Showing posts with label After Savage. Show all posts
Showing posts with label After Savage. Show all posts

Monday, March 21, 2022

AFTER SAVAGE - (Bab 11 - Menepis Benalu)

 


Arlita bergelayut manja di lengan Nanda saat pria itu mengantarkannya pulang ke apartemennya. Tak peduli pria itu sudah menikah dengan wanita lain. Asalkan kebutuhannya masih dipenuhi, ia tidak akan melepaskan Nanda dengan mudah begitu saja.

“Nan, thank’s ya udah belanjain aku hari ini!” Arlita tersenyum manis dan mengecup pipi Nanda. “Gimana kalau malam ini kamu nginap di apartemen aja? Aku kangen sama kamu.”

“Nggak bisa kalau nginap, Lit. Ada istriku di rumah. Kalo dia laporin aku ke papa dan mama, bisa habis hidupku.”

“Dia jahat banget, sih?”

“Dia nggak jahat, Lit.”

“Jahat. Dia udah rebut kamu dari aku.”

“Bukan dia yang rebut. Aku yang udah bikin dia hamil. Aku harus bertanggung jawab, Lit,” sahut Nanda.

“Kamu hamilin aku juga! Biar kita bisa nikah juga, Nan.”

“Kamu mau jadi istri kedua?” tanya Nanda.

Arlita menggeleng. “Aku mau jadi satu-satunya buat kamu, Nan. Kapan kamu bercerai sama Ayu? Kayaknya, akhir-akhir ini waktu jadi terasa lambat banget.”

“Aku harus dapatkan hak asuh anakku saat aku ceraikan Ayu. Kamu jangan banyak tingkah, ya!” pinta Nanda. Ia menyubit gemas hidung Arlita sambil tersenyum manis.

Arlita mengangguk sambil tersenyum manis. “Aku pasti support kamu dan akan menerima anak itu seperti anakku sendiri saat kita menikah nanti.”

Mereka melangkah keluar dari lift dan langsung menuju nomor apartemen milik Nanda yang selama ini ditinggali oleh Arlita.

Belum sampai ke pintu apartemen, langkah mereka terhenti ketika melihat sosok wanita paruh baya berdiri di sana.

Nanda buru-buru menepis tangan Arlita dari tubuhnya dan berdiri tegang di sana.

“Ta-tante Nia?” Bibir Arlita bergetar saat melihat wanita itu sudah berdiri di depan pintu apartemennya.

“Kamu beneran masih tinggal di apartemen ini?” tanya Nia. “Kalian sudah putus ‘kan?”

Arlita langsung menoleh ke arah Nanda.

“Kamu belum putusin Lita?” tanya Nia.

“Ayu juga lagi jalan sama Sonny, Ma,” jawab Nanda.

“Pertanyaan Mama bukan itu.”

“Ma, aku sama Ayu menikah bukan karena kami saling mencintai,” tutur Nanda.

PLAK!

Telapak tangan Nia mendarat keras di pipi Nanda.

Arlita terdiam melihat Nia tiba-tiba menampar wajah Nanda. Ia benar-benat tidak tahu harus berbuat apa.

“Kalau belum nikah, kamu boleh berhubungan sama perempuan mana aja. Tapi kamu sudah menikah. Harusnya kamu menghargai pernikahan kamu. Kamu malah pelihara perempuan yang bisanya Cuma morotin duitmu ini, hah!?” seru Nia penuh emosi.

Nanda terdiam sambil memegangi pipinya yang memanas.

“Belanjaan ini semua, Nanda yang bayarin ‘kan?” tanya Nia sambil menatap wajah Arlita.

Arlita mengangguk kecil sambil. “Iya, Tante.”

“Kunci apartemen ini mana?” tanya Nia sambil menengadahkan telapak tangannya.

“Ma, nggak harus kayak gini ‘kan?” tanya Nanda sambil menatap wajah mamanya.

“Dia bisa pakai apartemen ini karena mama memang ingin membantu dia. Bukan memberikannya begitu saja. Apalagi lihat kelakuannya kayak gini. Mama jadi nggak respect. Bisa-bisanya masih morotin kamu. Pasahal dia tahu kalau kamu sudah beristri,” tutur Nia.

“Tante, aku tinggal di mana?” tanya Arlita dengan mata berkaca-kaca.

Nia menghela napas. “Tante kasih kamu waktu selama satu minggu untuk cari tempat tinggal. Semua yang dimiliki Nanda, bukan milikmu!”

“Ma, kasihan Lita. Biarkan dia tinggal di sini. Apartemen ini juga nggak dipakai. Aku udah kasih rumah besar untuk Ayu. Dia nggak mempermasalahkan itu semua. Dia juga jalan sama Sonny, apa salahnya aku jalan sama Lita. Kami pasangan yang sesungguhnya.”

“Ayu jalan sama Sonny bukan untuk mesra-mesraan kayak kalian. Nggak tahu aturan! Kalau kamu masih seperti ini, jangan harap bisa punya jabatan di perusahaan. Lebih baik kami pelihara anak orang lain daripada anak sendiri yang tidak tahu diri!” sahut Nia.

Nanda gelagapan mendengar ucapan mamanya.

“Mama kasih kamu waktu satu minggu untuk selesaikan perempuan ini. Kamu tahu tuntutan dari keluarga Roro nggak main-main supaya kamu nggak dipenjara karena perbuatanmu itu. Papamu sudah menandatangi perjanjian sebelum kamu menikahi Roro Ayu. Kalau sampai Roro Ayu dan kamu bercerai, semua harta keluarga kita jadi taruhannya. Pikirkan itu, Nan! Apa susahnya memperlakukan dia sebagai istri dengan baik? Kamu tinggalkan perempuan ini atau jadi gembel? Pilihlah!” tegas Nia sambil melangkah pergi meninggalkan Nanda dan Arlita.

“Ma ...!” Nanda berusaha mengejar langkah mamanya, tapi Arlita menahannya.

“Nan, aku gimana?” tanya Arlita sambil menggigit bibir bawahnya.

“Lepasin, Lit! Aku selesaikan urusanku dengan Mama dulu. Kamu jangan ganggu aku dulu! Oke?”

Arlita terdiam dan melepaskan lengan Nanda perlahan. Ia menatap punggung Nanda yang menghilang di balik pintu lift yang ada di apartemen tersebut. Ia sudah terbiasa mendapatkan semua fasilitas dari Nanda tanpa harus bekerja. Jika semuanya diambil, dia tidak akan bisa hidup enak lagi. Gajinya sebagai SPG, tidak akan bisa mencukupi gaya hidupnya yang mewah karena fasilitas dari sang pacar.

“Sialan kamu, Yu! Kalau bukan karena ulahmu, aku nggak akan kehilangan Nanda. Aku nggak akan biarkan kamu ambil semua yang seharusnya jadi milikku!” ucap Arlita kesal sambil mengentakkan kakinya.

Sementara itu, Nia terus melangkah keluar dari apartemen itu dan masuk ke dalam mobil. Ia segera menuju ke Jamoo Restaurant karena sudah ada janji untuk bertemu dengan seseorang di sana. Perasaannya sangat tak karuan melihat puteranya bermain api dan membuat perusahaan keluarga mereka nyaris jatuh ke tangan keluarga bangsawan yang telah direnggut harga dirinya oleh sang anak.

Beberapa menit kemudian, Nia sudah masuk ke dalam Jaamo Restaurant dan menghampiri seseorang yang sudah menunggunya di sana.

“Hai ...!” sapa Nia sambil menghampiri wanita paruh baya yang sedang sibuk dengan tabletnya.

“Hei ...!” balas wanita paruh baya itu sambil bangkit dari sofa dan menyambut kedatangan Nia dengan hangat.

“Gimana kabarmu, Yun? Aku dengar, kamu tinggal di Amrik, ya?” tanya Nia.

“Nggak. Cuma temenin suami berobat di sana. Yah, bolak-balik Washington-Indonesia,” jawab Yuna sambil menatap wajah Nia.

Nia tersenyum manis dan duduk di sofa yang ada di sana. “Yeriko sudah sembuh?”

“Baru aja menyelesaikan pemasangan jantung mekanisnya. Suami yang punya penyakit jantung, aku yang jantungan terus setiap kali dia operasi. Takut nggak bangun lagi. Andre apa kabar?”

“Baik,” jawab Nia sambil tersenyum. “Kamu udah pesen makanan?”

“Belum. Masih nunggu kamu.”

Nia dan Yuna langsung memesan beberapa makanan untuk mereka.

“Aku denger anakmu sudah nikah. Kenapa nggak undang aku?” tanya Yuna.

“Nikah dadakan, Yun. Nggak sempat undang orang banyak. Acara keluarga aja,” jawab Nia.

“Aku juga dulu nikah dadakan, hahaha. Setelah itu, kayaknya banyak yang nikah dadakan. Anakku juga ikut begitu, hahaha. Sumpah, takdir hidup selalu bikin ngakak,” tutur Yuna sambil terus tertawa.

Nia ikut tertawa mendengar ucapan Yuna. “Iya, sih. Sekarang emang udah trend nikah dadakan kayak gitu. Nggak nyangka kalau anakku sastu-satunya juga bakal begitu.”

“Bukannya mau tunangan? Kenapa tiba-tiba nikah tanpa persiapan?” tanya Yuna penasaran.

“Dia nikah bukan sama calon tunangannya,” jawab Nia berbisik.

“Oh ya? Kok, bisa?” tanya Yuna lagi.

“Dia hamilin perempuan lain,” jawab Nia berbisik.

“HAHAHA.” Yuna tergelak mendengar ucapan Nia. “Sekarang udah biasa ‘kan? Mana ada anak muda zaman sekarang yang masih virgin?”

“Itu perempuan masih virgin, Yun. Dan polos banget, gitu. Dia nggak ngerti ada pil KB, alat kontrasepsi dan sejenisnya biar dia nggak hamil? Heran, deh. Masih ada aja cewek sepolos itu. Mana anakku itu burungnya nggak bisa diatur. Bikin malu keluarga aja,” jawab Nia sambil menatap serius ke arah Yuna.

“Hahaha.” Yuna tergelak mendengar cerita dari Nia.

“Lebih parahnya lagi, yang dia hamilin itu cucunya keluarga bangsawan, Yun. Masih cucunya Sri Susuhunan Pakubuwana. Aku mau gila sama anakku itu, Yun. Dari dulu, nakalnya minta ampun. Dosa apa aku sampe melahirkan anak begitu,” tutur Nia sambil memukul-mukul meja dan kepalanya bergantian.

“Hahaha.  Andre untung dong dapet mantu cucunya Sultan? Tapi mereka yang sial dapet anak kalian. Hahaha.” Yuna semakin tergelak.

“Iih ... kamu ini emang nggak berubah, ya? Paling demen lihat temen susah!?” dengus Nia.

“Jarang-jarang aku lihat temen susah, Nia. Eh, Andre mana? Nggak ke sini? Aku nggak lama loh di kota ini. Dia nggak nyempetin waktu buat temui aku?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

“Sibuk di kantor katanya,” jawab Nia.

“Huh, gaya banget! Dulu aja ngejar-ngejar aku terus sampai mantan tunangannya dia itu bunuh anakku. Sekarang, sok cuek! Kalian nggak ingat jasaku yang udah comblangin kalian, hah!? Aku dilupain gitu aja.”

“Jangan ngomong gitu, dong! Ini aku ajak kamu ketemuan karena masih ingat sama jasa kamu,” tutur Nia sambil menyentuh lengan Yuna.

Yuna tertawa kecil.

“Yun, kasih aku saran dong gimana caranya nyingkirkan cewek yang ganggu rumah tangga anakku? Roro Ayu yang keturunan bangsawan itu bener-bener berbahaya, Yun. Aku sampe pusing ngurusinnya. Andre sampe lepas tangan gitu loh sama rumah tangga anak kami. Kalau sampai keluarga Roro Ayu tahu anakku itu masih punya pacar, bisa habis harta keluargaku, Yun.”

“Kok, bisa?”

Nia langsung menceritakan semua surat perjanjian antara keluarga Sri Susuhunan Keraton Surakarta dan keluarganya karena perbuatan Nanda yang melanggar norma. Pasal yang membuatnya sangat berat adalah pasal tentang larangan perpisahan di pernikahan mereka. Jika salah satunya melakukan gugatan cerai, maka seluruh harta keluarga Perdanakusuma akan dihibahkan ke keluarga Keraton Surakarta. Hubungan Nanda dan Roro yang tidak harmonis, membuatnya sangat khawatir.

 

 

((Bersambung...))

 

Terima kasih sudah jadi sahabat setia bercerita!

Dukung terus biar author makin semangat nulisnya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

Sunday, March 20, 2022

AFTER SAVAGE - (Bab 10 - Nyaman Bersama Mantan)

 



Minggu pagi, Ayu sudah terlihat rapi. Gaun warna putih dengan gambar ilustrasi bunga Allamanda warna kuning dan rambutnya yang lurus terurai, membuatnya terlihat lebih fresh dari biasanya.

“Ay, kamu mau ke mana?” Kening Nanda berkerut saat melihat istrinya itu sudah berpenampilan rapi pagi-pagi sekali.

“Ini weekend. Aku mau main ke rumah bunda. Kamu nggak kerja ‘kan? Aku nggak perlu siapin pakaian dan sarapan untuk kamu. Makan di luar sama Arlita aja kayak biasanya. Aku juga ada janji sama Dokter Nadine dan Dokter Sonny. Kebetulan, mereka lagi main ke Surabaya,” tutur Roro sambil tersenyum manis.

“Oh. Kamu nyuruh aku pergi sama  Arlita karena kamu mau ketemu sama Sonny?” tanya Nanda.

“He-em.” Ay mengangguk sembari menatap tubuhnya di depan cermin sekali lagi untuk memastikan tidak ada yang minus dari penampilannya.

Nanda terdiam sambil melirik tubuh Ayu. Kulit wanita itu tidak terlalu putih, tapi sangat mulus. Tidak ada bekas luka sedikit pun di tubuhnya dan terlihat mengkilap. Tanp sadar, ia mendekati tubuh Ayu dan menyentuh bagian punggungnya yang terbuka.

“Kamu apaan, sih!?” Ayu langsung beringsut menghindar.

“Ay, bukannya kemarin kita udah baikan? Mmh … kamu nggak berniat bawa aku? Kalau bundamu nanyain kenapa kita nggak dateng bareng, kamu mau ngomong apa?” tanya Nanda.

“Bilang aja kalau kamu lagi pergi weekend sama pacar kamu dan nggak ada waktu buat nemenin istri,” jawab Ayu santai.

“Kamu mau bikin aku dan orang tuaku berantem?” tanya Nanda.

“Berantem kenapa? Bukannya kamu udah biasa juga jalan sama pacar?” tanya Ayu balik. “Kalau mau jalan sama dia, kamu juga nggak pernah mikir perasaanku, perasaan orang tua kita.”

“Maksud kamu apa ngomong kayak gini? Asal kamu diam, mereka nggak akan tahu.”

“Oh. Kamu pikir, mereka itu buta? Tanpa aku kasih tahu, mereka akan tahu dengan sendirinya. Kamu datang ke acara ulang tahun kota sambil gandeng Arlita. You know, semua keluargaku juga ada di perjamuan itu termasuk ayah. Mereka diam bukan berarti nggak tahu kelakuan kamu, Nan. Aku tinggal bilang ke mereka kalau aku nggak mau melanjutkan hubungan rumah tangga ini dan semuanya kelar. Kita nggak perlu pura-pura bahagia.”

“Kamu ini kenapa? Kemarin, kita udah baikan dan baik-baik aja. Kamu ngomong kayak gini karena mau ketemu sama Sonny, makanya hatimu berubah!?” tanya Nanda.

“Aku sama Sonny Cuma berteman. Meski udah putus, nggak ada salahnya silaturahmi. Toh, kami ketemu nggak cuma berduaan doang. Ada Dokter Nadine juga di sana,” jawab Ayu.

“Aku ikut!” pinta Nanda.

“Eh!? Bukannya kamu ada janji jalan sama Arlita siang ini?”

“Kamu tahu dari mana?”

“Arlita kirim pesan ke aku,” jawab Ayu sambil menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Nanda. Memperlihatkan pesan dari Thalita beberapa jam lalu yang mengatakan akan meminjam suaminya itu untuk pergi berlibur. Entah kenapa, hatinya mulai kesal saat Arlita masih terus menempel pada Nanda. Meski ia tidak mencintai Nanda, tapi dia adalah istri sahnya dan Arlita terang-terangan mengajak suaminya pergi keluar. Rasanya, ia masih tidak percaya bisa hidup dalam rumah tangga yang rumit, rumah tangga yang tidak ada impian di dalamnya meski hanya secuil saja.

“Nan, lebih baik kamu urus pacar kamu ini, ya! Meresahkan banget. Aku males berantem, males ribut-ribut. Jangan sampai aku ketemu langsung sama dia. Meski kamu nggak cinta sama aku, aku tetap istri sah kamu dan aku bisa nuntut kamu karena sudah menelantarkan istrimu.”

“Menelantarkan gimana? Aku nafkahi kamu setiap hari, Ay.”

“Nafkah dalam rumah tangga itu bukan sekedar uang, Nan. Kamu sama sekali nggak cocok jadi suami, apalagi jadi seorang bapak. Kalau bukan karena desakan keluarga, aku lebih baik jadi single mom seumur hidupku daripada harus menikah sama kamu.”

“Ay, kamu jangan mancing emosiku, ya! Aku sudah minta maaf dan ngajak kamu baikan. Kenapa kamu malah kayak gini? Bilang aja kalau kamu tuh mau ketemu mantan pacar kamu itu!” sahut Nanda kesal.

“Ya. Aku memang mau ketemu sama mantan pacarku dan kamu nggak perlu ikut karena bisa mengacaukan suasana!” tegas Ayu sambil berlalu pergi.

Nanda mendengus kesal. Ia menarik lengan Ayu dan langsung menghisap kuat leher wanita itu. Meninggalkan bercak merah di sana dengan sengaja.

“Kamu apa-apaan sih, Nan!?” seru Ayu sambil berusaha mendorong tubuh Nanda.

Nanda semakin menarik kuat tubuh Ayu dan kembali menghisap leher dan dada wanita itu dengan paksa. Meninggalkan bercak merah di tubuh wanita itu. “Silakan ketemu sama Sonny dan dia akan berpikir apa kalau lihat kissmark ini?”

Ayu menghela napas sambil menatap wajah Nanda. “Sonny itu pria yang dewasa dan baik hati. Dia nggak akan menolak kehadiranku hanya karena bekas cupangan di tubuhku ini. Meski seluruh tubuhku merah karena kissmark dari kamu, aku akan tetap ketemu sama Sonny dan Nadine!” tegasnya dan berlari keluar dari dalam kamar.

Nanda mendengus kesal sambil menatap punggung Ayu yang bergerak menghilang dari pandangannya. Ia berusaha mengejar langkah Ayu, namun dering ponsel yang ada di atas nakas … mengurungkan niatnya.

Nanda langsung meraih ponsel tersebut dan menjawab panggilan telepon dari Arlita.

“Nan, kamu bisa temani aku shopping ‘kan? Aku kangen sama kamu, Nan,” rengek Arlita dengan suara mendesah yang sengaja dibuat-buat.

Nanda menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya. “Iya. Aku temani kamu. Mau belanja apa, sih?”

“Belanja bulanan seperti biasa. Jemput aku di apartemen, ya!” pinta Thalita dari seberang telepon.

“Jam berapa?”

“Jam sembilan aja. Aku udah izin sama istri kamu. Dia nggak akan ganggu kita. Jadi, kamu bisa temani aku keluar sampe sore ‘kan?”

Nanda menghela napas sambil mondar-mandir di dalam kamarnya. Hatinya yang dulu pasti, kini mulai bimbang. Ia tidak tahu mana yang harus ia pilih. Menemani Arlita pergi berbelanja atau menyusul Ayu ke rumah orang tuanya dan ke restoran tempat ia janjian ingin bertemu dengan Sonny.

“Nan …! You hear me?” Suara Arlita membuyarkan lamunan Nanda.

“Yes, I hear. Aku jemput kamu jam sembilan.”

“Oke. Makasih, Sayang! Emmuach …!”

“Mmuaach …!” balas Nanda dan ia mematikan panggilan telepon dari Arlita.

Nanda menghela napas. Ia bergegas mempersiapkan dirinya untuk pergi bersama Arlita.

Sementara, Ayu memilih untuk pergi ke rumah bundanya. Berbincang beberapa hal tentang masa depannya sebelum ia menyusul Nadine dan Sonny di salah satu restoran yang telah ia janjikan sebelumnya.

Tepat di jam dua belas siang, Ayu melangkahkan kakinya perlahan, masuk ke dalam restoran bintang lima yang sudah dipesan Nadine dan ia segera pergi ke VIP Room.

“Siang …!” sapa Ayu sambil melangkah masuk ke ruang VIP yang sesuai dengan nomor yang diberikan Nadine.

“Siang, Roro Ayu …!” balas Nadine sambil menghampiri Ayu dan merangkulnya penuh ceria. “Look! Aku bawa siapa?” Ia memainkan mata ke arah Sonnya yang duduk di kursinya sambil tersenyum menatap Ayu.

“Aku sudah tahu, Nad. Kemarin, kamu sudah bilang ‘kan?” sahut Ayu.

“Mmh … iya juga, sih. Ayo, duduk!” pinta Nadine sambil mengajak Ayu untuk duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Sonny.

“Gimana kabar kamu, Ay?” tanya Sonny.

“Baik. Kamu gimana?” tanya Ayu sambil menatap pria berkacamata dengan kulit sawo matang. Mata sipit dengan alis tebal dan hidung bangir … bagi Ayu, Sonny adalah pria tampan versi dirinya sendiri. Bukan hanya terlihat berwibawa di luar, Sonnya juga selalu bersikap lembut dan baik hati. Sebagai dokter muda, ia juga masuk dalam daftar mahasiswa terbaik. Ia benar-benar merasa hidupnya sangat menderita. Sudah memiliki kekasih yang begitu sempurna dan sesuai impiannya, tapi malah terenggut oleh tindakan biadab seorang pria yang kini berstatus sebagai suaminya.

Nadine menatap nanar ke arah Ayu yang matanya kini berkaca-kaca. “Ay, apa kamu butuh waktu untuk bicara berdua aja sama Sonny?”

“Nggak perlu, Nad. Ayu sudah menikah. Tidak pantas kalau aku hanya bicara berdua dengnnya. Kamu bisa jadi saksi pembicaraan kami. Dengan begini, aku akan lebih mudah menjelaskan pada Nanda jika dia mempertanyakan pertemuan ini,” tutur Sonny.

“Aku sudah bilang ke Nanda kalau  ketemu kamu di sini. Dia juga lagi pergi sama Arlita,” ucap Ayu lirih.

“Arlita siapa?” tanya Nadine.

“Pacarnya Nanda,” jawab Sonny.

Nadine mengernyitkan dahi. “Hubungan kalian ini gimana, sih? Aku nggak paham. Asli. Roro nikah sama Nanda. Tapi dia jalan sama Sonny. Terus, suami kamu itu masih punya pacar? Aku pusing mikirinnya, Ro.” Ia mengaduk-aduk orange juice di hadapannya dan menyesapnya perlahan sambil menatap wajah Ayu.

“Nggak usah dipikirin, Nad. Kalau bukan karena desakan keluarga, aku nggak akan nikah sama Nanda, sementara aku sudah tunangan sama Sonny. Aku ...” Ayu menghentikan ucapannya sambil melirik ke arah Sonny.

Nadine menaikkan kedua alisnya, menunggu Ayu melanjutkan ucapannya.

“Aku hamil anak Nanda, Nad,” ucap Ayu lirih sambil menundukkan kepala. Ia tidak bisa lagi menutupi hal ini dari Nadine. Toh, Sonny juga sudah mengetahui jika ia sudah mengandung anak dari Nanda.

Slrrrr ...!

Orange juice yang ada di dalam mulut Nadine langsung keluar begitu saja tanpa bisa dikendalikan.

“Nadine ...!” seru Ayu kesal saat tangannya ikut terkena percikan jus dari mulut Nadine.

“Sorry ... sorry ...!” Nadine langsung menarik tisu dan memberikannya pada Ayu. Ia menoleh ke arah Sonnya yang duduk di samping Ayu. “Son, kamu diam aja? Tunanganmu hamil anak orang lain dan kamu masih bisa baik sama dia? Hebat kamu, Son!” Ia mengacungkan jempol ke arah Sonny.

“Aku nggak punya alasan buat jahat sama Ay. Ini kecelakaan, Nad. Daripada keluarga ribut, lebih baik membiarkan Ay menikah dengan Nanda,” jawab Sonny.

Nadine menghela napas. “Hubungan kalian ini bikin aku sakit kepala.”

“Nggak usah ikut mikirin, Nad! Aku baik-baik aja, kok. Aku sama Sonny, masih bisa berteman meski kami nggak bisa bersama. Mungkin, jodoh kami hanya sampai bertunangan dan Tuhan punya rencana lain untuk kami,” ucap Ay sambil menatap wajah Sonny. Ia terus menyunggingkan senyuman ke arah pria itu. Jujur, ia sangat merindukan pria ini. Rindu tertawa bahagia bersamanya sembari melakukan banyak hal.

Sonny balas tersenyum ke arah Ayu. “Mungkin ... ini yang dibilang mencintai tak harus memiliki. Sekalipun aku nggak bisa miliki kamu, aku akan tetap cinta sama kamu.”

Ayu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Roro, nggak usah sedih! Jangan nangis!” pinta Nadine sambil menggenggam tangan Ayu. “Son, kamu jangan bikin Roro Ayu sedih, dong! Udahlah, kalian ikhlas dan hidup untuk masa depan masing-masing. Masih bisa berteman kayak dulu ‘kan?” Nadine tersenyum sambil mengerdip-ngerdipkan matanya.

Ayu dan Sonny saling pandang. Kemudian tersenyum dan mengangguk setuju.

“Nggak ada gunanya kalau kalian saling membenci. Lebih baik, saling support. Itu bisa bikin masa depan kita jauh lebih tenang. Aku tahu, kalian pasti jadi canggung. But, lama-lama akan terbiasa, kok,” tutur Nadine sambil tersenyum manis.

Ayu mengangguk setuju. Ia tidak memiliki pilihan lain. Bisa melihat Sonny dari dekat saja, ia sudah bahagia meski tidak bisa memiliki pria itu.

“Gitu, dong. Kamu jaga anak itu baik-baik, Ro. Meski kamu tidak menginginkannya, tapi Tuhan sudah mengirimkannya untukmu. Di luar sana, ada banyak orang yang kesulitan untuk mendapatkan keturunan. Kamu bersyukur karena Tuhan memberikanmu amanah. Kesempurnaan seorang wanita adalah menjadi seorang ibu,” tutur Nadine.

Ayu mengangguk tanda mengerti.

“Aku dokter kandungan dan Sonny dokter spesialis anak. Kamu bisa konsultasi sama kami sejak dini. Perkembangan anak harus diperhatikan dari seribu hari pertama kehidupan. Mulai dari dalam kandungan sampai usia dua tahun adalah saat-saat terpenting. Harus perhatikan asupan nutrisinya. Ibu hamil juga nggak boleh setress. Singkirkan semua masalah yang sedang kamu hadapi dan fokus untuk perkembangan anakmu dulu. Oke?” pinta Nadine sambil tersenyum manis.

Ayu mengangguk lagi. Ia merasa beruntung mendapatkan teman seperti Nadine. Andai saja ia bertugas di Surabaya, akan terasa lebih baik karena setiap hari bisa bertemu dan memiliki teman untuk berbagi. Sebab, Nanda yang masih terus bersama Arlita ... memang cukup mengganggu pikirannya.

“Selamat siang, Dokter Cantik ...!” sapa Rocky sambil berbisik di telinga Nadine.

Nadine langsung memutar kepalanya dan bibirnya tak sengaja menempel di pipi Rocky.

Rocky tersenyum manis. “Makasih ciuman sambutannya!”

Nadine buru-buru menarik wajahnya. “Kamu bener-bener cari kesempatan, hah!?” dengusnya.

“Mmuach ...!” Rocky langsung mengecup pipi Nadine dan merangkul pundak wanita itu. “Kangen sama aku? Makanya datang ke sini?” bisiknya.

“Kepedean banget, sih? Aku ke sini mau lihat kakek,” jawab Nadine.

“Sekalian ketemu aku ‘kan?” tanya Rocky sambil memainkan alisnya.

Nadine mengerutkan wajah sambil memutar bola matanya.

“Kalian berdua udah jadian lagi?” tanya Ayu sambil tersenyum bahagia melihat Nadine dan Rocky.

“Nggak Ro, males aku jadian sama cowok kayak gini,” sahut Nadine.

“Males tapi mau dicium juga,” goda Rocky sambil menyolek dagu Nadine.

“Apaan sih, Ky?” Nadine menepis tangan Rocky. “Nggak sengaja. Lagian, kamu kebiasaan banget main cium-cium aja!”

Ayu dan Sonny tertawa kecil melihat tingkah Rocky dan Nadine. Mereka terlihat saling mencintai, tapi enggan untuk berkomitmen. Mungkin karena Rocky yang don juan, membuat Nadine enggan dengan pria itu meski ada cinta di dalam hatinya.

“Nggak papa kamu nolak aku terus. Yang penting, papamu nggak nolak aku sebagai calon mantu dia,” tutur Rocky sambil duduk santai di sebelah Nadine. Tangan satunya, terlentang di belakang punggung wanita idamannya itu.

“Nggak usah bawa-bawa papa, ya!” dengus Nadine.

“Hehehe. Yah, mau gimana lagi. Aku nggak punya cara lain selain deketin papamu. Abisnya, kamu nolak aku terus. Jadi, aku harus bisa buat papamu menolak pria mana pun yang ngelamar kamu. Cuma aku yang boleh jadi suamimu,” ucap Rocky penuh percaya diri.

“Possesive!” dengus Nadine.

“Yah, daripada kamu dimiliki sama cowok lain. Apalagi kamu ke sini sama Dokter Sonny. Dokter Sonny baru aja putus sama tunangannya. Bisa aja kamu dilahap sama dia ‘kan?” sahut Rocky.

Sonny tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nadine sudah seperti saudariku sendiri. Nggak akan seperti itu, Ky.”

“Bener, ya! Aku pegang omonganmu ini. Nadine Cantika hanya milik Enrocky seorang. Nggak ada yang boleh deketin dia!” tegas Rocky.

Nadine memutar bola matanya. “Kamu kebiasaan banget, sih? Aku nggak suka kalau kamu kayak gini, Ky. Emangnya kamu bisa dua puluh empat jam ada di sampingku? Aku juga berhak punya kehidupan. Kamu aja masih bisa jalan sama cewek lain, godain cewek-cewek cantik di luar sana. Kenapa aku dikaplingkan tanpa izin kayak gini?” protesnya.

Rocky terkekeh geli mendengar kalimat protes dari Nadine. “Kamu itu perempuan. Beda sama laki-laki. Perempuan itu harus setia!”

“Terus, laki-laki nggak boleh setia, gitu?” tanya Nadine.

“Boleh. Tapi ... laki-laki itu memang harusnya berkelana. Supaya bisa lihat banyak dunia. Supaya bisa tahu ... dari ribuan cewek yang aku kenal dan aku deketin. Cuma kamu satu-satunya wanita terbaik yang bikin hatiku bergetar,” jawab Rocky sambil tersenyum.

“Hmm ... kalau soal gombal, kamu emang paling pandai,” celetuk Nadine.

“Iya, dong. Ayahku paling jago kalau gombalin bundaku. Bunda seneng aja tuh digombalin sama ayah. Kenapa kamu nggak ada seneng-senengnya sama sekali kalau digombalin?” tanya Rocky.

“Aku nggak suka bertele-tele, Ky.”

“Ya udah, besok aku lamar kamu. Gimana?” Rocky memainkan alisnya menatap Nadine.

“Ogah!”

“Aih. Kapan sih kamu terima aku, Nad?” tanya Rocky sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Tunggu kamu berubah,” sahut Nadine.

“Berubah jadi apa? Cinta itu harus terima apa adanya,” tanya Rocky.

“Kalimat itu hanya berlaku untuk pria yang nggak mau berusaha,” sahut Nadine sambil mengunyah makanan di mulutnya.

“Kamu ...!?” Rocky menatap kesal ke arah Nadine.

Ayu terus tertawa melihat perdebatan dan pertikaian antara Nadine dan Rocky. Ia selalu terhibur melihat dua pasangan itu. Hubungan mereka yang pasang surut, tetap saja terlihat romantis dan selalu ada cinta di mata mereka masing-masing.

Di tempat lain ...

Nanda mulai jengah saat ia melangkahkan kakinya menemani Arlita berkeliling di pusat perbelanjaan. Biasanya, dia selalu menemani wanita ini dengan senang hati. Tapi kali ini, perasaannya sungguh berbeda. Pikirannya terus melayang jauh pada Sonny dan Ayu yang sedang janjian untuk makan siang bersama.

“Nan, yang ini bagus atau nggak?” tanya Arlita sembari menunjukkan sebuah gaun malam seksi yang ia pilih untuk dirinya sendiri.

“Bagus,” jawab Nanda tanpa melihat ke arah Arlita. Ia meletakkan semua paper bag yang ia bawa dan duduk di sofa yang ada di butik tersebut.

Arlita tersenyum. Ia sibuk memilih pakaian lain yang ia suka dan bisa ia gunakan untuk pergi party bersama teman-temannya.

Nanda menggigit bibir bawahnya sambil mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Ia ingin mengirim pesan pada Ayu, tapi tidak tahu kalimat apa yang harus ia tanyakan pertama kali pada istrinya itu. Beberapa kata yang sudah ia tulis, ia hapus lagi. Mengirimkan pesan pada istrinya saja, ia menjadi sangat bimbang seperti ini.

Nanda menghela napas kesal. Ia akhirnya men-dial nomor Ayu untuk mempertanyakan keberadaan wanita itu.

“Halo ...!” suara merdu Roro Ayu langsung menggema di telinga Nanda.

“Ach, sial ...!” umpat Nanda dalam hati. Ia memijat kepalanya yang berdenyut saat mendengar suara Ayu yang begitu sensual di telinganya. Dadanya tiba-tiba penuh sesak hanya karena mendengar satu kata lembut saja dari bibir wanita itu.

“Halo, Nanda ...! Are you there?” tanya Ayu lembut.

Nanda menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. “Kamu di mana? Sudah selesai makannya?”

“Masih di restoran sama Nadine, Rocky dan Sonny,” jawab Ayu.

“Rocky itu siapa lagi?” tanya Nanda.

“Pacarnya Nadine,” jawab Ayu lembut.

“Di restoran mana?” tanya Nanda lagi.

“Kamu mau nyusul?” tanya Ayu balik.

Nanda terdiam selama beberapa saat.

“Kalau kamu mau nyusul, aku akan kasih tahu tempatnya. Without Arlita,” jawab Ayu.

“Kamu bisa pergi sama Sonny, kenapa aku nggak bisa bawa Lita?” tanya Nanda.

“Sonny dan Arlita itu berbeda,” jawab Ayu dan langsung memutuskan panggilan telepon dari Nanda.

Nanda mendengus kesal sembari menatap layar ponselnya yang sudah mati. “Shit!”

“Kenapa, Nan?” tanya Arlita saat mendengar Nanda mengumpat kesal. Ia langsung duduk di samping Nanda dan bergelayut manja.

“Ayu nih ngeselin banget. Waktu dia masih pacaran sama Sonny, dia selalu baik sama aku. Dia juga penurut banget sama pacarnya itu. Giliran udah jadi istriku, dia selalu aja ketus sama aku dan pembangkang. Aku udah coba buat bersikap baik sama dia. Eh, besoknya tetep aja masih nyebelin. Aku kayak nggak ada harganya sebagai suami,” jawab Nanda sambil menahan kesal.

“Nan, Ayu itu emang independen woman. Mana mau dia diperintah sama laki-laki. Aku tahu banget sifat dia yang dominan dan sok star itu. Kamu pelihara aku aja! Aku akan nurutin semua yang kamu mau. Bisa menemanimu bersenang-senang setiap hari kalau kamu jengah dengan istrimu di rumah.” Arlita berbisik di telinga Nanda.

Nanda menghela napas dan menatap lekat wajah Arlita. “You’re a good puppy,” ucapnya sambil tersenyum dan menjepit dagu Arlita.

Arlita balas tersenyum dan menatap wajah Nanda penuh cinta. “Setelah Ayu melahirkan, kamu ceraikan dia nikahi aku, ya!” pintanya manja.

Nanda mengangguk. “Udah selesai pilih bajunya?”

“Udah. Udah aku taruh di kasir,” jawab Arlita sambil menunjuk meja kasir dengan dagunya.

Nanda langsung bangkit. Ia menghampiri meja kasir dan mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya.

Arlita tersenyum puas saat Nanda masih terus menjamin kelangsungan hidupnya. Baginya, Nanda adalah ladang uang yang tidak akan ia lepaskan dengan mudah begitu saja. Baginya, Roro Ayu tidak ada apa-apanya dan ia akan menyingkirkan wanita itu perlahan.

Hubungan pertemanan yang terjalin di antara mereka, sudah terputus sejak Roro Ayu mengkhianatinya dan mengandung anak dari Nanda. Karena wanita itu sudah menghancurkan semua rencananya dan nyaris kehilangan Nanda. Ia tidak peduli dengan status Nanda saat ini. Dia masih sangat mencintai Nanda dan membutuhkan pria itu dalam hidupnya.

“Mau cari apa lagi?” tanya Nanda setelah ia selesai membayar semua tagihan belanja milik Thalita.

“Mmh ... nggak ada. Semuanya udah lengkap. Gimana kalau kita pergi makan?”

“Mau makan di mana?” tanya Nanda.

“de Soematra enak. Gimana?” tanya Arlita balik sambil meraih banyak paper bag yang tergeletak di lantai dan memberikannya sebagian ke tangan Nanda.

“Boleh.” Nanda mengangguk. Ia bergegas keluar dari pusat perbelanjaan Galaxy Mall dan menuju ke sebelah barat kota tersebut untuk mencapai rumah makan yang bisa ditempuh dengan waktu sepuluh menit saja saat jalanan lengang.

 

 ((Bersambung ...))


 

DAFTAR BACAAN :

 Bab 1 - Pesta Malapetaka 

Bab 2 - Bayi yang Tak Diinginkan

Bab 3 - Pukulan untuk Ayah

 Bab 4 - Tak Ingin Berdamai

Bab 5 - Menolak Pernikahan Kontrak

Bab 6 - Hari Pertama Jadi Mantu

Bab 7 - Tak Harmonis

Bab 8 - Mulai Cemburu

Bab 9 - Membangun Hubungan

Bab 10 - Nyaman Bersama Mantan

 ______________________


Dilarang keras menyalin, memperbanyak dan menyebarluaskan konten ini tanpa mencantumkan link atau izin tertulis dari penulis.

©Copyright www.rinmuna.com


 

 

 

 


Sunday, January 16, 2022

AFTER SAVAGE - (Bab 9 - Membangun Hubungan)

 




BAB 9 – MEMBANGUN HUBUNGAN

 

“Ro, kenapa kamu nggak ngomong ke aku kalau kamu pergi ngisi pentas di acara ulang tahun kota?” tanya Nanda begitu ia sudah masuk ke dalam rumah bersama Ayu.

“Kamu juga nggak bilang kalau bawa Arlita ke pesta itu,” sahut Ayu sambil melangkah santai menaiki anak tangga rumahnya.

“Nggak usah mengalihkan pembicaraan, Ay! Aku lagi bicarain kamu!” Nanda mengejar langkah Ayu sambil menahan kesal.

“Bukan kamu, tapi kita!” sahut Ayu.

Nanda menghela napas kesal. “Aku udah rela ninggalin Arlita dan nungguin kamu sampai selesai nari. Kamu malah kayak gini? Dengerin aku, Ay!”

“Aku denger, Nan. Kamu juga harusnya bisa dengerin aku. Aku ini perempuan, Nan. Istri sah kamu. Meski kita menikah tanpa cinta, tolong hargai pernikahan ini! Aku capek ya setiap hari lihat kamu jalan sama Arlita. Giliran aku deket sama cowok lain, kamu misuh-misuh nggak jelas kayak gini,” sahut Ayu sambil masuk ke dalam kamarnya.

“Aku ini laki-laki, Ay. Mau deket sama perempuan mana pun, nggak akan jadi masalah. Tapi kamu ... kamu ini perempuan. Pakai pakaian seksi dan nari mesra sama laki-laki di depan umum, nggak malu?” tanya Nanda sambil menatap tubuh Ay yang sedang duduk di depan meja rias.

Ayu menarik napas dalam-dalam. “Kamu sendiri, nggak malu jalan sama cewek lain sementara kamu sudah beristri?”

“Nggak usah mengalihkan pembicaraan, Ay! Aku tanya ke kamu!” sahut Nanda kesal. “Aku heran, kenapa aku bisa punya istri pembangkang kayak kamu! Apa yang aku lakuin di luar sana, nggak seharusnya kamu cari tahu. Cukup berdiam diri di rumah dan jadi istri yang berbakti! Nggak perlu keluyuran di luar sana apalagi tampil di depan umum cuma pake kemben dan jarik doang!”

“Nggak usah kuno, Nan! Apa sih bedanya sama Arlita yang pakai bikini di pantai atau di kolam renang? Lebih seksi dari aku. Kamu pernah marahin dia karena pakaiannya yang terlalu seksi itu? Kamu malah suka ‘kan?” tanya Ayu sambil menatap serius ke arah Nanda.

“Kamu ...!?” Nanda gelagapan mendengar ucapan dari Ayu.

“Nan, aku capek berantem sama kamu setiap hari. Kalau kamu nggak suka sama pernikahan ini dan ingin menikahi Arlita, kamu ceraikan aku aja!” pinta Ayu sambil membersihkan sisa make-up di wajahnya.

“Kamu minta kayak gitu supaya kamu bisa deket sama laki-laki itu?” tanya Nanda.

“Laki-laki mana? Nggak usah ngada-ngada, Nan! Dari awal yang salah itu kamu! Kenapa kamu buat seolah-olah aku adalah kesalahan utama dalam hubungan pernikahan yang tidak pernah bahagia ini!” sahut Ayu kesal. Ia bangkit dari kursi sambil menyambar tas tangannya dan melangkah pergi.

“Kamu mau pergi ke mana lagi?”

“Mau pulang ke rumah orang tuaku! Aku nggak betah berlama-lama tinggal di rumah kayak neraka ini!” sahut Ayu ketus.

Nanda buru-buru berlari ke arah pintu dan menghadang Ayu agar tidak keluar dari kamar tersebut. “Jangan bikin masalah baru, Ay! Papa Andre bisa marah sama aku kalau kamu pergi dari sini.”

“Bodo amat! Mau Papa Andre, Papa Sule atau Papa apa pun itu, aku udah nggak peduli. Kamu bisa balik sama Arlita meski kita sudah menikah. Kenapa aku nggak bisa memutuskan hidupku sendiri dan balik ke Sonny? Jelas-jelas dia jauh lebih baik dari kamu!”

Nanda menatap wajah Ay sambil mengepalkan tangannya erat-erat. Emosinya selalu tak terkendali setiap kali berhadapan dengan wanita ini. Ia sendiri, tidak tahu apa yang terjadi dengan hatinya hingga membuat pikirannya menjadi sekacau ini.

“Nan, aku udah merelakan semuanya demi menerimamu menjadi suamiku. Kamu tahu, sejak dulu aku cinta sama Sonny. He is my future, Nan! Dan kamu yang menghancurkan semuanya!” Ayu menurunkan nada bicaranya dengan mata berkaca-kaca.

“Aku nggak tahu aku salah apa di masa lalu sampai Tuhan tega menghukumku seperti ini,” ucap Ayu sambil menitikan air mata. “Satu hal yang paling aku sesali dalam hidupku saat ini adalah mengenalmu, Nan. Kamu adalah satu-satunya pria yang tidak pernah menghargai keberadaanku. Bahkan kamu akan tetap melihatku hanya sebagai sampah meski aku memberikan  nyawaku sekalipun untuk kamu.”

DEG!

Nanda terdiam sambil menatap mata Ayu yang terus meneteskan air mata. Saat masih SMA, Ayu memang hampir mati karena menolongnya. Bahkan wanita ini sering terluka karena menjadi target utama musuh-musuh Nanda saat itu. Karena tidak ingin melukai wanita ini, ia memilih untuk membencinya dan menjauhkan Ayu dari kehidupannya yang keras di luar sana. Menjadi ketua genk yang kerap tawuran saat masih sekolah, ia selalu saja mendapatkan banyak kesulitan. Dan sialnya, Ayu selalu datang tiba-tiba di tengah konflik dan ikut menjadi korban.

“Nan, aku sudah berusaha menjadi istri yang baik meski aku tidak mencintaimu. Demi orang tua, aku berusaha untuk berbakti dan berharap kita bisa menjalani rumah tangga yang bahagia. Sudah hampir tiga bulan, kenyataannya kita malah selalu perang dingin atau perang mulut. Aku sudah lelah seperti ini terus, Nan. Kalau memang kamu tidak menginginkan anak ini, aku bisa merawatnya sendiri. Saat ini aku tidak menginginkan apa pun selain kedamaian.”

Nanda menghela napas sambil menundukkan kepalanya. “I’m sorry, Ay ...! Aku akan berusaha menjadi pria yang bertanggung jawab terhadapmu. Dia anakku dan dia harus bersamaku!”

“Kamu nggak pernah menginginkan anak ini, Nan. Begitu juga denganku. Impianku adalah menikah dan punya anak dari Sonny. Bukan dari pria bajingan sepertimu. Apa yang harus kuceritakan pada anak ini di masa depan? Haruskah aku bilang sama dia kalau ayahnya tidak pernah menginginkan kehadiran dia dan selalu pergi bersama wanita lain untuk menyenangkan diri sendiri?” tanya Ayu lirih sambil berlinang air mata.

Nanda menggelengkan kepalanya. “Nggak, Ay! Kamu nggak boleh lakukan itu! Dia anakku dan aku akan bertanggung jawab.”

“Dengan cara apa? Menikahiku saja tidak cukup, Nan.”

“Aku akan menafkahi kalian berdua.”

“Yang aku permasalahkan bukan soal finansial. Aku bukan wanita yang hidupnya bergantung sama pria seperti pacarmu itu. Meski tidak menikah denganmu, aku masih bisa menghidupi keluargaku sendiri. Aku juga bukan wanita yang tidak punya prestasi. Asal aku bilang ke Sonny kalau aku tidak bahagia hidup denganmu, maka dia akan senang hati menerimaku kembali,” tutur Ayu lirih.

“STOP, AY ...!” seru Nanda sambil mencambak rambutnya sendiri.

Ayu menyeringai kecil menatap Nanda yang semakin kacau dan tidak bisa ia mengerti keinginannya.

“Jangan sebut Sonny atau siapa pun yang statusnya selalu jauh lebih baik di matamu!” pinta Nanda. “Aku nggak tahu kenapa Tuhan ngasih wanita baik-baik untuk pria bajingan sepertiku. Aku nggak tahu apa yang harus kulakukan.” Ia berbalik dan menyandarkan keningnya di pintu. Ia terus memukul-mukulkan kening ke daun pintu beberapa kali.

“Yang harus kamu lakukan saat ini adalah bersyukur, Nan! Hargai pernikahan ini dan aku akan menghargaimu sebagai suamiku. Bagaimana kamu memperlakukanku, begitu juga aku akan memperlakukanmu,” tutur Ayu sambil mengusap sisa air matanya dan menatap punggung Nanda.

Nanda langsung membalikkan tubuhnya menatap Ayu. Ia melangkah perlahan mendekati wanita itu. Mengikis jarak di antara mereka yang selama ini saling menyakiti tanpa mereka sadari.

“Ay, aku sudah salah?” tanya Nanda sambil menyentuh lembut pipi Ayu.

Ayu menarik sisa cairan hidungnya sambil menahan perih di matanya. Ia sendiri tidak tahu jelas apa yang sebenarnya dia inginkan. Ia hanya ingin ... bisa menjalani rumah tangganya dengan baik dan melepaskan masa lalunya. Sebab takdir telah menentukan bahwa hidupnya akan seperti ini. Ia tidak bisa meminta untuk kembali, hanya bisa menikmati.

Nanda mendekatkan bibirnya perlahan ke bibir Ayu. Entah mengapa hatinya sangat menginginkannya. Rasa vanila yang manis di bibir Ayu, membuatnya tidak bisa menahan diri untuk menikmatinya dan terus mengulum bibir itu tanpa meminta persetujuan dari Ayu.

Ayu menelan salivanya dengan susah payah ketika Nanda mengulum lembut bibirnya. Ia tidak bisa menolak perlakuan lembut dari Nanda dan mulai menikmati ciuman dari pria itu. Bahkan, ia malah membalasnya dan membuat Nanda menginginkan hal yang lebih dari sekedar berciuman. Ini pertama kalinya ia sangat menikmati setiap sentuhan yang dihadirkan Nanda di seluruh tubuhnya. Setelah tiga bulan menikah, ini pertama kalinya ia bisa melayani suaminya di ranjang dengan perasaan ikhlas dan bahagia.

 

...

Keesokan harinya, Ayu menyiapkan sarapan pagi seperti biasa. Dan ini pertama kalinya Nanda mau duduk di meja makan setelah mereka tinggal bersama. Biasanya, Nanda pergi begitu saja tanpa mau melihat meja makan, apalagi menyentuh makanan yang sudah ia siapkan.

“Nan, aku nggak pernah tahu apa makanan kesukaanmu. Aku cuma bisa siapin ini untukmu pagi ini. Kamu bisa bilang ke aku, apa yang ingin kamu makan dan aku akan menyiapkannya untukmu,” tutur Ayu sambil tersenyum menatap Nanda.

Nanda tersenyum menatap nasi goreng yang ada di hadapannya. “Nevermind. Aku juga biasa sarapan seperti ini waktu masih kecil.” Ia langsung menyendok nasi goreng tersebut dan memasukkan ke dalam mulutnya.

“Gimana? Enak?” tanya Ayu hati-hati.

Nanda mengangguk kecil dan menahan rasa pedas di mulutnya yang semakin menyiksa. Ia akhirnya mengeluarkan napas dengan kasar dari dalam mulut begitu ia berhasil menelan nasi goreng buatan Ayu. Ia buru-buru mengambil air putih di hadapannya dan menenggak habis dalam sekejap.

“Nan, kamu nggak suka pedas?” tanya Ayu khawatir sambil menyodorkan gelas air minum miliknya.

“Suka. Tapi nggak sepedas ini, Ay,” jawab Nanda sambil mengusap mulutnya dengan tisu.

“Emangnya pedes banget, ya?” tanya Ayu sambil mencicipi nasi goreng buatannya sendiri dan ia merasa kalau tidak pedas sama sekali.

“Pedes banget, Ay! Kamu ini makan makanan terlalu pedas seperti ini. Apa maksudnya? Nggak sayang sama bayi yang ada di perutmu?” Nanda menatap wajah Ayu sambil mengipas mulut menggunakan telapak tangannya. Meski sudah minum dua gelas air, rasa pedas di mulutnya tak kunjung hilang.

“Aku ngerasa ini nggak pedas, Nan. Kalau kamu nggak tahan, aku akan buatkan makanan baru untukmu. Sorry banget! Aku pikir, kamu suka pedas.” Ayu bangkit dari kursinya.

Nanda menyambar pergelangan tangan Ayu. Membuat Ayu mengurungkan niatnya untuk bangkit dan membuat wajahnya dan wajah Nanda saling bertemu.

“Nan, kamu ...!?”Ayu menatap mata Nanda yang hanya berjarak sekitar lima sentimeter dari matanya dan membuat wajah mereka saling menempel.

“Nggak perlu siapin makanan baru untukku! Ini saja,” pinta Nanda sambil mengulum lembut bibir Ayu dan menghisapnya semakin dalam.

Ayu langsung membalas ciuman dari Nanda. Seluruh tubuhnya tiba-tiba menegang, dadanya mengencang dan bagian inti tubuhnya minta diperlakukan lebih. Pagi-pagi seperti ini, Nanda sudah berhasil membangkitkan gairahnya. Parahnya lagi, ia menjadi mudah terpancing hasratnya dan tidak bisa menahan diri. Mungkinkah hormon kehamilan memengaruhi perasaannya seperti yang sering ia baca di artikel-artikel tentang dunia kehamilan.

Nanda tersenyum saat mendapati tubuh Ayu menggeliat karena sentuhan darinya. Ia langsung menaikkan Ayu ke pangkuannya, menghadap ke arahnya dan semakin bersemangat menghisap bibir dan leher istrinya itu. Kedua tangannya bergerak liar di belakang pinggang Ayu dan meremas dua gundukan empuk di bawahnya.

“Mmh ... Nan, aku ... mmh ...” Ayu menggigit bibir bawahnya. Menahan desahan ketika bibir Nanda mulai bermain di dadanya. Jemari tangannya mencengkeram erat punggung Nanda, menahan hasrat yang sudah memuncak di kepalanya.

Nanda semakin tersenyum puas tubuh Ayu semakin gemetar. “Nggak perlu ditahan. Kita sudah sah dan bebas melakukannya kapan saja,” bisiknya di telinga Ayu.

Ayu tersenyum kecil sambil menyembunyikan wajahnya yang menghangat. Jika Nanda terus seperti ini, ia pasti menginginkannya diperlakukan lebih.

Nanda menggoyangkan tubuhnya. Menekan tubuh Ayu ke atas senjata andalannya yang kini sudah berada dalam siap tempur. “Aku sudah on. Do something for me!” pintanya.

“Nan, aku nggak berpengalaman soal begini. Aku ...” Ay menatap bagian bawah tubuh Nanda sambil meremas jemari tangannya sendiri. Ia tidak tahu, apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu.

Nanda tersenyum. Ia menarik salah satu tangan Ay dan memasukkan ke dalam celananya. “Pegang ini! Tarik keluar perlahan dan masukkan ke itumu!” pintanya.

Ayu melebarkan kelopak matanya. Ia mengerjapkan mata dan berusaha mengembalikan kesadaran dari sikap liar yang tiba-tiba saja muncul tanpa ia sadari.

“Nggak usah malu-malu! Ini bagian dari kebutuhan dan rutinitas kita,” pinta Nanda lagi.

“Mmh ... kamu mau pergi ke kantor ‘kan?”

“Kantor gampang untuk diurus. Selesaikan dulu urusan ini! Pusing kalau sudah on gini dan nggak diservis dengan baik,” sahut Nanda.

“Beneran pusing?”

“Iya. Pusing atas bawah, Ay! Do it!” pintanya.

“Ini ... langsung masukin aja?” tanya Ayu polos.

Nanda tertawa kecil. “Kamu memang belum cocok jadi istri yang baik! Harus lebih banyak belajar lagi!” Ia menggeser piring dan gelas yang ada di hadapannya dan mendudukkan Ayu ke atas meja. Dengan cepat, tangannya menaikkan daster yang dikenakan istrinya itu dan melepaskan CD yang dikenakannya. Ia juga segera menurunkan celana yang ia kenakan dan memainkan inti tubuhnya terlebih dahulu ke pintu masuk inti tubuh Ayu sebelum ia benar-benar menyatukan diri dengan wanita itu. Ia mengajari Ayu perlahan untuk mendapatkan kesenangannya dan menikmati pagi yang hangat di atas meja makan.

“Aach ...! Thank’s, Ay ...!” ucap Nanda saat ia berhasil melakukan pelepasan dengan sempurna di dalam inti tubuh Ayu. Ia merasa, paginya kali ini benar-benar luar biasa karena Ayu bisa dengan cepat mempelajari setiap gerakan yang ia ajarkan dan membuat ia sangat puas.

Ayu mengangguk. Ia meraih CD yang tergeletak di lantai dan buru-buru berlari ke kamar mandi. “Aku bersihkan tubuhku dulu!”

“Bersihkan dengan baik sampai harum! Nanti malam, aku akan ajari kamu gaya baru yang nggak kalah nikmat. Aku akan pulang kerja lebih cepat. Oke?” seru Nanda sambil membersihkan alat vitalnya menggunakan tisu dan mengenakan kembali celana miliknya karena ia harus secepatnya pergi ke perusahaan.

“He-em. Nanti malam aku ada janji sama temen-temen sanggar untuk perpisahan. Kamu bisa temani aku ke sana?” tanya Ayu.

Nanda mengangguk sambil tersenyum manis. “Aku akan temani kamu. Aku buru-buru harus ke kantor. Besok pagi, buatkan aku nasi goreng lagi! Tapi jangan sepedas ini karena bisa bikin aku minta menu yang lebih enak dari makanan. Apalagi, adik kecilku ini semakin nakal setiap kali bertemu denganmu.”

Ayu tertawa kecil sambil menatap bagian bawah tubuh Nanda. Ia mempercepat langkahnya menaiki anak tangga untuk membersihkan diri.

Nanda tersenyum puas dan segera melenggang santai keluar dari rumahnya. Ia merasa, hidupnya lebih baik seperti ini. Bisa bersenang-senang dengan istrinya kapan saja ia mau tanpa khawatir dengan apa pun. Meski Arlita pandai menemaninya bersenang-senang di luar sana, tapi ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk melakukan hal lebih terhadap wanita itu. Hanya ingin membawanya pergi ke tempat-tempat mewah untuk menutupi rasa gengsinya sendiri. Ia tidak mungkin pergi ke perjamuan atau klub malam tanpa wanita cantik di sisinya. Baginya, Ayu masih terlalu cupu dan kuno untuk ia ajak keluar. Lebih nyaman jika istrinya itu disimpan di rumah dan hanya menjadi miliknya seorang.

 

...

 

Sesuai dengan janjinya, Ayu akhirnya mengajak Nanda untuk pergi ke perjamuan perpisahan yang dilaksanakan di sanggar tempat Ayu selama ini berlatih kesenian.

“Roro Ayu ..! How are you?” seru Nadine sambil berlari ke arah Ayu dan memeluk tubuh wanita itu.

“Nadine? Kamu lagi di Surabaya? Bukannya kamu tugas di Semarang, ya?” tanya Ayu sambil menatap wajah Nadine.

“Iya. Aku dengar kamu mau melakukan perpisahan  karena sudah menikah dan suamimu tidak mengizinkan kamu menari lagi, ya? Sayang banget, sih? Harusnya tetep nari, dong! Ntar siapa yang jadi partner Tari Merak kalau kamu nggak ada?” cerocos Nadine.

“Iih ... gaya banget! Padahal kamu juga udah jarang nari sejak jadi dokter.”

“Hahaha. Pasienku banyak! Sulit bagi waktu. Eh, duduk, yuk!” ajak Nadine.

Ayu mengangguk. Ia merangkul lengan Nanda dan membawa suaminya itu bergabung dengan teman-teman sanggar latihannya.

“Selamat malam semuanya ...!” sapa Ayu sambil tersenyum manis.  “Kenalin, ini suamiku. Namanya Mas N anda.”

“Salam kenal semua!” sapa Nanda sambil tersenyum manis.

Semua orang saling pandang.

“Mbak Roro beneran sudah menikah?” tanya salah seorang remaja yang ada di sana.

Ayu mengangguk sambil tersenyum.

“Yu, bukannya kamu tunangan sama Dokter Sonny?” bisik Nadine.  “Kenapa kamu malah nikah sama cowok lain?”

“Ceritanya panjang, Nad. Ntar aku ceritain ke kamu kalau kamu ada waktu untuk mendengarkan ceritaku, Dokter Nadine yang super sibuk,” jawab Ayu berbisik.

Nadine tertawa kecil. “Oke. Aku akan luangkan waktuku untuk mendengarkan ceritamu,” balasnya berbisik.

“Hari ini Mbak Roro Ayu datang ke sini dan mengajak makan malam karena ingin merayakan hari perpisahan untuk kita semua. Setelah hari ini, Mbak Roro Ayu tidak akan bergabung dengan sanggar kita karena beliau sudah berkeluarga dan akan segera punya anak. Kesibukan baru beliau, tidak bisa membuatnya terus berpartisipasi di sanggar ini. Mohon kalian bisa mengerti dan mendoakan Mbak Roro Ayu supaya sehat wal afiat. Menjadi keluarga yang bahagia, harmonis dan langgeng sampai kakek-nenek.” Enggar mengambil alih pembicaraan.

“Yah, makan malam ini untuk perpisahan dengan Mbak Roro Ayu? Kalau tahu seperti ini, aku tidak akan datang,” celetuk salah seorang remaja yang ada di sana.

Ayu tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. “Kalau kalian rindu, rumah kami akan selalu terbuka untuk kalian!”

“Kenapa harus berhenti di sanggar, sih? Suaminya jahat banget?” celetuk remaja yang lain lagi.

Nanda langsung menoleh ke arah remaja tadi. Ia merasa tidak enak karena semua orang tidak menginginkan Ayu berhenti. Namun, kehamilan istrinya itu memang membatasi gerak-gerik Ayu dan ia tidak ingin terjadi hal buruk karena istrinya terlalu banyak bergerak.

“Mbak Roro Ayu lagi hamil muda. Nggak bisa leluasa untuk bergerak. Mohon pengertian kalian!” ucap Nanda sambil menunduk sopan.

“Kalau nggak bisa menari, bisa melatih kami ‘kan?” sahut seorang remaja lain.

“Iya, bener. Kalau nggak ada Mbak Roro Ayu, kami gimana? Nggak seru!” ucap salah seorang remaja sambil bangkit dari lantai dan melangkah pergi begitu saja.

Enggar langsung menatap remaja yang telah lancang beranjak dari sana. “Prima kembali!” perintahnya.

Remaja yang dipanggil Prima itu tidak menghiraukan teriakan Enggar dan pergi begitu saja dari aula gedung tempat mereka biasa berlatih kesenian.

Semua yang ada di sana mulai pergi satu persatu menyusul Prima. Mereka memilih untuk berkumpul di luar gedung. Membiarkan makanan yang sudah terhidang di sana begitu saja. Tidak bersemangat untuk menyentuhnya karena mereka akan kehilangan penari sekaligus pelatih mereka mulai hari ini.

“Biar aku urus mereka dulu!” ucap Enggar sambil bangkit dan menyusul semua putera-puteri didiknya.

Ayu mengangguk.

“Aku ikuti mas pelatih itu. Biar aku bantu memberi pengertian pada mereka!” bisik Nanda di telinga Ayu dan ikut keluar dari sana.

Ayu mengangguk sambil tersenyum. Ia menundukkan kepala sambil meremas jemari tangannya. Hanya tersisa ia dan Nadine di ruangan tersebut.

“Eh, suami kamu lumayan juga. Lebih ganteng dari Dokter Sonny. Dapet di mana?”

“Dia sahabat baiknya Sonny,” jawab Ayu lirih sambil memejamkan matanya.

“WHAT!?” Mata Nadine terbelalak mendengar ucapan Ayu.

“Semua karena kecelakaan, Nad. Aku mengandung anak dari Nanda dan terpaksa harus menikah sama dia.”

“Terus, Dokter Sonny gimana? Pantesan akhir-akhir ini aku sering lihat dia murung, Ay. Hubungan kalian separah ini? Aku nggak peka banget sampai nggak tahu permasalahan Dokter Sonny. Dia terlihat ceria aja ngurus pasien anak-anaknya,” tutur Nadine.

Ayu menghela napas. “Dia bukan orang yang suka menunjukkan kesulitannya. Aku sudah melukai dia dan nggak berani menghubungi dia sama sekali. Apa dia baik-baik aja, Nad?”

“Kelihatannya baik-baik saja secara fisik. Nggak tahu kalau hatinya,” jawab Nadine.

Ayu mengerutkan wajahnya. “Nad, kalau ada kesempatan. Fotoin dia dan kirimin ke aku, dong! Tapi jangan sampai dia tahu, ya!”

Nadine menatap Ayu selama beberapa saat. “Kamu nggak bahagia sama pernikahan kamu, Ay?”

Ayu menghela napas. “Wanita mana yang bisa bahagia kalau menikah dengan pria yang tidak mencintai dia? Tapi ... aku sedang berusaha memupuk hubungan kami agar bisa bahagia. Aku sudah menikah, tidak bisa semudah berpacaran yang tinggal bilang putus saat merasa tidak nyaman.”

“Yang sabar, ya! Semoga suami kamu adalah pria yang terbaik untukmu, Ay. Semua orang ingin menikah sekali saja dalam hidupnya dan aku harap, pria itu bisa membahagiakanmu setiap hari,” ucap Nadine.

Ayu mengangguk sambil tersenyum. “Kamu sendiri gimana? Hubunganmu dengan Enrocky ada perkembangan?”

“Masih gitu-gitu aja,” jawab Nadine sambil terkekeh geli. “Kemarin dia nembak aku, aku tolak lagi, hihihi.”

“Aneh banget, sih!? Kalau dia nembak kamu tolak. Giliran dia digosipin deket sama cewek lain, kamunya uring-uringan. Kamu cinta atau nggak sama dia? Ada pria yang begitu hebat bertahan mencintaimu, jangan disia-siakan!” pinta Ayu sambil menatap wajah Nadine.

“Tenang aja! Dia nggak akan berpaling dan macem-macem. Aku tinggal bilang ke papaku supaya dia bikin perhitungan sama keluarga Hadikusuma karena anaknya berani main-main sama aku. Lagian, cowok playboy kayak dia itu harus dikasih pelajaran. Harus buktikan kalau dia cinta sama aku, baru aku terima. Ogah kalau dipermainkan ke depannya,” tutur Nadine sambil tersenyum lebar.

Ayu tertawa kecil. “Apa pun itu, aku akan bantu doa supaya kamu dan dia bisa bersatu.”

“Aamiin ...!” seru Nadine antusias. Ia dan Roro Ayu bercerita banyak hal tentang hubungan asmara mereka akhir-akhir ini.

 

((Bersambung...))

 

 

 DAFTAR BACAAN :

 Bab 1 - Pesta Malapetaka 

Bab 2 - Bayi yang Tak Diinginkan

Bab 3 - Pukulan untuk Ayah

 Bab 4 - Tak Ingin Berdamai

Bab 5 - Menolak Pernikahan Kontrak

Bab 6 - Hari Pertama Jadi Mantu

Bab 7 - Tak Harmonis

Bab 8 - Mulai Cemburu

Bab 9 - Membangun Hubungan

 ______________________


Dilarang keras menyalin, memperbanyak dan menyebarluaskan konten ini tanpa mencantumkan link atau izin tertulis dari penulis.

©Copyright www.rinmuna.com


 

 

 

 

 




Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas