Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Monday, March 31, 2025

Tradisin Angpao Menghilangkan Esensi Minal Aidzin Wal Faidzin

 

Tradisi Angpao Menghilangkan Esensi Minal Aidzin Wal Faidzin

oleh Rin Muna



Ada yang makin ramai di timeline setiap lebaran: angpao. Bukan hanya di keluarga Tionghoa lagi, tapi sudah masuk ke rumah-rumah muslim, bahkan jadi agenda “wajib” saat Idulfitri. Amplop warna-warni, desain lucu, disisipkan selembar uang 10 ribu, 20 ribu, sampai 100 ribuan. Anak-anak ngantri, senyum manis—atau kadang cemberut kalau “isinya kecil”.

Tapi pertanyaannya sederhana:
Apakah kita masih benar-benar saling memaafkan, atau sedang sibuk menilai nilai nominal?


Lupa pada Akar ‘Minal Aidzin wal Faidzin’

Kita sering mengucapkan “Minal Aidzin wal Faidzin”—meski artinya sering salah dimengerti. Banyak yang mengira artinya “mohon maaf lahir dan batin”, padahal frasa ini berasal dari bahasa Arab klasik:

“Ja‘alanallāhu wa iyyākum minal ‘āidīn wal fāizīn”
Artinya: “Semoga kita termasuk orang yang kembali (kepada fitrah) dan menang (dari hawa nafsu).”

Jadi ini bukan sekadar kalimat basa-basi, tapi doa spiritual mendalam—harapan agar kita menjadi manusia yang kembali jernih, bersih, dan menang melawan ego.

Kalau lebaran jadi ajang "tarik angpao", apakah kita masih menang dari hawa nafsu?


Kapitalisasi Hari Suci, Kritik dari Ahli Sosiologi

Sosiolog Jean Baudrillard pernah menulis bahwa “masyarakat modern menciptakan makna melalui simbol dan konsumsi”. Dalam konteks lebaran, angpao bukan hanya amplop berisi uang, tapi telah menjadi simbol status, gengsi, dan ekonomi keluarga.

Dari sini muncul fenomena:

  • Keluarga merasa malu kalau tidak bisa memberi banyak.

  • Anak-anak membandingkan isi amplop.

  • Silaturahmi jadi transaksional: siapa yang dapat lebih banyak.


Dalam survei kecil oleh Pusat Studi Sosial UGM yang dilakukan pada tahun 2022, 68% orang tua di perkotaan merasa tekanan finansial saat lebaran karena angpao anak-anak dan "gengsi keluarga besar". Tradisi yang seharusnya hangat dan penuh makna, berubah jadi ajang “saling ukur dompet”.


Pandangan Filsafat: Keikhlasan vs Ekspektasi

Filsuf Stoik Epictetus mengingatkan:

“Semakin kita bergantung pada hal di luar kendali kita, semakin kita jadi budaknya.”

Ketika silaturahmi dikaitkan dengan angpao, maka momen suci kehilangan substansi. Anak-anak tumbuh tanpa nilai syukur dan ikhlas, hanya belajar bahwa "pertemuan" sama dengan "hadiah". Ini menciptakan ilusi tentang nilai kasih sayang diukur dari nilai rupiah.

Pandangan Islam: Memberi itu Sunnah, Menyombong itu Celaka

Islam sangat menganjurkan memberi, tapi bukan dalam kerangka pamer atau menjerumuskan orang dalam keterpaksaan.

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari)

Tapi memberi juga harus disertai dengan niat yang ikhlas, bukan demi sebuah citra sosial. Memberi tidak menyakiti yang diberi (QS Al-Baqarah: 262):

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya... lalu mereka tidak mengiringinya dengan menyebut-nyebut pemberian itu dan tidak menyakiti (perasaan si penerima)...”

Dalam hadist lain, Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa membuat saudaranya merasa malu karena tidak mampu, maka ia telah berdosa." (HR. Abu Dawud)

Apa jadinya kalau keponakan jadi minder karena “nggak bisa kasih balik”, atau orang tua jadi tertekan karena tidak punya cukup uang untuk membagi angpao?


Lalu, apa solusi yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan esensi Minal Aidzin Wal Faidzin yang sebenarnya?

Memaafkan dan silaturahmi bukan bisnis tahunan. Kalau mau memberi, lakukan dengan senyap dan tulus. Tanpa pamer, tanpa ditagih, tanpa jadi standar sosial.

Beberapa alternatif yang lebih mendidik:

  • Alihkan angpao ke bentuk kegiatan bersama: membuat kue, berbagi cerita, main tradisional.

  • Kalau tetap ingin memberi, ajari anak-anak untuk bersyukur dan menyisihkan sebagian untuk sedekah.

  • Kurangi tekanan gengsi: beri sesuai kemampuan, bukan demi “balapan” amplop.


Jangan Biarkan Uang Membakar Niat Baikmu!

Minal Aidzin wal Faidzin adalah doa kemenangan ruhani. Jangan biarkan ia dikalahkan oleh inflasi angpao dan ekspektasi palsu. Karena pada akhirnya, anak-anak akan lupa berapa yang mereka terima. Tapi mereka akan ingat siapa yang benar-benar memeluk mereka tanpa syarat.




Ditulis di tengah suara mesin jahit dan tumpukan bahan kebaya yang harus selesai, tapi hati ingin tetap pulang ke sesuatu yang penuh esensial di masa lalu.



Rin Muna


Monday, March 24, 2025

Kamu Bukan Tuan Atas Emosiku







Suatu hari aku duduk di sebuah forum diskusi di mana aku adalah penanggung jawab sebuah kegiatan. Ada beberapa hal yang perlu dievaluasi dan aku belum memahami seperti apa sifat orang-orang yang ada di lapangan kala itu. 
Sebagai penanggung jawab, aku memilih untuk banyak diam dan mendengarkan. Mencoba memahami satu per satu apa yang mereka inginkan dan mencocokkannya dengan beberapa wawancara kecil yang telah aku lakukan secara individu sebelumnya. 

Ada satu hal yang cukup mengejutkan bagiku dan cukup memancing emosi ketika koordinator lapangan mencoba menyampaikan ke dalam forum tentang kesalahan-kesalahan yang aku sendiri tidak pahami. Dia bilang sudah berkomunikasi denganku, tapi aku tahu persis bahwa tidak ada komunikasi apa pun di antara kami. Bahkan semua rencana kerja yang aku buat, dibuat berantakan oleh koordinator lapangan yang bisa seenaknya mengubah jadwal tanpa koordinasi. 
Jika aku tidak bisa mengendalikan emosiku, tentunya aku akan marah. Aku akan tidak terima dengan pernyataan dia yang diungkapkan di depan banyak orang, tapi tidak pernah dia ungkapkan langsung kepadaku sebelumnya. 
Aku tidak bisa mengontrol apa yang orang lain ucapkan, tapi aku bisa berusaha mengontrol bagaimana caraku meresponnya. 
Aku hanya bertanya dalam hati, "apa maksud orang ini?"
Aku tidak merespon apa pun. Mungkin, semua orang akan menilai bahwa ucapan dia benar, sedang aku yang bersalah dan harus menanggung semuanya. Tapi kita tahu persis apa yang terjadi dan seberapa besar ketidakjujuran yang sedang ia ciptakan. 

Sampai forum diskusi selesai, aku hanya berpikir dan berdialog dengan diriku sendiri. Aku tahu jika aku sedang berhadapan dengan orang yang manipulatif dan pembohong patologis. Itulah sebabnya aku tidak ingin merespon apa pun. Aku tidak ingin bereaksi apa pun meski aku adalah tipe orang yang suka berdebat. Aku tidak ingin berdebat kosong dengan seseorang yang sedang berusaha memancing emosiku. Aku tidak ingin berdebat dengan orang yang manipulatif dan pembohong patologis. Aku tidak perlu validasi dari sana-sini untuk mendapatkan pembenaran karena aku sudah tahu siapa sesungguhnya yang benar dan yang salah. Suatu hari nanti, kebenaran akan menemukan jalannya. 


Kemudian, ada satu waktu di mana ada seseorang yang datang padaku untuk memancing emosiku. Dia datang padaku dan berkata, "Mbak, si A ada bilang ke aku kalau Mbak Rina suka makan uang anak-anak taman baca".
Aku terkejut dan nyaris emosi dalam waktu beberapa detik. Tapi kemudian aku berhasil mengendalikan diriku sendiri dan memilih untuk tersenyum. Semua orang tahu kalau taman baca aku dirikan secara pribadi. Belajar di taman baca selalu gratis. Semua biaya operasional (kebersihan, listrik, air, dll.) aku tanggung secara pribadi. Lalu, bagaimana aku bisa dikatakan makan uang taman baca? Sedang uang untuk taman baca pun, aku mengeluarkan dari kantongku sendiri. 

Beberapa waktu kemudian, aku duduk di forum persaudaraan. Seseorang menyampaikan berita kepadaku bahwa si B berkata, "Kapok jadi janda!" 
Aku hanya bisa beristigfar mendengar kalimat yang begitu bersemangat menginaku. Terlebih, saat itu memang aku baru saja menyandang status "janda". Aku berusaha keras mengendalikan emosiku. Aku tersenyum dan berkata, "Nggak papa. Pada akhirnya, semua orang akan jadi janda/duda. Hanya soal waktunya saja yang berbeda."

Tak sekedar tiga hal itu saja yang berusaha membangkitkan emosiku. Masih ada banyak kalimat buruk yang kerap kudengar di luar sana dan sampai ke telingaku. 
Aku tidak emosi. Aku hanya berpikir, "apa maksudnya orang ketiga menyampaikan ucapan itu ke aku? Apakah ada indikator untuk mengadu domba kami? 
Meski perkataan itu jujur dan apa adanya, aku tetap tidak bisa merespon dengan emosi. Aku sudah terbiasa mendapatkan penghinaan dan diremehkan. Aku biasa mudah emosi, tapi aku selalu bisa mengolah emosiku. Aku tidak akan emosi untuk hal-hal yang tidak layak untuk diperjuangkan. 
Aku belajar banyak hal untuk bisa mengolah emosi, mulai dari tokoh-tokoh Yunani kuno sampai tokoh-tokoh Islami yang mengajarkan banyak pola pikir sehat. Sehingga, aku tidak akan mudah untuk emosi. 

Aku memilih untuk bisa merespon perkataan/tindakan orang lain dengan diam dan tenang. Bukan aku lemah atau tidak bisa bicara, tapi karena aku tidak perlu bicara dan aku merasa tidak perlu merespon apa pun yang tidak layak untuk kuperjuangkan. 

Aku adalah pemilik emosiku sendiri. Tidak ada orang lain yang bisa mengendalikannya, apalagi menjadi tuan bagi emosiku. Tidak ada yang bisa menyakitiku hanya dengan kata-kata karena aku tidak mudah untuk terpengaruh. 
Sifatku adalah menganalisa keadaan, bukan ingin menjadi pengendali keadaan. Jadi, aku tidak akan mudah terpengaruh dengan kata-kata orang lain yang berusaha untuk menjatuhkan harga diriku. 
Sudah begitu banyak kalimat penghinaan yang ditujukan ke aku, tapi tidak pernah dibicarakan padaku langsung, selalu dibicarakan di depan orang lain. Entah apa maksudnya. Tapi aku enggan menghadapi orang-orang yang seperti itu. Sedang aku tidak punya waktu untuk meresponnya, apalagi untuk balas membicarakan keburukan mereka. 

Sesungguhnya, satu kalimat saja yang aku tuliskan ketika emosi, bisa diketahui oleh banyak orang di dunia ini. 

Bukankah mudah bagiku menghancurkan reputasi orang lain? Sedang mereka yang ingin menghancurkan reputasiku hanya bisa sebatas di kampung sendiri. 

Aku memilih diam bukan karena aku takut atau lemah. Tapi karena aku justru sangat kuat karena bisa mengendalikan emosiku sendiri. Aku tidak ingin emosi yang menguasai diriku, apalagi ada orang lain yang menjadi tuan atas emosiku. 

Aku berusaha untuk merespon dengan baik setiap kalimat atau tindakan negatif dari orang lain. Tidak semua hal harus aku dengarkan. Tidak semua saran orang harus aku laksanakan. Ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan orang lain terhadapku.

Jika kamu juga tidak suka dengan sikapku, cobalah untuk merenung sejenak! 
Benarkah kamu benci denganku karena sikapku atau kamu sedang bermasalah dengan hati dan pikiranmu sendiri? 


Ingatlah, kamu bukan tuan atas emosiku! 
Kamu bukan orang yang berhak menggugah emosiku untuk hal-hal yang tidak layak untuk aku perdebatkan. 
Kalau kamu kecewa, itu bukan karena aku, tapi karena kamu tidak bisa mengolah masalahmu sendiri sehingga mengorbankan orang lain untuk sebuah pembenaran/validasi.



Sunday, March 23, 2025

Kebohongan Patologis Dapat Menghancurkan Hubungan

 



Kebohongan Patologis Dapat Menghancurkan Hubungan

 Luka yang Tidak Tampak, Tapi Nyata


Ada luka yang tidak meneteskan darah, tapi menganga dalam diam: luka karena kebohongan. Apalagi jika kebohongan itu bukan satu-dua kali, melainkan terus-menerus seperti napas—kebohongan yang sudah menjadi kebiasaan. Inilah yang disebut sebagai kebohongan patologis (pathological lying).

Sebagai penulis yang gemar mengamati dinamika relasi manusia, saya sering menjumpai tema ini dalam kisah nyata maupun fiksi. Dan yang paling menyedihkan adalah ketika seseorang sadar bahwa pasangannya bukan sekadar "berbohong sesekali", tapi memiliki pola bohong kronis yang membentuk realitas semu—seolah hidup dalam sandiwara.

Apa Itu Kebohongan Patologis?

Kebohongan patologis bukan sekadar dusta sesekali untuk menghindari konflik. Ini adalah kebohongan yang berulang, tidak perlu, dan kadang tidak masuk akal, bahkan ketika tidak ada keuntungan jelas dari kebohongan itu.

Psikolog Charles Dike dari UCLA menyebut kondisi ini sebagai bagian dari Pseudologia Fantastica—sebuah fenomena di mana pelaku menyusun narasi palsu yang ia percayai sendiri, dan menjadikannya sebagai bagian dari kepribadian. Dalam jurnal Psychiatric Times (2008), Dike menjelaskan bahwa kebohongan patologis bisa muncul karena trauma masa kecil, dorongan untuk terlihat superior, atau keinginan kompulsif untuk mengontrol persepsi orang lain.

Mengapa Ini Bisa Menghancurkan Hubungan?

Hubungan dibangun atas dasar kepercayaan. Dan kepercayaan itu seperti gelas kaca—sekali retak, sulit kembali seperti semula. Ketika seseorang terus-menerus dibohongi, ia bukan hanya kehilangan kepercayaan pada pasangannya, tapi juga pada persepsinya sendiri. Ia mulai mempertanyakan: “Apakah aku terlalu curiga? Apakah aku yang berlebihan?”

Kebohongan yang terus diulang akan melahirkan gaslighting, di mana korban dipaksa meragukan realitasnya sendiri. Dan inilah yang sangat berbahaya. Hubungan menjadi tidak sehat. Ada ketimpangan kuasa. Dan sering kali, sang pembohong akan memutarbalikkan logika hingga ia tampil sebagai korban.

Kita tahu, dalam relasi apa pun—baik romantis, pertemanan, keluarga, maupun profesional—integritas adalah fondasi. Ketika seseorang berbohong terus-menerus, maka ia menghancurkan fondasi itu secara perlahan, seperti rayap yang memakan rumah dari dalam.

Kebohongan Sebagai Alat Manipulasi

Kebohongan patologis bisa menjadi bentuk manipulasi psikologis. Pelakunya kadang tampak charming, penuh pesona, tapi di balik itu ia menyimpan agenda. Ia bisa membuat pasangannya tergantung padanya secara emosional, dan memutar fakta demi menjaga ilusi citra diri.

Kisah-kisah seperti ini banyak diangkat dalam literatur populer maupun dunia nyata. Salah satunya dalam kisah Dirty John (kisah nyata yang difilmkan oleh Netflix), di mana seorang pria manipulatif membohongi istrinya tentang identitas, pekerjaan, hingga masa lalunya demi keuntungan pribadi. Ia membungkus semua itu dalam pesona dan perhatian semu, yang pada akhirnya membuat korbannya hampir kehilangan segalanya.

Islam dan Filsafat: Perspektif tentang Dusta

Dalam Islam, berbohong adalah dosa besar. Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya kebohongan membawa kepada kefasikan, dan kefasikan membawa ke neraka." (HR. Bukhari & Muslim).

Sementara dalam filsafat, Plato menganggap kebenaran sebagai bentuk tertinggi dari keadilan. Berbohong berarti mencederai logos, merusak harmoni antara pikiran dan kenyataan. Dalam tradisi stoikisme, seperti yang diajarkan oleh Epictetus, kejujuran adalah wujud integritas diri. “It’s not things themselves that disturb us, but our interpretations of them.” Maka jika seseorang terus-menerus menciptakan ilusi, ia bukan hanya menipu orang lain, tapi juga menipu dirinya sendiri dari realitas yang jujur.

Apakah Bisa Disembuhkan?

Secara psikologis, orang dengan kecenderungan kebohongan patologis membutuhkan terapi yang mendalam. Tidak cukup hanya dengan nasehat atau kemarahan. Mereka harus memahami akar dari kebohongan itu: apakah karena trauma, rasa tidak aman, atau kelainan kepribadian seperti antisosial atau narsistik.

Tapi sayangnya, banyak dari mereka tidak menyadari masalahnya. Bahkan ketika relasi mereka mulai runtuh, mereka akan mencari kambing hitam, bukan bercermin.

Cinta Tidak Akan Tumbuh di Atas Kebohongan

Membangun relasi itu seperti merawat taman. Butuh kesabaran, kejujuran, dan konsistensi. Jika tanahnya diracuni kebohongan, maka bunga cinta akan layu bahkan sebelum sempat mekar.

Jadi, jika kamu berada dalam hubungan yang dipenuhi dusta, tanya pada dirimu sendiri: “Apakah aku sedang mencintai seseorang, atau sedang mencintai ilusi yang ia ciptakan?”

Beranilah untuk membuka mata, dan jangan biarkan kebohongan—sekecil apa pun—merusak jiwamu. Karena hubungan yang sehat selalu tumbuh di atas kebenaran, meski terkadang pahit.

Referensi:

  1. Dike, Charles. Pathological Lying: Symptom or Disease? Psychiatric Times, Vol. 25 No. 9 (2008).

  2. American Psychiatric Association. DSM-5 Diagnostic Criteria for Personality Disorders.

  3. Hadis Riwayat Bukhari & Muslim.

  4. Plato. The Republic.

  5. Epictetus. Discourses.

Apakah Mereka Benar-Benar Baik Seperti Yang Aku Pikirkan?



 Apakah Mereka Benar-Benar Baik Seperti yang Aku Pikirkan?

Oleh: Rin Muna


Pernah nggak sih kamu duduk sendirian, termenung, lalu muncul pertanyaan kecil yang seperti bisikan: “Apa mereka benar-benar sebaik itu?”
Pertanyaan ini datang ke aku tidak dengan dentuman besar, tapi perlahan—melalui retakan kepercayaan yang pelan-pelan menganga. Lewat sikap, bahasa tubuh, keputusan-keputusan kecil yang aku abaikan selama ini. Lalu seperti kepingan puzzle yang mulai pas satu-satu, aku terdiam dan mengakui: “Ternyata aku salah menilai mereka.”

Tulisan ini bukan curhatan patah hati atau pengkhianatan. Ini adalah catatan keheningan, ketika kita berhadapan dengan kenyataan bahwa kebaikan tidak selalu tulus, dan niat tidak selalu bersih.


Sejak kecil, aku diajarkan untuk mempercayai orang. Bahwa semua orang pada dasarnya baik. Bahwa jika kita berbuat baik, kita akan diperlakukan baik pula. Tapi hidup tidak selalu berjalan seadil itu. Aku beberapa kali bertemu dengan orang-orang yang terlihat manis di depan, tapi ternyata menyimpan kepentingan. Mereka yang memujimu setinggi langit, tapi diam-diam menggali tanah tempatmu berdiri.

Aku mulai bertanya-tanya, apa selama ini aku terlalu polos? Terlalu mudah percaya? Atau mungkin… terlalu ingin melihat sisi baik orang lain, sampai aku menutup mata dari sinyal bahaya?


Dalam filsafat Islam, Imam Al-Ghazali pernah menulis bahwa manusia memiliki tiga unsur: akal, nafsu, dan hati. Ketika nafsu menguasai, manusia bisa tampil seperti kawan namun sesungguhnya menyimpan niat buruk. Allah pun dalam Al-Qur’an telah berpesan dalam surah Al-Hujurat ayat 12, “Wahai orang-orang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”
Namun di sisi lain, kita juga diperintahkan untuk berhati-hati.

Berhati-hati bukan berarti berprasangka buruk. Tapi tajam dalam mengamati, dan jujur pada intuisi. Kadang hati kita tahu, tapi akal kita menyangkal, karena terlalu ingin percaya bahwa mereka adalah orang baik.

Marcus Aurelius, filsuf Stoik dari Romawi, pernah berkata: “If someone does wrong, it’s because they think it’s right. If they knew better, they would not do it.”
Pandangan ini mengajarkanku bahwa setiap orang bertindak berdasarkan kerangka pikirnya sendiri. Mungkin mereka memang tidak sebaik yang kupikirkan—tapi juga tidak jahat secara sadar. Mereka hanya hidup dengan prinsip yang berbeda dari prinsipku.

Stoikisme mengajarkanku untuk tidak terikat pada ekspektasi. Bahwa penderitaan sering kali lahir dari bayangan kita sendiri, bukan dari kenyataan. Aku menderita karena berpikir mereka adalah orang baik. Tapi sebenarnya, itu hanyalah konstruksi dalam benakku.

Ketika akhirnya aku sadar, bahwa orang yang kuanggap "baik" ternyata penuh manipulasi atau hanya memanfaatkan kebaikanku, rasanya seperti patah sayap. Tapi dari situ, aku mulai belajar:

  1. Menilai dari tindakan, bukan kata-kata.
    Banyak orang pandai berkata manis, tapi perbuatannya penuh kontradiksi. Lihat bagaimana mereka bertindak saat tidak ada keuntungan bagi mereka. Di situlah watak asli terkuak.

  2. Memberi tanpa mengikat.
    Kalau kita berbuat baik karena ingin dibalas baik, kita akan kecewa. Tapi kalau kita berbuat baik karena itu nilai yang kita pegang, maka kita tidak mudah terluka ketika dikhianati.

  3. Memaafkan, bukan untuk mereka, tapi untuk diriku.
    Maaf adalah jalan melepaskan diriku dari belenggu kemarahan dan luka. Karena hidup terlalu singkat untuk menggendong beban dendam dari orang-orang yang bahkan mungkin tak lagi memikirkan kita.


Kini, ketika aku bertemu orang, aku tidak lagi terburu-buru menaruh label "baik" atau "buruk". Aku belajar menjadi pengamat yang tenang. Aku tahu bahwa manusia kompleks. Dan kebaikan sejati tidak perlu ditunjukkan. Ia terpancar dalam kesederhanaan, dalam konsistensi, dalam ketulusan yang tak berbunyi.

“Apakah mereka benar-benar baik seperti yang aku pikirkan?”
Mungkin tidak.
Tapi yang lebih penting adalah, apakah aku tetap memilih untuk jadi orang baik meski kenyataan sering menyakitkan?

Kalau kamu sedang merasa dikhianati oleh seseorang yang kamu pikir baik, jangan buru-buru mengutuk. Duduklah. Dengarkan hatimu. Dan biarkan kesadaran menguatkanmu—bahwa kamu sedang belajar jadi manusia yang lebih bijaksana.



Salam hangat,
Rin Muna
(Yang belajar dari diam dan luka untuk tumbuh lebih jernih.)

Referensi:

  1. Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin, Kitab tentang Hati dan Nafsu.

  2. Al-Qur’an Surat Al-Hujurat (49): Ayat 12.

  3. Marcus Aurelius, Meditations, terjemahan Gregory Hays.

  4. Ryan Holiday, The Daily Stoic.

  5. Said Hawwa, Tarbiyah Ruhiyah.

Kamu Punya Hak untuk Tidak Selalu Dihubungi



 Kita Punya Hak untuk Tidak Selalu Dihubungi

Oleh: Rin Muna


Beberapa waktu lalu, aku memutuskan untuk tidak membalas chat selama dua hari. Bukan karena marah, bukan juga karena ingin dianggap misterius. Tapi karena aku lelah. Jiwaku lelah. Dan aku butuh waktu untuk diam.

Reaksinya? Beragam. Ada yang khawatir, ada yang tersinggung, dan tentu saja—ada yang menganggapku sombong. Seolah-olah kita, manusia, selalu harus available, harus fast response, harus cepat tanggap. Padahal, bukankah diam juga adalah bentuk komunikasi? Bukankah memilih untuk tidak dihubungi juga bisa menjadi bentuk cinta pada diri sendiri?

Di era digital ini, kita dituntut untuk selalu on. Selalu merespons dengan cepat. Balas DM. Angkat telepon. Jawab komentar. Bahkan, diam kita pun dipertanyakan: “Lagi kenapa? Kenapa nggak jawab?”

Padahal, kita ini manusia, bukan pusat layanan 24 jam.

Psikolog Nancy Colier dalam bukunya “The Power of Off” mengatakan bahwa kita hidup dalam ilusi koneksi yang justru mengasingkan. Terlalu banyak interaksi yang dipaksakan hanya karena merasa wajib. Kita menjadi makhluk sosial yang lupa bagaimana rasanya sendiri tanpa merasa bersalah.

Aku akhirnya sadar, bahwa membatasi akses adalah hak. Dan hak itu tidak perlu dijustifikasi panjang lebar. Kita punya hak untuk tidak selalu dihubungi.

Dalam Islam, ada konsep yang indah bernama khalwat—menyendiri bukan karena membenci, tapi untuk mendekatkan diri pada Allah. Para ulama terdahulu bahkan menyisihkan waktu-waktu khusus untuk uzlah (mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia), agar hati tetap bening.

Al-Qur’an pun menyebutkan kisah Maryam, ibu Nabi Isa, yang ketika hamil memilih untuk menyendiri di tempat yang sunyi (QS. Maryam: 16). Bahkan Rasulullah SAW pun menyendiri di Gua Hira sebelum menerima wahyu pertama.

Jadi, jika bahkan para manusia terpilih pun punya waktu untuk tidak ingin diganggu, mengapa kita—yang hanya manusia biasa—harus merasa bersalah karena tidak selalu membalas chat?

Dalam Stoikisme, Epictetus menekankan bahwa hal yang bisa kita kendalikan adalah respon dan pilihan pribadi, bukan ekspektasi orang lain.

Stoikisme mengajarkan kita untuk tidak selalu merespons dunia. Tidak setiap stimulus harus mendapat reaksi. Kadang, diam adalah pilihan yang paling waras. Marcus Aurelius bahkan menulis: “Withdraw into yourself. The rational soul is self-sufficient.”

Jadi ya, kita berhak memilih untuk tidak merespons pesan yang tidak perlu. Bukan karena kita jahat, tapi karena kita belajar membedakan antara penting dan mendesak—antara kebutuhan orang lain dan kebutuhan jiwa kita sendiri.

Memilih untuk tidak selalu terhubung bukanlah bentuk pelarian, tapi perlindungan. Kita tidak bisa memberi jika kita kosong. Tidak bisa hadir sepenuhnya jika jiwa kita compang-camping karena terus dipaksa hadir di setiap layar. Kita perlu istirahat. Istirahat dari ekspektasi. Istirahat dari notifikasi. Istirahat dari keharusan membalas semua hal yang tidak esensial.

Dan kamu tahu apa yang lebih penting?

Membuat batas itu adalah bentuk cinta pada diri sendiri.

Hari ini, aku ingin mengingatkan kamu dan juga diriku sendiri: kita tidak diciptakan untuk jadi manusia serba cepat. Kita bukan robot. Kita punya ritme. Dan kadang, ritme itu mengajak kita untuk diam, untuk jeda, untuk hanya menjadi.

Kita punya hak untuk tidak selalu dihubungi.
Dan kita tidak perlu merasa bersalah karenanya.

Jika kamu hari ini memutuskan untuk menonaktifkan notifikasi, menolak ajakan ngopi, atau bahkan tidak menjawab satu pun pesan, aku ingin bilang: It’s okay.
Kamu punya hak untuk memilih tenang.
Dan kamu tetap berharga, bahkan ketika tidak sedang online.


Salam penuh jeda,



Rin Muna
(Yang sedang menikmati sunyi sebagai teman baru dalam perjalanan pulang ke dalam diri.)



___________________________________________________________________________

Referensi & Bacaan Tambahan:

  1. Nancy Colier. The Power of Off: The Mindful Way to Stay Sane in a Virtual World.

  2. Al-Qur’an Surah Maryam Ayat 16–17 (tentang menyendiri).

  3. Marcus Aurelius. Meditations.

  4. Epictetus. The Enchiridion.

  5. Imam Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin (bab tentang uzlah dan khalwat).

  6. Jonathan Malesic. The End of Burnout: Why Work Drains Us and How to Build Better Lives.

Menulis Adalah Luapan Emosi yang Tidak Berisik

 


KENAPA KITA HARUS MENULIS?

Banyak orang bertanya tentang kenapa harus menulis?

Menulis adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tanpa bisa membaca dan menulis, kita tidak bisa berkomunikasi dan menyampaikan pendapat kita pada orang lain.

Allah SWT menurunkan wahyu pertamanya yakni "Iqro" kepada Nabi Muhammad SAW. Iqro' memiliki makna "bacalah!"

Maka, perintah membaca adalah perintah yang pertama kali diturunkan pada manusia. Perintah membaca, berarti juga merupakan perintah untuk menulis. Sebab, tak akan ada bacaan jika tidak ada yang dituliskan.

Menulis bukan sekedar perintah untuk menghadirkan bahan bacaan yang baik kepada pembacanya. Tapi menulis juga memiliki banyak manfaat positif yang bisa kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang memiliki kebiasaan menulis, cenderung memiliki pemikiran yang sehat, wawasan yang luas, mampu mengendalikan emosinya, dan berbicara dengan teratur.


Menulis adalah self healing (proses pemulihan diri secara emosional, mental, dan fisik tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan orang lain) yang paling baik. Menulis mampu membuat emosi kita menjadi lebih stabil tanpa melibatkan orang lain.


Menulis dengan jujur dan apa adanya adalah cara untuk meluapkan emosi kita tanpa berisik. Kita tidak perlu berteriak atau mencaci maki orang lain yang justru akan menimbulkan masalah baru. Kita tidak perlu melibatkan bantuan orang lain untuk menyembuhkan mental kita sendiri ketika kita harus berhadapan dengan masalah kehidupan yang sangat berat.


Salah satu alasan kenapa aku harus menulis adalah untuk mencurahkan apa yang terpendam di dalam hati dan pikiranku ke dalam bentuk yang lebih bermanfaat. Mungkin, untuk sebagian orang ini terlalu lebay. Sedikit-sedikit harus sharing tentang kehidupan dan pengalamannya dalam bentuk tulisan atau di media sosial. Bukan tidak menutup kemungkinan kalau banyak orang yang nyinyir dengan apa yang aku lakukan. 

Sempat merasa kurang percaya diri dan kembali menutup diri. Tidak sharing apa pun tentang kegiatan dan pengalaman hidupku. Karena untuk sebagian orang yang membenci, ini adalah hal yang tidak baik dan tidak mereka sukai.

Tapi kemudian aku berpikir ... tugasku bukan untuk menyenangkan orang lain. Tugas utamaku adalah membahagiakan diri sendiri dengan caraku sendiri. Orang lain bukanlah tuan atas emosiku. Aku harus kembali pada prinsip hidupku sendiri tanpa memikirkan apa kata orang lain.


Aku memilih untuk tetap terus menulis. Menuliskan semua pemikiranku secara jujur, terbuka, dan apa adanya. Karena dengan begitu, aku merasa emosiku bisa lebih tertata dengan baik.

Kemudian, aku menganalisa pergerakan sosial yang ada di sekitarku. Aku menganalisa bagaimana sikap dan sifat orang-orang yang tidak pernah menulis. Kebanyakan mereka memiliki emosi yang tidak stabil. Karakternya mudah berubah. Tidak memiliki prinsip hidup yang kuat. Ketika menghadapi masalah, mereka membutuhkan validasi dari sana-sini. Mereka bahkan tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Aku tahu, mereka bukan tidak bisa menulis, mereka hanya tidak mau menulis. Tidak bisa dan tidak mau adalah dua hal yang berbeda. Mereka menganggap bahwa hidup mereka sangat privasi. Padahal, privasi itu juga ada batas-batasannya. Banyak hal pribadi yang tetap aku jaga kerahasiaannya dari publik. Tapi lebih banyak hal yang bisa kita bagikan kepada publik agar dunia tahu bahwa kita masih bisa bermanfaat walau sekecil biji sawi.

 

Sejak kecil, aku sudah suka menuliskan segala hal lewat Buku Diary. Aku merasa hari-hariku menjadi lebih baik ketika aku menuliskan ceritaku. Aku tidak bisa meluapkan emosiku di depan banyak orang dengan tiba-tiba. Tapi aku bisa meluapkan emosiku dalam bentuk sebuah karya tulis. Karya tulis yang membuatku memandang sesuatu dari banyak perspektif. Sehingga aku tidak begitu ngotot di depan orang lain meski aku memegang teguh prinsip hidupku sendiri.


Menulis menjadi bagian dari self healing yang aku lakukan setiap hari. Ada banyak masalah besar yang harus aku hadapi sendiri dan aku tidak tahu harus bercerita pada siapa. Aku hanya bisa bercerita pada Allah dan lewat tulisan. Aku tidak ingin menceritakan setiap masalahku pada orang lain. Sebab, semua orang sedang berjuang dengan masalahnya sendiri dan aku tidak perlu menjadi tambahan beban pikiran untuk orang lain.

Aku tidak perlu berisik hanya untuk meluapkan emosi yang terpendam di dalam hati dan pikiranku. Aku merasa sudah lega ketika aku bisa meluapkannya dalam bentuk tulisan. Tidak ada orang lain yang bisa membantuku menyelesaikan masalah mentalku, kecuali diriku sendiri. Aku tidak perlu melibatkan orang lain. Orang lain tidak perlu meributkan apa yang terjadi di dalam hidupku. Aku bisa lebih tenang dalam menghadapi kepahitan hidup, bahkan aku menikmatinya. Sebab, semua rasa sakit dan hal pahit dalam hidupku bisa berbuah manis ketika aku olah menjadi sebuah tulisan.

Kamu sendiri bagaimana?

Sudahkah kamu meluapkan emosimu dalam bentuk tulisan atau masih memendamnya dalam hati dan pikiranmu sendiri?

Jangan dipendam, ya! Jika tidak bisa bercerita dengan orang lain, berceritalah dalam bentuk tulisan. Ini akan membuat hidupmu lebih tenang, lebih damai dan berwawasan.










 








Monday, March 17, 2025

Karyaku Bisa Diterbitkan Perpusnas Press || Praktik Baik Pemanfaatan 1000 Buku (Wilayah Kalbar, Kaltim, Kalsel)








Tuhan selalu punya cara untuk membuat hidup kita menjadi lebih baik. 
Tuhan selalu punya cara yang indah untuk mengubah keinginan kita. 
Sama seperti yang terjadi hari ini. 
Aku menerima paket buku berbonus tas keren dari Forum TBM Pusat. 
Paket buku kali ini adalah paket buku paling istimewa sepanjang hidupku. Karena di buku ini ada karya kecilki tentang Rumah Literasi Kreatif yang aku bangun sendiri sebagai upaya untuk membantu pergerakan literasi di Indonesia. 
Aku tidak menyangka kalau karya tulisku bisa diterbitkan oleh Perpusnas Press RI. Bermimpi saja aku tidak punya keberanian. Aku siapa? Karyaku masih belum apa-apa. 


Tapi kemudian aku berpikir ... suatu hari aku pernah berharap sesuatu yang hari ini diwujudkan oleh Allah. "Gimana caranya bukuku bisa diterbitkan perpustakaan negara, ya? Mereka yang bukunya diterbitkan oleh Perpusnas RI, pastilah penulis-penulis istimewa yang karyanya sudah dikurasi dengan ketat," ucapku ketika aku membaca buku-buku terbitan Perpustakaan Nasional yang kualitasnya sudah tentu sangat baik. 
Aku lupa kapan aku berucap seperti itu dalam hatiku. 

Tapi masih lekat dalam ingatan jika aku sangat menginginkan karyaku bisa diterbitkan oleh penerbit besar dan berkualitas. Sayangnya, proses penulisanku masih sangat buruk. Aku masih belum punya keberanian untuk mengajukan naskah-naskahku ke penerbit mayor. Karena aku masih berproses dan masih perlu banyak jam terbang dalam berkarya. 

Hari ini aku mendapatkan kejutan tak terduga di hari ke-17 Ramadan. Aku mendapat kiriman buku fisik yang di dalamnya ada karyaku. Setelah melewati proses kurasi yang sangat ketat, akhirnya tulisanku bisa lolos dan diterbitkan langsung oleh Perpusnas Press. 
Tidak semua penulis memiliki kesempatan untuk mengabadikan karyanya di Perpustakaan Nasional. Oleh karenanya, aku merasa bangga pada diriku sendiri karena telah berhasil menjadi salah satu kontributor Perpusnas Press. 
Buku ini diterbitkan dalam rangka mengabadikan program Perpusnas RI yang telah memberikan bantuan 1000 buku bacaan anak bermutu kepada 10.000 taman bacaan masyarakat yang tersebar di seluruh Indonesia. Taman bacaan yang aku dirikan sejak tahun 2018 menjadi salah satu penerima bantuan 1000 buku cerita anak bermutu yang dikirimkan langsung oleh Perpustakaan Nasional RI. 
Bantuan yang diberikan ini tentunya tidak lepas dari peran teman-teman Forum TBM Pusat yang sangat aktif dalam pergerakan literasi di Indonesia. 

Aku sangat antusias  ketika dihubungi oleh tim untuk mengirimkan naskah tentang pemanfaatan bantuan 1000 buku yang telah aku terima untuk taman bacaku. Meski di tengah kesibukanku sebagai ibu rumah tangga sekaligus pencari nafkah, aku berusaha untuk bisa menuliskan sebuah karya kecil. 

Setelah melewati proses kurasi dan revisi, akhirnya naskahku bisa dikatakan lolos untuk diterbitkan oleh Perpusnas Press. Rasanya sangat lega dan berharap kalau Perpusnas Press akan benar-benar mengabadikan karyaku.

Beberapa bulan kemudian, aku mendapatkan paket kiriman dari Forum TBM beruba sebuah buku yang sudah dicetak berjudul "Praktik Baik Pemanfaatan 1.000 Buku" untuk wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. 

Bukan hanya 1 eksemplar buku, tapi juga ada sebuah tas keren yang dikirimkan. Hampir sama seperti tas yang biasa aku kenakan dan aku dapat dari kegiatan Forum TBM di The Sultan Hotel & Residence Jakarta. Tapi, tas yang ini ukurannya jauh lebih besar. Dua tas hadiah dari Forum TBM Pusat ini menjadi tas favorite buat aku karena ada banyak kantong di dalamnya dan sangat nyaman dipakai jalan ketika membawa banyak bawaan. 


Rasanya senang sekali ketika mendapatkan hadiah istimewa ini. Di hari ke-17 Ramadan, aku seperti sedang mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

Buku ini akan jadi buku yang paling aku sayang karena pertama kalinya tulisanku diterbitkan oleh Perpusnas Press dan akan menjadi kenangan untuk selamanya. 
Buku ini sangat exclusive karena tidak dijual di toko buku. Kamu tidak akan bisa membacanya jika kamu tidak datang ke Perpusnas RI atau datang ke TBM di mana ada kontributor untuk buku ini. Jadi, kalau mau baca buku ini, kamu harus mengunjungi Perpustakaan RI. Buku ini sangat luar biasa karena ada banyak tulisan tentang perjalanan membuat taman baca yang penuh dengan liku-liku dan bisa menjadi inspirasi kehidupan agar hidup kita bermanfaat.
Jangan lupa cari buku ini, ya!

Kalau nanti aku mati, cari keyword nama "Rin Muna" di google, ya! Semoga karya-karyaku bisa menginspirasi dan membuat kalian lebih semangat dalam menjalani ujian kehidupan ini. 🤗

Saturday, October 5, 2024

Penulis Pengendali Moral Bangsa

 




Zaman semakin maju, tapi kualitas moral manusia semakin mundur. Banyak penyimpangan sosial yang saat ini dianggap normal. Kenapa? Apa pengaruh terbesarnya dan bagaimana dampak yang timbul dari normalisasi penyimpangan sosial?

Bicara tentang moral, tentunya kita akan membicarakan tentang pedoman hidup seseorang. Tentang perbuatan baik yang harus dilakukan dan perbuatan buruk yang harus ditinggalkan. Moral, satu kata yang terlihat sepele, semu, tidak bisa disentuh, tetapi memiliki pengaruh besar bagi kehidupan. Sayangnya, moral yang seharusnya semakin baik seiring dengan perkembangan zaman, justru semakin menurun, bahkan bisa dibilang jeblok.

Moral memiliki tatanan penting dalam menjalankan roda kehidupan manusia. Oleh karenanya, orang-orang penting harus memiliki moral yang baik, supaya seluruh dunia bisa menjadi lebih baik. Tetapi hal ini tidak bisa terjadi karena kerusakan moral terjadi secara global di seluruh dunia. Bahkan, orang-orang yang duduk di kursi penguasa tertinggi, memiliki kualitas moral yang buruk. Indikatornya ialah terjadinya banyak korupsi, kolusi, dan nepotisme di dalam sebuah negara.

Ketika sebuah bangsa memiliki pemimpin bermoral buruk, maka bangsa tersebut akan mudah hancur tanpa berperang dengan negara lain. Artinya, pemimpin yang tidak bermoral sedang menghancurkan masa depan bangsanya sendiri.

Contoh kasus yang marak terjadi ialah perang argumentasi antar pemimpin hingga pemimpin negara yang tidak beretika dalam berkomentar dan dianggap sebagai hal lumrah oleh para pendukungnya. Bukankah hal ini menjadi sumber utama rusaknya moral bangsa? Tapi semua seolah dianggap wajar hingga menjadi panutan negatif bagi rakyatnya.

Ditambah lagi dengan literatur buruk yang tertulis abadi untuk masa depan. Kenapa aku bilang buruk? Karena ada banyak penulis nakal yang melahirkan tulisan-tulisan bakal. Tulisan nakal  melahirkan penyimpangan sosial yang dinormalisasi. Terlebih, tulisan zaman sekarang adalah tulisan yang sangat mudah diakses oleh semua kalangan. Sehingga, tidak menutup kemungkinan kalau kita akan bertemu dengan tulisan-tulisan nakal yang memengaruhi pola pikir dan aktivitas sosial manusia.

Kita bisa mengambil contoh dan pelajaran dari kasus skandal video syur antara guru dan murid di Gorontalo pada tahun 2024. Hubungan terlarang antara siswi SMA dan gurunya itu kerap menjadi bahan bacaan yang disajikan oleh penulis di sebuah platform baca online. Beberapa penulis memilih untuk menormalisasi penyimpangan sosial dengan menjadikannya tokoh utama. Tokoh utama yang melakukan perbuatan buruk ditulis sebagai hal yang normal, bahkan mendapat dukungan penuh dari penulisnya dengan dalih menyajikan cerita dari sudut pandang yang berbeda.

Semakin maraknya tulisan-tulisan yang melibatkan siswa-siswa sekolah dengan konten dewasa di dalamnya, tentunya akan memengaruhi pemikiran dan perilaku sosial di masyarakat. Terlebih, hal-hal negatif yang beredar di media sosial justru menjadi konten yang “viral” dan dikejar oleh banyak orang demi sebuah kepopuleran.

Maraknya konten negatif yang viral adalah indikator perilaku masyarakat sebagai target market atau pasar atas konten tersebut. Ketika konten negatif yang viral, artinya selera mayoritas masyarakat ialah konten-konten yang negatif. Sehingga, konten positif kerap tenggelam dan tidak menjadi perhatian masyarakat.

Konten negatif tidak hanya dalam bentuk foto dan video di media sosial. Platform menulis yang pengkaryanya dianggap sebagai seseorang yang melek literasi dan memiliki intelektual tinggi, ternyata juga banyak yang menyajikan konten-konten negatif. Konten negatif dalam bentuk narasi panjang atau novel juga menjadi salah satu selera tertinggi masyarakat. Artinya, pola pikir dan selera masyarakat atas konten-konten negatif sudah menjadi makanan sehari-hari dan dianggap wajar.

Konten berupa tulisan adalah sumber utama dari segala konten-konten yang beredar. Sebelum menjadi sebuah video yang menarik, tentunya seseorang harus memiliki kemampuan untuk menulis dan mengolah informasi tersebut. Foto dan video, merupakan hasil dari sebuah literatur. Ketika literatur baik, maka kualitas foto, video, dan film akan sebaik literatur di suatu negara.

Baik konten tulisan maupun video, semuanya bisa dikendalikan oleh penulis. Karya-karya seorang penulis, akan menjadi sebuah panutan (role model) bagi banyak penikmatnya. Penikmat yang hari ini membaca atau menonton, mungkin akan melahirkan sebuah karya yang mirip atau bahkan sama dengan karya-karya yang mereka nikmati sebelumnya. Di sinilah, peran penting seorang penulis dalam mengendalikan moral bangsa. Penulis yang menyuguhkan karya-karya bermoral baik, tentunya akan menghasilkan pembaca yang bermoral baik pula.

Dalam beberapa kesempatan, aku berkeliling ke toko buku. Mencari buku-buku tentang etika dan moral. Sayang, aku tidak menemukannya. Seingatku, aku pernah membaca buku tentang etika kepenulisan saat aku masih kecil. Bahkan, di sekolah diajari tentang “Budi Pekerti” yang membuat terbiasa mengenal baik-buruk suatu keadaan atau peristiwa.

Siapa orang paling berkuasa yang bisa mengendalikan beredarnya buku-buku di masyarakat? Ya, pemerintah. Ketika pemerintah mengeluarkan program peluncuran buku-buku tentang etika dan moral dengan jumlah yang banyak, tentunya akan memengaruhi pasar dan pola pikir pembacanya. Sayangnya, pemerintahan saat ini justru khawatir jika rakyatnya terlalu pandai dan bermoral baik. Karena mereka tidak akan bisa menyetel rakyat untuk membuat kekuasaan mereka abadi dan penyimpangan yang mereka lakukan dianggap wajar oleh masyarakat.

Menormalisasi sebuah penyimpangan sosial, akan melahirkan kebiasaan korupsi, kolusi, nepotisme, dan lain-lain. Setelah mengamati perubahan sosial selama beberapa tahun belakangan ini, sumber pengendali moral terbesar adalah pada naskah kepenulisan. Saat ini, kualitas naskah kepenulisan sangat menurun drastis secara konteks. Penulis yang memilih di jalur yang benar, tidak mendapatkan atensi dari masyarakat banyak. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki tingkat intelektual tinggi yang membacanya karena mereka sudah pandai memilah dan memilih bahan bacaan.

Selera mayoritas masyarakat adalah gambaran besar tentang karakter sebuah bangsa. Kita tidak bisa mengendalikan sepenuhnya dan mengubahnya dalam waktu singkat. Tapi, kita bisa mengupayakannya dengan mengendalikan beredarnya naskah-naskah buku yang tidak baik dan bermoral. Saat ini, banyak buku dewasa yang dijual bebas, bahkan bisa dibaca secara gratis. Aku lebih setuju ketika buku-buku dewasa itu bisa dikurasi secara ketat agar tidak sembarang orang bisa menuliskan adegan-adegan dewasa secara eksplisit. Buku-buku dewasa dengan konten-konten berbahaya juga seharusnya diberikan akses khusus atau diberikan tarif harga tinggi agar tidak dibaca oleh anak-anak remaja. Hal ini, tentunya menjadi upaya yang baik untuk mengendalikan moral masyarakat.

Mungkinkah kita akan membiarkan anak-anak kita yang hari ini belum lahir, mengalami kerusakan moral pada 20 tahun mendatang karena literature tentang etika, moral, dan tata krama sudah sangat langka. Dari mana anak-anak kita akan belajar tentang begitu indahnya masa depan, jika yang kita suguhkan adalah kehancuran?

Untuk para penulis pemula, jika ingin memutuskan menjadi penulis, maka jadilah penulis yang baik untuk masa depan. Semua tulisan bertujuan untuk memengaruhi pola pikir manusia. Maka, hadirkanlah tulisan-tulisan yang memberikan pengaruh positif pada dunia.Karena kita tidak punya cara lain untuk mengendalikan moral bangsa selain dari sisi agama, satu-satunya harapan adalah para penulis masa depan.

 

 

 

 

 

 

 

BIODATA PENULIS




Namaku Walrina, biasa dipanggil Rin Muna. Aku memiliki 2 nama pena, yakni  Vella Nine (khusus karya novel) dan Rin Muna. Aku lahir pada tanggal 09 November 1991 di pondok kecil yang menjadi rumah tinggal kedua orang tuaku. Sekolah di SDN 038 Samboja, SMP Negeri 15 Balikpapan dan SMA Negeri 06 Balikpapan. Saat ini masih menempuh pendidikan Sastra Inggris di Universitas Terbuka. Aku sangat suka menulis novel panjang dengan ratusan atau ribuan episode.

Pada 18 Februari 2018, aku mendirikan Taman Bacaan Masyarakat Bunga Kertas. Sekarang telah berubah menjadi Yayasan Rumah Literasi Kreatif yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan.

 

 


Beberapa karya yang telah aku tulis:

1.      20 Buku Antologi Puisi, Cerpen, Esai, dan Dongeng terbitan FAM Publishing

2.      Buku Novel "Perfect Hero" - Novelindo Publishing, 2022

3.      Buku Novel "I am Here, Mr. Rich" - Novelindo Publishing, 2022

4.      Then Love by Vella Nine - Novelme, 2019

5.      Perfect Hero by Vella Nine - Novelme, 2020 [1.373.366 kata]

6.      Perfect Hero Seri 1 versi cetak by Vella Nine - Novelindo Publishing, 2022

7.      Perfect Hero 2 by Vella Nine - Novelme, 2021 [ 572.955 kata] 

8.      Shaum Me by Vella Nine - Novelme, 2021

9.      I am Here, Mr. Rich by Vella Nine - Novelme, 2022 [410.769 kata]

10.  I am Here, Mr. Rich Seri 1 versi cetak by Vella Nine - Novelindo Publishing, 2022

11.  Menikahi Lelaki Brengsek by Vella Nine

12.  Suami untuk Istri by Vella Nine - Fizzo, 2022 [ 617.400 kata]

13.  Assalamualaikum, Ya Habib by Vella Nine - Fizzo 2022

14.  Mrs. Rose & Mr. Rich by Vella Nine - Fizzo, 2023

15.  Catch Me Mr. Ghevin by Vella Nine – Fizzo, 2023

16.  Magang 90 Hari by Vella Nine – Fizzo, 2023

17.  The Cakra by Vella Nine – Fizzo, 2024

18.  Semua karya di dalam blog pribadi www.rinmuna.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Monday, May 20, 2024

Persahabatan Perempuan Indonesia dan Pria Amerika

 


Perempuan Indonesia lahir dengan sifat yang sangat ramah. Laki-laki Amerika cenderung pasif dan berteman dengan wanita hanya untuk hubungan spesial ( seperti romansa). Persahabatan lintas budaya antara perempuan Indonesia dan Laki-laki Amerika bisa mengalami masalah apabila tidak ada kecocokan, misalnya ketika perempuan Indonesia tidak ingin menjalin hubungan yang lebih spesial, maka laki-laki Amerika akan mengakhiri hubungan pertemanan tersebut. Karena laki-laki Amerika lebih suka menjalin hubungan yang percintaan yang romantis dengan perempuan. Mereka tidak ingin berteman biasa-biasa saja. Untuk menghindari masalah itu terjadi, perempuan Indonesia harus bisa memberikan pengertian pada laki-laki Amerika jika budaya pertemanan di Indonesia dan Amerika berbeda. Perempuan Indonesia bisa tetap berteman dengan laki-laki tanpa ada hubungan percintaan yang khusus.

 

Indonesian women are born with a very friendly nature. American men tend to be passive and associate with women only for special relationships (such as romance). Cross-cultural friendship between Indonesian women and American men can run into problems if there is no compatibility, for example when Indonesian women don't want to have a more special relationship, then American men will end the friendship. Because American men prefer to have romantic relationships with women. They don't want to be casual friends. To avoid this problem from happening, Indonesian women must be able to provide an understanding to American men if the culture of friendship in Indonesia and America is different. Indonesian women can remain friends with men without having a special romantic relationship.


Thursday, February 22, 2024

Jejak Langkah di Pasir Samboja

 


Jejak Langkah di Pasir Samboja
Karya: Rin Muna

Pagi itu, 22 Februari 2024, langit di atas Samboja tampak bersih setelah hujan malam sebelumnya. Udara asin laut menyambut perjalanan kami—tiga orang Ketua RT dari Desa Beringin Agung: saya, Ketua RT 4 (Yudi), dan Ketua RT 5 (Ahmad Ihun). Kami berangkat menuju Pantai Tanjung Harapan untuk memenuhi undangan kegiatan kemah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Sebagai Ketua RT, kehadiran kami bukan untuk ikut berkemah atau mengikuti seluruh rangkaian acara, melainkan menghadiri pembukaan secara formal atas undangan Bapak Bupati Kukar. Meski demikian, perjalanan menuju pantai menjadi pengalaman tersendiri. Jalanan berliku menuju pesisir Samboja membawa kami pada percakapan ringan tentang warga, pembangunan, dan rutinitas kecil di lingkungan masing-masing.

Kami tiba di lokasi sekitar pukul sembilan pagi. Pantai Tanjung Harapan sudah ramai dengan peserta kemah dari berbagai OPD. Bendera kegiatan berkibar di sisi panggung utama, tenda-tenda berwarna cerah berdiri berjejer di sepanjang pasir, dan suara pengeras menyambut kedatangan rombongan tamu undangan.

Kami memilih berdiri di antara pepohonan pinus, di paling belakang, menyimak sambutan demi sambutan. Saat Bupati membuka kegiatan secara resmi, saya memperhatikan raut antusias para peserta muda yang duduk bersila di bawah tenda besar. Ada pancaran semangat belajar dan rasa kebersamaan yang kental di wajah mereka. Dalam hati saya berpikir, betapa kegiatan seperti ini bisa menjadi sarana membangun karakter generasi muda — mencintai alam, belajar mandiri, dan menumbuhkan solidaritas.

Usai acara pembukaan, kami diajak berkeliling sebentar meninjau lokasi. Pasir pantai yang lembut, barisan pohon cemara laut, serta angin yang berhembus lembut membuat suasana terasa menenangkan. Kami juga diajak Pak Kades Beringin Agung dan Bukit Raya untuk menikmati es kelapa khas pantai tersebut.

Setelah berfoto bersama peserta dan panitia, kami berpamitan lebih awal. Ketua RT lain dari desa kami tidak bisa hadir karena kesibukan masing-masing. D Ada rasa bangga kecil — bukan karena status atau jabatan, tetapi karena telah menjadi bagian dari upaya kecil untuk menunjukkan dukungan pada kegiatan masyarakat yang positif.

Sebagai Ketua RT, sering kali kehadiran kita diundang hanya bersifat formalitas. Namun bagi saya, setiap undangan memiliki makna tersendiri. Ia menjadi simbol keterhubungan antara pemerintah dan masyarakat di tingkat paling dasar. Hadir bukan sekadar datang, tapi juga memberi tanda bahwa kita peduli. Bahwa kita hadir untuk mendengar, untuk melihat, dan untuk tetap menjadi bagian dari gerak kebersamaan di wilayah yang kita pimpin.

Hari itu, di tepi Pantai Tanjung Harapan, saya belajar sesuatu yang sederhana namun penting: menjadi pemimpin di lingkungan kecil bukan hanya soal menjalankan tugas, melainkan juga menjaga rasa kebersamaan. Kadang, kebersamaan itu hadir dari langkah-langkah kecil — seperti tiga ketua RT yang berdiri di bawah tenda pembukaan, di antara deru ombak Samboja dan semangat muda yang menyala di hadapan kami.


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas