Berbagi Cerita Hidup, Berbagi Inspirasi

Showing posts with label Diary. Show all posts
Showing posts with label Diary. Show all posts

Monday, May 20, 2019

Tempat Permen Barbie Look untuk Lebaran



Hai  temen-temen...!

Kali ini aku mau sharing tentang kegiatan aku sehari-hari.
Kebetulan, sebentar lagi mau lebaran.
Aku mengisi waktu luang aku membuat sesuatu yang bisa kita pakai lebaran nanti.
Hasilnya lucu dan unyu banget loh.

Jadi, aku tuh punya anak yang baru berusia 3,5 tahun. Mainannya dia itu banyak banget! Udah hampir 2 kardus yang aku sembunyiin di gudang belakang rumah supaya dia nggak menghambur mainannya. Karena capek banget kalau harus beresin mainan sebanyak itu. Dan dia tipe anak yang suka menghambur mainannya sekaligus di dalam satu ruangan. Yah, kadang sampai ke mana-mana juga tuh mainan.
Pas aku iseng main instagram, tiba-tiba aku lihat ada beberapa foto yang menunjukkan fashion boneka barbie. Aku langsung tertarik banget lihatnya. Dan kepikiran bikinin baju buat boneka barbie anak aku.
Aku langsung ke belakang rumah buat cari boneka barbie anakku yang udah nggak keurus. Kondisinya udah mengenaskan lah pokoknya. Aku ambil dan bersihkan supaya bisa aku hias lagi.
Pertama-tama, aku buatkan baju muslim untuk boneka barbie dari kain perca yang ada. Karena mau menyambut Idulfitri, jadi aku pikir suasana muslimah lebih kena gitu untuk tema barbie kali ini.

Anakku sempat protes waktu aku ambil bonekanya. Tapi, pas dia udah lihat hasilnya bagus. Dia seneng banget dan antusias banget buat ngisi tempat permen yang terbuat dari boneka barbie ini.

Nah, buat temen-temen yang mau buat juga. Bisa kok. Aku udah share video saat aku buat tempat permen dari boneka barbie ini. Semoga kalian bisa mengikuti dengan baik.

Oh ya, sebelum dipasangi kain flanel dan kain dasarnya. Kalian bisa menggunakan kertas karton atau kardus bekas sebagai alas supaya gaun si Barbie bisa mengembang dan hasilnya cantik.


Selamat Mencoba!!!

Thursday, May 2, 2019

Mamuja Kebanjiran Orderan Menjelang Bulan Ramadhan


Hai,,, hari ini aku dan para Mama Muda Samboja (Mamuja) yang merupakan bagian dari taman baca berkumpul di ruang taman baca seperti biasanya. Hmm... tidak seperti biasanya juga karena biasanya kami melakukan hoby kami berkreatifitas atau saling berbagi. Namun, kali ini kami tidak berbagi, melainkan bekerja sama membuat pesanan angpao yang sudah dipesan. Dalam waktu seminggu, kami mendapatkan orderan angpao sekitar 50 lusin. Awal yang baik tentunya untuk sebuah komunitas yang baru berdiri.

Saya berharap, kegiatan ibu-ibu kreatif ini dapat terus berjalan dan mampu menjadi salah satu faktor yang menunjang perekonomian keluarga.

Para Mama Muda kini bisa aktif ikut serta berkreatifitas di taman baca. Kami juga membaca pasar yang kebetulan akan lebaran. Jadi, banyak orang yang akan mencari angpao lucu-lucu untuk dipersembahkan ke anak-anak yang berkunjung ke rumah untuk bersilaturahmi.

Dalam pembuatan produk angpao karakter dan tali kur ini, tentunya ada kendala dan permasalahan yang kami hadapi. Salah satunya adalah sulitnya mandapatkan bahan mentah, akses jalan menuju kota lumayan jauh. Harganya juga berbeda dengan harga yang dari Pulau Jawa.

Oleh karenanya, untuk mendapatkan bahan baku yang terjangkau, kami memesannya langsung dari Pulau Jawa dengan menggunakan salah satu marketplace yang ada di Indonesia.
Dengan begini, kami tetap bisa menghemat transport.

Karena bisnis kreatif ini baru dimulai dengan biaya sendiri. Jadi, kami memang kesulitan masalah permodalan usaha. Sehingga, harga pasaran produk kami sudah tidak kompetitif dan sulit bersaing dengan kompetitor yang sudah ada.

<a href="https://click.accesstrade.co.id/adv.php?rk=000iu3000cn2">Ada Bonus Tiket Pesawat Lagi, Bisa Terbang Lagi (Kode Voucher : TERBANGLAGI)<img src="https://imp.accesstrade.co.id/img.php?rk=000iu3000cn2"width="1"height="1"border="0"alt=""/></a>
Dok. Mamuja

Terlebih waktu menjelang lebaran dan ramadhan, akan ada banyak orderan angpao di hari-hari berikutnya.

Oleh karenanya, aku juga harus bisa meluangkan waktuku untuk Ibu-ibu Mamuja, untuk anak-anak, remaja dan kreatifitas anak-anak muda.

Aku membiayai taman bacaku sendiri untuk kegiatan-kegiaran kreatif anak-anak sampai orang tua. Sehingga, aku juga harus mempersiapkan taman baca agar menjadi tepat kreatif yang mandiri dan memiliki sumber dana untuk mendanai operasional taman baca tanpa harus mengharapkan dana dari donatur yang tidak tentu.



Tuesday, April 23, 2019

Apa Yang Kamu Dapat Saat Datang ke TPS?



Rabu, 17 April menjadi momen bersejarah bagi bangsa Indonesia. Karena hari ini merupakan hari Pemilihan Presiden RI yang ke-8.
Banyak media dan netizen yang membahas tentang pemilu yang dilakukan serempak untuk pertama kalinya. Dan yang selalu bikin heboh saat pemilu ada foto jari kelingking ya g sudah dicelupkan tinta sebagai bukti kalau kita tidak golput.
Juga banyak hal lain yang bisa kita dapatkan di suasana pesta demokrasi ini.
Selain menyaksikan orang yang berdebat karena jagoan mereka berbeda. Ini sangat menjenuhkan bagiku. Melihat orang-orang pintar beradu argumen. Entah apa yang mereka cari sampai rela meluangkan waktu dan pikirannya hanya untuk berdebat.
Padahal, sudah jelas dalam film "Sexy Killers" yang kami tonton bareng pada tanggal 13 April lalu meninggalkan sebuah pesan bermakna.
Tapi, bukan tentang pemilu atau film Sexy Killers yang mau aku ceritakan di tulisanku kali ini. Tapi, tentang foto rumah tua yang berhasil aku abadikan saat menunggu antrian nyoblos di TPS.
Bagiku, bangunan ini menjadi saksi sejarah tentang cerita-cerita masa kecilku. Kondisinya sekarang sudah tua dan sepertinya tidak ada yang tinggal di sana karena tidak lagi terawat.
Dua bangunan itu adalah perumahan guru SD tempat aku dahulu menuntut ilmu. Saat aku sampai di TPS 2, separuh dari bangunan sekolah sudah dirobohkan untuk direnovasi. Butuh waktu belasan tahun untuk merenovasi sekolah ini menjadi bangunan permanen. Sebab, sebelum aku masuk sekolah sampai anak dari teman seangkatanku juga ikut bersekolah di sekolah ini, belum ada pergantian bangunan. Kondisinya masih sama seperti 20 tahun silam.

Bagiku, tempat kecil ini menyimpan berjuta cerita. Di sisi rumah itu kami biasa bermain prosotan kalau kata anak-anak. Karena, sekolah kami memang berada di atas bukit. Dan di belakang perumahan guru itu merupakan turunan yang lumayan tinggi. Sehingga, kami seringkali bermain di sana sampai seragam kami kotor. Warna putihnya berubah menjadi cokelat.

Setiap melihat bangunan ini, bukan hanya aku ... puluhan teman-teman seangkatanku akan mengingat momen indah masa anak-anak itu. Masa di mana kami pulang ke rumah ramai-ramai saat jam istirahat hanya untuk makan. 
Masa di mana saat kembali terpikir, sepertinya memang kelakuan yang sia-sia dan bodoh. Tapi, itu sangat menyenangkan. Seperti saat aku dan teman-temanku memilih menerobos hutan dan membuat jalan baru hanya untuk bisa pulang ke rumah. Padahal, sudah ada jalan bagus yang setiap hari kami lewati walau masih tanah. Konyol! Dan ingatan itu yang selalu membuat kami tertawa saat mengingat masa-masa sekolah dasar.

Aku tidak terlalu suka membahas hal yang sedang dibicarakan banyak orang. Aku hanya suka menjadi pembaca atau pendengar. Dan aku selalu mencari hal lain yang lebih menarik agar tidak jenuh.

Oleh karenanya, aku mendapatkan sebuah potret yang akan mengingatkanku pada masa lalu saat aku nyoblos di TPS. Bisa jadi dalam 5 tahun ke depan bangunan ini sudah tidak ada. Yang penting, sudah aku abadikan pakai kamera dan aku bisa mengingatnya setiap kali aku membaca ulang tulisan ini.



Cukup sampai di sini dulu cerita dari aku. Karena ini sudah sore dan aku masih harus meneruskan jahitanku, ditunggu sama yang punya baju. Hehehe ...

Bye ... bye...!


Thursday, April 11, 2019

Taman Baca Jadi Headline di Kompasiana


Kamu tahu, malam ini tiba-tiba bibirku menyunggingkan senyum ketika aku tahu salah satu tulisan yang bisa dibilang cuma tulisan curhatan bisa masuk ke dalam headline Kompasiana. Kayak mimpi gitu deh rasanya.
Karena aku memang sudah jarang nulis akhir-akhir ini. Selain memang ada kegiatan di taman baca. Aku juga kurang semangat untuk menulis karena beberapa hal. Entah kenapa... banyak tulisanku yang mandeg dan tidak aku lanjutkan. Padahal, hampir semua teman-teman penulis di grup WA adalah penulis yang aktif dan kreatif. Harusnya, aku bisa ketularan. Tapi ternyata tidak juga.

Ada beberapa hal yang membuat aku kesulitan untuk menulis. Yang pertama, aku tidak punya banyak waktu untuk berinteraksi dengan penulis lain karena waktuku memang tidak banyak aku gunakan untuk bermain gawai. Sehingga, untuk penulis yang sulit berinteraksi sepertiku tentunya akan sulit menarik minat para pembaca. Bisa dibilang, personal brandingnya kurang banget.
Yang kedua, aku tidak punya banyak waktu untuk membaca banyak buku karena sudah sibuk dengan kegiatan anak-anak di taman baca. Yah, walaupun aku memang bergerak sendiri dan tanpa digaji. Alhamdulillah ... aku bersyukur karena Allah memberiku hati yang ikhlas untuk menolong sesama.

Aku memang kesulitan untuk belajar menulis dengan baik dan benar. Terlebih kosa-kata yang ada di otakku tidak begitu banyak. Aku masih harus banyak membaca buku agar tulisanku bisa menjadi lebih baik. Kalau melihat tulisan teman-teman yang lain, jelas ada rasa minder. Lah, wong aku nulis cuma nulis doang, nggak paham ilmunya.

Walau aku nggek begitu paham tentang dunia sastra. Tapi, menulis adalah bagian dari hobiku. Aku suka curhat ke dalam tulisan sejak aku masih duduk di sekolah SD. Aku senang bercerita, entah itu secara tulisan ataupun bercerita langsung dengan orang-orang.

Ah, aku jadi ngelantur ke mana-mana deh.
Yang jelas, hari ini aku senang karena setelah satu bulan tidak menulis di Kompasiana. Tulisan yang baru aku posting menjadi Artikel Utama atau Headline. Masih tidak percaya ketika admin memberikan kepercayaan sebesar itu. Terlebih itu hanyalah sebuah tulisan yang merupakan curhatanku selama aku mendirikan taman baca.

Kalau mau baca tulisannya bisa klik link ini Menghidupkan Taman Bacaan Desa Beringin Agung Melalui Literasi Digital.
Terima kasih atas kepercayaannya...

Kenapa sih kalau tulisan jadi headline itu seneng banget?
Ya, karena tulisan itu besar kemungkinan akan dibaca oleh banyak orang. Dan semoga saja ada orang-orang yang terinspirasi dan mau membuka taman baca juga di wilayah sekitarnya.
Karena menjadi bermanfaat memang tidak membuat kita kaya raya, tapi membuat hati kita selalu bahagia.
Sama seperti saat aku merasakan lelah ingin menyerah karena begitu banyak tantangan yang aku hadapi. Mulai dari perekonomian keluarga yang buruk sampai faktor internal dan eksternal dengan masyarakat sekitar. Ada perasaan ingin mengakhiri semuanya ... tapi ketika teringat kembali wajah anak-anak, remaja dan anak-anak muda yang setiap harinya main ke taman baca. Aku akhirnya menepis jauh-jauh rasa ingin menyerah itu.
Allah call me ...!
Allah yang mengetuk hatiku untuk melakukan sebuah kebaikan, maka ia pasti akan menunjukkan jalan yang baik dan tidak akan membuatku menyerah begitu saja.



Samboja, 11 April 2019

Wednesday, April 3, 2019

Yeayy ... Dapet Juara 3!!!


Tadi selepas salat Isya, Gugun dan Tedy lewat di depan rumahku sambil berteriak.
"Mbak, nggak ke acara penutupan MTQ kah?"
"Nggak. Mbak Rina capek. Masih banyak jahitan," jawabku. Lagipula aku tidak begitu percaya diri akan dapat juara karena aku tahu lawan-lawanku karyanya jauh lebih baik dari yang aku buat.

Aku langsung masuk rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa yakni melipat pakaian dan beres-beres.

Sekitar jam sembilanan, Bu Misna datang ke rumah dan mengajakku ke acara penutupan MTQ. Mau alasan takut hujan nggak mungkin karena dia ngajak pakai mobil. Akhirnya aku bilang saja kalau aku lagi capek. Selain tadi pagi aku dipanggil Pak Kades untuk mengisi berkas seleksi Pemuda Pelopor. Aku juga mempersiapkan kegiatan yang akan diadakan oleh BUMDes. Setelahnya, aku ngebut membuat baju couple family.

Aku putuskan untuk di rumah saja. Istirahat di kamar. Sebelum tidur, aku masih menyempatkan diri untuk video call dengan keluarga yang ada di Pulau Jawa.

Aku sama sekali nggak kepikiran dengan acara penutupan MTQ. Aku pikir nggak bakalan juara. Jadi, aku juga nggak banyak berharap. Malah aku bakalan malu kalau aku datang dan nggak dapat juara sama sekali. Akhirnya, aku tidur nyenyak seperti biasa.

Aku tiba-tiba mendengar keramaian suara yang memanggil namaku.
"Bibi ...!" Sayup-sayup aku dengar suara yang membuat mataku terbuka perlahan-lahan.
Tiga gadis cantik (Esti, Evi, Aisyah) sudah berdiri di samping ranjangku memberi kejutan dengan riang gembira.
Yang terpikir saat itu adalah, "Aku mendapat kejutan ulang tahun". Padahal, aku sedang tidak ulang tahun. Sampai akhirnya aku benar-benar sadar saat aku sudah bangkit dari pembaringan.

Esti membawakan piala, piagam dan amplop. Di situ tertera kalau aku mendapat juara 3. Wait! Ini serius? Aku masih bingung. Kok, bisa ya? Kan baru pertama kali ikut lomba kaligrafi dan aku tahu yang lain hasilnya jauh lebih bagus.

"Semua dapet juara semua, Bi," tutur Aisyah.
"Seriusan?"
"Iya. Kak Nito daper juara harapan dua ...," ucap Aisyah yang kalimat selanjutnya tidak bisa aku ingat. Maklum, aku masih angop banget.
Ini sepertinya harus aku tanyakan lagi besok.  Karena aku masih setengah sadar. Jadi susah sekali mencerna pembicaraan di antara kami.
"Juara satunya siapa?" tanyaku.
"Yang pake cadar itu, Bi," jawab Aisyah.
"Sudah kuduga. Dia gambarannya emang keren banget itu. Layak jadi juaranya."
"Kalo yang cowok, yang gambarnya biru itu nah," tutur Aisyah lagi.
"Oh ... ya ya ya. Tau aku. Itu juga keren banget gambarannya itu. Saingannya Nito itu kan? Nito dapet juara nggak?"
"Dapet juara harapan 2."
Mereka kemudian mengoceh nggak jelas. Sebenarnya jelas sih. Cuma aku aja yang nggak ngeh karena aku masih angop, hiks ... hiks ...!

Mereka langsung pamit pulang karena waktu memang sudah larut malam.
Aku langsung meletakkan pialaku di ruangan taman baca.

Aku berharap, semoga tahun depan ada generasi baru yang akan meraih juara 1 di lomba MTQ berikutnya.
Ini pengalaman pertama kami. Belajar tanpa guru kaligrafi. Terlebih aku yang memang bisanya cuma menbuat sketsa wajah.
Mungkin, inilah cara Allah menuntunku untuk benar-benar hijrah dengan caraNya. Agar aku tetap menggambar yang bukan gambar makhluk hidup.
Walau sebenarnya, aku sudah mendengar ceramah dari ustadz Abdul Somad yang menyatakan kalau gambar manusia masih diperbolehkan apabila digambar di atas kertas atau kain kanvas. Hanya saja, lebih banyak ulama yang mengatakan kalau gambar manusia hukumnya haram.
Hijrah memang butuh waktu ... dan Allah ada di antara waktu-waktu itu untuk menuntun kita ke jalan yang benar atas ijin-Nya.

Semoga ini bisa menjadi penyemangat untuk adik-adik yang lain agar lebih giat lagi berlatih dan berkarya. Terima kasih untuk seluruh masyarakat yang telah mendukung kegiatan-kegiatan yang ada di taman baca. Semoga bisa memberikan manfaat dan dampak positif bagi Desa Beringin Agung.

Sunday, March 24, 2019

Diary | Sederhana Itu Indah

Asih Nurdiati
Terik mentari begitu menyengat, dengan suhu udara sekitar 31°C.
Jam sepuluh pagi dapur orang tuaku riuh dengan kehadiran anak-anaknya yang kebetulan sedang berkumpul. Foto yang di atas adalah adikku yang paling bungsu, dia bekerja di Balikpapan dan jarang sekali pulang ke rumah. Kebetulan, semalam dia ikut pulang bersamaku dan adikku yang cowok saat kami berbelanja ke kota.
Ada hal yang menimbulkan kehebohan di rumah yakni adik keponakanku yang bernama Tony. Semalam, dia bilang mau bangun pagi-pagi supaya bisa membantu mbah ngungsung padi. Ternyata, paginya buat dia itu jam sepuluh pagi. Alhasil, aku meledeknya habis-habisan.
"Ton, sudah selesai kah ngungsung padinya?" tanyaku saat dia baru keluar dari kamar.
"Uwis."
"Neng impen?" Aku tertawa, diiringi riuh tawa yang lainnya.
Kebetulan, adik laki-lakiku juga datang, katanya mau cari kelapa buat bikin kolak pisang. Dia ragu-ragu untul memanjat pohon kelapa. Sibuk mencari di bawah pohon, siapa tahu masih ada kelapa tua yang jatuh. Dia dapat beberapa tapi  buahnya tak lagi bagus. Akhirnya, dia memanjat pohon kelapa yang memang sudah tinggi menjulang dan berhasil memetik beberapa buah.

Tak berapa lama, aku pulang ke rumah karena kebetulan aku masih ada pekerjaan rumah yang belum aku selesaikan.
Tiba-tiba saja rumah Mamak sudah sepi. Mereka semua sudah pergi ke sawah termasuk si kecil juga. Katanya, mau bantuin mbahnya.

Setiap hari libur kerja, adikku memang sering ikut ke sawah untuk membantu orang tuanya. Sama seperti masa remajaku dulu, aku juga selalu menyempatkan membantu nenek di sawah setiap libur kerja.

Aku memang lebih banyak membantu nenek dan kakek, sampai sekarang pun nenek dan kakekku masih sehat dan masih menjadi bagian dari tanggung jawabku. Yah, bisa dibilang aku dan adik-adikku berbagi tugas untuk merawat orang tua. Si bungsu membantu orang tua sedangkan aku masih punya tugas menjaga dan merawat nenek kakekku.

Sudah bekerj di sebuah perusahaa  dengan gaji yang lumayan, tidak menjadikan adikku pribadi yang angkuh dan sombong. Ia tahu dari mana dia berasal. Ia tahu dari mana dia dilahirkan. Sehingga, ia selalu membantu kedua orang tuanya setiap kali ada kesempatan pulang ke rumah.

Bukan cuma karena membantu orang tua. Kurasa dia rindu suasana sawah. Dia rindu masa-masa kecilnya di sana. Yang aku ingat, setiap hari dia tidak pernah absen mancing di sungai-sungai yang ada di areal persawahan. Sampai rambutnya tidak bisa berwarna hitam karena terus terpanggang sinar matahari.

Tapi, sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan sederhana. Yah, dia memang nggak pernah macem-macem. Kerjanya aja dari pagi sampai malam. Jarang banget liburnya. Dia jarang punya waktu buat keluarga atau liburan. Sudah sibuk dengan kerjaan dan kegiatan kursusnya.

Hari ini, dia membantu orang tua mengumpulkan padi dari petakan sawah untuk dibawa ke pondok.
Aku cukup senang dengan pribadinya saat ini. Ia tahu bagaimana dahulu kedua orang tuanya berjuang untuk bisa menyekolahkan dia. Dia tahu bagaimana mbaknya  berjuang memenuhi kebutuhan sekolahnya. Kuharap dia tidak akan lupa kalau nanti dia sudah sukses. Hehehe...
Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Begitulah kesederhanaan yang seharusnya ada di dalam diri kita. Belajar menjadi pribadi yang sederhana.



Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas