membuat tulisan ini setelah berpikir dan menganalisa selama beberapa tahun terakhir.
Introvert dan anti-sosial memiliki makna yang sangat tipis dan kerap kali disalahpahami karena keduanya terlihat "menyendiri", padahal maknanya jauh berbeda.
Orang yang introvert memiliki ciri utama dan karakteristik yang unik. Mereka Lebih nyaman dan energik saat sendiri atau dalam kelompok kecil, bukan berarti tidak pandai komunikasi atau berbicara. Orang yang introvert lebih menyukai waktu sendiri untuk mengisi ulang energi.Tidak suka keramaian, tapi bukan berarti benci orang lain. Punya kemampuan sosial yang baik, hanya saja lebih selektif dalam berinteraksi. Mereka lebih suka mendengarkan daripada bicara, mereka akan berbicara banyak hanya jika dibutuhkan. Bisa punya hubungan yang dalam dan bermakna dengan sedikit orang.
Orang introvert lebih suka memilih baca buku di rumah daripada pergi ke pesta, tapi tetap hangat dan akrab saat berbincang dengan teman dekat.
Seringkali ada anggapan bahwa introvert itu pendiam dan canggung saat berkomunikasi. Tapi kenyataannya, banyak orang introvert justru sangat jago berkomunikasi, terutama dalam situasi yang sesuai dengan gaya mereka.
Introvert cenderung menjadi pendengar yang baik. Mereka menyimak dengan cermat, memahami konteks, dan merespons dengan tepat. Ini membuat komunikasi mereka terasa tulus dan penuh makna, bukan sekadar basa-basi.
Orang introvert biasanya berpikir dulu sebelum bicara. Mereka tidak suka omong kosong, jadi ketika berbicara, biasanya isi pesannya lebih tajam dan tersusun. Dalam konteks komunikasi tertulis atau presentasi, ini menjadi keunggulan besar.
Introvert merasa tidak nyaman saat ngobrol rame-rame, mereka lebih suka berada dalam percakapan pribadi atau komunikasi dua arah, mereka bisa sangat terbuka dan ekspresif. Mereka unggul dalam membangun kedekatan emosional melalui komunikasi yang intim dan penuh empati.
Banyak introvert berbakat menulis, baik email, artikel, puisi, maupun caption medsos. Karena menulis memberi ruang untuk berpikir tanpa tekanan interaksi secara langsung. Makanya, banyak penulis hebat adalah introvert.
Introvert yang menyadari kekuatannya sering kali melatih kemampuan sosial mereka. Mereka bisa tampil percaya diri saat dibutuhkan, karena mereka mempersiapkan diri secara mental lebih matang. Saat tampil, mereka bisa terlihat seperti ekstrovert, padahal setelahnya butuh waktu menyendiri untuk recharge.
Introvert tidak suka bicara banyak hal sekaligus, tapi mereka hebat dalam menggali topik secara mendalam. Dalam komunikasi, ini membuat mereka tampak serius, terarah, dan penuh wawasan.
Jadi, jangan heran kalau ada introvert yang bisa menyampaikan pidato yang menggetarkan, atau punya podcast yang bikin banyak orang betah mendengarkan. Mereka bukan tidak bisa komunikasi, mereka hanya butuh ruang yang tepat untuk menampilkan versinya.
Kalau kamu bertemu orang yang pendiam, belum tentu dia anti-sosial, bisa jadi dia introvert yang ramah dan hanya butuh waktu untuk nyaman.
Dapat disimpulkan kalau introvert bukanlah orang yang tidak bisa menyapa orang lain. Mereka justru pandai dalam menempatkan diri. Mereka bahkan bisa mengajak komunikasi dan berbicara banyak hal karena memiliki wawasan yang luas. Wawasan yang luas didapat karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk membaca buku, mendengarkan, dan menggali hal-hal baru di sekitarnya.
Lalu, bagaimana dengan istilah anti-sosial?
Dalam ilmu psikologi, anti-sosial dikenal dengan istilah ASPD (Antisocial Personality Disorder). Ciri utama orang yang anti-sosial cenderung melawan norma sosial yang berlaku di masyarakat dan seringkali merugikan orang lain.
Orang yang anti-sosial memiliki karakteristik yang tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi bisa kita rasakan ketika sudah melakukan kontak langsung dengan orang tersebut. Orang yang anti-sosial biasanya tidak peduli perasaan atau hak orang lain. Karakter yang satu ini bisa aku benarkan karena aku sudah sering menemui kasus yang serupa. Sebagai contoh, staff personalia yang tidak memedulikan hak karyawan-karyawannya ketika melakukan kesalahan penginputan dan berkata, "aku nggak peduli yang lain. Yang penting gajiku keluar!"
Orang yang anti-sosial seringkali melanggar aturan dan hukum, baik hukum negara maupun hukum sosial. Mereka juga bisa sangat manipulatif, agresif, dan tidak punya empati kepada orang lain. Tidak merasa bersalah setelah menyakiti orang lain.
Anti-sosial bukanlah tipe kepribadian biasa, ini adalah bagian dari gangguan kepribadian dalam dunia psikologi/psikiatri.
Orang yang anti-sosial bisa dengan sengaja menipu, mencuri, atau menyakiti orang lain tanpa rasa penyesalan.
Saat ini, fenomena anti-sosial yang berlindung di balik label “introvert” memang nyata dan sering terjadi. Banyak orang menyebut dirinya introvert padahal sebenarnya mengalami masalah lain dalam bersosialisasi, seperti kecemasan sosial, trauma, atau bahkan gangguan kepribadian anti-sosial.
Orang yang anti-sosial cenderung menghindari bahkan membenci interaksi sosial secara ekstrem. Mereka juga tidak peduli atau tidak mampu menjalin hubungan sosial yang sehat.
Beberapa orang yang anti-sosial menolak bersosialisasi karena luka batin, rasa malu ekstrem, atau kecemasan sosial. Sebagian dari mereka juga menggunakan label "introvert" sebagai tameng agar tak perlu menjelaskan perasaan atau kondisi mereka yang lebih kompleks. Mereka bahkan lebih nyaman berada dalam zona keterasingan, lalu menyamakan itu dengan kepribadian introvert, padahal bisa jadi ada gejala psikologis yang tidak disadari.
Contoh nyata, seorang remaja yang tidak mau sekolah dan enggan bergaul menyebut dirinya introvert. Tapi setelah ditelusuri, ternyata dia mengalami bullying dan trauma, serta mengalami gangguan kecemasan sosial.
Mengaku introvert itu sah. Tapi jika sikap selalu menghindar dari manusia, marah saat diajak bicara, atau menolak semua bentuk interaksi, maka itu bukan sekadar introversi. Bisa jadi ada luka, trauma, atau gangguan psikologis yang perlu ditangani. Introvert sehat tetap bisa menjalin relasi, meski dengan caranya sendiri.
%20yang%20.jpg)

.png)






.png)


.png)

.jpg)