Beberapa
tahun terakhir ini, dunia kepenulisan diramaikan dengan banyaknya platform buku
digital. Tidak hanya memudahkan akses bahan bacaan bagi pembaca, tapi juga memberikan
kesempatan kepada penulisnya untuk mendapatkan uang.
Sebelum
tahun 2020, platform buku digital seperti Wattpad, Storial, dan Cabaca menjadi tempat
favorite bagi para penulis untuk menyalurkan ide-ide dan pemikirannya. Kemudian,
sekitar tahun 2020 mulai bermunculan platform baca berbayar seperti Noveltoon,
Goodnovel, Novelme, Joylada, dan sebagainya.
Wabah
Covid-19 menjadi salah satu pemicu perubahan gaya hidup. Saat semua orang harus
WFH, mereka tidak memiliki rutinitas yang padat, sehingga memiliki banyak waktu
untuk membaca buku digital. Platform baca berbayar menjadi salah satu tempat
favorite bagi banyak pembaca dan penulis, saya satunya adalah saya sendiri.
Kemudian,
kehadiran platform baru bernama Fizzo mampu menggempur platform-platform buku
digital. Fizzo menghadirkan cerita gratis bagi pembaca, tapi tetap mampu
membayar penulisnya. Platform ini menjadi salah satu platform baca paling
favorite bagi banyak orang.
Sayangnya,
kehadiran platform baca yang memudahkan, juga menimbulkan masalah baru. Salah
satunya adalah genre cerita yang bercampur aduk dan lebih banyak bernuansa
adegan ranjang. Dari seluruh cerita yang ada di platform, 90% mengandung cerita
dewasa yang tidak layak untuk dibaca oleh anak remaja, apalagi anak-anak di
bawah umur.
Platform-platform
ini sebenarnya sudah melakukan langkah yang baik untuk memisahkan genre remaja
dan dewasa. Sayangnya, semua itu tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Sebab, akun digital tidak mampu mendeteksi usia pengguna yang sesungguhnya.
Anak yang baru berusia 10 tahun, bisa mengatur akunnya sesuai tahun lahir
sehingga bisa memilih berusia 40 tahun. Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan
bagi generasi penerus bangsa. Bagaimana jika anak usia 10 tahun bisa mengakses
cerita-cerita dewasa?
Di
satu waktu, saya berbincang dengan salah satu anak taman baca yang saat itu
baru berusia 11 tahun. Dia mengatakan bahwa ia sangat suka membaca buku di
Fizzo. Yang ia baca ialah cerita-cerita young adult. Cerita ini sebenarnya
belum layak dikonsumsi oleh anak yang berusia 11 tahun. Tapi, mau bagaimana
lagi kalau penulis dan platform menghadirkannya kepada pembaca dengan tujuan
komersil.
Bicara
tentang komersil, tentunya akan selalu berorientasi dengan uang. Platform akan
selalu berusaha menghadirkan produk yang digemari pasar dan penulis akan selalu
berusaha menciptakan produk yang dibutuhkan oleh platform. Sehingga, semuanya
memiliki keterikatan dan ekosistem ini tidak dapat diubah begitu saja.
Ekosistem
yang telah ada, melahirkan sebuah kebiasaan baru dan menjadi pengaruh besar
bagi generasi masa depan. Generasi sekarang selalu mendapatkan hidangan yang
mengenyangkan, tapi tidak berkualitas dan bermanfaat bagi kesehatan kehidupan
mereka. Sama halnya dengan mengonsumsi makanan dan minuman. Hampir semua produk
yang dihidangkan adalah untuk menghancurkan mental dan moral generasi muda masa
depan.
Dari
sekian banyak penulis platform, tak banyak yang bisa mendapatkan pembaca tanpa
menulis adegan dewasa. Penulis-penulis yang memilih untuk menulis dengan baik,
ceritanya tidak begitu digemari oleh pembaca. Oleh karenanya, kita tidak bisa mengubah
ekosistem yang ada, tapi kita masih bisa berusaha mengendalikannya.
Lalu,
siapa yang bisa mengendalikannya? Tentunya para penulis. Ya, penulis memiliki
peran besar dalam mengendalikan moral bangsa. Karena karya tulis yang
diciptakan akan memengaruhi pemikiran pembacanya. Pembaca yang terbiasa
dihidangkan konten-konten “Blue”, hidupnya akan selalu berorientasi pada
seksualitas saja. Tidak ada ilmu kehidupan yang didapat dari kisah-kisah
seksual. Sebab, kegiatan seksualitas adalah sebuah rutinitas yang dilakukan
oleh sepasang suami-istri. Hal ini tentunya akan berdampak buruk bagi pembaca
di bawah umur yang memalsukan umurnya pada akun google.
Sudah
selayaknya, penulis bisa menghadirkan lebih banyak cerita-cerita yang
berkualitas. Cerita kehidupan yang bisa memengaruhi dan mengendalikan moral generasi
masa depan. Semakin banyak penulis yang bisa menciptakan bahan bacaan
berkualitas, maka akan semakin besar pula peluang untuk menenggelamkan
cerita-cerita yang lebih banyak pengaruh negatifnya bagi pembaca.
Pengaruh
negatif bagi generasi muda dapat dilihat dari banyak kejadian-kejadian nyata
yang terjadi di sekitar kita dan di media sosial. Seperti cerita skandal cinta
antara murid SMA dan guru. Cerita tentang anak sekolah yang hamil di luar nikah
dan lain sebagainya. Meski sebagian pembaca mampu melihatnya dari persektif
berbeda, tapi sebagian besar dari mereka memiliki persektif yang sama. Terlebih
dengan rendahnya kemampuan literasi di Indonesia.
Oleh
karenanya, kita sebagai penulis memiliki tanggung jawab besar pada perubahan
sosial yang akan terjadi di masa depan. Ciptakanlah sebuah karya yang berkualitas
dan tidak memberikan inspirasi negatif bagi pembacanya.
Penulis
adalah sumber dari semua karya yang akan tercipta. Bahkan, sebuah video iklan
yang singkay pun memerlukan skenario
dari penulis sebelum diproduksi. Buah dari pemikiran berasal dari tulisan. Jika
tulisan baik, maka baiklah pemikiran generasi masa depan. Jika tulisan buruk,
maka buruklah pemikiran generasi masa depan.
©Copyright